TERNAK SAPI-TANAMAN BERBASIS KELAPA SAWIT DI PROVINSI SUMATERA SELATAN
MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI TERNAK SAPI KELAPA SAWIT
Dari hasil pengkajian selama tiga tahun (tahun 2005 – 2007) dapat digambarkan model pengembangan sistem integrasi ternak sapi di Sumatera Selatan sebagaimana yang diilustrasikan dalam Gambar 1.
Gambar 1.Model pengembangan sistem SISKA di Sumatera Selatan
Pembina/Pemodal :
- Koperasi/Perusahaan Kelapa sawit - Pemda Prop/Kab
Kredit/bantuan ternak sapi kepada petani/karyawan kebun dalam wadah
kelompok tani
Ternak sapi
Limbah pabrik: lumpur sawit/solid Kompos Tenaga kerja
sapi Kebun kelapa sawit Penghasil ternak bakalan/ daging Tabungan Petani Tanaman kelapa sawit Areal penggembalaan
Tandan buah segar
Limbah sawit (pelepah + daun sawit) Pabrik CPO Populasi sapi dan pendapatan petani meningkat PAKAN
Dukungan dan Kebijakan Pemerintah Daerah
Sumatera Selatan selain akan diwujudkan sebagai lumbung pangan dalam arti luas yang mencakup tanaman pangan, hortikultura dan peternakan, ke depan juga ditargetkan untuk swasembada daging sapi tahun 2014. Keinginan tersebut telah mempertimbangkan berbagai aspek dan faktor pendukung lainnya, yaitu: (i) potensi sumberdaya baik sumberdaya alam (areal tanaman sawit/sumber pakan) maupun manusia (petani/pekebun); (ii) anggaran/biaya yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah/APBD yaitu sebesar Rp 3,4 miliar, dan (iii) potensi pasar terkait dengan tingginya permintaan akibat meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang diikuti dengan terjadinya perubahan pola konsumsi.
Gaung program SISKA dengan tujuan akhir menjadikan ”Sumatera Selatan Swasembada Daging 2014” telah mulai dicanangkan oleh pemerintah provinsi. Pencanangan program tersebut diimplementasikan dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Gubernur Sumatera Selatan dengan enam pimpinan perusahaan perkebunan kelapa sawit pada tanggal 18 Juni 2009.
Pada tahun 2009 terdapat lima kabupaten yang telah siap menjadipilot project penerapan integrasi sapi-sawit yakni Kabupaten Musi Rawas (MURA), Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (MUBA), Ogan Komering Ulu (OKU) dan OKU Timur.
Pada pola pengembangan yang akan diterapkan adalah bahwa setiap kabupaten akan mendapatkan alokasi 44 ekor induk sapi Brahman Cross (BX). bunting tiga bulan. Dengan demikian pada tahap awal ini (tahun 2009) akan diperoleh total induk sapi sebanyak 200 ekor dan rencananya program ini akan terus dikembangkan sampai tahun 2013 dengan total sapi sebanyak 4.000 ekor. Data proyeksi pengembangan sapi di lima kabupaten disajikan pada Tabel 5.
Partisipasi perusahaan perkebunan yang dalam program Sumatera Selatan Swasembada Daging 2014 tersebut dapat dikatakan masih sangat rendah. Dari sekitar 181 perusahaan perkebunan yang ada di wilayah Sumatera Selatan hanya 3,31% yang telah menandatangani MoU dengan pemerintah provinsi.
Tabel 5.Proyeksi pengembangan sapi BX
Tahun Pelaksanaan Jumlah Ternak Sapi (ekor)
2009 200
2010 800
2011 900
2012 1.000
2013 1.100
Jumlah total (ekor) 4.000
Lokasi: Kabupaten MURA, MUBA, OKI, OKU dan OKUT
Masih sedikitnya jumlah perusahaan perkebunan di Sumatera Selatan yang telah menandatangani MoU tersebut menunjukkan belum adanya keyakinan terhadap manfaat dan keberhasilan yang akan dicapai dalam program tersebut. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka ke depan pemerintah provinsi akan mengeluarkan peraturan daerah (PERDA). Apabila dari hasil evaluasi ternyata perusahaan perkebunan lainnya (175 perusahaan) masih enggan untuk secara nyata berkiprah dalam pengembangan sistem integrasi sapi-sawit.
Kebijakan yang akan diambil tersebut sangatlah beralasan mengingat saat ini di Provinsi Sumatera Selatan terdapat areal perkebunan sawit seluas 600 ribu ha yang terdiri dari 70% berada pada areal inti dan 30% lainnya di areal plasma. Artinya, apabila 100.000 ha saja dari luas total areal perkebunan tersebut diintegrasikan dengan ternak sapi maka akan dihasilkan sedikitnya 100 ribu ekor sapi potong dengan asumsi per hektar lahan dapat menghidupi 1 – 3 ekor sapi. Prediksi tersebut akan semakin membuat optimis pemerintah daerah untuk mewujudkan Program Sumatera Selatan Swasembada Daging 2014 mengingat kebutuhan sapi potong Sumatera Selatan adalah 12.000 ekor per tahun yang sebagian diperoleh dari sapi impor. Artinya, apabila target tersebut di atas dapat dicapai pada tahun pertama maka pada masa mendatang Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tidak perlu mengimpor untuk memenuhi kebutuhan ke depan bisa mengekspor sapi potong ke luar Provinsi bahkan ke luar negeri (Situs Praktisi Peternakan Nasional).
PENUTUP
Rata-rata produksi limbah pohon kelapa sawit dan rumput alam sebagai pakan sapi di PTPN VII Unit Betung Bentayan Desa Teluk Kijing III Kecamatan Lais Kab. Musi Banyuasin mampu menampung 2 – 3 ekor sapi/ha. Bentuk perkandangan yang diterapkan adalah kandang kelompok atau individu dengan sistem pemeliharaan semi intensif dapat diterapkan pakan konsentrat berupa lumpur sawit (solid) diberikan sebanyak 5 kg per ekor per hari dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Induk sapi yang diberi pakan solid memiliki angka rata-rata S/C dan calving intervalmasing-masing 1,49 kali dan 11,75 bulan.
Hasil analisa laboratorium terhadap kandungan unsur hara pupuk kompos adalah: C-organik 8,07%; Nitrogen (N) 0,85%; C/N ratio 9,66; Phosphor (P) 0,01% dan Kalium (K) 0,62%. Peningkatan hasil panen tandan buah segar (TBS) pada tanaman umur 20 sampai 24 tahun yang diberi pupuk kompos mulai sebesar 10 – 15% atau rata-rata 13%. Daun kepala sawit lebih hijau dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi pupuk kompos.
Dalam rangka mewujudkan Sumatera Selatan Swasembada Daging 2010, maka pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah mengeluarkan kebijakan yang telah diwujudkan dalam bentuk penandatanganan MoU antara Gubernur Sumatera Selatan dengan pimpinan enam perusahaan perkebunan kelapa sawit melalui kegiatan sistem integrasi.
DAFTAR PUSTAKA
BPS SUMATERASELATAN. 2002. Provinsi Sumatera Selatan dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Selatan. Palembang.
BAMUALIM, A. 2003. Potensi Pengembangan Peternakan di Sumatera Selatan. Makalah disampaikan dalam Acara Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Sumatera Selatan, Palembang 23 Mei 2003. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. Palembang.
DINASPETERNAKANPROVINSISUMATERASELATAN. 2004. Laporan Tahunan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan. Palembang.
DWIYANTO, K., D. SITOMPUL, I. MANTI, W. MATHIUS dan SOENTORO. 2004. Pengkajian pengembangan usaha sistem integrasi kelapa sawit-sapi. Pros. Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Potong, Bengkulu. hlm. 11–22. GUNAWAN, B. HERMAWAN, SUMARDIdan E. PUDIPRAPTANTI. 2004. Sistem Integrasi
Sapi–Kelapa Sawit di Perkebunan Rakyat Bengkulu. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Bengkulu, Bengkulu.
TOILEHERE, M.R. 1995. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
WIDJAJA, E. dan B.N. UTOMO, 2004. Solid Sawit untuk Pakan Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Palangkaraya.
WINUGROHO, M., M. SABRANIdan E. SUHARYA. 1997. Pedoman Teknis Penyiapan Induk Sapi Penghasil Bakalan (Balok) melalui Perbaikan Pakan. Direktorat Bina Produksi Peternakan, Jakarta.