• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pemrioritasan Intervensi Kesehatan

BAB 1 Konsep Prioritas Kesehatan

1.3. Metode Pemrioritasan Intervensi Kesehatan

Menurut Terwindt, Rajan, dan Soucat (2016), terdapat dua pendekatan utama yang dapat digunakan untuk melakukan prioritas intervensi kesehatan di suatu negara, yaitu pendekatan teknis (technical approaches) dan pendekatan berbasis nilai (value-based approaches). Bagian ini akan menjelaskan beberapa contoh metode yang biasa digunakan pada kedua pendekatan tersebut.

Gambar 1.2.

Metode Prioritas Intervensi

Kesehatan

F. Terwindt, Rajan, D., &

Soucat, A. (2016). Chapter 4. Priority-setting for National Health Policies.

In Schmets, G., Rajan, D., & Kadandale, S. (Ed.).

Strategizing National Health in the 21st Century:

a Handbook. Geneva:

World Health Organization.

2.1.1. Pendekatan Teknis

Menurut Terwindt, Rajan dan Soucat (2016), terdapat empat metode dengan pendekatan teknis yang dapat digunakan untuk melakukan prioritas intervensi kesehatan di suatu negara, yaitu Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK), Program Budgeting and Marginal Analysis (PBMA), Health Needs Assessment, dan Basic Priority Rating System (BPRS).

8 EVALUASI EKONOMI DAN PENILAIAN TEKNOLOGI KESEHATAN

1.3.1.1. Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK)

PTK merupakan suatu kajian multidisiplin yang digunakan untuk menghasilkan bukti tentang pengukuran teknologi kesehatan yang akan diimplementasikan atau perlu dilakukan evaluasi oleh suatu institusi. Dalam hal ini pengukurannya tidak hanya mencakup analisis efektivitas biaya, tetapi juga mengidentifikasi teknologi baru yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah kesehatan. PTK dilaksanakan di bawah kerangka hukum dan kelembagaan yang resmi dengan tujuan untuk dapat menengahi kepentingan politik, komersial, dan advokasi secara adil dan etis dalam pengambilan keputusan terkait suatu teknologi atau intervensi kesehatan.

Dalam upaya melakukan prioritas antar-program kesehatan, sangat disarankan untuk melakukan kajian PTK secara terpisah untuk setiap program tersebut. Misalnya, program pengendalian kanker payudara di Indonesia perlu melakukan kajian PTK secara terpisah untuk intervensi pencegahan, skrining, deteksi dini, diagnostik, terapi, dan pengobatan paliatif. Hal tersebut penting untuk dilakukan karena misalnya, meskipun strategi untuk skrining mungkin dapat menghemat biaya, di sisi lain teknologi paliatif tertentu ternyata tidak efektif (Teljeur et al., 2017)

1.3.1.2. Program Budgeting and Marginal Analysis (PBMA) Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan prioritas di bidang kesehatan dengan mengevaluasi bagaimana sumber daya saat ini dibelanjakan dan kemudian menghubungkan pengeluaran tersebut dengan kemungkinan keuntungan kesehatan secara marginal. PBMA mengandalkan peran advisory panel yang bertugas mengidentifikasi perkembangan suatu intervensi atau program kesehatan dalam siklus anggaran tertentu, termasuk distribusi anggarannya. PBMA biasanya dilakukan untuk membandingkan antar-intervensi dan menentukan kombinasi antar-intervensi sesuai dengan jumlah anggaran yang tersedia.

Secara garis besar metode ini terdiri dari dua aktivitas utama, yaitu program budgeting yang berfungsi untuk menabulasi pengeluaran dari berbagai macam program kesehatan, dan marginal analysis yang berperan untuk merealokasi anggaran untuk meningkatkan manfaat dari program yang telah disusun. Kedua aktivitas tersebut dapat membantu pengambil keputusan dalam mengidentifikasi kemajuan implementasi program kesehatan dengan anggaran yang telah direncakan dan juga dapat memaksimalkan manfaat dari program tersebut bagi masyarakat. Meskipun demikian, PBMA memiliki beberapa keterbatasan, yaitu metode ini hanya berfokus pada program atau area prioritas di kondisi saat ini dan analisisnya sangat bergantung pada kualitas data yang ada (Charles et al., 2016).

PBMA biasanya dilakukan untuk membandingkan antar-intervensi dan menentukan kombinasi

antar-intervensi sesuai dengan jumlah anggaran yang tersedia.

9

KONSEP PRIORITAS KESEHATAN

1.3.1.3. Health Needs Assessment (HNA)

Metode ini menggabungkan pendekatan epidemiologis, kualitatif, dan komparatif untuk menggambarkan masalah kesehatan pada suatu populasi. Hal ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari tahap analisis situasi ketika data rutin dan informasi yang ada tidak cukup untuk melakukan suatu pemeringkatan kebutuhan kesehatan.

Selain itu, dalam konteks nasional HNA juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan perbedaan pola penyakit antar-kabupaten atau wilayah

HNA juga dapat menyorot wilayah yang kebutuhannya tidak tercukupi sehingga dapat mengidentifikasi jika terjadi disparitas.

Oleh karena itu, pemerintah dapat mengetahui kebutuhan dan prioritas kesehatan pada setiap daerah dari hasil analisis tersebut.

Hal tersebut akan sangat membantu upaya pemenuhan kebutuhan secara tepat dan penggunaan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien. Namun berbeda dengan evaluasi ekonomi yang berfokus pada masalah kesehatan dengan solusi penghematan biaya, hasil pemetaan dari HNA lebih menekankan evaluasi masalah kesehatan yang mendasar, yaitu masalah kesehatan dengan tingkat kematian tinggi dengan intervensi yang mungkin bukan paling cost-effective (Terwindt, Rajan, & Soucat, 2016).

1.3.1.4. Basic Priority Rating System (BPRS)

BPRS merupakan suatu metode untuk mengukur masalah kesehatan masyarakat berdasarkan peringkat prioritas. Pendekatan ini digunakan oleh administrator dan pengambil keputusan di bidang kesehatan untuk mengukur masalah kesehatan masyarakat dan menetapkan prioritas untuk mengatasi masalah tersebut.

Salah satu kelebihan dari metode ini adalah penentuan prioritas yang dapat dilakukan seobjektif mungkin berdasarkan baseline data dan nilai numerik yang dihasilkan.

Secara garis besar terdapat tiga tahapan dalam BPRS. Tahapan pertama adalah mengidentifikasi kriteria yang memengaruhi pengambilan keputusan dalam prioritas program kesehatan. Kedua, memberikan program kesehatan tersebut skor dari 1-10 berdasarkan bobot (weight), keparahan (severity), urgensi (urgency), konsekuensi ekonomi (economic consequences), kemauan (willingness), dan efektivitas dari intervensi (effectiveness of intervention). Ketiga mengurutkan program kesehatan tersebut berdasarkan total skor yang diperoleh untuk menentukan skala prioritas. Program kesehatan dengan nilai tertinggi menggambarkan program tersebut seharusnya lebih diprioritaskan daripada yang lainnya dan demikian juga sebaliknya (Terwindt, Rajan, & Soucat, 2016).

Salah satu

kelebihan metode BPRS adalah penentuan prioritas yang dapat dilakukan seobjektif

mungkin berdasarkan baseline data dan nilai numerik yang dihasilkan.

10 EVALUASI EKONOMI DAN PENILAIAN TEKNOLOGI KESEHATAN

1.3.2. Pendekatan Berbasis Nilai (Value-based Approaches)

Pendekatan Berbasis Nilai terdiri dari Accountability for Reasonableness (AFR), Multi Voting Technique (MVT), Delphi Technique, dan Multi Criteria Decision Analysis (MCDA).

1.3.2.1. Accountability for Reasonableness (AFR)

AFR adalah pendekatan berbasis nilai etika dalam proses penetapan prioritas yang valid dan wajar sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam implementasi suatu program atau intervensi kesehatan. Pengambilan keputusan didasarkan pada lima hal utama: (1) relevance; keputusan harus dibuat berdasarkan kriteria dan bukti yang jelas serta telah disepakati sebelumnya; (Berger & Doban) (2) publicity; proses pengambilan keputusan dilakukan secara transparan dan hasilnya dapat diakses oleh pemangku kepentingan terkait; (3) revision and appeals;

adanya peninjauan kembali atau revisi terhadap keputusan yang telah diambil berdasarkan suatu bukti; (4) empowerment; peluang partisipasi yang efektif dioptimalkan dalam proses pengambilan keputusan; dan (5) enforcement. Kelima hal tersebut dipastikan telah terpenuhi (Daniels, 2016).

1.3.2.2. Multi Voting Technique (MVT)

MVT yang juga dikenal sebagai Nominal Group Technique (NGT) adalah pendekatan yang mengedepankan nilai dari konsensus yang dihasilkan oleh suatu kelompok. Metode ini terutama digunakan untuk pengambilan keputusan yang bersifat kolaboratif. Pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk prioritas program atau intervensi kesehatan memiliki pendapat yang berbeda-beda berkaitan dengan beberapa ide atau solusi terhadap masalah yang didiskusikan. Oleh karena itu, teknik ini melibatkan peran seorang fasilitator untuk mengarahkan peran aktif seluruh anggota kelompok.

Setiap gagasan dari seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dikelompokkan dan dikategorikan berdasarkan kriteria yang sebelumnya telah diputuskan. Setiap pemangku kepentingan diminta untuk membuat peringkat berbagai masalah kesehatan yang teridentifikasi menggunakan skala yang telah disepakati. Hasil tersebut kemudian dikumpulkan oleh fasilitator dan disampaikan kepada kelompok untuk menghasilkan suatu konsensus bersama.

Metode ini dapat digunakan pada tahap awal penetapan prioritas dan lebih cocok untuk diterapkan pada kelompok yang jumlahnya tidak terlalu besar (Terwindt, Rajan, & Soucat, 2016).

Setiap gagasan dari seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dikelompokkan dan dikategorikan berdasarkan kriteria yang sebelumnya telah diputuskan.

11

KONSEP PRIORITAS KESEHATAN

1.3.2.3. Delphi Technique

Delphi Technique juga merupakan jenis metode konsensus, seperti MVT atau NGT. Proses pengambilan keputusan dalam metode ini melibatkan beberapa pakar dalam suatu panel. Berbeda dengan Focus Group Discussion yang sengaja menggunakan dinamika kelompok untuk menghasilkan debat tentang suatu topik tertentu, Delphi Technique berusaha untuk menjaga anonimitas setiap peserta. Identitas setiap pakar disembunyikan sehingga setiap pakar tidak dapat mengetahui identitas pakar lain. Hal ini bertujuan untuk menghindari dominasi salah satu pakar dan dapat meminimalkan pendapat yang bias.

Terdapat empat tahapan utama dalam metode ini. Tahapan yang pertama adalah eksplorasi pendapat. Fasilitator mengirimkan beberapa pertanyaan kepada para pakar terkait dengan masalah yang akan dibahas. Pertanyaan dapat disampaikan secara tertulis (surat atau surel) dan lisan (telepon). Para pakar diminta menjawab semua pertanyaan dan mengirimkannya kembali kepada fasilitator. Tahapan kedua adalah merangkum pendapat para pakar dan mengomunikasikannya kembali sehingga setiap pakar dapat mengetahui pendapat dari pakar lain. Setiap pakar diberi kebebasan untuk tetap mempertahankan pendapatnya atau bahkan mengganti pendapatnya berdasarkan sudut pandang pakar lainnya, dan mengirimkannya kembali kepada fasilitator.

Tahapan ketiga adalah mencari informasi mengenai alasan para pakar terkait pendapat yang disampaikan. Revisi pendapat pada tahap kedua memberikan dua kemungkinan hasil, yaitu pendapat yang seragam atau saling bertolak belakang. Jika terdapat pendapat yang agak berbeda dari pendapat lain, fasilitator kembali mencari informasi mengenai alasan pakar atas pendapat yang disampaikan.

Tahapan terakhir adalah evaluasi. Proses ini berlangsung hingga tim investigasi merasa yakin bahwa semua pendapat merupakan hasil pemikiran yang matang (Turner, Ollerhead, & Cook, 2017).

1.3.2.4. Multi Criteria Decision Analysis (MCDA)

MCDA adalah model analisis keputusan kuantitatif yang menangkap preferensi pembuat keputusan dalam hal prioritas program kesehatan dan menemukan solusi yang paling diinginkan untuk masalah tersebut. Metode ini sebenarnya tidak hanya menekankan pendekatan nilai karena metode ini menggabungkan dua pendekatan, yaitu teknis dan nilai. Metode ini banyak digunakan dalam proses pengambilan keputusan yang memiliki banyak kriteria atau variabel. MCDA didasarkan pada matriks kinerja yang setiap barisnya menjelaskan opsi dan setiap kolom menjelaskan kinerja opsi terhadap setiap kriteria.

Kekurangan dari pendekatan metode MCDA adalah tidak dapat dibuktikan dengan expert choice. Namun, hal tersebut dapat

MCDA adalah solusi yang paling diinginkan untuk masalah tersebut.

12 EVALUASI EKONOMI DAN PENILAIAN TEKNOLOGI KESEHATAN

difasilitasi dengan dengan pendekatan Multi Criteria Decision Making (MCDM) yang mempertimbangkan Analytic Hierarchy Process (AHP). Terdapat lima kriteria yang dapat diterapkan dalam melakukan prioritas dengan metode ini, yaitu optimasi kesehatan masyarakat secara umum, distribusi kesehatan dalam populasi, preferensi masyarakat, kendala anggaran dan praktis, dan pertimbangan politik (Baltussen et al., 2019).

1.4. Konsep Penetapan Prioritas dalam Universal