• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terkadang sangat sulit dimengerti mengapa kok sampai ada orang berjenis pengeluh, pemarah, atau mati rasa; itu ada dan bebas berkeliaran. Sebenarnya tidak perlu heran oleh sikap mereka, sebab emosi yang mereka tampilkan sebenarnya adalah tampilan dari apa yang dipikirkannya. Berhati-hatilah terhadap bau busuk yang menular dari pikiran negatif mereka. Percayalah pada nasehat baik yang mengatakan bahwa berkumpul dengan orang baik, maka diri kita akan tertular baik, berkumpullah dengan penjual parfum bila ingin kita tertular bau wanginya.

Orang-orang berbau negatif ini selalu meluapkan emosi mereka tanpa perhatikan tempat dan waktu. Semakin kita memberikan perhatian kepada mereka, maka bau negatif itu justru akan semakin muncul. Bagi mereka yang merasa tersingkir, mereka akan luapkan emosi dengan berkata, "Ini tidak adil, pasti dia telah mencurangi aku." Atau pada mereka yang kecewa dan menjadi frustasi akan mengeluh, "Aku gagal lagi dan lagi-lagi gagal. Hidup ini memang tidak adil."

Sering kali hanya karena satu orang saja yang berkomentar miring tentang penampilan diri mereka, sembari emosional mereka berkata, "Semua orang di sini tidak paham masalah model, sih. Ini yang terbaru lagi. Dasar tidak tahu perkembangan model yang lagi happening... "

Pemikiran akan membawa kita kepada sudut pandang tertentu, dan luapan emosi yang terjadi bisa muncul tanpa

disadari karena pemikiran tadi membawa kita kepada kondisi yang menekan kita kepada emosi yang membuat kesal. Hal-hal kecil yang remeh diteropong menjadi sebesar dunia, dan pikiran kita menjadi dipenuhi emosi negatif. Sebenarnya semua keadaan itu dapat kita ubah hanya dengan mengganti sudut pandang menjadi kondisi positif. Kita bisa memperbaikinya bila kita mau, kita dapat menjadi lebih baik bila kita menginginkannya.

Banyak alasan mengapa kita perlu berlatih untuk tetap menjadi pribadi yang berpikiran positif, sebab dinamika hidup ini sering menggiring kita dalam keadaan yang menekan kita ke dalam sudut pandang negatif. Keadaan-keadaan seperti itu sering kali datang secara tiba-tiba, contohnya adalah: tiba-tiba ada anak buah yang secara tidak sengaja menyinggung perasaan kita pada rapat bulanan, atau atasan kita dengan kasar menyalahkan keputusan yang kita ambil, ada juga terkadang penolakan yang membuat sakit hati, atau keadaan depresi karena masalah keluarga, atau mungkin masalah keuangan. Semua itu adalah keadaan-keadaan yang tidak kita harapkan, tetapi bisa saja keadaan-keadaan itu datang pada saat kita sedang dalam keadaan yang tidak prima, mungkin karena kelelahan, kurang tidur, salah makan dan lain-lain.

Sering kita menemukan apa yang kita pikirkan sesungguhnya tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta yang

sebenarnya. Pemikiran yang melibatkan emosi mudah sekali terpengaruh kejernihannya oleh suasana hati dan keadaan sekeliling kita. Padahal manusia diberikan berkah kecerdasan untuk memilih respon, namun seringkali mereka memilih hal yang mudah yang dianggapnya pilihan tanpa resiko, yaitu menghindari tanggung jawab.

Bagi pribadi yang hidup dalam kesadaran baik akan memilih respon yang bertanggung jawab dengan mengambil peran sebagai pemimpin atas pikirannya. Stimulus dan rangsangan yang memprovokasi untuk memilih disingkapi dengan kesadaran akan nilai-nilai kebaikan, sehingga respon yang keluar adalah sikap yang anggun, santun, menghormat, dan kasih sayang.

Untuk memunculkan kesadaran berpikir positif kita perlu melatihnya, sehingga respon-respon yang akan muncul akan menampilkan sikap yang mengundang berkah kebaikan, datangnya kasih sayang, dukungan dari orang-orang yang kita temui, dan bahkan Tuhan pun akan mungkin mengambil peran bagi kebaikan yang sedang kita upayakan. Kesadaran berpikir positif yang terus dilatih dan menjadi tindakan, kemudian kita ulangi dan terus kita lakukan akan menjadikan kebiasaan baik. Kebiasaan baik yang kita sadari akan memimpin pikiran bawah sadar kita ke spontanitas yang baik.

Ketika perasaan kita menjadi marah, tersinggung atau sedih, ambillah selembar kertas dan pena, kemudian tulislah

keadaan itu. Tuangkan seluruh perasaan yang ada di atas lembaran kertas itu, tidak perlu ditutup-tutupi, lepaskanlah ... Jujur apa adanya. Setelah semuanya tertuang berdiamlah untuk beberapa menit, perlahan-lahan berkomunikasilah ke dalam diri sendiri, dengan bertanya:

”Apa yang menyebabkan aku memilih emosi ini?” ”Apa untungnya dengan emosi seperti itu bagi diriku?

“Apakah kondisi emosi ini bersifat sementara? Sampai kapan? Seminggu? Sebulan? Setahun?”

“Apakah emosi ini menjadi penting bagi penentu keberhasilanku?”

”Apakah emosi ini akan mempengaruhi sikapku dan menjadikan keberhasilanku semakin dekat?”

”Apakah keadaan ini akan mendukungku menjadi besar?”

”Apa ruginya bila keadaan emosi ini aku ubah menjadi pemikiran positif?”

”Apa yang bisa aku lakukan agar kujadi berpikir positif?”

”Apa yang bisa membuatku bertindak lebih baik dari keadaan yang tidak menguntungkan saat ini?”

Pribadi yang saat ini mencapai keberhasilan adalah orang-orang yang melatih kesadarannya, sehingga kesadaran yang ada dan pikiran bawah sadarnya menjadi selaras, menjadi terkendali dengan baik, sebab belajar dari kesalahan ialah cara yang bijaksana.

Berbicaralah dengan hati kita tentang respon positif yang akan kita ambil. Kondisi emosi negatif yang begitu kuat menjadikan proses ini sedikit tidak mudah, tetapi itu mungkin. Pilihan respon positif itu adalah pilihan baik. Bila demikian maka tugas kita selanjutnya adalah bertindak dengan melakukan yang mungkin bisa kita lakukan.

Sebagai contoh adalah perasaan menjadi korban yang selalu dipersalahkan: ”Selalu saja apa pun yang kulakukan dianggap salah.”

Tulislah emosi itu di atas kertas:

”Selalu saja apa pun yang aku lakukan dianggap salah.”

Kemudian pikirkanlah baik-baik, respon positif apa untuk mengganti kalimat tersebut?

Bila kita mengalami kesulitan dalam menuliskan respon berpikir positif, kita dapat berdiskusi dengan sahabat kita atau bertanya kepada orang yang kita anggap dapat dipercaya.

Dari contoh di atas, kita dapat menuliskan kalimat positif berikut untuk mensugesti pikiran kita agar memberikan respon positif.

"Aku perlu mencari tahu semua informasi yang terkait dengan tugas ini. Kemudian mempelajari informasi itu dengan baik. Aku perlu perhatikan lebih teliti dengan memeriksa seluruh perhitungan yang ada, sehingga menjadi 100% benar. Aku akan pelajari pelaporan ini sehingga aku mampu

memaparkannya dengan benar. Aku akan menyerahkan tugas ini tiga hari lagi."

Inilah bentuk respon positif pikiran kita. Koreksi ke dalam dan melakukan tindakan keluar. Berlatihlah dengan mengulangi kalimat di atas sampai pikiran kita menyetujuinya. Bila sugesti ini dapat diterima oleh pikiran kita, maka sikap yang muncul adalah sikap berani mengambil tanggung jawab. Berlatihlah sebelum keadaan yang buruk itu memaksa kita memilih bertindak atas dasar pikiran negatif.

Memilih menjadi tegas memang tidak mudah, tetapi dengan ketegasan memilih berpikir positif akan memancarkan sikap lebih bersahabat, santun, dan penuh hormat. Semua kebaikan ini sudah pasti akan kembali kepada diri kita. Tebarkanlah bau harum pikiran kita dengan tampil baik di setiap saatnya. Tidak mudah tetapi mungkin.

Percayalah bahwa Tuhan selalu ingin menghadirkan kebahagiaan bagi kita yang berpikir positif. Tugas kita adalah memilih tindakan baik yang akan menjadikan sikap kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab, dengan mengambil peran dan menjemput keberhasilan. Menjadi selalu sadar berada dalam lingkaran kebaikan, sebab di sanalah Tuhan akan menyertai kita dengan pertolongan dan penghiburan.

Kalimat Pendorong Semangat

Mencapai Keberhasilan :

39. Membuat perencanaan adalah membawa masa depan ke dalam masa kini, sehingga Anda bisa melakukan sesuatu mulai saat ini.

(Alan Lakein; Penulis 'Personal Time Management' yang terjual 3 juta buku)

40. Seorang sahabat adalah orang yang berada di sisi Anda di saat Anda berada di posisi yang bersalah. Hampir semua orang akan berada pada sisi Anda bila Anda di posisi yang benar.

(Mark Twain; Penulis dan Novelis terkenal)

41. Jadilah pribadi yang berhasil karena tiga hal, yaitu memberikan hasil, memberikan nilai tambah, dan mendatangkan manfaat di tiap kehadiran kita bagi orang lain.

(Wawang Sukmoro; Penulis buku 'Turning Loss Into Profit')

9