a. Menuju kehidupan yang saleh di tengah dunia yang tidak saleh
Sebagai umat Allah, ciri khas kita adalah kekudusan. Allah menginginkan umat-Nya untuk menjadi kudus, sama seperti Dia adalah kudus. Kudus berarti memisahkan diri dan berbeda dari orang-orang yang tidak saleh dan dari dosa dan pengaruhnya. Yang membedakan kita adalah sifat-sifat Allah hidup di dalam diri kita. Tetapi, kekudusan tidak datang dengan sendirinya. Memang mudah untuk dicemari oleh kecenderungan dan pandangan-pandangan dunia. Bagaimanapun, Daniel adalah seorang yang hidup dalam masyakarat yang berdosa, tetapi tetap tidak bercela. Dia tetap setia seumur hidupnya dan menjadi bejana yang berharga untuk dipakai oleh Allah. Bagaimana Daniel memperoleh dan memelihara kekudusannya?
i. Dia memahami Allah yang disembahnya
Ulangan 10:17 menggambarkan Allah sebagai “Allah segala allah dan Tuhan
segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat.” Dia adalah Pencipta
alam semesta; kudus, adil, sejati, maha tahu, maha kuasa, maha hadir dan penuh belas kasih” (Yos. 2:11; Ul. 7:21; Mzm. 116:5). Ketika memiliki pengenalan yang benar mengenai Allah, kita akan bersikap takut dan hormat akan Dia. Hasrat kita semata-mata adalah untuk menyenangkan Allah dan tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan oleh-Nya.
ii. Dia berkomitmen
Setelah membuat komitmen hidup bagi Kristus, kita masih merasakan tarikan dari belakang kepada cara-cara hidup kita yang lama. Oleh karena itu, untuk memelihara kekudusan, diperlukan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Allah menolong Daniel, karena dia membantu dirinya terlebih dahulu. Daniel bertekad untuk tidak mencemarkan dirinya dengan makanan dan anggur raja yang berlimpah dan Allah mengizinkan maksud itu dicapai olehnya. Seringkali, kita ingin menjadi kudus, tetapi tetap pasif atau terus berada di jalan lama yang sama. 2 Timotius 2:22 menyuruh kita untuk “jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan
damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Untuk bertumbuh dalam kekudusan, kita terlebih dahulu
haruslah meninggalkan jalan-jalan yang tidak saleh, lalu mengejar apa yang berkenan di hadapan Allah. Tuhan Yesus menjelaskan sikap yang harus kita miliki: “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah
dan buanglah itu. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu” (Mat. 18:7-9). Kita jangan pernah menganggap ringan dosa
sederhana yang kita perbuat, tetapi sebaliknya, haruslah segera membuang balok-balok yang membuat kita tersandung dengan tidak bimbang. Dengan berbuat demikian, kita dapat memelihara kekudusan jiwa, tubuh dan roh (Why. 17:5; 18:1-4; 1 Tes. 5:23).
iii. Mengandalkan pertolongan Allah
Ketika Allah melihat hasrat kita untuk lebih dekat kepada-Nya, Dia akan mengulurkan tangan untuk menolong kita. Setelah Daniel bertekad untuk tidak mencemarkan dirinya, Allah membuat Daniel disukai dan mendapat belas kasihan dari pemimpin pegawai istana, sehingga dia bersedia menerima usulan Daniel, sekalipun hal itu dapat mengancam nyawanya sendiri. Allah pun menyebabkan Daniel dan ketiga sahabatnya memiliki perawakan yang lebih baik daripada pemuda lainnya. Kita mencapai kekudusan dan kesempurnaan, bukan hanya melalui usaha sendiri, tetapi melalui pula kemurahan dan anugerah Allah (Tit. 3:5).
b. Dia berdoa dengan tekun
Seumur hidupnya, Daniel hidup dalam doa yang konsisten. Sekalipun sibuk dengan tugas-tugas negaranya, tetapi Daniel dengan setia berdoa tiga kali sehari, bahkan hingga usia 80 tahun (Mzm. 55:17-18; Dan. 9:1-4; 10:12; Ul. 9:18-20; Luk. 2:36-37). Dia berpuasa dan berdoa bagi pemulihan Yerusalem, umat Allah, dosa-dosanya sendiri dan Yehuda. Saat Daniel tidak memahami wahyu Allah (pasal 11), dia merendahkan dirinya dan berpuasa selama 21 hari sebelum akhirnya menerima jawaban dari Allah. Doa-doa kita setiap harinya dapat membuat rohani menjadi damai sejahtera, oleh karena itu,
kita haruslah tekun dan setia di dalam doa. Doa-doa seperti inilah yang memungkinkan Daniel memenangkan berbagai pencobaan hidup (1 Tes. 5:17; Flp. 4:6-7; Kis. 12:5,12; Mat. 18:19).
c. Dia setia kepada raja
Seumur hidupnya, Daniel bukan hanya melayani empat kerajaan yang berbeda, tetapi menduduki pula posisi tinggi di tiap-tiap kerajaan. Raja Nebukadnezar membuat dia memerintah seluruh propinsi Babel dan menjadi kepala semua orang bijak. Belsyazar menjadikan Daniel sebagai orang ketiga dari kerajaannya (5:29). Darius mengangkat Daniel sebagai salah seorang dari tiga pejabat tinggi di dalam kerajaannya, lalu mempromosikannya menjadi seorang Perdana Menteri (6:3-4). Selain itu, sesungguhnya semuanya itu merupakan pengaturan Allah; salah satu alasan keberhasilan Daniel adalah kesetiaannya terhadap atasannya yang berada di dunia. Daniel tidak melayani untuk keuntungan pribadinya. Saat Raja Belsyazar menjanjikan Daniel hadiah, kehormatan dan kedudukan karena telah berhasil menafsirkan mimpinnya, Daniel menjawab, “Tahanlah hadiah
tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku” (Dan. 5:17). Raja Darius menjadikan Daniel sebagai salah seorang
dari tiga pejabat tinggi di kerajaannya, karena mengetahui bahwa Daniel dapat dipercaya untuk tidak akan membuatnya rugi (Dan. 6:3). Kita haruslah bekerja dengan tujuan untuk menyenangkan atasan-atasan kita dan membuat orang-orang yang kita layani menjadi sejahtera. Melalui kerja keras dan kesetiaan, kita dapat memuliakan Allah dan membiarkan orang lain mengenal Allah melalui diri kita (1 Pet. 2:14-17; Mat. 5:14-16).
d. Memperhatikan perkara-perkara Allah
Sekalipun hidup mandiri di suatu negeri yang asing, tetapi hatinya tetap berada bersama dengan rakyatnya di Israel. Daniel merasa sedih, karena kejatuhan bangsanya dan malapetaka yang terjadi atas Kota Suci. Dia berpuasa dan berdoa bagi dosa-dosa dari bangsa itu dan memohon, agar Allah mengembalikan bangsa itu ke negeri mereka sendiri untuk membangun kembali Kota Suci. Sekalipun mungkin kita menikmati kesenangan dan status di dalam masyarakat, tetapi hati kita janganlah berada pada perkara-perkara dunia, melainkan pada perkara-perkara Allah. Ketika di dunia, Tuhan Yesus mengarahkan hati-Nya untuk melakukan pekerjaan Bapa (Luk. 2:49). Nehemia adalah seorang juru minuman di kota Susan, tetapi hatinya berada bersama dengan sisa-sisa orang buangan di Israel. Apakah hati kita condong kepada perkara-perkara Allah? Apakah kita telah meletakkan perkara-perkara Allah dan saudara-saudari seiman di dalam hati dan doa-doa kita? (Am. 9:11; Why. 10:11; 2 Kor. 11:28; Rm. 12:1; Ibr. 10:7; Yes. 6:8).
Bagian # 2 – Pemerintahan Tertinggi berada di dalam Kerajaan Anak Manusia A. Allah adalah Tuhan atas Bangsa-Bangsa
Tema utama dalam kitab Daniel adalah kedaulatan Allah atas sejarah dan nasib manusia. Melalui penglihatan dan mimpi yang diungkapkan kepada Daniel, Allah menunjukkan bahwa kuasa adalah milik Allah dan Dia memerintah atas bangsa-bangsa (Mzm. 22:29; Yes. 46:9b; Dan. 2:31-45; 7:13-14).
“Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya dan memperbanyak bangsa-bangsa, lalu menghalau mereka” (Ayb. 12:23).
a. Patung yang amat besar
Bacalah Daniel 2:1-13. Melalui mimpi mengenai patung yang amat besar, Allah menunjukkan sejarah masa yang akan datang kepada Raja Nebukadnezar, sejarah mengenai muncul dan jatuhnya kerajaan-kerajaan, bahkan sebelum hal itu terjadi. Allah menunjukkan bagaimana kerajaan Babel dilambangkan sebagai kepala yang terbuat dari emas, yang nantinya, akan ditaklukkan oleh kerajaan Media Persia (tahun 539 SM). Kelak kerajaan Media Persia pun akan dikalahkan oleh Yunani di bawah pimpinan Alexander Agung pada tahun 334-330 SM (perut dan paha dari perunggu secara berturut-turut). Kaki dari besi melambangkan kerajaan Romawi, yang akan menaklukkan Yunani pada tahun 63 SM. Kaki dan jari kaki dari tanah liat dan besi melambangkan perpecahan dari Kerajaan Romawi dan semua bangsa yang ada sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Seperti yang kita lihat sekarang, bansga-bangsa selalu terpecah-pecah dan tidak dapat bersatu. Batu yang menghancurkan patung yang amat besar menjadi kepingan-kepingan merujuk pada Kristus yang akan turun dari surga untuk mendirikan kerajaan surgawi dan menghakimi dunia (2 Pet. 3:10-13).
b. Empat binatang buas
Bacalah Daniel 7:1-28. Dalam penglihatan ini, Daniel melihat empat binatang buas yang masing-masing melambangkan kerajaan di dunia. Ini sama seperti mimpi dari Raja Nebukadnezar dalam pasal 2, hanya mimpi ini diceritakan dari sudut pandang manusia, sementara dalam pasal 7 diceritakan dari sudut pandang Allah. Singa dengan sayap burung rajawali melambangkan Babel dengan penaklukkannya yang cepat (telah ada patung-patung singa bersayap yang telah dibangun setelah kejatuhan Babel). Beruang yang mengalahkan singa adalah Media Persia. Beruang itu memiliki kekuatan yang besar, tetapi lebih lambat dalam penaklukannya terhadap bangsa-bangsa. Media Persia memiliki kekuatan yang besar, tetapi tidak dapat menandingi kesuksesan Babel. Tiga tulang rusuk yang masih berada di dalam mulutnya melambangkan penaklukkan Media Persia terhadap tiga musuh utamanya: Babel, Libya dan Mesir (Dan. 8:4). Macan tutul adalah Yunani. Sayapnya menunjukkan kecepatan pergerakan Alexander Agung saat menaklukkan berbagai peradaban dunia dalam waktu empat tahun. Empat kepala macan tutul menunjukkan empat pecahan kerajaan Yunani setelah Alexander meninggal. Binatang buas keempat melambangkan Kerajaan Romawi dan akhir zaman. Romawi merupakan sebuah bangsa yang agresif dan tidak berbelas kasihan, mengatur penganiayaan semaksmal mungkin untuk menyiksa dan membunuh tawanannya. Bangsa ini memiliki sepuluh tanduk, yang merujuk pada sepuluh raja. Angka 10 memiliki konotasi sempurna dan melambangkan segala bentuk pemerintahan pada akhir zaman. Kemunculan tanduk kecil merujuk pada para penganiaya umat pilihan Allah pada akhir zaman sebelum Kristus datang untuk menghakimi dunia.
c. Domba jantan dan kambing jantan
Bacalah Daniel 8:1-27. Dalam penglihatan ini, Daniel melihat seekor domba jantan dengan dua tanduk panjang, yang merujuk pada Media Persia. Tanduk yang lebih panjang melambangkan makin berkuasanya Persia dalam Kerajaan Media Persia. Kemudian, datanglah seekor kambing jantang, yang merujuk pada Yunani dan satu tanduk besar yang aneh di antara kedua matanya
merujuk pada Alexander Agung. Ini merupakan nubuat yang mengherankan, karena Yunani tidak dianggap sebagai penguasa dunia saat nubuat itu disampaikan. Kambing jantang yang memerintah seluruh dunia tanpa menyentuh tanah merujuk pada kecepatan peperangan yang dilakukan oleh Alexander. Dia menaklukkan dunia dengan sangat cepat dan dengan menggunakan strategi militer. Tetapi, dia begitu sombongnya setelah menaklukkan Media Persia dan bangsa-bangsa lainnya dan di puncak kekuasaannya, tanduk besar itu patah dan dia meninggal pada usia 32 tahun. Dari tanduk itu muncullah empat tanduk yang aneh. Ini merujuk pada empat jenderal yang memecahkan Kerajaan Yunani setelah kematian Aleksander. Lalu, dari keempat tanduk itu, muncullah sebuah tanduk kecil. Bagian nubuat mengenai tanduk kecil ini telah digenapi pada diri Antiokhus IV Epiphanes yang merupakan raja Syria. Penggenapan berikutnya dari nubuat ini akan terjadi di masa yang akan datang dengan munculnya antikristus.
Pasal 2 Pasal 7 Pasal 8
Penglihatan Patung yang amat
besar Empat binatang buas Domba jantan dan kambing jantan
Babel Kepala dari emas Singa
---Media Persia Dada dari perak Beruang Domba jantan
Yunani Perut dari tembaga Macam tutul Kambing jantan
Romawi Paha dari besi Binatang buas ---Bangsa-bangsa
pada zaman akhir
Jari sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat
Sepuluh tanduk dan sebuah tanduk kecil Tanduk kecil Kedatangan Kristus yang kedua kalinya
Jari sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat
Orang-orang kudus menerima kerajaan mereka
Tanduk kecil yang dihancurkan