TESTIMONI PENGALAMAN BERAGAMA
F. Memahami Solidaritas dalam Wilayah Praksis
Sebagai sebuah bentuk kerja sama, solidaritas bisa diekspresikan ke dalam beragam wilayah implementasi. Semakin bervariasi wilayah keterlibatan mereka dalam aktivitas-aktivitas kerja sama antarwarga, semakin menunjukkan besar-kecilnya tingkat solidaritas yang dimiliki.
Mayoritas warga Balun mengekspresikan aktivitas kebersamaannya sedikitnya di empat bidang kegiatan (keagamaan, sosial, seni dan perayaan desa). Masing-masing wilayah implementasi tersebut memiliki
spesifikasi kegiatan yang berbeda-beda. Sektor keagamaanpun terbagi atas tiga macam. Penganut agama Islam tanpa perasaan canggungpun dengan ikhlasnya mengundang tetangga kiri-kanannya yang berbeda agama Kristen dan Hindu untuk ikut kenduri slametan, megengan,
riyayan (lebaran), hakikah atau brokohan (untuk mensyukuri bayi
yang baru lahir) bahkan tahlilan orang meninggal. Mereka umumnya antusias menyambut undangan tersebut tanpa peduli mereka akan merapalkan doa yang bagaimana setelah sampai di sana. Begitupun dengan umat Kristen ketika mengadakan biston sebagai ucapan syukur atas keberhasilan anak atau anggota keluarganya maupun perayaan natal selain sesama Kristen yang diundang mereka juga mau berbagi dengan tetangga kiri-kanan yang beragama lain. Sementara Umat Hindu lebih terkoordinasi sebab perayaan-perayaan banyak ditempatkan di Pura, sehingga umat lain yang diundangpun umumnya lebih kepada perwakilan umat dari agama lain.
Di bidang sosial, musyawarah untuk mencapai kata sepakat baik di tingkat RT/RW sampai desa selalu memperhatikan kebersamaan antara tiga agama ini. Di setiap RT ada kegiatan koperasi RT, pengurus yang terbentuk selain berdasarkan kecakapan juga harus merepresentasi umat yang ada di wilayah tersebut, kecuali jika di wilayah itu hanya dihuni satu agama saja. Pembentukan struktur pengurus LMD/ LKMD atau (BPD/LKD) yang sangat strategis dalam pengambilan keputusan-keputusan tingkat Desa sangat memperhatikan heterogenitas komposisi, agar tidak dicap sebagai hasil keputusan kelompok mayoritas. Bahwa akhirnya perjuangan kelompok minoritas Hindu dan Kristen misalnya kalah, tidak membuat mereka kecewa tetapi dengan sepenuh hati didukung demi kejayaan desa. Betapapun dari segi kuantitas (terutama Hindu) sangat kecil, tetapi jika argumentasi yang dikeluarkan sangat rasional dan logis, kelompok mayoritas pun akan menyatakan setuju dan menerima. Seperti dijelaskan oleh Jml (65 thn.) demikian:
“Haalaa Pak, ten mriki niki nek saged nggegolakan ide ngoten sak esto mbok
tiyang Islam niku menot mawon, mboten athik ngeten-ngeten. Cul .. niku koperasi RT kulo tanganane, sakesto sedoyo percados. Padahal kulo mboten gadhah nopo-nopo. Namung tekad maju mawon kaliyan tumindak pener.”
(Begitulah Pak, jika kita bisa menyakinkan gagasan biar orang Islam yang demikian banyak jumlahnya pasti ikut saja. Contohnya saat
Koperasi itu saya ambil alih, semua percaya. Padahal saya tak punya apa-apa, kecuali semangat dan berlaku jujur).
Pada ranah ini, sekurangnya ada dua kejadian penting yang berdimensi sosio-politis yang memicu munculnya keretakan solidaritas.
Pertama, dalam pilkades tahun 1990. Pada saat itu hampir dapat
dipastikan jika Giran yang calon Kristen (seorang guru SD) berhasil menjadi calon tunggal menggantikan M. Bati sebagai Kades untuk periode 1990-1998. Pilihan ini jatuh sebab semula Bati mencalonkan Sartono. Tetapi pada saat yang bersamaan kubu Islam yang dimotori H. Salim rival politiknya pada masa pilkades 1966 lalu turut pula menjagokan Suradi yang anggota Kodim Lamongan. Oleh sebab dua-duanya adalah anggota ABRI/TNI aktif, maka calon yang maju harus salah satu, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya dua-duanya tidak diizinkan atasan mereka.
Kekosongan itulah yang membuat Giran mantap tampil sebagai calon jadi. Namun tanpa terduga sebelumnya, kubu Suradi memajukan calon lain yang seaspirasi yakni Rochim. Pada saat inilah pertarungan menjadi tidak fair lagi, sebab isu yang dihembuskan adalah masalah perbedaan agama. Sebuah tema pembicaraan yang jarang menjadi bahan polemik. Namun, karena derasnya kubu Salim mencari dukungan massa, selain isu agama ditiupkan pula isu asal-usul. Terhadap isu kedua inilah, banyak suara mulai tersedot sebab kendati secara kualitas dan pengalaman Giran jauh lebih kapabel tetapi oleh sebab ia berasal dari luar daerah (Malang), pamornyapun mulai surut. Implikasinya adalah perolehan suara dua calon tersebut berselisih betapapun tidak jauh, yakni 55% : 45%.
Perimbangan suara tersebut karena Giran sendiri selain memperoleh dukungan suara Kristen dan sebagian Islam juga dari umat Hindu. Suara Hindu lebih baik diserahkan Kristen dengan pertimbangan sama-sama minoritas, dan lagi pula calon Kristen jauh lebih baik. Satu-satunya faktor penyebab kekalahan Giran adalah tidak dimilikinya garis keturunan satu ‘cuk bakal’. Pasca peristiwa pilkades tahun 1990 tersebut, relasi antar-agama di Balun memasuki periode yang kurang kondusif akibat sentimen agama yang sempat dimunculkan oleh kubu Islam. Seiring dengan kekalahan itu pula calon Sekdes dari kubu Kristen
Prayitno pun mundur, sementara kubu Islam secara meyakinkan mencalonkan Mulyono yang lebih berhaluan Muhamadiyah.
Memulihkan relasi yang agak retak baik di tingkat elite desa maupun antarwarga, pihak Islam yang keluar sebagai pemenang baik Kades maupun Sekdes berusaha untuk melibatkan Giran dalam struktur LKMD serta aktivitas-aktivitas desa lainnya yang lebih aktif. Dengan cara demikian dukungan warga Kristen tetap bisa diberikan kepada Rochim demi penyelenggaraan pemerintahan selanjutnya.
Kedua, belum pulih kekecewaan warga Kristen dan Hindu akibat
jagonya kalah dalam pilkades, sebuah policy tidak populer diambil lagi oleh Rochim yang merupakan hasil input dari Sekdes bersama H. Salim sebagai pihak yang pernah dikalahkan dan merasa termarjinalkan selama pemerintahan Bati. Mekanisme pemilihan Juru Kunci makam mbah Alun direformasi dengan pretensi agar bisa menguntungkan satu agama tertentu (Islam) saja. Mekanisme penunjukan secara bergilir dari Islam ke Kristen kemudian Hindu untuk waktu satu tahun dianggap sudah usang dan tidak aspiratif lagi, karena itu hanya memberikan kesempatan pada dua agama non-Islam memperoleh hak yang sama atas makam tersebut. Sementara mereka tetap menyakini bahwa Mbah Alun adalah Islam, maka yang lebih berhak adalah umat Islam dulu. Meskipun dalam hal pengangkatan Juru Kunci versi Baru (model Kades Rochim) dipilih secara demokratis, dapat diperkirakan hasil finalnya jika umat Kristen dan Hindu mustahil akan mengenyam jabatan Juru Kunci itu lagi. Ini tidak lain karena proses pemilihan yang langsung dipimpin Kepala Desa dilakukan melalui pemungutan suara dari masing-masing unsur masyarakat yakni anggota LKMD, LMD istilah kekinian BPD dan LKD, masing-masing ketua RT/RW, Danton Hansip, wakil dari Karang Taruna, PKK, unsur masyarakat lain serta dari aparat sendiri yang berjumlah 87 orang. Secara matematis,72 amat sulit bagi perwakilan Hindu dan Kristen bisa meraih posisi Juru Kunci itu lagi sebab perwakilan Hindu hanya 4 orang dan Kristen 16 orang, sisanya Islam jauh lebih besar yakni 67
72Unsur masyarakat terdiri atas aparat (5 Islam, 2 Kristen, 1 Hindu), LMD 17 orang (Islam 12, Kristen 3 dan Hindu 2) , LKMD terdiri 15 orang (Islam 12, Kristen 2, Hindu 1), Ketua RW 4 orang (2 Islam, 2 Kristen), Ketua RT 20 orang (7 Kristen, 13 Islam), Wakil Karang Taruna, Danton Hansip, PKK dan unsur masyarakat yang lainnya total keseluruhan yang berhak memilih 87 orang.
orang. Sedemokratis apa pun harus disadari bahwa kans untuk kedua perwakilan Hindu dan Kristen sudah tertutup. Belum lagi ada alasan lain bahwa yang cocok dan pantas menduduki jabatan itu hanyalah orang Islam karena bisa merapalkan doa-doa Islam, mengingat mayoritas pengujung makam adalah Muslim.
Berawal dari perubahan mekanisme pemilihan Juru Kunci yang sepintas demokratis itulah, yang kemudian membawa dampak mulai terganggunya relasi antarpemeluk umat yang berbeda tersebut. Pemulihan hubungan segera diupayakan agar keretakan hubungan itu mulai cair lagi yakni dengan melakukan kompensasi bahwa hasil pendapatan makam yang semula hanya dimiliki oleh sang Juru Kunci harus diserahkan ke Kas Desa sebesar 60 %, sementara sisanya menjadi hak milik sang Juru Kunci. Pemasukan sebesar 60% inilah yang kemudian didistribusikan ke masing-masing pemuka agama yang ada di Balun. Dengan cara demikian sedikit banyak ketegangan yang sempat muncul tersebut berhasil dieliminasi atau setidaknya direduksi sampai pada tingkat yang minimal.
Di depan GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Balun Lamongan pun Terpasang Ucapan Selamat Hari Nyepi untuk Umat Agama Hindu (Foto: Dinas Kearsipan
Umat Kristen dan Islam pun Turut Ambil Bagian dalam Pembuatan Visual Ogoh-ogoh (Foto: IDN Times Jatim)
Proses Pengerjaan Ogoh-ogoh di Balun (Foto: IDN News Jatim) Di bidang seni, kebersamaan jauh lebih bisa ditampilkan oleh sebab dimensi seni itu sendiri adalah lintas kepentingan dan agama. Setiap malam (meskipun tidak rutin) warga baik Islam, Kristen dan Hindu dengan rajin berlatih gamelan, kendati secara formal perangkat gamelan tersebut adalah milik umat Hindu. Melalui seni karawitan ini , meraka
bisa menjalin kebersamaan dengan penuh rasa saling menghargai. Jenis kesenian lain yang bisa dijadikan medium bersilaturahmi adalah pertunjukan wayang kulit dan gambyongan. Pada peristiwa-peristiwa demikian, mengedepannya rasa solider lebih karena digerakkan oleh semangat keseragaman motivasi dan orientasi dalam memberi apresiasi seni tersebut. Di samping itu, sisi lain yang tak terlupakan adalah mereka bisa melekan/jagongan, main gaple (kartu), bahkan minum-minum tanpa rasa canggung.
Di bidang perayaan desa, warga dengan penuh vitalitas dan semangat mengambil bagian sendiri-sendiri. Terutama sekali jika desa mengadakan perayaan Agustusan maupun Hari Jadi Kota Lamongan. Pada even yang terakhir tadi, Balun memiliki keterkaitan historis yang tak mudah dilupakan sehingga tanpa disadari wargapun selalu mempersiapkan diri jika ultah Kota Lamongan. Selain itu, wujud kebersamaan juga masih ditampilkan saat hari ‘sedekah bumi’73 yang jatuh setiap Jumat Kliwon setelah masa panen pertama. Semua warga turut terlibat dalam kegiatan ini. Mereka merasakan bahwa kesuksesan acara syukuran desa ini adalah tanggung jawab seluruh warga Balun tanpa terkecuali. Sebagian kecil warga, khususnya umat Kristen enggan terlibat aktif dengan alasan larangan agama. Namun begitu, sebagian lainnya tetap mau berpartisipasi atas pertimbangan keterikatan dengan sejarah asal-usul desa yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
Dengan demikian jelaslah bahwa iktikad warga untuk melakukan kooperasi demi meringankan beban sesama itu sudah ada dengan sendirinya di hati masing-masing warga. Kesadaran semacam itu sudah tumbuh sejak lama, bahkan jauh sebelum warga Balun ini terbagi ke dalam tiga agama.