• Tidak ada hasil yang ditemukan

pelaksanaan latihan itu sendiri

Dalam dokumen Edisi Desember Edit_OK.indd 1 12/01/ :52:01 (Halaman 29-34)

sudah dilaksanakan secara bertanggungjawab oleh seluruh unsur pimpinan disatuan jajaran TNI AD?, maka perlu dievaluasi dan ditinjau ulang. Ada yang sudah memedomaninya tetapi ada juga yang belum memedomani karena ketidaktahuannya. Disadari ataupun tidak oleh para unsur pimpinan, tetapi harus diakui bahwa belum seluruh unsur pimpinan mampu menanamkan kepada diri setiap prajurit bahwa latihan merupakan suatu kebutuhan utama yang diperlukan oleh prajurit dalam meningkatkan dan memelihara profesionalitasnya sesuai dengan pangkat dan jabatan serta tugas dan tanggungjawabnya dalam kesenjataan, kecabangan dan fungsi. Untuk melakukan pembenahan agar pembinaan latihan dilaksanakan secara benar dan bertanggungjawab dengan memedomani prinsip-prinsip latihan yang berlaku di lingkungan TNI AD perlu dilakukan perubahan secara mendasar. Revitalisasi merupakan salah satu alternatif jawaban yang perlu dilakukan agar latihan dapat dilaksanakan secara benar dan tidak terkesan hanya sekadar menyelesaikan program dan mengejar penyerapan anggaran semata, tetapi mengabaikan output yang dicapai dari pelaksanaan latihan itu sendiri.

Untuk menata pembinaan latihan agar mencapai hasil latihan yang diharapkan, maka Revitalisasi dilakukan dibidang sumber daya manusia, perkembangan teknologi dan perubahan mendasar dalam latihan. Revitalisasi dilakukan dibidang Sumber Daya Manusia yang meliputi Pertama, unsur pimpinan. Selektifitas melalui uji kompetensi terhadap unsur pimpinan disatuan-satuan operasional maupun administrasi secara jujur dan transparan sesuai dengan kredibilitas, kualitas dan loyalitas terhadap TNI AD sesuai dengan tingkatannya. Kedua, Unsur Prajurit. Untuk menentukan penempatan awal prajurit dalam korps kesenjataan, kecabangan dan fungsi harus dilaksanakan secara konsekuen sesuai dengan hasil psikotes dan kualitas hasil seleksi bidang lainnya.

Ketiga, Unsur Jabatan. Dengan menggunakan

prinsip-prinsip personalia, maka tempatkanlah prajurit pada jabatan yang sesuai dan tepat (the right man and the

right place), sehingga tidak terjadi kesalahan dalam

menempatkan perwira dalam jabatan yang membidangi operasi dan latihan.

Revitalisasi dilakukan dibidang perkembangan teknologi meliputi Pertama, Alutsista. Peremajaan Alutsista TNI AD menjadi suatu tuntutan yang harus dipenuhi, karena penyesuaian Alutsista dalam pelaksanaan latihan dihadapkan kepada era teknologi yang sedang berkembang pada saat ini dan masa yang akan datang sangat ditentukan pula oleh teknologi Alutsista yang digunakan dalam latihan tersebut. Jadi modernisasi Alutsista akan sangat memengaruhi

realisme latihan dan kualitas dari hasil latihan. Modernisasi Alutsista menuntut kemahiran prajurit TNI AD dalam mengoperasionalkannya, sehingga mampu mengantisipasi ancaman nonlinier dan asimetris, karena ancaman tidak hanya merupakan kekuatan musuh secara fisik semata. Kedua, Cyber War. Prajurit TNI AD tidak hanya mengenal teknik dan taktik bertempur dilapangan yang bersifat konvensional, tetapi juga mengenal teknik perang teknologi, informasi dan komunikasi, sesuai dengan bidang tugasnya maka menjadi suatu keniscayaan perang teknologi/dunia maya (cyber war) menjadi ancaman yang dapat merusak sistem jaringan komunikasi pertahanan negara. Dengan demikian TNI AD memerlukan sarana, prasarana dan fasilitas khusus untuk melakukan pendidikan dan latihan perang teknologi, informasi dan komunikasi.

Revitalisasi dilakukan dibidang perubahan mendasar dalam latihan meliputi Pertama, materi latihan. Latihan hendaknya berorientasi kepada penggunaan satuan dalam tugas-tugas yang akan dihadapi. TNI AD dapat melakukan perubahan yang mendasar terhadap materi-materi latihan yang masih diterapkan sampai dengan saat ini. Pertimbangan lainnya bahwa taktik-taktik perang konvensional hanya merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh satuan dalam rangka mendukung operasi-operasi yang lebih bersifat nonlinier. Dengan demikian pengetahuan dan teknik dasar bertempur konvensional yang masih diberlakukan dalam pendidikan dasar TNI AD merupakan bekal pengetahuan sebagai pengenalan saja. Sedangkan materi latihan pada tahap lanjutan lebih diarahkan kepada penggunaan sesuai dengan tugas-tugas TNI AD yang telah diamanatkan dalam undang-undang, baik dalam tugas pertempuran maupun tugas-tugas bantuan.

Kedua, waktu latihan. Perimbangan waktu latihan

dengan waktu penggunaan akan sangat memengaruhi kesiapan satuan untuk digunakan dalam tugas. Perlu dilakukan perencanaan guna menata ulang siklus waktu latihan, waktu penggunaan dan waktu konsolidasi agar dapat mewadahi perimbangan waktu latihan dengan waktu penugasan. Pada kondisi saat ini satuan-satuan TNI AD hanya terlibat dalam tugas-tugas pengamanan perbatasan, tugas-tugas bantuan (penanggulangan bencana alam, mengatasi teroris, mengatasi gerakan sparatis, dan tugas bantuan lainnya yang bersifat sosial dan kemanusiaan), serta tugas perdamaian dunia. Sehingga waktu latihan menjadi prioritas untuk lebih ditingkatkan karena materi latihan yang digunakan dalam latihan akan menjadi lebih banyak. Ketiga, anggaran latihan. TNI AD telah mengalokasikan anggaran latihan yang cukup memadai, penggunaan anggaran latihan tersebut semaksimal mungkin dapat digunakan untuk biaya operasional latihan. Namun demikian anggaran

latihan yang dialokasikan kesatuan-satuan jajaran TNI AD disesuaikan dengan tingkat kesulitan yang dihadapi oleh satuan tersebut (dislokasi, penyebaran satuan dan kondisi geografi). Efisiensi penggunaan biaya latihan hanya untuk kepentingan dukungan operasi latihan secara murni dan bukan untuk keperluan administrasi lainnya diluar kebutuhan latihan.

Daerah Latihan. Daerah latihan merupakan fasilitas dan infrastuktur pendukung yang sangat menentukan realisme dan pencapaian kualitas hasil latihan, karena daerah latihan tentunya bisa memberikan gambaran tentang tugas-tugas yang akan dihadapi sesuai dengan penggunaannya. Daerah latihan di pangkalan, baik untuk latihan perorangan maupun dalam hubungan satuan hanya terbatas pada latihan-latihan teknis sampai dengan drill taktis. Untuk latihan-latihan lanjutan dengan metode drill tempur menggunakan daerah latihan di sekitar pangkalan atau daerah yang cukup jauh dari pangkalan karena terbatasnya daerah aman yang dapat digunaan untuk latihan. Sehingga diperlukan daerah latihan yang bersifat permanen, untuk memeroleh daerah latihan tersebut tentunya dilakukan melalui upaya koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Agar daerah latihan dapat digunakan secara permanen diperlukan kerjasama yang memiliki legalitas hukum, sehingga apabila terjadi pergantian kepemimpinan di daerah, maka perjanjian kerjasama tersebut masih tetap berlaku. Diperlukan adanya perubahan dalam menentukan daerah latihan untuk menjawab kemungkinan ancaman dan modernisasi

Alutsista dalam penggunaannya. Seperti daerah latihan yang disiapkan oleh Mabes TNI untuk pelatihan dan pembekalan Pasukan Perdamaian Dunia di Bukit Sentul Bogor Jawa Barat. Demikian pula hendaknya dengan TNI AD melakukan perubahan orientasi penggunaan satuan melalui penyiapan daerah latihan, seperti latihan pengamanan perbatasan, latihan tugas-tugas bantuan, latihan mengatasi aksi terorisme, dan lain-lain.

Pentahapan perubahan. Mengacu kepada Rencana

Strategi Pertahanan Negara (Renstra Hanneg), maka secara bertahap TNI AD perlu melakukan perubahan pola latihan yang berorientasi kepada kemungkinan ancaman dan era peperangan yang berlaku secara umum pada era kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi (peperangan generasi keempat). Pentahapan dilaksanakan dalam 3 tahap disesuaikan dengan Renstrahan, meliputi:

Pertama, Tahap I (sampai dengan akhir tahun 2014)

revisi Doktrin TNI AD khususnya bidang organisasi dan bidang latihan sudah dapat diterapkan keseluruh kesenjataan, kecabangan dan fungsi diseluruh satuan jajaran TNI AD. Penataan organisasi satuan-satuan operasional sudah terpenuhi sesuai dengan TOP, sehingga latihan tidak dikorbankan oleh permasalahan organisasi. Untuk bidang latihan, revisi sistem pembinaan latihan disesuaikan dengan kebutuhan yang akan digunakan, sehingga tidak terjebak dalam latihan-latihan yang masih berorientasi kepada perang konvensional dan selalu beranggapan bahwa ancaman akan selalu datang dari luar dengan kekuatan militernya.

Kedua, Tahap II (2015-2019), secara simultan TNI AD

melakukan penataan daerah latihan yang memiliki kekuatan hukum secara legal formal (memiliki dasar hukum yang tetap), sehingga daerah latihan tersebut secara permanen menjadi daerah latihan TNI AD. Penataan daerah latihan tersebut berlaku diseluruh wilayah dan dimaksimalkan penggunaannya sebagai daerah latihan TNI AD. Ketiga, Tahap III (tahun 2020-2024), pada tahap ini peremajaan dan modernisasi Alutsista TNI AD sudah memenuhi kebutuhan pokok minimum (Minimum Essential Force). Peremajaan dan modernisasi Alutsista sangat memengaruhi realisme latihan, karena skenario latihan akan berpengaruh dengan Alutsista yang dimiliki oleh TNI AD secara logis. Sangat tidak mungkin bila Alutsista yang dimiliki oleh TNI AD memiliki kualitas dibawah Alutsista kekuatan ancaman yang diperanggapkan dalam latihan.

LEMBAGA YANG DIPERLUKAN DALAM TRANSFORMASI. Pertama, Komando Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI AD. Untuk melakukan perubahan sistem pembinaan latihan, maka Kodiklat TNI AD merupakan lembaga yang memiliki kompetensi dalam menata perubahan tersebut melalui kelompok kerja (Pokja). Organisasi Kodiklat TNI AD memiliki unsur-unsur staf direktur yang membidangi Doktrin, Pendidikan dan Latihan. Dengan demikian, untuk mengkaji perubahan sistem pembinaan latihan perlu dilandasi dengan doktrin dan pendidikan. Penerapan perubahan tersebut diawali dari pusat Kesenjataan, Kecabangan dan Fungsi dibawah supervisi Kodiklat TNI AD.

Kedua, Akademi Militer (Akmil). Sebagai lembaga

pendidikan Perwira Pertama TNI AD, maka Akmil tidak membelenggu pengetahuan para Taruna dengan materi-materi latihan dasar militer yang bersifat konvensional, tetapi lebih berorientasi kepada materi-materi latihan teknik dan taktik militer yang berbasis teknologi, informasi dan komunikasi. Dengan demikian para Perwira Pertama TNI AD yang dilahirkan dari pendidikan Akmil memiliki wawasan pengetahuan yang berimbang antara teknik dan taktik militer berbasis teknologi, informasi dan komunikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi TNI AD. Ketiga, Resimen Induk Kodam (Rindam). Sebagai unsur pelaksana pendidikan dan latihan ditingkat Kodam, maka Rindam menjadi ujung tombak TNI AD untuk menerapkan perubahan-perubahan sistem pembinaan latihan dalam pendidikan pertama tingkat Bintara dan Tamtama, sehingga SDM prajurit TNI AD disamping memiliki kemampuan dasar teknik dan taktik militer dasar juga memiliki kemampuan dasar berbasis pengetahuan dibidang teknologi, informasi dan komunikasi alat utama sistem persenjataan yang dimiliki oleh TNI AD.

PENUTUP.

Kemajuan dan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab melalui suatu perubahan. Demikian pula halnya dengan TNI AD, sebagai kekuatan bala darat dalam sistem pertahanan negara perlu melakukan perubahan dan penyempurnaan Doktrin untuk mengikuti kemajuan dan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi tersebut. Kemajuan dan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi telah merubah bentuk ancaman yang akan dihadapi, baik faktual maupun potensial. Maka telah terjadi pergeseran generasi peperangan, dari era peperangan generasi ketiga (konvensional) menjadi peperangan generasi keempat (nonlinier/asimetris). Diantara perubahan yang harus dilakukan oleh TNI AD adalah perubahan bidang pembinaan latihan. Perubahan mengarah kepada penggunaan sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan ancaman yang akan dihadapi. Keberanian untuk berubah harus dilakukan mulai sekarang, diantaranya adalah mengubah siklus latihan, mengubah skenario latihan, mengubah pola latihan, menata daerah latihan, modernisasi Alutsista dalam latihan, dan perubahan lainnya yang berhubungan dengan peningkatan kualitas satuan dan profesionalitas prajurit.

Untuk merealisasikan konsep transformasi (perubahan) tersebut, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut: Pertama, mempercepat penyelesaian revisi Doktrin TNI AD KEP dan penerapannya sebagai pedoman dasar pembinaan TNI AD. Kedua, membentuk kelompok kerja untuk melakukan revisi terhadap sistem pembinaan latihan TNI AD. Ketiga, Menempatkan SDM dalam jabatan bidang operasi dan latihan melalui seleksi kompetensi jabatan, pendidikan dan tes psikologi.

Keempat, menata kembali daerah latihan di tingkat

pusat dan daerah yang memiliki kekuatan hukum tetap (legal formal) sebagai daerah latihan. Kelima, merumuskan kembali standardisasi pencapaian sasaran kualitas hasil latihan, dan standardisasi kelulusan bagi personel dalam Uji Terampil dan Uji Jabatan serta Uji Kesiapan Satuan. Keenam, skenario latihan disesuaikan dengan keadaan dan ancaman terkini yang mungkin akan dihadapi dalam penggunaan kekuatan TNI AD.

Ketujuh, mempercepat modernisasi Alutsista TNI

AD untuk memberikan gambaran secara realistis perimbangan Alutsista dengan bakal calon lawan dalam skenario latihan.

Demikian penulisan tentang perubahan pola pembinaan latihan TNI AD dihadapkan kepada tantangan tugas masa kini dan masa depan. Semoga bermanfaat untuk menjadi pemikiran seluruh unsur pimpinan TNI AD, sehingga dapat membawa perubahan dalam pola pembinaan di jajaran TNI AD khususnya pembinaan latihan.

RIWAYAT HIDUP SINGKAT PENULIS

I. Data Pokok.

1. Nama : Dody Usodo Hargo.S,S.IP.,M.M 2. Pangkat/NRP : Brigjen TNI/29955

3. Tempat/Tgl. Lahir : Padang/05-03-1961 4. Agama : Islam

5. Status : Kawin a. Istri : Kurniasari b. Anak :

1) Nurdysa Diliana Putri (Mahasiswi UGM) 2) Ayu Sekar Putri (Mahasiswi Unpad) 6. Sumber Pa/Th : AKABRI/1984

7. Jabatan : Kepala Biro Persidangan dan Humas Setjen Wantannas II. Pendidikan. A. Dikbangum. 1. AKABRI Darat : 1984 2. Sussarcab Infanteri : 1984 3. Diklapa Infanteri I : 1995 4. Diklapa Infanteri II : 1996 5. Seskoad : 2000 6. Suskatjemen Dephan : 2001 7. Susopsgab TNI : 2006 8. Sesko TNI : 2007 9. Lemhannas RI PPRA XLIV : 2010

B. Dikbangspes.

1. Sussarpara 1983

2. Tar Danton Pemburu 1984 3. Suspatih Infanteri/SPI 1986 4. Suspa Senjata Bantuan 1989 5. Tarkader Ter 1991 dan 1996 6. Tar Kader Intel 1997

7. Tar Binlat Intel 1998 8. Sus Dan Yonif 1998

9. Tar Pelatih Inti Raider 2003 10. Sus Danrem 2008 B. Luar Negeri. 1. Singapore : 1993 dan 2005 2. RRC : 2007 3. Malaysia : 2008 (3 KALI) 4. RDTL : 2009 5. Polandia : 2010 6. Belanda : 2010

III. Riwayat Penugasan. A. Dalam Negeri. 1. Ops Tim-Tim : 1985-1986 2. Ops Tim-Tim : 1986-1987 3. Ops Tim-Tim : 1987-1988 4. Ops Tim-Tim : 1990-1991 5. Ops Tim-Tim : 1991-1992 6. Ops Irian Jaya : 1996-1997 7. Ops Pamtas RI-RDTL : 2000 8. Ops Lihkam Darmil NAD : 2004-2005 9. Ops Pamtas RI-Malaysia : 2007-2009 10. Ops Pamtas RI-RDTL : 2009-2010

IV. Riwayat Jabatan.

1. Danton-1/B/323/13 Kostrad 2. Danton-2/A/323/13 Kostrad 3. Danton-1/A/323/13 Kostrad 4. Danki Ban-323/13 Kostrad 5. Dankipan A/L-433/L-3 Kostrad 6. Kasilog-323/13 Kostrad 7. Dankipan C 323/13 Kostrad 8. Kasi Intel Brigif-13 Kostrad 9. Wadan Yonif-731 Dam VIII/Tkr 10. Kasdim-1505/Halteng Dam VIII/Tkr 11. Kasdim-1504/Ambon Dam VIII/Tkr

12. Kasiwaslat Baglatsat Sdirbindiklat Pussenif 13. Dan Yonif-310 Brigif-15/Kujang Dam III/Slw 14. Pabandyalid Sintel Dam V/Brw

15. Dandim-0823/Stbd Dam V/Brw 16. Wadan Rindam V/Brw

17. Dan Satgas Mobil Koops NAD 18. Dosen Gol IV Seskoad 19. As Ops Dam VI/Tpr

20. Danrem-161/WS Dam IX/Udy

21. Pamen Den Mabesad (Dik Lemhannas) 22. Pamen Ahli Bid Ilpengtek Kodiklat TNI AD 23. Dan Korsis Seskoad

24. Kepala Biro Persidangan dan Humas Setjen Wantannas RI

TRANSFORMASI ANGKATAN DARAT

Dalam dokumen Edisi Desember Edit_OK.indd 1 12/01/ :52:01 (Halaman 29-34)

Dokumen terkait