• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGAPA ANGKATAN DARAT HARUS MELAKUKAN TRANSFORMASI?

Dalam dokumen Edisi Desember Edit_OK.indd 1 12/01/ :52:01 (Halaman 34-37)

TRANSFORMASI ANGKATAN DARAT DIBIDANG PERSONEL SUATU KEHARUSAN

MENGAPA ANGKATAN DARAT HARUS MELAKUKAN TRANSFORMASI?

DIBIDANG PERSONEL SUATU KEHARUSAN

Oleh : Brigjen TNI Jaswandi (Wadanjen Kopassus)

PENDAHULUAN.

A

khir-akhir ini, kita sering mendengar kata “Transformasi”, baik di media cetak maupun elektronik. Transformasi dapat diartikan sebagai proses mengubah bentuk atau mengubah dari suatu bentuk kebentuk lainnya. Dapat diartikan juga sebagai proses peralihan total dari suatu bentuk menjadi sosok baru yang dapat diartikan sebagai tahap akhir dari suatu proses perubahan secara berangsur-angsur, sehingga sampai tahap ultimate, perubahan dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses penggandaan secara berulang-ulang atau melipatgandakan.

Perubahan dapat didorong oleh dua faktor yaitu “keinginan” dan “kebutuhan”. Perubahan yang

didorong oleh kebutuhan merupakan suatu akibat dari perubahan lingkungan budaya, sosial, ekonomi dan politik yang menuntut segala sesuatu yang berada di sekitar lingkungan tersebut harus berubah. Perubahan yang kita bicarakan disini tentunya perubahan yang mengarah atau menuju kebaikan yang serba lebih dari kondisi sebelumnya menuju kedewasaan, konsisten, lebih introspeksi dan lain-lain. Begitu pula Angkatan Darat bagian dari lingkungan TNI, masyarakat, bangsa dan negara juga dunia memerlukan perubahan untuk menuju yang lebih baik dan maju seiring dengan kemajuan lingkungan, apalagi di era globalisasi saat ini. Suatu organisasi tentunya mempunyai sebuah tujuan yang hendak dicapai atau dapat dikatakan sebuah visi. Jika organisasi tersebut tidak dapat melaksanakan visinya dengan baik tentunya perlu diperbaiki.

MENGAPA ANGKATAN DARAT HARUS MELAKUKAN TRANSFORMASI?

Di atas telah disinggung bahwa transformasi merupakan proses mengubah bentuk atau mengubah dari satu bentuk kebentuk lainnya atau dengan kata lain adalah melakukan perubahan. Pertanyaannya adalah mengapa Angkatan Darat harus melakukan perubahan atau transformasi? Apa yang harus diubah dari Angkatan Darat? Dalam konteks ini, Angkatan Darat memiliki kapasitas untuk mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di wilayah daratan, sehingga dibutuhkan personel sebagai prajurit profesional dan Alutsista yang berkemampuan modern. Mengingat bahwa Alutsista Angkatan Darat sudah berumur tua yang artinya ketinggalan teknologi, maka perlu dilakukan transformasi Alutsista Angkatan Darat. Angkatan Darat harus berubah menjadi modern karena peran dan fungsinya menuntut kapasitas ini yang dihadapkan dengan semakin berkembangnya lingkungan strategis. Modern disini bukan berarti memodernisasi teknologi Alutsista Angkatan Darat yang sudah tua, namun mengganti teknologi Alutsista dengan generasi terbaru. Tidak ada yang dapat dimodernisasi dari teknologi yang sudah usang. Yang dapat dilakukan untuk mewujudkan Angkatan Darat profesional hanyalah mentransformasi diri Angkatan Darat. Tidak ada pilihan lain bagi Angkatan Darat dalam menjalankan tugas dan kewajiban utamanya yang bersifat eksternal, menjaga kedaulatan Konsep Pembangunan Kekuatan Angkatan Darat

untuk mencapai Minimum Essential Force menggunakan 2 parameter yang saling berkaitan

yaitu Postur dan Evaluasi Kemantapan serta Kesiapsiagaan Operasional (EKKO).

NKRI secara efektif dan efisien, jika tidak melakukan transformasi kekuatan.

Dengan transformasi kekuatan selain Alutsista, juga tidak kalah pentingnya yaitu diperlukan pula transformasi prajurit/personel menjadi inti organisasi TNI AD yang menggunakan atau mengawakinya. Hal ini wajar karena prajurit dan senjata ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kekuatan daya tempur prajurit bergantung pada persenjataan yang dimiliki. Sementara penggunaan persenjataan bergantung pada prajurit yang ada di belakangnya (man behind the gun). Transformasi Angkatan Darat menurut transformasi teknologi, doktrin, organisasi tentunya harus dimulai dari tranformasi prajurit atau dengan sebutan Sumber Daya Manusia, terutama level manajerial.

Transformasi Angkatan Darat tidak semata berfokus pada perubahan paradigma, doktrin, strategi, teknologi dan sebagainya. Transformasi tersebut juga mengedepankan aspek personel, sebab personel merupakan kunci dari transformasi. Tanpa penyiapan personel yang sesuai dengan kebutuhan transformasi, maka transformasi Angkatan Darat tidak akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Transformasi Angkatan Darat salah satu pokoknya pada aspek personel. Substansi pada aspek personel adalah The man behind

the gun dan The right man on the right place. Dari situ

tergambar bahwa transformasi Angkatan Darat dibidang personel pada akhirnya ditujukan untuk memperkuat organisasi, sebab organisasi akan maju bila diawaki oleh personel yang hebat termasuk personel-personel yang hebat yang akan mengawaki Alutsista modern.

Transformasi dibidang personel merupakan sebuah tantangan, sebab personel yang masuk kedalam Angkatan Darat berasal dari berbagai lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke yang berasal dari berbagai disiplin ilmu. Berikutnya adalah perubahan paradigma dalam organisasi Angkatan Darat sendiri. Dibutuhkan kesamaan cara pandang untuk menuju suatu Angkatan Darat yang diinginkan dalam suatu kerangka organisasi. Kesamaan cara pandang itu akan menentukan warna personel yang akan disiapkan untuk kebutuhan Angkatan Darat kedepan. Pembinaan personel bukanlah suatu yang stagnan, melainkan dinamis yang selalu berubah seiring perubahan bidang lain. Oleh sebab itu, semua pihak harus menyadari bahwa transformasi adalah suatu proses yang memerlukan waktu yang cukup panjang. “Marilah kita belajar dari pengalaman negara-negara yang telah maju. Dalam proses transformasi selalu ada dinamika, pasang surut dan bahkan keadaan jatuh bangun dari sebuah kehidupan yang sedang melaksanakan transfromasi”. Sebuah transformasi dalam lingkup yang besar, dapat

berpeluang diikuti oleh dampak sosiologis, antara lain ketidakstabilan, kegamangan, konflik dan perpecahan, namun transformasi merupakan sebuah proses upaya untuk menuju kebaikan.

Konsep Transformasi Angkatan Darat Dibidang Personel, yakni:

Penataan Jumlah dan Komposisi Personel yang Ideal dalam Mengawaki Organisasi (Right Sizing).

Transformasi Angkatan Darat diawali dengan pembangunan kekuatan Angkatan Darat yang diarahkan agar dapat melaksanakan tugas pokoknya yaitu menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah darat dan menyelamatkan segenap Bangsa Indonesia, yang dalam pelaksanaannya diarahkan kepada tercapainya kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force), dengan sasaran tingkat kekuatan yang cukup mampu menjamin kepentingan strategis pertahanan aspek darat. Untuk dapat mewujudkan pembangunan kekuatan Angkatan Darat, maka perlu adanya dukungan anggaran dari pemerintah guna tercapainya pemantapan satuan yang diharapkan dengan memiliki daya tangkal yang mampu mengatasi setiap bentuk ancaman yang mungkin timbul dalam kurun waktu lebih kurang 5 sampai 20 tahun kedepan. Adapun pemenuhan kebutuhan Alutsista yang diharapkan secara bertahap dilaksanakan penggantian dan pengadaan senjata baru sesuai dengan perkembangan teknologi dan melaksanakan pembentukan satuan baru disetiap wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya wilayah perbatasan dengan negara lain, daerah rawan konflik, pulau-pulau terluar serta seluruh wilayah sesuai dengan luas wilayah dan ancaman yang mungkin timbul baik dari dalam maupun dari luar.

Kondisi tingkat kemantapan Angkatan Darat saat ini masih jauh dari Minimum Essential Force. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari dukungan anggaran yang kurang bagi kebutuhan pembangunan kekuatan, kemampuan dan gelar satuan Angkatan Darat secara keseluruhan. Pembangunan kekuatan Angkatan Darat sesuai Minimum Essential Force adalah pembangunan satu tingkat dibawah kekuatan ideal, namun mampu untuk menangkal segala bentuk ancaman yang datang dari luar maupun dalam negeri. Berdasarkan kondisi saat ini, maka diperoleh suatu gambaran atau nilai tentang bagaimana pembangunan kekuatan Angkatan Darat sesuai standard Minimum Essential Force yaitu mampu operasional dan memiliki daya tangkal, dihadapkan dengan asumsi pelibatan TNI dan kontijensi yang paling mungkin.

Sejalan dengan transformasi pembangunan kekuatan Alutsista, titik berat transformasi dibidang

personel difokuskan untuk: Pertama, peningkatan kemampuan mobilitas dalam rangka Operasi Militer untuk Perang maupun Operasi Militer Selain Perang.

Kedua, peningkatan kemampuan satuan tempur

khususnya Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (striking

force) tingkat pusat serta satuan kewilayahan. Ketiga,

kesiapan pasukan (standby force) terutama untuk penanggulangan bencana alam serta untuk tugas-tugas misi perdamaian dunia dan keadaan darurat lainnya.

Keempat, peningkatan kemampuan dan kekuatan

bagi personel satuan Kostrad dan Kopassus. Kelima, personel Kodam sebagai kompartemen strategis harus memiliki daya tangkal yang kuat dengan meningkatkan kemampuan dan kekuatan sesuai luas wilayah yang dilindungi serta ancaman yang mungkin timbul.

Di dalam kebijakan Minimum Essential Force (MEF), pembangunan kekuatan pokok minimum sasarannya adalah terwujudnya Postur Angkatan Darat yang dapat melaksanakan tugas pokok Angkatan Darat, dengan prioritas pembangunan kekuatan di daerah perbatasan, daerah rawan dan pulau terluar serta satuan-satuan yang akan diproyeksikan kepada kegiatan daerah tersebut.

Mempertimbangkan kondisi tersebut, maka konsep Pembangunan Kekuatan Angkatan Darat untuk mencapai Minimum Essential Force menggunakan 2 parameter yang saling berkaitan yaitu Postur dan Evaluasi Kemantapan serta Kesiapsiagaan Operasional (EKKO). Penilaian terhadap kondisi postur antara lain adalah meliputi kekuatan personel disamping organisasi dan materiil, kemampuan dan gelar. Postur Angkatan Darat yang ideal adalah Angkatan Darat yang memiliki kekuatan, kemampuan dan gelar yang mampu melaksanakan tugas pokoknya yaitu menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah darat dan menyelamatkan segenap Bangsa Indonesia. Dalam pelaksanaannya diarahkan pada tercapainya kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force), dengan sasaran tingkat kekuatan yang cukup mampu menjamin kepentingan strategis pertahanan aspek darat. Mengingat keterbatasan kemampuan pemerintah dalam memberikan dukungan anggaran pertahanan, maka konsep pembangunan kekuatan Angkatan Darat dilaksanakan dengan skala prioritas untuk mencapai kemantapan satuan. Pembangunan kekuatan Angkatan Darat dilaksanakan atas dasar konsep pertahanan berbasis kemampuan (capabilities).

Pelaksanaan pembangunan kekuatan diarahkan untuk tercapai postur TNI AD yang dituangkan dalam Renstra II (2010-2014), Renstra III (2015-2019) dan Renstra IV (2020-2024). Prioritas pelaksanaan pembangunan kekuatan khususnya personel diarahkan untuk memenuhi tugas pokok Angkatan Darat antara

lain pemenuhan personel di daerah perbatasan, rawan konflik dan pulau terluar. Pembinaan kekuatan personel Renstra II, III dan IV diharapkan pada posisi

zero growth sesuai dengan kebijakan Presiden RI

tentang pembangunan kekuatan pokok minimum yang diprioritaskan untuk pengembangan Alutsista. Kebijakan Zero Growth of Personel (ZGP) dapat diartikan sebagai kebijakan tanpa penambahan personel pada tatanan organisasi Angkatan Darat, namun demikian hal tersebut bukan berarti stagnasi, sebab didalamnya justru terjadi berbagai perubahan menuju kepada peningkatan kemampuan, efektivitas dan efisiensi menuju manajemen modern. Pengawakan organisasi Angkatan darat disesuaikan dengan TOP/ DSP yang telah diperbarui dengan bentuk yang lebih ramping, tetapi dengan kinerja yang sama atau bahkan meningkat. Dengan demikian jumlah kekuatan personel dari awal tahun 2010 sampai dengan akhir tahun 2029 diharapkan penambahan personel tidak signifikan, sehingga kekuatan personel tetap pada 316.198 orang untuk militer dan 42.005 orang untuk PNS. Kebijakan ZGP dimaksudkan sebagai upaya agar komposisi personel Angkatan Darat secara bertahap mengarah kepada rasio yang lebih besar pada satuan operasional (Satpur/ Banpur/Satbanmin), dari pada instansi pendukungnya. Perbandingan komposisi personel yang diharapkan pada Minimum Essental Force antara satuan operasional dengan satuan pendukung adalah 60% : 40% sesuai yang tercantum dalam dokumen Postur Hanneg. Meskipun perbandingan saat ini antara satuan operasional dan satuan pendukung telah memenuhi Minimum Essential

Force, namun dengan adanya pemisahan personel dan

rencana pengembangan satuan, maka masih diperlukan penataan kembali personel secara bertahap dengan tetap mempertahankan kuantitas personel (minimal 80%). Perbandingan komposisi personel antara satuan operasional (Satops) dan pendukung operasional (Satdukops) saat ini adalah 217.473 : 90.483 atau sama dengan 70,62% : 29,38%. Jumlah personel tersebut bila dihadapkan kepada TOP dan DSP, maka pencapaian kuantitas telah mencapai tingkat 97,92%, namun kedepan masih perlu penataan kembali personel di lingkungan Angkatan Darat untuk memenuhi pembangunan dan pemantapan satuan baru.

Tuntutan Minimum Essential Force adalah pada

strata mantap-II/siap operasi, yaitu utamanya adalah kuantitas dan kualitas personel disamping materiil, latihan, fasilitas/pangkalan dan peranti lunak mencapai 80-89% (mantap-I/siaga operasi :90-100%, mantap-II/ siap operasi: 80-89%, mantap-III/siap tugas: 60-79% dan mantap-IV/tidak siap tugas : 50-59%). Dengan adanya tuntutan kesiapan Angkatan Darat dalam melaksanakan tugas pokoknya di wilayah daratan,

maka perlu adanya penyempurnaan kebutuhan pokok minimum (Minimum Essential Force) Angkatan Darat terutama personel, sehingga dapat memberikan daya tangkal yang lebih optimal dalam menghadapi setiap ancaman dan kemungkinan kontijensi di wilayah NKRI.

Dalam dokumen Edisi Desember Edit_OK.indd 1 12/01/ :52:01 (Halaman 34-37)

Dokumen terkait