• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

4. Metode Latihan

Banyak orang merasa berlatih tetapi sebenarnya tidak. Hal ini umumnya disebabkan yang bersangkutan kurang memahami pengertian tentang latihan yang sebenarnya.

Menurut Soeharsono yang dikutip dalam Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) yang mengemukakan pengertian latihan berdasarkan ciri-ciri pelatih yang baik, maka latihan dapat diartikan sebagai “proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah bebab latihan serta intensitas latihannya”(hlm. 1260.

Unsur-unsur latihan menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996: 126) ada beberapa pengertian latihan antara lain:

1) Sistematis adalah berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu, metodis, dari mudah ke yang sukar, latihan teratur, dari yang sederhana ke yang lebih rumit.

2) Berulang-ulang yaitu setiap elemen teknik harus diulang sesering mungkin, dimaksudkan agar gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah, dan otomatis pelaksanaannya sehingga menghemat energi.

3) Kian hari ditambah bebannya ialah setiap kali, secara periodik, segera setelah tiba saatnya, beban latihan harus ditambah. Jika beban tidak pernah bertambah prestasi pun tidak akan meningkat.

Tujuan pokok dari latihan menurut sudjarwo (1995 : 23a) ialah prestasi maksimal, disamping kesehatan dan kesegaran jasmani. Latihan akan dapat tercapai bila prinsip-prinsip latihan dapat dipahami.

b. Metode Latihan

Didalam olahraga diketemukan berbagai ragam definisi tentang mengajar atau melatih. Menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) yang diartikan dengan metode mengajar atau melatih adalah suatu cara tertentu, sistem bekerja seorang pelatih atau olahragawan, sehubungan dengan pengetahuan dan kemampuannya yang cukup.

Pemilihan suatu metode, terutama tergantung pada:

1) Tujuan umum latihan

2) Tugas-tugas tertentu

3) Kekhususan suatu cabang olahraga

4) Kedewasaan fisik dan mental atlit dan tingkat kemampuannya.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka dapatlah ditentukan prinsip-prinsip metode latihan. Seorang pelatih yang baik, tidak boleh membatasi diri pada satu metode saja, tetapi harus menggunakan bermacam-macam metode yang dicocokkan dengan berbagai unsur.

Menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996) macam-macam metode latihan adalah sebagai berikut:

1) Metode yang terus menerus ( Continual Methode)

Sifat-sifat metode ini adalah:

a) Latihan dengan intensitas sedang dan konstan b) Latihan yang relatif lama

2) Metode Ulangan ( Repetitive Methode)

Metode ini terdiri dari mengulang latihan-latihan tertentu yang dilakukan dengan atau tanpa istirahat. Sifat-sifatnya adalah sebagai berikut:

a) Latihan dengan intensitas yang konstan b) Waktu istirahat yang optimal

3) Metode Tidak Tetap ( Variable Methode )

Sifat-sifat metode ini terutama adalah : a) Intensitas latihan yang bermacam-macam b) Waktu melakukan latihan yang berbeda-beda

c) Intensitas latihan yang diturunkan, menghasilkan kondisi-kondisi

untuk pemulihan kembali sebagian (partial recovery)

4) Metode Interval ( Interval Methode)

Sifat-sifatnya adalah :

a) Penetapan yang jelas tentang beban latihan

b) Waktu istirahat yang bermacam-macam, tetapi ditetapkan secara tepat c) Penentuan yang jelas tentang intensitas latihan

d) Jumlah ulangan ditetapkan dengan tepat.

5) Metode kompetisi ( Competition Methode)

Latihan melalui kompetisi-kompetisi merupakan salah satu kegiatan yang lebih efektif, dan para atlit senang melakukannya. Dalam melaksanakan metode kompetisi, perlu diperhatikan beberapa syarat yang sama dengan metode-metode lainnya. Pemilihan lawan menjadi dasar kegiatan, makin kuat lawan makin tinggi beban dan intensitas latihannya.

c. Pengertian Program Latihan

Program latihan merupakan bahan atau kegiatan yang harus dilaksanakan dalam latihan. Dalam menentukan program latihan harus menyatu pada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan latihan. Penerapan program latihan yang tepat dan disesuaikan dengan kemampuan atletnya akan meningkatkan kualitasatlet secara maksimal. Suatu hal yang harus dipertahankan dalam menyusun program latihan, adalah menentukan terlebih dahulu tujuan latihan atau target yang hendak dicapai. Hal itu penting agar atlet dapat berlatih dengan motivasi untuk mencapai sasaran.

Mempersiapkan seorang atlet untuk menghadapi pertandingan hingga mencapai tingkat prestasi tinggi atau maksimal, diperlukan waktu

sistematis, bertahapkan serta terus-menerus sepanjang tahun tanpa selingan berhenti sedikitpun. Latihan yang dilakukan hanya isidentil, atau hanya selama enam bulan saja, bahkan kurang setiap tahunnya, tidak akan ada artinya sama sekali. Bahkan mungkin dapat merusak perkembangan atlet dikemudian harinya.

Menurut Iwan Setiawan seperti yang dikutip oleh Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:141), untuk menyusun program latihan yang teratur perlu diperhatikan unsur-unsur sebagai berikut :

a. Kemampuan atlet, baik fisik maupun mental

b. Waktu pelaksanakan program latihan untuk mengembangkan tenaga atau

kekuatan, daya tahan, kecepatan, fleksibility dan lain-lain untuk

dikembangkan dengan sebaik-baiknya c. Cabang olahraga yang akan disiapkan d. Standar tingkat nasional atau internasional e. Keadaan setempat : tradisi, iklim, dan lain-lain f. Faktor latihan : prestasi, volume, intensitas g. Jadwal perlombaan dan uji coba

h. Periodesasi latihan.

Untuk membina atlet agar dapat meningkatkan prestasi setinggi-tingginya, diperlukan jangka waktu yang lama, maka latihan-latihan tersebut dilaksanakan secara bertahap yang terdiri dari program jangka panjang dan program tahunan ( Hadisasmita dan Syarifuddin, 1996 : 141).

Menurut Sudjarwo (1995 : 81 ) penyusunan program latihan dapat dibagi menjadi:

1) Program Jangka Panjang

Program jangka panjang berhubungan dengan program latihan untuk sasaran dua tahun ke atas, misalnya untuk PON atau Olympiade.

2) Program Jangka Menengah

Program jangka menengah adalah program latihan yang disusun untuk jangka waktu satu tahun.

3) Program Jangka Pendek

Program jangka pandek merupakan penyusunan program latihan kurang dari satu tahun.

d. Prinsip-prinsip latihan

Latihan adalah merupakan suatu proses yang dilakukan secara berulang-ulang dengan meningkatkan pemberian beban latihan itulah sebabnya pemberian beban latihan harus memenuhi prinsip-prinsip yang sesuai dengan tujuan latihan. Prinsip-prinsip latihan tersebut merupakan prinsip-prinsip latihan diharapkan prestasi seorang atlet dapat cepat meningkat. Tanpa mengetahui hal ini seorang atlet atau pelatih tidak mungkin dapat berhasil dalam latihannya.

Sudjarwo (1995) menyarankan agar seluruh program latihan sebaiknya menerapkan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut :

1) Prinsip Individu

Pemberian latihan harus selalu mengingat kemampuan dan kondisi individu masing-masing atlet. Faktor-faktor individu yang harus mendapat perhatian misalnya, tingkat ketangkasan atlet, umur atau lamanya berlatih harus dibedakan, kesehatan dan kesegaran jasmaninya, psychologis atau mentalnya.

2) Prinsip Penambahan Beban ( Overload Principle )

Penambahan beban latihan harus dilakukan tahap demi tahap secara teratur dan ajeg. Beban latihan berat yang diberikan secara terus menerus justru akan menghentikan kenaikan prestasi. Sebaiknya setelah dua atau tiga kali latihan beban latihan ditingkatkan itupun tergantung dari atletnya.

3) Prinsip Interval

Latihan interval merupakan serentetan latihan yang diselingi dengan istirahat tertentu. Prinsip latihan interval ini dapat digunakan untuk suatu rencana latihan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.

4) Prinsip Penekanan Beban ( Stress )

Pemberian beban latihan pada suatu saat harus dilaksanakan dengan tekanan yang berat. Penekanan beban latihan tersebut harus sampai

diberikan guna meningkatkan kemampuan organisme, kekuatan mental yang sangat diperlukan untuk menghadapi pertandingan.

5) Prinsip Makanan Baik ( Nutrition )

Kalori yang masuk harus sesuai dengan kalori yang dikeluarkan untuk latihan. Untuk seorang atlet diperlukan 25-35% lemak, 15 % putih telur, 50-60 hidrat arang dan vitamin serta mineral lainnya.

6) Prinsip Latihan Sepanjang Tahun

Suatu latihan harus dilakukan secara sistematis yang dilaksanakan sepanjang tahun tanpa berseling.

Sedangkan menurut Bompa yang dikutip Hadisasmita dan syarifuddin (1996 : 130-140 ) menyarankan agar dalam latihan sebaiknya menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1) Prinsip Beban-lebih (Overload)

Prinsip beban lebih adalah prinsip latihan yang menekankan pada pembebanan latihan yang lebih berat dari pada yang mampu dilakukan oleh atlet. Seorang atlet harus berlatih dengan beban yang lebih berat atau berlatih dengan beban diatas ambang rangsang. Namun beban tersebut harus sesuai dengan kemampuan atlet.

2) Prinsip Perkembangan Multilateral

Prinsip ini sebaiknya diterapkan pada atlet-atlet muda. Pada permulaan belajar mereka harus dilibatkan dalam beragam kegiatan agar dengan demikian mereka memiliki dasar-dasar yang lebih kokoh untuk menunjang keterampilan psesialisasinya kelak.

3) Prinsip Intensitas Latihan

Perubahan fisiologis dan psikologis yang positif hanyalah mungkin apabila atlet dilatih atau berlatih suatu program latihan yang intensif, dimana pelatih secara progresif menambahkan beban kerja, jumlah

pengulangan gerakan ( repetition ) serta kadar intensitas dari repetisi

Ada beberapa teori yang dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk menentukan kadar intensitas latihannya. Salah satunya teori Katch dan Mc Ardle (1993) sebagai berikut :

a) Menghitung Denyut Nadi Maksimal ( DNM ) dengan rumus DNM = 220 – Umur.

b) Menentukan takaran intensitas latihannya, yaitu 80% - 90 % dari DNM

c) Lamanya berlatih dalam ambang rangsang atau training zone, untuk atlet

sebaiknya 45-120 menit 4) Prinsip Kualitas Latihan

Latihan dikatakan berkualitas apabila latihan dan dril-dril yang diberikan memang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan atlet, koreksi-koreksi yang tepat dan kontruksif sering diberikan, pengawasan dilakukan oleh pelatih sampai ke detail gerakan dan setiap kesalahan

segera diberikan, prinsip-prinsip Overload diterapkan, baik dalam aspek

fisik maupun mental. 5) Prinsip Berpikir Positif

Jika ingin berprestasi, atlet harus berani sakit dalam berlatih. Pelatih harus tahu bagaimana hati atlet, apa yang mereka katakan kepada dirinya sendiri. Dan pelatih harus mempengaruhi kata hatinya, melatih atlet untuk selalu berpikir positif dan optimis, mengubah sikap bawah sadar yang negatif menjadi positif.

6) Variasi Dalam Latihan

Latihan yang dilakukan biasanya banyak menuntut waktu, pikiran, tenaga. Karena itu bukan mustahil jika latihan yang intensif dan terus menerus kadang-kadang menimbulkan rasa bosan pada atlet. Jika sudah bosan, maka gairah pada atlet dan motivasinya untuk berlatih biasanya menurun atau bahkan hilang sama sekali. Karena itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk mencegah timbulnya kebosanan berlatih, misalnya dengan cara merencanakan dan menyelenggarakan variasi-variasi dalam latihan.

7) Prinsip Individualisasi

Setiap individu berbeda dari segi fisik maupun mental, maka setiap individu akan memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap suatu beban latihan yang diberikan pelatih. Latihan merupakan suatu beban latihan diberikan pelatih. Latihan merupakan suatu pesoalan pribadi bagi setiap atlet dan tidak bisa disama ratakan bagi semua atlet. Latihan harus direncanakan dan disesuaikan bagi setiap individu atlet agar dapat menghasilkan prestasi yang baik.

8) Penetapan Sasaran ( Goal Setting)

Seringkali suatu tim atau atlet tidak berlatih dengan sungguh-sungguh, atau kurangnya motivasi untuk berlatih karena tidak ada tujuan atau sasaran yang jelas untuk apa atlet berlatih. Karena itu menetapkan sasaran latihan untuk atlet sangat penting.

9) Prinsip Perbaikan Kesalahan

Kalau atlet sering melakukan kesalahan gerak, maka pada waktu memperbaiki kesalahan tersebut, pelatih harus menekankan pada penyebab terjadinya kesalahan.

5. Sarana dan Prasarana

Dokumen terkait