Kitab Obaja, Yoel, Amos
D. Pengajaran dari Kitab Amos
Kitab Amos diawali dengan penghukuman yang ditujukan kepada para tetangga dan musuh Israel: Damsyik, Gaza, Tirus, Edom, Amon dan Moab. Tentuk tidak diragukan lagi, bangsa Israel menyambut penghukuman itu dengan sangat bersukacita. Lalu, Amos pun menujukan penghukuman itu kepada Yehuda dan Israel. Dosa-dosa Israel yang disebutkan oleh Amos merupakan dosa-dosa sosial terhadap sesamanya. Amos menyatakan hukuman kepada berbagai kelompok orang, karena dosa-dosa mereka:
a. Para pemimpin Israel yang merasa tentram (Am. 6:1-7) dan pengaruh para perempuan yang sombong (Am. 4:1-3)
Allah telah menjatuhkan hukuman kepada penduduk di Yehuda dan di Israel, karena gaya hidup mereka yang mewah. Mereka tidak mengetahui bagaimana berbuat kebenaran dan mabuk akan kemewahan, sehingga digambarkan sebagai “lembu-lembu Basan.” Basan adalah sebuah daerah di sebelah timur Sungai Yordan, terletak di antara Pegunungan Gilead di sebelah selatan dan Gunung Hermon di sebelah utara (Ul. 32:14), yang dicatatkan sebagai tanah yang subur dan baik untuk memelihara ternak. Para perempuan Israel yang kaya diibaratkan dengan lembu-lembu Basan – manja, berpenampilan elegan dan diberi makan dengan baik. Para perempuan ini dengan egoisnya mendukung suami-suami mereka untuk menindas orang-orang yang lemah, agar dapat mencukupi gaya hidup mereka yang mewah.
Dalam Amos 6:4-6, Amos melanjutkan kritikan kepada para pemimpin, yang menginginkan kekayaan dan kesenangan yang berlebihan. Mereka mendirikan rumah-rumah gading (3:15) dan berbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari gading. Mereka makan dan minum dengan limpahnya, meminyaki diri mereka dengan minyak yang terbaik dan menyia-nyiakan hidup. Gading diimpor dan begitu mahal harganya dan itu identik dengan pemborosan, bahkan ketika orang miskin lewat di situ tanpa memiliki makanan.
Mengapa Amos mengutuk mereka karena dosa-dosa itu? Apakah salah bila hidup senang? Apakah salah bila menikmati hasil kerja keras kita? Apakah kitab Pengkhotbah tidak mengizinkan kita menikmati makanan dan minuman dan bersenang-senang dari hasil kerja sendiri (Pkh. 2:24; 3:13)? Tentu saja, Allah telah memberikan semuanya dalam hidup ini untuk kita nikmati. Bagaimanapun, bagi orang-orang pada masa Amos, kenikmatan merupakan tujuan hidup. Pencarian mereka akan kesenangan haruslah dibayar oleh penderitaan dari saudara mereka. Orang-orang kaya memperoleh kekayaan bukan dengan kerja keras atau hidup hemat, tetapi dengan menggunakan cara-cara ilegal, seperti menarik pajak dari orang miskin. Mereka menggunakan kekayaan sendiri yang diperoleh dengan cara yang tidak benar untuk hidup secara sembarangan dan tidak bertanggung jawab. Mereka mabuk-mabukan dan berzinah, tanpa menghiraukan saudara-saudara yang miskin. Dalam 1 Timotius 6:17-19, Paulus memberitahukan orang kaya bagaimana mereka harus hidup
dan menggunakan kekayaan mereka. Mereka haruslah menggunakan uang untuk berbuat baik dan menjadi kaya dalam kebajikan, memberi sesuatu kepada orang-orang yang membutuhkan.
b. Orang jahat yang menipu dan menindas orang lain (Am. 5:10-12; 8:4-7)
Sekalipun kekayaan telah membuat orang-orang menjadi makmur, tetapi mereka pun telah menjadi tamak dan tidak adil. Mereka menjadi kejam dan acuh tak acuh terhadap kaum orang miskin; ini menunjukkan bahwa mereka menindas dan mengambil keuntungan saja. Amos dengan jelas menggambarkan ketidakadilan sosial dan perilaku yang tidak manusiawi dari orang jahat terhadap saudara-saudara mereka; orang yang tidak berdosa dijual paksa oleh para peminjam uang, orang miskin diinjak-injak oleh para pesaing. Mereka disuap untuk menghilangkan keadilan terhadap orang miskin, sehingga orang tamak memperoleh tanah dengan mudahnya; mereka tidak ragu menggunakan berbagai cara untuk memperolehnya. Karena kejahatan-kejahatan itulah,
“mereka membenci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas” (5:10). Orang-orang tidak dapat
menerima ajaran dan teguran, karena dosa-dosa mereka (2 Tim. 4:3-4).
c. Orang-orang munafik secara rohani
1. Beribadah di tempat-tempat yang bukan seharusnya
Selain gaya hidup yang semarak, Amos pun mengumumkan penghakiman atas dosa-dosa rohani mereka. Satu setengah abad pertama, Raja Yerobeam I telah membuat sebuah tempat ibadah di Betel dan di Dan, membuat dua patung lembu emas (1 Raj. 12:28-29). Dia melakukannya untuk mencegah umat pergi ke Yerusalem, tempat ibadah yang sebenarnya; menyadari bahwa dia akan beroleh kesulitan menjaga kesetiaan terhadap dirinya, bila mereka pergi ke Yehuda untuk beribadah. Sekarang, umat lebih memilih beribadah di sebelah utara dan tempat ibadah lainnya seperti Gilgal daripada pergi ke Bait Allah di Yerusalem (4:4-5). Tetapi, Allah memandang ibadah ini sebagai sebuah tindakan pemberontakan. Amos menyindir umat dengan nada sinis (agar meneruskan ibadah mereka yang keliru), karena itu menumpuk dosa mereka sendiri.
2. Ibadah mereka adalah hampa
Amos 4:4-5 menjelaskan ketekunan umat dari rupa luar dalam menyembah Allah. Mereka seolah-olah mempersembahkan korban sembelihan tiap-tiap pagi, memberikan perpuluhan pada hari ketiga dan memberikan korban-korban syukur dan persembahan-persembahan sukarela, merayakan hari-hari raya, hari Sabat dan bulan baru, bahkan dilakukan jauh lebih baik daripada yang ditemukan di dalam Hukum Taurat. Tetapi, Allah tidak berkenan sama sekali terhadap korban mereka. Allah menolak mencium bau korban bakaran mereka dan menolak pujian mereka (5:21-24). Alasannya adalah karena umat melampaui persyaratan ibadah, tetap hidup dalam dosa dan kejahatan. Seluruh ibadah mereka yang hampa tidaklah dapat luput dari hukuman Allah.
Dalam Amos 5:21-24, nabi itu menyingkapkan kepada bangsa Israel mengenai makna ibadah yang sesungguhnya. Sesungguhnya, ibadah itu lebih daripada sekedar memberikan persembahan dan korban, mengikuti kebaktian dan memuji Allah dengan lagu-lagu dan musik.
Ibadah yang sejati menuntut hidup yang benar dan melakukan apa yang benar di hadapan Allah. Bila gagal, semua tindakan dan usaha lainnya menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Apakah kita melihat diri sendiri seperti bangsa Israel? Apakah kita datang ke gereja setiap minggunya, mempelajari firman Allah dan berdoa dengan suara keras, hanya untuk kembali kepada kehidupan yang mendukakan Allah? Menyadari bahwa semuanya ini tidak sesuai untuk dilakukan oleh seorang Kristen, apakah kita berbuat seperti orang Israel yang menganggap bahwa sepanjang mereka memberikan korban dan persembahan, Allah akan mengabaikan perilaku mereka? Allah justru membenci ibadah yang seperti itu. Yang Allah inginkan bukanlah korban dari kita, tetapi hati dan perubahan hidup kita.
d. Lima penglihatan mengenai hukuman
Allah menunjukkan rangkaian penglihatan mengenai hukuman-Nya atas Israel dalam Amos 5. Saat Amos melihat malapetaka yang akan dicurahkan ke atas bangsa Israel, dia menjadi perantara bagi mereka. Sebagai akibatnya, Allah tidak jadi mencurahkan dua malapetaka pertama atas Israel, tetapi sayangnya, Israel tetap dalam ketidaktaatannya. Akhirnya, Allah tetap menjalankan hukuman-Nya atas Israel.
1. Sekawanan belalang (Am. 7:1-3). 2. Api (Am. 7:4-6).
3. Tali Sipat (Am. 7:7-9). Tali sipat adalah sebuah alat dalam konstruksi untuk memastikan kelurusan dari sebuah tembok ketika didirikan. Tembok yang tidak lurus akan runtuh pada akhirnya. Tali sipat ini digunakan untuk mengukur bangsa itu terhadap standar Allah, tetapi sayangnya, mereka berada jauh di bawah ketentuan Allah.
4. Buah-buahan musim kemarau (Am. 8:1). Buah-buahan musim kemarau menyiratkan kedewasaan dan kematangan yang sudah hampir membusuk. Sekalipun bangsa itu dari luar tampak cemerlang, tetapi dari dalam, mereka busuk dan penuh kejahatan. Ini menunjukkan bagaimana bangsa Israel berada di tepi orang-orang yang akan dididik oleh Allah.
5. Allah berdiri di samping mezbah (Am. 9:1)
e. Membangun kembali pondok Daud yang telah roboh (Am. 9:11-15)
Sesuai dengan keadilan Allah, bangsa yang berdosa haruslah dihancurkan. Bagaimanapun, karena janji Allah, sisanya akan diselamatkan dan akan kembali ke kota suci untuk membangun kembali pondok Daud yang telah roboh. Nubuatan ini tidak hanya berbicara perihal pemulihan Israel, tetapi pula pembangunan kembali kerohanian Israel, gereja sejati.
M e n g u j i P e m a h a m a n
Tidak ada pertanyaan untuk pelajaran ini.P e n e r a p a n K e h i d u p a n
Apakah Kalian Telah Siap?
Mintalah murid-murid untuk membaca lirik dari pujian dalam Kidung Rohani # 524:
Bagaimana Bila Sekarang
Bagaimanakah bila s’karang Yesus datang lagi? Bagaimanakah bila s’karang Dia datang p’nuh kuasa? Umat-Nya yang t’lah ditebus tersebar di s’luruh dunia Bagaimana bila s’karang Dia datang menjemput? O, berharaplah saat ini, kuasa Iblis musnah O, berharaplah saat ini, tiada kesedihan
Nanti yang mati ‘kan bangkit, berjumpa Dia di angkasa Bagaimana bila s’karang nampak mulia Tuhan? Akankah kita tetap setia kala Tuhan datang? Akankah kita bergembira kala Tuhan datang? Tanda kedatangan Tuhan s’perti kilat dari timur Bagaimana bila s’karang waktu-Nya t’lah tiba? Reff:
Mulia mulia, ku bersukacita Mulia mulia, Tuhanlah Rajaku Mulia Mulia, siapkan jalan-Nya Mulia Mulia, Tuhan pasti datang
Pujian ini menyinggung tanda kedatangan Tuhan Yesus. Apakah itu? (Mintalah murid-murid menyebutkan kejadian-kejadian yang akan terjadi sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya? Jawaban dapat ditemukan dalam Matius 24.)
a. Dunia alam semesta
– Gempa bumi (Mat. 24:7)
– Penyakit sampar, berbagai penyakit aneh yang disebabkan oleh virus seperti SARS, AIDS dan lain sebagainya (Luk. 21:11)
– Kelaparan (Mat. 24:7)
– Fenomena alam yang aneh (Luk. 21:11)
b. Dunia sekarang
– Pelanggaran dan dosa akan bertambah (Mat. 24:10,12; 2 Tim. 3:1-6) – Pengetahuan akan bertambah (Dan. 12:4)
– Akan banyak terjadi peperangan dan perang dunia (Mat. 24:6-7) – Kebangkitan kembali bangsa Israel (Mat. 24:32)
– Pembangunan banyak negara di dunia (Luk. 21:30)
P e n e r a p a n K e h i d u p a n
P e n e r a p a n K e h i d u p a n
P e n e r a p a n K e h i d u p a n
c. Dunia rohani
– Pencurahan hujan akhir (Yl. 2:28-32)
– Munculnya gereja sejati (Yes. 2:3; Why. 6:1-2) – Pemberitaan Injil ke seluruh dunia (Mat. 24:14,27)
– Munculnya kristus palsu dan nabi palsu (Mat. 24:11,23-24) – Munculnya antikristus (Why. 6:3-4)
– Penganiayaan besar atas gereja (Dan. 9:27; Mat. 24:9)
Apakah makna dari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya bagi kalian? Apakah yang kalian pikirkan ketika melihat kejadian-kejadian itu sedang terjadi?
Mempersiapkan Diri
Kita seringkali mendengar perihal perlunya mempersiapkan diri dalam kejadian gempa bumi, badai atau bencana alam lainnya. Demikian pula, kita haruslah membuat persiapan-persiapan penting untuk bertemu dengan Tuhan, agar tidak terbawa arus dunia. Setelah Tuhan menjelaskan mengenai tanda-tanda akhir zaman dalam Matius 24, Dia pun menjelaskan bagaimana kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya. Ketentuan penting apakah yang kita harus persiapkan untuk menyambut kedatangan-Nya?
a. Mempersiapkan hati yang berjaga-jaga (Mat. 25:1-13) 1. Minyak melambangkan apakah?
2. Mengapa membawa cukup minyak penting bagi kita? 3. Inilah beberapa cara aku mempersiapkan minyak:
b. Mempersiapkan hati untuk melayani Allah dengan setia (Mat. 25:14-20) 1. Sebutkan beberapa talenta yang Allah telah berikan kepada kalian.
2. Apakah yang kalian akan lakukan dengan talenta yang Allah telah berikan untuk menyambut kedatangan-Nya?
c. Mempersiapkan hati yang mengasihi orang lain (Mat. 25:31-46) Yang dapat kulakukan adalah:
– Memberi makan orang yang lapar dan memuaskan orang yang haus… – Menampung orang asing…
– Memberikan pakaian kepada orang yang telanjang... – Mengunjungi orang yang sakit…
– Mengunjungi orang yang berada di dalam penjara...
R e n u n g a n d a n D o a
Ketika melihat nubuat-nubuat di dalam Alkitab menjadi kenyataan, marilah kita berdoa agar Tuhan memberikan hati yang berhikmat untuk menghitung hari-hari yang ada dan menggunakannya secara efektif pada tiap-tiap kesempatan dalam mempersiapkan diri kita dalam menyambut kedatangan-Nya dengan hati yang suci pada Hari yang mulia itu.