Sekalipun nabi-nabi seringkali memberikan pesan yang keras dan sukar kepada para pemberontak bangsa, tetapi mereka adalah orang-orang yang penuh perasaan dan kasih bagi negeri sendiri. Dengan cara yang sama, Tuhan menangis ketika Dia menegur penduduk Yerusalem (Luk. 19:41-44), demikian pula, nabi-nabi seringkali menyampaikan pesan Allah dengan perasaan sedih dan berbelas kasih. Yeremia sangat terkenal sebagai nabi yang menangis, yang selama empat puluh tahun menangis untuk dosa-dosa dari bangsa Israel dan penderitaan yang segera mereka akan alami. Habakuk adalah seorang nabi yang hatinya dipenuhi oleh keraguan dan kesedihan, karena adanya ketidakadilan terhadap bangsanya. Itu merupakan perasaan kasih dan belas kasihan terhadap bangsa mereka, yang memberikan saat-saat paling sulit dalam pelayanan mereka.
M e n g u j i P e m a h a m a n
1. Siapakah nabi-nabi pada zaman sekarang ini?2. Apakah tanggung jawab dari nabi-nabi dalam Perjanjian Lama? 3. Apakah gereja sekarang ini memiliki tanggung jawab yang sama? 4. Apakah jasa dari nabi-nabi?
P e n e r a p a n K e h i d u p a n
Ini Aku! Utuslah Aku!
Dalam novel Alexander Irvine yang berjudul My Lady of the Chimney Corner, seorang perempuan tua menghibur tetangga yang putranya sedang terbaring mati. Dia menaruh tangan di kepala temannya dan berkata, “Teman. Allah bukanlah sebuah buku untuk dibawa berkeliling oleh seseorang yang berpakaian bagus ataupun sebuah salib yang terayun pada rantai jam tangan seorang pendeta. Allah memakai tangan ke manapun Dia dapat menemukannya. Kadang, Dia memakai tangan seorang uskup dan meletakkannya pada tangan seorang anak di dalam doa; memakai tangan seorang dokter untuk menyembuhkan penyakit; memakai tangan seorang ibu untuk membimbing seorang anak dan kadang, memakai tangan seorang perempuan malang seperti diriku ini untuk menghibur sesama. Tetapi, mereka semua adalah tangan yang disentuh oleh Roh-Nya dan Roh-Nya mencari tangan-tangan-Nya untuk dipakai di manapun itu berada.
Pada tiap-tiap angkatan, Allah mencari beberapa tangan, tubuh dan pikiran untuk membuat perbedaan dan menggenapi amanat ilahi-Nya. Dia mencari orang-orang seperti Anda dan saya. Laki-laki dan perempuan yang Allah pilih tidaklah sempurna dalam segala hal. Sesungguhnya, mereka memiliki keraguan, ketakutan, ketidakmampuan dan kelemahan. Sekalipun demikian, masing-masing dari antara mereka berani untuk menghadapi tantangan Allah. Allah dapat memakai siapapun, tidak peduli betapa orang itu merasa dirinya tidak penting. Allah memakai orang-orang biasa untuk melakukan pekerjaan-Nya yang luar biasa.
Dalam latihan berikut, lihatlah beberapa referensi Alkitab dan tuliskan dengan kata-kata kalian sendiri mengenai berbagai tanggapan dari orang-orang yang Allah pilih untuk menjalankan amanat penting-Nya. Pertimbangkan apakah jawaban mereka berkaitan dengan kita sekarang ini.
a. Musa
Referensi Alkitab: Keluaran 3:7-4:16
Amanat: Memimpin umat Israel keluar dari perbudakan ke Tanah Perjanjian Reaksi terhadap panggilan Allah:
1. “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun…” (Kel. 3:11) – “Tuhan, aku ini bukanlah siapa-siapa.”
2. “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan
perkataanku...” (Kel. 4:1) – “perkataanku tidak memiliki pengaruh apa-apa.”
3. “Aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada
hamba-Mupun tidak…” (Kel. 4:10) – “Aku adalah seorang yang tidak fasih dalam
berbicara. Lihat, bahkan Engkau tidak dapat mengubahku.”
4. “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (Kel. 4:13) – “Aku sarankan Engkau mengutus orang lain.”
Tanggapan Allah:
Untuk tiap-tiap pertanyaan yang Musa ajukan, Allah memberikan jawabannya. 1. “Aku akan memberikan suatu tanda kepadamu bahwa Aku telah mengutus
engkau.”
2. Allah berkata kepada Musa, “Aku adalah Aku. Katakan kepada orang Israel, Akulah yang telah mengutus aku kepadamu.”
3. Allah memberikan tiga tanda agar Musa pergunakan untuk meyakinkan orang Israel: Tongkat yang berubah menjadi ular, tangan yang menjadi kusta dan air yang berubah menjadi darah. “Siapa yang telah menciptakan lidah manusia? Sekarang, pergilah dan Aku akan menyertai lidahmu dan mengajarkanmu apa yang engkau akan katakan.”
4. Murka Allah timbul atas Musa.
5. Akhirnya, Allah mengutus Harun untuk menjadi juru bicara bagi Musa.
Penerapan:
Kadang, pekerjaan yang Allah telah minta untuk kita lakukan tampaknya terlalu sulit. Sama seperti Musa, kita berusaha sedapat mungkin mencari-cari alasan, karena merasa begitu tidak mampu melakukannya. Perasaan-perasaan itu menjadi menguat, bahkan tidak dapat percaya terhadap kemampuan Allah yang sanggup untuk menolong kita. Musa seringkali harus menghadapi perasaan tidak mampu. yang begitu rupa. Ketika menghadapi situasi seperti itu, ingatlah bahwa Allah tidak mengharapkan kita melakukannya seorang diri. Untuk setiap keraguan atau pertanyaan, Allah memiliki jawabannya. Dia akan memberikan jaminan dan kemampuan, agar kita dapat selesaikan pekerjaan itu. Dan bila pekerjaan itu melibatkan beberapa kelemahan kita, kita boleh percaya bahwa Allah akan memberikan firman, kekuatan, keberanian dan kemampuan ketika hal itu dibutuhkan.
b. Yesaya
Referensi Alkitab: Yesaya 1:1; 6:1-8
Amanat: Memanggil bangsa Yehuda kembali kepada Allah Reaksi terhadap panggilan Allah:
1. “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku
tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir” (Yes. 6:5) – Penglihatan Allah
dalam kemuliaan dan kuasa-Nya membuat Yesaya melihat dosa-dosa dirinya. 2. “Ini aku! Utuslah aku!” (Yes. 6:8)
Tanggapan Allah:
Menanggapi tanggapan Yesaya, Allah segera mengutusnya untuk berbicara kepada bangsa pemberontak.
Penerapan:
Sebelum menerima panggilan Allah untuk berbicara bagi Dia, kita haruslah menguduskan diri untuk pekerjaan-Nya, sehingga sungguh-sungguh dapat mewakili Allah. Ketika Tuhan memanggil kita, Dia tidak memaksakan kita untuk berbuat sesuatu yang kita tidak inginkan. Pilihannya ada pada kita. Yesaya berinisiatif dan secara aktif menanggapi panggilan Allah.
c. Yeremia
Referensi Alkitab: Yeremia 1:1-10; 17-19
Amanat: Peringatkan raja, nabi palsu dan bangsa Yehuda sebelum pembuangan. Reaksi terhadap panggilan Allah:
1. “Aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda...” (Yer. 1:6) – Yeremia menganggap dirinya masih terlalu muda dan tidak berpengalaman untuk menjadi juru bicara Allah bagi dunia.
2. Yeremia merasa takut, karena mengetahui seperti apa bangsa Israel.
Tanggapan Allah:
1. “Kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi dan apapun yang
Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (Yer. 1:7) – kita haruslah
taat pada perintah Allah.
2. “Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan
menjadi tembok tembaga. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.” (Yer 1:18-19)
Penerapan:
Kita seringkali bergumul untuk menghadapi beberapa tantangan baru, karena merasa masih terlalu muda untuk pekerjaan itu dan tidak memiliki kemampuan, latihan atau pengalaman yang memadai. Tugas itu sepertinya terlalu berat dan sebagai akibatnya, kita merasa takut. Janganlah pernah membiarkan perasaan tidak mampu membuat kita tidak mentaati panggilan Allah. Allah akan menyertai kita sama seperti Dia berjanji untuk menyertai Yeremia. Bila Allah memberikan kita suatu pekerjaan, Dia akan memberikan semua yang kita perlukan untuk melakukannya.
d. Yunus
Referensi Alkitab: Yunus 1:1-3-4,17; 3:1-3
Amanat: Pergi ke Niniwe, ibukota kerajaan Asyur dan memanggil rakyatnya untuk bertobat.
Reaksi terhadap panggilan Allah:
1. Yunus mengetahui Allah memiliki tugas khusus baginya, tetapi dia tidak mau melakukannya.
2. Sebaliknya, Yunus melarikan diri ke Tarsis.
Tanggapan Allah:
Untuk menyelesaikan amanat dan memperbaiki perilaku Yunus yang keliru, Allah membuat beberapa mujizat terjadi: Dia menyebabkan angin kencang bertiup di laut, seekor ikan besar menelan Yunus, sebatang pohon memberikan Yunus tempat berteduh, seekor cacing untuk menyerang pohon itu dan angin timur yang panas bertiup.
Penerapan:
1. Sebagai seorang nabi, Yunus wajib mentaati firman Allah, tetapi dia berusaha untuk lari dari tanggung jawabnya. Yang Allah wajibkan dari para hamba-Nya adalah ketaatan dan kesetiaan.
2. Beberapa alasan pribadi telah mencegah Yunus dari mentaati panggilan Allah. Jangan biarkan prasangka-prasangka pribadi atau jadwal menghalangi kita dalam melakukan pekerjaan Allah. Untuk melakukan kehendak Allah, kita haruslah menyangkal diri.
e. Maria, ibu Tuhan Yesus
Referensi Alkitab: Lukas 1:26-38
Amanat: Menjadi ibu dari Tuhan Yesus Kristus Reaksi terhadap panggilan Allah:
1. “Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah
arti salam itu.” (Luk. 1:29)
2. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34) 3. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut
perkataanmu itu.” (Luk. 1:38)
4. “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.” (Luk. 1:46-48)
Penerapan:
Dalam pernikahan orang Yahudi, pasangan ditunangkan ketika kedua keluarga saling menyetujuinya. Ketika diumumkan, pasangan itu menjadi tunangan. Pertunangan dianggap sebuah hubungan yang mengikat dan hanya dapat diputuskan dengan kematian atau perceraian. Karena Maria dan Yusuf telah bertunangan, ketidaksetiaan Maria akan mendatangkan aib masyarakat. Menurut hukum adat orang Yahudi, Yusuf berhak untuk menceraikan Maria dan orang Yahudi berwenang untuk melemparinya dengan batu hingga mati (Ul. 22:23-24). Maria tentu menyadari akibat-akibat ini. Dia pasti telah memikirkan akan ditolak oleh Yusuf, dikucilkan oleh masyarakat atau dilempari batu hingga mati. Tugas yang harus dijalaninya tidak akan berhasil, terkenal atau menyenangkan; sebaliknya, justru akan memberikan banyak penderitaan. Tetapi, Maria bersukacita di dalam Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk dipakai oleh-Nya. Karena ketaatannya, dunia diberkati dengan Mesias dan dia akan menerima berkat yang luar biasa.
f. Kemungkinan apakah menurut kalian, yang menjadi tanggapan kalian, bila Allah meminta kalian untuk menjadi seorang nabi bagi angkatan ini?
(Tandailah yang dilakukan) 1. Terkejut dan tidak percaya 2. Merasa terhormat
3. Merasa sungguh tidak mampu 4. Menolak pekerjaan itu
5. Tidak bersedia, tetapi terpaksa
6. Memberikan berbagai alasan untuk menghindarinya 7. Menyarankan orang lain
Bila Allah meminta kalian untuk melayani Dia, hal apakah yang akan mencegah kalian mengatakan, “Ini aku. Utuslah aku!” (Tandailah yang
dilakukan)
1. Sulit untuk menyangkal keinginan sendiri 2. Bayarannya kurang
3. Kesulitan
4. Jauh dari keluarga
5. Tidak dapat menikmati hal-hal duniawi
6. Kurang leluasa melakukan apa yang saya senang lakukan 7. Terlalu banyak tanggung jawab
8. Harus terlalu sering berdoa dan membaca Alkitab 9. Lainnya; sebutkan __________
g. Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri bagi panggilan Allah?
h. Allah ingin kita melayani Dia, di manapun dan apapun yang kita miliki. Hal sederhana apa sajakah yang dapat dilakukan, agar kehidupan kita berbeda dengan orang-orang di sekitar kita?
Bacaan yang dianjurkan:
The Spirit of the Minor Prophets, Holy Spirit Times, Desember 1999.
R e n u n g a n d a n D o a
Semua orang dilahirkan dan diciptakan secara berbeda, tetapi dalam rencana Allah yang indah, kita semua dapat menjadi para pekerja Allah yang baik. Kiranya Allah menolong kita menjadi peka akan kehendak-Nya dan memberikan keberanian untuk berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku!”