• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Perbedaan

Dalam dokumen 04 Zakat (Halaman 182-186)

Bagian Kedua

B. Sumber Perbedaan

Di masa sekarang ini, dimana kita hidup dengan jarak 14 abad lamanya dari masa hidup Rasulullah SAW, sudah terjadi begitu banyak perubahan.

1. Perbedaan dalam Merajihkan Dalil Nash

Perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah zakat dan juga dalam hampir semua masalah fiqhiyah yang paling utama adalah disebabkan perbedaan mereka dalam merajihkan kekuatan dalil yang dipakai.

Sebagian ulama yang menerima suatu hadits sebagai hadits yang berstatus shahih, sementara para ulama yang lain berpendapat bahwa hadits itu tidak shahih, atau setidaknya tidak dipakai karena ada hadits lain yang lebih kuat.

Dan perbedaan ini sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia ijtihad para ulama. Hal itu karena sesungguhnya urusan

menshahihkan atau tidak menshahihkan suatu hadits tidak lain adalah juga merupakan ijtihad para ulama juga.

Tidak ada satu pun hadits yang keluar dari mulut Nabi SAW, dimana di dalam teks hadits itu disebutkan langsung oleh Rasulullah SAW bahwa hadits itu adalah hadits shahih, dhaif atau maudhu'.

Yang menyematkan status sebuah hadits itu shahih atau tidak, tentu saja bukan Rasulullah SAW, bukan para shahabat, juga bukan para tabi'in. Tetapi yang menyematkannya 'hanyalah' manusia biasa juga, yaitu para ahli hadits yang hidup lewat dari seratus tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Imam Bukhari dan Imam Muslim, sebagai dua tokoh ahli hadits, tidak lahir kecuali setelah Rasulullah SAW wafat lebih dari seratus tahun sebelumnya. Dan keduanya, serta ratusan lainnya para ulama ahli hadits, bukan orang-orang yang menerima wahyu dari langit berisi informasi bahwa suatu hadits itu pasti shahih atau pasti tidak shahih.

Yang mereka lakukan tidak lain hanyalah melakukan ijtihad, dengan mengeluarkan segenap kemampuan mereka, untuk bisa mendapatkan hasil yang menurut mereka sudah hasil yang terbaik. Tetapi tidak pasti 100% pendapat mereka bisa dibenarkan juga, karena biar bagaimana pun status shahih atau tidak shahih itu bukan wahyu yang turun dari langit.

Maka kita menemukan fenomena yang unik, yaitu satu hadits dishahihkan oleh satu ulama, tetapi belum tentu ulama yang lain ikut menshahihkan juga.

2. Perbedaan dalam Memahami Dalil Nash

Selain disebabkan karena perbedaan dalam menshahihkan suatu hadits, para ulama banyak berbeda pendapat dikarenakan mereka berbeda dalam memahami atau menarik kesimpulan hukum atas dalil-dalil yang bersumber dari nash-nash Al-Quran dan As-sunnah.

Sebagian dari mereka ada yang memahami ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits nabawi secara zahir (tekstual),

Bab 1 : Perbedaan Ulama & Sumber Zakat Seri Fiqih Kehidupan (4) : Zakat - 2

184

sementara ulama yang lain terkadang mengambil makna yang tersirat di dalamnya.

Sebagian ada yang mengatakan suatu ayat atau hadits sudah dinasakh dengan ayat atau hadits yang lain, sehingga hukum yang terkandung di dalamnya dianggap sudah tidak berlaku lagi. Sementara sebagian ulama lain masih memandang bahwa ayat atau hadits itu masih muhkamat dan tidak dihapus esensi hukumnya.

3. Ta'arudh Al-Atsar

Penyebab yang ketiga adalah terkadang nash-nash yang ada di dalam Al-Quran saling berbeda antara satu ayat dengan ayat yang lain. Tentu yang berbeda adalah apa yang zahirnya saja, tidak mungkin perbedaan yang hakiki terjadi antara satu ayat Al-Quran dengan ayat yang lain.

Demikian juga antara satu hadits yang umumnya dianggap shahih, terkadang nampak secara zahir berbeda dengan hadits shahih lainnya. Tentu yang berbeda adalah apa yang zahirnya saja, tidak mungkin perbedaan yang hakiki terjadi antara satu hadits shahih dengan hadits shahih lainnya.

Dan kadang perbedaan secara zahir itu juga bisa terjadi antara ayat Al-Quran dan hadits yang shahih. Tentu yang berbeda adalah apa yang zahirnya saja, tidak mungkin perbedaan yang hakiki terjadi antara ayat Al-Quran dengan hadits yang shahih.

Sebab semuanya, baik Al-Quran dan As-Sunnah, keduanya sama-sama bersumber dari Rasulullah SAW, yang asalnya juga bersumber dari Allah SWT. Tidak mungkin Rasulullah SAW mengalami kerancuan dalam mengajarkan agama Islam. Dan lebih tidak mungkin lagi Allah SWT sendiri rancu dalam menetapkan syariat-Nya.

Yang terjadi pada kenyataannya hanya merupakan perbedaan secara zahir yang nampak sekilas di benak orang awam. Sedangkan yang sesungguhnya tentu tidak demikian.

5. Perbedaan Dalam Melihat Realitas

Namun dari semua penyebab perbedaan pendapat para ulama di atas, menurut hemat Penulis, penyebab yang paling besar dan paling berpengaruh justru para penyebab yang kelima ini. Penyebab kelima ini adalah perbedaan para ulama di masa sekarang dalam melihat realitas di masa sekarang.

Contohnya adalah perbedaan dalam menatapkan siapakah sosok orang kaya yang diwajibkan membayar zakat. Sebagian ulama punya pendapat bahwa orang kaya wajib membayar zakat, namun seiring dengan perubahan zaman, kriteria jenis orang kaya itu bisa saja berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat yang lain.

Di masa lalu orang kaya identik dengan pedagang, petani dan peternak. Mereka adalah orang-orang yang punya harta melebihi kebutuhan pokok, bahkan berlimpah. Sehingga mereka wajib menyisihkan sebagian dari harta untuk diserahkan kepada baitulmal sebagai zakat.

Sedangkan di masa sekarang ini, khususnya di negeri kita Indonesia, orang-orang kaya boleh jadi sudah bukan lagi para pedagang, petani atau peternak. Karena situasi dan kondisi

sosial ekonomi masyarakat sudah banyak mengalami

perubahan.

Orang-orang yang kaya di masa ini muncul dari dunia yang sama sekali berbeda, misalnya dari dunia hiburan seperti para artis, bahkan para atlet. Demikian juga para lawyer kelas kakap, mereka punya pendapatan yang sukar untuk dibayangkan. Termasuk juga para politisi di masa kini, yang punya harta tak terhingga.

Sebuah perusahaan terkadang sama sekali tidak punya produk yang beruba benda-benda yang nyata. Tetapi perusahaan itu bisa mendapatkan harta berlimpah dari menjual jasa. Misalnya perusahaan trading yang kerjanya berada di antara suply dan demand. Mereka tidak punya produk tetapi fee yang mereka terima jauh lebih besar dari pada memproduksi

Bab 1 : Perbedaan Ulama & Sumber Zakat Seri Fiqih Kehidupan (4) : Zakat - 2

186

barang sendiri.

Pendapatan mereka amat besar dibandingkan pendapat para petani dan peternak, sementara mereka mendapatkan semau itu dengan amat mudahnya, setidaknya tidak sekeras para petani dan peternak.

Oleh karena itulah maka sebagian ulama di masa sekarang ini berpendapat bahwa harus ada ijtihad yang baru dalam menetapkan adanya kewajiban zakat atas orang-orang kaya di masa sekarang ini.

Namun di sisi lain, sebagian ulama tidak sepakat dengan perubahan realitas ini. Mereka tahu ada perbuahan realitas, namun dalam pandangan mereka, perubahan realitas sosial ekonomi itu tidak harus mengubah hukum-hukum zakat yang sudah ada secara baku.

Kalau orang-orang kaya itu mau ditarik hartanya, silahkan saja, namun yang penting jangan gunakan ketentuan zakat. Misalnya mereka bisa ditarik kekayaannya lewat kewajiban sebagai warga negara, yaitu membayar pajak, iuran, atau bea dan cukai. Beberapa perusahaan diwajibkan oleh pemeritah untuk memenuhi corporate sosial responsibility (CSR), yang tujuannya jelas untuk kepentingan sosial.

Dalam dokumen 04 Zakat (Halaman 182-186)