Secara teoritik, Kontowijoyo juga sudah melangkah dari objektivikasi menuju transformasi. Tetapi secara lebih konkrit, Adi Sasono melalui CIDES, Gus Dur melalui NU dan koalisi kelompok pro demokrasi, serta Amien Rais melalui “aliansi bersih” mulai menuju politik
Islam transformatif dimaksud. Bahkan Nurcholish Madjid juga pernah berupaya melakukan politik Islam trnsformatif ini melalui KIPP, namun belakangan gerakan Nurcholish Madjid tersebut agak “kandas” di tengah jalan. Pola pemikiran politik Islam transformatif ini berkeyakinan bahwa upaya perubahan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan perubahan etik substansial sebagaimana yang digandrungi oleh pola pemikiran politik Islam substansial, tetapi lebih dari itu sangat dibutuhkan adanya upaya transformasi masyarakat secara struktural baik dalam bidang struktur politik ekonomi maupun elemen struktur sosial lainnya, baik secara lokal lebih-lebih dalam skala nasional. Pola pemikiran politik Islam trasformatif ini selalu mengetengahkan idiom-idiom pemberdayaan umat, penataan kembali mekanisme dan sistem politik serta ekonomi yang lebih egaliter dan kondusif bagi tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat, peningkatan kualitas SDM dan partisipasi kaum perempuan, pemberdayaan kaum tani dan buruh, penyelamatan berbagai asset Negara berupa kekayaan sumber daya alam, keluarga sebagai sebuah institusi politik seperti yang diinginkan oleh Hibbah Rauf Izzat.
Sebagai representasi dari gerakan politik Islam transformatif ini bisa kita lihat dari kiprah para tokohnya antar lain – misalnya - Adi Sasono yang dulunya lebih memilih berjuang dari luar pagar kekuasaan (struggle from without), akhirnya mulai mencari arena baru perjuangan politik transformatif dari dalam - walaupun belum sepenuhnya masuk dalam struktur kekuasaan - yakni melalui wadah ICMI. Melalui salahsatu badan intern ICMI (CIDES), Adi Sasono lebih berpeluang untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan transformatifnya lewat studi-studi pembangunan yang bernuansa kerakyatan, sekaligus melakukan aksi-aksi sosial yang kreatif dan solutif. Penerbitan media pembangunan masyarakat semacam AFKAR, SINTESIS dan FOKUS merupakan bagian dari karya Adi Sasono disamping tokoh CIDES lainnya. Demikian pula program pembinaan kaum dluafa, dompet dluafa, renovasi pasar yang berorientasi pada kaum ekonomi lemah maupun proyek pembangunan lainnya, ternyata lebih memudahkan Adi Sasono dalam mengembangkan misalnya ketimbang hanya berjuang melalui LSM.
Adapun Abdurrahman Wahid, walaupun sering mendapat “goyangan” politik baik dari kalangan internal maupun eksternal NU, dia tetap konsisten dengan humanisme keislamannya yakni upaya peningkatan martabat dan harkat kemanusiaan secara universal.tanpa memandang
background kultural maupun agama dari setiap orang yang dibimbingnya. Konsistensinya terhadap pembelaan kaum lemah membuat ia tidak bersikap canggung untuk akrab dengan
berbagai lapisan sosial bangsa dalam berbagai ragam kultur yang ada. Walaupun untuk itu semua, sesekali - bahkan seringkali - ia harus berhadapan dengan kekuasaan yang refresif dan otoriter. Dalam kiprah politiknya ia lebih memilih “muslim kaki lima” ketimbang harus bergabung dengan wadah ICMI, tempat berkumpulnya para cendikiawan muslim yang dinilainya sebagai kelompok muslim sektarian dan elitis. Gagasan trasformatif Gus Dur lebih terlihat bersifat pragmatis dan fragmentaris, karena sebagai aktivis gerakan Islam dia menghadapi logika politik situasinal secara langsung, sehingga pikiran-pikiran politiknya tidak tersusun secara sistematis (Bandingkan, Shamsul Amri Baharuddin,1997-99).
Tokoh lainnya, Amien Rais, pada dekade terakhir melontarkan pentingnya wacana
Tauhid Sosial sebagaimana yang dilontarkan pada Muktamar Muhammadiyah ke – 43, Juli 1995, di Banda Aceh. Pada intinya, Tauhid sosial yang dicetuskan tersebut mengandung aspek keesaan Allah (unity of Godhead), kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan, (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup berdasar agama wahyu (unity of guidance), dan terakhir tentang kesatuan akan tujuan hidup (unity of the purpose of life) (Buku panduan Seminar LP3M UMY, 22-23 Nopemberv 1955). Amien Rais sejak beberapa tahun terakhir banyak melakukan lontaran kritik yang cukup pedas khususnya bagi para elite Orde Baru yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Di antara lontaran gagasan transformatif Amien Rais antara lain: perlu suksesi kepemimpinan nasional tahun 1998, persoalan Freeport dalam kasus Busang, pentingnya agena peningkatan kualitas SDM, upaya mengatasi kesenjangan sosial, penyelamatan asset Negara untuk diwariskan kepada anak cucu di kemudian hari, hingga perlunya tobat nasional dan dialog nasional tentang masalah-masalah bangsa. Menarik juga diamati, Amien Rais yang selama ini lebih dikenal secara eksklusif sebagai pimpinan umat khususnya di kalangan intern Muhamadiyah, belakangan ini telah keluar orbit Muhammadiyah/komunitas muslim dan tampil menjadi ‘negarawan pemula’ dengan kesiapannya untuk dicalonkan sebagai Presiden sekaligus menyiapkan beberapa agenda kerja nasional serta menggalang kerjasama yakni melakukan aliansi atau koalisi bersih dengan berbagai pihak, baik dari kalangan sipil, militer ataupun segmen sosial lainnya, bahkan beliau bersedia menuangkan gagasan transformatifnya di harian Kompas yang selama ini sulit untuk ia lakukan .
Menurut penulis, ada tiga hal yang menyebabkan munculnya pola pemikiran politik Islam transformatif tersebut: pertama, semakin jelasnya kesenjangan yang terjadi di kalangan
nasyarakat, baik yang bersifat politis - antara yang berkuasa dengan yang dikuasai - ekonomis (antara yang kaya dengan fakir miskin ), sosial: yang memiliki status yang tinggi dengan yang tidak memiliki status sama sekali atau tertindas. Kedua, juga disebabkan munculnya fenomena semakin represifnya kekuasaan yang ada di berbagai segmen sosial, baik yang dilakukan oleh pihak penguasa maupun elite sosial lainnya. Ketiga, kurangnya ’kemampuan’ para ulama dan kebanyakan tokoh Islam menerjemahkan ajaran Islam dalam konteks kehidupan sosial yang bersifat membebaskan umat dari berbagai keterbelakangan, baik di bidang politik, ekonomi, iptek, maupun sosial budaya.
Bila berbagai pemikiran politik Islam di atas dikaitkan dengan frame pemikiran politik Islam secara lebih global, maka pola ideologisasi Islam (formalisme Islam) dapat diasosiasikan kepada pola pemikiran politik Islam sebagaimana yang dicetuskan oleh Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Rasyid Ridla maupun Abul Ala al-Maududi. Sedangkan pola substansiasi politik Islam lebih mengacu pada pola pemikiran Muhammad Husein Haikal, dan dalam beberapa hal bisa juga dikaitkan dengan pemikiran Ali Abdul al-Raziq maupun Thaha Husein (bandingkan, Munawar Sadzali, 1993: 1-3), khusus untuk mencarikan rujukannya. Bisa jadi pola yang ditawarkan Kuntowijoyo termasuk sedikit unik dan original, dimana ia dapat mensintesiskan antara paradigm Islam maupun pendekatan ilmu sosial Barat secara genuine.
Adapun pola pemikiran transformasi Islam bisa dikaitkan dengan pola pemikiran politik Islam kontemporer sebagaimana yang diusulkan oleh Asghar Ali Engineer dan Hasan Hanafi. Menurut Asghar, secara teologis, politik Islam haruslah berupaya membebaskan manusia dari sistem penindasan dan perbudakan, baik di bidang ekonomi, politik sosial budaya dan sebagainya. Menurut Asghar, kelompok penindas disebut dengan istilah mustakbirin yang dalam bahasa al-Qur’an disebut kafir sejati, sementara kelompok yang tertindas disebut mustad’afin
sebagai mukmin sejati. Bagi Asghar, ‘orang kafir yang sesungguhnya adalah orang yang arogan dan penguasa yang menindas, merampas, melakukan perbuatan-perbuatan salah dan tidak menegakkan yang ma’ruf, tetapi sebaliknya membela yang munkar (Asghar Al Engineer,1993).
Adapun Hasan Hanafi melalui kiri Islam (al-yasar al-Islami) juga bertujuan untuk
merekontruksi pemikiran politik Islam ke arah yang dapat membebaskan kaum muslimin dari segala bentuk penindasan. Kiri Islam-nya Hasan Hanafi juga melakukan evaluasi kritis terhadap berbagai tradisi Islam dan peradaban Barat. Menurut Hasan Hanafi, Kiri Islam ini memang
diperuntukan bagi kelompok yang dikuasai dan diharapkan akan menciptakan persamaan dengan merebut hak-hak mereka dari kelompok yang berkuasa. Kiri di sini juga berarti perlawanan dan kritisisme terhadap segala bentuk kemapanan yang menindas massa (Islamika No. 1,1993: 3) .