Kedua bagian dari kitab Yesaya menunjukkan dua aspek penting dari hakikat ilahi Allah. 39 pasal dalam setengah bagian pertama kitab Yesaya mencerminkan kekudusan, kebenaran dan keadilan Allah. Setengah bagian berikutnya (pasal 40-66) berada di sisi lainnya dari hakikat ilahi Allah, yaitu kasih dan belas kasihan-Nya. Bagaimana Allah memanifestasikan kekudusan di dalam kitab Yesaya? 1. Melalui penglihatan akan kemuliaan Allah
Tema mengenai kekudusan masuk ke dalam seluruh kitab Yesaya. Judul ‘Yang Maha kudus, Allah Israel’ dipakai sebanyak 25 kali (1:4; 5:19,21; 6:1; 10:20; 12:6,15; 17:7; 29:19; 30:1; 37:23) mengingatkan bangsa Israel mengenai kekudusan dan hakikat ilahi Allah. Dalam pasal 6, Yesaya memperoleh sebuah penglihatan mengenai Allah yang sedang duduk di atas takhta; ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci; kemuliaan dan otoritas-Nya memenuhi seluruh bumi. Di sebelah atas-otoritas-Nya berdiri para serafim yang berseru berulang kali, “Kudus, kudus, kudus.” Pada saat itu, moral dan kelemahan rohani umat sedang mencapai puncaknya, Allah menggunakan penglihatan itu untuk mengingatkan nabi mengenai kebesaran, kuasa dan kekudusan-Nya. Dengan melihat Allah di dalam kemuliaan-Nya, Yesaya melihat dosa-dosanya sendiri dan bangsa Israel dengan lebih jelas. Seringkali ketika membandingkan diri sendiri dengan orang lain, kita merasa diri kita begitu baiknya. Tetapi, ketika berlutut di hadapan Allah dan menyaksikan kemuliaan dan kekudusan-Nya, ketidaksempurnaan kita menjadi nyata. Daniel (Dan. 10:15-17), Ayub (Ayb. 42:5-6) dan Yohanes (Why. 1:17) mengalaminya pula. Dengan melihat kekudusan Allah, kita haruslah merendahkan hati dan bertobat atas dosa-dosa kita.
2. Melalui penghakiman
Karena Allah adalah kudus, Dia menghendaki orang-orang pilihan-Nya menjadi kudus pula (Im. 11:44-45). Kata ‘kudus’ berasal dari kata Ibrani
godesh atau dalam bahasa Yunani hagiosune, yang berarti pembagian
atau pemisahan. Sayangnya, bangsa Israel gagal memisahkan diri mereka dari orang-orang yang tidak saleh dan jalan hidup yang jahat. Dalam lima pasal pertama dari kitab Yesaya, Allah mendakwa Israel mengenai berbagai dosa:
– Ketidakadilan sosial dan kejahatan merajalela (Yes. 28-29)
– Bangsa itu menyembah berhala rohani dengan berpaling dari perjanjian Allah untuk secara aktif dan bergairah mencari berhala asing (Yes. 57:1-13)
– Iman mereka dangkal (Yes. 1:10-15; 29:13; 58:1-14). Sekalipun bangsa itu mempersembahkan korban dan memegang hari raya, tetapi hati mereka jauh dari pada Allah dan kehidupan mereka tidaklah kudus. – Mereka tidak percaya kepada Allah; bersumpah setia kepada
bangsa-bangsa lain untuk memperoleh perlindungan (Yes. 31) – Mereka mencemarkan hari Sabat (Yes. 56:1-8)
Dosa-dosa ini menghina hakikat ilahi Allah. Kekudusan, keadilan dan kebenaran Allah tidaklah dapat mengabaikan, mengampuni atau mentolerir dosa-dosa seperti itu. Allah tidak akan membiarkan bangsa itu memanggil nama-Nya untuk mencemarkan kemuliaan-Nya atau noda mereka untuk mencemarkan nama-Nya; Dia akan mempertahankan kekudusan-Nya. Melalui hukuman, Allah memanggil umat-Nya untuk bertobat dan menunjukkan citra-Nya di dalam kehidupan mereka.
3. Melalui pemurnian dan pengudusan
Dalam Yesaya 1:25, Allah berjanji untuk memurnikan umat-Nya, seperti logam di dalam tempat peleburan. Proses pemurnian meliputi peleburan logam dan penyaringan ampas yang tidak murni hingga pandai perak dapat melihat rupanya sendiri di dalam cairan logam itu. Demikian pula, Allah akan membersihkan Yehuda dari ketidakkudusan, sehingga sekali lagi, dia dapat disebut sebagai Kota Keadilan. Sepanjang sejarah Israel, Allah menggunakan berbagai cara menasihati umat-Nya untuk menjauh dari kejahatan (Yes. 2:1-5; 4:1-6). Kelaparan, wabah penyakit dan bencana serta serangan dari musuh merupakan beberapa cara yang Allah gunakan, sekalipun demikian, bangsa itu tetap keras kepala. Sebagai usaha terakhir, Allah menyerahkan mereka pada penawanan di Babel selama 70 tahun. Maksud Allah bukan untuk mendatangkan yang jahat, tetapi untuk mengajar dan menguduskan mereka dari kejahatan dan cara pemberontakan lainnya (Yer. 29:11). Sekarang, Allah mungkin menggunakan pencobaan-pencobaan untuk menguduskan kita (Bil. 13:23; Mal. 3:2). Ibrani 12:5-6 mengingatkan,
“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
b. Allah yang berbelas kasih
Setengah bagian berikutnya dari kitab Yesaya memperlihatkan bagian yang dramatis. Setelah menyatakan penghakiman dan peringatan yang keras dari pasal 1-39, Allah sekarang menghibur Yerusalem dengan lemah lembut. Marilah kita memeriksa bagaimana kasih Allah dimanifestasikan kepada umat-Nya. 1. Mengembalikan bangsa Israel ke negeri asalnya
Sekalipun kesabaran Allah telah berakhir dan membuang bangsa Israel dengan membiarkan mereka ditawan, tetapi kemudian, Allah menunjukkan kepada umatNya bagaimana Dia akan memelihara sisa-sisanya dan memulihkan mereka. Beratus-ratus tahun sebelum jatuhnya Yerusalem ke bangsa Babel dan penawanan, Allah menyuruh Yesaya memberikan nama kepada salah satu anaknya, Syear Yasyub, yang berarti ‘suatu sisa akan kembali’ sebagai peringatan akan kemurahan Allah dan keselamatan (Yes. 7:3; 14:1-2; 49:8). Setelah 70 tahun berlalu, Allah mengumpulkan umat-Nya yang tersebar dari empat penjuru dunia ke Yerusalem, tempat mereka membangun kembali Bait Suci (Yes. 10:21; 11:11-12). Bahkan dalam penghakiman, Allah adalah pemurah dan berbelas kasih. Kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya dengan Abraham dan Daud tetap, sekalipun bangsa Israel tidak setia (Kej. 22:17-18; 2 Sam. 7:8-9; Yer. 33:19-26; 31:36-37). Sekalipun dalam murka-Nya yang berlangsung singkat telah menolak Israel, tetapi kasih dan perjanjian Allah tetaplah kekal adanya (Yes. 54:7-8; 49:14-16). “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit
bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang.” (Yes. 54:10)
2. Jalan bagi orang-orang buangan untuk kembali
Salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh raja-raja Timur dahulu adalah mengutus para pembawa pesan untuk mempersiapkan jalan sebelum perjalanan mereka. Para pembawa pesan itu meratakan dan meluruskan jalan untuk menjamin sebuah perjalanan yang lancar dan menyenangkan bagi raja. Dalam Yesaya 35:8-10, nabi menubuatkan bagaimana Allah Israel akan mempersiapkan jalan bagi umat pilihan-Nya untuk kembali dari penawanan (Yes. 11:16; 35:8-10; 62:10). Sama seperti Tuhan mengeringkan Laut Merah agar umat Israel dapat melintas dan sama seperti Dia meratakan jalan yang melintasi Sungai Yordan, Allah sekali lagi akan membuka jalan bagi orang-orang yang ditebus untuk pulang ke rumah. Dia akan menghapus semua rintangan; tidak ada orang jahat atau binatang buas yang akan ditemukan di sana. Allah mempersiapkan jalan melalui Raja Koresy dari Persia, yang membiarkan sisa-sisa orang buangan itu kembali ke negeri asal mereka pada tahun 539 SM.
Tetapi kasih Allah tidaklah berhenti sampai di sini. Sejak permulaan zaman, Allah telah mempersiapkan jalan bagi umat manusia, sehingga melalui jalan yang baru dan yang hidup ini semua orang yang percaya kepada-Nya dapatlah diselamatkan (Ibr. 10:20). Dalam Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis datang untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus. Dia datang sambil menyerukan: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk
Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita. Setiap lembah harus dtutup dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadai dataran” (Yes. 40:3-4).
Yohanes Pembaptis datang untuk menghilangkan rintangan-rintangan (digambarkan sebagai lembah, gunung-gunung, tanah yang berlekuk-lekuk dan tempat-tempat yang tidak rata) dalam hati manusia dengan memanggil mereka kepada pertobatan, sehingga siap menerima keselamatan Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah ‘jalan, kebenaran dan hidup’ dan orang-orang yang datang kepada-Nya dapatlah menerima kehidupan yang kekal.
Bagian # 2 – Kedaulatan Allah A. Tuhan dari Semua
Nabi Yesaya menguraikan bagaimana nasib dari banyak orang, raja-raja dan para penguasa, bangsa-bangsa dan berbagai kejadian di bawah otoritas mutlak dan dominasi Allah.
a. Allah mengendalikan nasib dari banyak orang
1. Tuhan memilih dan memanggil Yesaya untuk menjadi juru bicara-Nya. Allah sendiri memutuskan orang yang akan dipakai-Nya untuk menyelesaikan amanat-Nya (Yes. 6:8).
2. Allah menunjuk Raja Koresy dari Persia untuk menjadi orang yang akan membebaskan dan membiarkan mereka kembali ke negeri Israel. 200 tahun sebelum Koresy dilahirkan, Allah telah memilihnya untuk tugas khusus ini (Yes. 45:1; 44:28). Koresy diberikan kecakapan dalam bidang militer dan keberhasilan demi umat pilihan-Nya (Yes. 45:4). Sekalipun Koresy adalah orang non-Yahudi, tetapi dia disebut orang yang diurapi Allah, karena diberi tugas untuk menggenapi maksud Allah (2 Taw. 36:22-23).
3. Allah menambahkan usia dari Raja Hizkia menjadi 15 tahun lagi (Yes. 38). Hanya Allahlah yang dapat mengubah kehidupan kita. Setiap nafas kita berada di tangan-Nya (Yes. 38:1-8; 16; 45:7; 1 Sam. 2:6-7).
b. Allah mengendalikan bangsa-bangsa untuk menggenapi tujuan-Nya
Allah memakai bangsa-bangsa asing untuk melakukan kehendak-Nya. Sekalipun Asyur dan Babel merupakan bangsa-bangsa non-Yahudi, yang tidak mengenal atau beribadah kepada Allah, mereka dipakai oleh Allah sebagai alat untuk mendisiplinkan umat-Nya.
1. Allah memakai bangsa Asyur menjadi cambuk murka-Nya dan tongkat amarah-Nya (Yes. 5:26-30; 10:5-6). Selama pemerintahannya, Raja Ahas lebih mengandalkan kekuatan militer dari bangsa Asyur daripada kepada Allah. Kepercayaan Ahas kepada bangsa-bangsa penyembah berhala dianggap sebagai tindakan pemberontakan di hadapan Allah dan bangsa-bangsa itu menjadi alat yang dipakai oleh Allah untuk menguduskan umat-Nya dari kebodohan dan kejahatan (Yes. 5:26; 10:5-19).
2. Allah memakai bangsa Babel menjadi alat penghukuman. Sekalipun Raja Nebukadnezar dari Babel adalah seorang raja dari orang non-Yahudi, Allah memanggilnya ‘hamba-Ku.’ Nebukadnezar diutus Allah untuk menentang bangsa Israel, menentang penduduknya dan bangsa-bangsa di sekitarnya untuk memusnahkan mereka sama sekali (Yer. 25:9; Hab. 1:6). Bahkan sekalipun Raja Zedekia, raja terakhir kerajaan Yehuda, berusaha untuk melarikan diri, dia dan bangsa itu tidak akan dapat melarikan diri dari kuk besi yang Allah telah sediakan untuk diletakkan di leher mereka.
c. Kehendak Allah tidak tergoyahkan
Pada tahun 734 SM aliansi dari Kerajaan Utara (Israel) dan Aram melawan Ahas, raja Yehuda (Yes. 7:1-9; 2 Raj. 16:5-9). Ahas begitu ketakutan, sehingga hatinya dan hati rakyatnya goyah seperti pohon-pohon hutan yang bergoyang ditiup angin. Allah mengutus Nabi Yesaya untuk menghibur Ahas dan memberitahukan bahwa rencana mereka (Israel dan Aram) tidak akan berhasil, karena itu bertentangan dengan kehendak Allah. Dan Yesaya menubuatkan bahwa Kerajaan Yehuda tidak akan berakhir pada saat itu. Kehendak Allah melampaui semua otoritas, bangsa, peristiwa sejarah dan kekuatan musuh. Mengetahui bahwa Dia mengendalikan semua aspek kehidupan, tidakkah Dia layak untuk mendapatkan iman dan kepercayaan penuh dari kita?