8 PERANTARA: SIMPUL UTAMA DALAM JEJARING MIGRAS
8.2 Migrasi Karena Perantara
Beberapa peran perantara migrasi di Lawonua yang diidentifikasi dalam studi ini adalah: (1) memberikan informasi mengenai kondisi dan harga lahan yang dijual di suatu wilayah, (2) membantu memfasilitasi cara pembayaran lahan yang umumnya tidak dilakukan secara tunai, (3) membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang terkait dengan status lahan yang telah dijual kepada komunitas migran.
Pada konteks desa penelitian, AB dan SF adalah perantara migrasi atau yang lebih tepat disebut sebagai perantara tanah. Masing-masing tokoh ini memiliki peran yang besar dalam membantu proses jual beli tanah yang ada di Desa Lawonua, namun juga sekaligus memfasilitasi proses migrasi beberapa komunitas migran. SF, dengan ikatan terhadap daerah asal dan jaringannya yang luas karena telah lama bermukim di Tenggara, memiliki peran dalam menyebarkan informasi mengenai lahan yang dapat diakses di beberapa desa di Tenggara. Jaringan migrasi tidak hanya meliputi komunitas yang masih tinggal di Selatan, tetapi juga komunitas yang sudah tinggal di Tenggara namun masih ingin melakukan ekspansi lahan ke desa lain untuk bertanam coklat. AB, karena menetap di desa penelitian, berperan untuk negosiasi lahan dan harga, serta menjadi jaminan kepastian pembayaran, sekaligus memantau berbagai perkembangan yang terjadi di desa yang berpengaruh terhadap status lahan. Komunitas lokal yang berkenan menjual lahannya kepada komunitas pendatang memerlukan AB sebagai jaminan atas lahan mereka yang dijual agar segera dibayar oleh pembeli lahan.
Orang Bugis yang pertama datang ke wilayah Desa Lawonua adalah migran pionir yang telah terlebih dahulu ada di Kolaka yang merupakan petani padi sawah (berasal dari Ponggolaka, sebuah daerah yang terkenal penghasil padi yang didominasi oleh pendatang Bugis dari Sulawesi Selatan). Atas dasar kebutuhannya terhadap lahan, mereka sengaja mendatangi beberapa desa yang ada di sekitar Konawe untuk mencari lahan yang dapat mereka akses. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa harga lahan di daerah tempat mereka berada saat itu, harga tanah cukup mahal karena hampir semua areal lahan sudah dimiliki orang per orang. Lahan akhirnya diperoleh di daerah Lawonua, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa ini dan memulai kehidupan mereka dari awal. Desa ini masih memiliki lahan yang banyak karena memang pada saat itu desa ini masih baru berkembang. Lahan tersebut diperolehnya dari seorang tuan tanah beretnis Tolaki yang sedang membutuhkan dana untuk berobat. Proses pencarian lahan tidak dilakukan sendiri namun berkelompok, dan saat pindah ke Desa Lawonua ini mereka tetap berkelompok. Meski demikian, tidak semua migran tersebut sanggup bertahan dengan kondisi yang ada. Saat mereka pindah ke lokasi desa ini, kondisi lahan masih berupa hutan semak belukar yang cukup rawan. Akses masuk ke wilayah desa ini pun cukup berat. Belum lagi penerimaan komunitas lokal yang belum cukup baik terhadap mereka.
Tuan Tanah (H S) beretnis lokal tersebut kemudian berkenan menjual bagian lahan lainnya kepada komunitas migran Bugis yang tertarik untuk membuka kebun coklat. Namun, penjualan lahan tidaklah mudah. Akhirnya SF, yang mengenal Someng akhirnya mengetahui potensi ini. Kemudian SF bersama rombongan dari Ponggolaka membeli sejumlah besar lahan dari penduduk lokal dan mencoba mengajak rekan lain dari kampungnya di Sulawesi Selatan untuk membantunya menjual lahan. Di saat yang bersamaan, seorang tuan tanah (patron) berkenan membeli lahan dan akan membawa beberapa keluarga dari
Sulawesi Selatan untuk membantunya mengolah lahan (klien). Dengan demikian,
SF semakin memiliki peluang untuk menjadi perantara tanah dan migrasi. AB, kemudian juga menjadi salah satu pengolah lahan patron tersebut, dan tinggal di Desa Lawonua. Dengan inilah, AB kemudian berperan sebagai penjamin. Pembayaran atas lahan umumnya dilakukan dengan memberikan uang muka
75
dengan jumlah tertentu, dan pelunasannya dilakukan setelah coklat mulai menghasilkan. Sistem pembayaran mundur ini memiliki resiko bagi penjual tanah, namun dengan keberadaan AB di desa ini sebagai penjamin, para penjual tanah menjadi lebih percaya. Berikut adalah cuplikan wawancara dengan AB yang menggambarkan proses dia mendapatkan lahan di desa ini
AB pindah ke Desa Lawonua tahun 1996. Pada saat melakukan penjajagan, AB tinggal di rumah salah satu keluarganya dari Sinjai yang telah terlebih dahulu ada di desa ini, yaitu O. Pada saat itu, AB membayar uang muka untuk lahan seluas 500 hektar, harganya berkisar antara Rp 200.000 – Rp 500.000 per hektar. Lahan tersebut kemudian ditawar-tawarkan kepada kerabat AB di Sulawesi Selatan serta di beberapa daerah lainnya di mana banyak komunitas Bugis berada yaitu di Kolaka (Sulawesi Tenggara).
AB sengaja mencari keluarga dari Sulawesi Selatan untuk pindah ke desa ini, mengolah lahan. Tujuan AB adalah supaya desa ini bisa lebih ramah, dan pekerjaan berkebun mereka bisa lebih mudah dilakukan. Berbagai upaya dilakukan oleh AB untuk mengajak keluarganya pindah ke desa ini untuk mengolah lahannya. Saat itu, banyak keluarga yang akhirnya tertarik untuk membeli lahan tersebut dan mengolah lahannya.
Hingga saat ini, sudah banyak orang berdatangan secara berangsur-angsur dari desa asal AB dan desa sekitarnya. Menurut AB, salah satu modal yang dia miliki untuk mengajak orang bermigrasi adalah modal uang secukupnya untuk membayar uang muka lahan, serta juga mempengaruhi orang untuk mau membeli dan mengolah lahan di desa ini. AB berkisah bahwa tidaklah mudah upayanya mempengaruhi orang ini, terutama karena dia memiliki masa lalu yang suram dan dikenal sebagai preman. Namun, berkat kesungguhan dia membuktikan bahwa dia bisa berkebun dan kebunnya menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, maka orangpun mulai percaya. Selain itu, AB memberikan kemudahan bagi keluarga atau tetangga yang membeli lahan melaluinya untuk membayar lahannya secara berangsur setelah kebun menghasilkan. AB menyatakan bahwa dialah yang akan menanggung resiko paling besar, karena itulah dia kemudian mendapatkan reward dari menjual lahan kebun dengan harga yang cukup tinggi (bisa mencapai dua atau tiga kali lipat dari harga lahan).
Kesahihan tanah yang diperjualbelikan seringkali juga berada di garis abu- abu. Hal ini disebabkan beberapa tanah tidak memiliki legalitas yang didukung dengan surat atau sertifikat dari BPN. Beberapa transaksi memang diketahui oleh kepala desa dan pembeli mendapatkan surat jual beli dari kepala desa, namun beberapa lainnya yang datang dan mengolah lahan yang dimiliki oleh kerabatnya. Sehingga surat jual beli tanah masih menggunakan surat yang diperoleh pembeli sebelumnya. Pembelian yang dilakukan melalui perantara umumnya lebih aman, karena baik pembeli atau penjual lahan senantiasa menghendaki lahan mereka memiliki status jelas. Beberapa komunitas migran sudah mendaftarkan status tanahnya untuk mendapatkan sertifikat atas lahan tersebut. Upaya pendaftaran status lahan ini juga dilakukan dengan memohon bantuan perantara, demi untuk mempermudah dan mempercepat proses.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, tiga tahun belakangan ini, sebagian tanah komunitas Desa Lawonua banyak diberikan kepada PT Utama Agrindo Mas (PT UAM), sebuah perusahaan kelapa sawit. Baik komunitas etnis lokal dan komunitas bugis migran memberikan sebagian lahan yang mereka
kelola untuk ditanami sawit perusahaan dengan menggunakan mekanisme bagi hasil setelah sawit tersebut menghasilkan. Sekitar 80% dari luasan yang perkebunan yang dibangun PT UAM menggunakan lahan komunitas yang kepemilikannya tetap pada komunitas. Perusahaan membantu penanaman dan pemupukan, dan nanti hasil panen tersebut dibagi dua. Penyerahan lahan ke pihak perusahaan bukan tanpa masalah. Perantara tanah yang sejatinya memfasilitasi komunitas migran Bugis untuk mendapatkan tanah juga berperan penting dalam memastikan status lahan yang diserahkan ke perusahaan. Batas-batas lahan yang rancu dalam surat keterangan jual beli harus dibenahi. Dalam hal ini, SF dan AB berperan sangat penting untuk memfasilitasi konflik yang terjadi antara komunitas lokal dengan perusahaan, serta juga antara komunitas migran dengan perusahaan. Kepala Desa Lawonua juga memfasilitasi segala permasalahan konflik atas lahan yang terjadi, terutama jika ternyata akar konfliknya ada pada SF dan AB sebagai perantara tanah. Jadi, peran penting perantara migrasi sebagai penengah (intermediary), pemerintah desa juga berperan sebagai penengah.
8.3 Ikhtisar
Perantara muncul dalam kondisi yang dibangun dari struktur yang terbentuk secara historis pada komunitas lokal dan komunitas migran. Dalam hal ini peran para migran pionir cukup besar dalam memanfaatkan situasi dan kondisi yang telah mereka pelajari dari pengalamannya bermigrasi, hubungannya dengan komunitas di daerah tujuan, serta juga jalinan kekerabatan dan pertetanggaan dengan komunitas di daerah asalnya. Di komunitas lokal, meski dianggap sebagai penghisap, namun peran mereka cukup diperlukan saat komunitas tersebut memerlukan dana cukup besar dan terpaksa harus menjual lahannya.
Dari uraian diatas dapat ditarik tiga kesimpulan mengenai mengapa broker atau perantara dapat muncul, bagaimana mekanisme perantara yang terjadi, serta model perantara seperti apa yang terdapat di desa penelitian. Broker atau perantara muncul karena dalam kelompok-kelompok komunitas yang ada di suatu wilayah terdapat celah atau gap yang disebabkan adanya kekosongan informasi. Broker dan perantara menjadi simpul yang mampu menjembatani celah tersebut sehingga kelompok-kelompok tersebut saling berhubungan. Daerah tujuan migrasi menjadi wadah broker atau perantara menghubungkan berbagai kelompok tersebut. Terbentuknya simpul perantara ini dapat berlangsung secara formal maupun non formal. Secara non formal adalah untuk mendapatkan lahan dengan sistem pembayaran yang ditunda, dan secara formal adalah untuk mendapatkan aspek legalitas atas lahan yang diperdagangkan.
Perantara migrasi adalah perantara tanah yang memiliki akses informasi tentang lahan yang dapat diakses oleh komunitas. Dengan mengambil keuntungan lebih dari penjualan lahan, namun memberikan beberapa kemudahan seperti pembayaran mundur dan pengurusan lahan, peran perantara ini menjadi suatu kebutuhan tersendiri untuk para migran.
77
9 PENUTUP
9.1 Simpulan
Migrasi dan eskpansi lahan dianggap menjadi penyebab berbagai permasalahan sosial muncul seperti terpinggirnya komunitas asli, ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi antara komunitas pendatang dan lokal, serta ancaman terhadap lingkungan (deforestasi). Meski demikian, di sisi yang lain migrasi ini juga membantu meningkatkan perekonomian wilayah, dengan etos kerja yang dimiliki para migran yang umumnya lebih progresif dari penduduk lokalnya. Pertumbuhan ekonomi wilayah menjadi cukup signifikan meningkat sejak adanya migrasi. Dua sisi yang saling berlawanan dari dampak migrasi, membuat ahli sosiologi, kependudukan, demografi dan geografi membahas masalah ini dari berbagai sudut pandang. Memahami proses migrasi, dan berbagai instrument yang terdapat dalam proses migrasi perlu dilakukan dalam konteks memahami struktur sosial masyarakat yang terlibat dalam proses migrasi ini. Lagipula, berbagai faktor non ekonomi sangat penting didiskusikan, karena mampu menjelaskan proses pengambilan keputusan yang terjadi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa secara makro, motif ekonomi yang nampak dalam kebutuhan atas lahan merupakan satu pondasi dalam keputusan bermigrasi dan gerakan migrasi internal. Di tingkat mikro, instrument yang digunakan untuk bermigrasi ini lebih kepada faktor non ekonomi yaitu adanya jaringan sosial sebagai modal sosial dalam melakukan migrasi. Penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai bagaimana jaringan sosial menjadi instrument utama dalam proses migrasi internal dari satu wilayah pedesaan ke pedesaan lainnya. Penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran teoritis dan empiris untuk perkembangan sosiologi dan kependudukan mengenai studi mikroyang spesifik pada lokasi dalam konteks migrasi. Konsep jaringan sosial melengkapi penjelasan pilihan rasional dalam sosiologi ekonomi yang menjelaskan lebih detail proses migrasi berantai.
Dalam studi ini, modal sosial yang terdapat pada lokasi yang spesifik di tempat tujuan mampu meningkatkan peluang terjadinya migrasi masuk. Arah migrasi akan berlangsung pada satu lokasi di mana modal sosial masih terbangun atas dasar ketersediaan sumber daya lahan yang mudah diakses. Jika sumber daya tersebut semakin terbatas, maka jaringan sosial mulai dibangun di daerah baru. Hingga sampai pada titik jenuhnya, maka arah migrasi dapat beralih ke daerah lain yang sumber dayanya lebih berlimpah dan lebih mudah diakses.
Perantara migrasi merupakan simpul utama dalam jaringan bermigrasi. Perantara inilah yang kemudian mampu menembus batas-batas kelompok komunitas migran di daerah tujuan. Adapun jaringan kekerabatan, pertemanan, ketetanggaan dan kesamaan daerah asal dimanfaatkan oleh perantara untuk menyebarkan informasi dan pengaruh mereka. Perantara memiliki kendali informasi dalam proses migrasi tersebut. Perantara muncul dalam kondisi yang dibangun dari struktur yang terbentuk secara historis pada komunitas lokal dan komunitas migran. Perantara dalam studi ini adalah migran pionir yang memanfaatkan situasi dan kondisi yang telah mereka pelajari dari pengalamannya
bermigrasi, hubungannya dengan komunitas di daerah tujuan, serta juga jalinan kekerabatan dan pertetanggaan dengan komunitas di daerah asalnya. Perantara muncul karena dalam kelompok-kelompok komunitas yang ada di suatu wilayah terdapat celah atau gap. Perantara adalah simpul yang mampu mengisi celah tersebut sehingga kelompok-kelompok yang semula tidak berhubungan dapat saling berhubungan. Daerah tujuan migrasi merupakan wadah untuk menghubungkan berbagai kelompok-kelompok tersebut. Kebutuhan komunitasi migran untuk mengurangi resiko bermigrasi difasilitasi oleh perantara migrasi dengan menerapkan sistem jaminan pembayaran.
Memahami bagaimana perantara dan hubungan kekerabatan dalam memfasilitasi proses migrasi dapat sangat terlihat dalam skala mikro, karena memiliki dampak yang besar dalam arena pasar lahan yang lebih luas. Studi ini merupakan sebuah studi yang dilakukan secara mendalam pada satu desa, namun belum cukup menggambarkan bagaimana peranan broker dan hubungan kekerabatan ini dalam arena yang lebih luas, yang melibatkan pasar lahan di aras meso dan makro, serta dalam perkembangan komoditi coklat yang cukup dominan di aras meso dan makro. Diperlukan studi yang sama di beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara termasuk juga di Sulawesi Tengah untuk lebih memahami dinamika perantara dan hubungan kekerabatan yang menjadi instrument pokok dalam proses migrasi spontan komunitas Bugis ini. Fenomena migrasi spontan seperti ini bukan unik dilakukan oleh komunitas Bugis saja. Beberapa komunitas lain, seperti Semendo di Sumatra, juga melakukan ekspansi lahan ke beberapa wilayah di Sumatera, yang tentu saja menarik untuk dikaji lebih lanjut siapa yang lebih berperan dalam proses migrasi yang mereka lakukan.