• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : Gambaran Umum

B. Fungsi Komunikasi Massa 1.Menghibur 1.Menghibur

2. Model Dampak yang Kuat (The Powerfull Effects Model)

Elisabeth Noella Neumann menyatakan bahwa dalam

keadaan-keadaan tertentu, media massa bisa mempunyai dampak yang signifikan

pada sejumlah besar orang.9

Teori peluru merupakan salah satu gagasan paling awal dan paling

sederhana tentang komunikasi massa, yang menganggap dampak yang

benar-benar kuat disebabkan oleh komunikasi massa. Menurut riset pada

sejumlah topik, termasuk kesenjangan ilmu pengetahuan, penentuan

agenda, dan dampak dari kekerasan yang ditayangkan di televisi,

menunjukkan bahwa komunikasi massa mempunyai lebih dari sekedar

dampak terbatas. Pandangan ini mungkin disebut model dampak moderat

yang menunjukkan bahwa komunikasi massa mempunyai dampak yang

8

Werner J. Severin dan James W. Tankard, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di dalam Media Massa (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2011) Cetakan ke-5, h. 314

9

kuat. Dampak yang kuat tersebut tidak terjadi secara universal atau

dengan mudah tetapi hanya apabila digunakan teknik-teknik komunikasi

yang tepat sesuai dengan keadaan-keadaan yang tepat.10

D. Social Learning Theory

Social Learning Theory atau teori belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, dalam teori ini Bandura menekankan tiga hal yang berkaitan dengan

perilaku manusia, yaitu:

a. Observasional learning. Menurut teori ini setiap orang mempunyai kemampuan untuk meniru perilaku yang dia lihat karena dia belajar

mengamati.

b. Self evaluation. Hasil pengamatan atas perilaku yang dipelajari itu tidak selalu menentukan perilaku, oleh karena itu kita dapat memantau dan

mengevaluasi perilaku kita dnegan melihat bagaimana kita berhadapan

dengan situasi dalam kehidupan yang berkaitan dengan standar perilaku

yang kita tiru.

c. Control and shaping. Menurut teori ini, kita dapat berbuat sesuatu karena kita membutuhkan suatu kontrol terhadap proses internal maupun

terhadap lingkungan kita.11

Teori ini juga menekankan pada tiga tahapan yang berkaitan dengan efek

media, yaitu:

10

Werner J. Severin dan James W. Tankard, h 318-319 11

a. Memperhatikan (Attention): suatu proses memperhatikan apa yang dilihat dari media, terkait dengan kejadian-kejadian yang menarik

b. Mengingat Kembali (Retention): suatu proses penyimpanan kejadian-kejadian menarik dalam memorinya yang kemudian akan dipanggil

kembali pada saat dibutuhkan

c. Peneguhan (Motivational): suatu proses peneguhan yang merubah memori menjadi perilaku.12

E. Remaja

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau

“tumbuh menjadi dewasa”. Kata adolscence, seperti yang dipergunakan saat

ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental,

emosional, sosial, dan fisik.

Remaja dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa remaja awal dan masa

remaja akhir. Masa remaja awal terjadi pada usia 13 tahun sampai usia 16

atau 17 tahun sekitar usia sekolah menengah pertama (SMP) dan masa

remaja akhir pada usia 16 atau 17 tahun hingga 18 tahun.13 Sekitar usia

skeolah menengah atas (SMA) hingga perguruan tinggi.

1. Ciri-ciri Masa Remaja

a) Masa remaja sebagai periode yang penting. Perkembangan fisik yang cepat yang penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental

yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu

12

Alo Liliweri, h. 890

13

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Jakarta: Erlangga, 1980) Edisi ke-5, h. 206

menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk

sikap, nilai dan minat baru.

b) Masa remaja sebagai periode peralihan. Pada masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Pada saat ini seringkali

remaja merasa bimbang dengan perilaku yang dilakukan, kadang

di-judge kekanak-kanakan dan kadang di-judge so dewasa.

c) Masa remaja sebagai periode perubahan. Selama masa awal remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan

sikap juga berlangsung pesat, begitu pun sebaliknya. Ada empat

perubahan yang hampir bersifat universal:

1. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat

fisik dan psikologis yang terjadi.

2. Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok

sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru.

3. Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga

berubah. Mereka mulai mengerti bahwa kualitas lebih penting

dibanding kuantitas.

4. Sebagian besar remaja bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi

takut untuk bertanggungjawab akan akibatnya.

d) Masa remaja sebagai usia bermasalah. Hal ini terjadi karena kebiasaan masa anak-anak setiap masalah diselesaikan oleh orang tua dan guru.

e) Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Dengan kepemilikan simbol status seperti mobil, pakaian, dan pemilikan barang-barang yang

terlihat remaja akan menarik perhatian dan agar dipandang sebagai

individu.

f) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan. Pandangan stereotipe remaja yang buruk menyebabkan remaja merasa takut untuk

melakukan hal-hal yang dianggapnya penting.

g) Masa remaja sebagai masa yang realistik. Dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial, dan dengan meningkatnya

kemampuan untuk berpikir rasional, remaja yang lebih besar

memandang diri sendiri, keluarga, teman-teman dan kehidupan pada

umumnya secara realistik. Dengan demikian remaja tidak terlampau

banyak mengalami kekecewaan seperti ketika masih muda.

h) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Para remaja mulai merasa gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk

memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian

dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh

karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang

dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman

keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam pacaran dan

perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan

memberikan citra yang mereka inginkan.14

14

Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Karena masa remaja

adalah masa situasi kritis dalam kehidupan seseorang. Dalam pendidikannya

harus diperhatikan tahapan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi, baik

itu secara fisik, intelektual, dan emosional.15

Suatu ciri yang perlu diketahui pula ialah pertumbuhan jasmani yang

dialami oleh remaja seiring dengan pertumbuhan anggota dari dalam termasuk

pertumbuhan organ seks, yang diiringi pula dengan kelenjar yang telah

menyebabkan remaja pada usia ini telah dapat mengadakan aktivitas

reproduksi. Kecenderungan kepada jenis lain mulai dan biasanya diikuti pula

dengan dorongan seks. Usia ini disebut masa puber, masa pematangan seksual.

Karena itulah pergaulan mereka perlu adanya kendali, apalagi remaja yang

hidup di masa masyarakat dengan kecanggihan teknologi, remaja dapat dengan

mudah menemukan contoh yang menarik dari media seperti menonton

tayangan dan permainan yang bebas.16

F. Pacaran

Pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan

berdasarkan cinta kasih. Sedangkan berpacaran adalah bercintaan,

berkasih-kasihan dengan lawan jenis.17

Pacaran merupakan fenomena yang cukup banyak dijumpai di jaman

sekarang. Pacaran yang kita kenal yaitu terbentuk dan fungsi utamanya adalah

15

Kementrian Agama RI, Pendidikan, Pengembangan Karakter, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, 2010) h. 233

16

Zakiah Daradjat, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1997) Cetakan ke-4, h. 123

17

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007) Edisi kke-3, h. 807

memilih dan mendapatkan seorang pasangan. Sebelum periode ini, hanya

bertujuan untuk menyeleksi pasangan, dan pacaran harusnya diawasi dengan

cermat oleh orang tua, yang sepenuhnya mengendalikan setiap relasi

heteroseksual. Para orang tua saling mengunggulkan remajanya sebagai calon

pasangan dan bahkan memilihkan pasangan bagi anak-anaknya. Akhir-akhir

ini remaja tentu sudah memiliki kendali yang jauh lebih besar terhadap proses

berpacaran dan dengan siapa mereka menjalin hubungan. Di samping itu,

pacaran telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar persiapan

untuk menikah.18