• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.3 Tema Hasil Penelitian

4.3.4. Melakukan Perawatan Postpartum pada Ibu

Perawatan postpartum yang dilakukan ibu adalah hal penting yang perlu mendapat perhatian dari tenaga kesehatan karena masa ini memungkinkan terjadi komplikasi yang dapat berdampak bagi kesehatan ibu dan bayinya. Hasil penelitian menunjukkan partisipan melakukan berbagai upaya untuk merawat dirinya dalam upaya meningkatkan kesehatannya. Upaya tersebut dilakukan secara medis ataupun tradisional dengan menggunakan rempah-rempah. Pembahasan pada tema ini dibagi dalam beberapa subtema antara lain; 1) Upaya perawatan mempercepat penyembuhan, 2) Melakukan tindakan mengurangi nyeri, 3) Meningkatkan asupan gizi, 4) Menggunakan alat kontrasepsi, 5) Menerapkan perilaku hygiene, 6) Minum obat, 7) Tindakan pada pembalut bekas. Pernyataan beberapa partisipan dapat dilihat dibawah ini:

1. Upaya perawatan mempercepat penyembuhan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan melakukan upaya-upaya untuk mempercepat proses penyembuhan lukanya terutama luka caesareanya dengan melakukan perawatan secara mengoleskan obat-obatan atau mengganti balutan luka, mengkompres, dan lainnya. hal ini dapat dilihat melalui ungkapan beberapa partisipan:

“ Oh itu tapi dari pengalaman saya aja… ya saya pakai baby oil di lukanya” … kalau pagi kalau sorenya saya kasih propolis dilukanya itu …“ [P1, L202,205]

“Pokoknya kalau keluar darah terasa saya rasa udah gak enak dibadan, saya minta ganti balutannya biar cepat sembuh luka caesareanya…“ [P3, L105-106]

“ya kalau misalnya daerah luka ya paling ya di dibersihkan kayak betadine. dikasih betadine lagi lukanya itu perbannya, balutannya itu aja sih kak. ditutup pakai pembalut lukanya…“ [P4, L28,29,33]

“Dibersihkan aja lukanya pakai air, kata dokter air, dikasih sabun, yah sudahlah kayak gitu [P6, L101]

“owh, ganti perbannya sendiri, keringkan pakai handuk lukanya, oleskan air hangat diluka nya ya udah setiap mau mandi pakai perban baru lagi. “[P10, L26,27]

“ya udah kakak rawat aja sendiri pakai betadine lukanya ya….. yang pertama saya kan mandi dulu habis itu perbannya lukanya dibuka. Dah dibuka perbannya dibersihkan pakai alkohol lukanya itu, dah gitu baru ditarok betadine keluka nya pakai kapas lah digini giniin ya kan lukanya di tekan - tekan gitu kan baru tutup perban lagi” [P9, L21, 24-26]

“ya ee.. pas aku mandi,perban lama dilepas… lukanya dibersihkan gitu Pakai rivanol, habis itu diolesin pakai salep. Waktu itu aku pakai bioplacenton. Dioleskan ke lukanya biar cepat sembuh dan ditutup pakai perban lagi” [P14, L171-173]

“kalau mengganti balutan waktu pas udah mandilah, saya bersihkan dengan tisu basah dulu lukanya, baru saya tarok betadine ke lukanya itu, ya dah agak kering betadine nya baru ditutup sama kain kasa itulah plester siap. ” [P15, L166-169]

“Cara perawatannya setelah buka perban setiap hari kita oleskan salap betadin itu diluka sesar secara rutin ya itu pokoknya setiap hari rutin” [P7, L20-21]

“tapi saya kasih baby oil itu aja lah putingnya, saya gosokkan di daerah situ pelan- Pelan” [P14, L172,173]

“ Waktu itu aku pakai bioplacenton. Dioleskan ke luka sesar nya biar cepat sembuh dan ditutup pakai perban lagi. ” [P11, L186]

2. Melakukan tindakan mengurangi nyeri

Berdasarkan hasil penelitian mayoritas partisipan melakukan suatu upaya untuk mengurangi nyeri, baik nyeri yang bersumber dari luka sayatan caesarea, luka pada payudara, ataupun nyeri nifas. Partisipan biasanya melakukan kompres air hangat, tindakan mengelus atau mengusap daerah yang nyeri, membaca koran, minum obat dan tidur juga dianggap satu solusi mengurangi nyeri. Sebagian partisipan juga mengaku tidak mengalami nyeri postpartum setelah pulang dari rumah sakit. Pernyataan partisipan tersebut dapat dilihat di bawah ini:

“…tapi saya kasih baby oil itu aja lah putingnya yang lecet itu, saya gosokkan di daerah situ pelan-pelan lama-lama kurang juga nyerinya.” [P1, L275,276]

“Di elus aja, dielus-elus gitu lukanya. dah gitu makan obat yang dikasih dokter itu. ntar juga berhenti gatelnya.” [P2, L198,199]

“ya paling di elus-elus gitu aja. Cuma kadang kan agak nyeri agak apalagi agak, karena lukanya itu merapatnya kurang merata .”[P2, L214- 215]

“ ya….. saya makan obat dari dokter aja kalau nyeri” [P3, L125] “:ya gak ada minum paracetamol aja biar nyerinya hilang” [P4, L85]

“ya paling kak belai-belai aja sama tangan, digaruk tapi kek dielus-elus gitu tapi ngak kuat. Kalau udah gitu enakan. Itupun ngak lama 3 hari juga dah kering kok lukanya ngak sakit lagi” [P6, L114,115]

“ya ini lah beli obat sendiri dari luarlah tuk nyerinya, ya obat cina untuk luka lah kak katanya” [P10, L39-41]

“ya kalu nyeri ngapain yah… paling istirahat. Bedrest. ” [P14, L191] “ Paling aku ya minum-minum obat anti denyut aja sehari 3 kali yang dari dokter. ” [P14, L194,195]

“Saya baca koran untuk menghilangkan rasa nyeri itu supaya saya enggak kepikiran rasa sakit lagi” [P7, L142,43]

“Istirahat, tidur, tenang dulu, ibaratnya gak boleh capek-capek kali itu aja, kalau dah Istirahat kuranglah nyerinya” [P11, L117,118]

3. Meningkatkan asupan gizi

Hasil penelitian menunjukkan partisipan melakukan upaya peningkatan asupan gizi pada masa postpartum dengan cara menambah stamina dan mempertahankan imunitas nya. Dengan kondisi fisik yang sehat partisipan mengaku dapat melakukan aktivitasnya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Kondisi fisik yang lemah membuat partisipan membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Partisipan biasa meningkatkan asupan gizi dengan mengkonsumsi makanan sehat seperti banyak makan buah dan sayur, minum susu, minum vitamin. Memakan makanan tinggi protein seperti ikan, daging, udang, dan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan beberapa partisipan dibawah ini:

“…ikan gabus, katanya sih biar cepat sembuh lukanya makan ikan gabus.itu kita makan selama masa nifas lho bu” [P1, L321,322]

“saya konsumsi makanan yang bergizi, seperti sop lembu untuk imun saya, sop lembu, udang, teri nasi itu saya makan, terus bubur apa sama ikanGabus biar bagus stamina saya”[P3, L315,320,321]

“ya bisa 6 sampai 10 butirlah telor rebus itu…. Saya makan biasannya setiap hari, makan sayur, minum jus, minum susu”[P10, L221-225] “ya kek kak makan ikan gabus biar cepat sembuh lukanya…. Makan daging tahu tempe ikan buah sayur pokoknya yang sehat ”[P9, L213,214] “ saya konsumsi makanan yang bergizi, seperti sop lembu untuk imun saya” [P3, L314]

“sop lembu, udang, teri nasi itu saya makan, terus bubur apa sama ikan gabus biar bagus stamina saya” [P3, L319,320]

“ terus aku juga suka makan buah, sayur, tiap hari aku jus buah itu kak, biar aku tetep sehat. ” [P14, L336,337]

‘ya aku makan produk sunhope kak, emang betul itu vitamin nya ada khusus pasien sida kek kami …. Ya Paling minum susu lah 2 gelas sehari pagi dan malam. ” [P13, L327,329]

‘Biasanya aku makan telur, ikan sayur buah, minum susu apa ajakak yang penting bergizi. ” [P7, L551,558,561]

“Oooo iya makan makanan yang banyak proteinnya aja kak setelah melahirkan Oke makan ikan gabus, makan tempe, telur pokoknya sayur- sayuran” [P12, L224,226]

” saya selalu minum susu. susu ensure itu. kalau ada.. susu saya satu kali aja mau tidur.” [P3, L453,454]

“suplemen ada. dari teman kebetulan memang teman gunain memang ya…..lihat kondisi dia fit, saya jadi ikut ikut mau mengonsumsi sampai sekarang.” [P3, L462-464]

4. Menggunakan alat kontrasepsi

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas partisipan jarang menggunakan alat pelindung saat berhubungan, hal ini dikarenakan adanya perasaan tidak nyaman dan ketidakpuasan dari pihak pasangan partisipan. Partisipan menggunakan alat pelindung berupa kondom dan sebagian kecil memakai alat kontrasepsi lain seperti suntik KB guna menghindari kehamilan dan pertukaran virus antar pasangan suami isteri. dua orang partisipan sudah tidak memiliki pasangan karena telah meninggal dunia akibat infeksi HIV-AIDS. Dua orang partisipan telah melakukan sterilisasai dengan sukarela dan satu orang partisipan melakukan sterilisasi atas paksaan tenaga kesehatan. Pernyataan partisipan dapat dilihat dibawah ini:

“ya setiap berhubungan, berhubungan badan pakai kondom. ..” [P2, L442]

“sebenarnya masalah ya kondom ini karena suami pun agak susah orangnya kalau disuruh pakai kondom. karena kalau dia pakai kondom susah apa, apa ejakulasi ya namanya. susah nembaknya katanya gitu. Jadi kadangpun saya melayani suami kalau misalnya pakai kondom gitu pun agak malas juga agak lama,..” [P2, L470-474]

“ …. setelah saya caecar saya menggunakan kondom, saya menggunakan KB suntik juga..” [P1, L296,297]

“ jadi kita lebih amannya kalau berhubungan intim harus pakai kondom”[P3, L292]

“menggunakan pengaman sih kak. tapi terkadang, terkadang juga suami gak mau, gak mau dia kadang pakai kondom..” [P4, L194,195]

“sebenarnya suami ngeluh sih. Iya sih, katanya gak enak pakai kondom- kondom gitu, tapi mau gimana yah namanya sakit ini mematikan ya.. jadi mau ngak mau harus pakailah kondomnya. mau ngak maulah daripada dia kena..” [P6, L212-214]

tidak, karena suami yang tidak mau pakai. suami gak mau pakai kondom setiap main..” [P8, L314]“ya lah selalu pakek dia pengamannya suami kakak..” [P9, L126]

“ya menggunakan kondom waktu berhubungan seksual..” [P10, L157] “sebetulnya sih dianjurkan pakai, kondom Cuma saya gak mau pakai sakit itunya. ..” [P11, L203]

” ya kadang pakai kondom …. kadang tidak [P12, L283]

“ya kata suami sebenarnya gak enak pakai kondom kak. Kurang puas suami..” [P13, L293]

“Iyalah, kami selalu menggunakan kondom sebagai KB juga” [P14, L327]

“ ya…. Abang kan jarang mau pakai kondomnya… gak enak katanya, lama nembaknya capek dia”[P15, L389-390]

“Udah , anak juga sudah tiga… dokter anjurkan steril aja saya. Ya langsung steril ini saya”[P6, L217]

“Cuma karena kan semua juga petugas kesehatannya itu seperti mendeskriminasi. mereka bilang mau berapa orang lagi yang kamu tularkan gitu. jadi saya karena kan terdeskriminasi gitu makanya dan suami juga bilang yaudah lah menyelamat kan, hmm,, dua-duanya jadi udahlah kayak mana pun ceritanya yaudah kita tanda tangani aja yang penting kalian dua selamat. itu dulu yang kami pikirkan. maka langsung ditandatangani suami surat steril paksa kayak gitu kak …”[P2, L379-385]

5. Menerapkan perilaku hygiene

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas partisipan mulai menerapkan kebersihan setelah terinfeksi HIV, baik pada saat melakukan perawatan postpartum seperti mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mengganti pembalut, rajin mengganti pembalut saat nifas, membersihkan area luka, membersihkan payudara dan area perineum saat mandi, mencuci terlebih dahulu makanan yang akan di makan seperti buah, sayur, dan lainnya. Mayoritas partisipan menyadari bahwa perilaku bersih baik bagi setiap orang terutama ibu dengan HIV-AIDS. Pernyataan partisipan ini dapat dilihat dibawah ini:

“hm ganti pembalut luka itu saya sering. jangan sampai darah saya terlalu banyak” [P3, L99]

“pokoknya sebentar jangan sampelah darah itu bercecer gitu. jadi sebisa mungkin berulang kali pembalut itu diganti. kan masa nifas saya tidak terlalu lama” [P2, L192-194]

“ya kemaluannya dibersihkan sering aja. ya pakai air aja kak dicuci biasa kayak dibasuh kayak biasa aja” [P4, L144-145]

“ya sering aja cuci tangan kalau baru cebok, bersihkan anunya…” [P6, L336]

“aku sering ganti pembalut dan balutan lah kak pas nifas itu ngak enak kan basah-basah…” [P7, L295]

“saya cuci dulu makanannya baru direbus sampai matang.. kamikan tidak boleh makan makanan yang setengah matang. Semua harus masak betul ”[P3, L449,450]

“membersihkan anunya. dibersihkan waktu mandi ajalah, disabunin pakek sabun mandi biasa sampai bersih anunya sesering mungkin. ” [P14, L380-381]

“saya lukanya sering dibersihin biar jangan infeksi” [P15, L309]

“kami kan gak boleh makan makanan mentah, setengah matang, harus betul-betul masak makanan kami, jadi kek telor setengah masak itu kami gak boleh. Pokoknya harus betul-betul matang semua makanan kami semua tapi harus dicuci dulu ” [P14, L339-342]

“.….iya katanya biar gak katanya biar gak gatal dikemaluannya, biar gak alergi jadi harus sering diganti pembalutnya. ” [P12, L169-170] “… ya kalau contohnya buah… itu kami cuci dulu kak pakai sunlight itu aja biar bersih….” [P10, L286,287]

6. Minum obat

Hasil penelitian menunjukkan semua partisipan minum obat tepat pada waktunya, semua partisipan menggunakan alarm sebagai pengingat minum obat. Obat partisipan bervariasi ada dua atau tiga macam yang diambil setiap bulannya di rumah sakit pemerintah secara gratis dengan mendapatkan bimbingan dari tenaga kesehatan. Waktu awal partisipan minum obat bervariasi, mulai saat tahu statusnya positif dan ada juga yang baru minum obat saat tubuhnya drop. Hal tersebut sebahagian dikarenakan partisipan merasa dirinya baik-baik saja dan merasa belum perlu meminum obat, ada juga yang beralasan karena tidak ingin anaknya tertular saat hamil, ada yang merasa malas minum obat karena harus diminum seumur hidup. Pernyataan partisipan dapat dilihat dalam ungkapan sebagai berikut:

“saya udah minum obat waktu mulai kehamilan saya 8 bulan 2 minggu saya sudah dikasi obatnya sampai sekarang saya minum obatnya” [P1, L283,284]

“…. insyaallah gak pernah lupa minum obat nya kan pasang alarm” [P1, L293]

“ dua kali sehari jam 9 pagi dan jam 9 malam saya minum obatnya ”[P1, L270]

“ karena saya minum obatnya yang satu kali satu itu hanya boleh malam. gak boleh pagi gitu. jadi kalau yang malam saya minum 3, pagi saya minum 2 gitu. [P2, L432-434]

“ terus saya minum obat secara rutin dan harus tepat waktu.” [P3, L454] “dua kali sehari jam 9 pagi dan jam 9 malam saya minum obatnya.”[P3, L271]

“Dua kali kalau kebetulan mira dosisnya yang 2 kali. ya pagi jam 9 malam jam 9.” [P4, L167,168]

“Dukungan keluargalah kak fit minum obat itu dua macam 2x2 kak.” [P7, L126]

“Dua macam duviral neviral itu obatnya. 2x2 tablet. kalau efek samping ARV itu nggak ada dari awal. Cocok-cocok aja sih” [P9, L146, 148] “kalau saya minum obat dua kali sehari kak jam 8 pagi dan jam 8 malam, kalau saya obatnya 2 macam duviral neviral, ya lah kak kan dah pasang alarm nya jadi ngak telat minum obatnya. “[P10, L138, 140, 142]

“Ga da kok. keknya belum lah masih keknya ku rasa masih sehat masih enak untuk apa minum obat… orang saya sehat sehat aja kok.” [P12, L184,185]

“kalau efek samping obatnya dari dulu emang aku gak ada rasakan kak, baik-baik aja…cocok kok obatnya ma aku kak kuminum 2x2 dua macam.”[P13, L278,279]

kurang lebih dua tahunan lah ya kak. ya obatnya dulu 2 macam sekarang 3 macam kak, 2 kali sehari lah kak minum obatnya, biasa ku minum jam 9 pagi dan jam 9 malam kak, pokoknya kalau bunyi alarm minum obatlah aku itu.”[P14, L313-315]

“Minum obatnya dua kali sehari, biasanya saya minum obatnya jam 9 pagi dan jam 9 malam obatnya .”[P15, L334,335]

“Kalau efek samping dulu ya pas awal minum obat ini, kek mual, pening tapi dah bulan kedua biasa aja.”[P15, L344,345]

“Selama minum obat masalah yang dijumpai ya terkadang itu sih kak, hmm,, mudah capek juga kan udah gitu kan tulang-tulangnya itu ngilu gitu. sering disini belakang kebanyakan ya mira rasakan di tulang belakannya ini sering sakit. Cuma bukan mira aja yang ngerasai. teman- teman yang minum obat kayak gitu juga sih katanya tulang belikat belakangnya ini gitu sih sakit.”[P4, L176-181]

“Kalau minum obat ini dulu saya masih pertama kali minum sering kayak oyong-oyong gitu, mual gitu.memang kata dokternya itulah reaksi obat ketubuh terusin aja ngak apa-apa katanya.”[P6, L225-227]

“ya sebulanan lah kak kek gitu asal minum obat mual, pening.”[P14, L319]

7. Tindakan pada pembalut bekas

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas partisipan membersihkan pembalut bekas dengan cara mengguyur pembalut bekas dengan air mengalir hingga bersih lalu dibuang, ada yang mengubur bekas pembalut dan ada juga partisipan yang membakarnya setelah dibersihkan. Hal ini dilakukan partisipan untuk mengurangi resiko penularan virusnya melalui darah kepada orang lain terutama keluarga atau orang terdekat partisipan yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Partisipan menyatakan pembalut bekas berpotensi dapat menularkan infeksi pada orang lain. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan beberapa partisipan dibawah ini:

“ ya saya cuci sampai bersih, saya masukkan ke plastik saya suruh suami saya kubur pembalutnya tadi biar ngak ada yang kenak orang “ [P1, L 259,260]

“…pastikan jangan sampailah darah kita itu kemana-kemana. Pastikan pembalutnya. maka saya membuangnya ke saluran WC bekasnya. “[P3,L430-432]

“bersihkanlah pembalutnya dicuci dulu sama air sampai bersih, kalau udah bersih masukkan plastik baru ditimbun, dikuburlah pembalutnya itu biar jangan menularkan“[P14, L286-287]

“Seperti biasa. seperti kita biasa kayak halangan itu. nanti di cuci. saya kalau menyuci pembalut itu kan kak. itu saya robek ujung-ujungnya.saya buang kapasnya itu kedalam toilet. iya setelah dicuci bersih, disemprotkan kapasnya itu. terus apanya itu pembalutnya itu saya buang lah ke tong sampah. tapi udah bersih ya. udah keadaan bersih“ [P2, L295- 299]

“udah ditiriskan pembalutnya yang bersih tadi gitu di tarokkan plastic, di buang ke tong sampah pembalutnya dibakar nanti itu kayak kalau dah banyak biar aman aja“[P4, L138,140]

“bersihkanlah pembalutnya dicuci dulu sama air sampai bersih, kalau udah bersih masukkan plastik baru ditimbun, dikuburlah pembalutnya itu biar jangan menularkan“[P14, L286,287]

“Dibersihkan seperti biasa aja kak, pembalutnya cuci sampai bersih masukkan dalam plastik kumpulin sampai penuh baru ditanam. Kata temen-temen gitu biar ngak menularkan “[P13, L238,239]

“ya kalau pembalutnya sih… kata kawan-kawan kan yang positif juga harus ditimbun, tau sendiri kan…. Bersihkan pembalutnya sampek bersih,kumpulkan dalam plastik, seminggu penuhkan… kuburlah belakang rumah“ [P15, L260,262]

“pembalut yang lama dicuci bersih, dicuci bersih baru dibuang ketempat sampah “[P12, L172]