Roket Multi Launcher (Multiple Launch Rocket System/MLRS) Astros
MERINTIS TRANSFORMASI
ANGKATAN DARAT
YANG BERKELANJUTAN
Oleh: Brigjen TNI Sisriadi
MENYIAPKAN DOKTRIN
BERTEMPUR
DI ERA “WARM PEACE”
Oleh: Mayor Inf Agus
Harimurti, M.Sc, MPA
PERUBAHAN POLA
PEMBINAAN LATIHAN
TNI AD DIHADAPKAN
KEPADA TANTANGAN
TUGAS MASA KINI
DAN MASA DEPAN
Oleh: Brigjen TNI Dody
Usodo Hargo. S, S.IP., M.M
TRANSFORMASI
ANGKATAN DARAT
DIBIDANG PERSONEL
SUATU KEHARUSAN
Oleh: Brigjen TNI Jaswandi
PENDIDIKAN TNI AD
DI MASA DEPAN:
MENYIAPKAN SDM
MENYONGSONG TNI AD
YANG MODERN
Oleh: Kolonel Arh Candra
Wijaya
ANGKATAN DARAT
PERLU MEMBUKA KURSUS
KEPEMIMPINAN
Oleh: Brigjen TNI Hartomo
TANTANGAN BESAR
BERNAMA “PEMELIHARAAN”
(baca : MAINTENANCE)
Oleh: Kolonel Kav Eko
Susetyo
TRANSFORMASI
PERENCANAAN
DAN PENGELOLAAN
ANGGARAN TNI AD
Oleh: Kolonel Chb Budi
Prijono, S.T., MM.
6
18
26
34
40
46
52
58
Vol. 32 No. 4 Desember 2012
Jurnal
Media Informasi dan Komunikasi TNI AD
D
A
F
T
A
R
I
S
I
S
alam Indonesia!! Tak terasa kita sudah memasuki penghujung tahun 2012, dimana program kerja selama satu tahun telah kita laksanakan dengan baik. Tentunya hal tersebut patut kita syukuri bersama, karena atas curahan rahmat dan hidayah-Nya, seluruh Program Kerja dapat dilaksanakan sesuai dengan waktunya, termasuk penerbitan Jurnal Yudhagama Volume 32 Nomor 4 Desember 2012. Pada edisi kali ini, Jurnal Yudhagama menampilkan tulisan-tulisan aktual berisi informasi yang bersifat strategis mengenai Angkatan Darat yang berasal dari buah pikiran para perwira yang berpengalaman dan mempunyai kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan bidangnya.Seperti kita ketahui bersama, bahwa teknologi bukanlah satu-satunya penentu suatu peperangan. Untuk itu, TNI Angkatan Darat akan melakukan transformasi guna mengubah struktur dan budaya organisasi agar lebih siap menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimasa mendatang. Hal-hal yang diperlukan TNI AD dalam melaksanakan transformasi di segala bidang, Brigjen TNI Sisriadi mengulasnya dalam tulisan berjudul “Merintis Transformasi Angkatan Darat yang Berkelanjutan”. Pembaca yang budiman, perang dingin telah berakhir sejak dua dekade silam. Tidaklah berlebihan bila kita semua berharap bahwa dunia akan semakin aman, dimana seluruh umat manusia dapat hidup tenang dan damai berdampingan, tanpa harus terkotak-kotak atas dasar pertentangan ideologi “kapitalisme vs komunisme”. Untuk itulah, Kasi-2/Ops Brigif Linud 17/1 Kostrad Mayor Inf Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., MPA menuangkannya dalam tulisan berjudul “Menyiapkan Doktrin Bertempur di Era “Warm Peace”.
Sistem pembinaan latihan menjadi kunci penentu kesiapan satuan dalam menghadapi tugas, sehingga akan menjamin keberhasilan setiap operasi yang melibatkan TNI Angkatan Darat. Guna menjawab tantangan tugas masa kini dan yang akan datang, diperlukan suatu perubahan pola pembinaan
Kata Pengantar
Susunan Redaksi
Jurnal
Media Informasi dan Komunikasi TNI AD
Kata Pengantar
PELINDUNG : Kepala Staf TNI Angkatan Darat PEMBINA : Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat PENASEHAT : Irjenad, Aspam Kasad, Asops Kasad, Aspers Kasad, Aslog Kasad, Aster Kasad, Asrena Kasad,
Kasahli Kasad. PEMIMPIN REDAKSI : Kolonel Czi Rukman Ahmad, S.IP.
WAKIL PEMIMPIN REDAKSI : Kolonel Chb Firdaus Komarno, S.E.,M.Si.
DEWAN REDAKSI :
Kolonel Arh Erwin Septiansyah, S.IP.
Kolonel Caj Drs. Moh. Noor, M.M. Kolonel Inf Drs. Zaenal Mutaqim, M.Si. Kolonel Arh Heru Sudarminto, S.IP., M.Sc.
KETUA TIM EDITOR :
Kolonel Inf Drs. Andi Suyuti, M.M.
SEKRETARIS TIM EDITOR :
Mayor Caj (K) Dra. Sri Indarti
ANGGOTA TIM EDITOR : Letkol Caj Drs. M. Yakub Mayor Caj (K) Yeni Triyeni, S.Pd. Mayor Inf Dodi Fahrurozi, S.Sos.
Mayor Inf Supriyanto Kapten Inf Candra Purnama, S.H.
Lettu Caj (K) Besarah Septiana M., S.S.
DISTRIBUSI :
Mayor Chb Gara Hendrik, A.Md. DESAIN GRAFIS :
Serka Enjang TATA USAHA :
Peltu (K) Ety Mulyati, PNS Listin
PNS Supriyatno
REDAKTUR FOTO :
Letkol Czi Drs. Syarifuddin Sara, M.Si. ALAMAT REDAKSI :
Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Jl. Veteran No. 5 Jakarta Pusat Tlp. (021) 3456838,
3811260, Fax. (021) 3848300, Alamat email : [email protected]
Jurnal Yudhagama sebagai media komunikasi internal TNI Angkatan Darat, mengemban misi:
a. Menyebarluaskan kebijakan Pimpinan TNI Angkatan Darat kepada seluruh prajurit di jajaran TNI Angkatan Darat.
b. Memberikan wadah untuk pemikiran-pemikiran yang konstruktif dalam pembinaan TNI Angkatan
Darat dan fungsi teknis pembinaan satuan sesuai tugas pokok TNI Angkatan Darat sebagai kekuatan pertahanan negara matra darat.
c. Menyediakan sarana komunikasi untuk penjabaran Kemanunggalan TNI-Rakyat.
Tulisan yang dimuat dalam Jurnal Yudhagama ini merupakan pandangan pribadi penulisnya dan bukan pandangan resmi TNI Angkatan Darat, namun redaksi berhak merubah tulisan (rewrite) tanpa mengubah inti
tulisan untuk disesuaikan dengan misi yang diemban Jurnal Yudhagama dan kebijakan Pimpinan TNI Angkatan Darat. Redaksi menerima karangan dari dalam maupun dari luar lingkungan TNI Angkatan Darat, dengan
syarat merupakan karangan asli dari penulis. Karangan yang dimuat dalam jurnal ini dapat dikutip seluruh atau
sebagian dengan menyebut sumbernya.
Topik dan judul tulisan diserahkan kepada penulisnya, dengan ketentuan panjang tulisan berkisar sepuluh halaman kertas folio, dengan jarak satu setengah spasi.
latihan dalam rangka meningkatkan kualitas satuan dan profesionalitas prajurit. Oleh karenanya, Kepala Biro Persidangan dan Humas Setjen Wantannas Brigjen TNI Dody Usodo Hargo S., S.IP., M.M. mengulasnya dalam tulisan “Perubahan Pola Pembinaan Latihan TNI AD Dihadapkan Kepada Tantangan Tugas Masa Kini dan Masa Depan”.
Dewasa ini, transformasi Angkatan Darat tidak semata berfokus pada perubahan paradigma, doktrin, strategi, atau teknologi saja. Tetapi juga mengedepankan aspek personel, sebab personel merupakan kunci dari transformasi. Transformasi Angkatan Darat dibidang personel ditujukan untuk memperkuat organisasi, sebab organisasi akan maju bila diawaki oleh personel yang hebat, termasuk yang akan mengawaki Alutsista modern. Untuk itulah, Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Jaswandi membahasnya dalam tulisan “Transformasi Angkatan Darat Dibidang Personel Suatu Keharusan”. Pendidikan TNI Angkatan Darat merupakan salah satu parameter dan obyek transformasi TNI Angkatan Darat. Sumbangan pemikiran dari Danmenarhanud-1/F Kodam Jaya Kolonel Arh Candra Wijaya yang berjudul “Pendidikan TNI AD Dimasa Depan: Menyiapkan Sumber Daya Manusia Menyongsong TNI AD Yang Modern” turut menjadi bagian penting dalam jurnal edisi akhir tahun ini. Masih berkaitan dengan transformasi TNI Angkatan Darat, Dansecapaad Brigjen TNI Hartomo pun turut serta menyumbangkan buah pemikirannya dalam tulisan “Angkatan Darat Perlu Membuka Kursus Kepemimpinan”. Tulisan tersebut mengupas tentang
gambaran kualitas kepemimpinan di lingkungan TNI Angkatan Darat saat ini pada tingkat strata taktis dan operasional mengalami penurunan, yang ditandai dengan banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh para unsur pimpinan di satuan, baik dalam bentuk kegagalan dalam memimpin satuan maupun kegagalan sebagai pemimpin itu sendiri.
Selain tulisan dari Dansecapaad, Aslog Kasdam IX/ Udayana Kolonel Kav Eko Susetyo juga memberikan buah pikirnya kedalam tulisan berjudul “Tantangan Besar Bernama “Pemeliharaan” (baca: Maintenance)”. Alutsista modern yang akan melengkapi kemampuan
(capability) TNI Angkatan Darat kedepan tidak bisa dipelihara dengan cara amatiran. Untuk itulah, didalam tulisan ini akan dijelaskan langkah penting dalam aspek pemeliharaan guna mewujudkan kesiapan materiil TNI Angkatan Darat.
Yang tak kalah menariknya, tulisan dari Paban II/ Renproggar Srenad Kolonel Chb Budi Prijono, S.T., M.M. berjudul “Transformasi Perencanaan dan Pengelolaan Anggaran TNI AD” dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca setia Jurnal Yudhagama.
Akhirnya segenap redaksi Jurnal Yudhagama menyampaikan terima kasih atas sumbangan tulisan baik berupa ide/gagasan maupun konsepsi yang sangat bermanfaat bagi kemajuan TNI Angkatan Darat dimasa yang akan datang. Tak ada gading yang tak retak, redaksi berharap kiranya apa yang disajikan pada edisi kali ini senantiasa dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. Selamat membaca!
P
ada pelaksanaan Rabinniscab tahun 2012, Kasad dan Wakasad menyampaikan pengarahan di depan para peserta Rabinniscab yang intinya berisi pokok-pokok keinginan pimpinan untuk melakukan perubahan Angkatan Darat kearah yang lebih baik. Secara substansial, pengarahan tersebut pada hakekatnya merupakan direktif pimpinan Angkatan Darat kepada seluruh pimpinan di semua tingkatan dalam menyikapi perkembangan lingkungan strategis yang semakin kompleks. Salah satunya adalah perkembangan dibidang ilmu pengetahuanMERINTIS TRANSFORMASI ANGKATAN
DARAT YANG BERKELANJUTAN
Oleh : Brigjen TNI Sisriadi
(Dirtekind Ditjen Pothan Kemhan RI)
dan teknologi yang telah mengubah karakteristik peperangan masa kini. Sebagaimana diketahui, perkembangan di bidang teknologi telah menghasilkan aplikasi teknologi militer yang semakin canggih.
Perkembangan tersebut harus disikapi sebagai sebuah tantangan karena pemerintah sampai saat ini baru mampu membiayai pengembangan kemampuan TNI secara terbatas. Dalam kondisi seperti itu, upaya untuk mewujudkan minimum essential force merupakan langkah yang paling relevan dalam rangka mewujudkan kemampuan TNI yang memiliki efek penggentar terhadap pihak manapun yang akan menjadi ancaman bagi kedaulatan dan keselamatan negara serta keutuhan wilayah NKRI. Sebagai bagian integral TNI, Angkatan Darat perlu mengembangkan pemikiran-pemikiran inovatif para perwiranya, agar keterbatasan sistem senjata teknologi tidak menjadi penghalang bagi upaya untuk mewujudkan Angkatan Darat yang handal, sehingga dapat menjamin tetap tegaknya kedaulatan dan terpeliharanya keutuhan wilayah NKRI.
Sejarah telah membuktikan bahwa teknologi bukanlah satu-satunya penentu kemenangan suatu perang. Kegagalan Amerika Serikat di Vietnam merupakan bukti sejarah yang tidak dapat disangkal. Pasukan Amerika Serikat yang dikenal dengan keunggulan teknologi militernya, ternyata telah dibuat malu oleh pasukan Vietnam yang inferior. Belajar dari pengalaman tersebut, kita harus yakin bahwa kecil tidak berarti lemah. Kita juga harus yakin bahwa
the man behind the gun adalah kunci kemenangan dalam peperangan. Namun demikian, keyakinan saja tidak cukup. Angkatan Darat harus melakukan transformasi menyeluruh, antara lain dibidang doktrin, organisasi, latihan, pendidikan, pembinaan personel, pengembangan kepemimpinan, pembinaan materiil, pembinaan teritorial dan bidang-bidang lainnya. Transformasi bukanlah pilihan, tetapi sebuah keharusan untuk mendukung strategi militer dalam rangka menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berangkat dari kondisi tersebut, tulisan ini mencoba mengelaborasi pokok-pokok keinginan Pimpinan Angkatan Darat untuk melakukan perubahan menyeluruh agar mampu menjawab tantangan tugas kedepan yang semakin kompleks. Tulisan ini diharapkan Transformasi Angkatan Darat pada hakekatnya adalah
suatu proses untuk mengubah karakteristik organisasi Angkatan Darat, agar mampu berkompetisi dengan
negara lain melalui pengembangan kemampuan, restrukturisasi organisasi dan perumusan konsep-konsep baru dalam penyelenggaraan tugas-tugas operasional, guna mewujudkan satuan-satuan yang
dapat diandalkan dalam rangka melindungi kepentingan nasional.
dapat menjadi stimulus bagi munculnya pemikiran-pemikiran inovatif di kalangan Perwira Angkatan Darat untuk membuat peta jalan transformasi Angkatan Darat. Penulis menganggap perlu mengemukakan hal tersebut karena sampai saat ini Angkatan Darat belum memiliki cetak biru peta jalan transformasi yang dapat dijadikan pedoman untuk mewujudkan transformasi Angkatan Darat secara berkesinambungan.
URGENSI TRANSFORMASI.
Perkembangan lingkungan strategis yang sangat dinamis telah menciptakan kondisi keamanan global, regional dan nasional yang menuntut Angkatan Darat untuk melakukan perubahan. Berbagai perubahan yang dilakukan selama era reformasi telah mereposisi Angkatan Darat pada kedudukan yang tepat dalam tatanan politik nasional. Angkatan Darat telah menarik diri dari kehidupan politik praktis, menghentikan kegiatan bisnisnya, bahkan lebih cepat dari batas waktu yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004. Angkatan Darat juga telah meredefinisi fungsi dan perannya sebagai alat pertahanan negara. Angkatan Darat telah kembali kepada jati-dirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional.
Namun demikian, reformasi internal di lingkungan Angkatan Darat belum membawa perubahan yang signifikan terhadap cara-cara Angkatan Darat dalam menyelenggarakan core business-nya. Perubahan yang terjadi lebih disebabkan oleh tekanan eksternal yang bernuansa politik, bukan berdasarkan kebutuhan untuk mengantisipasi perubahan lingkungan keamanan nasional. Oleh karena itu, Angkatan Darat harus mengambil langkah-langkah terstruktur untuk melakukan transformasi guna mengubah struktur dan budaya organisasi agar lebih siap menghadapi tantangan yang lebih kompleks pada masa mendatang.
Secara harfiah, reformasi mengandung makna kembali (re) ke bentuk semula (formation), sedangkan
transformasi mengandung arti proses perubahan karakteristik Angkatan Darat dalam rangka berkompetisi dengan militer negara lain dengan menggunakan konsep baru. Dalam kaitannya dengan Angkatan Darat, transformasi harus diarahkan untuk meningkatkan kapasitas Angkatan Darat sebagai komponen utama pertahanan negara yang bertanggung jawab atas tetap tegaknya kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI.
Transformasi adalah kebutuhan mendesak dan harus segera dilakukan guna mewujudkan keunggulan Angkatan Darat diantara negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Kewibawaan yang pernah diraih bangsa Indonesia pada masa orde baru harus diwujudkan
kembali. Untuk itu, Angkatan Darat tidak bisa terus mempertahankan kondisi yang ada saat ini, tetapi harus melakukan transformasi.
Sedikitnya ada tiga alasan mengapa Angkatan Darat perlu segera melaksanakan transformasi.
Pertama, adanya optimisme pemerintah bahwa perekonomian nasional semakin membaik. Artinya, ada harapan meningkatnya kemampuan pemerintah untuk mendukung pembangunan dibidang pertahanan negara pada masa mendatang. Apabila tidak segera melakukan upaya-upaya transformasional sejak saat ini, maka Angkatan Darat akan terlambat manakala pemerintah mampu memberikan dukungan anggaran pertahanan negara yang memadai.
Kedua, saat ini negara-negara tetangga terus membangun kapabilitas militernya dengan menambah kekuatan sistem senjata teknologinya. Hal ini tidak boleh membuat kita merasa rendah diri karena semua pemimpin militer profesional di dunia tahu bahwa kemenangan perang tetap ditentukan oleh the man behind the gun. Rendahnya anggaran pertahanan tidak boleh menjadi pemaaf untuk tidak melakukan upaya peningkatan kapabilitas Angkatan Darat sebagai alat pertahanan negara, apalagi menyalahkan pemerintah yang tidak mampu memberikan dukungan anggaran untuk mengadakan Alutsista baru. Mentalitas seperti itu akan menjadikan Angkatan Darat lemah. Membiarkan Angkatan Darat lemah sama artinya dengan menciptakan ancaman potensial bagi kedaulatan dan keutuhan NKRI.
Ketiga, perkembangan lingkungan strategis telah membuat akses terhadap teknologi semakin mudah karena teknologi menjadi semakin murah dan kemampuan manusia dalam penguasaan teknologi menjadi semakin baik. Angkatan Darat harus mampu mengembangkan inovasi untuk memanfaatkan teknologi bagi kepentingan aplikasi militer dengan harga terjangkau. Banyak sekali teknologi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Darat oleh industri dalam negeri dengan harga relatif terjangkau.
DIMENSI TRANSFORMASI ANGKATAN DARAT DAN PERMASALAHANNYA.
Transformasi Angkatan Darat pada hakekatnya adalah suatu proses untuk mengubah karakteristik organisasi Angkatan Darat, agar mampu berkompetisi dengan negara lain melalui pengembangan kemampuan, restrukturisasi organisasi dan perumusan konsep-konsep baru dalam penyelenggaraan tugas-tugas operasional, guna mewujudkan satuan-satuan yang dapat diandalkan dalam rangka melindungi kepentingan nasional. Karena luasnya cakupan
transformasi, transformasi Angkatan Darat perlu difokuskan pada dimensi tertentu yang dapat digunakan sebagai parameter untuk mengukur kemampuan organisasi militer secara akuntabel. Mengacu pada petunjuk strategis pimpinan Angkatan Darat, maka setidaknya ada enam dimensi yang dapat digunakan sebagai parameter transformasi, yaitu dimensi
doktrin, organisasi, latihan, personel, materiil serta
kepemimpinan.
Dimensi Doktrin.
Doktrin adalah ajaran, prinsip-prinsip dan konsepsi yang bersifat mendasar yang disusun berdasarkan hasil pemikiran terbaik yang mengalir dari teori dan pengalaman untuk diajarkan serta digunakan sebagai pedoman dalam tata kehidupan bangsa dan negara yang bersifat konsepsional sampai dengan yang bersifat operasional implementatif pada kurun waktu tertentu.1
Bagi Angkatan Darat, doktrin merupakan elemen yang sangat penting dalam pengembangan kemampuan operasional. Kiranya tidak berlebihan apabila doktrin dianggap sebagai mesin perubahan bagi organisasi militer.2 Doktrin TNI AD harus hidup dan memberikan
nafas bagi perencanaan operasi darat masa depan, jauh melebihi visi para pembuat doktrin itu sendiri. Sebagai contoh, konsep general staff yang diperkenalkan tentara Jerman pada abad XVII sampai saat ini masih diakui validitasnya dan masih digunakan hampir semua organisasi militer di seluruh dunia. Oleh karena itu, doktrin harus memberikan falsafah, menyatukan bahasa, tujuan, pola pikir dan pola tindak dalam semua satuan jajaran Angkatan Darat.
Saat ini Angkatan Darat telah mengesahkan 34 naskah Buku Petunjuk Induk, 38 naskah Buku Petunjuk Pembinaan, 18 naskah Buku Petunjuk Operasi, 90 naskah Buku Petunjuk Administrasi, 69 naskah Buku Petunjuk Lapangan, 162 naskah Buku Petunjuk Teknik, 93 naskah Buku Petunjuk Pelaksanaan. Secara kuantitatif, itu jumlah yang cukup besar. Namun dari seluruh produk doktrin yang ada, nuansa penyeragaman format penulisan relatif dominan dibandingkan dengan substansi doktrin itu sendiri, sehingga peran doktrin sebagai pedoman pelaksanaan tugas kurang mengemuka. Penyeragaman format ini telah membuat banyak aspek operasional penting tidak terwadahi dalam doktrin. Para pengguna doktrin di lapangan mengalami kesulitan untuk menerapkan substansi buku petunjuk operasional dalam pelaksanaan latihan maupun tugas-tugas di lapangan. Artinya, secara kualitatif kita masih harus melakukan perubahan-perubahan mendasar terhadap doktrin.
Dihadapkan dengan kebutuhan operasional yang ada saat ini, substansi doktrin saat ini kurang
memberikan panduan bagi perancang dan pelaksana operasi. Buku-buku petunjuk operasional yang berlaku saat ini belum memberikan gambaran tentang rancang bangun operasi tetapi lebih bersifat mengatur, sehingga konsep-konsep perencanaan operasi yang dihasilkan cenderung prosedural dan normatif. Pada gilirannya, para komandan satuan di lapangan tidak optimal dalam melaksanakan fungsi komando dan pengendalian operasi. Permasalahan ini antara lain disebabkan oleh rancang bangun doktrin yang disusun secara vertikal yang lebih kita kenal dengan “Pohon Doktrin”. Dalam struktur tersebut, Doktrin KEP berada di puncak pohon, selanjutnya diuraikan secara lebih detail dalam buku-buku petunjuk induk, petunjuk operasi, petunjuk pembinaan, petunjuk administrasi, petunjuk lapangan serta petunjuk teknis, sesuai kecabangan dan fungsi yang ada dalam organisasi Angkatan Darat. Penyusunan buku petunjuk seperti itu, secara administratif akan memudahkan perumusannya. Tetapi secara substansial, doktrin yang dihasilkan tidak akan bisa menjawab kebutuhan para komandan dan prajurit untuk melaksanakan tugas-tugas di lapangan.
Idealnya, struktur penyusunan doktrin menggunakan pola lingkaran-lingkaran yang disusun secara konsentris, dimana Doktrin KEP berada di tengah lingkaran. Dengan struktur ini, substansi doktrin akan lebih menjawab tantangan tugas satuan di lapangan. Struktur seperti ini tetap akan memudahkan para pembuat doktrin dalam merumuskan isi doktrin yang lebih aplikabel. Keberadaan Doktrin KEP di pusat lingkaran akan menjadikan Doktrin KEP sebagai pusat, sekaligus sebagai sumber pemikiran bagi doktrin operasional, taktis dan teknis. Lingkaran kedua dari struktur doktrin adalah core business Angkatan Darat, yaitu buku petunjuk tentang Teritorial, Operasi dan Taktik yang dilengkapi dengan buku-buku petunjuk pendukungnya seperti buku petunjuk tentang Intelijen, Personel, Logistik, Perencanaan, Komando dan Pengendalian. Pada lingkaran ini dapat dikembangkan buku-buku petunjuk tentang cabang-cabang operasi darat, misalnya operasi intelijen, operasi teritorial, operasi lawan insurjensi, operasi khusus dan sebagainya. Selain itu, juga dapat dikembangkan buku-buku petunjuk tentang Binter dan penggunaan kesenjataan dalam operasi, seperti Infanteri, Kavaleri, Armed, Arhanud, Penerbad, Zeni dan sebagainya. Pada lingkaran ketiga dikembangkan buku-buku petunjuk pendukung yang bersifat lebih teknis, misalnya buku petunjuk lapangan tentang satuan lapangan (Brigade, Batalyon, Kompi dan sebagainya), buku petunjuk tentang latihan, buku petunjuk tentang kepemimpinan dan sebagainya.
Selain substansi, perubahan yang perlu dilakukan pada dimensi doktrin adalah memilah dan memisahkan buku-buku petunjuk yang bersifat sebagai peraturan dari buku-buku petunjuk yang bersifat doktrin. Hal ini perlu dilakukan karena adanya kecenderungan dikalangan prajurit yang memperlakukan doktrin sebagai peraturan untuk dijadikan payung hukum bagi pelaksanaan tugas. Secara fungsional, doktrin bukanlah peraturan atau sebaliknya. Peraturan adalah produk hukum yang implikasinya adalah salah atau benar, sedangkan doktrin adalah pedoman tindakan bagi prajurit yang implikasinya menang atau kalah, gagal atau berhasil dalam tugas. Oleh karena itu, doktrin harus diikuti tetapi bukan dalam konteks patuh dan tidak patuh, melainkan diikuti sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak dalam pelaksanaan tugas. Doktrin harus membuka ruang bagi para pelaksana di lapangan untuk mengembangkan intuisi sesuai dengan kondisi tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri di lapangan. Substansi doktrin harus dapat memberikan panduan bagi perancang dan pelaksana operasi darat, bukan bersifat aturan yang akan membelenggu para perancang operasi dan komandan satuan di lapangan. Doktrin harus memberikan ruang kreativitas dan inovasi kepada para perancang operasi serta memberikan ruang pengembangan intuisi bagi para komandan operasi di lapangan, baik pada tingkat strategis, operasional maupun taktis. Dalam penyusunannya, doktrin dibuat oleh lembaga pembina doktrin, sedangkan peraturan dibuat oleh Mabesad. Prioritas pertama yang perlu segera dilakukan adalah mengesahkan Doktrin KEP karena akan berperan sebagai sumber pemikiran dari seluruh doktrin Angkatan Darat. Substansi draft Doktrin KEP telah mengalami beberapa kali penyempurnaan sehingga yang secara substansial telah mewadahi pokok-pokok pikiran strategis tentang “how we figth and how we do business” (baca: bagaimana menyelenggarakan operasi darat dan bagaimana menyiapkan kemampuan dan kekuatan untuk penyelenggaraan operasi darat). Prioritas berikutnya adalah menyusun compendium doktrin Angkatan Darat yang berisi sinopsis buku-buku petunjuk utama yang berkaitan langsung dengan “core business” Angkatan Darat. Compendium ini harus memberikan gambaran ringkas tentang proses pengembangan masing-masing doktrin agar para pengguna mengetahui proses perumusan doktrin mulai dari perumusan konsep-konsep baru sampai dengan tersusunnya doktrin. Dengan adanya compendium doktrin maka akan memudahkan para pengguna doktrin untuk menemukan referensi yang diperlukan dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam penugasan. Compendium harus selalu diperbaharui
sesuai dengan kondisi doktrin yang berlaku, agar para pengguna doktrin dapat memberikan masukan terhadap doktrin yang masih bersifat sementara.
Dimensi Organisasi.
Organisasi memiliki hubungan resiprokal dengan doktrin. Oleh karena itu perubahan doktrin seharusnya diikuti dengan pengkajian organisasi dalam rangka mengadopsi konsep-konsep baru yang dikembangkan dalam doktrin. Perubahan doktrin dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk menghadapi perubahan hakekat dan karakteristik ancaman. Dengan sendirinya perubahan organisasi juga harus melihat ancaman sebagai pertimbangan utamanya serta mengadopsi konsep-konsep strategis, operasional dan taktis yang tertuang dalam doktrin. Bentuk, susunan dan dislokasi satuan-satuan Angkatan Darat harus dirancang sedemikian rupa agar memiliki respon (responsivness), daya gempur (striking power), daya tahan (sustainability) serta daya hidup (survivability) yang dapat diandalkan. Organisasi Angkatan Darat harus dirancang berdasarkan apa yang bisa dilakukan musuh ( capability-based), bukan berdasarkan siapa atau dari negara mana yang akan menjadi musuh (threat-based). Berangkat dari pemahaman tentang kemampuan musuh, maka perlu dirumuskan kemampuan apa yang harus dimiliki Angkatan Darat. Dengan gambaran tentang kemampuan tersebut, selanjutnya bentuk dan susunan organisasi dapat ditentukan. Dihadapkan dengan kemungkinan perkembangan militer negara tetangga sepuluh tahun kedepan, sedikitnya ada lima hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam penyusunan organisasi Angkatan Darat. Pertama, adanya interoperabilitas. Interoperabilitas adalah kemampuan satuan untuk memberikan bantuan atau menerima bantuan atau bekerja sama dengan satuan lain sedemikian rupa sehingga satuan-satuan tersebut dapat melakukan kerjasama antar kesenjataan secara efektif. Kedua, terintegrasinya fungsi intelijen. Untuk mengantisipasi perkembangan ancaman kedepan, kemampuan intelijen Angkatan Darat harus mencakup technical intelligent (intelijen teknis) dan human intelijen
(intelijen manusia) secara terintegrasi. Pengintegrasian intelijen teknis dan intelijen manusia sangat diperlukan karena keduanya memiliki kelemahan namun dapat saling menutup satu sama lain. Ketiga, adanya fleksibilitas. Fleksibilitas yang tinggi sangat diperlukan untuk menghadapi pertempuran asimetrik yang tidak lagi menggunakan pendekatan operasional secara linier. Satuan yang fleksibel harus bisa menyebar dan menyatu, muncul dan menghilang dengan cepat sehingga dapat memberikan pukulan yang tidak terduga oleh musuh.
didukung dengan kemampuan untuk memberdayakan logistik wilayah. Tanpa dukungan logistik wilayah, satuan-satuan lapangan tidak akan mungkin mampu beroperasi lama. Untuk itu maka setiap prajurit di semua jajaran satuan Angkatan Darat harus memiliki lima kemampuan teritorial yang melekat. Dengan demikian maka satuan-satuan Angkatan Darat akan mudah diterima masyarakat setempat dan akan mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat. Kelima, adanya kebebasan bertindak. Struktur organisasi satuan-satuan Angkatan Darat harus disusun sedemikian rupa, sehingga memiliki kebebasan bergerak di medan tempur. Dengan kebebasan bergerak yang dimilikinya, satuan-satuan Angkatan Darat akan dapat melakukan pendadakan strategis, operasional maupun pendadakan taktis dengan lebih baik.
Organisasi Angkatan Darat harus digelar sesuai dengan konstelasi geografis, sehingga satuan-satuan Angkatan Darat dapat memberikan respons segera terhadap ancaman yang akan mengusik kedaulatan NKRI dari manapun datangnya. Untuk itu, perumusan kebijakan yang berkaitan dengan disposisi satuan harus memerhatikan asas-asas operasi militer yang meliputi asas tujuan, offensive, pemusatan, penghematan, manuver, kesatuan komando, keamanan, pendadakan dan kesederhanaan.3 Untuk itu perlu dipertimbangkan
redislokasi satuan-satuan Angkatan Darat dari Pulau Jawa ke tempat lain untuk menyebarkan decisive points dalam peperangan masa depan.
Dalam konteks sistem pertahanan semesta, penyebaran pasukan menjadi salah satu faktor penting yang membentuk sifat kewilayahan dan kesemestaan perlawanan Angkatan Darat. Penyebaran tidak berarti meratakan jumlah satuan di semua mandala operasi, tetapi harus memperhitungkan faktor operasional seperti kemungkinan datangnya musuh dan disposisi pusat kekuatan Angkatan Darat sendiri serta faktor operasional lainnya. Maka dari itu, rencana redislokasi pasukan Angkatan Darat harus dilakukan secara seksama dan memperhitungkan semua faktor operasional tersebut.
Dihadapkan dengan sistem pertahanan semesta, transformasi dibidang organisasi harus diarahkan untuk meningkatkan sustainabilitas dan survivabilitas satuan-satuan Angkatan Darat dalam penyelenggaraan perang berlarut. Untuk itu, perlu dilakukan revitalisasi doktrin perang berlarut (misalnya: taktik gerilya dan lawan gerilya) dan mengintegrasikannya dalam struktur organisasi satuan-satuan taktis. Salah satu contoh pengintegrasian doktrin perang berlarut adalah melengkapi struktur organisasi satuan taktis dengan kerangka oganisasi satuan gerilya yang harus dibentuk manakala terjadi perlawanan berlarut.
Selain apek struktural, transformasi organisasi juga harus menyentuh aspek kultural (budaya organisasi). Budaya organisasi sangat penting karena berkaitan dengan perilaku manusia sebagai agen perubahan. Budaya organisasi yang baik akan menjadi faktor pendorong bagi berlangsungnya proses perubahan secara signifikan. Organisasi Angkatan Darat harus diarahkan sedemikian rupa, sehingga menjadi learning
orgaization, yaitu suatu organisasi yang secara terus-menerus mentransformasi pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat diakses oleh seluruh anggota organisasi, sehingga berguna bagi pengembangan organisasi tersebut dalam menghadapi tantangan masa depan.4
Untuk membentuk organisasi belajar, Angkatan Darat harus melakukan rekulturisasi untuk menyatukan karakter prajurit dalam rangka meningkatkan kualitas organisasi Angkatan Darat secara keseluruhan. Sebagai organisasi belajar, Angkatan Darat harus mengadopsi berbagai pengalaman organisasi menjadi taktik, teknik dan prosedur baru dalam rangka meningkatkan kemampuan dan mutu tempurnya. Untuk itu perlu dibentuk pemimpin lapangan yang mampu menumbuhkan suasana kondusif, dimana setiap orang dalam organisasi Angkatan Darat benar-benar menghargai pengetahuan serta memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas kemampuan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Sebagai salah satu subsistem dari sistem operasi tempur (battle operating system), organisasi harus dilihat sebagai sesuatu yang dinamis, karena di dalamnya terdapat prajurit yang memiliki daya cipta dan daya karsa. Organisasi belajar, adalah organisasi yang secara terus-menerus mentransformasi pengalaman menjadi pengetahuan yang digunakan bagi pengembangan organisasi tersebut sehingga dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Guna mewujudkan organisasi Angkatan Darat sebagai organisasi belajar, maka para pemimpin organisasi pada semua tingkatan harus didorong agar (1) senantiasa memberikan perhatian, mengukur dan mengendalikan perilaku anggotanya agar memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan organisasi; (2) mengaktualisasikan kemauan dan keberanian untuk memberikan koreksi terhadap perilaku prajurit yang tidak mendukung kemajuan organisasi; (3) mampu menjadi contoh bagi para pemimpin bawahannya dan melatih mereka untuk senantiasa berperan aktif dalam pengembangan organisasi; (4) memberikan rewards yang sepadan terhadap prestasi-prestasi yang berhasil diraih oleh para pemimpin bawahan serta berusaha mendorong para pemimpin bawahan untuk menemukan metode-metode baru dalam memecahkan masalah organisasional.
Dimensi Latihan.
Secara normatif, latihan satuan jajaran Angkatan Darat dapat dilaksanakan dan mencapai program-program yang telah disusun setiap tahunnya. Namun demikian, hasil akhir latihan tersebut tidak tercermin pada kemampuan operasional satuan dalam pelaksanaan tugas-tugas di lapangan. Hal tersebut mencerminkan adanya masalah mendasar dibidang latihan yang harus mendapat prioritas pemecahan. Salah satu masalah menonjol adalah belum adanya kesinambungan antara materi latihan dengan tugas-tugas yang dihadapi satuan di daerah operasi. Hal ini mengakibatkan para prajurit dan komandan lapangan banyak menghadapi kendala taktis dalam pelaksanaan operasi, karena apa yang mereka temui di daerah penugasan tidak seperti yang mereka terima di daerah latihan.
Masalah berikutnya yang juga perlu mendapat perhatian adalah perilaku sebagian pemimpin lapangan yang kurang serius dalam menangani masalah latihan. Latihan dilaksanakan sekedar memenuhi program tahunan, sehingga tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan satuan. Padahal, setiap prajurit harus mengerti bahwa tugas utama mereka adalah berlatih, bertempur dan memenangkan pertempuran. Keberhasilan dalam pertempuran tidak datang begitu saja tetapi hanya mungkin dicapai dengan latihan yang realistis, keras dan menantang. Latihan yang realistis akan membiasakan para prajurit dan pemimpin lapangan pada tugas-tugas pertempuran yang sebenarnya. Latihan yang keras akan membuat para prajurit dan pimpinan di lapangan terbiasa menghadapi friksi5 yang disebabkan oleh kesulitan dan
ketidakmenentuan dalam pertempuran. Sedangkan latihan yang menantang akan memberikan rangsangan kepada para prajurit dan pemimpin lapangan untuk mencari metode-metode baru dalam mengatasi masalah yang dihadapi di medan pertempuran.
Untuk mewujudkan latihan yang realistis, keras dan menantang, maka upaya transformasi pada dimensi latihan diarahkan pada penataan sistem pembinaan latihan Angkatan Darat pada semua tingkatan. Upaya ini harus terintegrasi dengan transformasi bidang-bidang lain, terutama bidang doktrin. Apabila transformasi dibidang doktrin telah berjalan dengan baik, perubahan yang terjadi akibat dinamika perkembangan lingkungan strategis akan dapat diadopsi dalam doktrin. Perubahan yang terjadi pada doktrin harus sesegera mungkin diintegrasikan dalam sistem pembinaan latihan agar setiap prajurit dan pimpinan di lapangan sesegera mungkin beradaptasi dengan metode pertempuran baru yang dihasilkan oleh transformasi doktrin. Dengan demikian maka metode dan substansi latihan satuan
akan mengalami perkembangan secara dinamis dan tidak akan terjadi stagnasi dalam pengembangan kemampuan prajurit dan satuan.
Hal ini menuntut upaya resiprokal antara kegiatan pembinaan latihan di satu sisi dengan pembinaan doktrin di sisi yang lain. Upaya tersebut secara tidak langsung akan membantu pembina latihan dalam menyelaraskan peranti lunak bidang latihan dengan doktrin operasional yang berlaku. Sebaliknya, para pembina doktrin harus bekerja sama dengan pembina latihan untuk menguji doktrin baru yang diekstraksi dari pengalaman di medan operasi. Dengan adanya kerjasama semacam ini, konsep-konsep pertempuran kontemporer yang telah diadopsi dalam doktrin dapat diperkenalkan kepada prajurit secara dini, sehingga akan mengurangi deviasi antara doktrin-latihan
-operasi.
Pada tataran satuan, setiap komandan harus menyusun daftar panjang yang berisi tugas-tugas esensial satuan di medan tempur (mission essential
tasks). Daftar itulah yang akan dijadikan acuan bagi komandan dan staf dalam menyusun rencana-rencana latihan bagi para prajurit dan satuannya. Dengan adanya daftar tugas esensial, maka apa yang dilatihkan akan selaras dengan apa yang akan dilakukan dalam pertempuran. Selain berorientasi pada pertempuran, latihan harus sesuai dengan doktrin yang dianut Angkatan Darat, yaitu doktin sistem pertahanan semesta yang menuntut para prajurit tidak hanya mahir bertempur secara konvensional, tetapi juga mampu melakukan pertempuran berlarut dalam peperangan asimetrik.
Keberadaan Angkatan Darat adalah untuk menangkal perang dan mewujudkan perdamaian melalui kemenangan di medan pertempuran. Agar penangkalan dapat mencapai hasil yang baik, maka musuh harus mengetahui bahwa Angkatan Darat memiliki ketangguhan dan mampu memenangkan setiap pertempuran. Hal itu hanya mungkin dicapai apabila para prajurit dan satuan Angkatan Darat dilatih dengan benar. Latihan yang benar harus dimulai dengan konsep latihan yang berorientasi tempur (battle oriented training). Artinya, prioritas latihan satuan diarahkan pada pencapaian standar yang berlaku dalam pertempuran. Orientasi tempur dalam latihan akan memberikan pedoman kepada para komandan untuk mengerahkan sumberdaya yang tersedia dan menyusun rencana latihan berdasarkan apa yang akan dilakukan oleh satuan di medan pertempuran.
Dimensi Personel.
Manakala kita merujuk pada sistem pertahanan semesta, klausul yang mengatakan bahwa “Alutsista
Angkatan Darat adalah prajurit” adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri. Oleh karenanya, pembinaan personel Angkatan Darat harus menghasilkan the man behind the gun yang mampu mengawaki organisasi secara berhasil dan berdaya guna. Dalam kenyataannya, sistem pembinaan personel Angkatan Darat masih menghadapi beberapa masalah mendasar yang menyebabkan kinerja organisasi Angkatan Darat kurang optimal. Oleh karena itu, transformasi pada dimensi personel harus dititikberatkan pada berbagai aspek pembinaan personel.
Pada aspek pembinaan kekuatan personel, masalah yang sangat menonjol adalah ketidakseimbangan komposisi personel dalam struktur organisasi. Misalnya, penumpukan personel berpangkat kolonel karena ketidakcukupan ruang jabatan dihadapkan dengan jumlah personel yang ada. Masalah berikutnya adalah rendahnya kualitas sistem informasi kekuatan personel. Meskipun telah didukung dengan peranti keras teknologi informasi yang memadai, namun pembinaan data personel tidak berlangsung dengan baik. Perbedaan data personel selalu terjadi pada semua tingkatan, baik di tingkat Mabesad maupun Kotama. Lemahnya pengendalian sistem informasi personel merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah ini. Sampai saat ini Angkatan Darat tidak memiliki basis data personel yang dapat digunakan untuk semua kepentingan yang berkaitan dengan personel, misalnya pembinaan kekuatan, pembinaan karier, pembinaan kesejahteraan prajurit dan sebagainya.
Aspek pembinaan personel lain yang cukup menonjol adalah masalah pembinaan karier. Konsep the right man on the right place belum terwujud karena belum didukung dengan sistem pembinaan karier yang akuntabel. Disisi lain, masih ada kepentingan diluar sistem pembinaan karier yang ikut memengaruhi proses penempatan personel, terutama pada jabatan-jabatan tertentu dalam struktur organisasi Angkatan Darat. Kondisi ini pada gilirannya berpengaruh pada kinerja organisasi secara keseluruhan. Pada perspektif individu, pembinaan karier harus dapat memperkaya pengalaman dan meningkatkan kompetensi perwira sesuai jenjang kepangkatannya. Pada perspektif organisasi, pembinaan karier harus menempatkan perwira-perwira terbaik Angkatan Darat pada jabatan-jabatan strategis, sehingga tugas-tugas Angkatan Darat dapat dicapai secara optimal. Konsep tour of duty dan tour of area harus diimplementasikan secara benar dengan mempertimbangkan merit system.
Transformasi pada dimensi personel harus dimulai dari perbaikan sistem rekruitmen, terutama membersihkan proses rekruitmen dari spekulasi yang dilakukan oleh oknum anggota yang terkait dalam
proses rekruitmen. Sampai saat ini, masyarakat percaya bahwa pendaftaran untuk menjadi prajurit Angkatan Darat memang tidak dipungut biaya, tetapi untuk
diterima sebagai prajurit Angkatan Darat, mereka perlu membayar kepada oknum yang “bisa meluluskan”. Perbaikan dibidang ini akan memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas prajurit, karena rekruitmen merupakan titik awal dari siklus pembinaan personel. Pembinaan kekuatan personel perlu dirumuskan secara sinergis dengan penyusunan organisasi Angkatan Darat secara keseluruhan, karena kedua bidang tersebut memiliki kaitan yang sangat erat.
Pembenahan sistem pendidikan harus dilakukan berdasarkan prioritas. Prioritas pertama yang perlu segera ditangani adalah pendidikan pertama. Para peserta didik (calon prajurit) akan menerima penanaman nilai-nilai dasar keprajuritan yang akan dibawa sampai akhir masa pengabdian. Oleh karena itu, para pelatih di lembaga pendidikan yang membentuk para prajurit harus benar-benar dipilih dari para pelatih terbaik di satuan. Selain melatih, mereka adalah sosok prajurit yang menjadi “figur” prajurit ideal yang akan terus diingat oleh para calon prajurit. Metode pendidikan yang sudah tidak relevan harus ditinjau kembali dan dilakukan perubahan dengan melibatkan banyak pihak terkait, terutama Dispsiad. Sebagaimana kita maklumi, pendidikan pertama prajurit pada dasarnya adalah pembentukan sikap dan perilaku masyarakat umum yang terpilih menjadi prajurit.
Pendidikan pengembangan spesialisasi juga perlu diperluas cakupannya dengan memperkenalkan para peserta didik terhadap materi taktik, teknik dan prosedur antar kecabangan, terutama untuk pendidikan pengembangan spesialisasi perwira. Dengan demikian, maka para Perwira akan mampu membangun integrasi antar kecabangan dalam mengatasi masalah taktis di lapangan. Hal ini diperlukan karena operasi darat pada hakekatnya merupakan sistem yang terbangun dari beberapa subsistem yang saling terkait. Selain cakupan materinya, perubahan juga perlu dilakukan pada aspek metode pengajaran. Sistem pendidikan perwira Angkatan Darat harus dapat mencetak “seniman perang yang berilmu”, bukannya “ilmuwan perang”. Ilmuwan perang dapat dihasilkan oleh perguruan tinggi sipil, tetapi seniman perang hanya bisa dihasilkan dalam institusi militer. Untuk menghasilkan seniman perang, lembaga pendidikan di lingkungan Angkatan Darat harus dapat mengembangkan intuisi dan naluri perang para Perwira dengan menggunakan metode pengajaran yang tepat. Oleh karenanya, metode pengajaran yang membuat para perwira menjadi “penghafal” sejauh mungkin harus dihindari. Para Perwira harus dididik menjadi pemimpin yang dapat berpikir cepat dan kreatif manakala menghadapi permasalahan di lapangan.
Dimensi Materiil.
Materiil merupakan salah satu elemen penting dalam membentuk kemampuan operasional Angkatan Darat. Oleh karena itu, Angkatan Darat harus dilengkapi dengan materiil yang memadai secara kualitas maupun kuantitas. Pada kenyatannya, kondisi materiil Angkatan Darat saat ini belum dapat diandalkan untuk mendukung strategi militer dalam rangka menegakkan kedaulatan negara. Ini bisa dilihat dari usia pakai peralatan utama sistem senjata yang dimiliki Angkatan Darat saat ini. Belum tercapainya minimum essential force merupakan kendala bagi Angkatan Darat untuk melaksanakan tugas-tugas operasional dalam rangka penegakan kedaulatan NKRI. Apabila menilik lebih dalam dari aspek kualitas maka kendala tersebut menjadi semakin besar. Sebagian Alutsista Angkatan Darat telah berusia tua dan tidak dapat diandalkan. Dengan bertambahnya usia pakai maka biaya operasional menjadi semakin mahal, yang pada gilirannya akan mengurangi kemampuan operasional Angkatan Darat. Selama beberapa tahun terakhir, keterbatasan anggaran telah menyebabkan program pengadaan Alutsista Angkatan Darat belum dapat meningkatkan kuantitas Alutsista untuk memenuhi kebutuhan operasional. Ironisnya, anggaran yang sudah terbatas tersebut tidak dimanfaatkan secara tepat untuk mengadakan Alutsista yang benar-benar diperlukan untuk meningkatkan mutu tempur satuan. Selama bertahun-tahun, anggaran Alutsista “dihambur-hamburkan” untuk membeli peralatan yang tidak benar-benar diperlukan dengan bersembunyi dibalik “aturan pengadaan”.
Dihadapkan dengan kemampuan pemerintah untuk menyediakan anggaran pertahanan, Angkatan Darat harus melakukan modernisasi Alutsista untuk memenuhi kebutuhan minimum essential force. Pemenuhan jumlah dan mutu Alutsista menjadi salah satu prasyarat penting dalam proses transformasi Angkatan Darat. Dalam perspektif Angkatan Darat, standar jumlah Alutsista yang memadai untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok Angkatan Darat adalah minimum essential force. Maka penggantian Alutsista lama merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Penggantian Alutsista tersebut harus dilakukan dengan cermat dan diikuti dengan pengembangan doktrin dan organisasi. Para perancang doktrin dan organisasi harus dilibatkan secara aktif dalam pengadaan Alutsista Angkatan Darat karena perubahan kemampuan Alutsista harus diwadahi dalam doktrin, sehingga dapat didayagunakan secara optimal di lapangan.
Ditengah terbatasnya anggaran, Angkatan Darat harus mengembangkan inovasi dan kreativitas guna
menggandakan kemampuan Alutsista yang ada. Fungsi penelitian dan pengembangan di lingkungan Angkatan Darat harus diberdayakan secara optimal agar dapat menghasilkan rancang bangun teknologi militer aplikatif yang murah. Kerjasama Angkatan Darat dengan industri strategis dalam negeri harus diperluas pada kerjasama penelitian dan pengembangan. Kerjasama yang dimulai dari proses penelitian dan pengembangan akan menghasilkan produk-produk yang lebih aplikatif dan memenuhi kebutuhan operasional Angkatan Darat. Di sisi lain, ongkos produksi dapat ditekan karena berkurangnya biaya overhead untuk penelitian dan pengembangan. Pengadaan payung udara orang type GP-1 buatan Tulungagung adalah contoh sukses kolaborasi penelitian pengembangan industri dalam negeri dengan Angkatan Darat.
Dimensi Kepemimpinan.
Pada saat ini sulit untuk mengukur kompetensi kepemimpinan Angkatan Darat karena belum adanya alat ukur yang valid, accountable dan reliable. Masih banyak pemimpin Angkatan Darat pada semua tataran yang belum memiliki kesadaran untuk mengimplementasikan karakter kepemimpinan dengan baik. Hal ini terindikasi oleh perilaku negatif pemimpin, antara lain perilaku ekseklusifisme yang lebih menonjolkan semangat ‘saya’ dari pada ‘kita’ serta lebih mengedepankan tujuan jangka pendek dari pada tujuan jangka panjang.
Kompetensi pemimpin Angkatan Darat pada semua tataran masih belum memadai. Misalnya pada tataran operasional, indikasi rendahnya kualitas pemimpin operasional terlihat pada produk-produk operasional yang tidak aplikabel. Sejak keberhasilan operasi Trikora, harus jujur diakui bahwa pemimpin operasional Angkatan Darat belum mewarisi keterampilan para pendahulunya. Dalam operasi tempur di Timor Timur yang digelar selama dua dekade dan operasi di Aceh selama satu dekade lebih, para pemimpin operasional Angkatan Darat tidak berhasil membuktikan keunggulannya. Setidaknya ada dua faktor penyebab kurang andalnya kompetensi kepemimpinan di lingkungan Angkatan Darat.
Pertama, belum terstrukturnya sistem pengembangan kepemimpinan di satuan-satuan Angkatan Darat. Kedua, belum tersinkronisasinya mekanisme pengembangan kepemimpinan dalam sistem pendidikan di lingkungan Angkatan Darat. Absennya doktrin kepemimpinan yang representatif untuk dijadikan panduan bagi para Perwira Angkatan dalam melaksanakan peran kepemimpinannya.
Kita mungkin boleh berbangga atas pujian masyarakat terhadap kader-kader Angkatan Darat yang
berhasil di kancah nasional. Namun apabila dihadapkan pada tuntutan agar menjadi organisasi militer kelas dunia, maka kita perlu melakukan langkah-langkah strategis untuk mengembangkan sistem pendidikan yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin kompeten untuk mengawaki organisasi Angkatan Darat pada semua tataran. Para pemimpin lapangan harus mampu memvisualisasikan lingkungan operasi yang dihadapi dan mengartikulasikannya dalam rencana operasi. Kemudian memimpin pelaksanaan tugas-tugas operasional secara berdaya dan berhasil guna. Agar dapat diandalkan, Angkatan Darat memerlukan pemimpin-pemimpin kompeten yang dibentuk melalui proses pengembangan kepemimpinan yang terukur. Kompetensi pemimpin di jajaran Angkatan Darat dapat ditinjau berdasarkan tiga aspek. Pertama, ditinjau dari aspek sifat-sifat kepemimpinan (to be), pemimpin yang kompeten akan memancarkan karakter yang kuat dan senantiasa menunjukan sifat-sifat kepemimpinan yang baik seperti loyalitas tiga arah, tanggung jawab, dapat bekerja sama, menjaga kehormatan, berani, memiliki integritas dan sebagainya. Kedua, ditinjau dari aspek wawasan pengetahuan (to know), setiap pemimpin harus berpikir konseptual dan mampu melihat organisasi sebagai sistem serta mampu berpikir dalam multidimensi. Pemimpin juga dituntut memiliki kemauan untuk berfikir sebelum bertindak karena permasalahan yang dihadapi di satuan relatif kompleks. Disamping itu setiap pemimpin harus memiliki pemahaman yang baik tentang seluk beluk hubungan interpersonal, sehingga dapat berkomunikasi dengan para anggota, rekan sejawat dan atasannya dengan baik. Ketiga, ditinjau dariaspek keterampilan (to do), setiap pemimpin harus memiliki tiga kemampuan yang sangat mendasar. Pertama, mampu memengaruhi (influencing) melalui komunikasi untuk memotivasi orang lain. Kedua, mampu mengembangkan (developing) yaitu menciptakan lingkungan yang positif bagi pengembangan organisasi, pengembangan diri dan pengkaderan pemimpin berikutnya. Ketiga, mampu meraih prestasi (achieving) dalam pelaksanaan tugas dan mencapai tujuan organisasi.
Transformasi Angkatan Darat pada dimensi kepemimpinan harus dapat merumuskan konsep pengembangan pemimpin yang diletakkan diatas tiga pilar yang meliputi pendidikandi lembaga pendidikan,
penugasan di satuan serta pengembangan pribadi.6
Ketiga pilar tersebut saling terkait, sehingga harus ditata dengan baik agar terbentuk sistem pengembangan pemimpin yang berkesinambungan. Konsep pengembangan pemimpin tersebut harus terwadahi dalam Buku Petunjuk tentang Kepemimpinan Angkatan Darat yang merupakan bagian integral dari bangunan doktrin Angkatan Darat.
Pilar pertama adalah pengembangan pemimpin di lembaga pendidikan. Pilar ini menyediakan pengetahuan dan keterampilan sebagai landasan bagi proses pengembangan pemimpin di satuan. Pendidikan pengembangan umum perwira harus bisa menjadi wahana penggemblengan kader-kader pemimpin Angkatan Darat. Sussarcab, Selapa dan Seskoad tidak hanya memberikan bekal kemampuan teknis, taktis dan operasional dibidang olah yudha tetapi yang lebih penting adalah mengubah sikap dan perilaku kepemimpinan para Perwira Siswa sesuai tatarannya. Proporsi materi kepemimpinan dalam kurikulum pendidikan pengembangan umum perwira perlu diperbesar dan disajikan dengan metode yang dapat menjamin internalisasi nilai-nilai kepemimpinan sekaligus dapat meningkatkan kompetensi kepemimpinan para perwira lulusan pendidikan pengembangan umum tersebut.
Pilar kedua adalah penugasan di satuan yang merupakan wahana untuk mengubah potensi menjadi kompetensi perwira sebagai pemimpin lapangan. Pilar ini memberikan pendewasaan para perwira karena harus menghadapi persoalan-persoalan teknis, taktis dan operasional yang memerlukan pemecahan segera. Pengembangan pemimpin di satuan harus terformat dengan jelas dan terukur. Para Komandan Satuan berkewajiban mengembangkan kepemimpinan para perwira bawahannya dengan menggunakan teknik-teknik mentoring, coaching atau counseling sesuai kebutuhan di lapangan.
Pilar ketiga adalah pengembangan diri yang dilakukan oleh masing-masing perwira. Pilar ini difokuskan pada maksimalisasi keunggulan dan minimalisasi kelemahan perorangan, yang dilakukan secara berkesinambungan, baik selama mengikuti pendidikan maupun selama berada di lingkungan penugasan. Meskipun menjadi tanggung jawab individu, para atasan bertanggung jawab moral untuk memberikan bimbingan kepada perwira bawahannya berdasarkan asas “silih asih, asah dan asuh”.
Dalam proses pengembangan pemimpin, keberadaan doktrin kepemimpinan menjadi sangat
Transformasi Angkatan Darat
pada dimensi kepemimpinan harus dapat
merumuskan konsep pengembangan
pemimpin yang diletakkan diatas tiga pilar
yang meliputi
pendidikan
di lembaga
pendidikan
,
penugasan di satuan
krusial. Pemimpin yang berkarakter memang tidak dibentuk oleh doktrin, namun bukan berarti doktrin kepemimpinan itu tidak diperlukan. Dalam organisasi militer yang di negara manapun doktrin kepemimpinan berperan penting dalam rangka pembentukan karakter pemimpin. Doktrin kepemimpinan berperan memberikan framework tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh para pemimpin militer mulai dari tingkat strategis sampai pemimpin taktis. Disamping itu, doktrin kepemimpinan juga memberikan panduan kepada pemimpin dalam rangka mengembangkan kualitas pribadinya dan para pemimpin bawahannya. Doktrin kepemimpinan yang representatif setidaknya memuat beberapa aspek berikut:
Definisi kepemimpinan khas Angkatan Darat sesuai dengan jati diri yang digali dari sejarah perjuangan bangsa. Pendefinisian kepemimpinan Angkatan Darat sebaiknya mempertimbangkan konsep kepemimpinan militer universal yang berlaku di negara manapun.
Landasan kepemimpinan yang mengakomodasi nilai-nilai kejuangan yang telah terbukti memberikan inspirasi bagi pemimpin Angkatan Darat dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Peran pemimpin dalam menjalankan roda organisasi Angkatan Darat pada masa damai maupun perang.
Kompetensi inti yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin Angkatan Darat agar dapat menjalankan peran kepemimpinannya secara efektif. Kompetensi inti harus mencakup sifat, karakter pemimpin, pengetahuan kepemimpinan dan keterampilan memimpin.
Stratifikasi kepemimpinan di lingkungan Angkatan Darat dan tanggung jawab masing-masing strata kepemimpinan.
Pedoman umum pengembangan kepemimpinan yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi para pemimpin Angkatan Darat pada semua strata dalam rangka mengembangkan diri dan mengembangkan pemimpin bawahannya.
PELUANG DAN KENDALA.
Peluang.
Dinamika perkembangan lingkungan strategis selama satu dekade terakhir telah memberikan peluang bagi Angkatan Darat untuk melakukan transformasi guna meningkatkan penyelenggaraan core business-nya. Setidaknya ada lima hal yang dapat mengindikasikan adanya peluang tersebut.
Pertama, dukungan rakyat terhadap Angkatan Darat mulai mengkristal semenjak terjadinya pelanggaran wilayah perbatasan oleh negara tetangga. Dengan dukungan ini, Angkatan Darat sebenarnya memiliki kesempatan untuk mulai perubahan dan menunjukkannya kepada masyarakat.
Kedua, tekanan-tekanan LSM dalam negeri maupun internasional terhadap Angkatan Darat mulai berkurang, bahkan mereda dengan sendirinya ketika dukungan masyarakat terhadap Angkatan Darat mulai menguat. Dari kondisi tersebut, dapat diindikasikan bahwa pembangunan kemampuan Angkatan Darat telah memiliki basis kerakyatan.
Ketiga, adanya kecenderungan meningkatnya dukungan anggaran pemerintah dibidang pertahanan. Peluang ini harus disambut baik oleh pemimpin Angkatan Darat untuk menyusun program-program pembinaan kemampuan yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Keempat, adanya infrastruktur sistem informasi yang memadai di lingkungan Angkatan Darat merupakan wahana yang dapat dimanfaatkan untuk membangun budaya belajar di lingkungan perwira dan seluruh prajurit. Terbentuknya budaya belajar dalam organisasi merupakan investasi yang diperlukan bagi organisasi untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
Kelima, terbukanya kerjasama dibidang pertahanan dengan negara-negara lain merupakan peluang bagi personel Angkatan Darat untuk melakukan bench marking guna meningkatkan kemampuan Angkatan Darat. Mereka yang telah diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan latihan di luar negeri berpotensi sebagai agen perubahan.
Kendala.
Kendala utama yang mungkin akan menjadi penghambat dalam proses transformasi kedepan adalah kendala kultural, yaitu budaya negatif yang berkembang di komunitas perwira Angkatan Darat. Kendala ini lahir dari cara berpikir dan perilaku Perwira yang tidak kondusif. Salah satu budaya yang sangat menonjol adalah pemaknaan “loyalitas tegak lurus” sebagai loyalitas kepada atasan saja, sehingga hampir setiap pimpinan pada semua lapisan organisasi mengorientasikan loyalitasnya lebih kepada atasan. Setiap pemikiran yang datang dari atasan dianggap sebagai kebenaran, sehingga tidak terbuka ruang untuk melakukan perubahan, kecuali oleh atasan. Padahal makna tegak lurus adalah pertemuan antara garis mendatar dan garis tegak, yang berarti adanya loyalitas ke atas, samping dan bawah. Dalam kaitan transformasi, perilaku ini akan menjadi hambatan bagi munculnya pemikiran kreatif dari para perwira yang “think outside the box”.
Budaya negatif yang juga cukup menonjol di lingkungan perwira Angkatan Darat adalah budaya “memerintah” yang bersumber dari pemahaman keliru tentang konsep rantai komando. Dengan budaya ini, banyak tugas-tugas penting yang menuntut pemikiran
strategis tidak tertangani dengan baik dan benar karena diserahkan kepada bawahan yang tidak kompeten. Sebagai ilustrasi, produk perencanaan strategis yang seharusnya merupakan buah pikir para pemimpin strategis akhirnya kandas di tangan para pemikir taktis. Maka tidak mengherankan apabila konsep-konsep strategis Angkatan Darat “tidak berbunyi” karena para perumusnya tidak memiliki kompetensi yang memadai.
Budaya “keseragaman” seringkali diterapkan dalam konteks yang tidak tepat, sehingga menghambat pemikiran kreatif dan inovatif para perwira dalam merumuskan konsep-konsep baru, terutama dalam penyusunan doktrin. Bisa dibayangkan, penyusunan Buku Petunjuk Teknik tentang Pertempuran Jarak Dekat harus dibuat dengan format penulisan yang sama dengan Buku Petunjuk tentang Pembuatan Pertanggungjawaban Keuangan (Wabku), karena keduanya sama-sama Buku Petunjuk Teknik yang mengatur kegiatan. Apabila budaya keseragaman seperti ini terus dipertahankan, maka transformasi Angkatan Darat tidak akan mencapai sasaran yang diinginkan.
LANGKAH-LANGKAH STRUKTURAL UNTUK MELAKUKAN TRANSFORMASI.
Agar bergerak pada arah yang benar, transformasi Angkatan Darat harus dipandu oleh visi yang baik dan diartikulasikan secara jelas. Menurut para ahli organisasi, visi memainkan peran kunci dalam merumuskan masa depan organisasi, yaitu sebagai penjuru bagi proses perumusan strategi. Strategi memberikan kerangka untuk mencapai tujuan, sedangkan visi memberikan arah bagi tercapainya tujuan. Strategi yang baik hanya akan lahir dari visi yang baik, maka Angkatan Darat harus merumuskan visi melalui studi mendalam terhadap lingkungan strategis dan tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang.
Rumusan visi yang baik saja tidak cukup tanpa adanya perencanaan dan program yang terintegrasi untuk mengimplementasikan konsep-konsep perubahan dibidang doktrin, organisasi, latihan, personel, materiil dan kepemimpinan. Konsep perubahan tersebut harus terangkum dalam rencana garis besar transformasi Angkatan Darat yang akan dijadikan acuan bagi Staf Umum Angkatan Darat dalam melaksanakan program-progam pembinaan kemampuan dan kekuatan Angkatan Darat.
Untuk menjamin berlangsungnya transformasi secara efektif maka perlu dibentuk satu badan (misalnya: Pusat Transformasi Angkatan Darat) yang berfungsi merencanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan jalannya transformasi Angkatan Darat secara keseluruhan. Badan ini akan lebih efektif apabila
berbentuk staf khusus yang dipimpin seorang Perwira Tinggi yang bertanggung jawab langsung kepada Kasad. Adapun langkah-langkah strategis yang disarankan adalah:
Penyusunan Konsep Transformasi Angkatan Darat. Konsep ini disusun oleh Pusat Transformasi Angkatan Darat dan merupakan dokumen utama transformasi Angkatan Darat yang akan dijadikan pedoman dalam perumusan perencanaan dan program transformasi oleh masing-masing pelaksana fungsi-fungsi pembinaan di lingkungan Angkatan Darat. Dokumen ini berisi strategi transformasi dan petunjuk perencanaan untuk penyusunan peta jalan transformasi. Dokumen ini bersifat strategis, sehingga harus disusun sedemikian rupa sehingga tetap fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis.
Penyusunan Peta Jalan Transformasi. Dokumen ini disusun oleh Kodiklat TNI AD, berisi pokok-pokok penyelenggaraan transformasi pada tataran operasional. Selain berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan transformasi di tingkat Angkatan Darat, dokumen ini juga digunakan sebagai alat kendali pelaksanaan transformasi pada tingkat yang lebih rendah. Dalam dokumen ini harus tergambar secara jelas tentang konsep pengembangan kemampuan Angkatan Darat. Peta Jalan transformasi akan menentukan keberhasilan dalam mewujudkan kemampuan antar kecabangan/fungsi. Oleh karena itu, implementasi Peta Jalan Transformasi harus konsisten dan dikoordinasikan secara ketat diantara pembina lapangan kekuasaan teknis masing-masing.
Penyusunan Rencana Aksi Transformasi. Dokumen ini disusun oleh para pembina Lapangan Kekuasaan Teknis yang secara langsung akan melakukan program dan kegiatan transformasi sesuai dengan kecabangan/ fungsi masing-masing. Dokumen ini harus menjelaskan secara detail tentang sasaran dan langkah-langkah perubahan terhadap setiap dimensi transformasi disertai dengan pentahapan dan batas waktu pencapaian sasaran.
Untuk menjamin pencapaian sasaran, maka perlu dilakukan evaluasi secara berkala. Evaluasi ini dilakukan setiap tahun melalui lokakarya yang melibatkan pihak-pihak terkait untuk menilai kemajuan transformasi yang telah dicapai selama tahun berjalan. Hasil evaluasi ini akan digunakan Kasad sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan strategis yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan Angkatan Darat. Disamping itu, hasil evaluasi juga digunakan untuk menyempurnakan strategi transformasi yang tertuang dalam Konsep Transformasi Angkatan Darat. Hasil-hasil evaluasi harus dicatat secara sistematis
agar dapat digunakan sebagai pedoman bagi proses pengembangan lanjutan.
Endnotes.
1. Mabes TNI, “Naskah Doktrin Tri Dharma Eka Karma”, hal. 6
2. Stephen Cimeala dan James Tritten, “Joint Doctrine, Engine of Change?”, Joint Force Quarterly, Winter 2002-2003, hal 90-95.
3. US Army FM 3-0, “Operation”, Washington DC, 2008, lampiran-A.
4. Peter Senge, dikutip oleh Jack Gumbert dalam
RIWAYAT HIDUP SINGKAT PENULIS
I. Data Pokok.
1. Nama : Sisriadi
2. Pangkat/NRP : Brigjen TNI/30913 3. Tempat/Tgl. Lahir : Tegal/15-07-1963
4. Agama : Islam
5. Status : Kawin
6. Sumber Pa/Th : AKABRI/1986
7. Jabatan : Dirtekind Ditjen Pothan Kemhan RI II. Pendidikan. A. Dikbangum. 1. AKABRI : 1986 2. Sussarcab Arh : 1986 3. Suslapa I Art : 1991 4. R.O.A.C (Australia) 5. Diklapa II Arh : 1996 6. Seskoad : 2001 7. Command General
Staff College (USA) : 2005
8. Sesko TNI : 2009 B. Dikbangspes. 1. Young Off, Joining Rapier : 1987 2. Suspa Intel : 1993 3. Executive Course (APCSS) : 2007
III. Riwayat Penugasan. A. Dalam Negeri. 1. Operasi Perdamaian : 1997 2. Operasi Perdamaian : 1999 3. Opslihkam Maluku : 2003 B. Luar Negeri. 1. Inggris 2. Australia 3. Inggris 4. Kroatia 5. Georgia 6. Australia 7. Amerika Serikat 8. Amerika Serikat
IV. Riwayat Jabatan.
1. Dantonmer L-70 Yonarhanudri-3 2. Danton Rud. Denarhanudrudal-002 3. Padalpur Denarhanud Rudal-002 4. Danramil-1007-04
5. Pasi Intel Dim-1007/Bjm 6. Wadanden Arhanud Rudal-001 7. Ps. Kasisat Bagbinsat Pussenart 8. Kasisat Bagbinsat Pussenart 9. Kabagbinsat Arhanud Pussenart 10. Danyon Arhanud Ri-2 Kostrad 11. Pabandya-2/Kompres Spaban I/Ren 12. Sespri Kasad
13. Dirbinlitbang Pussenarhanud
14. Dirbinsen Pussenarhanud Kodiklat TNI AD 15. Paban V/Dalada Slogad
16. Kadispenad
17. Dirtekind Ditjen Pothan Kemhan RI
“Learning Organization and Operational Level
Leadership”, SAMS, Fort Leavenworth, USA, 1996, hal.6 5. Menurut Clausewitz dalam bukunya On War (hal 138), friksi digambarkan sebagai berikut: “Everything is very simple in War, but the simplest thing is difficult. These difficulties accumulate and produce a friction
which no man can imagine exactly who has not experienced War ……. Friction is the only conception which in a general way corresponds to that which distinguishes real War from War on paper.”
6. U.S FM 6-22, “Army Leadership”, Departemen of The Army, Washington DC, 2006, hal. 89
MENYIAPKAN DOKTRIN BERTEMPUR
DI ERA “WARM PEACE”
Oleh :
Mayor Inf Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc, MPA (Kasi-2/Operasi Brigif Linud 17 Kostrad)
WARM PEACE: KOMPLEKSITAS DAN KETIDAKPASTIAN
ABAD 21.
D
engan berakhirnya perang dingin dua dekade silam, tidaklah berlebihan jika kita semua berharap bahwa dunia akan semakin aman, dimana bangsa-bangsa dapat hidup tenang dan damai berdampingan, tanpa harus terkotak-kotak atas dasar pertentangan ideologi “kapitalisme vs. komunisme”. Namun sejarah berkata lain, peristiwa 9/11 justru telah menyuguhkan pembuktian terbalik dari ekspektasi tersebut. Euforia pergantian milenium,“ Adaptabilitas dan inovasi merupakan kunci
keberhasilan di era yang penuh dengan
ketidakpastian… Kita harus berani keluar dari zona
kenyamanan untuk mentransformasi diri,
dan maju kedepan ”
serta “headlines” tentang pesatnya kemajuan teknologi diawal abad 21 sekejap sirna, tergantikan oleh kampanye global melawan terorisme. Tak terelakkan upaya Amerika Serikat dan aliansinya, yang seringkali membabi buta, dalam memburu Osama Bin Laden dan Al-Qaeda telah melahirkan ketegangan-ketegangan baru, yang berujung pada “clash of civilizations” antara dunia barat dan dunia Islam.
Di samping itu, dunia yang semakin padat dan terhubung dalam sebuah rezim globalisasi dan revolusi informasi dewasa ini, selain telah menghadirkan berbagai peluang, mengandung begitu banyak tantangan yang tidak sederhana. Globalisasi menjadikan dunia seolah-olah “borderless”, menjamin terbukanya pasar bebas, serta berkembangnya berbagai kegiatan, termasuk kejahatan transnasional. Sedangkan 7 milyar manusia mengisyaratkan persaingan yang semakin sengit dalam memperebutkan sumber daya yang tak tergantikan, termasuk energi, pangan dan air. “Survival of the most competitive” tidak hanya menjadi norma, tapi juga berpotensi melahirkan konflik antar negara, termasuk konflik bersenjata antar militer di berbagai kawasan.
Kita juga masih menyaksikan sejumlah konflik tradisional di berbagai belahan dunia, seperti di Semenanjung Korea, Kashmir dan Israel-Palestina; proliferasi senjata pemusnah masal, baik oleh negara maupun aktor bukan negara; serta “intra-state conflict” atas dasar etnisitas dan agama. Di sisi lain, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan gelombang reformasi politik yang berakhir pada “civil war” di sejumlah negara di Afrika Utara dan Timur Tengah, juga telah menambah daftar panjang karakteristik era “warm peace”, sebuah era dimana situasi dunia tidak dalam keadaan perang (ala Perang Dunia I dan II), namun belum sepenuhnya aman dan damai.
Era “warm peace” meniscayakan sebuah kompleksitas dan ketidakpastian. Ragam dan intensitas konflik akan lebih sulit untuk diestimasi. Diprediksi, peperangan dimasa depan akan lebih bersifat “hybrid”, artinya merupakan kombinasi antara pertempuran yang bersifat konvensional, asimetris dan nonreguler, seperti yang kita amati di Iraq dan Afghanistan. “Proxy war” seperti yang terjadi di Syria saat ini, dimana sejumlah kekuatan eksternal melakukan intervensi politik, serta