Bab IV : Hasil Penelitian
B. Peneliti Kedua
4) Studi Kepustakaan
4.2 Deskripsi Data
4.3.3 Membandingkan Hasil Pekerjaan Dengan Standar dan Memastikan Perbedaan
Tahap ini dimaksudkan dengan membandingkan hasil pekerjaan dengan standar yang telah ditentukan. Hasil pekerjaan dapat diketahui melalui laporan tulisan yang disusun karyawan baik laporan rutin maupun laporan khusus. Selain itu atasan dapat juga langsung mengunjungi karyawan untuk menanyakan langsung hasil dari pekerjaan tersebut atau dengan cara memanggilnya langsung dan mendengarkannya secara lisan. kinerja dapat berada pada posisi lebih tinggi dari, lebih rendah dari, atau sama dengan standar. Pada beberapa perusahaan perbandingan dapat dilakukan dengan mudah, misalnya dengan menetapkan standar namun dalam beberapa kasus perbandingan ini standar ini jelas dan relative mudah dihitung untuk menentukan apakah apakah standar telah tercapai atau belum. Namun dalam beberapa kasus perbandingan ini dapat dilakukan dengan lebih detail jika kinerja lebih rendah dibandingkan standar, maka seberapa besar penyimpangan ini dapat ditoleransi sebelum tindakan korektif dilakukan.
Begitupun dalam penyelenggaraan Waralaba (Indomart/Alfamart) di Kabupaten Pandeglang ada panduan khusus dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang yakni Peraturan Daerah No.12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Maka dalam pelaksanaanya harus mengacu kepada Perda tersebut, maka untuk mengetahui apakah dalam pelaksanannya sudah sesuai dengan prosedur atau standar yang sudah di tetapkan maka peneliti menanyakannya kepada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) Kabupaten Pandeglang sebagi lembaga atau instansi yang menjadi pelaksana dalam penyelenggaraan waralaba (Indomart/Alfamart) di Kabupaten Pandeglang dan sebagai pelaksana dari Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.
Dalam penyelenggaraan Waralaba (Indomart/Alfamart) di Kabupaten Pandeglang ini, mereka yang bertanggung jawab harus dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan atau ketentuan yang berlaku, serta harus dilihat apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh Pemerintah, Dikabupaten pandeglang terdapat kebijakan yang mengatur tentang Penyelenggaraan Waralaba yaitu Peraturan Daerah No12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Waralaba mnurut Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang
Nomor.12 Tahun 2010 Waralaba adalah merupakan hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis yitu dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang atau jasa dan digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba. dalam perda tersebut mengatur pelaksanaan penyelenggaraan waralaba.
Mengacu Pada peraturan Bupati Pandeglang nomor 32 tahun 2014, tentang tugas, fungsi dan tatakerja badan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu (BPMPPTSP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat 3, bahwa (BPMPPTSP) mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengendalian, pengawasan dan evaluasi terkait kegiatan penanaman modal dan perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang.
Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Satu Pintu Mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dan penyelenggaraan pelayanan administrasi dibidang penanaman modal pelayanan perizinan dan non perizinan dengan prinsip koordinasi, integrasi, singkronisasi, simplifikasi, keamanan dan kepastian kemudian Tugas Pokok dan Fungsi BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang diantaranya yaitu: Melaksanakan Koordinasi dalam Menyelenggarakan Pelayanan Administrasi di Bidang Penanaman Modal Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan secara terpadu dengan prinsip koordinasi, integrasi, singkronisasi, simplifikasi, keamanan dan kepastian. Membantu Bupati dalam Perumusan pelaksanaan dan Penyelenggaraan kebijakan di Bidang Penanaman Modal, Perizinan dan
Non Perizinan secara terpadu dalam perizinan.Pelaksanaan Penyusunan Program BPMPPTSP. Penyelenggaraan pelayanan administrasi perizinan dan non perizinan dan penanaman modal. Pelaksanaan Koordinasi proses pelayanan perizinan, non perizinan dan penanaman modal, Pelaksanaan administrasi penanaman modal, pelayanan perizinan dan non perizinan.
Pelaksanaan penyelenggaraan waralaba dalam pelaksanaannya tentu harus mengacu pada Perundang-Undangan dan kepada prosedur yang berlaku. Seperti yang terteda dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbeelanjaan dan Toko Modern.
Namun, ketika peneliti melakukan observasi dan wawancara ke lapangan, ternyata terdapat waralaba (Indomart/Alfamart) yang tidak sesuai dengan ketentuan seperti yang tertera dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraa Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Seperti jarak antara pasar tradisional yang dalam perda diatur harus berjarak 200 meter namun terdapat waralaba yang jaraknya kurang dari 200 meter dari pasar tradisional, belum lagi menurut keterangan dari masyarakat terdapat waralaba yang tidak mengantongi izin namun masih tetap beroprasi. Oleh karnanya untuk mengetahui kebenaran dari keterangan tersebut maka peneliti melakukan wawancara kepada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) adalah instansi pemerintah yang mempunyai tugas sebagai pelaksana dalam penyelenggaraan waralaba di
Kabupaten Pandeglang seperti yang tertera dalam peraturan Bupati Pandeglang nomor 32 tahun 2014, sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat 3, mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengendalian, pengawasan dan evaluasi terkait kegiatan penanaman modal dan perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang.
Untuk mengetahui apakah dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang sudah ses uai dengan Perundang-Undangan yang ada maka peneliti menanyakan kepada BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang yakni Kepada Kepala Bidang Informasi dan Pengendalian (I2). mengatakan,
“Tentu dalam penyelenggaraan waralaba harus mengacu pada
Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan toko Modern.
”. kami sudah mengacu pada Perda tersebut, namun jika memang
ada waralaba yang tidak sesuai dengan prosedur yang ada kami biasanya mengkaji dan jika terbukti melakukan pelanggaran kami akan memanggil pemilik waralaba tersebut (Wawancara/Senin, Mei 2015/Pukul 10.00 WIB/wawancara tersebut dilakukan di Kantor BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang).
Berdasarkan keterangan di atas, dijelaskan bahwa dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba (Indomart/Alfamart) mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Modern namun pada saat peneliti melakukan observasi dan melakukan wawancara ternyata menurut salah satu LSM di Pandeglang mengungkapkan bahwa ada beberapa waralaba yang tidak mempunyai izin dan tidak sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman
Penyelenggaraan Waralaba. seperti Waralaba di Cadasari dan pasar menes yang jaraknya dari pasar tradisional kurang dari 200 ini tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana yang tertera dalam Perda Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba yang salah satu pointnya menjelaskan bahwa jarak antara waralaba berrbentuk Indomart/Alfamart minimal harus berjarak 200 meter dari pasar tradisional Seperti penjelasan dari Salah satu LSM di Kabupaten Pandeglabg (I7). memberikan pemaparan mengenai adanya waralaba (Indomart/Alfamart) yang melanggar ketentuan dalam Perda, beliau mengatakan,
“Di Kabupaten Pandeglang ada beberapa Waralaba yang tidak sesuai
dengan ketentuan dalam perda, seperti waralaba Alfamart yang ada di Pasar menes dan pasar Cadasari, jarak nya kurang dari 200 meter dari pasar tradisional. Jelas itu merupakan pelanggaaran terhadap perda Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Dalam perda tersebut jelas bahwa salah satu ketentuannya jarak antara waralaba berbentuk minimarket seperti Indomart/Alfamart harus berjarak 200 meter dari pasar tradisional. Tapi dari pihak BPMPPTSP belum menindaknya sampai sekarang dan terlihat kurangnya Pengawasan dari BPMPPTSP. Adanya bidang pengendalian dan pengawasan di BPMPPTS dirasa belum optimal dalam pengawasannya terhadap penyelenggaraan waralaba di Pandeglang“(Wawancara/Jum’at, Mei 2015/Pukul 11.00 WIB/wawancara
tersebut dilakukan di Warung Kopi dekat alun-alun Kabupaten Pandeglang).
Berdasarkan keterangan di atas, dijelaskan bahwa terdapat waralaba yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba. ini mengindikasikan Kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu BPMPPTSP . dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba
(Indomart/Alfamart) di Kabupaten Pandeglang, Mengacu Pada Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 32 Tahun 2014, Tentang Tugas, Fungsi dan Tatakerja Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) sebagaimana dimaksud pasal 17 ayat 3, menerangkan bahwa (BPMPPTSP) mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengendalian, pengawasan dan evaluasi terkait kegiatan penanaman modal dan perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang. menurut perda tersebut BPMPPTSP mempunyai tugas pengendalian dan pengawasan terhadap proses perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang yang seharusnya bertanggung jawab atas pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang khususnya dalam mengawasi proses penyelenggaraan waralaba. menurut keterangan dari salah satu LSM di Kabupaten Pandeglang bahwa dalam Pelaksanaanya pada proses perizinan dilapangan ditempuh BPMPPTSP hanya mengandalkan informasi dari tim pelaksana teknis dan tidak secara langsung ikut mengawasi di lapangan ini yang menurutnya sering kali di manfaatkan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab yang mencoba memuluskan proses perizinan di Lapangan. Sedangkan keterlibatan bidang pengawasan dan pengendalian BPMPPTSP pada saat proses perizinan dilapangan ditempuh tidak turun langsung kelapangan melainkan hanya menunggu informasi dari tim plaksana teknis. Sedangkan penanggung jawab dalam perizinan penyelenggaraan waralaba adalah BPMPPTSP sama halnya dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pengawasan dan penyuluhan Satpol
PP Kabupaten Pandeglang (I4). Berikut keterangan yang disampaikan oleh beliau,
“Meskipun dalam penyelenggaraan Waralaba ada tim pelaksana
teknis di dalammnya namun tetap BPMPPPTSP yang menjadi penanggung jawab atas dikeluarkannya perizinan waralaba tersebut, dan kami hanya sebagai tim teknis yang membantu proses perizinan dilapangan. Dibawah Koordinasi Bidang Pengendalian BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang. perihal dikeluarkannya atau tidak izina tersebut itu yang berwenang adalah BPMPPTSP. Dan terkait adanya waralba yang tidak sesuai dengan Perda No.12 Tahun 2010 kami sudah mencoba memberikan teguran kepada pemilik waralaba, nah jika sampai tiga kali teguran dari kami tidak diindahkan maka kami akan tegas menyegel atau menutup paksa waralaba tersebut. Namun sekali lagi itu pun harus ada rekomendasi dari BPMPPTSP biasanya rekomendasi penutupan itu dilakukan setelah BPMPPTAS melakukan rapat bersama tim teknis untuk meninjau apakah waralaba yang dilaporkan tersebut menyalahi atauran atau tidak. Nah jika memang terbukti maka BPMPPTSP akan mengintruksikan kepada Satpol PP untuk
melakukan penindakan. Terhadap waralaba tersebut. begitu”.
(Wawancara/Kamis, Mei/Pukul13.00 WIB / wawancara tersebut di laklakukan di Kantor Satpol PP Kabupaten Pandeglang).
Berdasarkan keterangan yang disampaikan di atas, dijelaskan bahwa yang bertanggung jawab dalam pengawasan pelaksanaan peyelenggaraan waralaba (Indomart/Alfamart) di Kabupaten Pandeglang Pejabat Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu sebagai instansi yang menjadi plaksana dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang Dalam hal ini adalah Kepala Bidang Pengendalian BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang Sedangkan Tim Pelaksana Teknis hanya membantu pada saat proses perizinan dilapangan tetap yang mempuyai kewenangan untuk dikeluarkan atau tidaknnya izin usaha waralaba tersebut adalah BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang .
seperti halnya yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pengawasan dan Promosi dinas Perdagandan,dan Perizndustrian. Salah satu dinas yang menjadi tim pelaksana teknis dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglabg (I3) mengatakan,
“Ya semua tergantung dari BPMPPTSP nya dalam pengeluaran
izin usaha waralaba tersebut, biasanya jika semua sudah sesuai dengan prosedur yang ada maka BPMPPTSP akan mengeluarkan izin tersebut begitupun sebaliknya juka dirasa belum sesuai dengan prosedur yang ada maka biasanya kami tim teknis di undang untuk melakukan peninjauan dan mengevaluasi apakah waralaba tersebut benar sesuai dengan prosedur atau belum. kami
disini hanya tim pelaksana teknis saja”.(Wawancara/Kamis,Meii
/Pukul 13.30 WIB/wawancara tersebut dilakukan di Kantor Dinas Koprasi, Perdagangan dan Perindustria).
Berdasarkan keterangan di atas, dijelaskan bahwa yang bertanggung jawab penuh dikeluarkan atau tidaknya izin usaha waralaba adalah Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu. sesuai peraturan Bupati Pandeglang nomor 32 tahun 2014, tentang tugas, fungsi dan tatakerja badan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu (BPMPPTSP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat 3, bahwa (BPMPPTSP) mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengendalian,pengawasan dan evaluasi terkait kegiatan penanaman modal dan perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang. sesuai peraturan Bupati Pandeglang nomor 32 tahun 2014, tentang tugas, fungsi dan tatakerja badan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu (BPMPPTSP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat 3, bahwa (BPMPPTSP) mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan
pengendalian,pengawasan dan evaluasi terkait kegiatan penanaman modal dan perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang. Sedangkan penanggung jawab pengawasan dalam penyelenggaraan waralaba (Indomart/Alfamart) pelaksana itu ada di Kepala Pengendalian dan Pengawasan BPMPPTSP Kabupaten.
Penyelenggaraan usaha waralaba di Kabupaten Pandeglang meskipun sudah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, namun masih saja terdapat waralaba yang melanggar perda, seperti yang dilansir oleh salah satu media online wartaharian.com terbit tanggal 10 Februari 2014, memberitakan bahwa ada tiga waralaba di Kabupaten Pandeglang yang melanggar ketentuan dalam Perda No. 12 Tahun 2010, dalam Perda tersebut diatur jarak bangunan waralaba dengan pasar tradisional minimal berjarak 200 meter namun bangunan waralaba yang ada di majasari, pasar menes dan pasar sodong jarak dari pasar tradisional jaraknya kurang dari 200 meter ini tentu tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam perda pasal 4 ayat 1 yang menerangkan bahwa jarak antara waralaba dengan pasar tradisional minimal berjarak 200 meter dengan pelanggaran tersebut tentu yang akan dirugikan adalah pedagan kecil karena pembeli akan lebih memilih untuk berbelanja di minimarket, ini semua bersinggungan dengan Peraturan Daerah No.12 Tahun 2010 dalam pasal 2 ayat 1 menerangkan bahwasannya pendirian waralaba wajib memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan
memperhatikan keberadaan pasar tradisional, usaha kecil, usaha menengah yang ada di wilayah Kabupaten Pandeglang. dengan adanya pelanggaran tersebut namun pemerintah seperti membiarkan pelanggaran tersebut dan tidak memberikan sanksi tegas terhadap waralaba yang melanggar perda, seperti yang di ungkapkan oleh salah satu LSM di Kabupaten Pandeglang. (I10)
Untuk mengetahui apakah dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang sudah sesuai dengan Peraturan Darah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, kemudian salah satu pointnya adalah tentang dijelaska bahwa pendirian waralaba wajib memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan pasar tradisional, usaha kecil dan usaha menengah, yang ada di Wilayah Kabupaten Pandeglang kemudian pendiriaan Waralaba yang berbentuk toko modern wajib memperhatikan batasan jarak antara pasar tradisional dengan waralaba dengan ketentuan jarak antara waralaba berbentuk minimarket dengan pasar tradisional minimal 200 meter. Seperti yang di jelaskan oleh Satpol PP Kabupaten Pandeglang. mengatakan.
“Penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang sudah
diatur dalam Perda No.12 tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, maka pelaksanaan penyelengaraan waralaba di kabupaten pandeglang harus mengacu kepada peraturan tersebut, kami selaku penegak perundang-undangan dan merupakan bagian dartim plaksana teknis dalam penyelengaraan waralaba sudah
menerapkan aturan yang ada. Sesuai dengan perda tersebut jika ada pewaralaba yang melanggar maka kami akan menindaknya dan memberikan sanksi sesui dengan apa yang tertuang di dalam peraturan daer No.12 Tahun 2010. (Wawancara/Jum’at,Mei
2015/Pukul 11.00 WIB/wawancara tersebut dilakukan di kantor Satpol PP Kabupaten Pandeglang).
Dari hasil wawancara dengan Satopl PP tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan waralaba (Indomart/Alfamart) di Kabupaten Pandeglang ditaur dalam Peraturan Daerah No.12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba,Pusat Perbelanjaan dan Toko Moderen. Penyelenggaraan usaha waralaba di Kabupaten Pandeglang meskipun sudah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, namun masih saja terdapat waralaba yang melanggar perda, seperti yang dilansir oleh salah satu media online wartaharian.com terbit tanggal 10 Februari 2014, memberitakan bahwa ada tiga waralaba di Kabupaten Pandeglang yang melanggar ketentuan dalam Perda No. 12 Tahun 2010, dalam Perda tersebut diatur jarak bangunan waralaba dengan pasar tradisional minimal berjarak 200 meter namun bangunan waralaba yang ada di majasari, pasar menes dan pasar sodong jarak dari pasar tradisional jaraknya kurang dari 200 meter ini tentu tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam perda pasal 4 ayat 1 yang menerangkan bahwa jarak antara waralaba dengan pasar tradisional minimal berjarak 200 meter dengan pelanggaran tersebut tentu yang akan dirugikan adalah pedagan kecil karena pembeli akan lebih memilih untuk berbelanja di minimarket, ini semua bersinggungan dengan Peraturan Daerah No.12
Tahun 2010 dalam pasal 2 ayat 1 menerangkan bahwasannya pendirian waralaba wajib memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan memperhatikan keberadaan pasar tradisional, usaha kecil, usaha menengah yang ada di wilayah Kabupaten Pandeglang. Seperti yang disampaikan oleh LSM di Kabupaten Pandeglang (19)
“Adanya pelanggaran dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglng tidak terlepas dari Kurangnya Pengawasan yang di lakukan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan, Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) Kabupaten Pandeglang. ini yang menyebabkan terjadinya pelanggaran dalam penyelenggaraan waralaba diPandeglang. (Wawancara/Kamis, 15 Mei 2015/Pukul 13.00 WIB/wawancara tersebut dilakukan di Rumahnya).
Hal senada di Ungkapkan Oleh salah satu Masyarakat pemilik Warung Kacil di Pandeglang mengatakan bahwa (I12).
“Pemerintah haruh lebih meningkatkan pengawasannya dalam penyelenggaraan waralaba, saya yakin dibelakang pendirian waralaba ada yang berbain dek, buktinya itu pemerintah seperti diam saja padahal sudah jelas itu waralaba melanggar aturan. Kami disini pedagang kecil yang dirugikan.(Wawancara/Kamis, 15Mei 2015/Pukul 13.00 WIB/wawancara tersebut dilakukan di warung kecil di majasari).
Hal yang sama juga di ungkapkan oleh salah satu pemilik kios kecil di Majasari yang bersebelahan dengan waralaba yang di duga tidak berizin, mengatakan bahwa.
“Saya gak tau kalo pendirian waralaba itu harus ada izin dari kita pedangan kecil, tau tau udah dibangun aja de, gada informasi sama sekali baik dari apartur desa mupun pemerintah. Gatau siapa itu yang ngurusin yang jelas saya ga pernah menyataan memberikan izin. Saya merasa keberatan dan yidak setuju kalo indomart itu didirikan tanpa izin harusnya pemerintah bersikap
tegas terhadap indomart yang melanggar aturan (Wawancara/Kamis,15Mei2014/Pukul 13.00 WIB/wawancara tersebut dilakukan di Warung di Majasari).
Dari Hasil wawancara tersebut dapat di ketahui dalam pelaksanaanya pemerintah masih kurang dalam melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraah waralaba (Indomart/Alfanart) di Kabupaten Pandeglang ini terlihat karena masih terdapatnya waralaba yang tidak mempunyai izin namun di biarkan beroprasi Berkembangnya usaha jenis ini tentu akan berpengaruh terhadap iklim perekonomian yang ada di daerah, pengaruh positifnya keberadaan waralaba akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat dan menciptakan investasi jika keberadaannya dikelola dan diawasi dengan baik oleh pemerintah setempat jika keberadaan waralaba di Kabupaten Pandeglang tidak dikelola dan di awasi dengan baik maka tidak menutup kemungkinan bisa menciptakan iklim perekonomian yang buruk timbulnya persaingan yang tidak sehat antara pedagang kecil dan pemilik waralaba karena di Kabupaten Pandeglang banyak terdapat usaha-usaha kecil seperti warung kecil dan pasar tradisional yang keberadaanya juga harus mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
4.3.4 Mengoreksi Penyimpangan-Penyimpangan yang Tidak Dikehendaki