• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.3 Tema Hasil Penelitian

4.3.2 Perubahan Psikologis dan Sosial

Shock dan rasa tidak percaya adalah respon pertama seseorang saat terdiagnosa positif sebagai bentuk penolakan terhadap status HIV-AIDS mereka. Berdasarkan hasil penelitian semua partisipan awalnya tidak percaya jika dalam tubuhnya terdapat virus HIV. Rasa ketidakpercayaan ini membuat kebanyakan partisipan merasa bersalah dan berdosa atas tindakannya dimasa lalu yang mendatangkan malapetaka dalam hidupnya. Perasaan sedih bercampur bahagia

juga dialami partisipan saat diberi kesempatan menjadi ibu meskipun dihantui rasa takut yang luar biasa bila anaknya terpajan penyakit infeksi ini. Selain itu, perubahan secara fisik juga dialami ibu seperti keluhan mudah lelah, mudah sakit akibat proses perjalan penyakitnya. Partisipan juga melakukan perubahan gaya hidup kearah yang lebih positif dan sehat dengan meningkatkan asupan gizi, merubah perilaku kearah yang lebih sehat serta melibatkan diri dalam kegiatan sosial demi meningkatkan kualitas hidup partisipan. Adapun subtema yang didapat untuk tema ini adalah: 1) Perasaan takut, bersalah, dan berdosa, 2) perasaan senang menjadi ibu, 3) takut terpajan penyakit, 4) Perubahan sikap dan perilaku, dan 5) Munculnya kesadaran untuk saling membantu.

1. Perasaan takut, bersalah dan berdosa

Perasaan takut, bersalah, dan berdosa yang berlarut-larut berdampak pada perubahan psikologis ibu, kekhawatiran selama masa kehamilan terhadap janin yang dikandung dan kondisi kesehatan anak yang akan dilahirkan menjadi beban tersendiri bagi partisipan yang berdampak pada gangguan psikis. Selain perubahan psikis perubahan fisik juga dialami ibu terkait prognosa penyakitnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan merasa bersalah dan berdosa terhadap perilaku menyimpang di masa lalu yang mengakibatkan rasa bersalah berkepanjangan. Perasaan berdosa dan bersalah ini terlebih dirasakan partisipan kepada anak yang dilahirkan terkait takut menularkan, takut menjadi beban untuk keluarga. Perasaan takut juga dialami partisipan terkait kondisi fisiknya yang melemah sebagai dampak dari proses infeksi yang akan

mempengaruhi aktivitas keseharian ibu. Hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa partisipan dibawah ini:

“…… ada rasa bersalah karena saya hamil, tapi ya saya juga harus memperjuangkan janin yang ada dikandungan saya agar tidak terinfeksi virus HIV juga.… saya sih awal saya hamilnya juga gimana ya, sebenarnya ngak diduga juga gitu yakan. jadinya saya merasa bersalah, kebetulan bayi ini juga ngak terprogram jadinya saya disitu saya merasa bersalah gitu yakan….. rasa bersalah itu pasti ada gitu. Cuma ya kita jalani aja mudah-mudahan aja anak yang ada dalam kandungan itu tidak terinfeksi” [P7, L65,66]

“ ya… sedih sesedihnya kak….. ngak bisa terimalah kak….. apalagi dalam keadaan hamil kek gini… berpikir kok bisalah aku positif ya…” [P1, L22,23]

“….. perasaan takut, merasa bersalah, merasa berdosa ngak aku hamil dengan keaadaan seperti inipun ada. …” [P3, L27,28]

“merasa was-was juga karena kita tahu kondisi kita memang HIV positif “[P2, L29]

“ ya cuma disatu sisi kita merasa bersalah,…. dah gitupun kita selama hamil itu merasa was-was terus dari pertama hamil sampai melahirkan…….. pokoknya kita was-was teruslah” [P2, L131-136] “…ngak tahunya positif. ngedrop aku kak begitu tahu positif kan…..”[P8, L56]

“ ya kek disambar petir disiang bolong lah kak…. Sedih sesedih- sedihnya… kok bisa akulah yang kenak ini?” [P8, L57,58]

“Terguncang kak…. Merasa bersalah… berdosa…. Aku yang berbuat anakku yang kenak. Menanggung perbuatan dan dosaku dimasa lalu. Kasihan aku kak sama dia” [P14, L74,75]

“ ya kek mana ya kak… kek disambar geledek lah kak… nangis aku kak….…..”[P11, L56]

“ Stress kali akulah kak waktu tau aku positif…. Sedih kali rasanya….” [ P11, L44,45]

“Ya akhirnya aku test di rumah sakit…. Positif ! wadoh….. rasanya kayak disambar petir…. Aku duduk lemes di pojok rumah sakit. Dalam hati aku ngerasa wajarlah aku kenak… toh aku bukan perempuan baik-

baik. Aku marah sama diri aku sendiri.”Pantas kok aku kenak” terus- terusan hati aku bilang gitu. Aku marah sama diri sendiri, aku memang berdosa, hina makanya pantes dapat hukuman ini. “Ini hukuman untuk perempuan kayak aku” [ P13, L52-57]

“tapi aku ngerasa berdosa juga sama ini anak. Dia harus malu… pasti dia akan malu punya orangtua ODHA kayak kami…”[P13, L77,78]

“Padahal aku rasanya mau down juga ya kan pas denger anak ku SIDA Jadi…” [ P14, L58,59]

”rasa marahlah sama tuhan… kok aku yang kenak…kok bukan pelacur- pelacur yang di sana itu” [P15, L37,38]

“ menanggung beban orangtuanya… kasarnya kan kami yang salah, yang berdosa tapi dia harus menanggung beban kami ” [P15, L47-49]

“ya takut sakit… apalagi nanti kita kalau cuaca kurang mendukung bentar-bentar sakit karena kondisi fisik kitakan ngak sehat seperti orang yang normal gitu kan. jadi ya itulah takut sakit nanti kalau sakit janin ini kek mana.” [P2, L23-259]

“Ya kalau habis lahiran kan kak, semua badan masih terasa sakit kan, ngak enak, tambah lagi kita yang aids ini ” [P1, L230,231]

“ya kak…. Adalah apalagi kitakan yang HIV ini mudah kali sakitkah….. apalagi baru lahiran waktu itu… semua ngak bisa orang operasi, semua badan sakit, ngilu” [P10, L47,49]

“Habis lahiran itu kak…. Sakit semua badanku… ngak berdaya gitu, dah itu cepat capek… mau apa-apa lemas” [P5, L267,268]

2. Perasaan senang menjadi ibu

Menjadi seorang ibu adalah hal yang membanggakan bagi seorang perempuan, terutama perempuan dengan HIV positif dimana kehamilannya menjadi beban tersendiri karena adanya resiko penularan penyakit pada anak yang akan dilahirkan. Berdasarkan hasil penelitian mayoritas partisipan merasa senang akan kehamilannya. Baik kehamilan yang direncanankan ataupun tidak. Perasaan

senang partisipan juga dihantui perasaan takut akan menulari anaknya, takut akan masa depan anaknya, takut tidak bisa mendampingi anaknya sampai dewasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa partisipan dibawah ini:

“iyaa.. hee ee.. disatu sisi saya senang saya hamil, saya bakal punya anak… apalagi kan saya pernah bercerai gara-gara ngak ada anak…”[P1,L61,62]

“ya kalau pas didiagnosa hamil ya senanglah…. Ya senanglah…”[P2, L28]

“ Senangnya dengan seperti ini keadaanku aku masih bisa diberikan karunia mempunyai anak…”[P3, L24,25]

“Tahun 2009 kami ikut program bulan 4 nya aku langsung hamil disitu saya dikatakan senang iya khawatir iya karna yang kedua kan dikatakan gagal, takut juga makanya disitu tau hamil langsung konsultasi langsung saya pergi ke adam malik…”[P4, L439-442]

“Perasaan bersalah ngak…aku senang aku hamil cuma takut aja kak anak ku kenak…. Makanya kata dokter minum obat biar ngak kenak ya aku minum obat…”[P5, L153-154]

“Jadi ya terima aja nasib kita begini. Yang penting kakak senang kakak punya anak itu aja….”[P6, L366]

“Saya senang saya hamil, keluarga juga mereka juga menyambut baik ya dengan kehamilan saya yah… mungkin ini suatu rezeki ya … walaupun mungkin ada … suatu hal yang akan ditakutkan gitukan karena saya sudah terinfeksi virus HIV ini gitu, cuman mereka ya… selalu memberi nasehat gitu kan agar menjaga kandungan saya dengan baik, sebaik- baiknya. …”[P7, 85,86]

“senang kalilah aku punya anak apalagi dia negatif…”[P9, L223]

“..kami senang kalilah kak begitu tahu hamil apalagi suamiku, dia senang kali karena mau jadi ayah …”[P8, L107,108]

“Semua kami senang lahirnya anak ini kak…”[P11, L132]

“ Disatu sisi kakak senang karena masih dikasih kepercayaan sama tuhan untuk punya anak lagi…”[P15, L63,64]

3. Takut terpajan penyakit

Penularan HIV-AIDS pada anak menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibu terkait masa depan dan pertumbuhan anaknya, dimana resiko penurunan imun akan berdampak mudahnya si anak terpapar penyakit infeksi akut dan kronik yang akan mempengaruhi kesehatan fisik dan jiwa si anak. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa sebahagian partisipan mengkhawatirkan kesehatan anaknya, takut anaknya terinfeksi, dan takut akan hubungan sosialnya, takut tidak diterima ataupun akan dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa partisipan:

“Disaat mau melahirkan disitu tau kalau saya positif penyakit itu gitu. Sedih lah …. Takut kalau anak saya positif juga…..…”[ P1, L64,65] “ menanti kelahiran bagaimana nanti selanjutnya? pasti perasaan nanti ‘kenak ngak ya anak ku ini?’ …”[ P3, L18.19]

“ was-was… satu, ya takut anak kita tertular dari kita walaupun memang kita itu profilaksislah memang ada dikasih profilaksis dari rumah sakit cuman disisi lain dalam hati memang takut jugalah tertular nanti kek mana anak kita kedepannya…”[ P2, L31-34]

“kadang-kadang ada perasaan bersalah, takut menularkan pada si bayi nanti kek mana, gitu, nanti kalau sakit si anak kenak kek mana, apalagi bentar-bentar dia sakit”[ P2, L40,41]

“aku juga khawatir kak… takut… kalau-kalau anakku tertular sakitnya kek aku. Macam manalah dia nanti. Kek mana masa depannya?itu yang ku pikirin kak…”[P8, L109,110]

“ Sebenarnya kakak dah ngak mau punya anak lagi… takut kalau nanti dia harus sakit, menanggung beban orangtuanya…”[P15, L46,47]

“…Takut orang itu tidak kek anak lain, anak normal lainnya… yang sehat, ngak sakit…takut juga nanti dia diejek kawan-kawannya kalok sempat tau anakku positif…”[P11, L86-88]

“…..gimana ya kak…. Aku takutlah anakku sakit… kek mana masa depannya…”[P4, L85]

“ya kakak tau sendirilah kak anakku…. Kek gini keadaannya… kek manalah dia nanti tambah lagi aku HIV mungkin gara-gara ini makanya begini dia kak ”[P10, L237]

4. Perubahan sikap dan perilaku

Pola hidup sehat dengan cara memilih makanan sehat dan berolahraga adalah cara untuk menjaga tubuh agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Menghindari stress, pola makan yang salah, dan kurang istirahat akan meminimalkan penurunan kondisi kesehatan pada penderita HIV-AIDS. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas partisipan melakukan perubahan sikap dan perilaku kearah sehat dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi dan suplemen tambahan sebagai upaya meningkatkan stamina tubuh. hal lain yang juga dilakukan partisipan adalah mengurangi tingkat stressnya karena anggapan dapat memperparah kondisi kesehatannya. Partisipan menanamkan keyakinan dan motivasi dalam dirinya untuk tetap sehat sebagai modal untuk melakukan perubahan sikap dan perilaku dengan meninggalkan kebiasaan yang dianggap partisipan tidak sesuai dengan tujuan hidupnya. Hal ini sesuai dengan ungkapan beberapa partisipan di bawah ini:

“makan makanan bergizi gitu seperti: sayur, buah, semua yang penting sehatlah…“ [P1, L417,418]

“jangan sampai kecapean banget karena saya pun kalau capek kali nggak bisa buk. Nggak bisa capek …“ [P1, L420,421]

“…minum ini istilahnya kek suplemen makanan atau apa istilahnya bisa memang mensupport menjaga imunitas kita, itu saya suka sekali memang saya mencari tahu tentang produk apa yang bagus yang lebih bagus selalu saya cari kalau istilahnya sesuai dengan budget saya kan baru saya beli kalau untuk itu demi kemanan istilahnya untuk menstabilkan imunitas saya…“ [P3, L52-56]

“luka saya pernah. saya langsung beli antibiotic obat yang cepat mengeringkan dan saya membungkus itu. jadi supaya tidak menular. kekhawatiran saya kan terlalu dalam, jadi saya beli obat yang cepat mengeringkan luka …“ [P3, L504-507]

“Karena kan kita kan udah menjaga pola hidup sehat kita, dah minum obat…“ [P2, L813-814]

“…kalaupun misalnya entah saya ada luka cepat-cepat saya obati ataupun saya tutup,terus kalau diapun ada luka entah dia terjatuh ataupun tergores,cepet-cepet saya bersihkan, cepet-cepet saya tutup luka, cepet- cepet saya kasih obati [P2, L802-805]

“ya paling tidak kita bisa merubah pola hidup kita. hidup lebih sehat, teratur. contohnya kan ibaratnya tidurnya mesti teratur, makannya itu di apa mesti diatur lah makannya, gak boleh telat-telat lagi gitu. gizinya juga dijaga itu sih kak. yang penting salah satu intinya gak boleh banyak stress gitu. “[P4, L337-341]

“jaga kebersihan itu aja. Menjaga kebersihannya kalau gatal jangan digaruk sama kuku, biar jangan berdarah.. makan-makanan yang bergizi yang mampu dibeli supaya pulih gitu aja waktu itu. “[P6, L314-316] “Vitamin, biasa saya minum vitamin. Biasa saya protekal atau susu “[P7, L168]

“minum obat secara teratur, pola hidup sehat… berpikir positif, saya gak pernah mikirin penyakit saya, tidak menyesali keadaan ya“[P10, L339,341]

“minum obat rutin jangan lupa itu hmmmm makan makanan yang bergizi ya istirahat cukup. Tidur teratur kek kakak Ooo biasanya kalo kakak gak bekerja siang itu kakak wajib tidur kan gitu, ya tapi kalau gak gak tidur ya cepat tidurlah “[P9, L211,213,218,219]

“cuman kata dokternya kami kan gak boleh makan makanan mentah, setengah matang, harus betul-betul masak makanan kami, jadi kek telor setengah masak itu kami gak boleh. Pokoknya harus betul-betul matang semua makanan kami. Kalau makan vitamin-vitamin, susu kek gitu emang aku ngak suka dari dulu kak. Lagian juga mau beli-beli obat-obat cina katanya hee..eh itu nggak jelas ada BPOM nya. “[P14, L339-344] “Upaya nya ya….. pastilah mempertahankan kondisi tubuh agar jangan drop. minum obat rutin ya, rajin periksa ke dokter, konsultasi. menerapkan hidup lebih sehat lagi ya makan tepat waktu, waktu tidur ya tidur.dan yang paling penting untuk kami ini selalu pertahankan imun

tubuh jangan sampai capek kali, makan yang bergizi lah, perbanyak makan vitamin, kalau bisa lakukan olah raga. Jangan stress, jangan banyak pikiran kak, “[P13, L398-405]

“ya disuruh makan sayur-sayuran, makan sayur matang trus ... apa namanya....makanan harus dicuci bersih sama jangan makan sayur yang mentah seperti lalapan “[P10, L205,206]

5. Munculnya kesadaran untuk saling membantu

Berdasarkan hasil penelitian empat orang partisipan bergabung menjadii buddys sebagai bentuk penebusan dosa terhadap diri dan lingkungan partisipan dengan cara merancang masa depannya melalui perubahan peran membantu perempuan lain yang terinfeksi untuk dapat meningkatkan derajat kesehatannya dengan cara menjadi relawan (volunteer) dalam Lembaga Sosial Masyarakat. Partisipan merasa lebih tenang dan senang bila dalam hidupnya dapat memberikan manfaat bagi yang lain atau sebagai bentuk penebusan dosa agar tiada lagi orang lain yang mengalami hal seperti dirinya dengan memberikan informasi terkait HIV-AIDS kepada orang lain ataupun hanya sekedar mengajak orang lain ke pertemuan-pertemuan yang rutin diadakan komunitas. Adanya pengakuan lebih luas dari masyarakat sebagai salah satu upaya partisipan menunjukkan aktualisasi dirinya. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan sebahagian partisipan seperti dibawah ini:

“saya dah lama gabung jadi kader, sejak tahun 2011 jadi kak sering ikut acara, pelatihan-pelatihan itu…“ [P1, L468,469]

“…. Bisa bantu orang juga hal yang menyenangkan bagi saya. Kasih tahu ibu-ibu jadwal posyandu liat anak mereka sehat saya senang…“ [P1, L475,477]

“kurasa karna ini hati juga ya kak karna kita pengen membantu kek mana kalau bisa sih teman-teman mira itu janganlah ada yang meninggal gitu

kalau bisa kayak aku gini ya kan kak pernah punya pengalaman kayak anak, kayak suami meninggal. memang dari hatilah kak ada pangilan hati aja makanya mira apa, sempat juga mira kerja mira berhenti di medan plus setengah tahun vakum toh gak bisa juga ditelpon teman dapat panggilan toh datang juga gitu, gak bisa mang udah dari panggilan hati sih…“ [P4, L627-634]

“Bagaimanapun juga aku senang kak bisa bermanfaat bagi yang lain…. Sekarang aku bantu teman-teman yang belum mau periksa tuk periksa…. Yang mau minum obat minum obat…. Dulu kan aku coordinator di medan plus” [P2, L859-860]

“aku ngak mau lagi kak ada fitri-fitri yang lain yang harus menanggung beban karena tidak tau… makanya aku mau menjadi pendamping supaya kasih tau ke orang khususnya perempuan yang sekitarnya banyak pakai narkoba”[P7, L268-270]