• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mudah tidaknya masalah tersebut dikendalikan a. Dukungan Teori dan Teknologi

ASUMSI DASAR

1. Mudah tidaknya masalah tersebut dikendalikan a. Dukungan Teori dan Teknologi

Tercapai atau tidaknya tujuan suatu kebijakan akan tergantung pada

sejumlah persyaratan teknis. Berkaitan dengan penelitian ini, program Jaminan

Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Pensiun dan Jaminan Kematian

secara teknis dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan yang sudah bekerjasama dengan beberapa Rumah Sakit di Kota

Tangerang. Sebagaimana keterangan yang dipaparkan (I1-1) Kepala Bidang Pemasaran Peserta Penerima Upah BPJS Ketenagakerjaan Cikokol Kota

Tangerang mengenai teknis pelaksanaan program dari BPJS Ketenagakerjaan,

bahwa:

“BPJS Ketenagakerjaan, koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja, Kejaksaan, dan KPNL.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cikokol Kota Tangerang lt.3 Kamis, 17 Desember 2015 pukul 10:26 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka dapat diketahui bahwa proses

pelaksanaan teknis dilaksanakan oleh beberapa pihak seperti Dinas Tenaga Kerja,

Pemerintah Daerah, Kejaksaan dan pihak rumah sakit yang bekerja sama dengan

BPJS Ketenagakerjaan guna mendukung implementasi program dari BPJS

Ketenagakerjaan. Hal ini juga sama dengan yang apa dijabarkan oleh I2-1 yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pemasaran Peserta Penerima Upah di Kantor

BPJS Ketenagakerjaan Kebon Besar Tangerang :

“Secara teknisnya kita kerjasama dengan banyak, yang jelas sama Stakeholder kita itukan perusahaan pasti, ada juga Dinas Tenaga Kerja, Pemerintah Daerah, sekarang juga karena mulai ke penegakan hukum, kita juga ke Kejaksaan.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kebon Besar Tangerang. Selasa, 5 Januari 2016 pukul 10:45 WIB)

Dari hasil wawancara di atas juga dapat diketahui bahwa pelaksanaan

teknis dari program BPJS Ketenagakerjaan di lakukan oleh Dinas Tenaga Kerja,

Pemerintah Daerah, Kejaksanaan, rumah sakit dan klinik yang membantu

tercapainya kesuksesan implementasi program BPJS Ketenagakerjaan. Dengan

hasil wawancara dengan I1 dan I2, hasil wawancara dengan I3 yang mempunyai peran penting sebagai pelaksana vital bagi implementasi program BPJS

“Program BPJS Ketenagakerjaan ini untuk pelaksanaan dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan sudah pasti, kemudian ada Pemerintah Daerah, Dinas Tenaga Kerja, Kantor atau perusahaan, dan yang jelas kami dari rumah sakit sebagai pihak penyedia layanan kesehatan.” (Wawancara dengan Staf Bagian Penelitian Rumah Sakit Awal Bros Kota Tangerang, Senin 11 Januari 2016, pukul 10:40 WIB)

Berdasarkan wawancara di atas dengan I1, I2, dan I3, sudah jelas bagaimana teknis dari program impelementasi ini dilaksanakan oleh siapa saja pihak yang

terkait, antara BPJS Ketenagakerjaan sebagai pemegang program lanjutan dari

Jamsostek, Dinas Tenagakerja sebagai payung atau induk dari tenagakerja yang

ada di Kota Tangerang, kejaksaan sebagai badan hukum yang mendampingi

dalam segi penegakan hukum, Pemerintah Daerah sebagai pihak yang mengawasi

berjalannya program ini, juga rumah sakit dan klinik yang ikut bekerjasama

sebagai mitra dalam pelayanan kesehatan bagi tenagakerja.

Dari pihak I4 Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Banten sendiri selaku pengawas pelayanan publik, dukungan teori dan teknologi sudah di

rasa tidak ada hambatan dan masalah, karena sudah di dukung dengan Undang –

Undangnya tersendiri seperti dijelaskan di bawah berikut :

“Dukungan teori seperti dalam bentuk Undang – Undang itu kita berdasar Undang - Undang No. 37 tahun 2008, Undang - Undang No. 25 tahun 2009, dan Undang - Undang No. 23 tahun 2014. Teknologi yang kita gunakan dalam penerimaan laporan pelayanan publik dapat melalui telepon, fax, email, juga bisa datang langsung ke kantor Ombudsman”.

(Wawancara dengan Staff Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Banten, Rabu, 27 April 2016 pukul 16:15 WIB).

Namun dalam pernyataan yang didapat dari I5 mengatakan bahwa Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang tidak ikut berperan aktif dalam menjalankan

program BPJS Ketenagakerjaan, seperti yang telah disampaikan oleh I1, I2, I3, Dinas Tenaga Kerja hanya jika dibutuhkan. Seperti yang dikatakan sebagai

berikut :

“Kita Disnaker sudah tidak ikut berperan dalam membantu program BPJS Ketenagakerjaan, hanya jika dibutuhkan saja baru kami bisa membantu”. ( Wawancara dengan Kepala Seksi Pengupahan dan Jamsostek Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang, Senin 23 Mei 2016, pukul 10:45 WIB )

Selain itu bagaimana ketersediaan teknologi sebagai sarana pendukung

program tersebut agar pelaksanaan berjalan secara efisien. Salah satunya

penggunaan komputer dalam Sistem Informasi Manajemen dalam pengolahan

data kepesertaan, klaim dan verifikasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan

sumber yang sama, yakni I1-2, sebagai berikut :

“BPJS Ketenagakerjaan ini berbasis online, untuk sistem informasi bisa didapatkan di kantor cabang manapun, termasuk jaminan pelayanan kepada peserta.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang cabang Cikokol, 17 Desember 2015, pukul 10:26 WIB).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dengan I1, ketersediaan teknologi dalam menjalankan proses implementasi program BPJS Ketenagakerjaan berjalan

dengan baik dan tidak ada hambatan, karena di dukung dengan teknologi yang

semakin modern guna meningkatkan pelayanan baik internal maupun eksternal.

Dari hasil wawancara dengan I2, didapat hasil wawancara yang menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan dalam implementasi program BPJS

Ketenagakerjaan sudah sangat baik dengan di dukung kemajuan teknologi dan

“Teknologi kita sudah canggih sekarang ini, kita juga sistem baru, baru per November 2015 kemarin kita pakai, mungkin kalau sekarang hanya sedang ada pembaruan sistem sampai kurang lebih 6 bulan.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kebon Besar Tangerang, Selasa, 5 Januari 2016 pukul 10:45 WIB)

Juga dari hasil wawancara dari I3 yang memaparkan tentang teknologi yang digunakan di rumah sakit sudah sangat baik, hal ini diperjelas dengan apa

yang dijabarkan sebagai berikut :

“Teknologi di rumah sakit kami tidak perlu diragukan lagi, boleh cek setiap komputernya. Untuk pengolahan data kepesertaan, klaim dan verifikasi, kita pakai formulir juga, jadi ada manual dan komputer.

(Wawancara dengan Staff Bagian Penelitian Rumah Sakit Awal Bros Kota Tangerang. Senin, 11 Januari 2016 pukul 10:40 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan I5 mengenai dukungan teori seperti undang – undang yang mengatur jalannya program, I5

mengatakan bahwa harusnya ada beberapa pasal atau undang – undang yang di

revisi untuk kebaikan program BPJS Ketenagakerjaan, seperti yang dijelaskan

dibawah ini :

“Untuk teori ketenagakerjaan menurut saya sudah cukup baik, hanya undang – undang yang mengatur tentang BPJS ini yang harusnya dibenahi oleh pemerintah, sedangkan teknologi yang kami gunakan untuk mendukung data kepesertaan tenagakerja sudah baik dan tidak ada kendala hambatan sama sekali.” (Wawancara dengan Kepala Seksi Pengupahan dan Jamsostek Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang. Selasa, 5 Januari 2016 pukul 10:45 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara di atas dengan I1, I2, I3 dan I5 dalam aspek teori dan teknologi, pihak dari BPJS Ketengakerjaan dan Rumah Sakit sama sekali

teknologi yang berkembang menurut apa yang dituturkan oleh I1, I2, I3 dan I5, bahwa mereka sebagai pihak penyelenggara program dan penyedia pelayanan

kesehatan selalu berupaya untuk meningkatkan teknologi untuk pengembangan

sistem komputer dan software seperti aplikasi untuk cek saldo tabungan asuransi,

form pendaftaran online, layanan website, yang bertujuan untuk memudahkan

peserta untuk mengakses segala informasi, juga membantu mempermudah

petugas pelaksana program BPJS Ketenagakerjaan dalam melaksanakan

pekerjaannya. Sedangkan untuk secara teknisnya bahwa pelaksanaan program ini

dibantu dan didukung oleh Dinas Tenaga Kerja, Pemerintah Daerah, Rumah Sakit

yang berlogo Trauma Center, Kejaksaan dan semua perusahaan yang ada di Kota

Tangerang, yang memenuhi kriteria wajib ikut serta BPJS Ketenagakerjaan.

Setelah peneliti membandingkan hasil wawancara satu dengan yang

lainnya, maka peneliti dapat menarik sebuah kesimpulan sementara bahwa

dukungan teori oleh pihak pelaksana program BPJS Ketenagakerjaan sudah jelas

dan teknologi yang digunakan sudah cukup baik.

b. Keragaman Perilaku Kelompok Sasaran

Semakin beragam perilaku yang diatur, maka asumsinya adalah semakin

beragam pula pelayanan yang diberikan, sehingga akan semakin sulit untuk

membuat peraturan yang tegas dan jelas. Program BPJS Ketenagakerjaan di Kota

Tangerang terdiri dari keberagaman jenis program yang diantaranya jaminan

kecelakaan, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian yang

melibatkan banyak golongan tenagakerja berdasar jenis pekerjaan, tingkat risiko,

“Sangat baik, karena perlindungan yang diberikan melalui BPJS Ketenagakerjaan dapat menciptakan rasa aman bagi mereka pada saat bekerja.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cikokol Kota Tangerang, Kamis 17 Desember 2015 pukul 10:26 WIB )

Dari hasil wawancara di atas, peneliti dapat mengambil sebuah kesimpulan

sementara yaitu dengan program yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan,

setidaknya mampu memproteksi tenagakerja dari rasa was – was ketika dalam

pekerjaannya mengalami kecelakaan kerja, karena biayanya sudah masuk dalam

salah satu program yakni Jaminan Kecelakaan Kerja. Keterangan lain disebutkan

oleh I2-3 yang mengatakan :

“Sebelumnya sudah saya sampaikan, mereka para peserta itu merasa sangat senang dan antusias dengan transformasi Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan, karena bukan hanya namanya saja yang ganti, tapi juga ditambah dengan beberapa kelebihan yang menutupi, atau mungkin juga bisa suatu saat nanti menghilangkan kekurangannya, baik dalam peraturan, regulasi, ketentuan dan lain – lainnya.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kebon Besar Tangerang, 5 Januari 2016, pukul 10:45 WIB )

Keragaman perilaku kelompok seperti banyak peserta yang mendaftarkan

diri secara personal atau didaftarkan melalui tempat dimana bekerja sebagai

peserta Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan

Jaminan Pensiun berasal dari yang berpendidikan rendah, menengah dan tinggi

serta dari yang ekonomi rendah dan ekonomi tinggi. Program BPJS

Ketenagakerjaan tentu mengalami banyak keragaman dalam pemahaman dalam

sosialisasi program BPJS Ketenagakerjaan, untuk yang sebelumnya pernah

tergabung dalam Jamsostek mungkin tidak akan bingung lagi, hanya perlu sedikit

awam ini yang harus dilakukan ekstra sosialisasi, karena belum mengetahui atau

paham tentang program tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh I6, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya setuju dengan program BPJS Ketenakerjaan,

hanya saja kurang senang dengan pelayanan yang didapat di rumah sakit, seperti

yang dikatakan berikut ini :

“Sebenarnya setuju, hanya skema dilapangannya tidak. Menurut saya BPJS itu merepotkan, seperti yang sudah - sudah. Kalau potong gaji untuk bayar iuran tidak keberatan, tapi pelayanannya yang di BPJS itu yang saya keberatan. Suka dimentalin, dioper sana sini, proseduralnya harus seperti ini itu. Kita sudah mengikuti prosedural tetapi tetap saja. Kita ketika klaim, pada saat mengajukan BPJS diiyakan, tapi pelayanannya terasa diabaikan. Terutama dari rumah sakit pemerintah, tidak ada kamar, atau kalau tidak kita gampar (=sogok) pakai uang. Dan yang swasta pun sama, kalau sudah melihat calon pasien BPJS, ada diterima, tapi waktunya orang belum sehat, belum sembuh benar sudah disuruh pulang. Itulah kekurangannya dari segi pelayanannya BPJS Ketenagakerjaan” (Wawancara dengan Staff Keamanan Bank BJB Ruko Tangcity, 28 November 2015 pukul 10:40 WIB)

Pelayanan yang dirasa dan didapat juga belum maksimal sepenuhnya,

karena keterbatasan edukasi tenagakerja tentang program BPJS Ketenagakerjaan

mengenai aturan, regulasi maupun peraturan undang – undang seperti keterangan

lain dari I7 di bawah ini yang mengatakan :

“Untuk semua programnya saya setuju, hanya untuk jangka waktu 10 tahun Jaminan hari tua saya kurang setuju. Masalahnya kenapa harus 10 tahun, dan untuk ukuran tua itu seperti apa dan bagaimana. Harus umur berapa. Kalau saya berpikirnya BPJS Ketenagakerjaan itu buat investasi uang jangka panjang kedepannya nanti kalau di kerjaan saya ada apa kenapa. Hanya sedikit keberatan sama yang itu tadi, kenapa harus 10 tahun jangka waktunya.” (Wawancara dengan Karyawan PT. Gajah Tunggal Ika, Tbk di Kedai Weeks Jumat 27 November 2015 pukul 20:39 WIB)

Seperti yang dikatakan oleh I8 di bawah ini mengenai antusias terhadap program BPJS Ketenagakerjaan di Kota Tangerang :

“Kalau saya ini kan buruh, tidak setuju sebenarnya karena dilema, sangat keberatan malah, gaji sudah segininya pakai buat bayar segala macam, memang tidak seberapa, ini baru dipotong buat bayar BPJS, belum dipotong buat bayar yang lain lagi. Pokoknya saya tidak setuju kalau semuanya kebijakan dan peraturan di kendalikan oleh pemerintah.”

(Wawancara dengan buruh yang tidak menyebutkan tempat dimana bekerja di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang lt. 3, Jumat 27 November 2015 pukul 10:40 WIB)

Dari hasil wawancara di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan

sememtara mengenai antusiasnya terhadap program BPJS Ketenagakerjaaan yaitu

sebagian dari tenagakerja merasa terpaksa atau diharuskan untuk mengikuti

program dari pemerintah ini, walaupun tujuannya baik untuk menjamin

keselamatan pekerja dari risiko kecelakaan kerja yang terjadi nanti, juga untuk

menjamin uang pensiunan dan hari tua, hal ini dijelaskan oleh Informan lain (I9) yang mengatakan :

“Setuju tidak setuju, gimana. Ini kan program dari pemerintah, sudah ada undang – undangnya juga yang mewajib dan mengharuskan. Jadi kita terpaksa ikut yang seperti ini. Bagus programnya buat nanti pensiun atau hari tua, tetapi kan tidak selamanya kita mau jadi pekerja. Kalau yang mau buka usaha sendiri bagaimana? Nunggu pensiun dulu? Atau kalau mau ambil uangnya harus kerja terus selama 10 tahun? Itu saja, setuju tidak setuju. Pasti program ini banyak kekurangannya” (Wawancara dengan Karyawan Auto 200 Kebon Nanas, Selasa 12 Januari 2016 pukul 12:10 WIB di Kebon Nanas Tangerang).

Dari hasil wawancara di atas, peneliti dapat mengambil sebuah kesimpulan

Ketenagakerjaan dengan tidak adanya pilihan yang mengharuskan tenagakerja

wajib mengikuti program tersebut.

Dari beberapa wawancara dengan beberapa informan di atas pula, peneliti

mengambil kesimpulan setelah membandingkan hasil wawancara dengan

informan satu dengan informan lainnya mengenai keragaman perilaku program

wajib BPJS Ketenagakerjaan tersebut, bahwa semakin banyak peserta tenagakerja

yang bergabung dalam pelaksanaan program ini, semakin sulit untuk menyatukan

pemahaman mengenai aturan yang sesuai dengan tenaga kerja, karena tingkat

sosial yang berbeda, jenis pekerjaan, kebutuhan, persepsi dan pandangan yang

berbeda.

c. Tingkat Perubahan Perilaku Yang Dikehendaki

Semakin besar jumlah perubahan perilaku yang dikehendaki oleh

kebijakan, maka semakin sulit para pelaksana kebijakan memperoleh

implementasi yang berhasil. Artinya ada sejumlah masalah yang lebih dapat kita

kendalikan bila tingkat dan ruang lingkup perubahan yang dikehendaki tidaklah

terlalu besar. Dalam arti bahwa penjelasan turunan dari undang - undang baik

berupa peraturan menteri tenagakerja maupun petunjuk teknis dan petunjuk

pelaksanaannya yang sesuai dan tidak banyak perubahan akan sangat

memudahkan penyelenggara dalam melaksanakan tugasnya di lapangan.

Pemaparan hasil wawancara dengan I1 mengatakan :

“Ya, pada saat mereka bekerja dihadapkan kepada resiko kecelakaan kerja dan meninggal dunia, kemudian pada satu ketika mereka juga mengalami masa tua. Pada saat peristiwa itu datang, mereka sudah ada kepastian akan mendapat perlindungan dari jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua. Disamping itu mereka juga

mendapat manfaat tambahan seperti PPKB ( Pinjaman Perumahan Kerjasama Bank ) bagi para peserta BPJS Ketenagakerjaan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.” (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cikokol Kota Tangerang, Kamis 17 Desember 2015 pukul 10:26 WIB )

Dari informan (I2-3) yang menyebutkan bahwa tanggapan atau respon dari sebagian tenagakerja hasilnya positif, untuk yang mendaftar secara pribadi

maupun yang didaftarkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Dengan di

daftarkannya tenagakerja melalui perusahaan tempat bekerja, itu sudah termasuk

kerjasama yang baik dilakukan guna menambah angka tingkat peserta aktif BPJS

Ketenagakerjaan, seperti yang dijelaskan di bawah ini :

“Respon atau tanggapannya lumayan positif, apalagi kota Tangerang ini sedang berkembang, rekrutmen pegawai pun sedang besar, jadi pastinya itu masuk terdaftar jadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, mau yang daftar personal maupun didaftarkan dari tempatnya bekerja. Lagipula dengan ikut terdaftar di BPJSTK ini tidak rugi, malah banyak untungnya kalau menurut saya”. (Wawancara dengan Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kebon Besar Tangerang, 5 Januari 2016, pukul 10:45 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diperoleh informasi bahwa

antusias peserta dalam menyambut program dari BPJS Ketenagakerjaan ini cukup

baik. Namun dibalik itu semua masih terdapat masalah yang harus selalu

diperbaiki guna menjadikan pelayanan yang maksimal, aman dan nyaman, seperti

dipaparkan oleh narasumber I6 yang menyatakan sebagai berikut:

“Saya sebenarnya bingung, dalam artian pelayanannya tidak maksimal. apalagi yang di kelas III, kalau obat – obatan harus ada yang ditebuskan, ada yang harus dibeli karena tidak semuanya gratis. Dibilang antusias tidak juga, karena sebelumnya juga sudah pernah merasakan Jamsostek. Ya sama seperti ini, hanya nama sama ada bedanya beberapa”.

Tangerang 28 November 2015 pukul 10:40 di Bank BJB Ruko Tangcity Kota Tangerang).

Sementara informan lain yang peneliti temui untuk wawancara dengan I9

mengatakan bahwa sebenarnya dirinya tidak terlalu antusias dengan transformasi

Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan, Karena sebelumnya sudah pernah

merasakan menjadi anggota Jamsostek, seperti yang dijelaskan sebagai berikut :

“Antusias atau tidaknya program dan kebijakan dari pemerintah tentang BPJS Ketenagakerjaan sepertinya tidak terlalu, biasa saja. Dulu juga sudah pernah pakai Jamsostek, hanya sekarang saja namanya ganti jadi BPJS Ketenagakerjaan. Isinya hampir sama saja”. (Wawancara dengan Karyawan Auto 2000 Kebon Nanas Tangerang, Selasa 11 Januari 2016, pukul 12:10 WIB ).

Sedangkan dari I8 diperoleh hasil wawancara sebagai berikut yang menyatakan bahwa responnya sudah sangat baik, namun kurang didukung dengan

pelayanan maksimal yang dilakukan oleh pihak terkait lainnya, seperti yang

dijelaskan di bawah berikut :

“Responnya yang banyak saya temui dan dapat, kebanyakan dari mereka puas dengan programnya, tapi tidak cukup puas dengan pelayanan yang diterima di rumah sakit ketika mengajukan klaim atau pelayanan kesehatannya”. (Wawancara dengan buruh yang tidak menyebutkan tempat dimana bekerjadi Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, Jumat 27 November 2015 pukul 10:40 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa

antusias pekerja dalam menyambut program BPJS Ketenagakerjaan ini sangat

baik untuk beberapa kalangan dan sebagian dari tenaga kerja tapi tidak didukung

dengan pelayanan publik yang maksimal untuk melayani tenagakerja yang

Ketenagakerjaan Kota Tangerang. Namun dibalik itu semua masih terdapat

masalah yang harus selalu diperbaiki guna menjadikan pelayanan yang maksimal,

aman, nyaman dan juga evaluasi dari beberapa aturan undang – undang serta

regulasi pelaksanaan.

2. Kemampuan Kebijakan Untuk Menstruktur Proses Implementasi