TESTIMONI PENGALAMAN BERAGAMA
C. Memahami Makna Pekerjaan
Mayoritas jenis pekerjaan yang ditekuni warga Balun adalah bergerak di bidang pertanian (66,13 %) disusul wiraswasta atau disektor swasta seperti perancangan, berdagang, lijo, makelar dan jagal (20,35%). Dua jenis pekerjaan utama ini begitu melekat pada diri warga Balun. Sebagai petani mereka mengerjakan sawah tambak dengan tiga sift yakni dua kali tanam ikan dan sekali tanam padi. Sementara itu, mereka yang tidak memiliki sawah tambak atau memiliki tetapi sempit, lebih cenderung menekuni pekerjaan sebagai buruh. Pagi-pagi mereka sudah berangkat ke pasar Lamongan untuk menjadi kuli angkutan, sebagian lagi menjadi
buruh di gudang Pusri Lamongan dan yang lainnya tersebar di mana-mana. Baru sore harinya mereka pulang.
Pekerjaan lainnya adalah guru, PNS/TNI-Polri dan pegawai desa (5.17%) disusul mereka yang pekerjaan lain-lain dan pencari kerja 8,35%. Namun begitu di samping beberapa perkerjaan pokok tersebut, guna memenuhi kebutuhan hidupnya warga Balun juga memiliki satu atau lebih jenis pekerjaan ‘sambilan’ sebagai rangkapannya. Hal demikian mengindikasikan bahwa satu jenis perkerjaan tidak identik dengan kemampuan warga yang terspesialis atau tidak peduli dengan jenis pekerjaan lainnya. Seperti terungkap dari penjelasan Smt. (45 tahun), seorang informan yang juga sebagai Kaur Kesra:
“Lha kados kulo niki, masiho tah sampun dados pamong, kulo nggih taksih
tani lan ugi menawi wonten objekan nggih dados makelar. Pokokipun mboten setunggal. Lha pripun mangke nek gagal. Dadose nggih kedah ngrangkep-ngrangkep, awit tiyang ing mriki nggih ngoten sedanten”.
(Lha seperti saya begini, meski sudah menjadi aparat desa tetap juga mau bertani dan kalau ada kesempatan berdagang/makelar. Pokoknya pekerjaan itu tidak satu, sebab bagaimana kalau gagal, yaa terpaksa merangkap-rangkap. Habis, warga di sini hampir semua juga begitu).
Betapapun mereka sudah termasuk golongan mampu/kaya, persepsi mereka terhadap rangkap pekerjaan ini tidak berubah yakni melihat itu sebagai keharusan kecuali bagi mereka yang memang tidak mau lagi atau sudah merasa puas dengan satu pekerjaan pokok saja.
Dorongan memiliki rangkap pekerjaan sebenarnya bukan semata-mata tuntutan ekonomi agar cukup memenuhi segala kebutuhan hidup, melainkan lebih didasarkan realitas historis dan alamiah. Sejak dulu mereka memang tidak terbiasa bekerja dalam satu bidang tertentu, tetapi dituntut oleh lingkungan untuk bisa pula melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di luar bidangnya. Dimensi ekonomis agak dominan ketika Balun dilanda masa paling sulit tahun 1940-an hingga akhir tahun 1960, apa pun jenis pekerjaan asal bisa membantu kelangsungan hidup dilaksanakan tanpa rasa canggung. Mengapa? Oleh sebab kebiasaan lama warga yang memang memiliki etos kerja yang tinggi sebagai warisan spirit Mbah Alun tentang falsafah ‘alun’ - ombak yang bergulung-gulung tanpa henti kendati sudah berhasil mencapai tepi pantai. Sebagaimana
dituturkan oleh Jml. (65 tahun) seorang informan yang juga adalah Kaur Pembangunan dan tokoh agama Hindu:
“Menawi mung damel nedho lan nyandang ngoten nggih kulo niki
turah-turah. Hasil saking sawah ganjaran mawon pun mboten ngentekaken, kulo tedho kalih tiyang estri kulo. Ngoteno tiyang estri kulo niki nggih mboten purun mendel kemawon ten nggriyo, mben enjing nggih ten peken sadeyan iwak. Wangsul-wangsul sampun siyang. Mangke nek ten nggriyo nggih wonten mawon sing dicendak” (Kalau sekadar untuk makan dan
pakaian saja, orang seperti saya ini ya cukup berlebih. Hasil dari sawah ‘benkok’ saja tidak menghabiskan kalau dimakan dengan istri. Meskipun demikian, istri tidak mau tinggal di rumah, tetap saja ke pasar jualan ikan setiap hari. Pulang sudah siang, begitupun masih ada saja yang dikerjakan sepulang dari pasar).
Diakui bahwa rangkap pekerjaan tersebut secara ekonomi memberi konstribusi yang cukup signifikan terhadap pendapatan keluarga, tetapi tak kalah pentingnya adalah juga merupakan sarana untuk membangun jaringan yang semakin intens dalam kerangka interaksi sosial warga masyarakat. Karena lewat bekerja dengan mobilitas tinggi tersebut, tanpa disadari akan pula semakin mempersering frekuensi mereka saling bertemu dan berinteraksi. Hal demikian tidak hanya berlaku bagi kaum laki-laki saja tetapi juga para perempuannya. Secara sadar pula kaum perempuan Balunpun tidak mau berdiam diri saja di rumah tetapi juga berupaya melakukan kegiatan produktif dan menghargai waktu agar tidak berlalu secara sia-sia.
Terbentuknya formasi masyarakat berdasarkan tingkat pendapatan seperti itu, tidak lain karena adanya perilaku monopoli oleh elite ekonomi dan politik. Akses ekonomi berhasil dikuasai oleh sedikit orang. Tanpa disadari terjadilah polarisasi masyarakat. Kelas atas (yang diwakili kelompok berpenghasilan tinggi) berhadapan dengan kelas bawah (yang diwakili kelompok berpenghasilan rendah). Namun karena terikat oleh nilai-nilai satu trah yang amat kuat, perlakuan tidak adil tersebut tidak disikapi dengan perlawanan frontal. Justru pilihan implisit kalangan buruh dan petani kecil ini adalah melakukan eksodus ke luar desa dengan alasan mencari kerja tambahan sebab di desa sudah suntuk dan tidak ada kerja yang lain lagi.
Namun, begitu hubungan personal antara dua ‘kelas’ masyarakat ini tetap terpelihara dengan baik, bahkan terkesan tidak ada yang berubah.
Seperti diungkapkan oleh Thr. (65 th.) seorang pengamat keagamaan sekaligus Ketua PHDI Lamongan:
“Unik orang Balun tersebut. Secara agama mereka berbeda-beda. Secara sosial-ekonomi ada yang berpenghasilan amat tinggi sampai punya rumah tembok yang bagus dan mobil. Tetapi ada juga rumah warga yang masih berlantai tanah, dinding rumah bambu serta fasilitas lain yang kurang menunjang, namun di antara mereka terasa tidak ada perbedaan tersebut. Walaupun sangat kaya (seperti pak H.S), dia juga amat hormat kepada mereka yang tua, meskipun kadang orang tidak punya. Dan hubungan seperti itu bisa dijumpai di hampir semua orang Balun”.
Kenyataan seperti itulah barangkali yang sulit ditemukan di beberapa wilayah lain, betapapun masih bercorak kehidupan komunal tetapi relasi sosial yang dibangun pasti sudah banyak mengalami pergeseran-pergeseran.