• Tidak ada hasil yang ditemukan

Minat Beli

Dalam dokumen Diah Ayu Anggrahini (Halaman 33-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.5. Kerangka Teori

1.5.4. Minat Beli

Minat adalah kesukaan atau kecenderungan hati terhadap sesuatu (Suharso dan Retnoningsih, 2004: 323). Pembelian adalah keputusan konsumen mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau tidak, kapan membeli, di mana membeli, dan bagaimana cara pembayarannya (Sumarwan, 2003: 310).

Menurut Philip Kotler (2005: 568), minat beli adalah tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum merencanakan untuk membeli suatu produk. Dapat dikatakan bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu. Hal ini sangat diperlukan oleh para pemasar untuk mengetahui minat beli konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar

maupun ahli ekonomi menggunakan variabel minat untuk memprediksi perilaku konsumen di masa yang akan datang.

Minat adalah selera masing-masing orang yang menjadi dasar pemilihan sesuatu. Minat membeli menunjukkan pada kecenderungan seseorang untuk lebih menyukai produk dengan merek tertentu. Indikator dari minat beli dijelaskan oleh komponen dari micromodel of consumer responses sebagai berikut (Kotler dan Keller, 2009: 515):

1. Awareness

Kesadaran dan pengidentifikasian terhadap kebutuhan.

2. Knowledge

Calon konsumen mencoba mencari informasi dan pengetahuan tentang produk.

3. Liking

Setelah informasi didapat, timbul perasaan suka terhadap produk tersebut, namun belum memutuskan untuk memilih.

4. Preference

Setelah timbul perasaan suka terhadap produk tersebut, biasanya produk melakukan perbandingan dengan produk lain mulai dari kemasan, kualitas, performa dll.

5. Conviction

Calon konsumen sudah memilih dan yakin terhadap produk tersebut tapi belum ada hasrat dan keyakinan untuk proses pembelian.

6. Purchase

Tahap terakhir adalah tahap pembelian dimana calon konsumen tersebut sudah memutuskan untuk membeli produk tersebut.

1.5. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Daya tarik iklan (X1) dan kredibilitas Agnes Monica sebagai celebrity endorser (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli (Y) Fresh Care di Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

2. Daya tarik iklan (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli (Y) Fresh Care di Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

3. Kredibilitas Agnes Monica sebagai celebrity endorser (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli (Y) Fresh Care di Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Gambar hubungan antar variabel penelitian dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 1.1

Hubungan Antar Variabel Penelitian Minat beli (Y) Daya Tarik Iklan (X1)

Celebrity endorser (X2)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Periklanan

2.1.1. Pengertian Periklanan

Iklan merupakan salah satu bentuk dari komunikasi pemasaran, bersama dengan komponen lainnya, keseluruhannya merupakan komponen promosi dalam marketing mix. Kasali (1992:10) mengemukakan kata iklan (advertising) berasal dari dari bahasa Yunani yang artinya “ mengubah jalan konsumen untuk membeli”. Iklan adalah segala bentuk presentasi dan promosi gagasan, barang atau jasa oleh sponsor tertentu (Kotler, 2005: 277).

Iklan merupakan media yang efektif guna menyebarkan pesan. Jadi iklan sebagai salah satu bagian dari komunikasi pemasaran, merupakan suatu bentuk komunikasi massa yang dibiayai oleh perusahaan produsen barang atau jasa, yang di dalamnya menyediakan informasi mengenai produk atau jasa yang dihasilkan. Iklan bersifat persuasif, sehingga membangkitkan minat beli dari target audience.

2.1.2. Tujuan Iklan

Menurut Kotler (2005: 278) upaya periklanan mempunyai beberapa tujuan antara lain: menginformasikan adanya merk produk di pasaran, membujuk konsumen untuk membeli produk, dan mengingatkan konsumen terhadap produk. Bagi konsumen periklanan mempunyai manfaat antara lain:

1. Memperluas alternatif, artinya dengan iklan konsumen dapat mengetahui adanya berbagai produk yang pada gilirannya akan menimbulkan pilihan.

2. Membantu produsen menumbuhkan kepercayaan kepada konsumen.

Iklan yang tampil secara mantap dihadapan masyarakat dengan ukuran besar dan logo yang menarik akan menimbulkan kepercayaan yang tinggi bahwa perusahaan tersebut bonafide dan produknya bermutu.

3. Membuat orang kenal, ingat dan percaya pada produk yang ditawarkan.

4. Memuaskan keinginan konsumen dalam pembelian produk.

2.2. Terpaan Media

Terpaan media dapat didefinisikan sebagai penggunaan media, baik jenis media, frekuensi penggunaan maupun durasi penggunaan (Sari, 1993:

29). Iklan menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari media massa termasuk media televisi. Iklan merupakan salah satu bagian penting dari serangkaian kegiatan mempromosikan produk. Dalam hal ini yang berrtindak sebagai komunikator adalah para pemasar (pengiklan) dan bertindak sebagai komunikan adalah audiens sebagai konsumen. Pemasar menjalankan tugas utama menyampaikan pesan kepada konsumen yang diharapkan akan dapat memproses pesan dan dibujuk untuk melakukan serangkaian tindakan yang diinginkan pemasar. Audiens maupun konsumen yang menonton iklan memiliki persamaan makna dengan terpaan media.

Terpaan atau exposure secara sederhana adalah konsumen berinteraksi

dengan pesaan dari pemasar (mereka melihat iklan majalah, mendengar iklan radio dan lain-lain) (Shimp, 2003: 182).

Iklan harus disiarkan secara berulang ulang dngan harapan bahwa kelak khalayak akan membaca, mendengarkan atau mengamati ketika iklan itu muncul (Sumartono, 2002: 86). Hal tersebut memungkinkan khalayak akan mengingat sebagian iklan bertambah sebagaimana terpaan iklan akan mencapai konsumen dengan suatu pesan yang menciptakan pengenalan produk, membedakan produk dari para pesaingnya, menghubungkan produk dengan pengalaman yang menyenangkan dan berulang ulang melibatkan khalayak dalam penciptaan makna iklan. Melalui cara tersebut, iklan dapat menciptakan keinginan dan mengubahnya menjadi kebutuhan yang dipuaskan dengan pembelian produk yang diiklankan.

2.3. Media Televisi

Televisi merupakan salah satu media massa yang menjadi fenomena besar di era sekarang ini, hal ini terus didukung oleh perannya yang sangat besar dalam membentuk pola pikir, pengembangan wawasan dan pendapat umum, termsuk pendapat umum untuk menyukai produk-produk industri tertentu yang diiklankan melalui media televisi.

Televisi mempunyai daya tarik yang kuat. Daya tarik tersebut disebabkan adanya unsur-unsur yang dimiliki televisi berupa kata-kata, musik sound effect, dan juga unsur visual berupa gambar. Gambar yang

dimaksudkan bukanlah gambar mati, melainkan gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan yang mendalam pada audiens.

Menurut Effendy (1993: 24), televisi sebagai media massa mempunyai 3 fungsi sebagai berikut :

1. Fungsi penerangan (the information function)

Sejak pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1946 di New York, televisi dianggap sebagai media yang mampu menyiarkan informasi yang amat memuaskan. Hal ini disebabkan dua faktor yang terdapat pada media massa audio visual itu, pertama adalah faktor immediacy dan kedua faktor realism. Immediacy mencakup pengertian langsung dan dekat. Peristiwa yang disiarkan oleh stasiun televisi dapat dilihat dan didengar oleh para pemirsa pada saat peristiwa itu berlangsung. Meskipun mereka berada di rumah masing-masing, jauh dari tempat kejadian tetapi mereka dapat menyaksikannya dengan jelas dari jarak yang amat dekat. Realism mengandung makna kenyataan. Ini berarti bahwa stasiun tlevisi menyiarkan informasinya secara audio visual dengan perantara mikrofon dan kamera apa adanya sesuai dengan kenyataan. Jadi,para pemirsa melihat sendiri dan mendengar sendiri. Dalam melaksanakan fungsinya sebagai sarana penerangan stasiun televisi, selain menyiarkan informasi dalam bentuk

siaran pandangan mata, atau berita yang di bacakan penyiar, dilengkapi gambar-gambar yang sudah tentu faktual.

2. Fungsi Pendidikan (the educational function)

Sebagai media komunikasi massa, televisi merupakan sarana yang ampuh untuk menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu banyak secara bersamaan. Sesuai dengan makna pendidikan, yakni meningkatkan pengetahuan dan penalaran masyarakat, stasiun televisi menyiarkan acara-acara tertentu yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

3. Fungsi Hiburan (the entertainment function)

Di berbagai negara, fungsi hiburan yang melekat pada televisi siaran nampak dominan. Sebagian besar d ari alokasi waktu masa siaran diisi oleh acara-acara hiburan. Hal ini dimengerti, oleh karena pada layar televisi dapat ditampilkan gambar hidup beserta suaranya bagaikan kenyataan, dan dapat dinikmati di rumah oleh seluruh keluarga, serta dapat dinikmati oleh khalayak yang tidak mengerti bahasa asing, bahkan yang tuna aksara.

2.4. Kelebihan dan Kelemahan Iklan Televisi

Menurut Morissan (2010, 242-246) televisi memiliki berbagai kelebihan dan berbagai kelemahan, yaitu:

2.4.1. Kelebihan Iklan Televisi 1. Daya jangkau luas

Siaran televisi saat ini sudah dinikmati oleh beberapa kelompok masyarakat. Daya jangkau yang luas ini memungkinkan pemasar memperkenalkan dan mempromosikan produk barunya secara serentak alam wilayah yang luas. Bahkan ke seluruh wilayah suatu negara.

Karena kemampannya menjangkau audiens dalam jumlah besar,maka televii menjadi media ideal. Untuk mengiklankan produk konsumsi massal (mass consumpsion products), yaitu barang-barang yang menjadi kebutuhan sehari hari. Perusahaan dengan distribusi produk yang luas memilih televisi sebagai media untuk menjangkau pasar yang luas. Walaupun iklan televisi merupakan iklan yang paling mahal di antara media lainnya karena biaya pembuatan iklan dan biaya penayangannya yang besar, namun karena daya jangkaunya yang luas, maka biaya iklan televisi justru yang paling murah diantara media lainnya jika dilihat dari jumlah orang yang dapat dijangkaunya.

2. Selektifitas dan Fleksibilitas

Televisi dapat menjangkau audiens tertentu karena adanya variasi komposisi audiens sebagai hasil dari isi program ,waktu siaran, dan cakupan geografis siaran televisi. Stasiun televisi juga dapat

menayangkan program siaran yang mampu menarik perhatian kelompok audiens tertentu yang menjadi target promosi suatu produk tertentu.

Menurut penelitian di AS, penggemar olahraga, mengkonsumsi minuman bir lebih banyak daripada audiens lain pada umumnya.

Menempatkan siaran iklan pada suatu program pertandingan olahraga di televisi merupakan langkah logis bagi pabrik pembuat bir, selain audiens yang besar televisi juga menawarkan fleksibilitasnya dalam hal audiens yang di tuju. Jika suatu perusahaan manufaktur inngin mempromosikan barangnya pada suatu wilayah tertentu, maka perusahaan itu dapat memasang iklan pada stasiun televisi yang terdapat di wilayah bersangkutan. Dengan demikian, dikutip dari siaran iklan di televisi menurut Willis-Aldridge memiliki flexibility that permitts adaptation to special needs and interest (fleksibilitas yang memungkinkan penyesuaian terhadap kebutuhan dan kepentingan yang khusus).

3. Fokus Perhatian

Siaran iklan televisi akan selalu menjadi pusat perhatian audiens pada saat iklan tersebut ditayangkan, jika audiens tidak menekan remote control-nya untuk melihat program stasiun televisi lain, maka ia harus menyaksikan tayangan iklan televisi itu satu persatu. Perhatian audiens akan tertuju hanya kepada siaran iklan dimaksud ketika iklan itu muncul di layar televisi, tidak kepada hal-hal lain.

4. Kreativitas dan efek

Televisi merupakan media iklan yang paling efektif karena dapat menunjukkan cara bekerja suatu produk pada saat digunakan. Iklan mobil yang mulus mengkilap terkena sinar matahari yang meluncur dengan anggunnya di jalan raya dapat menimbulkan keinginan membeli yang tak tertahankan bagi kelompok audiens tertentu. Iklan yang disiarkan televisi dapat menggunakan kekuatan personalitas manusia untuk mempromosikan produknya. Cara seseorang berbicara dan bahasa tubuh (body language) yang di tunjukkannya dapat membujuk audiens untuk membeli produk yang diiklankan itu. Terlebih lagi, orang yang berbicara dan berkomentar tentang produk tersebut adalah para selebritis atau orang terkenal yang sudah mendapat kepercayaan masyarakat secara luas.

5. Prestise

Perusahaan yang mengiklankan produknya di televisi biasanya akan menjadi sangan dikenal orang. Baik perusahaan yang memproduksi barang tersebut maupun barangnya itu sendiri akan menerima status khusus dari masyarakat. Dengan kata lain, produk tersebut memiliki prestise tersendiri. Produsen barang yang diiklankan di televisi terkadang menggunakan kesempatan ini untuk lebih mengeksploitasi keuntungan tersebut pada saat mereka memasang iklan di media cetak, misalnya dengan menyebutkan “sebagaimana diiklankan di televisi”, atau “sebagainmana yang anda lihat di televisi”.

6. Waktu Tertentu

Suatu produk dapat diiklankan di televisi pada waktu-waktu tertentu ketika pembeli potensialnya berada didepan televisi. Dengan demikian,pemasang iklan akan menghindari waktu waktu tertentu pada saat target konsumen mereka tidak menonton televisi. Salah satu alasan mengapa perusahaan detergen atau peralatan pembersih rumah tangga lebih sering beriklan pada siang hari adalah karena audiens (yaitu , para ibu rumah tangga) diingatkan mengenai tugas-tugas rumah tangga yang akan dikerjakan hari itu yang mungkin akan melibatkan produk-produk pembersih yang muncul pada iklan televisi (Morissan, 2010:242)

2.4.2. Kelemahan Iklan Televisi 1. Biaya Mahal

Walaupun televisi diakui sebagai media yang efisien dalam menjangau audiens dalam jumlah yang besar namun televisi merupakan media yang paling mahal untuk beriklan. Biaya iklan televisi yang mahal ini tidak saja disebabkan tarif penayangan iklan yang mahal tetapi juga biaya produksi iklan yang berkualitas yang juga mahal. di Indonesia, pemasangan iklan dapat menghabiskan dana ratusan juta rupiah atau bahkan lebih dari satu miliar rupiah untuk memproduksi iklan dengan durasi kurang dari satu menit. Mahalnya biaya iklan televisi menyebabkan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah dengan anggaran terbatas akan sulit beriklan di teleisi. Dengan demikian, hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang mampu

beriklan di televisi. Selain itu, stasiun yang berada di daerah yang berpenduduk padat mengenakan tarif iklan yang lebih mahal di bandingkan dengan stasiun penyiaran di daerah dengan berpenduduk jarang.

2. Informasi Terbatas

Dengan durasi iklan yang rata-rata hanya 30 detik dalam sekali tayang, maka pemasangan iklan tidak memiliki cukup waktu untuk secara leluasa memberikan informasi yang lengkap. Siaran iklan tidak menyediakan cukup waktu untuk menyampaikan seluruh informasi tentang produk yang di promosikan. Selain itu, iklan televisi hanya ada atau muncul pada saat iklan itu betul-betul disiarkan kecuali audiens merekamnya. Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan iklan pada media cetak, audiens tidak dapat melihat kembali siaran iklan untuk mengetahui atau mengecek kembali informasi yang terdapat pada iklan yang dimaksud misalnya nomor telepon pemasang iklan atau informasi lain yang ingin diketahuinya. Informasi dan pesan singkat yang ditampilkan itu hanya dapat diatasi dengan cara menayangkan iklan itu beberapa kali agar dapat diingat agar dapat iingat orang sehingga dapat memberikan pengaruh pada penjualan dan tentu saja hal tersebut akan membutuhkan tambahan biaya.

3. Selektivitas Terbatas

Walaupun televisi menyediakan selektifitas audiens melalui program-program yang ditayangkannya dan juga melalui waktu

siarannya namun iklan televisi bukanlah pilihan yang paling tepat bagi pemasang iklan yang ingin membidik konsumen yang sangat khusus atau spesifik yang jumlahnya relatif sedikit. Pemasangan iklan masih dapat membidik target audiens tertentu melalui berbagai jenis program yang ditayangkannya, namun demikian televisi belum mampu menandingi radio, surat kabar, dan majalah dalam menjangkau segmen audiensi secara lebih khusus.

4. Penghindaran

Kelemahan lain siaran iklan televisi adalah kecenderungan audiens untuk menghindari pada saat iklan ditayangkan. Penelitian menunjukkan bahwa audiens televisi menggunakan kesempatan penayangan iklan untuk melakukan pekerjaan lain, misalnya pergi ke kamar mandi, mengobrol, mengambil sesuatu, atau melakukan hal-hal lainnya. Kebiasaan lain adalah memencet remote control atau memindahkan channel ketika stasiun televisi tengah menayangkan iklan atau mengecilkan volume suara. Upaya audiens menghindari siaran iklan dengan memindahkan saluran televisi tidak selalu karena program sebelumnya tidak menarik namun karena rasa ingin tahu untuk melihat program lain yang ditayangkan stasiun televisi lain pada saat bersamaan.

5. Tempat Terbatas

Tidak seperti media cetak, stasiun televisi tidak dapat seenaknya memperpanjang waktu siaran iklan dalam suatu program. Pada media cetak, jika jumlah pemasangan iklan meningkat maka jumlah halaman

media cetak itu dapat ditambah sesuai dengan peningkatan jumlah iklan tanpa harus mengganggu isi media bersangkutan. Namun, hal ini tidak dapat ditiru pada siaran iklan televisi. Stasiun televisi tidak dapat memperpanjang waktu siaran iklan tanpa mengorbankan waktu siaran program. Jika waktu penayangan program banyak diambil untuk iklan maka akan merusak program itu sendiri, sebagai akibatnya audiens akan meninggalkan acara itu. Selain itu, memperpanjang waktu siaran iklan akan melanggar peraturan pemerintah yang menetapkan bahwa waktu siaran iklan lembaga penyiaran paling banyak 20 persen dari seluruh waktu siaran setiap hari (Morissan, 2010:244)

2.5. Celebrity Endorser

Kesuksesan pemasaran sebuah produk tidak hanya tergantung dari konsep yang canggih nanum juga tidak terlepas dari dunia hiburan (entertainment), termasuk bintang iklannya. Banyak produk yang sangat populer dan mampu mendongkrak penjualan berkat pemilihan bintang iklan yang tepat. Bahkan sebuah produk tidak jarang melekat pada figur sang bintang. Banyak produsen atau perusahaan yang menggunakan selebritis sebagai pendukung dalam beriklan (endorser).

Endorser adalah icon atau sosok tertentu yang dipakai dalam kegiatan promosi yang bertujuan untuk mendukung efektifitas penyampaian pesan produk (Didih, 2006:132). Para pemasang iklan dengan bangga

menggunakan kaum selebriti di dalam periklanan karena atribut popular yang mereka miliki seringkali merupakan pemikat yang diinginkan untuk merek-merek yang mereka dukung. Artis yang sedang „naik daun‟

merupakan pilihan yang paling banyak diminati para pemasar untuk mendukung kegiatan promosinya. Dengan menghadirkan artis yang notabene dikenal luas masyarakat merek akan dengan mudah terasosiasikan dan menempati benak masyarakat secara efektif. Oleh karenanya pihak perusahaan terkadang tidak segan-segan membayar lebih mahal untuk artis terkenal untuk mendukung promosinya.

Dalam mempromosikan suatu produk, selebriti bisa berfungsi untuk (Sumarwan, 2003: 258) :

1. Memberikan kesaksian (testimonial) berdasarkan pengalaman selebriti dalam menggunakan produk.

2. Memberikan dorongan dan penguatan (endorsement). Selebriti meminjamkan namanya yang digunakan untuk promosi produk, walaupun selebriti tersebut bukan ahli.

3. Bertindak sebagai aktor dalam iklan. Selebriti menyampaikan produk atau jasa sebagai bagian dari penguatan karakter.

4. Bertindak sebagai juru berbicara perusahaan.

Tujuan perusahaan mengiklankan produknya dengan menggunakan endorser adalah untuk mendapatkan perhatian dari konsumen. Endorser

dapat menjadi salah satu stimulus yang dapat mempengaruhi perhatian konsumen. Apabila stimulus tersebut berhasil menarik perhatian konsumen, maka baik disadari maupun tidak disadari akan diinterpretasikanoleh konsumen (Setiadi, 2008: 176).

Menurut Sulaksana (2005: 74), pemilihan endorser pada dasarnya berhubungan erat dengan konsep brand persona, yaitu pemberian makna pada merek. Pesan yang dibawa oleh sumber yang terkenal dan menarik umumnya menjaring perhatian dan recall yang lebih tinggi. Karena itu banyak selebriti yang menjadi bintang iklan, namun efektif atau tidaknya memilih figur atau icon dalam kegiatan promosi tentunya akan sangat dipengaruhi oleh image yang terbentuk di masyarakat mengenai sosok tersebut. Memilih artis paling populer sekalipun tidak akan memberi manfaat apapun jika tidak ada keselarasan antara image artis dengan image yang ingin diciptakan terhadap merek (Didih, 2006: 133).

Proses memberikan respon dan menginterpretasikan pesan yang diterima disebut sebagai proses decoding. Proses ini akan dilanjutkan dengan tindakan konsumen sebagi penerima pesan, jika pesan diterima secara positif, maka akan memberikan pengaruh positif pada sikap dan perilaku konsumen. Sikap positif akan mendorong kepada pembelian (Setiadi, 2008: 176).

2.6. Perilaku Konsumen

2.6.1. Pengertian Perilaku Konsumen

Mengetahui serta mengerti perilaku konsumen (costumer behavior) dapat membantu perusahaan untuk menentukan strategi pemasaran produk.

Menentukan kebijaksanaan yang efektif bukanlah hal yang mudah, namun dengan memahami perilaku konsumen diharapkan bisa menjadi kunci kesuksesan dalam memenangi persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain yang sangat ketat. Karakteristik konsumen yang sangat bervariasi baik ari segi pendapatan, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pola pikiran, selera. Hal ini bisa digunakan perusahaan untuk membuat segmentasi pasar, kemudian menciptakan produk yang sesuai dengan keinginan pasar.

Istilah perilaku erat hubungannya dengan objek yang studinya diarahkan pada permasalahan manusia. Di bidang studi pemasaran, konsep perilaku konsumen secara terus menerus dikembangkan dengan berbagai pendekatan. Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Setiadi, 2008: 3).

2.6.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli. Sebagian bessar adalah faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh pemasar, tetapi harus

benar-benar diperhitungkan. Nugroho J. Setiadji (2008: 11-15) menjabarkan beberapa faktor yang mempengaruhi Perilaku konsumen, yaitu:

1. Faktor Kebudayaan a. Kebudayaan

Kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Bila makhluk-makhluk lainnya bertindak berdasarkan naluri, maka perilaku manusia umumnya dipelajari. Seorang anak yang sedang tumbuh mendapatkan seperangkat nilai, presepsi, preferensi dan perilaku melalui suatu proses sosialisasi yang melibatkan keluarga dan lembaga-lembaga sosial.

b. Sub Budaya

Sub budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu : Kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis.

2. Faktor Sosial

a. Kelompok Referensi

Kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang, seperti teman, tetangga, teman sejawat, dll.

b. Keluarga

Keluarga dapat dibedakan menjadi dua, yang pertama adalah keluarga orientasi yang merupakan orang tua seseorang dan keluarga prokreasi, yaitu pasangan hidup, anak dan lainnya.

3. Faktor Pribadi

a. Umur dan Tahapan dalam Siklus Hidup

Setiap orang memiliki tahapan siklus hidup, dan berpengaruh pada perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Hal tersebut dapat mempengaruhi pilihan produk seseorang.

b. Pekerjaan

Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.

c. Keadaan Ekonomi

Yang dimaksud dengan keadaan ekonomi adalah terdiri dari, pendapatan yang dapat dibelanjakan, tabungan dan hartanya dan kemampuan untuk meminjam.

d. Gaya Hidup

d. Gaya Hidup

Dalam dokumen Diah Ayu Anggrahini (Halaman 33-0)

Dokumen terkait