Pengertian Dasar Zakat
Bab 6 : Kekeliruan Memahami Zakat
B. Terlalu Meluaskan Zakat
2. Mewajibkan Zakat di Luar Ketentuan
Sungguh aneh rekayasa-rekayasa yang sering dibuat dalam rangka menarik dana dari masyarakat, sampai-sampai harus menciptakan zakat jadi-jadian, yang sama sekali tidak pernah diperintahkan, demi sekedar untuk menyedot dana segar dari umat Islam, dengan mengatas-namakan zakat.
Misalnya muncul istilah zakat haji, zakat dapat warisan, zakat jual tanah, rumah, kendaraan, zakat ketika mendapat hadiah, uang kaget dan sejenisnya.
a. Rekayasa Zakat Haji
Sungguh terlalu beberapa oknum di Dirjen Haji Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah melakukan berbagai pungutan liar dengan mengatas-namakan zakat.
Ada beberapa kasus memalukan. Misalnya di Jakarta, setiap jemaah dipungut Rp. 300 ribu untuk infaq, meskipun tidak wajib tapi kenyataannya infaq itu dipungut berdasarkan surat edaran gubernur. Bila rata-rata tiap jemaah dipungut Rp. 300 ribu dikalikan jumlah jemaah haji tahun ini sekitar 210 ribu maka nilainya mencapai Rp. 63 miliar. Kalau dihitung sudah berlangsung puluhan tahun maka angkanya bisa trilyunan rupiah.
DKI Marhus Umar membenarkan adanya pungutan infaq itu. Dia menyebutkan infaq sebesar Rp. 300 ribu merupakan kesepakatan Forum Komunikasi KBIH. Uang infaq yang sudah terkumpul disetorkan ke Kankemenag dan selanjutnya disetor kepada Bazis.
Abdul Karim, Direktur Pemberdayaan Zakat Kementerian Agama menyatakan pemungutan infaq Rp. 300 ribu kepada setiap calhaj merupakan anjuran bukan suatu kewajiban. Jadi pungutan itu bukan zakat melainkan infaq. Namun pada kenyataannya, bukan hanya infaq tapi juga zakat sebesar 2,5 persen bagi calhaj yang belum membayar zakat.
b. Rekayasa Zakat Atas Harta Warisan
Zakat yang seringkali ditagih adalah zakat pada saat pembagian warisan. Mungkin karena para ahli waris itu sedang banyak uang, maka tiba-tiba muncul rekayasa dari pihak yang tidak bertanggung-jawab, yaitu adanya kewajiban zakat atas harta yang dibagi warisan.
Padahal dalam ilmu faraidh sama sekali tidak dikenal kewajiban atas ahli waris untuk membayar zakat. Kalau pun ada anjuran untuk mengeluarkan harta, namanya bukan zakat, melainkan sedekah yang sifatnya uang kerahiman yang sifatnya hanya anjuran.
ﻭ ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍﻭ ﻰﺑﺮﹸﻘﹾﻟﺍ ﹾﺍﻮﹸﻟﻭﹸﺃ ﹶﺔﻤﺴﻘﹾﻟﺍ ﺮﻀﺣ ﺍﹶﺫﹺﺇﻭ
ـﳌﺍ
ﲔﻛﺎﺴ
ﻢﻫﻮﹸﻗﺯﺭﺎﹶﻓ
ﻪﻨﻣ
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An-Nisa’ : 8)
c. Rekayasa Zakat Hadiah
Rekayasa zakat yang lain lagi adalah zakat atas penerimaan hadiah, yang sering diidentikkan dengan zakat atas harta rikaz. Padahal hadiah bukan rikaz dan begitu juga sebaliknya.
Bab 6 : Kekeliruan Memahami Zakat Seri Fiqih Kehidupan (4) : Zakat - 1
122
menerima hadiah sudah terlanjur dipopulerkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab, padahal tidak ada dalil yang qath’i atas hal itu. Namun fatwa yang kurang punya dasar itu kemudian dicopy-paste begitu saja, tanpa pernah dilakukan penelitian mendalam atas masyru’iyahnya. Maka jadilah satu nama cabang zakatbaru, yaitu zakat atas uang hadiah, undian, bonus, THR dan sejenisnya.
Sudah merupakan kelaziman di negeri kita, pada tiap kesempatan datangnya hari raya Idul-fithr, para majikan dan pimpinan perusahaan akan membagikan hadiah khusus, yang disebut Tunjangan Hari Raya (THR). Namun ada saja pihak-pihak yang mewajibkan THR ini untuk dikeluarkan zakatnya, dengan menganggapnya sebagai bagian dari zakat rikaz, atau zakat hasil temuan.
Padahal zakat rikaz itu tidak bisa disamakan dengan tunjangan, dengan beberapa titik perbedaan yang nyata, antara lain :
Milik Orang Kafir
Para ulama sepakat bahwa harta rikaz itu asalnya milik orang kafir (jahiliyah). Sedangkan THR itu asalnya bukan milik orang kafir, tetapi milik instansi atau perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan keislaman atau kekafiran.
Pemiliknya Telah Meninggal
Syarat kedua adalah pemilik asli harta itu sudah meninggal dunia, sehingga hak kepemilikan atas harta itu sebenarnya sudah hilang dengan kematiannya. Demikian juga para ahli warisnya sudah tidak ada lagi. Sedangkan pemilik harta yang memberikan THR itu tentu masih hidup, sebab kalau sudah mati justru malah tidak bagi-bagi THR.
Sebelumnya Tidak Ada Pemiliknya
Harta rikaz sebelum ditemukan tidak ada pemiliknya. Karena pemiliknya sudah lama wafat di masa lalu. Sedangkan uang THR jelas-jelas ada pemiliknya sebelum dibagikan.
d. Rekayasa Zakat Atas Penjualan Barang Berharga
Rekayasa zakat yang lainnya adalah zakat atas uang yang diterima karena seseorang telah menjual harta bendanya, baik berupa tanah, rumah, kendaraan dan lain sebagainya.
Entah siapa yang memulai dan bertanggung-jawab atas tersebarnya rekayasa zakat yang satu ini, namun terlanjur muncul pemahaman di tengah masyarakat bahwa siapa saja yang menjual barang-barang berharga, maka atasnya diwajibkan untuk membayar zakat.
Jadi ketika seseorang jual tanah, dia kena zakat. Pembelinya pun kena zakat. Dan selama memiliki tanah, juga ada zakatnya. Mobil dan sepeda motor pun demikian juga, membelinya kena zakat, menjualnya kena zakat, sekedar memilikinya pun kena zakat juga. Lama-lama, parkir mobil, makan di restoran, menginap di hotel dan naik pesawat pun kena zakat.
Kalau dipikir-pikir, paham seperti ini agaknya sangat dipengaruhi oleh gaya orang-orang pajak, yang inti akidah mereka adalah bagaimana menyedot dana dari masyarakat sebesar-besarnya. Logika pajak pun dipakai dalam logika zakat, sampai ada istilah potensi zakat, bahkan target penerimaan zakat.
Masalah dasar pensyariatannya sudah tidak penting lagi bagi mereka, pokoknya trend omset dan penerimaan dana zakat dari umat harus naik, karena sudah ditargetkan sedemikian rupa oleh pimpinannya. Kalau perlu menggunakan istilah zakat, maka tanpa malu-malu dipakailah istilah zakat, biar orang merasa bahwa pajak ini adalah kewajiban agama.
Paham ini jelas-jelas merupakan rekayasa atas zakat yang tidak punya dasar masyru’iyah, baik dari Al-Quran maupun dari As-Sunnah, bahkan tidak ada contoh nyatanya sepanjang 14 abad lamanya, sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai zaman nabi palsu.
Sederhaannya, istilah target penerimaan zakat, tidak dikenal di masa Rasulullah SAW. Kalau pun Abu Bakar Ash-Shiddiq
Bab 6 : Kekeliruan Memahami Zakat Seri Fiqih Kehidupan (4) : Zakat - 1
124
karena mereka mengingkari kewajiban zakat, padahal sebelumnya mereka adalah pembayar zakat yang setia di masa Rasulullah SAW.