• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.4. Model Pembelajaran Kooperatif

Lie (2007:28) mengatakan bahwa falsafah yang mendasari model

pembelajaran gotong royong adalah falsafah homo hominis socius. Falsafah ini

menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kerja sama merupakan

kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama

tidak akan ada individu, keluarga, organisasi atau sekolah. Model pembelajaran

Cooperative Learning atau gotong royong adalah sistem pengajaran yang

memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa

dalam tugas-tugas terstruktur.

Dalam pembelajaran Cooperative Learning siswa bisa juga mengajar

dengan sesama siswa yang lainnya. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai

fasilitator. Suasana belajar Cooperative Learning dapat menghasilkan prestasi

yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologi yang

lebih baik daripada suasana belajar yang penuh persaingan dan

memisah-misahkan siswa menurut Johnson & johnson (dalam Lie, 2007:29) Roger dan

kelompok bisa dianggap Cooperative Learning”. Untuk mencapai hasil yang

maksimal, perlu diterapkan lima unsur pembelajaran Cooperative Learning (Lie,

2007:31) yaitu:

a. Saling Ketergantungan Positif

Dalam model pembelajaran kooperatif pengajar perlu menciptakan

suasana yang mendorong anak-anak merasa saling membutuhkan satu

sama lain. Pengajar dapat menciptakan kelompok kerja yang efektif yaitu

dengan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota

kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa

mencapai tujuan mereka. Dalam model pembelajaran kooperatif siswa

yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekan

mereka karena mereka juga memberi sumbangan. Justru mereka akan

merasa terpacu untuk meningkatkan usaha mereka dan dengan demikian

menaikkan nilai mereka. Sebaliknya siswa yang lebih pandai juga tidak

akan merasa dirugikan karena rekannya yang kurang mampu juga telah

memberikan bagian sumbangan mereka.

b. Tanggung Jawab Perorangan

Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan

yang terbaik, jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model

pembelajaran kooperatif. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok

adalah persiapan guru dalam penyusunan tugas. Pengajaran yang efektif

dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun

tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus

pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk di Universitas Texas.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model

pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari

4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan

setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari

materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota

kelompok yang lain.

c. Tatap Muka

Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk saling bertatap

muka, sehingga mereka dapat saling berdiskusi, interaksi semacam ini

memungkinkan anak-anak dapat saling menjadi sumber belajar. Anak

anak sering merasa lebih mudah belajar dengan teman sesamanya daripada

belajar dari guru. Interaksi tatap muka memungkinkan terciptanya sumber

belajar yang bervariasi, sehingga dapat mengoptimalkan pencapaian hasil

belajar.

d. Komunikasi Antar anggota

Siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara.

Keberhasilan suatu kelompok bergantung pada kesediaan para anggotanya

untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka mengutarakan

pendapat mereka. Proses komunikasi antar kelompok merupakan proses

yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya

pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional

e. Evaluasi Proses Kelompok

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk

mengevaluasi proses kelompok untuk mengevaluasi proses kerja

kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama

dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali

kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah

beberapa kali siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif.

Menurut Slavin (2005:4) model kooperatif merujuk pada berbagai macam

pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk

saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam

kelas pembelajaran kooperatif, para siswa diharapkan untuk mampu saling

membantu, saling berdiskusi dan berargumentasi. Hal ini dilakukan untuk

mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan

dalam pemahaman masing-masing.

Dari penjelasan tersebut, pembelajaran kooperatif tidak hanya belajar

dalam kelompok saja, tetapi juga melibatkan proses kerja. Seperti yang ditegaskan

oleh Sugandi dalam Rusman bahwa belajar kooperatif lebih dari belajar dalam

kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif terdapat struktur

dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan interaksi

yang terbuka dan hubungan yang bersifat interdepensi efektif diantara anggota

kelompok.

2.1.4.2. Macam-Macam Pembelajaran Kooperatif

Menurut Trianto (2010:67) macam-macam pembelajaran kooperatif

a.Tipe Number Heads Together (NHT)

Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

b.Tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini merupakan model kelompok berkemampuan heterogen.Siswa belajar pada aspek khusus pembelajaran secara individual. Anggota tim menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk saling memeriksa jawaban teman se-tim, dan semua bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban pada akhir kegiatan. Diskusi terjadi pada saat siswa saling mempertanyakan jawaban yang dikerjakan teman sekelompoknya. c. Tipe Teams Games-Tournament (TGT)

TGT menekankan adanya kompetisi, kegiatannya seperti STAD, tetapi kompetisi dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam suatu ‘turnamen’. Kemudian diambil nilai dari hasil turnamen dan juga dengan memberikan penghargaan kepada tim yang berhasil.

d.Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).

Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan -kawannya dari Universitas John Hopkins. Metode ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana dan paling langsung dari pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu baik melalui penyajian verbal mupun tertulis.

e.TipeJigsaw

Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan- kawannya dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode Jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan-bahan akademik di sajikan kepada siswa dalam bentuk teks, dan tiap siswa bertanggung jawab mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari tim yang berbeda memiliki tanggung jawab mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa seperti ini disebut “kelompok pakar” (expert group). Selanjutnya, para siswa yang berada pada kelompok pakar kembali ke kelompok semula(home teams)untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajarai dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam(home teams).

f. Tipe Group Investigation (GI)

Dasar-dasar metode ini dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan kawan-kawannya dari Universitas Tel Aviv. Metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik menentukan topik maupun cara mempelajari melalui in vestigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok

(group process skills).Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.

2.1.4.3.Manfaat Penggunaan Model Kooperatif

Menurut Karli dan Yuliaritaningsih (2002:72), kelebihan dari

pembelajaran model kooperatif yaitu antara lain; dapat melibatkan siswa secara

aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya dalam

suasana pembelajaran yang bersifat terbuka dan demokratis; dapat

mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki oleh siswa ;

dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap,nilai, dan ketrampilan –

ketrampilan social untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat, siswa tidak

hanya sebagai obyek belajar melainkan sebagai subjek belajar karena siswa

mampu menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya, siswa dilatih untuk bekerjasama,

karena bukan hanya materi yang dipelajari namun juga tuntutan untuk

mengembangkan potensi dirinya secara optimal demi kesuksesan kelompoknya;

serta member kesempatan pada siswa untuk belajar memperoleh dan memahami

pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung sehingga lebih bermakna untuk

dirinya.

Menurut Sugiyanto (2009:43), terdapat banyak nilai dari model

pembelajaran kooperatif. Pembelajaran Kooperatif mempermudah siswa

melakukan penyesuaian social yang meliputi meningkatkan kepekaan dan

kesetiakawanan social antara lain: saling belajar mengenai sikap, ketrampilan,

informasi, perilaku social, dan pandangan-pandangan, berkembangnya nilai-nilai

membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa, berbagai

ketrampilan social yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling

membutuhkan dapat diajarkan atau dipraktekan, meningkatkan rasa percaya

sesame manusia, meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari

berbagai perpektif, meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lainyang

dirasa lebih baik, serta meningkatkan kegemaran berteman tanpa memilih atau

membedakan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas social,

agama dan orientasi tugas.

Dari penjelasan tersebut terdapat kemiripan dari dua pemaparan ahli yang

semua terpusat pada siswa untuk aktif dan bekerjasama dalam pengerjaan tugas

kelompoknya.