HASIL PENELITIAN
4.3 Tema Hasil Penelitian
4.3.5. Melakukan Perawatan pada Anak
Kehadiran anak merupakan hal yang diharapkan bagi satu keluarga. Anak yang dilahirkan dari ibu yang positif tentu akan mendapat perhatian khusus mulai dari dalam kandungan, saat melahirkan hingga terlahir kedunia. Anak dengan ibu yang terinfeksi membutuhkan perawatan khusus yang harus dilahirkan secara caesarea, tidak mendapatkan ASI, menghindari adanya kontak darah, serta melakukan tindakan perawatan lainnya yang harus dijaga secara higienisnya. Pada
tema ini akan di bahas beberapa subtema yaitu : 1) Tidak memberi ASI, 2) menghindari kontak darah, 3) Menjaga hygiene, 4) memantau minum obat, dan 5) Meningkatkan status gizi.
1. Tidak memberi ASI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua partisipan tidak ada yang memberikan ASI pada bayi yang dilahirkannya. Hal ini disebabkan adanya pemahaman yang diperoleh ibu saat akan hamil melalui program PMTCT, suatu program yang dikhususkan bagi ibu HIV positif yang ingin memiliki anak untuk meminimalkan penularan. Partisipan mengungkapkan tidak memberi ASI adalah salah satu bentuk kasih sayang ibu pada anaknya. Hasil penelitian mendapatkan mayoritas partisipan mengikuti program tersebut untuk mendapatkan keturunan. Namun ada juga partisipan yang tidak merencanakan kehamilannya namun sangat senang dengan kehamilannya. Beberapa pernyataan partisipan terkait ibu tidak menyusui dapat dilihat pada:
“…gak ada mengasih ASI dengan anak saya. Memang kan tidak diperbolehkan disusui. ”[P1, L328]
“Kalau memang orang tuanya sayang sama anaknya, pasti anak itu nggakpun disusuin pasti ngerti gitu, kasih sayangnya gimanalah ”[P1, L367,368]
“ kitakan jadi ibu yang sempurna itukan kita melahirkan menyusui.. tapikan ya inikan memang dilema sih…. Disusui takut menular, gak disusui, kan kita tahu ASI bagus. ”[P3, L371-373]
“dari setelah satu minggu setelah kelahiran. satu minggu setelah Kelahiran dia minum susu formula sampai 12 kali. sampai sekarang masih konsumsi. satu hari 6 kali”[P3, L398,400]
“aku rasa sayang itu kan harus melakukan yang paling baik untuk anak. Yang terbaik adalah tidak aku susui…..”[P14, L205,206]
“… anak yang dilahirkan tapi tidak boleh disusui. Tapi mau macam mana lagilah ya kak memang harus gitulah supaya jangan tertular dia. Sedih sih tapi ya memang …. Kalau mau dia sehat ya jangan di susuilah, justru itulah bukti sayang kita sama dia. …..”[P8, L345,348]
“ya merawat bayinya seperti biasa aja ya Keknya terutama gak boleh menyusui, …..”[P11, L246]
“cuma memang ngak kakak susui, sedikitpun saya gak ada mengasih ASI dengan anak saya. Memang kan tidak diperbolehkan disusui. Tapi kan saya selalu jaga kebersihannya…. Karenakan saya begini, jadi anak saya biar jangan sampai terkena. …..”[P1, L327-330]
“Kalau untuk menyusui saya dari mulai semenjak kelahiran sampai sekarang tidak pernah menyusui…..”[P7, L180,181]
“cuman dibilangin anakmu ini jangan disusui ya, jangan kena darahmu nanti menular dia penyakitmu ini. …..”[P15, L438,439]
2. Menghindari kontak darah
Penularan HIV-AIDS dari ibu ke anak dapat terjadi melalui kontak darah. Hal ini dapat dihindari saat merawat anak yang telah terinfeksi ataupun yang dicurigai terinfeksi, hasil penelitian menunjukkan partisipan menghindari terjadinya kontak darah dengan anak melalui menghindari terjadinya luka, kalaupun ada luka partisipan sesegera mungkin mengobati luka anak ataupun ibu, serta menghindarkan anak dari sesuatu yang sifatnya tajam seperti mainan atau perabot rumah tangga. Menurut partisipan benda-benda tajam dapat memicu terjadinya luka sebagai pintu awal masuknya kuman dalam tubuh anak dan dapat menempatkan anak pada resiko tertular virus HIV. Pertolongan pertama merupakan hal penting saat anak terluka, hal ini dimaksudkan agar tingkat infeksi anak tidak semakin memburuk ataupun anak terpapar dengan penyakit lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dengan ibu HIV-AIDS sangat
memperhatikan keselamatan anak akan pajanan faktor infeksi. Menurut partisipan upaya yang dilakukan dengan cara segera membersihkan tubuh anak dengan air dan mengolesinya dengan alkohol atau cairan desinfektan guna menurunkan resiko infeksi pada luka. Hal ini dapat dilihat melalui ungkapan beberapa partisipan:
“yang saya tahu ya jangan sampai berdarah gitu aja bayinya, harus jaga jangan sampai adam kena darah kakak”[P1, L341,342]
“saya menjaga untuk seperti sabun mandi tidak sama. Kami menggunakan di rumah sabun mandi cair. jadi, hmm,, satu pun sabun mandi kita kan, banyak orang memakai tidak kontak sama kulit kita kalau ada luka”[P1, L341,342]
“ karena kan kita tidak tahu, kita kontak badan sama bayi kita kan. Mana tahu ada lecet-lecet gitu. yang penting kita diusahakan kita jangan sampai ada luka”[P3, L363-365]
“jangan sampai kayak kita sariawan kan mau, itu, itu jangan sampai, pokoknya diusahakan ya kita walaupun sebenarnya enggak, sebenarnya itu gak langsung bisa menularkan. Cuma kami memang menerapkan tidak bisa makan satu sendok, minum satu gelas”[P3, L477-480]
“saya tidak pernah menerapkan untuk ciuman mulut. karena kita gak tahu kalau waktu kita pas sariawan, anak-anak pun kan sering sariawan”[P3, L484-486]
“ …mainannya pun ngak saya kasih yang tajam, terus ngak saya kasih main tanah, jangan masukkan mainannya kemulut”[P1, L342,344]
“ Pokoknya saya itu dengan anak saya itu betul-betul apalah buk.. Jangan sampai dia itu sakit sikit ee langsung batuk- batuk langsung saya bawak ke bidan. Batuk satu, belum pun satu hari langsung saya tanyak ke bidan. ”[P1, L378-381]
“jujur dalam hati memang kita takutlah anak saya tertular. sekecil apa pun bahkan sampe luka sekecil apa pun saya gak mau megang bayi kalau misalnya lah saya luka gitu lho. walaupun saya luka luar, tergores sedikit aja pun memang gak keluar darah, saya gak mau megang anak saya. saya langsung saya pakai pembalut, apa handiplast gitu kan. udah gitu kalau misalnya lagi halangan saya cebok gitu kan karena darah-darahnya gitu
saya cuci tangan pakai sabun bersih-bersih baru saya megang anak saya [P2, L564-560]
p “Kalau cuma demam-demam biasa aku obati sendiri aja, udah tau aku ee..ngobatinnya, karena udah lama dia. Udah bolak-balek kubawa dia berobat ke dokter. Maksudnya ya obat-obat yang biasa dikasih dokter Itu aja ku sediain dirumah. ”[P14, L163-164]
3. Menjaga hygienis
Hasil penelitian menunjukkan semua partisipan sangat memperhatikan kebersihan dalam melakukan perawatan terhadap bayinya, termasuk kebersihan kemasan botol susu bayi, dimana semua botol susu direbus dahulu ataupun di siram air panas sebelum digunakan, bahkan ada partisipan yang membeli alat sterilisasi khusus untuk membersihkan botol susu bayinya. Sebahagian partisipan menjaga kebersihan diri atau pun tubuh anak guna mempertahankan imunitas anak, partisipan mengungkapkan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang anak dapat menjaga kebersihan dan menghindarkan anak dari kuman penyebab penyakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa partisipan dibawah ini:
“saya campur air dingin dan air panas jadi hangat kuku kemudian saya masukkan susunya. Saya tes ditangan ngak panas saya kasih sama anak saya”[P1, L335,336]
“sebelum saya kasih anak susu, air …. botol dodotnya itu saya bersihkan dulu, saya rebus. saya cuci dulu. udah setelah cuci, direbus, setelah direbus, saya siram lagi pakai air hangat botolnya. baru saya keringkan. mau bikin susu saya taruh air dulu baru susunya. ada takarannya kak. karena masih kecil itu, di suruh satu sendok takaran. tapi airnya satu garis tengah entah 2 garis dibawah itu.di bilang dokter seperti itu harus direbus dulu botolnya”[P8, L355,360]
“Dicuci bersih pake ini kan ada Sikatnya botolnya . Sikatnya dibersihkan baru direndam air panas, kalo gak direndam air panas pun di cok pake macam, apa namanya y,, pake cosmos nasi tu dicok, jadi hangat sikit baru digini”[P11, L254,266]
“oh itu botol saya rebus dulu lah pakai air panas mendidih gitu biar mati kumannya.saya tahu dari posyandu disini, ”[P1, L338,339]
“Oh kalau untuk khususnya memang ada slalu kita rutin membersihkannya apa ya, mencucinya supaya steril botol susunya”[P7, L192,193]
“ya botol susunya direbus dulu pakai air yang mendidih itu sampai 10 menit… kadang kalau buru-buru ya direndam diair panas aja botolnya biar hilang kumannya. ”[P13, L359,360]
“ya dicuci kek biasa ajalah botolnya, kalau ada waktu kadang kurebus pakai air Panas. ”[P14, L372,373]
“ … memegang anak saya, saya cuci tangan dulu. Semua cuci tangan dulu. Saya pastikan tangan saya bersih waktu pegang anak saya”[P1, L256,257]
“oh itu botol saya rebus dulu lah pakai air panas mendidih gitu biar mati kumannya. ”[P1, L338,339]
“saya selalu rebus dulu botol susunya. ”[P3, L394,395]
“sewajarnya kek bayi biasa cuma kita perlu tekankan kebersihan, harus teliti melihat mana tahu ada luka dibadannya itu aja yang saya takutkan” [P3, L332,333]
“….saya biasanya cuci tangan dulu sebelum pegang anak saya biar bersih….. ngak ada kuman kan…”[P4, L472]
4. Memantau minum obat anak
Salah satu upaya pencegahan penularan HIV-AIDS dari ibu ke anak adalah dengan memberikan profilaksis setelah kelahiran bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua bayi yang dilahirkan mendapatkan profilaksis dalam waktu yang bervariasi pada anak. Menurut partisipan bayi mereka diberikan obat dari rumah sakit selama empat sampai enam minggu. Partisipan memberikan obat pada bayinya melalui botol susu yang telah dicampurkan dengan air. Sebahagian partisipan juga mengungkapkan anak mereka yang telah dilahirkan sebelum
mengetahui statusnya, ada yang positif sehingga harus meminum obat seumur hidup. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan:
“Minum obatnya aku pantau sekarang dia minum FDC junior 2 kali sehari.2 tahun lebih dia minum obat. ….”[P14, L147,148]
“…. minum obat profilaxis itu dua kali sehari selama 6 mingguan lah minum obat ARV itu anak saya, ….”[P1, L347,348]
“minum obat tadi lah kak yang empat minggu dari dokter tapi saya sudah tidak ingat obatnya apa, dia digiling gitu, di giling. nanti kata dokter itu pas jam sekian masukkan obatnya ke dalam dodot, beri air putih.pagi aja kak bayi minum obatnya yang ARV itu….”[P8, L362-364]
“enam minggu minum obatnya . Iyaa..obatnya di,,, jadi bubuk nanti dikasi air jadi satu sendok diminumkan. ….”[P11, L263-264)
“ya obatnya profilaksis, diminum sekali sehari selama empat minggu. ….”[P15, L449)
“ya obat yang dikasih namanya zidovudine. Bayi minum zidovudine kak selama 6 minggu caranya di geruskan, digiling diapotiknya dah gitu nanti mereka ditakar ntah berapa mili sama mereka, dikasih kita untuk pengobatan per dua minggu jadi nanti kalau udah habis kita balik lagi untuk ngambil selama enam minggu. ….”[P2, L532-536)
“Obatnya profilaksis tuk 6 minggu itu….”[P14, L363)
“bayinya kan harus minum obat juga, minum obat yang selama 6 Minggu itu, kadang tengah malam harus bangun kadang ngasih obatnya kadang sampek muntah - muntah si bayi nya minum obat itu….”[P10, L268-270)
5. Meningkatkan status gizi
Peningkatan status gizi merupakan hal penting. Ini dimaksudkan agar tingkat infeksi anak tidak semakin memburuk ataupun anak tidak mudah terpapar penyakit lainnya. Hasil penelitian menunjukkan anak yang dilahirkan dari ibu yang positif sangat diperhatikan asupan gizinya. Menurut partisipan pemberian makanan yang bergizi, sehat dan tambahan suplemen makanan atau vitamin pada
anak dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan kesehatan anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa partisipan dibawah ini:
“.. ya saya selalu kasih anak saya vitamin tambahan.”[P1, L571-572] “ Jujur dalam hati memang kita takutlah anak kita tertular, makanya aku sediain makanan yang lain kek vitamin gitu loh.”[P2, L687]
“kalau anak, saya kasih makanan bergizilah biar hangan cepat sakit”[P14,L173-174]
“Kasih makanan yang bergizilah anak kita…..”[P4, L181]
“kalau anak saya, saya kasih makanan yang bergizi biar kuat dia, sehat…..”[P8, L429]