A. SURABAYA
1. Menanti Implementasi Perda Bantuan Hukum
Di antara wilayah lainnya, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur cukup progresif dalam hal penyusunan kebijakan bantuan hukum. Pasca diundangkannya UU No. 16/2011 tentang bantuan hukum, Pemerintah daerah Provinsi Jawa Timur berdasarkan hak inisiatif dari DPRD Jawa Timur telah mengesahkan Perda No. 9/2012 tentang Bantuan Hukum Untuk masyarakat miskin di Jawa Timur. Perda memandatkan Gubernur untuk menerbitkan Pergub yang memuat aturan yang sama dengan kebijakan layanan bantuan hukum di tingkat nasional dalam hal ini berdasarkan ketentuan UU No. 16/2011 tentang Bantuan Hukum beserta aturan pelaksananya. Dengan adanya Perda tersebut maka anggaran bantuan hukum untuk wilayah Jawa Timur memproleh dana tambahan dari APBD untuk setiap tahunnya. Mekanisme penyaluran dana APBD tersebut dilakukan berdasarkan pedoman dari Pergub Provinsi Jawa Timur yang sedang disusun.
Namun Perda Bantuan Hukum di Jawa Timur memiliki sejumlah potensi pengulangan masalah yang telah ada sebelumnya. Sejumlah kebijakan bantuan hukum yang telah ada sebelumnya tidak berjalan efektif, khususnya kebijakan bantuan hukum yang ada di dalam institusi penegak hukum di Jawa Timur. Masalah tersebut adalah sebagai berikut:
bagi masyarakat miskin pasca lahirnya UU Bantuan Hukum yang mengatur jaminan negara terhadap hak atas bantuan hukum masyarakat miskin. Dapatkah advokat mewujudkan tanggungjawab profesinya probono publico bersama UU Bantuan Hukum yang mengusung pemenuhan hak bantuan hukum masyarakat miskin oleh negara (legal
aid).
BAB III
PROGRAM BANTUAN HUKUM DI LIMA WILAYAH:
PENYIMPANGAN OLEH INSTITUSI NEGARA DAN
BEBAN BERAT ORGANISASI BANTUAN HUKUM
A. SURABAYA
1. Menanti Implementasi Perda Bantuan Hukum
Di antara wilayah lainnya, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur cukup progresif dalam hal penyusunan kebijakan bantuan hukum. Pasca diundangkannya UU No. 16/2011 tentang bantuan hukum, Pemerintah daerah Provinsi Jawa Timur berdasarkan hak inisiatif dari DPRD Jawa Timur telah mengesahkan Perda No. 9/2012 tentang Bantuan Hukum Untuk masyarakat miskin di Jawa Timur. Perda memandatkan Gubernur untuk menerbitkan Pergub yang memuat aturan yang sama dengan kebijakan layanan bantuan hukum di tingkat nasional dalam hal ini berdasarkan ketentuan UU No. 16/2011 tentang Bantuan Hukum beserta aturan pelaksananya. Dengan adanya Perda tersebut maka anggaran bantuan hukum untuk wilayah Jawa Timur memproleh dana tambahan dari APBD untuk setiap tahunnya. Mekanisme penyaluran dana APBD tersebut dilakukan berdasarkan pedoman dari Pergub Provinsi Jawa Timur yang sedang disusun.
Namun Perda Bantuan Hukum di Jawa Timur memiliki sejumlah potensi pengulangan masalah yang telah ada sebelumnya. Sejumlah kebijakan bantuan hukum yang telah ada sebelumnya tidak berjalan efektif, khususnya kebijakan bantuan hukum yang ada di dalam institusi penegak hukum di Jawa Timur. Masalah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Minimnya sosialisasi mengenai informasi layanan bantuan hukum yang tersedia di Institusi Pemerintah Daerah dan Institusi Penegak Hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan).
b. Dana bantuan hukum yang telah ada sebelumnya tidak dikelola secara optimal dengan menyerahkan pengelolaan dana pada lembaga dan organisasi yang tidak kompeten.
c. Kurangnya pemahaman Aparat Pemerintah Daerah dan Penegak Hukum mengenai bantuan hukum sehingga masyarakat miskin tidak menjadi sasaran utama pemberian layanan.
d. Birokrasi dan administrasi di dalam institusi pemerintah daerah dan penegak hukum yang tidak transparan, tidak efisien dan tidak akuntabel sehingga masyarakat tidak dapat mengakses layanan bantuan hukum.
e. Adanya penyimpangan dalam penggunaan anggaran bantuan hukum baik secara individu maupun kelembagaan Pemerintah Daerah dan Institusi Penegak Hukum.
Dalam penelitian di wilayah Surabaya, terungkap adanya sebagian besar anggaran bantuan hukum dalam APBN diserahkan kepada Institusi Penegak Hukum dengan pengelolaan yang mengacu pada aturan internal di masing-masing institusi sebagaimana diuraikan di bawah ini.
a. Polda Jawa Timur dan Polrestabes Surabaya menerima dana bantuan hukum dari APBN sebesar Rp 2 juta/kasus sampai Rp 5 juta/ kasus. Anggaran tersebut diberikan berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia dan Undang-undang No. 8/1981 tentang Hukum Acara Pidana, khususnya Pasal 54-57 KUHAP.26 Namun dana ini tidak digunakan untuk tersangka/terdakwa yang miskin melainkan hanya kepada anggota Polri.
b. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dan Kejaksaan Negeri Surabaya memiliki dana sebesar Rp 2,5 juta/bulan untuk pos pelayanan hukum. Dana tersebut bersumber dari dana internal Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri berdasarkan Peraturan Internal
26
Pasal ini mengatur kewajiban pemberian bantuan hukum terhadap tersangka yang diancam dengan pidana di atas 5 tahun atau pidana seumur hidup dan ancaman hukuman mati.
Institusi yaitu Peraturan Jaksa Agung No. 40/A/J.A/12/2010 tentang SOP tugas dan fungsi wewenang Perdata dan TUN. Dana tersebut digunakan untuk membentuk pos pelayanan hukum Kejaksaan yang memiliki fungsi hanya terbatas pada pemberian konsultasi, pembuatan opini hukum (Legal Opinion) dan sosialisasi peraturan hukum termasuk penyelenggaraan seminar-seminar hukum.
c. Pengadilan Tinggi Surabaya dan Pengadilan Negeri Surabaya sebelumnya memiliki anggaran bantuan hukum sebesar Rp. 1,1 juta/perkara pidana dan Rp. 1,5/perkara Perdata. Total anggaran yang dialokasikan dan terserap untuk layanan bantuan hukum adalah untuk perkara Pidana sebesar Rp. 362 juta untuk perkara Perdata Rp. 245 juta. Sebagian besar anggaran digunakan untuk membiayai Pendampingan mencapai Rp. 600 juta sisanya untuk operasional kantor Posbakum sebesar Rp. 60,5 juta. Pengelolaan Posbakum dilakukan dengan bekerjasama dengan organisasi advokat dalam hal ini PERADI dan IKADIN serta perguruan tinggi. Sasaran pemberian layanan bantuan hukum adalah masyarakat miskin, yang secara otomatis juga berperkara secara cuma-cuma (pro deo). Penerimaan dan pengelolaan anggaran dilakukan berdasarkan SEMA RI No. 10/2010 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum, SK Dirjen Badilum No. 1/Dju/OT.01.3/VIII/2011 dan SK Dirjen Badilum No. 1/Dju/OT.01.03/I/2012 tentang Petunjuk Pemberian Bantuan Hukum dan UU No. 16/2011 tentang Bantuan Hukum. Sejak diundangkannya UU No. 16/2011 tentang Bantuan Hukum, penerimaan dan pengelolaan dana beralih ke kantor wilayah Kemunkumham.
d. Pengadilan Agama Surabaya memperoleh dana sebesar Rp. 173 juta/tahun dari APBN untuk bantuan hukum. Anggaran tersebut dibagi menjadi Rp. 14 juta/bulan untuk program layanan bantuan hukum. Pelaksanaan program dilakukan dengan cara bekerjasama organisasi Advokat (PERADI Surabaya) dan serta Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas (LKBHI IAIN) maupun OBH lainnya yang memiliki MoU dengan Pengadilan Agama Surabaya.
a. Minimnya sosialisasi mengenai informasi layanan bantuan hukum yang tersedia di Institusi Pemerintah Daerah dan Institusi Penegak Hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan).
b. Dana bantuan hukum yang telah ada sebelumnya tidak dikelola secara optimal dengan menyerahkan pengelolaan dana pada lembaga dan organisasi yang tidak kompeten.
c. Kurangnya pemahaman Aparat Pemerintah Daerah dan Penegak Hukum mengenai bantuan hukum sehingga masyarakat miskin tidak menjadi sasaran utama pemberian layanan.
d. Birokrasi dan administrasi di dalam institusi pemerintah daerah dan penegak hukum yang tidak transparan, tidak efisien dan tidak akuntabel sehingga masyarakat tidak dapat mengakses layanan bantuan hukum.
e. Adanya penyimpangan dalam penggunaan anggaran bantuan hukum baik secara individu maupun kelembagaan Pemerintah Daerah dan Institusi Penegak Hukum.
Dalam penelitian di wilayah Surabaya, terungkap adanya sebagian besar anggaran bantuan hukum dalam APBN diserahkan kepada Institusi Penegak Hukum dengan pengelolaan yang mengacu pada aturan internal di masing-masing institusi sebagaimana diuraikan di bawah ini.
a. Polda Jawa Timur dan Polrestabes Surabaya menerima dana bantuan hukum dari APBN sebesar Rp 2 juta/kasus sampai Rp 5 juta/ kasus. Anggaran tersebut diberikan berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia dan Undang-undang No. 8/1981 tentang Hukum Acara Pidana, khususnya Pasal 54-57 KUHAP.26 Namun dana ini tidak digunakan untuk tersangka/terdakwa yang miskin melainkan hanya kepada anggota Polri.
b. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dan Kejaksaan Negeri Surabaya memiliki dana sebesar Rp 2,5 juta/bulan untuk pos pelayanan hukum. Dana tersebut bersumber dari dana internal Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri berdasarkan Peraturan Internal
26
Pasal ini mengatur kewajiban pemberian bantuan hukum terhadap tersangka yang diancam dengan pidana di atas 5 tahun atau pidana seumur hidup dan ancaman hukuman mati.
Institusi yaitu Peraturan Jaksa Agung No. 40/A/J.A/12/2010 tentang SOP tugas dan fungsi wewenang Perdata dan TUN. Dana tersebut digunakan untuk membentuk pos pelayanan hukum Kejaksaan yang memiliki fungsi hanya terbatas pada pemberian konsultasi, pembuatan opini hukum (Legal Opinion) dan sosialisasi peraturan hukum termasuk penyelenggaraan seminar-seminar hukum.
c. Pengadilan Tinggi Surabaya dan Pengadilan Negeri Surabaya sebelumnya memiliki anggaran bantuan hukum sebesar Rp. 1,1 juta/perkara pidana dan Rp. 1,5/perkara Perdata. Total anggaran yang dialokasikan dan terserap untuk layanan bantuan hukum adalah untuk perkara Pidana sebesar Rp. 362 juta untuk perkara Perdata Rp. 245 juta. Sebagian besar anggaran digunakan untuk membiayai Pendampingan mencapai Rp. 600 juta sisanya untuk operasional kantor Posbakum sebesar Rp. 60,5 juta. Pengelolaan Posbakum dilakukan dengan bekerjasama dengan organisasi advokat dalam hal ini PERADI dan IKADIN serta perguruan tinggi. Sasaran pemberian layanan bantuan hukum adalah masyarakat miskin, yang secara otomatis juga berperkara secara cuma-cuma (pro deo). Penerimaan dan pengelolaan anggaran dilakukan berdasarkan SEMA RI No. 10/2010 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum, SK Dirjen Badilum No. 1/Dju/OT.01.3/VIII/2011 dan SK Dirjen Badilum No. 1/Dju/OT.01.03/I/2012 tentang Petunjuk Pemberian Bantuan Hukum dan UU No. 16/2011 tentang Bantuan Hukum. Sejak diundangkannya UU No. 16/2011 tentang Bantuan Hukum, penerimaan dan pengelolaan dana beralih ke kantor wilayah Kemunkumham.
d. Pengadilan Agama Surabaya memperoleh dana sebesar Rp. 173 juta/tahun dari APBN untuk bantuan hukum. Anggaran tersebut dibagi menjadi Rp. 14 juta/bulan untuk program layanan bantuan hukum. Pelaksanaan program dilakukan dengan cara bekerjasama organisasi Advokat (PERADI Surabaya) dan serta Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas (LKBHI IAIN) maupun OBH lainnya yang memiliki MoU dengan Pengadilan Agama Surabaya.
Sedangkan sistem penyaluran anggaran dilakukan dengan sistem reimbursement untuk setiap kasus. Ketentuan yang dijadikan pedoman dalam pelaksaan program adalah UU No. 48/2009 tentang kekuasaan kehakiman (Pasal 56 dan 57) dan UU No. 50/2009 tentang Peradilan Agama (Pasal 60 B dan C), Peraturan Internal Institusi yaitu Keputusan MA No. 20/2011, SK Ketua Muda No. 4/2011, dan SEMA No. 10/2010 yang dianggap memberikan petunjuk teknis tentang pedoman bantuan hukum di Pengadilan Agama.
Dengan kata lain, sebenarnya anggaran bantuan hukum sebelum adanya UU No. 16 Tahun 2011 telah ada di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Bahkan anggaran tersebut menyebar di beberapa institusi penegak hukum di setiap tahapan peradilan. Namun karena problem di kelembagaan institusi, anggaran tersebut tidak mencapai sasaran utama bantuan hukum yaitu masyarakat miskin. Sehingga harus diperhitungkan bahwa layanan bantuan hukum ke depan sebaiknya tidak lagi dipercayakan kepada institusi penegak hukum.
2. Mekanisme Layanan Bantuan Hukum di Institusi Penegak