• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendirikan negara Islam dan menerapkan Hukum Syariah di Utara

KONFLIK MALI (2006-2009)

MOTIF KETERLIBATAN AQIM DALAM KONFLIK MALI

A. Mendirikan negara Islam dan menerapkan Hukum Syariah di Utara

Mali

Apabila daerah Utara Mali berhasil dikuasai oleh AQIM dan koalisinya, mereka dapat memenuhi tujuan utama mereka, yakni mendirikan negara Islam dan menerapkan hukum syariah di wilayah tersebut. Ini terbukti benar dengan fakta bahwa saat Utara Mali telah jatuh ke tangan mereka, mereka segera menerapkan hukum syariah yang murni dan keras seperti pelarangan musik dan televisi, menutup bar dan klub malam, memaksa perempuan disana mengenakan jilbab, pelarangan interaksi antara pria dan wanita yang belum menikah dalam suatu kelompok, pelarangan membaca buku-buku yang bertentangan dengan Islam. Di samping itu, terdapat pelarangan terhadap olahraga sepak bola dan menghukum penduduk yang melahirkan anak di luar nikah139serta menetapkan sistem peradilan yang baru (hukum potong tangan bagi seseorang yang tertangkap sedang mencuri, hukuman rajam bagi perzinahan pasangan yang belum menikah

139

61

dan amputasi anggota tubuh. Mereka juga telah menyiapkan pengadilan untuk memutuskan pertengkaran ekonomi seperti penggunaan lahan atau warisan140). Selain itu, mereka juga menghancurkan tempat-tempat bersejarah dan agama di Timbuktu yang telah menjadi bagian dari situs UNESCO World Heritage. Salah satu dari yang mereka hancurkan adalah makam ulama Sufi dari abad ke-15 yakni Sidi Mahmoudou141. Mereka juga mengancam akan menghancurkan 13 situs UNESCO World Heritage lain yang masih tersisa di Timbuktu. Mereka menganggap bahwa situs kuno tersebut adalah berhala versi Sufi lokal sehingga pantas untuk dihancurkan142.

Penemuan dokumen AQIM di Timbuktu telah memperjelas maksud dari rencana AQIM. Dokumen penting tentang hasil pertemuan para pemimpin AQIM yang ditemukan oleh jurnalis Daily Telegraph telah memberikan pencerahan tentang rencana AQIM melibatkan diri dalam ke dalam konflik. Dokumen itu

menunjukkan bahwa Abdelmalek “sang pemimpin tertinggi” AQIM

melaksanakan pertemuan dengan para komandan senior AQIM dengan tujuan untuk memastikan bahwa pergerakan mereka akan menghasilkan keuntungan yang besar dari perebutan wilayah Utara Mali.

140Anne Look,”Mali‟s Muslim Leaders Negotiate with Northern Islamist”,

http://www.voanews.com/content/malis-muslim-leaders-negotiate-with-islamists-in-the-north/1497043.html ,diakses pada 21 Desember 2012

141

Matt Balke, “The Desecration of Timbuktu : Fleeing Islamists destroy priceless treasures before French forces closed in,” Mail Online, 28 Januari 2013 [artikel on-line]; tersedia di http://www.dailymail.co.uk/news/article-2269521/Timbuktu-treasures-destroyed-Islamists-French-in.html ;internet; diakses pada 30 November 2014

142 “Ansar Dine fighters destroy Timbuktu shrines,” Al Jazeera, 1 Juli 2012 [artikel on-line]; tersedia di http://www.aljazeera.com/news/africa/2012/06/2012630101748795606.html ;internet; diakses pada 30 November 2014

62

Abdelmalek menguraikan usulan dan visi untuk masa depan terhadap wilayah Utara Mali143. Ia memberikan instruksi kepada kelompok-kelompok Islam koalisinya untuk menciptakan negara Islam yang nyata di Mali. Negara ini nantinya akan terdiri dari semua elemen selayaknya suatu negara dan akan dipimpin oleh pemimpin dari suku setempat144.

Kerangka awal dari sebuah kepentingan adalah ide dan identitas. Kepentingan untuk mendirikan negara Islam dan menerapkan hukum syariah bagi AQIM adalah ide utama yang menjadi tujuan bagi mereka. Bagi skripsi ini, ide sangat berkaitan erat dengan tujuan utama yang dianut oleh AQIM. Tujuan utama dan ideologi AQIM sendiri pastinya juga terpengaruh dengan tujuan utama dan ideologi Al-Qaeda.

Pada dasarnya, tujuan Al-Qaeda menurut perspektif Barat adalah mengembalikan khilafah dan menginginkan praktek Islam yang murni145. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan menggulingkan rezim sekuler, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Untuk dapat menggulingkan rezim sekuler tersebut,

pemerintahan “murtad” yang dianggap terlibat dengan sekularisme Barat harus

diambil alih terlebih dahulu. Intinya adalah mengalahkan near enemy yaitu masyarakat Muslim yang tidak menerapkan praktek Islam murni, the far enemy

yakni Amerika Serikat dan Eropa dapat menunggu hingga hukum syariah telah diterapkan146.

143David Blair, “ Telegraph finds Al-Qaeda plan in Timbuktu”, Loc. Cit.

144Laurent de Castelli, “Al-Quaeda and state sanctuary in the Islamic Maghreb”, Loc. Cit.

145Katherine Zimmerman, “Al-Qaeda and Its Affiliates in 2013”, Loc. Cit.

146 Giuseppe Grilo, “ The Next Battle of Algiers: An Analysis of Al-Qaeda in the Islamic Maghreb- Its Radical Root, Present Threat & The Franchising of Global Terrorism” (Tesis,

63

Tujuan utama dari Al-Qaeda ini terinspirasi dari pemikiran Sayyid Qutb. Sayyid Qutb sendiri adalah seorang sarjana fundamentalis Mesir yang telah menghasilkan lebih dari dua puluh buah karya sepanjang hayatnya. Beliau juga bergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hassan

Al-Banna. Qutb menulis salah satu buku yang berjudul Ma‟alim fi al-Tariq (Milestones) yang menjadi panduan klasik para teroris fundamentalisme Islam.

Ma‟alim fi al-Tariq diterbitkan pada tahun 1964. Empat bab yang terdapat

dalam Ma‟alim fi al-Tariq diambil dari karya Sayyid Qutb sebelumnya yakni “In the Shade of the Qur‟an” dan sisanya adalah surat yang dikirim Qutb dari penjara. Ma‟alim fi al-Tariq ditulis untuk para aktivis Islam yang selalu berada di garis terdepan dalam memperjuangkan idealismenya.

Qutb meyakini bahwa tujuan utama dari jihad adalah mendirikan sebuah masyarakat Islam. Menurut Qutb, tujuan tersebut digunakan untuk mengembalikan masyarakat agar menyembah Tuhan yang berdaulat dan mengikuti petunjuk-Nya secara utuh147. Masyarakat Islam yang ideal baginya adalah semua muslim di dunia bersatu dan mematuhi hukum secara tekstual dari Al-Qur‟an dan Sunnah. Hukum syariah148

adalah cara hidup yang telah ditentukan

Graduate School-Newark Rutgers, The State University of New Jersey, New Jersey, Oktober 2009), 39

147Sayyid Qutb, “Ma‟alim fi al-Tariq (Petunjuk Sepanjang Jalan)”,

https://www.scribd.com/doc/194186999/Sayyid-Quthb-Ma-Alim-Fi-Ath-Thariq ,diakses pada 7 Oktober 2014, 49

148 Istilah syariah digunakan oleh para ulama untuk pengertian “segala aturan” yang ditentukan

Allah untuk para hamba-Nya, baik yang berkenaan dengan soal-soal akidah maupun yang bertalian dengan masalah-masalah hukum. Aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah itu dinamai syaria, karena pada umumnya bersifat tegas dan jelas sehingga mudah dimengerti dan diikuti. (H.A.R. Gibb & J.H. Kramers, Concise Encyclopedia of Islam(Boston: Brill Academy Publishers,Inc. , 2001), 524

64

oleh Al-Qur‟an dan Sunnah serta harus menjadi hukum utama bagi masyarakat

Islam149.

Selain itu, secara filosofis, Qutb mempromosikan jihad offensif untuk melawan jahiliyyah (baik masyarakat non Muslim dan masyarakat Muslim yang mematuhi imperialisme Barat)150. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat-masyarakat yang tidak mengikuti aturan atau hukum Al-Qur‟an harus diambil alih

dan digantikan dengan Salafi151 yang menegakkan hukum syariah fundamentalis. Setelah syariah dibentuk kembali, kekhilafahan akan menjadi titik kumpul bagi seluruh dunia Islam152.

Pemikiran Sayyid Qutb sangat berpengaruh di dunia Muslim khususnya bagi kelompok-kelompok jihad Islam dan Al-Qaeda. Bahkan, Professor Muhammad Qutb (saudara Sayyid) adalah seorang guru dan mentor untuk Osama bin Laden saat muda153. Ini membuktikan bahwa gagasan Qutb sangat

149

Sayyid Qutb, Ma‟alim fi al-Tariq, 38

150Larbi Sadiki, “Political Islam”, Interregional Challenges of Islamic Extremism in North Africa,

ed. Muna Abdalla(Pretoria: Institute for Security Studies, 2011), hal.12 151

Salafi atau Salafisme merujuk pada suatu kelompok pembaharu dan reformasi gerakan Sunni dan ideologi dalam Islam kontemporer. Istilah ini didasarkan pada kata dasar dari bahasa Arab, Salaf – yang berarti nenek moyang umat Islam yang saleh-. Salafi mengacu pada nenek moyang yang menjadi muslim pada masa-masa awal Islam, khususnya pada masa sahabat Nabi Muhammad (-712), penerus mereka,tabi‟in pada generasi kedua (-796) dan penerus dari para

tabi‟in di generasi ketiga (-855). Salafi secara umum bertujuan untuk membawa kembali Islam ke jalan yang benar yang berarti tidak mengindahkan keputusan para ulama dari hukum Sunni dan hanya berpegang teguh pada Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi Muhammad. (Juan Eduardo

Campo, Encyclopedia of Islam [buku on-line] (Facts on File, Februari 2009) hal. 601 ,; tersedia

di

http://books.google.co.id/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA601&lpg=PA601&dq=salafism+encyclopedia+of+islam&source=bl&ots=eXjnvCw

WXc&sig=d_hDt_yxcJIssYhD0zbg9j-S5kk&hl=en&sa=X&ei=EKU6VKS8DMyjugS-woHABg&redir_esc=y#v=onepage&q=salafism%20encyclopedia%20of%20islam&f=false ,

diakses pada 12 Oktober 2014

152Giuseppe Grilo , “The Next Battle of Algiers”,13

153Luke Loboda, “The Thought of Sayyid Qutb,” Ashbrook Statesmanship Thesis, 2004, hal. 3

[jurnal on-line]; tersedia di

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ve

content%2Fuploads%2F2012%2F06%2F2004-Loboda-The-Thought-of-Sayyid-Qutb-65

menginspirasi Osama untuk mendirikan Al-Qaeda dan menyebarkan misi jihadnya ke seluruh dunia. Tujuan utama ini kemudian terpatri dalam landasan dasar Al-Qaeda yang nantinya dicontoh oleh AQIM. Awalnya AQIM yang sebelumnya bernama GSPC adalah kelompok militan lokal yang menginginkan Aljazair menjadi negara Islam. Mereka lalu termotivasi oleh gerakan jihad global yang digemakan oleh Qaeda dan akhirnya menggabungkan diri dengan Al-Qaeda. GSPC pun berganti nama menjadi Al-Qaeda in Islamic Maghreb. Dengan nama baru tersebut, mereka membuang atribut lama dan menyesuaikan visi dengan dogma Al-Qaeda.

Konflik di Utara Mali dijadikan momentum bagi AQIM untuk menerapkan tujuan utamanya. AQIM melihat peluang bahwa daerah Utara Mali tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah Mali serta etnis Tuareg (sebagai salah satu penduduk asli disana) memiliki sejarah panjang pemberontakan. Kehadiran AQIM di Utara Mali bukanlah hal yang baru karena AQIM saat masih bernama GSPC sering beroperasi disana. Keberadaan AQIM bahkan diketahui oleh pemerintah Mali. AQIM telah menetap selama sepuluh tahun di Utara Mali154 dikarenakan perjanjian rahasia dengan Amadou Toumani Toure (Presiden Mali yang digulingkan dalam kudeta militer pada Maret 2012). Pada masa Presiden Amadou

PDF.pdf&ei=a7g6VKe2IsaHuAS8moCQDg&usg=AFQjCNEuvAqVjfpiVlfmezTaMLr1sVXhY g&sig2=UNOImpKAFf-mlytYuog04Q&bvm=bv.77161500,d.c2E ; internet; diakses pada 7 Oktober 2014

154

Secara resmi GSPC pindah ke Utara Mali pada tahun 2003-2004, tetapi mereka telah memiliki basis disana sejak tahun 1998. Hal ini diperkuat dengan tulisan dari Morten Bøås and Liv Elin

Torheim, “The Trouble in Mali –Corruption, Collusion, Resistance,” Third World Quarterly

34:7 (2013): pp. 1279-1292 yang dikutip oleh Morten Bøås, “Guns, Money and Prayers : AQIM‟s Blueprint for Securing Control of Northern Mali” CTC Sentinel Vol.7 Issue 4, April 2014 [jurnal on-line]; tersedia di https://www.ctc.usma.edu/posts/guns-money-and-prayers-aqims-blueprint-for-securing-control-of-northern-mali ;internet; diakses pada 22 November 2014

66

Toumani Toure, AQIM mengumpulkan kekayaan di Mali sampai 250 juta dollar AS dari uang tebusan aksi penyanderaan warga negara Eropa dan Kanada selama dekade terakhir ini155.

Terkait dengan keterlibatannya dalam konflik Mali, AQIM awalnya diajak berkoalisi oleh Ansar Al Din pada November 2011 (sesaat setelah Ansar Al Din resmi berdiri). Koordinasi ini mirip dengan koordinasi yang dilakukan antara Taliban dan Al-Qaeda di Afghanistan. Setelah mencapai kesepakatan, Ansar Al Din kembali mengajak MUJAO ke dalam aliansi mereka pada tahun 2012156. Keikutsertaan mereka ditandai dengan dirilisnya video online pemimpin AQIM, Abdelmalek Droukdel berbicara sebelum pengumuman koalisi MNLA-Ansar Al Din-MUJAO-AQIM beredar. Di dalam video tersebut, Abdelmalek menyarankan kepada kelompok-kelompok Islam koalisinya tentang cara efektif untuk mengejar proyek implementasi syariah157

Disini terlihat bahwa memang koalisi ini diperuntukkan kelompok-kelompok Islam yang ingin mendirikan negara Islam. Mereka tidak berniat untuk menggandeng MNLA sebagai rekan permanen karena mereka melihat MNLA

155May Ying Weish, ”Mali, The gentle face of Al - Qaeda” 30 Desember 2012,

http://www.aljazeera.com/indepth/spotlight/2012review/2012/12/20121228102157169557.htm l , diakses pada 1 Oktober 2013

156

Mohammed Mahmoud Abu al-Ma‟ali, “Al-Qaeda and Its Allies in the Sahel and the Sahara”,

(Aljazeera Center for Studies, Mei 2012), hal. 6 [laporan on-line]; tersedia di https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&v ed=0CCsQFjAC&url=http%3A%2F%2Fstudies.aljazeera.net%2FResourceGallery%2Fmedia %2FDocuments%2F2012%2F4%2F30%2F2012430145241774734Al%2520Qaeda%2520and %2520its%2520allies%2520in%2520the%2520Sahel%2520and%2520the%2520Sahara.pdf&e i=-Uc7VOGoMsXguQS4tIGgBg&usg=AFQjCNF4bCGFQIzPIelY3FyJHO8AXNVnVw&sig2=C OeLrelIJXkp8h134NOylA ;internet; diakses pada 13 Oktober 2014

157 Valentina Soria, “Will Mali become the Next Terrorist Sanctuary” [artikel on-line], https://www.rusi.org/analysis/commentary/ref:C4FCF45F14B819/#.VDq9-vmSwmF , diakses pada 9 September 2014

67

adalah kelompok sekuler yang hanya ingin memerdekakan wilayah Utara Mali. Setelah berhasil mendapatkan wilayah yang mereka inginkan, mereka lalu mencampakkan MNLA dari koalisi mereka dan menjalankan visi misi yang telah lama mereka idam-idamkan. Peta konflik Mali pun berubah dari yang semula kelompok pemberontak (MNLA) melawan pemerintah Mali menjadi koalisi kelompok Islam yang melawan MNLA dan pemerintah Mali.

Peran identitas sangat bergantung pada harapan bersama (shared expectations) dan itu hanya terkait apabila ada hubungan dengan aktor lain. Wendt berpendapat hubungan yang kuat mencerimkan adanya Self dan Other. Inilah yang disebut sebagai identitas kolektif dimana adanya identifikasi “Self” dengan “Other” melalui pengaburan perbedaan di antara mereka. Pembentukan

identitas kolektif memanfaatkan peran dan jenis identitas sehingga para ktor menggabungkan diri dan menyatu menjadi single identity158.

AQIM telah memiliki identitas yang khas dan dikenal di wilayah Afrika serta mendapat pengakuan oleh kelompok-kelompok Islam militan lokal. Mereka juga memiliki identitas serupa dengan AQIM serta tujuan yang sama. Ini merupakan identitas kolektif yang terjalin antara AQIM serta Ansar Al Din dan MUJAO. Mereka berkoalisi demi tujuan mendirikan negara Islam dan memulainya di Utara Mali. AQIM yang awalnya lebih mementingkan identitas sendiri akhirnya melibatkan diri dalam konflik Mali agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. AQIM melihat Ansar Al Din dan MUJAO yang semula adalah

158

Alexander Wendt, Social Theory of International Politics (Cambridge : Cambridge University Press, 1999), 229

68

Other menjadi Self. MNLA yang tidak memiliki pandangan serta identitas yang sama dilihat Other.