• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA A.Hal-Hal Teoritik

4. Model Pembelajaran AIR (Auditory Intellectually Repetition)

Model pembelajaran AIR (Auditory, Intellectually, Repetition) adalah model pembelajaran yang menganggap bahwa suatu

pembelajaran akan efektif jika memperhatikan tiga hal, yaitu Auditory,

Intellectually, and Repetition. a. Auditory

Dave Meiler (2000) dalam Mistaful Huda (2013,289)

menyatakan bahwa pikiran auditoris lebih kuat daripada yang kita

sadari. Telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan

informasi auditoris, bahkan tanpa kita sadari. Selanjutnya, Wenger

(dalam Rode dan Nicholl, 1997) menegaskan : “kunci belajar

terletak pada artikulasi rinci. Tindakan mendeskripsikan sesuatu

yang baru bagi kita akan mempertajam persepsi dan memori kita

tentangnya. Ketika kita membaca sesuatu ynag baru kita harus

menutup mata dan kemudian mendeskripsikan dan mengucap apa

yang telah dibaca tadi”.

Model belajar auditorial merupakan model belajar yang

mengakses segala jenis bunyi dan kata, baik yang diciptakan

maupun diingat. Kebanyakan siswa yang auditorisnya lebih muda

dengan cara berdiskusi dengan orang teman lain, maka sebaiknya

guru melakukan hal-hal berikut : melaksanakan diskusi kelas atau

debat; meminta siswa untuk presentasi; meminta siswa untuk

ide mereka secara verbal; melaksanakan belajar kelompok. Oleh

karena itu, pada penelitian ini peneliti menggunakan metode

diskusi dalam proses pembelajaran di kelas eksperimen.

Dalam buku Collaborative Learning Techninques Elizabert, K. Patrisia, Claire Howell (2012,151) Davis mencatat, sebuah diskusi

give-and-take (memberi dan menerima) yang baik dapat menghasilkan pengalaman pembelajaran yang tiada tara ketika para

siswa mengartikulasikan ide-ide mereka, merespon pikiran teman

sekelas mereka dan membangun keterampilan dalam mengevaluasi

sendiri bukti dan posisi orang lain” (1993, 63). Metode diskusi

sebagai perangkat pengajaran yang efektif karena dapat membantu

siswa merumuskan ide-ide mereka dan belajar

mengkomunikasikannya. Diskusi dapat mengajari siswa untuk

menjadi pendengar yang baik, saling menghargai, belajar lebih

dalam dan mengingat lebih lama dengan cara menghubungkan

pengetahuan yang telah mereka miliki dengan apa yang didengar.

Dalam buku Metodologi Pembelajaran Kontemporer, Moh.

Sholeh (2014, 152) mengemukakan beberapa kelebihan metode

diskusi yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar, antara

lain :

a. Mendorong siswa untuk berpartisipasi serta memiliki rasa

percaya diri untuk mengemukakan pendapat.

b. Membiasakan siswa untuk menghargai perbedaan pendapat

serta mendapat dukungan dan sanggahan atas pendapatnya.

2. Tergalinya gagasan-gagasan baru yang memperkaya dan

memperluas pemahaman siswa terhadap materi yang dibahas.

3. Dapat melatih siswa untuk membiasakan diri bertukar pikiran

dalam mengatasi setiap masalah.

4. Membina perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat,

kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil.

Dengan demikian dalam proses pelaksanaan diskusi, dalam

buku Metodologi Pembelajaran Kontemporer, Moh. Soleh (2014,

145), Bridges (1979) dalam buku Strategi Pembelajaran Wina

Sanjaya mengemukakan bahwa, seorang guru harus dapat

mengatur kondisi agar setiap siswa : dapat bicara dan

mengeluarkan gagasan dan pendapatnya; harus saling mendengar

pendapat orang lain; harus saling memberikan respon; harus dapat

mengumpulkan atau mencatat ide-ide yang dianggap penting;

melalui diskusi setiap siswa harus mengembangkan

pengetahuannya serta memahami isu-isu yang dibicarakan.

b. Intellectually

Menurut Meier (2000) dalam Miftahul Huda (2013, 290),

akademis, dan terkotak-kotak. Kata „intelektual‟ menunjukkan apa

yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal

ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu

pengalaman dan menciptakan hubungan makna, rencana dan

dinilai dari pengalaman tersebut”. Dengan demikian intektualitas

dapat diartikan sebagai sarana yang digunakan manusia untuk

berpikir jernih melalui latihan bernalar, mencipta, memecahkan

masalah, mengkonstruksi, dan menerapkan.

Melihat hal ini, maka Meier (2000) mengatakan bahwa

seorang guru haruslah berusaha mengajak siswa terlibat dalam

aktivitas-aktivitas intelektual, seperti : memecahkan masalah;

menganalisis pengalaman; mengerjakan perencanaan strategis;

melahirkan gagasan kreatif; mencari dan menyaring informasi;

merumuskan pertanyaan; menciptakan model mental; menerapkan

gagasan baru dalam pekerjaan; menciptakan makna pribadi;

meramalkan implikasi suatu gagasan.

c. Repetition

Repitisi bermakna pengulangan. Dalam Purwanto (2009,

41) pengulangan dapat menimbulkan tingkah laku dengan

mengubah respon bersyarat menjadi respon tanpa syarat (Bower

dan Hilgard. 1981, 49). Pengulangan diperlukan dalam

pembelajaran agar pemahaman lebih mendalam dan lebih luas.

mengantisipasi kebiasaan siswa yang mudah lupa, karena ingatan

siswa tidak selalu stabil. Hal ini juga diungkapkan oleh Slamet

(2013, 37) dalam Miftahul Huda (2013, 292) pelajaran yang

diulang akan memberi tanggapan yang jelas dan tidak mudah

dilupakan, sehingga siswa bisa dengan mudah memecahkan

masalah. Ulangan semacam ini diberikan secara teratur, pada

waktu-waktu tertentu, atau tiap unit diberikan, maupun secara

insidental jika dianggap perlu.

Proses pengulangan dapat dilakukan kepada siswa melalui

latihan soal, pemberian tugas atau kuis.

1. Latihan soal

Latihan soal diberikan kepada siswa untuk mengasah

kemampuan yang dimilikinya melalui proses berpikir dengan

mengerjakan soal-soal setelah mendengar penjelasan dari guru

maupun penjelasan dari teman sebaya.

2. Pemberian tugas

Pemberian tugas diberikan dengan maksud untuk melatih

siswa agar bertanggung jawab atas kewajibannya. Melalui

tugas-tugas yang diberikan guru, siswa dapat belajar

manajemen waktu untuk belajar atau bermain. Selain itu juga,

pemberian tugas dapat meningkatkan motivasi siswa untuk

mandiri yakni dengan menggunakan pemikirannya dapat

memecahkan sendiri masalah yang diberikan .

3. Kuis

Kuis merupakan ulangan singkat karena hanya

membutuhkan waktu 5-10 menit. Kuis yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah soal-soal dari materi yang telah diajarkan.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa model

pembelajaran AIR (Auditory, Intellectually, Repetition) merupakan model pembelajaran yang berpedoman pada tiga kata yakni Auditory, Intellectually, Repetition. Model pembelajaran ini membantu siswa untuk saling mendengarkan, percaya diri dan berani mengungkapkan

pendapat, berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan terus

memperdalam serta memperluas pengetahuan melalui latihan soal,

mengerjakan tugas, dan mengerjakan soal kuis yang diberikan.

Dokumen terkait