• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Jaring Rampus

2.2.4 Metode pengoperasian

Nomura dan Yamazaki (1976) mengemukakan bahwa umumnya gillnet dioperasikan dalam rangkaian yang panjang hingga mencapai ribuan meter. Kadang kala dioperasikan secara terhanyut bersama-sama kapal atau ditetapkan kedudukan jaring dengan bantuan jangkar membentang sepanjang dasar perairan maupun pada kedalaman tertentu. Ikan yang menjadi tujuan penangkapannya ialah jenis-jenis yang bermigrasi horizontal dan vertikal (Ayodhyoa 1981). Menurut Miranti (2007) secara umum metode pengoperasian alat tangkap gillnet terdiri atas beberapa tahap, yaitu :

1) Persiapan yang dilakukan nelayan meliputi pemerikasaan alat tangkap, kondisi mesin, bahan bakar kapal, perbekalan, es dan tempat untuk menyimpan hasil tangkapan;

2) Pencarian daerah penangkapan ikan (DPI), hal ini dilakukan nelayan berdasarkan pengalaman-pengalaman melaut yaitu dengan mengamati

kondisi perairan seperti banyaknya gelembung-gelembung udara dipermukaan perairan, warna perairan, serta adanya burung-burung di atas perairan yang mengindikasikan adanya schooling ikan;

3) Pengoperasian alat tangkap yang terdiri atas pemasangan jaring (setting), perendaman jaring (soaking) dan pengangkatan jaring (hauling); dan

4) Tahap penanganan hasil tangkapan adalah pelepasan ikan hasil tangkapan dari jaring untuk kemudian disimpan pada suatu wadah atau tempat.

Pengoperasian jaring rampus pada umumnya sama dengan jaring insang lainnya yaitu terbagi atas setting dan hauling. Pada waktu setting dilakukan penurunan jangkar, tali pemberat, jaring, tali ris atas dan tali pelampung. Adapun ketika hauling dilakukan pengangkatan jangkar, tali ris atas, tali pemberat dan hasil tangkapan. Direktorat Jendral Perikanan (1994) mengungkapkan hal yang sama dengan urutan sebagai berikut:

1) Jaring diturunkan lembar demi lembar dengan memperhatikan arah arus dan angin;

2) Ujung tali pelampung lembar jaring pertama yang diturunkan kedalam air diberi tali berpelampung tanda dan ujung tali pemberatnya diberi pemberat batu;

3) Ujung tali pelampung lembar jaring terakhir diberi tali selambar berpelampung tanda dan ujung tali pemberatnya diberi pemberat batu;

4) Kapal labuh jangkar didekat lokasi penawuran atau mencari tempat lain yang aman;

5) Pengangkatan jaring dilakukan lembar demi lembar yang dimulai dengan lembar jaring yang paling dekat ke kapal sampai dengan lembar pertama yang diturunkan;

6) Pengambilan ikan yang terjerat pada mata jaring dilakukan bersamaan dengan pengangkatan jaring; dan

7) Jaring disusun kembali secara teratur untuk penawuran berikutnya setelah semua ikan yang terjerat pada mata jaring dilepas.

2.2.5 Musim dan daerah penangkapan jaring rampus

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian jaring rampus adalah waktu penangkapan, daerah penangkapan, dan jaring. Adapun fishing ground yang umum adalah daerah-daerah Teluk, pantai dan muara sungai (Ayodhyoa, 1981). Menurut Direktorat Jendral Perikanan (1994), jaring rampus dioperasikan pada perairan yang mempunyai substrat lumpur, pasir, atau pasir bercampur lumpur dengan kedalaman sekitar 50 m.

2.2.6 Hasil tangkapan

Menurut Direktorat Jendral Perikanan (1994), hasil tangkapan utama jaring rampus adalah jenis-jenis ikan demersal, dan selebihnya ikan-ikan pelagis kecil. Ikan demersal yang dominan antara lain adalah tiga jawa (Johnius spp.), gulamah (Pseudociana spp.), kuwe (Caranx spp.), layang (decapterus spp), dan kuro (Polynemus spp). Adapun ikan pelagis yang biasa tertangkap adalah selar bentong (Selaroides crumenopthalmus), japuh (Sardinella spp.), lemuru (Sardinella sirm), dan tenggiri (Scomberomerous spp.)

2.3 Kapal

Berdasarkan metode pengoperasian alat tangkapnya, kapal ikan dibedakan dalam empat kelompok besar, yaitu towed gear, kapal dengan alat tangkap ikan yang ditarik; encircling gear, kapal dengan alat tangkap dilingkar; static gear, kapal dengan alat tangkap yang dioperasikan secara statis; dan multi purpose, kapal dengan lebih dari satu alat tangkap (Fyson J 1985). Kapal gillnet termasuk kedalam kelompok kapal dengan metode static gear, sehingga kecepatan kapal bukanlah suatu faktor yang penting karena alat tangkap ini bekerja secara statis. Pada kapal gillnet stabilitas kapal yang tinggi lebih diperlukan agar saaat pengoperasian alat tangkap dapat berjalan dengan baik (Rahman 2005). Menurut Solihin (1993), umumnya kapal gillnet mengoperasikan berbagai jenis ukuran alat tangkap. Gillnet pada mulanya dioperasikan menggunakan kapal-kapal kecil tanpa motor oleh nelayan tradisional. Adanya kemajuan dalam bidang motorisasi, maka penggunaan kapal gillnet di Indonesia umumnya telah menggunakan penggerak mesin motor tempel (outboard engine). Gillnet dengan skala usaha yang lebih

besar biasanya menggunakan tenaga penggerak jenis mesin dalam (inboard engine) dan alat bantu roller untuk proses penarikan jaring.

Kapal motor tempel (outboard) adalah kapal dengan mesin yang dapat dipasang atau dilepaskan secara cepat yang digunakan untuk menangkap ikan dengan alat tangkap gillnet. Bentuk badan kapal gillnet pada bagian haluan “V”, bagian tengah berbentuk “U” dan bagian buritan cenderung mendatar (Agustina, 1996).

2.4 Nelayan

Menurut Solihin (1993), jumlah nelayan tiap perahu gillnet tidaklah sama, bergantung pada skala usaha tersebut. Jenis kapal yang berupa perahu layar tanpa motor hanya menngunakan satu atau dua orang nelayan, sedangkan perahu gillnet dengan motor tempel biasanya dioperasikan oleh tiga sampai empat orang nelayan. Dalam pengoperasian gillnet, keahlian nelayan memegang peranan penting terutama pada saat penurunan jaring (setting) dan pengaturan posisi kapal terhadap arus laut. Saat penurunan jaring, nelayan sedemikian rupa menjaga agar pelampung dan pemberat tidak melilit pada tubuh jaring, dengan cara menurunkan pemberat terlebih dahulu, tubuh jaring kemudian pelampung (Sultan, 1986).

3 METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di bulan Maret hingga bulan April tahun 2011. Penelitian ini meliputi: pembuatan alat dan pengambilan data di Cisolok. Jaring rampus dibuat dengan hanging ratio 0,45, 0,57, dan 0,65 masing-masing sebanyak 2 lembar. Adapun pengambilan data di lapang berupa uji coba penangkapan ikan dilakukan selama 15 hari dimulai dari tanggal 7 April sampai dengan 21 April tahun 2011. Lokasi pengambilan data adalah di perairan Cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat (Lampiran 1). Lokasi penelitian tersebut diambil sebagai tempat penelitian karena merupakan salah satu dari kelima perairan di Indonesia yang menjadi wilayah sebaran ikan layang (Decapterus kurroides).

3.2 Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1) Perahu dengan panjang (L), lebar (B) dan dalam (D) berturut-turut 11,8 m, 1 m dan 1 m;

2) Penggaris dengan panjang 60 cm dengan tingkat ketelitian 1mm;

3) Measuring board yang terbuat dari bahan steroform untuk mengukur panjang cagak ikan (Fork Length);

4) GPS (Global Positioning Sistem) untuk menentukan posisi penangkapan; 5) Alat tulis untuk mencatat hasil tangkapan;

6) Kamera dengan merk canon untuk mendokumentasikan seluruh hasil dan kegiatan penelitian;

7) Coban.

3.3 Metode Pengembalian Data 3.3.1 Jaring rampus yang digunakan

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan jaring rampus yang memilikiki tiga ukuran hanging ratio yang berbeda. Ketiga ukuran hanging ratio tersebut adalah 0,45, 0,57 dan 0,65. Masing-masing jaring rampus dengan hanging ratio berbeda tersebut sebanyak 2 piece. Jaring rampus tersebut dioperasikan secara langsung di perairan Cisolok dengan menggunakan perahu nelayan untuk memperoleh data yang diinginkan. Jaring rampus yang digunakan untuk pengambilan data memiliki panjang tali pelampung (float line) 65 meter dan panjang tali pemberat (sinker line) 65 meter dengan ukuran mata jaring 2 inchi. Jaring rampus ini menggunakan pelampung yang terbuat dari Steroform dengan panjang 5 cm berbentuk balok dengan panjang 5 cm. Pemberat pada jaring ini adalah timah dengan berat 12 gram, panjang 2 cm dan diameter 5 mm. Secara umum spesifikasi jaring rampus yang digunakan pada penelitian bisa dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Spesifikasi jaring rampus yang digunakan dalam penelitian

No. Bahan

Jaring Spesifikasi

Hanging ratio

0,45 0,57 0,65

1. Foat Line - Panjang - Diameter - Bahan 5600 cm 0,5 cm PE 5600 cm 0,5 cm PE 5600 cm 0,5 cm PE 2. Sinker Line - Panjang

- Diameter - Bahan 6000 cm 0,3 cm PE 6000 cm 0,3 cm PE 6000 cm 0,3 cm PE 3. Pelampung - Panjang - Diameter - Berat - Bahan 5 cm 0,5 cm 2 gram Steroform 5 cm 0,5 cm 2 gram Steroform 5 cm 0,5 cm 2 gram Steroform 4. Pemberat - Panjang - Diameter - Berat - Bahan 2 cm 0,3 cm 12 gram Timah 2 cm 0,3 cm 12 gram Timah 2 cm 0,3 cm 12 gram Timah 5. Badan Jaring - Mesh

Horizontal - Mesh Vertikal - Bahan 2442 ◊ 75 ◊ PA Monofilamen 1934 ◊ 75 ◊ PA Monofilamen 1698 ◊ 75 ◊ PA Monofilamen

Jaring rampus pada penelitian ini menggunakan simpul bendera baik untuk mengikat pelampung ataupun pemberat. Pelampung dipasang pada tali pelampung dan digabungkan dengan tali ris atas dengan menggunakan satu pola pemasangan. Dalam satu pola pemasangan pelampung terdapat 25 mata dan 2 buah pelampung dengan jarak tali ris atas 48 cm. Pelampung dipasang pada sisi awal dan akhir, disetiap pelampung ada 3 buah mata jaring dan 19 buah mata jaring di antara pelampung yang satu dengan yang lainnya. Adapun untuk satu pola pemasangan pemberat terdapat 6 buah pemberat dan 49 buah mata dengan jarak tali ris bawah 120 cm. Pada sisi pertama dipasang 2 buah pemberat tanpa jarak dengan masing- masing 2 buah mata jaring pada setiap pemberat, kemudian berurutan satu pemberat dengan jarak 28 cm dengan 9 buah mata jaring, satu pemberat dengan jarak 29 cm dan 10 buah mata jaring, satu pemberat dengan jarak 29 cm dengan 9 buah mata jaring dan terakhir satu pemberat dengan jarak 28 cm dan 9 buah mata jaring. Secara rinci pola pemasangan pelampung dan pemberat disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Lay out pola pemasangan pelampung dan pemberat jaring rampus yang digunakan pada penelitian.

Tali pemberat 120 cm, 49 ◊ Tali ris atas 2 ◊ 2 ◊ 2 ◊ 2 ◊ 2 ◊ 2 ◊ 28 cm, 9 ◊ 29 cm, 9 ◊ 29 cm, 10 ◊ 28 cm, 9 ◊ Tali ris bawah 48 cm, 19 ◊ Pelampung, 3 ◊ Pelampung, 3 ◊

Secara rinci desain dan konstruksi jaring rampus dengan hanging ratio 0,45 disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Desain dan konstruksi jaring rampus dengan hanging ratio 0,45.

Pada saat uji coba penangkapan jaring rampus dengan hanging ratio berbeda dipasang secara berselang-seling. Hal ini dimaksudkan untuk memberi peluang yang sama pada ikan untuk tertangkap pada jaring rampus dengan hanging ratio yang berbeda. Metode pemasangan jaring rampus ketika di operasikan di perairan disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Pemasangan jaring rampus ketika di operasikan di perairan. 2442 ◊ 75 ◊ PA Monofilament : 2 inchi 75 ◊ 2442 ◊ 56 PE Ø 5 56 PE Ø 5 56 PE Ø 5 56 PE Ø 3 Tali pelampung Pelampung

Badan jaring Tali ris atas

Tali ris bawah

Tali pemberat Pemberat HR 0,45 HR 0,57 HR 0,65 HR 0,45 HR 0,65 HR 0,57 336 meter 56 m

3.3.2 Pengukuran hasil tangkapan

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini dikelompokkan atas data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan meliputi jumlah, jenis, cara tertangkap dan ukuran hasil tangkapan. Untuk hasil tangkapan berupa udang dilakukan perhitungan jumlah, cara tertangkap dan pengukuran panjang kerapas (CL). Carapace length (panjang kerapas/CL) adalah jarak dari tulang kerapas kepala sampai dengan tulang ujung mata. Metode pengukuran panjang kerapas disajikan pada Gambar 5.

Sumber : Farmed (2009)

Gambar 5 Panjang kerapas pada udang.

Adapun untuk hasil tangkapan berupa ikan dilakukan perhitungan jumlah, jenis spesies, cara tertangkap dan pengukuran panjang total (TL), panjang cagak (FL) dan keliling operkulum (G). Panjang total adalah jarak antara ujung kepala yang terdepan (biasanya ujung rahang terdepan) dengan ujung sirip ekor yang paling belakang. Panjang cagak adalah jarak antara ujung kepala yang terdepan dengan lekuk cabang sirip ekor. Keliling operkulum adalah jarak antara kedua operkulum pada kedua sisi kepala. Metode pengukuran panjang total (TL) dan panjang cagak (FL) disajikan pada Gambar 6.

TL FL

Sumber : Brojo dan setiawan (2004)

Gambar 6 Panjang total dan panjang cagak pada ikan.

Cara tertangkapnya hasil tangkapan dibedakan menjadi 4 yakni snagged, gilled, wedged dan entangled. Snagged yaitu di mana mata jaring mengelilingi ikan tepat dibelakang mata, gilled yaitu di mana mata jaring mengelilingi ikan tepat di belakang tutup insang, wedged yaitu di mana mata jaring mengelilingi badan sejauh sirip punggung dan entangled adalah bila ikan terjerat di jaring melalui gigi, tulang rahang, sirip atau bagian tubuh yang menonjol lainnya, tanpa masuk kedalam mata jaring (Per Spare and Venema 1985). Adapun gambaran mempunyai cara tertangkapnya ikan layang pada gillnet disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7 Cara tertangkap ikan pada jaring.

Data sekunder yang dikumpulkan meliputi produksi, jumlah unit penangkapan dan kondisi geografis lokasi penelitian. Data tersebut di peroleh dari Dinas Perikanan Kebupaten Sukabumi.

Entanggle

Wedged Gilled

3.4 Rancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Secara sistematis model RAL menurut Gasperz (1991) adalah sebagai berikut :

Yij = µ + τi + E ij Keterangan :

Yij : Data pada perlakuan ke-i dan ulangan ke- j; µ : Nilai rataan;

τ1 : Pengaruh perlakuan ke-i; dan

ɛ

: Sisaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke- j.

Asumsi yang digunakan untuk RAL adalah:

1)

ɛ

i menyebar normal dengan nilai tengah dan ragam kuadrat mendekati nol; 2)

ɛ

j bersifat bebas satu sama lain; dan

3) t bersifat tetap.

Hipotesis yang akan diuji melaui model analisis ini adalah

H0 : t1 : t2 ...t10 = 0; berarti tidak ada pengaruh perlakuan hanging ratio terhadap jumlah hasil tangkapan ikan layang; dan

H1 : minimal ada satu t1 ≠ 0 (I = 1, 2, 3, ..., 10), artinya minimal ada satu perlakuan hanging ratio yang mempengaruhi jumlah hasil tangkapan ikan layang.

Kesimpulannya adalah bila Fhit > Ftab maka tolak H0 tetapi jika Fhit < Ftab maka gagal tolak H0. Beberapa keuntungan dari penggunaan Rancangan Acak Lengkap yaitu :

1) Daerah rancangan percobaan menjadi lebih mudah; 2) Analisis statistik terhadap subjek percobaan lebih mudah;

3) Fleksibel dalam penggunaan jumlah perlakuan dan jumlah ulangan; dan 4) Kehilangan informasi relatif sedikit dalam hal data hilang dibandingkan

rancangan lain.

3.5 Analisis Data

Data berupa total jumlah hasil tangkapan dan jumlah hasil tangkapan ikan layang dianalisis kenormalannya dengan menggunakan uji Kolmogorof-smirnov.

Apabila data menyebar normal maka data mengenai hasil tangkapan, jumlah maupun ukuran ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus dengan hanging ratio yang berbeda diuji dengan uji ANOVA.

Apabila hasil uji ANOVA terhadap hasil tangkapan jaring rampus dengan perlakuan yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda maka dilakukan uji lanjut BNT. Uji BNT merupakan prosedur pengujian perbedaan diantara rata-rata perlakuan yang paling sederhana dan paling umum digunakan. Metode ini diperkenalkan oleh Fisher (1935), sehingga dikenal pula dengan Metoda Fisher’s LSD (Least Significant Difference).

Formula untuk menghitung nilai LSD adalah sebagai berikut:

LSD = = ;

Apabila jumlah ulangan tidak sama :

LSD = .

Keterangan r : Jumlah banyaknya ulangan

KTG : Kuadrat Tengah Galat yang diperoleh dari analisis ragam; α : Taraf nyata;

dfe : Derajat bebas galat; dan

t : Nilai yang diperoleh dari tabel t-student.

Dalam uji LSD, untuk menilai apakah dua nilai rata-rata perlakuan berbeda secara statistik, maka bandingkan nilai LSD yang telah dihitung dengan selisih mutlak kedua rata-rata tersebut. Apabila selisih lebih besar dibandingkan dengan nilai LSD, maka dikatakan kedua rata-rata tersebut berbeda nyata pada

taraf α. Secara sistematis, pernyataan tersebut dapat diringkas;

Uji LSD menyatakan µi dan µj berbeda pada taraf nyata α jika: | μi – µj | > LSD Dalam menentukan adanya perbedaan keragaman spesies yang tertangkap pada jaring rampus dengan hanging ratio yang yang berbeda maka dilakukan analisis keragaman spesies dengan menggunakan Indeks Shannon Wiener. Keragaman spesies hasil tangkapan akan digunakan sebagai pendekatan analisis

untuk melihat selektivitas jaring rampus dengan perbedaan hanging ratio terhadap spesies hasil tangkapan. Jaring rampus akan memiliki selektivitas terhadap spesies yang relatif baik apabila memiliki nilai indeks Shannon Wiener yang lebih kecil dibandingkan dengan jaring rampus lainnya. Rumus untuk mencari keragaman spesies menggunakan indeks Shannon Wiener adalah sebagai berikut (Krebs, 1989) :

;

Keterangan :

H’ : Index diversitas Shannon Wiener;

Pi : Proporsi jumlah individu jenis ke-i dengan jumlah individu total contoh; dan

S : Jumlah spesies.

Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan keanekaragaman Shannon Wiener, yaitu :

H’ < 2,30 : Keanekaragaman kecil;

H’ 2,30 – 6,90 : Keanekaragaman tergolong sedang; dan H’ > 6,90 : Keanekaragaman tergolong tinggi.

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Batas-batas Administrasi Kecamatan Cisolok

Pangkalan Pendaratan Ikan Cisolok berada di Desa Cikahuripan Kecamatan Cisolok. Kecamatan Cisolok merupakan kecamatan pesisir yang berada di ujung Barat Kabupaten Sukabumi. Luas Kecamatan Cisolok mencapai 16.987 ha yang terdiri dari 10 desa. Adapun batas wilayah administratif kecamatan Cisolok adalah

1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kabandungan; 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia; 3) Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Banten; dan 4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cikakak.

4.2 Letak dan Keadaan Geografis

Teluk Palabuhanratu terletak di desa Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada 6°97’-7°3’ LS dan 106°59’- 106°62’ BT dengan luas wilayah kecamatan Palabuhanratu adalah 10.288 Ha dan ketinggian 0-50 meter dari permukaan air laut.

Palabuhanratu memiliki dua musim yang sangat mempengaruhi operasi panangkapan ikan, yaitu adanya musim Barat pada bulan Desember hingga Februari dan musim Timur pada bulan Juni hingga Agustus (Nuraini et.al., 1992). Pada musim Barat sering kali terjadi hujan dengan angin yang sangat kencang disertai ombak yang besar. Menurut Hendrotomo (1989), pada saat itu umumnya kapal nelayan di Palabuhanratu yang berukuran kecil jarang pergi melaut, namun terdapat beberapa jenis kapal terutama kapal diesel, misalnya rawai cucut, pada musim ini tetap pergi ke laut. Pada musim Timur jarang turun hujan dan keadaan laut biasanya tenang. Hal ini memungkinkan nelayan turun ke laut dan biasanya pada musim ini merupakan puncak banyak ikan.

Perubahan musim sangat berpengaruh terhadap kegiatan dan upaya penangkapan ikan di Perairan Palabuhanratu. Upaya penangkapan terjadi pada musim Timur, dimana angin Timur terhalang oleh tanjung sehingga tidak menimbulkan gelombang besar. Pada musim Barat, angin yang bertiup tidak

terhalang oleh tanjung sehingga mengakibatkan terjadinya gelombang yang besar dan hujan lebat (Dharmayati, 1989)

Wyrtki (1961) menyatakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu bersesuaian dengan sifat laut. Kecetapatan angin tercatat sebesar 1-7,5 meter/detik selama bulan September sampai Desember dan bergerak kearah Barat. Menurut Uktolseja (1973), pada bulan September kecepatan angin di perairan Lepas Pantai Palabuhanratu berkisar antara 5-7 meter/detik dengan arah yang sama.

Jumlah curah hujan di Palabuahanratu berkisar antara 1.500-3.000 mm dalam satu tahun. Curah hujan rata-rata selama sepuluh tahun terakhir 2.266 mm, dengan hari hujan rata-rata 196 hari dan kelembaban relatif udara sekitar 88% (Nuraini et.al., 1992)

4.3 Unit Penangkapan Ikan

Unit penangkapan ikan adalah satu kesatuan teknis dalam melakukan operasi penangkapan ikan yang terdiri dari kapal/perahu, alat tangkap dan nelayan.

4.3.1 Perahu

Perahu digunakan oleh nelayan untuk mempermudah penangkapan dan merupaakan transportasi nelayan ke daerah penangkapan ikan. Jenis perahu yang terdapat di Cisolok adalah perahu motor tempel.

Perahu motor tempel adalah kapal atau perahu yang pengoperasiannya menggunakan mesin motor (inboard engine) yang biasanya digunakan untuk mengoperasikan alat tangkap dengan perikanan skala kecil.

Perahu penangkapan ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan Cisolok hanya satu jenis, yaitu perahu motor tempel. Perahu motor tempel adalah perahu atau kapal yang pengoperasiannya menggunakan mesin motor tempel (outboad engine). Perkembangan jumlah perahu/kapal motor tempel dan kapal motor setiap tahunnya ada yang meningkat dan ada pula yang menurun walaupun peningkatan dan penurunannya sedikit. Pada tahun 2007 jumlah perahu motor tempel mengalami kenaikan sebesar 3,9% dari tahun 2005. Pada tahun 2005 jumlah perahu motor tempel sebanyak 511 unit sedangkan pada tahun 2007 meningkat menjadi 531. Namun jumlah ini terus mengalami penurunan hingga menjadi 346

unit pada tahun 2010. Sebaliknya untuk kapal motor terus mengalami peningkatan secara bertahap pada tahun 2005 jumlah perahu motor 229 unit. Jumlah ini meningkat 114,4% menjadi 491 unit pada tahun 2010. Secara detail Perkembangan jumlah perahu motor tempel dan kapal motor disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Perkembangan jumlah perahu motor tempel dan kapal motor tahun 2005- 2010 / unit

Tahun Perahu motor tempel Kapal motor Jumlah

2005 428 229 657 2006 511 270 781 2007 531 321 852 2008 416 230 646 2009 364 394 758 2010 346 491 837

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011

4.3.2 Alat tangkap

Jumlah alat tangkap di PPN Palabuhanratu dibedakan atas perahu motor tempel dan kapal motor. Pada tahun 2005 jumlah alat tangkap mengalami kenaikan secara bertahap pada tahun 2005 jumlah alat tangkap sebanyak 637 unit. Jumlah ini meningkat 693,9% menjadi 6.478 unit. Secara detail jumlah alat tangkap di Kabupaten Sukabumi disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Jumlah alat tangkap di Kabupaten Sukabumi (unit)

Tahun Jumlah alat tangkap 2005 825 2006 923 2007 2.949 2008 2.872 2009 6.575 2010 6.478

Alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan PPI Cisolok, hanya 3 jenis alat tangkap yang dioperasikan setiap tahunnya yaitu payang, pancing layur dan jaring rampus. Kebiasaan dari nelayan di PPI Cisolok yaitu nelayannya tidak hanya mempunyai 1 jenis alat tangkap melainkan memiliki beberapa karena disesuaikan dengan musim ikan.

1) Payang (1) Deskripsi

Payang adalah alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal dan digunakan oleh nelayan Indonesia. Alat tangkap ini termasuk ke dalam kelompok pukat kantong (sene net) atau lebih dikenal dengan nama danish seine. Adapun alat tangkap ini terdiri dari tiga bagian utama yaitu sayap, badan dan kantong (Subani dan Barus, 1989).

Payang dioperasikan di permukaan dengan tujuan untuk menangkap ikan- ikan pelagis. Pada penggoperasiannya, alat tangkap ini dioperasikan dengan melingkari kawanan ikan kemudian jaring ditarik ke atas geladak kapal (Subani dan Barus, 1989). Pengoperasian payang dilakukan baik pada siang hari maupun pada malam hari. Adapun alat tangkap payang di kawasan PPI Cisolok hanya dioperasikan di dalam Teluk Palabuhanratu pada pagi hari sampai dengan sore hari. Alat tangkap payang yang dioperasikan di perairan Cisolok disajikan pada Gambar 8.

(2) Konstruksi

Payang termasuk ke dalam alat tangkap pukat kantong yang mempunyai tiga bagian besar yaitu sayap, badan dan kantong. Adapun bagian-bagian alat tangkap payang secara lebih rinci terdiri atas dua sayap, badan jaring, kantong, pelampung, pemberat, dua tali ris, dan tali selambar. Konstruksi payang dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Konstruksi payang.

(a) Sayap

Sayap pada payang digunakan untuk mengurung kawanan ikan yang akan ditangkap. Material jaring yang digunakan pada bagian sayap adalah PA