Sabtu, 20 Desember 2008. Empat papan pada masing warna; Biru, Hijau, Kuning, dan Merah pada Tugas 'Menyeberangi Rawa Beracun'. Saya pelan-pelan memberikan instruksi sebagai fasilitator sekaligus merangkap sebagai instruktur pelatihan Team Building.
"Garis ini adalah pembatas sebagai awal kalian melangkah, dan yang di depan adalah garis batas akhir penyeberangan."
"Tugas setiap kelompok adalah memindahkan seluruh anggotanya dari sini ke sana dengan mengunakan keempat papan yang telah disediakan."
“Pemindahan dilakukan dengan cara bersama-sama, tanpa ada satu orang pun anggota yang ditinggal. Bila Anda meninggalkan tim Anda itu berarti Anda membiarkan ia dimangsa penghuni rawa."
"Perhatikan baik-baik, antara garis ini dan garis itu adalah sebuah rawa asam yang sangat beracun, maka bila ada kaki yang terpeleset dan menyentuh aspal jalan ini, itu berarti kaki Anda terluka dan teracuni rawa asam, ini akan membuat kaki Anda terluka dan itu berakibat seluruh orang yang ada di atas papan meninggal, dan gagal-lah misi Anda dan tim Anda menyeberangi Rawa Beracun ini."
"Agar tetap hidup dan dapat melanjutkan misi perjalanan, bila ada salah satu anggota yang terpeleset atau menyentuh aspal jalan maka dengan segeralah kembali ke tempat asal, dan memulainya lagi. Maka berhati-hatilah, dan seberangkan seluruh anggota kelompok dengan tanpa menyentuh aspal jalan."
Begitu aturan main dari tugas 'Menyeberangi Rawa Beracun' saya sampaikan. Setelah semua kelompok
menyatakan memahami aturan dan tidak ada pertanyaan lagi, saya meniupkan peluit tanda mulainya tugas penyeberangan.
Beberapa dari mereka tidak benar-benar serius memperhatikan instruksi dan aturan tugas 'Menyeberangi Rawa Bercun' yang saya sampaikan. Mereka menganggapnya sebagai sekedar permainan, tanpa menganggapnya sebagai tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok kerja mereka. Aturan adalah aturan, merupakan komitmen kepada kepatuhan. Aturan main dibuat untuk dipatuhi. Perintah harus dijalankan, dan setiap pelanggaran akan menerima tindakan hukuman. Pelanggaran yang tidak disertai tindakan hukuman bagi pelanggarnya adalah bukan pelanggaran, dan itu bukan peraturan.
Ini terjadi pada Kelompok Papan Merah, ada dua orang anggota kelompok masih menganggap ini sebagai permainan biasa, dan menjadikannya sebagai permainan anak kecil. Dan saya terpaksa harus meniup peluit itu keras-keras, ”prit-prit.” Itu berarti seluruh kelompok harus kembali ke titik awal, padahal mereka hampir mencapai setengah perjalanan.
Dua orang dari Kelompok Merah masih belum sadar bahwa tugas ini bukanlah sekedar permainan, mereka masih menganggapnya sebagai permainan biasa, padahal ini adalah tugas kelompok. Sementara delapan orang anggota lainnya sudah berupaya sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas ini. Kedelepan anggota itu telah memahami resiko yang harus ditebusnya bila mereka gagal. Dan kali ini mereka gagal lagi, yang ketiga kalinya, hanya karena ulah dua orang yang sama, yang masih juga belum sadar aturan main tugas 'Menyeberangi Rawa Beracun'. Dan mereka pun harus kembali ke titik awal, mereka harus mengulang.
"Sialan, loe... Di. Dan kamu juga, No. Kalian tidak kasian melihat si Jajang yang udah cape-cape gendong kalian. Tidak melihat apa ya? Please...!!! Lebih baik kalian keluar dan pulang! Kalian pikir ini mainan. Di sini kita belajar untuk membuat tim kerja kita lebih kompak. Guyon melulu!!!" bentak Nasri.
Adi dan Nono akhirnya hanya bisa menunduk malu, sikap kurang bersungguh-sungguhnya menyebabkan kelompoknya harus bolak-balik tiga kali. Tidak ada pilihan lain buat mereka kali ini, setelah Nasri membentaknya. Mengikuti aturan main dengan lebih serius atau besok pagi mereka menjadi mahluk asing di kantornya.
Sementara itu dua kelompok yaitu Kuning dan Biru telah menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Bagi mereka mengejek Kelompok Merah dan Hijau yang masih tertatih-tatih menyelesaikan tugas adalah suatu kepuasan. Perasaan ringan, lega, puas setelah bisa menyelesaikan tugas dan melewati tantangan.
Maka perintah untuk memimpin di depan adalah benar. Sebab bagi yang telah menyelesaikan tugasnya lebih awal akan menerima hadiah keringanan untuk menjalankan tugas berikutnya. Kelompok kerja menjadi bangga akan hasil kinerja tim, lebih bersemangat, dan membuat ikatan antar anggota kelompok jadi lebih kompak.
Dan bagi kelompok yang tertinggal, pastilah suatu beban berat, bukan cuma karena diteriaki, diolok-olok atau dilecehkan, tetapi potensi kegagalan menjadi lebih besar karena faktor tekanan tersebut.
Maka bila ingin ringan dalam menjalani kehidupan ini, cepatlah bertindak. Bersungguh-sungguhlah dengan segera
menyelesaikan tugas yang telah dilimpahkan kepada dirinya. Sehingga setelah itu kita bisa mengambil nafas sejenak untuk mempersiapkan keberhasilan berikutnya.
Sebenarnya untuk mencapai keberhasilan tidaklah sulit, tetapi juga tidak terlalu sederhana. Dengan mendengar perintah yang diberikan, mematuhi seluruh aturan main, dan bersungguh-sungguh mengerjakan tugas tersebut pastilah akan meraih hasil yang optimal. Bertanyalah bila kurang jelas, simpan kata-kata yang tidak diperlukan, bertindak dengan segera, dan yang lebih penting lagi adalah faktor kecepatan dalam menyelesaikan tugas sebelum batas waktu yang ditentukan. Sehingga bila masih ada waktu, kita boleh mempergunakannya untuk memeriksa dengan lebih seksama hasil yang telah kita selesaikan, mempelajari, dan menjadi ada waktu untuk belajar dari kesalahan maupun kekuatan dari tindakan yang telah kita ambil. Itulah kunci keberhasilan dalam menyelesaikan tugas, yang akan menjadikan kita memiliki bekal untuk membuka pintu keberhasilan berikutnya.
Patuhi dan jalankan sepenuh hati, pergunakan mental kreatif dalam menciptakan cara baru. Berpikirlah positif dan cari sudut pandang baru, sehingga menjadi lebih jernih dan waspada. Bangunlah dari kemenangan kecil setiap saatnya, sebab kemenangan kecil yang cepat atau disebut juga dengan istilah 'Quick Win' dapat mempengaruhi motivasi untuk melentingkan pencapaian tugas berikut ke posisi kinerja yang lebih baik.
Kemenangan besar adalah jumlah yang banyak dari kemenangan kecil. Keberhasilan besar adalah kumpulan dari sukses kecil yang dicapai setiap hari, dan dari kemenangan
kecil atas masalah yang dihadapi setiap waktunya. Jumlah kemenangan dari tugas-tugas kecil yang akan memenuhi pencapaian tugas utama yang besar itu. Bersungguh-sungguhlah, sebab kita berhak menggunakan seluruh potensi yang kita miliki.
Jadilah pribadi yang bertumbuh dewasa dan membesar, bukan hanya yang menua oleh perjalanan waktu. Semua itu adalah pilihan, menjadi berhasil atau gagal adalah dimulai dari saat kita berniat, saat kita bertindak hingga saat kita mempelajari kegagalan dan keberhasilan yang kita raih. Menjadi berhasil adalah sepenuhnya pilihan dan hak pribadi, bukan dipilihkan oleh orang lain, menjadi pribadi pemenang bukan pencundang, victor bukan victim, menjadi pemegang kendali bukan sebagai korban.
Kalimat Pendorong Semangat
Mencapai Keberhasilan :
73. Menjadi nasib Anda atau seseorang akan memilihkan nasib untuk Anda.
(Jack Welch; Mantan CEO General Electric yang terkenal sukses dalam memimpin bisnis di General Electric)
74. Suatu bahan terpenting dari formula sukses adalah mengetahui bagaimana untuk bekerja sama dengan orang lain.
(Theodore Roosevelt; Presiden Amerika Serikat ke 26)
75. Jadilah pemain catur bukan pionnya.
(Ralph Charell; Penulis Strategi terkenal)
76. Melakukan kesalahan dalam hidup bukan saja lebih terhormat, tetapi lebih bermanfaat daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.
(George Bernard Shaw; Penulis dan Pemenang Nobel bidang Sastra)
77. Ada 3 kunci yang dapat membuat diri Anda merasa bahagia dalam perjalanan mencapai keberhasilan, yaitu pada 'pekerjaan' saat ini, pada orang-orang baik yang turut serta 'menemani
perjalanan' ini, dan pada 'harapan' baik yang sedang kita kerjakan.
(Wawang Sukmoro, Penulis buku 'Turning Loss Into Profit')