• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengajaran dari Kitab Hosea a. Ketidaksetiaan rohani

Kitab Yunus, Hosea, Mikah

D. Pengajaran dari Kitab Hosea a. Ketidaksetiaan rohani

Kitab Hosea dimulai dengan perintah Allah kepada Nabi Hosea untuk menikahi seorang perempuan sundal. Allah pun memberitahu Hosea bahwa kelak istrinya, Gomer, akan bersikap tidak setia terhadapnya. Allah menggunakan hubungan Hosea dan Gomer untuk melambangkan hubungan suami istri antara Allah dan umat-Nya. Sama seperti Gomer melarikan diri bersama kekasihnya, demikian pula, Israel meninggalkan Allah, suaminya yang benar (secara rohani), untuk mengejar sebuah hubungan gelapnya. Dalam kitab Hosea saja, kata ‘perempuan sundal’ disebutkan sebanyak sebelas kali (Hos. 1:2; 2:4; 4:10,11,12,13-14,18; 5:3-4; 6:10). Kata ‘perempuan sundal’ berasal dari kata Ibrani ‘zanah,’ yang berarti berbuat zinah. Dengan cara apakah bangsa Israel melakukan penyembahan berhala secara rohani?

1. Israel percaya kepada manusia

Pada zaman Hosea, bangsa Israel secara politik tidaklah stabil. Secara internal, pembunuhan merupakan hal yang biasa. Dalam rentang waktu 25 tahun, ada pergantian lima dinasti dan tujuh raja. Selanjutnya, bangsa Asyur dan Mesir selalu mengancam Israel. Di bawah masa-masa sulit, para raja justru tidak lagi bersandar kepada Allah, tetapi berpaling dan bergabung dengan bangsa-bangsa lain. Mereka percaya bahwa kekuatan militer dapat menyelamatkan diri mereka dan kerajaan menjadi aman. Dengan uang, mereka bersekutu dengan Asyur, dengan harapan tidak menyerang Israel lagi (2 Raj. 15:19-20). Mereka mengirimkan pula minyak zaitun ke Mesir, dengan harapan Mesir akan membantu mereka pada masa-masa sulit. Tetapi semua usaha itu sia-sia saja. Allah membiarkan Israel ditawan oleh bangsa-bangsa, tempat mereka mencari perlindungan. Pada tahun 722 SM, bangsa Asyur menyerang Israel dan memaksa rakyat untuk meninggalkan negeri (2 Raj. 17:3-23). Sama seperti para pemimpin Israel, apakah kita mengejar rasa aman melalui kekayaan, kesenangan, pelajaran atau hubungan pertemanan? Apakah kita mencarinya di segala tempat, selain kepada Allah, untuk memperoleh kebahagiaan dan keamanan hidup? Sesungguhnya, tanpa Allah, tidak ada rasa aman yang kekal. Hanya Allah yang benar-benar dapat memuaskan kerinduan jiwa kita. Pandanglah ke langit, kepada Allah yang Maha tinggi (Hos. 7:16). Dia akan memenuhi kebutuhan kita.

2. Berpaling kepada berhala

Selama zaman Hosea, orang-orang Israel tenggelam dalam penyembahan berhala. Mereka membakar ukupan bagi berhala (Hos. 2:12). Mereka menanyakan hal-hal yang akan terjadi kepada patung-patung yang terbuat dari kayu (4:12). Mereka menggunakan emas dan perak untuk membuat patung dan menguduskan diri bagi Baal (2:7; 9:10). Penyembahan berhala begitu menarik, karena secara khusus ditandai dengan kemabukan dan pesta pora (4:11-14). Dalam keadaan tenteram (4:13), mereka mempersembahkan korban dan melakukan ritual perzinahan untuk membangkitkan gairah para dewa, agar membuat tanah menjadi subur.

Dengan kepercayaan seperti itu, sesungguhnya, pikiran dari orang-orang Israel ditipu bahwa Baallah yang memberikan mereka gandum, anggur, minyak, emas dan perak (2:8). Mereka menolak mengaku bahwa Allahlah ‘suami rohani’ dan pemberi segala berkat mereka (7:15-16). Dengan demikian, Allah membuat mereka seperti embun pagi, seperti kabut, seperti sekam di lantai pengirikan dan seperti asap yang menghilang dalam sekejap (13:3). Dengan segera, Allah akan mengirimkan bangsa pemberontak ini ke tangan bangsa Asyur. Apakahkah kita telah memberikan Allah pujian dan hormat bagi segala berkat yang Dia telah berikan kepada kita atau apakah kita telah mencapai keberhasilan yang disebabkan oleh usaha dan kemampuan sendiri?

b. Kurangnya pengenalan akan Allah

Dalam kitab Hosea, ada banyak rujukan yang menjelaskan mengapa para pemimpin, imam dan umat berbuat dosa kepada Allah. Salah satu alasan utamanya adalah bahwa mereka tidak mengenal Allah dan telah menolak pengertian-Nya (4:1,6,14). Karena kurangnya pemahaman akan pengertian Allah, mereka gagal melakukan atau mengenal kehendak-Nya.

Bagaimana orang-orang Israel menunjukkan bahwa mereka tidak mengenal Allah?

1. Dalam Hosea 4, Allah berhadapan dengan umat, karena kurangnya kesetiaan, kebaikan dan pengertian akan Allah. Sekalipun umat mengaku mengenal Allah, tetapi mereka melakukan segala bentuk kejahatan; mereka berdusta, mencuri, membunuh, berzinah dan menyembah berhala. Sekalipun melakukan hal yang tidak benar, tetapi umat tetap datang ke Bait Allah untuk memberikan persembahan mereka kepada Allah. Mereka tidak memahami apa sesungguhnya yang Allah inginkan. Bila mengenal Allah dan hukum-hukum-Nya, mereka akan mengetahui bahwa Allah itu adil, setia dan berbelas kasih dan menginginkan agar umat-Nya memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Allah menginginkan kasih yang setia dan bukannya korban; pengenalan akan Allah lebih daripada korban bakaran (6:6).

2. Hosea pun menegur para imam yang mencegah bangsa itu dari mengenal Allah. Para imam dihimbau untuk menjadi para pemimpin rohani, tetapi mereka justru menjadi ‘pemimpin’ dalam berbuat kesalahan. Setiap kali seseorang membawa korban penghapus dosa, para imam pasti menerima bagian. Makin banyak umat yang berbuat dosa, semakin banyak bagian yang diterima oleh mereka. Oleh karena itu, para imam mengambil keuntungan dari dosa yang terus-menerus dilakukan oleh umat. Jadi, daripada berusaha membawa umat keluar dari dosa dengan mengajarkan hukum-hukum Allah, para imam justru memotivasi terjadinya kejahatan, bahkan merasa senang dengan dosa-dosa dari umat, karena mereka memperoleh keuntungan yang lebih besar. Karena mengabaikan hukum, orang Israel menjadi semakin berdosa kepada Allah (4:8,14). Marilah kita berketetapan hati untuk belajar dan mengenali hukum-hukum Allah. Makin banyak mengenal firman Allah, kita akan semakin takut dan mengasihi-Nya.

c. Kasih dan kesetiaan Allah yang tetap

Setelah Gomer menikahi Hosea, dia lari dari Hosea untuk hidup bersama dengan kekasihnya. Lalu, dia kehilangan kebebasan dan menjadi seorang budak. Dalam Hosea 3, Allah meminta Hosea untuk berbuat hal yang tidak masuk akal – dia membeli kembali istri yang tidak bertobat, berzinah dari perbudakan dan senantiasa mencintainya. Tindakan ini menunjukkan betapa Allah masih mencintai bangsa Israel yang tidak setia, bahkan saat mereka berpaling dari pada-Nya dan setiap kali bersama dengan allah-allah palsu mereka. Hosea 11:1-11 mencatatkan sebuah perkataan yang Allah firmankan sendiri. Pergumulan di dalam hati Allah begitu sengit. Di satu sisi, karena bangsa Israel berpaling dari pada Allah, sehingga Dia memutuskan untuk menghukum dan menghancurkan mereka. Dia memang mempertimbangkan untuk menyerahkan Israel selamanya. Tetapi, kasih dan belas kasih Allah menahan-Nya. Dalam kasih-Nya kepada Israel, Allah berseru dalam Hosea 11:8: “Masakan Aku membiarkan engkau,

hai Efraim!...Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim?” (dua kota yang dimusnahkan sama seperti Sodom dan

Gomora).

Allah adalah Tuhan yang adil dan memiliki kasih yang mutlak. Karena keadilan-Nya, Allah akan melaksanakan penghukuman. Dalam Hosea 11:5, Allah telah menubuatkan bahwa bangsa Asyur akan merebut bangsa Israel. Tetapi saat yang sama, karena kasih-Nya yang kekal, Dia akan memulihkan mereka

ke negeri asal setelah 70 tahun pembuangan (11:10-11). Bukan hanya itu, pada tahun 1948, bangsa Israel dipulihkan setelah dimusnahkan seluruhnya. Dalam catatan sejarah, tidak ada bangsa yang dapat bangkit kembali dari debu, kecuali Israel. Allah pun menubuatkan pemulihan kerohanian Israel, yaitu gereja sejati.

E. Pertanyaan untuk direnungkan

1. Bagaimana kitab Hosea menggambarkan kerohanian yang tidak setia? 2. Bagiaman kita mungkin menjadi tidak setia terhadap Allah?

3. Apakah yang diajarkan kitab Hosea mengenai kasih Allah? Apakah ada batasannya?

4. Bangsa Israel mengaku mengenal Allah, tetapi perbuatan mereka bertentangan. Apakah maksud dari sungguh-sungguh mengenal Allah? 5. Cara apa sajakah yang kita dapat lakukan untuk mengenal Allah dengan

lebih baik?

Bagian # 3 – Kitab Mikha A. Penulis

Nama Mikha berarti orang yang menyukai Allah, merupakan salah seorang nabi dari abad ke-8, yang sezaman dengan Hosea, Amos, Yesaya dan Yunus. Selain Mikha 1:1 dan Yeremia 26:18, tidak ada rujukan alkitabiah lainnya yang berkaitan dengan latar belakang Mikha. Tempat tinggal Mikha adalah di Moresyet-Gat (Mik. 1:14), sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 32 km di sebelah barat daya Yerusalem, dekat perbatasan Filistin. Mikha dan Yesaya adalah nabi yang sezaman. Sekalipun Yesaya memberitakan Injil di kerajaan dan Mikha di desa-desa, namun isi pesan mereka adalah sama.

B. Waktu Penulisan

Mikha bernubuat pada zaman Yotam, Ahas, dan Hizkia, raja-raja Yehuda. Sekalipun Mikha banyak melayani di Yehuda, dia pun menginjil di kerajaan utara, Israel dan menubuatkan kejatuhan Samaria. Oleh karena itu, banyak dari pelayanannya yang justru terjadi sebelum pembuangan Israel oleh bangsa Asyur pada tahun 722 SM.

C. Tema

Kitab Mikha agaknya sulit untuk dijelaskan, karena penyusunannya yang tidak teratur. Namun, tema-tema yang penting merupakan bukti yang jelas. Malapetaka atas Samaria pasti terjadi dan Yehuda akan mengalaminya tidak lama setelah itu. Yehuda dan Israel makmur dan kuat, tetapi banyak terdapat kejahatan di dalamnya. Karena pesan yang disampaikan Mikha, dua dosa besar dapatlah dikenali – ibadah yang tidak wajar (1:7; 3:5-7,11; 5:12-13) dan ketidakadilan terhadap orang lain (2:1-2, 8-9; 3:2-3,9-11; 7:2-6). Semangat Mikha berkobar-kobar, karena kejengkelannya terhadap dosa-dosa yang merajalela di ibukota dan sekarang,

telah sampai ke seluruh negeri. Kejahatan internal ini akhirnya mengakibatkan runtuhnya kerajaan. Ketika musuh menyerang negeri itu, Mikha memperingatkan dosa-dosa mereka dengan sungguh, memberitakan malapetaka yang akan segera datang, sekaligus memberitakan pengharapan, pertobatan dan berkat Allah di masa yang akan datang.

D. Pengajaran dari Kitab Mikha