BAB VII KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN DALAM SISTEM
7.5. Menuju Pertanian Berkelanjutan dalam Perspektif
Dari uraian kendala-kendala yang dihadapi dan pencapaian dimensi pertanian berkelanjutan, maka dapat diketahui bahwa pertanian berkelanjutan belum sepenuhnya dapat diwujudkan melalui keberlanjutan kelembagaan dalam sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy. Pengorganisasian sosial dan teknik sosial dalam pengembangan sistem pertanian padi sehat tersebut belum dapat secara optimal memberikan keuntungan secara sosial (social justice), keuntungan ekonomis (economically valuabe), dan keuntungan ekologis (ecologically sound). Sehubungan dengan itu, diperlukan berbagai teknik sosial dalam pengembangan sistem pertanian padi sehat untuk meningkatkan pencapaian pertanian berkelanjutan.
Merujuk pada Scott (2008), lebih banyak diteliti secara empirik bahwa suatu bentuk kelembagaan tidak hanya ditopang oleh satu pilar, tetapi terdapat kombinasi elemen yang bervariasi. Dalam sistem sosial yang stabil, hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu kelembagaan dapat mencapai ketahanan dan penguatan karena didasari oleh penerimaan yang diyakini dan tiada keraguan, didukung secara normatif, dan diperkuat oleh kekuatan otoritas. Ketika pilar-pilar tersebut menyatu, kekuatan perpaduan ketiga pilar tersebut sangat baik sekali.
Pada beberapa situasi, bagaimanapun, satu atau beberapa pilar dapat bekerja, secara maya untuk mendukung pembagian tugas sosial, dan pada berbagai situasi, pilar yang menopang tersebut diyakini menjadi yang utama tanpa perlu dibuktikan. Sama pentingnya ketika pilar-pilar tersebut kemungkinan misaligned (gagal berpadu), kemungkinan akan mendukung dan memotivasi pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan yang berbeda. Strang dan Sine dalam Scott (2008) menitikberatkan bahwa ketika dukungan kognitif, normatif, dan regulatif tidak berpadu, ketiganya akan menyajikan sumber daya dimana para pelaku yang berbeda-beda dapat menggunakannya untuk tujuan yang berbeda-beda pula. Situasi-situasi tersebut membuktikan bahwa antara kebingungan dan konflik, serta kondisi-kondisi yang tersedia dapat membuka peluang besar untuk memunculkan perubahan pada kelembagaan.
Untuk mewujudkan kondisi pertanian organik yang ideal, maka upaya- upaya penguatan kelembagaan dan proses menciptakan ketahanan kelembagaan sistem pertanian organic harus dilakukan secara simultan. Hal ini dapat ditempuh dengan mensinergikan pilar-pilar penopang kelembagaan baik dari sisi regulasi, normatif, maupun kultural-kognitif. Jadi, kondisi ideal yang diharapkan ke depan adalah bahwa sistem pertanian organic menjadi sistem pertanian yang melekat menjadi budaya komunitas.
Sebagaimana halnya kelembagaan-kelembagaan dalam sistem pertanian padi sehat dibentuk untuk mendukung pencapaian pertanian berkelanjutan. Akan tetapi, pada prosesnya sistem pertanian tersebut belum dapat menjadi budaya komunitas. Hal ini terkait dengan proses pelembagaan pada kelembagaan- kelembagaan tersebut yang lebih didasarkan pada semakin menguatnya komitmen dan bukan dengan semakin menguatnya objektivitas komunitas pada sistem pertanian padi sehat. Istilah komitmen itu sendiri dibangun atas dasar berbalikan (resiprositas) dan kepercayaan (trust) antara pihak-pihak yang terlibat. Penerapan sistem pertanian padi sehat bukan merupakan obyektifikasi dari keyakinan- keyakinan para pelakunya, bukan merupakan muncul dari proses pemaknaan pada interaksi yang berlangsung. Akan tetapi lebih menonjolkan makna yang signifikan yakni bahwa untuk melembaga adalah menyatukan nilai dengan penerapan teknis dalam melakukan sesuatu seperti halnya penerapan sistem pertanian padi sehat itu
sendiri. Dalam prosesnya, melibatkan faktor penting yaitu adanya norma dan nilai (norms and values), terkait dengan struktur dan prosedur yang terbentuk (structures and procedures), melibatkan para individu (individuals), dan terdapat actor-aktor yang berperan secara kolektif (collective actors). Semua hal itu tampak dengan terbentuknya kelembagaan-kelembagaan dalam sistem pertanian padi sehat yaitu kelembagaan untuk pengaturan input mencakup kelembagaan koperasi, kelembagaan penyediaan pupuk dan pestisida, kelembagaan untuk penyediaan kredit, kelembagaan penguasaan lahan, dan kelembagaan untuk penyebarluasan inovasi dan teknologi yang mencakup kelembagaan kelompok tani dan kelembagaan penyuluhan. Kelembagaan untuk pengaturan produksi mencakup kelembagaan hubungan kerja dan kelembagaan panen. adapun kelembagaan untuk pengaturan output meliputi kelembagaan pasca panen dan kelembagaan distribusi.
Lebih lanjut, Korten (1984) memuncukan teori people-centered development atau pembangunan berpihak pada rakyat sebagai paradigma pembangunan berkelanjutan. Paradigma pembangunan yang berpihak pada rakyat tersebut digunakan sebagai pendekatan pembangunan pada sistem pertanian organic oleh karena bersesuaian dengan prinsip-prinsip pertanian organik sebagaimana yang dikemukakan oleh International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM) (2008). Menurut Korten (1998), keberlanjutan menjadi salah satu prinsip dalam paradigma pembangunan tersebut. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi keberlanjutan untuk menyediakan produksi dengan melibatkan pengelolaan sumber daya lokal dan kontrol dari komunitas lokal setempat. Lebih lanjut, Korten (1984) juga menguraikan bahwa people-centered development ini berdasar pada prinsip desentralisasi, partisipasi, pemberdayaan, pelestarian, territorial, jejaring sosial, dan keswadayaan lokal. Dalam konteks pengembangan sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy, terbangunnya jejaring kerjasama antar kelembagaan sebagaimana yang dirinci di atas dapat menjadi langkah konkrit untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dengan menerapkan prinsip-prinsip people-centered development.
Desentralisasi dalam konteks sistem pertanian organik merupakan proses pendelegasikan kekuasaan dan wewenang dari pemerintah pusat kepada
pemerintah dan komunitas lokal untuk memperoleh akses dan kontrol atas pengelolaan sumber daya lokal (sumber daya pertanian). Akan tetapi, pada pengembangan sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy, pemerintah lokal kurang memainkan peranan. Akses dan kontrol atas pengelolaan sumber daya lokal lebih banyak diperankan oleh tokoh masyarakat di Kampung Ciburuy yaitu Pak Haz. Hal ini dikarenakan sebagian besar aset produksi dikuasai oleh beliau. Selain itu, juga didukung dengan kepemimpinan beliau yang tampak dominan. Perumusan kebijakan pengembangan sistem pertanian padi sehat lebih banyak dilakukan di tingkat lokal dengan adanya peran penyuluh setempat dan Pak Haz selaku tokoh masyarakat. Dalam hal ini, prinsip desentralisasi sudah diterapkan. Terlebih dengan adanya pengambilan keputusan di tingkat komunitas petani untuk bersedia atau tidak menerapkan sistem pertanian padi sehat, serta untuk bersedia atau tidak mengaplikasikan bantuan pupuk atau pestisida organik yang disubsidi oleh pemerintah. Demikian pula dalam membangun kebijakan pengembangan koperasi, revitalisasi kelompok tani, perluasan jejaring kerjasama distribusi beras SAE sudah diinisiasi di tingkat lokal. Adapun pemerintah lokal cukup berperan untuk memberi dukungan secara administratif.
Dalam sistem pertanian organik yang mengedepankan prinsip keadilan dan kepedulian, menempatkan partisipasi dan pemberdayaan petani sebagai proses yang penting. Petani menjadi pihak yang memiliki peranan penting untuk mengambil keputusan, mengakses, dan mengontrol sumber daya pertanian di wilayahnya. Petani adalah pihak yang paling mengetahui bagaimana mengelola agroekosistemnya, sehingga tidak selayaknya ditempatkan pada posisi sub- ordinasi oleh pemerintah.
Merujuk pada principal of fairness, pertanian organik harus menyajikan keterlibatan setiap orang dengan kualitas kehidupan yang lebih baik, dan berkontribusi pada ketahanan pangan, dan mengurangi kemiskinan. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terlibat dalam sistem pertanian organik hendaknya menempatkan diri pada proses distribusi kekuasaan yang bersifat positive-sum. Proses distribusi kekuasaan ini, mengkondisikan pemberian daya (kuasa) kepada pihak lain dapat meningkatkan daya sendiri. Apabila daya suatu unit sosial secara keseluruhan meningkat, semua anggotanya dapat menikmati bersama-sama.
Dalam kasus ini, pemberian daya kepada petani secara tidak langsung juga akan meningkatkan daya si pemberi, yaitu pemerintah juga tokoh masyarakat setempat. Prinsip pelestarian bersesuaian dengan principles of ecology dimana pertanian organic didasarkan pada sistem dan siklus ekologi, input sebaiknya dikurangi dengan daur ulang, dan pengelolaan material dan energi yang efisien yang ditujukan untuk memperbaiki kapasitas lingkungan dan melestarikan sumber daya. Pada prinsip teritorial, Korten (1984) menjelaskan bahwa produktivitas, keseteraan, dan keberlanjutan bergantung pada ikatan-ikatan kuat antara orang- orang yang memanfaatkan lingkungannya dengan konsekuensi-konsekuensi yang melekat dalam proses pengelolaannya. Implikasinya adalah terjadinya strong attachement of people to place.
Sistem ekonomi global akan mengakibatkan terjadinya kontrol yang terpisah antara produksi, manusia dan lingkungan sehingga mengakibatkan ketidakstabilan dan kondisi-kondisi yang non-adaptif. Di masa yang akan datang, Korten (1984) menekankan pentingnya the logic of local self-reliance atau logika kemandirian lokal (keswadayaan lokal). Logika ini merupakan logika dari tempat, manusia, dan lingkungan yang menjadi suatu kesatuan yang menciptakan keberlanjutan diri (self-sustaining) dari sistem ekologi manusia setempat. Kemandirian lokal sebagai strategi pembangunan memprioritaskan pada penciptaan kondisi yang memungkinkan manusia pada wilayahnya menemukan kebutuhan mereka dengan menggunakan sumber daya lokal dengan kontrol dari lokal setempat pula.
Peranan dari basis teritorial menempatkan posisi pemerintah lokal sebagai koordinator sentral perumusan kebijakan pembangunan di tingkat lokal. Dalam hal ini, komunitas membangun jejaring sosial baik dengan pemerintah lokal dan unit-unit organisasi fungsional. Organisasi-organisasi yang terbentuk difungsikan untuk berkontribusi dalam mewujudkan logika kemandirian lokal, baik dalam proses produksi, penyebaran informasi dan teknologi, pengelolaan komunikasi, pengembangan sarana transportasi serta pengembangan dan pertukaran pengetahuan yang dapat diadopsi serta diaplikasikan oleh komunitas lokal.
Tujuan dari membangun kekuatan pada pembangunan berpihak pada rakyat ini untuk menyajikan yang terbaik melalui aksi untuk mempercepat
terciptanya hal-hal baru bagi komunitas setempat. Komunitas lebih memiliki kebebasan untuk melakukan eksperimen dalam menciptakan ide-ide baru, teknik sosial, dan teknologi-teknologi yang menjadi elemen dasar dalam proses membangun kekuatan tersebut. Tiga tugas kreatif ini mendefinisikan bagian penting dari agenda membangun kekuatan dalam people-centered development ini.
Dalam konteks pengembangan sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy, beberapa teknik sosial dirumuskan untuk meningkatkan pencapaian pertanian berkelanjutan. Pada tahap implementasinya, faktor adanya jejaring kerjasama antar kelembagaan menjadi sangat penting. Pada kelembagaan Koperasi Kelompok Tani Lisung Kiwari diharapkan dapat meningkatkan sosialisasi mengenani manfaat koperasi kepada anggota kelompok tani di Kampung Ciburuy. Selain itu, juga para pengurus koperasi agar dapat menjadikan usaha beras sebagai bagian dari unit usaha koperasi dengan melibatkan petani sebagai unit-unit bisnis penyokong usaha koperasi tersebut. Hal ini sangat penting mengingat kedua hal tersebut dapat memperbesar volume penyertaan modal secara swadaya untuk digulirkan kembali. Pada kelembagaan kelompok tani, teknik sosial yang diperlukan adalah upaya revitalisasi kelompok tani dan gapoktan Silih Asih melalui mengadakan pertemuan rutin yang lebih terencana inter kelompok dan antar kelompok tani. Selain itu, juga harus dilakukan optimalisasi program manajer pengendali mutu dengan mengadakan pertemuan rutin dan agenda yang lebih terencana. Untuk meningkatkan kemandirian dan keswadayaan komunitas petani padi di Kampung Ciburuy, perlu didorong untuk bersedia mengumpulkan dana swadaya kelompok guna mendukung penyelenggaraan pertemuan dan memberi dukungan insetif bagi para ketua kelompok dalam menjalankan tugasnya sebagai manajer pengendali mutu. Pada kelembagaan penyuluhan, teknik sosial yang penting dilakukan adalh menyelenggarakan kegiatan penyuluhan yang terus berkesinambungan dengan metode yang lebih menggali partisipasi komunitas petani dalam menerapkan sistem pertanian padi sehat. Pada kelembagaan produksi, melalui peran dan fungsi kelembagaan penyuluhan dan kelompok tani maka perlu untuk meningkatkan sosialisasi manfaat budidaya padi sehat sesuai SOP yang dirumuskan melalui
kegiatan kunjungan lapang inter kelompok atau antar kelompok tani. Di samping itu, terus diupayakan untuk membudidayakan padi sehat sesuai dengan SOP yang telah dirumuskan guna menjamin kualitas dan kuantitas produksi padi yang dihasilkan. Teknik sosial lain yang penting dilakukan adalah membangun kerjasama dengan instansi pemerintah atau lembaga penelitian untuk membantu menuji kualitas/tingkat polusi tanah, air, dan udara.
Adapun untuk mengantisipasi kendala pada kelembagaan pasca panen, maka hendaknya para pelaku terkait harus meningkatkan pengawasan bersama pada proses pascapanen yang dilakukan oleh Koperasi Kelompok Tani Lisung Kiwari dengan Lembaga Pertanian Sehat. Sedangkan pada kelembagaan distribusi, hal yang penting untuk dilakukan adalah agar (1) koperasi dapat memberi harga jual yang lebih tinggi dari harga pasar kepada para petani yang sudah memenuhi SOP budidaya padi sehat. (2) Memperluas pemasaran beras SAE di tingkat lokal dengan warung-warung di sekitar kampung dan desa Ciburuy (3) Memperluas sosialisasi penanaman lahan sawah dengan merujuk pada SOP. budidaya padi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi beras SAE. (4) Koperasi agar dapat terus bermitra dengan instansi pemerintahan khususnya untuk memperoleh bantuan permodalan; dan (5) Menjaga hubungan baik dengan lembaga mitra dengan menyelenggarakan pertemuan rutin.
Sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy pada prosesnya berada pada pergeseran dari sistem pertanian konvensional menuju pada sistem pertanian organik. Terkait dengan hal itu, cara produksi, hubungan-hubungan sosial, dan tata aturan yang melekatinya terus diupayakan untuk memenuhi prinsip-prinsip sistem pertanian organik. Hal ini ditujukan untuk mencapai pertanian berkelanjutan. Dari hasil analisis lebih lanjut, diketahui bahwa upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan masih menemui berbagai kendala pada setiap dimensinya. Faktor struktur, kultur, dan aksi bersama dari komunitas setempat berdampak pada pencapaian keberhasilan pada setiap dimensi pertanian berkelanjutan baik dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dan dimensi sosial. Dari perspektif paradigma pembangunan berpusat pada rakyat sebagaimana uraian di atas, maka proses pemberdayaan yang bersifat positive-sum perlu terus dikembangkan agar
partisipasi komunitas dalam menerapkan sistem pertanian padi sehat tersebut semakin meningkat.
7.6 Ikhtisar
Keberlanjutan kelembagaan dalam sistem pertanian padi sehat tampak dengan adanya pengorganisasian sosial dan teknik sosial sebagaimana diuraikan pada Tabel 26. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi terwujudnya pengorganisasian dan teknik sosial tersebut. Namun, pada prosesnya terdapat kendala struktur dan kultur sehingga kelembagaan yang terbentuk belum dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan baik dari dimensi sosial, ekonomi, maupun ekologi. Untuk dapat mencapai hal tersebut, community center approach menjadi salah satu alternatif strategi untuk menjadi teknik sosial dalam mendukung keberlanjutan kelembagaan dalam sistem pertanian padi sehat di Kampung Ciburuy. Berbagai teknik sosial lebih lanjut dirumuskan untuk meningkatkan pencapaian pertanian berkelanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan dapat diwujudkan dengan adanya teknik-teknik sosial yang mendukung dan mempercepat pengorganisasian sosial. Pengorganisasian sosial merujuk pada terbentuknya kelembagaan-kelembagaan dalam sistem pertanian padi sehat, dengan didukung oleh pilar yang menopangnya, dan proses pelembagaan yang terus berlangsung didalamnya. Adapun teknik-teknik sosial dijalankan untuk mengatasi dan mencari solusi dari munculnya kendala struktur maupun kendala kultur yang dihadapi untuk mencapai pertanian berkelanjutan. Perspektif pembangunan berpusat pada rakyat menjadi salah satu alternatif menuju terwujudnya pertanian berkelanjutan tersebut. Secara ringkas uraian tersebut disajikan dalam Tabel 26.
157 Tabel 26. Bentuk Kelembagaan, Kendala yang Dihadapi, Dimensi Pertanian Berkelanjutan, dan Teknik Sosial untuk Meningkatkan Pencapaian Pertanian Berkelanjutan di Kampung Ciburuy
Bentuk Kelembagaan Kendala yang Dihadapi Dimensi Pertanian Berkelanjutan Teknik Sosial untuk Meningkatkan Pencapaian Pertanian Berkelanjutan Kelembagaan
Koperasi Kelompok Tani “Lisung Kiwari”
Petani padi yang menjadi angota koperasi hanya 30%
Hanya ketua kelompok tani yang mengakses fungsi koperasi dan berperan dalam
menjembatani anggota kelompok dengan koperasi tersebut
Usaha beras belum menjadi unit usaha koperasi
Dari sisi kelemahan yang tampak, pada dasarnya menunjukkan suatu indikasi bahwa ketua kelompok memiliki posisi penting bagi para anggotanya. Para anggota menaruh kepercayaan yang tinggi kepada ketua kelompok untuk menjembatani kebutuhan mereka terkait dengan koperasi. Semakin menguatnya hubungan antara anggota dan ketua kelompok, maka ketua kelompok terus berhubungan dengan koperasi dan akan tetap mendukung peran dan fungsi koperasi bagi anggota kelompok meskipun tidak secara langsung. kelembagaan koperasi dan kelembagaan kelompok tani di Kampung Ciburuy akan terus berjalan.
Sosialisasi manfaat koperasi kepada anggota kelompok tani di Kampung Ciburuy
Menjadikan usaha beras sebagai bagian dari unit usaha koperasi dengan melibatkan petani sebagai unit-unit bisnis penyokong usaha koperasi tersebut.
Kedua hal tersebut dapat memperbesar volume penyertaan modal secara swadaya untuk digulirkan kembali.
Kelembagaan Kelompok Tani
Sebagian besar petani belum mampu menerapkan sistem budidaya padi sehat karena masih belum mengetahui manfaat dan keuntungannya
Hanya sebagian kecil petani yang sudah menerapkan budidaya padi sehat merujuk pada SOP yang telah disusun
Masih memerlukan waktu dan proses yang cukup lama untuk mencapai sebagian besar petani padi mau dan mampu menerapkan
Secara social, komunitas petani padi di Kampung Ciburuy terus melakukan proses pembentukan nilai-nilai bersama yaitu secara bertahap menanamkan prinsip dan menerapkan teknik pertanian organik dalam konteks sistem budidaya padi sehat
Dengan diaktifkannya kembali peran ketua kelompok dan kini difungsikan sebagai manajer pengendali mutu
Revitalisasi kelompok tani dan gapoktan Silih Asih melalui mengadakan pertemuan rutin yang lebih terencana inter kelompok dan antar kelompok tani.
Optimalisasi program manajer pengendali mutu dengan mengadakan pertemuan rutin dan agenda yang lebih terencana. Mengumpulkan dana swadaya
budidaya padi sehat sesuai SOP setempat maka menjadi media dalam proses perluasan jejaring sosial dalam sistem pertanian padi sehat ini
kelompok untuk penyelenggaraan pertemuan dan memberi dukungan insentif bagi para ketua kelompok dalam menjalankan tugasnya sebagai manajer pengendali mutu.
Kelembagaan Penyuluhan
Belum adanya kebijakan nasional yang sifatnya peraturan-perundang-undangan yang secara ketat dan fokus dalam pengembangan sistem pertanian organik
Adanya kegiatan penyuluhan menjadi wadah bagi para petani untuk berdiskusi, mendorong partisipasi mereka dalam pengembangan sistem pertanian padi sehat, serta menggali dan berbagi pengetahuan lokal antar komunitas petani dalam berbudidaya padi selama ini
Menyelenggarakan kegiatan penyuluhan yang terus
berkesinambungan dengan metode yang lebih menggali partisipasi komunitas petani dalam menerapkan sistem pertanian padi sehat
Kelembagaan untuk Pengaturan Produksi
Belum mampu untuk menghasilkan 100% padi yang dibudidayakan dengan teknik dan prinsip organic karena masih belum bisa lepas dari penggunaan pupuk kimia (urea, TSP, phonska)
Kualitas air yang mengairi lahan sawah belum teruji bebas polusi/racun kimia Lahan penanaman padi tidak terisolasi dari
polusi bahan kimia yang berasal dari lingkungan sekitarnya
Cara-cara berproduksi tidak didasarkan pada tata aturan komunal dan hampir tidak ada budaya tradisional yang dilakukan oleh para petani terkait dengan budidaya padi mereka
Meskipun masih belum 100% menghasilkan padi organik namun budidaya padi sehat memiliki nilai kelayakan ekonomi yang cukup baik (biaya produksi lebih hemat) ditinjau dari analisis budidaya padi sehat dengan non budidaya padi sehat
Sosialisasi manfaat budidaya padi sehat sesuai SOP yang dirumuskan melalui kegiatan kunjungan lapang inter kelompok atau antar kelompok tani
Terus berupaya untuk
membudidayakan padi sehat sesuai dengan SOP yang telah dirumuskan Membangun kerjasama dengan
instansi pemerintah atau lembaga penelitian untuk membantu menuji kualitas/tingkat polusi tanah, air, dan udara
Kelembagaan Pasca Panen
Koperasi terkadang kurang menjamin kualitas beras yang dijual. Beras yang sudah dipacking terkadang banyak kutu. Hal ini juga terkait dengan lokasi pengemasan yang kurang terjamin kebersihannya. Pihak LPS terkadang
Dari segi sosial, kerjasama antara koperasi kelompok tani Lisung Kiwari dengan Lembaga Pertanian Sehat menunjukkan perluasan jejaring sosial dalam membangun sistem pertanian padi sehat
Meningkatkan pengawasan bersama pada proses pascapanen yang dilakukan oleh koperasi kelompok tani Lisung Kiwari dengan Lembaga Pertanian Sehat
159 menerima keluhan dari konsumen terkait
dengan kondisi ini, dan beras yang sudah dipihak LPS pun terpaksa di retur (dikembalikan) kepada pihak koperasi. Kelembagaan
Distribusi
Harga pembelian gabah ke petani tetap mengikuti harga pasar
Adanya jaminan pasar belum berdampak dalam meningkatkan pendapatan petani penggarap
Beras SAE dengan kualitas terbaik (yang sudah ditapi dan dikemas) tidak dikonsumsi oleh warga sekitar tapi untuk konsumen di luar komunitas
Dari 7 warung yang menjual beras, hanya 1 warung yang menjual beras dari
penggilingan setempat (tempat penggilingan beras SAE) Oleh karena faktor alam, koperasi
terkadang tidak dapat memenuhi target penyediaan beras sebagaimana yang telah disepakati. Di sisi lain, oleh karena kendala keuangan, pihak LPS terkadang tidak dapat memenuhi target pembayaran pada waktu yang telah ditetapkan bersama.
Dari segi biaya produksi dan tersedianya jaminan pasar, sistem budidaya padi sehat memang
memenuhi kelayakan secara ekonomi.
Koperasi agar dapat memberi harga jual yang lebih tinggi dari harga pasar kepada para petani yang sudah memenuhi SOP budidaya padi sehat. Memperluas pemasaran beras SAE
di tingkat lokal dengan warung- warung di sekitar kampung dan desa Ciburuy
Memperluas sosialisasi penanaman lahan sawah dengan merujuk pada SOP budidaya padi untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi beras SAE
Koperasi agar dapat terus bermitra dengan instansi pemerintahan khususnya untuk memperoleh bantuan permodalan
Menjaga hubungan baik dengan lembaga mitra dengan
menyelenggarakan pertemuan rutin Sumber : Data Primer, 2009
BAB VIII