• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV : Hasil Penelitian

B. Peneliti Kedua

4) Studi Kepustakaan

4.2 Deskripsi Data

4.3.5 Pembahasan Analisa Hasil Penelitian dan Temuan Lapangan

Penyelenggaraan waralaba minimarket (Indomart&Alfamart) menurut Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 2 Tahun 2014 dilaksanakan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Pandeglang yang mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dan penyelenggaraan pelayanan administrasi di bidang penanaman modal pelayanan dan perizinan usaha termasuk didalamnya penyelenggaraan waralaba minimarket (Indomart&Aalfamart) dalam pelaksanaannya di urusi oleh BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang. adapun pengawasannya dilakukan pada bidang pengendalian dan pengawasan. BPMPPTSP memiliki tim teknis yang membantu dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba menurut keputusan Bupati Pandeglang Nomor 504/Kep.161 Tahun 2015 dalam

susunan tim teknis pada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) Kabupaten Pandeglang terdiri dari Dinas PU, yang mengurusi pada bidang pembangunan gedung dan penataan bangunan, Dinas Koperasi, perindustrian dan perdagangan yang mengurusi pada bidang perizinan usaha dan perdagangan, dan Satpol PP Kabupaten Pandeglang.

Di Provinsi Banten khususnya di kabupaten pandeglang usaha bisnis waralaba yang saat ini berkembang pesat waralaba minimarket seperti Indomart dan Alfamart terlihat hampir disetiap perempatan dapat ditemui waralaba berbentuk minimarket seperti indomart dan alfamart. Waralaba Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang No.12 Tahun 2010 tentang pedoman penyelenggaraan waralaba, pusat perbelanjaan dan toko modern waralaba adalah merupakan hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba. Keberadaan waralaba tentu akan membawakan dampak positif dan negative. dampak positivnya tentu dengan keberadaan waralaba berbentuk minimarket seperti Indomart dan Alfamart di daerah akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di daerah dan menciptakan investasi bagi Pemerintah Daerah, tentu itu semua jika dalam pelaksanaannya diatur dan dikelola dengan baik oleh pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Badan Penanaman Modal, dan Pelayanan Perizinan, Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP), selaku instansi atau lembaga yang mempunyai tugas menangani peroses penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang, sekaligus menjadi pelaksana Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba, Pusat Perbelanjaan, dan Toko modern di Kabupaten Pandeglang. Kemudian sesuai peraturan Bupati Pandeglang nomor 32 tahun 2014, tentang tugas, fungsi dan tatakerja badan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu (BPMPPTSP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat 3, bahwa (BPMPPTSP) mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengendalian,pengawasan dan evaluasi terkait kegiatan penanaman modal dan perizinan usaha di Kabupaten Pandeglang.

Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis Pengawasan pelaksanaan penyelenggaraan waralaba berbentuk minimarket Indomart dan Alfamart di Kabupaten Pandeglang oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP). Yang didasarkan pada teori Pengawasan GR.Terry yang terdiri dari tiga variabel yaitu : mengukur hasil pekerjaan, membandingkan hasil pekerjaan dengan setandar dan memastikan perbedaam jika (apabila ada perbedaan), mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan. Dari semua hasil wawancara diketahui bahwa dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba dilaksanakan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) Kabupaten Pandeglang terlihat

belum berjalan dengan optimal itu semua peneliti dapat simpulkan berdasarkan temuan peneliti di lapangan bahwa adanya waralaba yang melanggar ketentuan dalam perda seperti jarak antara waralaba dengan pasar tradisional minimal berjarak 200 meter namun waralaba yang berada di pasar cadasari dan pasar menes tidak sesuai dengan ketentuan dalam perda nomor 12 tahun 2010 tentang pedoman penyelenggaraan waralaba. dan tidak ditemukannya produk lokal yang dipasarkan sebagaimana yang telah diatur dalam perda bahwa waralaba wajib memasarkan produk lokal. Kaitannya dengan pengawasan pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang oleh BPMPPTSP dari variabel mengukur hasil pekerjaan dalam pelaksanaannya BPMPPTSP hanya mengandalkan tim teknis dalam melakukan pengawasan dilapangan dan hanya melakukan pengawasan pada saat proses perizinan ditempuh setelah itu hanya melakukan rapat koordinasi dengan tim teknis saja. Adapun permasalahan dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang yaitu adanya waralaba yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba seperti jarak yang kurang dari 200 meter dari pasar tradisional. hasil pengamatan (observation) peneliti di lapangan yang dapat dilihat dan disimpulkan oleh peneliti atas permasalahan yang terjadi terkait Pengawasan Penyelenggaraan Waralaba (Indomart/Alfamart) oleh BPMPPTSP di Kabupaten Pandeglang, yaitu :

Terdapat waralaba yang melanggar ketentuan dalam perda nomor 12 tahun 2010 yaitu terdapat bangunan waralaba minimarket yang jaraknya kurang dari 200 meter antara bangunan waralaba dengan pasar tradisional yang mana dalam Perda No.12 Tahun 2010 diatur jarak antara bangunan waralaba dengan pasar tradisional minimal harus berjarak 200 meter akan tetapi bangunan waralaba yang ada di majasari, pasar cadasari dan pasar menes jarak nya dengan tradisional kurang dari 200 meter ini tentu tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam perda pasal 4 ayat 1 yang menerangkan bahwa jarak antara waralaba dengan pasar tradisional minimal berjarak 200 meter. Kemudian Kurangnya Pengawasan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) terhadap pelaksanaan penyelenggaraan waralaba pada saat proses perizinan ditempuh hanya mengandalkan informasi dari tim teknis (Dinas PU dan Tata Ruang ) yang kemudian menyebabkan pada saat proses perizinan ditempuh dilapangan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencoba memuluskan perizinan dilapangan dan terjadi pelanggaran yang tidak diketahui oleh BPMPPTSP. Kurangnya koordinasi dan komunikasi yang efektif antara tim pelaksana teknis dan BPMPPTSP dalam memberikan informasi pada saat proses perizinan penyelenggaraan Waralaba di lapangan sehingga terkadang terjadi kesalahan informasi dan miskomunikasi antara tim pelaksana teknis dan BPMPPSTSP Kabupaten Pandeglang. Hal ini diungkapkan oleh bapak “H.Sukron Selaku Kepala BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang, beliau memberikat keterangan bahwa dalam peroses pemberian izin usaha waralaba sangat membutuhkan informasi dari tim pelaksana teknis dalam menginformasikan

apakah izin tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau belum. Kemudianbelum adanya sanksi tegas yang diberikan kepada pengusaha waralaba yang melakukan pelanggaran yang kemudian pada akhirnya banyak pengusaha waralaba yang tidak mempedulikan peraturan yang ada dan kembali melakukan pelanggaran. Seharusnya Pemerintah Daerah dalam hal ini badan penenaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu (BPMPPTSP) seharusnya bersikap tegas kepada para pengusaha waralaba yang terbukti melakukan pelanggaran agar pengusaha waralaba tidak melakukan pelanggaran kembali ini semua agar penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang dapat terkelola dengan baik, tanpa merugikan pihak manapun.

Dari hasil analisa diatas yang bisa peneliti simpulkan bahwa dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang masih terdapat waralaba yang melanggar ketentuan dalam perda no 12 tahun 2010 tentang pedoman penyelenggaraan waralaba, pusat perbelanjaan dan toko modern ini di karnakan masih kurang optimalnya pengawasan yang dilakukan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) Kabupaten Pandeglang sebagai pelaksana tugas pemerintah dalam bidang pelayanan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu satu pintu yang juga menangani proses perizinan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang.

124

5.1Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan temuan-temuan di lapangan maka penyimpulan akhir dari penelitian mengenai Pengawasan Penyelenggaraan Waralaba oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPPTSP) di Kabupaten Pandeglang belum berjalan dengan optimal. Dikarenakan masih terdapat beberapa masalah. Pertama terdapat waralaba Indomart/Alfamart di Kabupaten Pandeglang yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam perda nomor 12 tahun 2010 tentang pedoman penyelenggaraan waralaba, namun tetap dibiarkan beroprasi. Kedua kurangnya komunikasi dan koordinasi yang baik antara tim teknis dan BPMPPTSP dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang sehingga pengawasan yang dilakukan tidak berjalan optimal. Ketiga tidakadanya proses pengawasan/monitoring yang

kontinoe dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang pengawasan/monitoring hanya dilakukan pada saat proses perizinan dilapangan ditempuh. Keempat, belum adanya sanksi tegas yang diberikan pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang terhadap waralaba Indomart/Alfamart yang terbukti melakukan pelanggaran sehingga tidak adanya efek jera bagi pengusaha waralaba yang melakukan pelanggaraan.

5.2Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian diatas maka peneliti memberikan beberapa rekomendasi atau saran yang dapat dijadikan masukan dan pertimbangan agar pengawasan dalam pelaksanaan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang dapat berjalan dengan optimal. Yaitu :

• Meningkatkan Koordinasi dan kerja sama yang baik antara BPMPPTSP dan tim teknis dalam penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang. • Perlu adanya peningkatan wawasan bagi seluruh unsure pelaksana penyelenggaraan waralaba untuk lebih memahami perda nomor 12 tahun 2010 tentang pedoman penyelenggaraan waralaba sehingga mengerti terkait prosedur dalam penyelenggaraan waralaba. agar terjadinya pelanggaran dapat diminimalisir.

• Meningkatkan Pengawasan terhadap proses penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang dan secara professional mengacu pada perda no.12 tahun 2010 tentang pedoman pnyelenggaraan waralaba.

• Hendaknya BPMPPTSP memberikan sanksi tegas terhadap waralaba melanggar ketentuan dalam perda agar dapat menimbulkan efek jera. • Agar Pengawasan penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang

dapat berjalan optimal maka diperlukan sinergisitas antara seluruh unsure pelaksana dalam penyelenggaraan waralaba dan bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat untuk turut serta mengawasi penyelenggaraan waralaba di Kabupaten Pandeglang.

Denzin, Norman K. & Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook Of Qualitative Research. Terjemahan Dariyanto dkk. Yogyakarta ; Pustaka Pelajar. Djam’an Satori, Dan Aan Komariah. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung ; Alfabet.

Dessler, Gary. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta ; Indeks. George R.Terry. 2001. Prinsip - prinsip Manajemen. PT Bumi Aksara.

.1986. Asas - asas Manajemen. Penerjemah Winardi. Bandung ; Alumni.

Harahap, Sofyan. 2001. Sistem Pengawasan Manajemen. Jakarta ; Quantum. Hasibuan, Malayu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia : Pengertian Dasar,

Pengertian, dan Masalah. Jakarta ; PT Toko Gunung Agung.

Husnaini, Usman. 2001. Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta ; Bumi Aksara.

Manullang, M. Dan Manullang Marihot. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Pertama. Cetak Pertama. Yogyakarta ; BPEE.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung ; PT Remaja Rosdakarya Offset.

.2005. Metode Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung ; PT Remaja Rosdakarya.

Mulyadi. 2007. Sistem Akutansi. Jakarta ; Salemba Empat.

Ricky W. Griffin. 2004. Manajemen. Edisi Tujuh. Jilid Pertama. Jakarta ; Erlangga.

Siagian, Sondang. 2003. Filsafat Administrasi. Edisi Revisi. Jakarta ; Bumi Aksara.

Simbolon, Maringan Masri. 2004. Dasar – dasar Administrasi dan Manajemen. Jakarta ; Ghalia Indonesia.

. 2010. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif & RND. Bandung; Alfabet.

Sule, E. Saefullah, K. 2005. Perkenalan Dengan Konsep Manajemen. Jakarta ; Kencana.

Prasetya Irawan, 2006. Penelitian kualitatif dan kuantitatif untuk ilmu-ilmu social. DIA FISIP UI.

T. Hani Handoko. 1984. Edisi Ke-1. Dasar – dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta ; BPEE.

Sumber Peraturan :

Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1997 Tentang Waralaba

Peraturan Mentri Perdagangan Republik Indonesia No.12/M-DAG/PER/3/2006 tentang ketentuan dan tatacara penertiban surat tanda Pendaftaran usaha waralaba

Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu.

Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Sumber Internet:

http://www.Pandeglang.co.id. Diakses tanggal 09 September 2014 Pukul 20.00 WIB.

Sumber Dokumen:

Profil BPMPPTSP Kabupaten Pandeglang. Buku Kamus Bahasa Indonesia.

Buku Perjanjian Waralaba Tahun 2010.

Skripsi Chandra Yudiana Efendi. Pengawasan Berpengaruh Positif Dan Signifikan Terhadap Efisiensi Kerja Pada Perum Pegadaian Kanwil 1 Medan

Fhoto diambil pada saat mewawancarai Kepala BPMPPSTP dan Kepala Bidang Pengendalian dan Pengawasan

Pada bulan Maret 2014 peneliti melakukan proses pengajuan judul untuk skripsi. Peneliti mengajukan judul kepada jurusan dengan mengajukan 3 judul alternatif judul dan untuk mengetahui Dosen Pembimbing skripsi. Pihak

jurusan menyetujui pengajuan judul peneliti yang berjudul “Implementasi

Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Waralaba Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern Di Kabupaten Pandeglang

Kabupaten Serang”. Pada bulan ini peneliti mengajukan izin penelitian kepada

BPPT Kabupaten Pandeglang.