• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Praktik Keperawatan Profesional

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 55-64)

TINJAUAN PUSTAKA

C. Model Praktik Keperawatan Profesional

Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) diartikan sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan yang diperlukan (Hoffart & Woods, 1996, dalam Sitorus, 2005). Melalui pengembangan model ini terdapat otonomi & akontabilitas perawat, pengembangan profesional dan penekanan pada mutu asuhan keperawatan.

Ada 4 (empat) unsur yang menjadi karakteristik model (Sitorus, 2007), yaitu:

1)penetapan jumlah tenaga keperawatan; dimana jumlah tenaga ditetapkan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan derajat ketergantungan klien, 2)penetapan jenis tenaga keperawatan; jenis tenaga yang memberikan asuhan keperawatan terdiri dari Clinical Care Manager (CCM), Perawat Primer (PP), dan Perawat Asosiet (PA). Kepala ruang rawat bertanggung jawab terhadap manajemen pelayanan keperawatan diruang rawat, peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuan dan terdapat tanggung jawab yang jelas dalam sistem pemberian asuhan keperawatan, 3)penetapan standar rencana asuhan keperawatan, dan 4)penggunaan metode modifikasi keperawatan primer; terdapat satu orang perawat profesional (PP) yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan.

1. MPKP di Luar Negeri dan di Indonesia

Diberbagai negara, beberapa rumah sakit juga melakukan berbagai kegiatan berupa pengembangan model praktik keperawatan profesional (MPKP), walaupun dalam bentuk dan istilah yang berbeda-beda, antara lain (Sitorus, 2005): Professional Practice Model (Lowa Veterans Home, 1967), Unit Level Self Management Model (John Hopkins Hospital, 1981), dan Shared Governance (St. Luke’s Hospital, 1988). Pada prinsipnya, keseluruhan model ini menekankan adanya otonomi dan akuntabilitas profesi dalam memberikan asuhan keperawatan.

Pengembangan MPKP yang ada diberbagai negara lebih menekankan pada aspek proses praktik keperawatan, karena struktur yang dimiliki sudah memungkinkan pemberian asuhan keperawatan profesional. Sedangkan di Indonesia, aspek struktur juga masih menjadi penekanan yang utama selain aspek proses karena mayoritas tenaga keperawatan yang memberikan asuhan adalah lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (Sitorus, 2005).

MPKP di Indonesia pertama kali dikembangkan oleh Sitorus di RSUPN Cipto Mangunkusumo pada Juli 1997. MPKP ini juga telah diimplementasikan di Rumah Sakit Jiwa Bogor dan di berbagai rumah sakit jiwa di Indonesia antara lain: Rumah Sakit Jiwa Lawang, Pakem, Semarang, Magelang, Solo, dan RSUD Duren Sawit. MPKP yang dibentuk adalah MPKP tingkat transisi

dan MPKP pemula (Keliat, 2006). Metode penugasan yang dilakukan adalah modifikasi keperawatan primer (kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim). Penetapan metode ini didasarkan beberapa alasan: a).

Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 keperawatan atau setara, b). Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim, c).

Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas dan akontabilitas asuhan keperawatan terdapat pada perawat primer (Sitorus, 2005).

Rumah Sakit Budhi Asih mengembangkan MPKP pertama kali tahun 2005 dengan tingkat MPKP pemula. Pembentukan MPKP dimulai pada 1 (satu) unit rawat inap sebagai unit percontohan. Perawat yang ditempatkan diruang MPKP dipilih melalui proses seleksi dengan melakukan tes pengetahuan dan keterampilan, dan memenuhi kualifikasi pendidikan sesuai kriteria yang telah ditetapkan: kepala ruangan S1 keperawatan, dan minimal DIII Keperawatan untuk perawat pelaksana. Penentuan jumlah tenaga ditetapkan berdasarkan BOR unit dan rata-rata tingkat ketergantungan pasien. Standard rencana keperawatan yang ada dilakukan revisi dan dikembangkan berdasarkan 10 (sepuluh) masalah prioritas yang sering ditemui diruangan. Metoda pemberian asuhan keperawatan menggunakan modifikasi keperawatan primer. Dari hasil

pengembangan terdapat peningkatan terhadap mutu pelayanan yang diberikan, sehingga pada tahun berikutnya MPKP dibuka untuk 2 (dua) unit ruang rawat lainnya. Hingga saat ini ada 3 unit ruang rawat inap yang menjadi model PKP.

2. Tingkatan MPKP

Sitorus dalam seminar dan lokakarya nasional di Jakarta (2007) menyatakan bahwa terdapat 4 tingkatan MPKP yang dikembangkan di Indonesia, yaitu:

a. MPKP tingkat III; tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada yang sudah doktor keperawatan klinik (konsultan), metode penugasan menggunakan manajemen kasus, dan melakukan riset eksperimen lebih banyak.

b. MPKP tingkat II; tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai ners spesialis keperawatan (1:10 Perawat primer), perawat primer (PP) adalah SKp/Ners dengan perbandingan 1:9-10 pasien, perawat assosiet minimal D III keperawatan, metode penugasan menggunakan manajemen kasus atau modifikasi keperawatan primer, melakukan riset eksperimen dan riset deskriptif.

c. MPKP tingkat I; tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai ners spesialis keperawatan sebagai Clinical Care Manager (CCM), Perawat Primer (PP) adalah SKp/Ners dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun, perawat assosiet minimal D III keperawatan, metode penugasan

menggunakan modifikasi keperawatan primer, dan melakukan riset deskriptif.

d. MPKP Pemula (MPKPP) tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini minimal D III sebagai Perawat Primer (PP) dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun, metode penugasan menggunakan modifikasi keperawatan primer, Model ini mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat pemula.

3. Hasil yang dicapai

Implementasi MPKP yang dilakukan dirumah sakit di Indonesia terbukti dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang diberikan. Menurut Sitorus yang menjadi pembicara dalam seminar dan lokakarya Nasional MPKP menyatakan setelah implementasi MPKP berjalan selama 10 tahun di RSCM, manfaatnya dapat dirasakan oleh rumah sakit, yaitu meningkatkan kepuasan pasien dan peningkatan kepatuhan perawat pada standar. Hal senada dinyatakan oleh Amiyanti dalam seminar MPKP FIK-UI (2007) bahwa implementasi MPKP yang dilaksanakan di RSCM menunjukkan peningkatan hasil dilihat dari: 1)aspek stuktur; tercapainya ketenagaan keperawatan yang menopang pemberian asuhan secara profesional, 2)aspek Proses; kepuasan kerja perawat meningkat (98,8%), perawat primer merasakan kebanggaan profesional dan mempunyai otonomi yang tinggi, perawat assosiet merasa ilmu pengetahuan dan semangat semakin tinggi, 3)aspek Outcome; terjadi

peningkatan kepuasan pasien / keluarga sebesar 57,9% (Sitorus, 2005), pasien merasa lebih diperhatikan dan lebih puas dirawat diruang MPKP dibanding ruang VIP, Infeksi nosokomial menurun 4,1%, ILI menurun sebesar 2,9% dari 8,2%, tindakan kolaborasi menjadi lebih baik.

Implementasi MPKP yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Bogor menunjukkan hasil BOR meningkat, ALOS menurun, angka lari pasien menurun. Pada penelitian yang dilakukan diruang srikandi sebelum dan sesudah MPKP terdapat peningkatan kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan sebesar 85,7%. Ini menunjukkan bahwa dengan MPKP pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan bermutu baik (Keliat, 2006).

Di RSUD Budhi Asih, implemenasi MPKP memberikan dampak yang positif terhadap kepuasan pasien, perawat dan petugas lain. Cakupan pelayanan rumah sakit: BOR diatas 75%, LOS 3-4 hari. Dari hasil kegiatan residensi yang dilakukan oleh Chanafi (2005) dan Harmini (2006) terkait dengan pelatihan MPKP di RSUD Budhi Asih diketahui bahwa pembagian tugas masing-masing perawat jadi semakin jelas, kolaborasi perawat-dokter semakin baik, perawat primer merasakan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil, dan kepala ruangan merasakan pekerjaan yang dilakukan lebih terorganisir.

Implemenasi MPKP dirasakan dapat memberi dampak yang positif terhadap kepuasan pasien, perawat dan petugas lain.

Informasi yang didapatkan oleh peneliti dari 3 (tiga) orang perawat pelaksana diruang MPKP menyatakan ada perbedaan yang terjadi pada sistem kerja diruangan setelah penerapan MPKP, dimana perawat primer melakukan pembagian tugas sebelum mulai bekerja kepada perawat pelaksana. Dengan adanya pembagian tugas tersebut, perawat mengetahui siapa pasien yang akan dirawatnya dan apa yang akan dilakukan bagi pasiennya, pekerjaan lebih terarah, perkembangan pasien dapat dipantau, pasien mengenal perawat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan yang diberikan kepadanya. Apabila ada kendala yang ditemui, dibahas bersama-sama pada pre / post conference.

Walaupun kepala ruangan masih melakukan kegiatan fungsional ruangan, seperti: mengikuti visite dokter, akan tetapi perawat primer memegang tanggung jawab lebih besar terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.

4. Hambatan Implementasi MPKP

Sitorus dalam Lokakarya Nasional di Jakarta (2007) menyatakan ada 38 rumah sakit diIndonesia yang diketahui telah mengimplementasikan MPKP.

Jumlah ini masih sangat terbatas, disebabkan beberapa faktor, antara lain MPKP merupakan hal yang baru sehingga pemahaman berbagai rumah sakit tentang MPKP masih kurang, pemanfaatan lulusan sarjana keperawatan / Ners pada pemberian asuhan belum opimal, dan merasa sudah puas dengan kondisi

keperawatan yang ada walaupun asuhan keperawatan yang diberikan belum profesional. Implementasi MPKP juga dirasakan terlalu mahal karena pemanfaatan lulusan S1 / Ners sebagai perawat primer.

Berdasarkan evaluasi implementasi MPKP yang dilakukan dirumah sakit di Indonesia, diketahui hambatan utama yang dialami adalah keterbatasan tenaga khususnya S1 / Ners, pembinaan dan bimbingan yang kurang pada implementasi MPKP, belum adanya standar asuhan keperawatan, sarana dan prasarana kurang, dan kompensasi untuk perawat primer kurang, padahal menurut Sitorus (2007), faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan MPKP adalah kemampuan perawat primer.

Di RSUD Budhi Asih, implementasi MPKP mendapatkan dukungan dari pimpinan rumah sakit. Komitmen perawat yang tinggi untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan menjadi alasan utama pengembangan MPKP.

Pendidikan perawat mayoritas D III keperawatan (95%) dan digunakannya rumah sakit sebagai lahan praktek menjadi faktor pendukung pengembangan MPKP. Namun demikian, sampai saat ini pembinaan dan bimbingan tentang implementasi MPKP belum dilakukan secara berkesinambungan sedangkan MPKP merupakan suatu hal yang baru, sehingga belum menyatu dengan perilaku perawat pada pemberian asuhan keperawatan. Keterbatasan S1 Keperawatan / Ners menyebabkan kemampuan perawat primer sebagian besar

(80%) DIII keperawatan. Sarana dan prasarana belum sesuai dengan kebutuhan, misalnya: ketersediaan set ganti balutan yang terbatas sehingga pada saat pemakaiannya meningkat harus menunggu alat tersebut selesai digunakan oleh perawat lain. Perubahan pada trend penyakit menyebabkan formulasi tenaga mengalami penyesuaian, misalnya dengan adanya KLB demam berdarah, RSUD Budhi Asih membuka ruang rawat inap darurat, melakukan rotasi perawat dari ruang rawat inap lain termasuk perawat dari ruang MPKP.

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 55-64)