SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik
Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Oleh HABIBULLAH NIM 6661102116
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembimbing I, Kandung Sapto Nugroho, M.Si., Pembimbing 2, Julianes Cadith, S.Sos., M.Si.
Latar belakang penelitian ini adalah perbedaam pelayanan dan fasilitas yang masih diterima oleh beberapa orang dari peserta BPJS Ketenagakerjaan yang ada di Kota Tangerang, juga kurangnya sosialisasi yang diterima oleh tenagakerja mengenai program, fungsi dan tujuan dari program BPJS Ketenagakerjaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi Program BPJS Ketenagakerjaan di Kota Tangerang. Teori yang digunakan adalah teori Mazmanian dan Paul Sabatier dengan indikator mudah tidaknya masalah tersebut dikendalikan dengan beberapa sub indikatornya dukungan teori dan teknologi, keragaman perilaku dan kelompok sasaran dan tingkat perubahan yang dikendalikan; kemampuan kebijakan untuk menstruktur proses implementasi dengan sub indikator kejelasan dan konsistensi tujuan, dipergunakannya teori kausal, ketepatan alokasi sumber dana, ketepatan hirarki antar lembaga pelaksana dan perekrutan pejabat pelaksana; dan variabel di luar kebijakan yang mempengaruhi proses implementasi dengan sub indikatornya kondisi sosio, ekonomi dan teknologi, dukungan publik, sikap dan sumber daya dari konstituen, dukungan pejabat yang lebih tinggi dan komitmen dan kualitas kepemimpinan dari pejabat pelaksana. Teknik pengumpulan data yang digunakan diantaranya melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini diperoleh Implementasi Program BPJS Ketenagakerjaan di Kota Tangerang Dari semua hasil wawancara dengan informan yang peneliti temui, maka peneliti menyimpulkan bahwa implementasi program BPJS Ketenagakerjaan masih belum berjalan dengan baik, karena beberapa faktor variabel yang menunjukkan belum maksimalnya dukungan di lapangan.
Sciences Faculty, Sultan Ageng Tirtayasa University. 1st Advisor, Kandung Sapto Nugroho, M.Si., 2nd
Advisor, Julianes Cadith, S.Sos., M.Si.
The background of this research are services and facilities different which is accepted by some participants of BPJS Employment in Tangerang city, also lack of socialization received by labor regarding the program, the function and the purpose of BPJS Employment program. The purpose of this research was to determine the implementation of BPJS Employment Program in Tangerang city. The theory used are Mazmanian and Paul Sabatier theory by the indicator whether the problems are easy or not to controlled by several sub indicators theory and technology, behavior variety and group target and the rate of change which is controlled; the ability of policy to structure the implementation process with sub indicators clarity and consistency purpose, the used of causal theory, the accuracy of fund allocation, the accuracy of the hierarchy between institution implementer and the recruitment of functionary implementer;, and the variable beyond the policy that influence the Implementation process by the sub indicators socioal condition, economic and technology, public support, attitude and resource from constituents, the support of higher functionary and commitand leadership qualities of functionary implementer. Data collection techniques used include observation, interviews, and documentation. From the results of this research obtained Implementation of BPJS Employment Program in Tangerang City from all the interview result with the informants. So, researcher concluded that the implementation of BPJS Employment Program still has not running well, because some variable factors that indicate support in the filed has not maximal yet.
SKRIPSI INI KUPERSEMBAHKAN UNTUK
:
Kedua Orangtua Tercinta Ayahanda H. Ir. Murtadho Salim dan Ibunda
Hj. Eli Salamah, S.PdI,
Kakak – Kakak Tersayang, Ridha Musthafa Almurtadza, S.E
dan (Alm) Fitri Ramadhana, A.Md. Keb
Assalamu’alaikum wr. wb.
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat beserta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Penyusunan skripsi yang berjudul “Implementasi Program BPJS Ketenagakerjaan di Kota Tangerang” ini penulis susun sebagai syarat dalam menempuh mata kuliah skripsi dan untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Dengan segala keterbatasan, penulisan skripsi ini tersusun atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dukungan moril maupun materiil. Terwujudnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, pengarahan serta kerendahan hati. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini terutama kepada :
Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Ibu Rahmawati, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Bapak Iman Mukhroman, M.Ikom., Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Bapak Kandung Sapto Nugroho, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
6. Ibu Listyaningsih, S.Sos,. Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
7. Bapak Riswanda, P.hD., Sekretaris Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 8. Bapak Kandung Sapto Nugroho, S.Sos., M.Si pembimbing I penulis.
Terima kasih telah meluangkan waktu, pikiran, nasihat, arahan, dan bimbingan Bapak yang sangat bermanfaat bagi penulis. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan lindungan Allah SWT.
9. Bapak Julianus Cadith, S.Sos, M.Si., pembimbing II penulis. Terima kasih telah meluangkan waktu, pikiran, nasihat, arahan, dan bimbingan Bapak yang sangat bermanfaat bagi penulis. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan lindungan Allah SWT.
11. Semua Dosen Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang membekali penulis dengan ilmu pengetahuan yang tak terhingga selama perkuliahan.
12. Bapak Efa Zuryadi, Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cikokol, dan semua yang telah membantu penulis dalam proses wawancara.
13. Bapak Achmad Faisal Santoso, Kepala Pemasaran Peserta Penerima Upah Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kebon Besar Batu Ceper, dan semua yang telah membantu penulis dalam proses wawancara.
14. Pihak Rumah Sakit Awal Bros sebagai salah satu rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan
15. Mas Harri Widiarsa, dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Banten.
16. Bapak Amri Luzarfi, S.E., Kepala Seksi Pengupahan dan Jamsostek Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang.
17. Untuk Ayahanda H. Ir. Murtadho Salim dan Mamah Hj. Eli Salamah, S.PdI., tercinta yang selalu memberikan dukungan moril dan materil, serta doa yang tak pernah terputus, senantiasa memberi semangat dan kasih sayang yang tak terukur nilainya. Terima kasih banyak dan mohon maaf
Ramadhan, A.Md. Keb yang selama hidupnya memberikan semangat dan saudara tercinta, yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasi untuk penulis.
18. Untuk sahabat-sahabat “BEGLEITER” tercinta Andri Wijaya. S.Sos, Abdul Yusuf, S.Sos, Hesti Risma Piani, S.Sos, Aat Qodrat, Ingga Andika Putra, Amalia Anjani dan Desyanita yang selalu memberikan motivasi dan canda tawa yang tak terlupakan sampai kapanpun.
19. Untuk kawan-kawan Jurusan Administrasi Negara FISIP UNTIRTA Non Reguler angkatan 2010.
20. Teman – teman Big Family JAKAMPUS PERSIJA Jakarta dan JAKAMPUS UNTIRTA #WeAreFamily yang memberikan dorongan semangat dan motivasi untuk dapat menyelesaikan pendidikan kuliah ini. 21. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, hal ini tidak lepas dari keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang penulis miliki. Segala saran dan kritik yang bersifat membangun penulis harapkan dengan senang hati, sehingga dapat bermanfaat dan berguna untuk perbaikan dan penyempurnaan di masa yang akan datang.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Tangerang, Juni 2016
Habibullah
ABSTRAK
ABSTRACT
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI vi
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR LAMPIRAN xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Identifikasi Masalah 13
1.3 Pembatasan Masalah 14
1.4 Rumusan Masalah 14
1.5 Tujuan Penelitian 14
1.6 Manfaat Penelitian 14
2.1.1 Kebijakan Publik 16
2.1.2 Tahapan Kebijakan Publik 19
2.1.3 Implementasi Kebijakan Publik 22
2.2 Model Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik 26
2.3 Pengertian BPJS 37
2.3.1 BPJS Ketenagakerjaan 38
2.3.2 Fungsi BPJS Ketenagakerjaan 39
2.3.3 Wewenang BPJS Ketenagakerjaan 39
2.4 Penelitian Terdahulu 44
2.5 Kerangka Pemikiran Penelitian 47
2.6 Asumsi Dasar 52
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian 53
3.2 Instrumen Penelitian 53
3.3 Teknik Pengumpulan Data 56
3.4 Informan Penelitian 60
3.5 Teknik Analisis Data 62
3.6 Teknik Keabsahan Data 64
3.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian 66
4.1.2 Profil BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang 72
4.1.3 Profil Rumah Sakit Awal Bros Kota Tangerang 73
4.2 Deskripsi Data 74
4.3 Pembahasan 111 4.3.1 Pembahasan Hasil Penelitian 111
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan120
5.2 Saran 123
DAFTAR PUSTAKA xvii
LAMPIRAN
Tabel 1.1 6
Tabel 1.2 6
Tabel 1.3 8
Tabel 2.1 22
Tabel 2.2 24
Tabel 2.3 28
Tabel 2.4 31
Tabel 2.5 49
Tabel 3.1 55
Tabel 3.2 58
Tabel 3.3 60
Tabel 3.4 64
Tabel 4.1 73
Tabel 4.2 88
Tabel 4.3 106
Lampiran 2 Member check
Lampiran 3 Matriks Hasil Wawancara Lampiran 4 Peraturan Perundang-undangan Lampiran 5 Daftar Bimbingan Skripsi Lampiran 6 Riwayat Hidup
1.1 Latar Belakang Masalah
Kesehatan merupakan aspek penting dari Hak Asasi Manusia, sebagaimana
disebutkan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa pada
tanggal 10 November 1948 yang menyatakan bahwa setiap hidup orang berhak atas
taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan
keluarganya. Berdasarkan Undang-Undang No. 3 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, khususnya paragraf 5 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-02/MEN/1979 tentang Pemeriksaan
Kesehatan Tenaga Kerja. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja meliputi: pemeriksaan
kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan
khusus.
Kemudian Pasal 86 ayat 1. Setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk
memperoleh perlindungan atas (a). Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Sebagai Hak
Asasi Manusia, maka kesehatan adalah hak yang melekat pada seseorang karena
kelahirannya sebagai manusia, bukan karena pemberian seseorang, dan oleh sebab itu
tentu saja tidak dapat dicabut dan dilanggar oleh siapapun. Sehat itu sendiri tidak
hanya sekedar bebas dari penyakit, tetapi adalah kondisi sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara ekonomis,
sehingga kesehatan menjadi salah satu ukuran selain tingkat pendidikan dan ekonomi,
yang menentukan mutu dari sumber daya manusia itu sendiri.
Kesehatan merupakan keadaan sehat seseorang baik jasmani maupun rohani,
sedangkan keselamatan kerja adalah keadaan dimana para pekerja terjamin
keselamatan pada saat bekerja, baik di dalam menggunakan mesin, alat kerja, proses
pengolahan tempat kerja dan lingkungan yang juga terjamin dan juga merupakan
dasar diakuinya derajat kemanusiaan. Tanpa kesehatan, seseorang menjadi tidak
sederajat secara kondisional dan seseorang tidak akan mampu memperoleh hak- hak
lainnya. Hal tersebut ditegaskan dalam Undang – undang No. 23 Tahun 1992 Pasal 1
Poin 1 tentang Kesehatan, yang menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomi.
Hak atas kesehatan ini bermakna bahwa pemerintah harus menciptakan
kondisi yang memungkinkan setiap individu untuk hidup sehat, dan ini berarti
pemerintah harus menyediakan sarana pemenuhan hak atas kesehatan yang memadai
dan terjangkau untuk semua. Dalam upaya pemenuhan hak atas kesehatan sebagai
mensejahterakan warga negara mempunyai kewajiban untuk menghormati,
melindungi, dan memenuhi hak-hak tersebut.
Aspek kesehatan ini harus dijadikan pertimbangan penting dalam setiap
kebijakan pembangunan. Salah satu bentuk implementasinya adalah kewajiban
pemerintah untuk menyediakan anggaran memadai untuk pembangunan kesehatan
yang melibatkan masyarakat luas. Pada dasarnya kesehatan dan keselamatan kerja
bagi para pegawai, buruh atau tenaga kerja lainnya sangat dibutuhkan karena
merupakan sebuah jaminan tersendiri bagi mereka jika nantinya terjadi risiko di
dalam pekerjaan yang dilakukannya. Para pekerja seperti buruh dan pegawai industri
kecil biasanya hanya bekerja mendapatkan upah atau gaji yang minim, tapi terkadang
tidak sesuai dengan risiko kecelakaan dan penyakit yang mungkin sangat bahaya
akibatnya.
Maka sesuai dengan norma hak asasi manusia, negara berkewajiban untuk
menghornati, melindungi dan memenuhi hak-hak asasi kesehatan tersebut. Kewajiban
menghormati hak-hak asasi itu, antara lain dilakukan dengan cara menciptakan
persamaan akses pemenuhan hak atas kesehatan, tindakan yang dapat menurunkan
status kesehatan masyarakat, melakukan langkah yang dapat menjamin perlindungan
kesehatan masyarakat, dan membuat kebijakan kesehatan, serta menyediakan
anggaran dan jasa pelayanan kesehatan yang layak dan memadai untuk seluruh
Kerja ( K3 ) tidak lain adalah untuk menekan serendah mungkin risiko kecelakaan
kerja dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan
produktivitas dan efisiensi.
Risiko kecelakaan kerja tersebut yang seringkali membuat pekerjanya mau
tidak mau untuk berobat dan dirawat dirumah sakit, dan memerlukan biaya yang tidak
sedikit, belum lagi dari pihak rumah sakit yang biasanya sering mempersulit karena
masalah tidak adanya dana dari calon pasien, masalah dana inilah yang menghambat
pekerja mendapat perawatan atau bahkan dari pihak rumah sakit yang menolak
menerima pasien dengan alasan kamar sudah penuh hingga proses registrasi yang
berbelit apabila tidak mampu untuk membayar registrasi tersebut, mulai dari surat
keterangan tidak mampu, surat pengantar dari RT, RW dan sebagainya.
Maka dibuatlah sebuah asuransi kesehatan jamsostek yang pada tanggal 1
Januari 2014 dilebur namanya menjadi BPJS. Berdasarkan Undang – Undang Nomor
24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, maka Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial merupakan sebuah lembaga hukum nirlaba untuk
perlindungan sosial dalam menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan
hidup yang layak sekaligus dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan
sosial di Indonesia. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Ketenagakerjaan
tua, dan jaminan kematian bagi seluruh pekerja Indonesia termasuk orang asing yang
bekerja di Indonesia paling singkat dalam kurun waktu 6 ( enam ) bulan di Indonesia.
Dengan adanya program BPJS Ketenagakerjaan dari pemerintah, maka para
pekerja tidak perlu pusing lagi apabila dirinya mengalami kecelakaan kerja dalam
menjalankan pekerjaannya, karena setiap risiko yang dialaminya nanti akan
mendapatkan asuransi dari pihak perusahaan dengan memangkas beberapa persen
dari gajinya umtuk membayar asuransi keselamatan dan kesehatan kerja atas nama
dirinya sendiri dan juga untuk meringankan beban pengeluaran pribadi dari korban
apabila risiko yang diterima di luar dari pekerjaannya sehingga korban tidak perlu
pusing lagi memikirkan biaya pengobatan.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Ketenagakerjaan Kota
Tangerang terbagi dalam 5 cabang yang tersebar di daerah Cikokol, Cimone,
Serpong, Citra Raya, dan Kebon Besar ini tidak hanya berkoordinasi dengan rumah
sakit terkait yang bekerjasama, melainkan juga melakukan koordinasi komunikasi
dengan perusahaan yang ada di Kota Tangerang, dengan kriteria tertentu. Hal ini
dilakukan agar tidak adanya kesalahpahaman diantara keduanya apabila terjadi
kecelakaan. Berdasarkan tabel 1.1 dapat di lihat jumlah kecelakaan yang terdaftar di
kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan Tangerang II Cimone bahwa pada tahun 2014
dari bulan Januari hingga per tanggal 11 Desember masih banyak terjadi kecelakaan
sedangkan bulan November mengalami penurunan jumlah kecelakaan kerja yang
hanya berjumlah 2 kasus. Untuk lebih jelasnya bisa di lihat tabel dibawah ini:
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Kerja
(sumber: BPJS Ketenagakerjaan Kantor Tangerang II Cimone, 11 Desember 2014)
Sedangkan dari data peserta aktif di Kantor cabang Untuk wilayah kantor
cabang II Cimone Kota Tangerang, bisa di lihat pada tabel 1.2 berikut dibawah ini :
Tabel 1.2 Data Peserta BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang I Cikokol dan II Cimone Kota Tangerang
November 10.665 285 0 Total sampai bulan
November 2014 80.130 4255 733
(sumber: BPJS Ketenagakerjaan Kantor II Cimone Kota Tangerang)
Dari tabel 1.2 di atas dapat terlihat bahwa jumlah tenaga kerja yang terdaftar
aktif di kantor cabang II Kota Tangerang total adalah sebanyak 4.225 pekerja dari
bulan Januari sampai dengan bulan November 2014 dan peserta non aktif sebanyak
733. Jika melihat jumlah daftar peserta aktif dengan kantor cabang Cikokol, jumlah
peserta baru yang jumlahnya meningkat sangat pesat pada bulan tertentu seperti bulan
Mei ( 10.311 ) dan November ( 10.665 ) karena banyaknya banyaknya permintaan
pasar yang membuat beberapa pabrik untuk membuka lowongan pekerjaan.
Menurut pemaparan dari Bapak Eva selaku Kepala Pemasaran Peserta
Penerima Upah BPJS Ketenagakerjaan di Kota Tangerang, Jumlah peserta non-aktif
yang mencapai ratusan ini pada tahun 2014 dapat juga dilihat pada tabel 1.2 didasari
oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah karyawannya yang tidak diperpanjang
kontrak kerja oleh perusahaan sehingga tidak melanjutkan kepesertaan, perusahaan
yang berpindah lokasi operasional yang mendorong perusahaan tersebut untuk
memindah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di kantor cabang lain yang dekat
dengan perusahaan. Jumlah tenaga kerja yang tercatat pada tahun 2012 dalam Badan
Tabel 1.3 Jumlah Tenaga Kerja di Kota Tangerang tahun 2012 Golongan umur Buruh/karyawan
15-19 38.387
20-24 98.423
25-29 110.110
30-34 133.228
35-39 74.982
40-44 72.551
45-49 40.905
50 – 54 31.395
≥55 26.857
Jumlah (thn 2012 ) 626.838
2011 538.995
(Sumber: BPS Kota Tangerang, Sakernas – Agustus 2012)
Berdasarkan tabel 1.3 di atas, maka dapat diketahui bahwa jumlah angka
tenaga kerja pada tahun 2012 yang tergolong dalam jenis kelompok umur pada umur
30 – 34 memiliki jumlah angka tenaga kerja yang paling banyak yaitu 133.228 dan
total keseluruhan meningkat sebanyak 87.843 dari tahun 2011 yang tercatat sebanyak
538.995. Dari informasi yang didapat, uang jaminan sosial tenaga kerja tersebut tidak
bisa langsung di klaim begitu saja bagi para peserta yang baru mendaftarkan dirinya,
mereka setidaknya baru bisa mengklaim jaminannya setelah jangka waktu 5 tahun
terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan, berbeda dengan peserta yang sebelumnya telah
melakukan registrasi ulang pendataan dan bisa langsung mengambil uang jaminan
sosial mereka ketika membutuhkan.
Program BPJS Ketenagakerjaan yang diberikan oleh pemerintah pun bukan
tanpa masalah, pada observasi awal yang peneliti lakukan, peneliti menemukan
beberapa masalah yang terdapat dalam program BPJS Ketenagakerjaan ini,
diantaranya sebagai berikut :
Pertama, perbedaan fasilitas dan pelayanan antar Rumah Sakit di kategori
kelas yang sama dalam penanganan kasus kecelakaan ketenagakerjaan. Perbedaan
fasilitas dan pelayanan antar rumah sakit yang dimaksud dalam hal ini adalah dari
semisal 2 rumah sakit dengan 2 kelas yang sama, namun fasilitas yang diterima
berbeda, kemudian dari pasien yang menggunakan asuransi BPJS Ketenagakerjaan
dengan yang menggunakan biaya regular dengan menggunakan uang sendiri. Bukan
hal umum lagi bahwa pasien dengan menggunakan asuransi pemerintah lebih sering
terpinggirkan pelayanannya. Perbedaan fasilitas antar rumah sakit disini yang peneliti
temui diantaranya adalah seperti AC di ruangan rawat inap yang tidak berfungsi
maksimal, tombol darurat untuk pasien yang berada di ranjangnya juga pun tidak
dapat difungsikan setiap saat, kemudian untuk fasilitas tambahan untuk keluarga
menunggu atau menjenguk pasien seperti kursi, bantal atau selimut. Untuk
pelayanannya sendiri yang peneliti temui di lapangan ketika observasi, biasanya
pasien, contohnya seperti pasien yang menggunakan BPJS Ketenagakerjaan yang
biasa dan yang menggunakan uang pelicin untuk minta dicarikan kamar untuk pasien,
karena biasanya juga rumah sakit selalu memberi alasan bahwa kamar sedang penuh.
Hal seperti ini sempat terjadi di sebuah Rumah Sakit Awal Bross Tangerang yang
berlokasi di jl. Mh. Thamrin no. 3 Kebon Nanas Cikokol Kota Tangerang oleh
pengguna asuransi BPJS Ketenagakerjaan yang peneliti mintai keterangan
mengungkapkan bahwa dirinya pernah beberapa kali menggunakan fasilitas dari
program tersebut namun mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang seadanya dari
pihak rumah sakit dan pegawainya (suster atau perawat) yang bertugas disana
(wawancara singkat di RS Awal Bros dengan Ihsan Kurnia sebagai salah satu
peserta BPJS Kesejahteraan). Secara keseluruhan, hampir semua rumah sakit dan
klinik yang bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan adalah dari pihak swasta,
sedangkan dari rumah sakit pemerintah sendiri seperti RSUD Kota Tangerang masih
belum bekerjasama dan belum menerima pasien BPJS Ketenagakerjaan sejak
bergulirnya program BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014.
Permasalahan kedua, yang peneliti lihat dan temui adalah kurangnya
sosialisasi yang gencar dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan dan perusahaan yang
dituju, hal ini bukan tanpa alasan karena biasanya untuk melakukan sosialisasi, BPJS
Ketenagakerjaan dan perusahaan harus menyesuaikan waktu yang tepat untuk bisa
sosialisasi di tempat tersebut, BPJS Ketenagakerjaan tersebut harus mencocokkan
waktu dengan perusahaan yang akan diberi sosialisasi mengenai program BPJS
Ketenagakerjaan. Kondisi seperti ini yang membuat banyaknya tenagakerja kurang
pemahaman sehingga tidak mengetahui apa dan bagaimana cara klaim dengan benar.
Seperti seorang yang sedang mengantri di kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota
Tangerang II, pegawai tersebut mengungkapkan bahwa dirinya masih bingung
dengan bagaimana cara mengklaim asuransi tersebut, karena yang pegawai tersebut
tahu pihak perusahaan membagi gaji perbulannya untuk membayarkan asuransi
tersebut. Bagi karyawan sebelumnya yang sudah pernah menggunakan jasa asuransi
Jamsostek mungkin sudah mengetahui bagaimana teknis cara melakukan klaim
asuransinya, namun yang jadi permasalahan disini adalah karyawan atau pegawai
yang baru pertama kali mendaftarkan atau di daftarkan diri sebagai peserta BPJS
Ketenagakerjaan. Hal tersebut juga peneliti temui ketika sedang hendak meminta data
di kantor BPJS ketenagakerjaan Kota Tangerang ada penelpon yang bertanya tentang
bagaimana cara mendaftarkan dirinya sendiri secara online, dan juga banyaknya
mention dari akun social media di twitter @BPJSKinfo yang kebanyakannya masih
meminta penjelasan singkat tentang bagaimana cara mendaftar, membayar asuransi
ataupun mengecek saldo asuransi mereka (pengamatan melalui akun twitter
Permasalahan ketiga, lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pelaksana
program BPJS Ketenagakerjaan. Pengawasan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit
yang pernah peneliti temui, pihak rumah sakit hanya memberikan angket untuk
melihat seberapa banyak kepuasan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan
disana. Dewan pengawas yang dilakukan oleh BPJS Ketengakerjaan sendiri
berjumlah 7 orang yang diantaranya 2 orang unsur pemerintah, 2 orang unsur pekerja,
2 orang unsur pemberi kerja dan 1 orang tokoh masyarakat. Fungsi dari dewan
pengawasan tersebut adalah melakukan pengawasan atas kebijakan, melakukan
pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan dan memberi saran, nasihat dan
Beberapa rekapitulasi data keluhan pasien BPJS Ketenagakerjaan Propinsi
Banten ( sumber : Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Propinsi Banten )
1. Syarat perusahaan untuk terdaftar BPJS Ketenagakerjaan ( misalkan
perusahaan tersebut tidak ada pegawai tetap ).
2. Kamar perawatan selalu dikatakan sudah penuh dan penanganan pasien
masih lambat.
3. Untuk melakukan tindakan operasi , pasien diharuskan mengantri minimal
1 bulan.
4. Terbatasnya loket pembuatan pada Kantor Perwakilan BPJS
Ketenagakerjaan untuk pendaftar mandiri dengan perusahaan.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis tertarik untuk
mengetahui “Implementasi Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Ketenagakerjaan di Kota Tangerang”. 1.2 Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah yang peneliti temukan dari latar belakang dan
penelitian awal ke lapangan adalah sebagai berikut :
1. Perbedaan fasilitas dan pelayanan Rumah Sakit dalam penanganan kasus
2. Kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan
mengenai cara ataupun proses klaim asuransi.
3. Lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan Kota
Tangerang, Dinas Tenagakerja Kota Tangerang dan Rumah Sakit yang
bekerjasama.
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian dapat lebih terarah, maka penelitian akan dibatasi yakni
berfokus pada bagaimana implementasi yang dilakukan pada Program Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Ketenagakerjaan di Kota Tangerang.
1.4 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang muncul adalah bagaimana Implementasi
Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Ketenagakerjaan di Kota
Tangerang?
1.5Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang penulis lakukan secara umum adalah untuk
mengetahui Implementasi program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS )
Ketenagaakerjaan di Kota Tangerang.
Penelitian yang diharapkan mampu memberikan manfaat kepada semua pihak,
terutama bagi yang mempunyai kepentingan langsung terhadap permasalahan yang
akan dikaji dalam penelitian ini. Adapun manfaat penelitian ini meliputi:
1.6.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis terkait dengan kontribusi tertentu dalam penyelenggaraan
penelitian terhadap perkembangan teori dan ilmu pengetahuan dunia akademik.
1.Sumbangsih pemikiran terhadap pengembangan ilmu pengetahuan terutama
pada konsep dan teori – teori kebijakan publik.
2. Memberikan pemahaman tentang Implementasi Program BPJS
Ketenagakerjaan di Kota Tangerang.
1.6.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis berkaitan dengan kontribusi praktis yang diberikan dalam
penyelenggaraan penelitian terhadap objek penelitian.
1. Memberikan informasi dan bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan dan evaluasi.
2.Bagi kalangan pelaksana kebijakan dan masyarakat umum, sebagai bahan
evaluasi Program BPJS Ketenagakerjaan di Kota Tangerang dan sebagai
bahan acuan serta dapat memperbaiki dalam program-program yang akan
ASUMSI DASAR
2.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka adalah dasar berpijak dari sisi kajian teori dan kerangka
konseptual. Tinjauan pustaka dibuat dengan cukup lengkap agar seluruh bagian dari
karya ilmiah terdukung oleh konsep teoritis. Jadi dapat disimpulkan tinjauan pustaka
yaitu peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait serta membuktikan kesesuaian
dalam penelitian.
2.1.1 Kebijakan Publik
Dimensi paling inti dari suatu kebijakan publik adalah proses kebijakan. Di
sini kebijakan publik dilihat sebagai sebuah proses kegiatan atau sebagai satu
kesatuan sistem yang bergerak dari satu bagian ke bagian lain secara
berkesinambungan, saling menentukan dan saling membentuk. Kebijakan publik
merupakan hal yang sangat vital, karena menyangkut kepentingan warga masyarakat.
Sebelum di implementasikan, suatu kebijakan dapat juga mengalami kemunduran
karena gagal mencapai maksud dan tujuan.
Menurut Agustino (2008:8) beberapa karakteristik utama dari kebijakan oleh pemerintah dalam mengatur perdagangan, mengontrol inflasi atau menawarkan perumahan rakyat;
4. Kebijakan publik dapat berbentuk positif maupun negatif. Secara positif, kebijakan melibatkan beberapa tindakan pemerintah yang jelas dalam menangani suatu permasalahan; secara negatif, kebijakan publik dapat melibatkan suatu keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan suatu tindakan atau tidak mengerjakan apapun, padahal dalam konteks tersebut keterlibatan pemerintah amat diperlukan;
5. Kebijakan publik, paling tidak secara positif didasarkan pada hukum dan merupakan tindakan yang bersifat memerintah.
Sedangkan menurut Hogwood dan Gunn dalam Suharto (2005:4) menyatakan
bahwa kebijakan publik adalah “seperangkat tindakan pemerintah yang didesain
untuk mencapai hasil-hasil tertentu”. Mengacu pada definisi yang dikemukakan oleh
Hogwood dan Gunn, kebijakan publik mencakup beberapa hal yaitu:
1. Bidang kegiatan sebagai ekspresi dari tujuan umum pernyataan-pernyataan yang ingin dicapai
2. Proposal tertentu yang mencerminkan keputusan-keputusan pemerintah yang dipilih
3. Kewenangan formal seperti undang-undang atau peraturan pemerintah 4. Program, yakni seperangkat kegiatan yang mencakup rencana penggunaan
sumber daya lembaga dan strategi pencapaian tujuan
sebagai produk dari kegiatan tertentu.
Menurut Peter Bridgman dan Glyn Davis dalam bukunya yang berjudul The
Australian Policy Handbook2nd Edition (2000) adalah banyaknya definisi kebijakan publik menjadikan kita sulit untuk menentukan secara tepat sebuah definisi kebijakan
publik. Oleh karenanya, untuk memudahkan pemahaman kita terhadap kebijakan
publik, kita dapat meninjaunya dari lima karakteristik kebijakan publik, yaitu:
1. Memiliki tujuan yang didesain untuk dicapai atau tujuan yang dipahami
2. Melibatkan keputusan beserta dengan kosekuensinya
3. Terstruktur dan tersusun menurut aturan tertentu
4. Pada hakikatnya adalah politis
5. Bersifat dinamis
Selain kelima karakteristik di atas, Bridgman dan Davis mengemukakan pula
bahwa Kebijakan Publik dapat ditinjau dari tiga dimensi yakni (1) as authoritative
choice; (2) as hypotesis; dan (3) as objective (Wicaksono 2006;65).
Kebijakan publik adalah jalan mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan.
Jika cita-cita bangsa Indonesia adalah mencapai masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila ( Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan
Keadilan ) dan UUD 1945 ( Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
( jalan, jembatan, dan sebagainya ) dan sarana ( mobil, bahan bakar, dan sebagainya )
untuk mencapai “tempat tujuan” tersebut ( Nugroho, 2012;170-171 ).
Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik
adalah serangkaian yang ditetapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh
pemerintah yang mempunyai tujuan atau orientasi pada tujuan tertentu demi
kepentingan seluruh masyarakat, dan selain itu juga dapat disimpulkan bahwa
kebijakan publik adalah sebuah atau suatu kebijakan yang dibuat oleh pemegang
kekuasaan publik dengan sejumlah rangkaian kegiatan yang diputuskan oleh
pemerintah yang terdiri dari berbagai tujuan dan kegiatan yang pada dasarnya
ditujukan kepada publik luas dengan tujuan tertentu, atau juga kesimpulan lainnya
adalah pola ketergantunagn yang kompleks dari pilihan – pilihan kolektif yang saling
bergantung, termasuk keputusan – keputusan untuk tidak bertindak, yang dibuat oleh
badan ataupun kantor pemerintah.
2.1.2 Tahap-Tahap Kebijakan Publik
Proses pembuatan kebijakan publik merupakan proses yang kompleks karena
melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Oleh karena itu
beberapa ahli politik yang menaruh minat untuk mengkaji kebijakan publik membagi
William Dunn sebagaimana dikutip dalam Winarno (2014:35) tahap-tahap kebijakan
publik adalah sebagai berikut:
Penyusunan Agenda
Formulasi Kebijakan
Adopsi Kebijakan
Implementasi Kebijakan
Evaluasi Kebijakan
Sumber : William Dunn dalam Winarno (2014:35)
1. Tahap Penyusunan Agenda
Para pejabat menempatkan masalah dalam agenda publik. Sebelumnya
agenda kebijakan para perumus kebijakan. Pada tahap ini suatu masalah
penyelesaian suatu masalah berdasarkan prioritas yang sudah dirumuskan.
2. Tahap Formulasi Kebijakan
Masalah-masalah yang telah masuk agenda kebijakan kemudian dibahas
oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk
kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah
tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan (policy
alternatives/policy options) yang ada.
3. Tahap Adopsi Kebijakan
Dari sekian banyaknya alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh perumus
kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut
diadopsi dengan dukungan mayoritas legislatif.
4. Tahap Implementasi Kebijakan
Keputusan peraturan atau program kebijakan yang telah diambil sebagai
alternatif pemecahan masalah harus di implementasikan, yakni
pemerintah di tingkat bawah hingga mencapai hasil yang sudah
dirumuskan.
5. Tahap Evaluasi Kebijakan
Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau
dievaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang telah dibuat atau
dievaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah
mampu memecahkan masalah.
2.1.3 Implementasi Kebijakan Publik
Implementasi kebijakan merupakan suatu proses dalam kebijakan publik yang
mengarah pada pelaksanaan kebijakan. Dalam praktiknya implementasi kebijakan
merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan tidak jarang bermuatan politis
dengan adanya intervensi dari berbagai kepentingan. Untuk melukiskan kerumitan
dalam proses implementasi tersebut dapat dilihat pada pernyataan yang dikemukakan
oleh Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier dalam bukunya yang berjudul
Implementation and Public Policy dalam Agustino (2008:139) mendefinisikan sebagai pelaksanaan keputusan kebisaksanaan dasar, biasanya dalam bentuk
undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan
eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut
atau sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau
mengatur proses implementasinya.
Sedangkan menurut Van Meter dan Van Horn (1975) dalam (Agustino,
2008:139) mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok
pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah
digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.
Dari dua definisi diatas dapat diketahui bahwa implementasi kebijakan
menyangkut tiga hal, yaitu (1) adanya tujuan atau sasaran kebijakan; (2) adanya
aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan; (3) adanya hasil kebijakan. Keberhasilan
suatu implementasi kebijakan dapat diukur atau dilihat dari proses dan pencapaian
tujuan hasil akhir, yaitu tercapai atau tidaknya tujuan-tujuan yang ingin diraih.
Implementasi kebijakan menurut Lester dan Stewart Jr. (2000:104) dalam
Agustino (2008:139) adalah implementasi sebagai suatu proses dan suatu hasil
(output). Keberhasilan suatu implementasi kebijakan dapat diukur atau dilihat dari proses dan pencapaian tujuan yang ingin diraih.
Van Metter Van Horn mendefinisikan Implementasi Kebijakan sebagai berikut:
”Policy implementation encompasses those actions by public and private individuals (and groups) that are directed at the achievement of goals and objectives set forth in prior policy decisions”.
tujuan - tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan (Agustino, 2006:153).
Sementara itu, Grindle merumuskan definisi yang berbeda dari beberapa
definisi-definisi diatas, beliau memandang implementasi sebagai berikut:
”Pengukuran keberhasilan implementasi dapat dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan apakah pelaksanaan program sesuai dengan yang telah ditentukan yaitu melihat pada actionprogram dari individual project dan yang kedua apakah tujuan program tersebut tercapai” ( Agustino, 2006:153).
Implementasi kebijakan adalah hal yang paling berat, karena di sini masalah-masalah
yang tidak dijumpai dalam konsep, muncul di lapangan. Selain itu, ancaman utama
adalah konsistensi implementasi. Proses perencanaan selalu mengalami dinamika
dalam pelaksanaanya sehingga mempengaruhi perubahan target capaian kinerja.
Ripley dan Franklin dalam Winarno (2007:145) berpendapat bahwa:
Implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan (benefit) atau suatu jenis keluaran yang nyata (tangible output). Implementasi mencakup:
1. Badan-badan pelaksana yang ditugasi oleh undang-undang dengan arahan arahan konkret, regulasi serta rencana-rencana dan desain program. 3. Badan pelaksana harus mengngorganisasikan kegiatan-kegiatan mereka
dengan menciptakan unit-unit birokrasi dan rutinitas untuk mengatasi beban capaian program.
Implementasi kebijakan sendiri merupakan hal yang dianggap sangat sulit
didalam konsepnya ketika kebijakan tersebut dibuat. Dari definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa implementasi kebijakan adalah suatu proses pelaksanaan
kebijakan setelah kebijakan itu dirumuskan oleh pemegang keputusan hingga
mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan / atau sasaran kebijakan itu sendiri.
Dalam Nugroho (2009:618) memberi makna implementasi kebijakan sebagai cara
agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Ditambahkan pula, bahwa untuk mengimplementasikan kebijakan publik, ada dua
pilihan langkah yang ada, yaitu: langsung mengimplementasikan dalam bentuk
program atau melalui formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik
tesebut. Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
Rangkaian implementasi kebijakan, dari gambar di atas, dapat dilihat dengan jelas
yaitu mulai dari program, ke proyek, kegiatan dan pemanfaatan. Model tersebut
mengadaptasi mekanisme yang lazim dalam manajemen, khususnya manajemen
sektor publik. Kebijakan publik dalam bentuk Undang-undang atau Perda adalah jenis
kebijakan publik yang memerlukan kebijakan publik penjelas atau yang sering
diistilahkan sebagai peraturan pelaksanaan. Kebijakan publik yang bisa langsung
operasional antara lain Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, Keputusan Menteri,
Keputusan Kepala Daerah, Keputusan Kepala Dinas, dan lain-lain.
2.2.2 Model Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik 2.2.2.1 Implementasi Sistem Rasional (Top-Down)
Model Top-Down disebut juga sebagai model yang mendominasi awal
perkembangan studi implementasi kebijakan, walaupun dikemudian hari diantara
pengikut model pendekatan ini terdapat perbedaan-perbedaan sehingga menelurkan
pendekatan bottom up. Inti pendekatan model top down secara sederhana dapat
dimengerti sebagai, sejauhmana tindakan para pelaksana sesuai dengan prosedur serta
tujuan yang telah digariskan oleh para pembuat kebijakan di tingkat pusat. Beberapa
ahli yang mengembangkan model implementasi kebijakan dengan perspektif top
2.1.2.2 Implementasi Kebijakan Publik Model Donald Van Metter dan Carl Van Horn
Implementasi kebijakan berjalan secara linear dari kebijakan publik,
implementor dan kinerja kebijakan publik. Van Metter dan Van Horn menawarkan
suatu model dasar yang dilukiskan dalam gambar 2.2 model yang mereka tawarkan
membentuk kaitan antara kebijakan dan kinerja yakni tidak hanya menentukan
hubungan-hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Mengenai
kepentingan variabel-variabel tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Standar dan Tujuan Kebijakan
Menurut van Metter van Horn, identifikasi indikator-indikator kinerja merupakan
tahap yang krusial dalam analisis implementasi kebijakan. Indikator-indikator
kinerja ini menilai sejauhmana ukuran-ukuran dasar atau standar dan tujuan
Gambar 2.2 Model Proses Implementasi Kebijakan Donald Van Meter dan Carl Van Horn
(Sumber: Winarno, Kebijakan Publik Teori dan Proses. 2007. Hal. 157)
2. Sumber-sumber Kebijakan
Sumber-sumber yang dimaksud mencakup dana atau perangsang lain yang
mendorong dan memperlancar implementasi yang efektif dalam praktik
implementasi kebijakan, kita seringkali mendengar para pejabat maupun pelaksana
mengatakan bahwa kita tidak mempunyai cukup dana untuk membiayai
program-program yang telah direncanakan. Dengan demikian, dalam beberapa kasus besar
kecilnya dana akan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan implementasi
kebijakan.
3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksana
Implementasi akan berjalan efektif bila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan dipahami
oleh individu-individu yang bertanggung jawab dalam kinerja kebijakan.
4. Karakteristik badan-badan pelaksana
Unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam
mengimplementasikan kebijakan:
1) Kompetensi dan ukuran staf suatu badan;
2) Tingkat pengawasan hierarkis terhadap keputusan-keputusan sub-unit dan
proses dalam badan-badan pelaksana;
4) Vitalitas suatu organisasi;
5) Tingkat komunikasi ’terbuka’ yang didefinisikan sebagai jaringan kerja
komunikasi horosontal dan vertikal secara bebas serta tingkat kebebasan secara
relatif tinggi dalam komunikasi dengan individu-individu di luar organisasi;
6) Kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan pembuat keputusan atau
pelaksana keputusan.
5. Kondisi ekonomi, sosial dan politik
Kondisi ekonomi, sosial dan politik merupakan variabel selanjutnya yang di
identifikasi oleh Van Metter dan Van Horn. Sekalipun dampak dari faktor - faktor
ini kecil namun mungkin mempunyai efek yang mendalam terhadap pencapaian
badan-badan pelaksana.
6. Kecenderungan Pelaksana (Implementors)
Para pelaksana yang mempunyai pilihan-pilihan negatif mungkin secara terbuka
akan menimbulkan sikap menentang tujuan-tujuan program ini diakibatkan karena
tujuan-tujuan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya mungkin bertentangan
dengan sistem nilai pribadi para pelaksana, kesetiaan ekstraorganisasi, perasaan
akan kepentingan diri sendiri atau karena hubungan yang ada dan yang lebih
disenangi.
Implementasi merupakan proses yang dinamis. Sejauh mana ukuran-ukuran dasar
dan tujuan-tujuan kebijakan di transmisikan kepada para pelaksana dengan jelas,
tepat, konsisten dan dalam cara yang tepat pada waktunya.
8. Masalah Kapasitas
Bagaimana masalah-masalah kapabilitas dapat menghambat implementasi ini
dihambat oleh faktor-faktor seperti staf yang kurang terlatih dan terlalu banyak
pekerjaan, informasi yang tidak memadai, sumber-sumber keuangan atau
hambatan waktu yang tidak memungkinkan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka perubahan, kontrol dan kepatuhan
bertindak merupakan konsep-konsep penting dalam prosedur-prosedur implementasi.
Beberapa variabel yang mempengaruhi kebijakan publiknya adalah sebagai berikut:
1. Aktifitas implementasi dan komunikasi antar organisasi
2. Karakteristik agen pelaksana/implementor
3. Kondisi ekonomi, sosial dan politik
4. Kecenderungan (dispotition) pelaksana/implementor
Menurut Edward III (1980:81) dalam Winarno (2007), salah satu pendekatan
studi implementasi adalah harus dimulai dengan pernyataan abstrak, seperti yang
dikemukakan sebagai berikut, yaitu:
1. Apakah yang menjadi prasyarat bagi implementasi kebijakan?
2. Apakah yang menjadi faktor penghambat utama bagi keberhasilan implementasi
kebijakan?
Gambar 2.3 Dampak Langsung dan Tidak Langsung pada Implementasi (Sumber: Winarno, Kebijakan Publik Teori dan Proses, 2007 Hal 208)
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Edward III mengusulkan 4 (empat)
variabel yang sangat mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu:
a) Communication (komunikasi)
Komunikasi merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas. Untuk menghindari terjadinya distorsi informasi yang disampaikan atasan ke bawahan, perlu adanya ketetapan waktu dalam penyampaian informasi, harus jelas informasi yang disampaikan, serta KOMUNIKASI
SUMBER – SUMBER
KECENDERUNGAN – KECENDERUNGAN
STRUKTUR ORGANISASI
memerlukan ketelitian dan konsistensi dalam menyampaikan informasi. Menurut Edward dalam Winarno (2012:178) terdapat tiga indikator yang dapat dipakai atau digunakan dalam mengukur keberhasilan variabel komunikasi tersebut, yaitu: transmisi, kejelasan, konsistensi.
b) Resourcess (sumber-sumber)
Sumber-sumber dalam implementasi kebijakan memegang peranan penting, karena implementasi kebijakan tidak akan efektif bilamana sumber-sumber pendukungnya tidak tersedia. Yang termasuk sumber-sumber dimaksud adalah:
a. Staf yang relatif cukup jumlahnya dan mempunyai keahlian dan keterampilan untuk melaksanakan kebijakan
b. Informasi yang memadai atau relevan untuk keperluan implementasi
c. Dukungan dari lingkungan untuk mensukseskan implementasi kebijakan atau fasilitas.
d. Wewenang yang dimiliki implementor untuk melaksanakan kebijakan. c) Dispotition or attitude (sikap)
Berkaitan dengan bagaimana sikap implementor dalam mendukung suatu implementasi kebijakan. Seringkali para implementor bersedia untuk mengambil insiatif dalam rangka mencapai kebijakan, tergantung dengan sejauh mana wewenang yang dimilikinya. Hal yang perlu dicermati pada variabel ini adalah: pengangkatan birokrat dan insentif.
d) Bureaucratic structure (struktur birokrasi)
Suatu kebijakan seringkali melibatkan beberapa lembaga atau organisasi dalam proses implementasinya, sehingga diperlukan koordinasi yang efektif antar lembaga-lembaga terkait dalam mendukung keberhasilan implementasi. Salah satunya adalah adanya Standar operasional Prosedur (SOP), fragmentasi atau penyebaran tanggung jawab suatu kebijakan kepada beberapa badan yang berbeda sehingga memerlukan koordinasi (Winarno, 2012: 209).
Dari pernyataan diatas, maka hal yang dapat disimpulkan adalah komunikasi,
sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi saling berhubungan satu sama lainnya.
Dapat dilihat pada gambar 2.3 bahwa keempat unsur tersebut saling berhubungan dan
timbal balik terbukti dengan tanda panah yang digambarkan. Maka satu sama lain
unsur merupakan satu kesatuan yang utuh, jika satu memiliki kecenderungan maka
2.1.2.4 Implementasi Kebijakan Publik Model Mazmanian dan Paul Sabatier Model Mazmanian dan Sabatier dalam Agustino (2006:144) yang
berpendapat bahwa peran penting dari implementasi kebijakan publik adalah
kemampuannya dalam mengidentifikaskan variabel-variabel yang mempengaruhi
tercapainya tujuan formal pada keseluruhan proses implementasi. Dan
variabel-variabel yang dimaksud dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu:
1. Mudah tidaknya masalah tersebut dikendalikan, meliputi: a. Dukungan Teori dan Teknologi
b. Keberagaman Perilaku Kelompok Sasaran
Semakin beragam perilaku yang diatur, maka asumsinya semakin beragam pelayanan yang diberikan, sehingga semakin sulit untuk membuat
Para pembuat kebijakan mendayagunakan wewenang yang dimilikinya untuk menstruktur proses implementasi secara tepat melalui beberapa cara:
a. Kejelasan dan Konsistensi Tujuan b. Dipergunakannya Teori Kausal c. Ketetapan Alokasi Sumberdana
d. Keterpaduan Hirarki Antarlembaga Pelaksana e. Perekrutan Pejabat Pelaksana
3. Variabel-variabel di luar kebijakan yang Mempengaruhi Proses Implementasi a. Kondisi sosial ekonomi dan teknologi
b. Dukungan publik
c. Sikap dan sumberdaya dari konstituen.
2.2.5 Implementasi Kebijakan Publik Model Merilee S. Grindle
Pada implementasi ini, menurut Grindle dalam Wibawa (1994:)
implementasi kebijakan ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya.
Ide dasarnya adalah bahwa setelah kebijakan ditransformasikan, barulah
implementasi kebijakan dilakukan. Keberhasilannya ditentukan oleh derajat
implementability dari kebijakan tersebut. Isi kebijakan, mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Kepentingan yang terpengaruh oleh kebijakan
b. Jenis manfaat yang akan dihasilkan
c. Derajat perubahan yang diinginkan
d. Kedudukan pembuat kebijakan
e. Pelaksana program
f. Sumber daya yang dikerahkan
Dari isi kebijakan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa lebih kepada
masalah internal yang dilakukan. Sementara itu, konteks implementasinya adalah:
a. Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat
b. Karakteristik lembaga dan penguasa
c. Kepatuhan dan daya tanggap
Didalam konteks kebijakan, ini termasuk pada bidang lingkungan luar yang
kebijakan publik lain menurut Grindle dalam Agustino (2008:154) dikenal dengan
Implementation as A Political and Administrative Process. Menurut Grindle ada dua variabel yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik, yakni bahwa
keberhasilan implementasi suatu kebijakan publik dapat diukur dari proses pencapain
akhir (outcomes), yaitu tercapai atau tidaknya tujuan yang ingin diraih, yang mana
pengukuran keberhasilannya dapat dilihat dari dua hal :
1) Dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan apakah pelaksanaan kebijakan sesuai dengan yang ditentukan (design) dengan menunjuk pada aksi
kebijakannya.
2) Apakah tujuan kebijakan tercapai, yang mana dimensi ini diukur dengan dua
faktor, yaitu :
a. Impak atau efeknya pada masyarakat secara individu dan kelompok.
b. Tingkat perubahan yang terjadi serta penerimaan kelompok sasaran dan
perubahan yang terjadi
Keberhasilan sebuah implementasi kebijakan publik juga menurut Grindle
amat ditentukan oleh tingkat implementasi kebijakan itu sendiri, yang terdiri atas
Conten of Policy dan Context of Policy :
1) Content of Policy (isi kebijakan)
a. Interest Affected (kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi)
c. Extent of change Envision (derajat perubahan yang ingin dicapai)
d. Site of Descision Making (letak pengambilan keputusan) e. Program Implementer (pelaksana program)
f.Resources Committed (sumber-sumber daya yang digunakan
2) Context of Policy (lingkungan kebijakan)
a. Power, Interest and Strategi of Actor Involved (kekuasaan kepentingan-kepentingan dan strategi dari aktor yang terlibat).
b. Intitution and Regime Characteristic (karakteristik atau rezim yang berkuasa.
c. Compliance and Responsiveness ( tingkat kepatuhan dan adanya respon dari pelaksana )
2.2.3. Implementasi Kebijakan Bottom Up
Model implementasi dengan pendekatan bottom up muncul sebagai kritik
terhadap model pendekatan rasional (top down). Model pendekatan bottom up
menekankan pada fakta bahwa implementasi di lapangan memberikan keleluasaan
dalam penerapan kebijakan. Menurut Smith dalam Islamy (2001:11), implementasi
a. Idealized policy, yaitu pola interaksi yang digagas oleh perumus kebijakan dengan
tujuan untuk mendorong, mempengaruhi dan merangsang target group untuk
melaksanakannya.
b. Target groups, yaitu bagian dari policy stake holders yang diharapkan dapat mengadopsi pola-pola interaksi sebagaimana yang diharapkan oleh perumus
kebijakan. Karena kelompok ini menjadi sasaran dari implementasi kebijakan,
maka diharapkan dapat menyesuaikan pola-pola perilakukan dengan kebijakan
yang telah dirumuskan.
c. Implementing organization, yaitu badan-badan pelaksana yang bertanggung jawab
dalam implementasi kebijakan.
d. Environmental factors, yaitu unsur-unsur di dalam lingkungan yang mempengaruhi
implementasi kebijakan seperti aspek budaya, sosial, ekonomi dan politik.
2.3. Pengertian BPJS
2.3.1 BPJS Ketenagakerjaan
PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal
1 Januari 2014. BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan
kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, dan program jaminan kematian yang
selama ini diselenggarakan oleh PT Jamsostek (Persero), termasuk menerima peserta
ketentuan Pasal 29 sampai dengan Pasal 38 dan Pasal 43 sampai dengan Pasal 46
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456), paling lambat 1 Juli 2015. Pada
saat mulai beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
64, Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3468) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Menurut Undang – Undang Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggaraan Jaminan Sosial, maka BPJS merupakan sebuah lembaga hukum
nirlaba untuk perlindugan sosial dalam menjamin seluruh rakyat agar dapat
memenuhi kebutuhan hidup yang layak sekaligus dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial di Indonesia.
2.3.2 Fungsi BPJS Ketenagakerjaan
Fungsi dari BPJS Ketenagakerjaan menurut Undang – Undang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial berfungsi menyelenggarakan 3 program yang
diantaranya yaitu, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan jaminan hari tua.
Menurut UU SJSN program jaminan kecelekaan kerja diselenggarakan oleh nasional
pelayanan kesehatan dan santunan uang tunai apabila seorang pekerja mengalami
kecelakaan kerja atau menderita penyakit akibat kerja.
Selanjutnya program jaminan kecelakaan kerja diselenggarakan secara
nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, dengan tujuan untuk
menjamin agar peserta uang tunai apabila mengalami cacat total tetap, atau
meninggal dunia.
Kemudian program jaminan hari tua diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, untuk mempertahankan
derajat hidup yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang penghasilannya
karena memasuki usia pensiun.
Sedangkan program jaminan kematian diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib dengan tujuan untuk
memberikan santunan kematian yang dibayarkan kepada ahli waris yang meninggal
dunia.
2.3.3 Tugas BPJS Ketenagakerjaan
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas, BPJS bertugas
untuk :
a. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;
b. Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;
d. Mengelola dana jaminan sosial untuk kepentingan peserta;
e. Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial; dan
f. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial
kepada peserta dan masyarakat.
Dengan kata lain tugas dari BPJS Ketengakerjaan meliputi pendaftaran
kepesertaan dan pengelolaan data kepesertaan, pemungutan, pengumpulan iuran
termasuk menerima bantuan iuran dari pemerintah, pengelolaan dana jaminan sosial
dan pembayaran manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan dan tugas
penyampaian informasi dalam rangka sosialisasi program jaminan sosial dan
keterbukaan informasi.
2.3.3 Wewenang BPJS Ketenagakerjaan
Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud diatas, BPJS
Ketenagakerjaan berwenang untuk :
a. Menagih pembayaran iuran;
b. Menempatkan dan jaminan sosial untuk investasi jangka pendek dan
jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, sulvbilitas,
kehati-hatian, keamanan dana dan hasil yang memadai;
c. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan
pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan
d. Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengeni besar
pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu kepada standar tarif yang
ditetapkan oleh pemerintah;
e. Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
f. Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang
tidak memenuhi kewajibannya;
g. Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai
ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam memenuhi
kewajiban lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan; dan
h. Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan
jaminan sosial.
Kewenangan menagih pembayaran iuran dalam arti meminta pembayaran
dalam hal terjadi penunggakan, kemacetan, atau kekurangan pembayaran,
kewenangan melakukan pengawasan dan kewenangan mengenai sanksi administratif
yang diberikan kepada BPJS Ketenagakerjaan memperkuat kedudukan BPJS sebagai
badan hukum publik.
Berdasarkan ketentuan pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2011, ruang lingkup program BPJS Ketenagakerjaan meliputi :
a. Jaminan kecelakaan kerja;
c. Jaminan kematian.
Jaminan kerja yang diatur dalam pasal 8 sampai dengan pasal 11 Undang-undang
No.3 Tahun 1992. Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima
jaminan Kecelakaan Kerja. Termasuk tenaga kerja dalam Jaminan Kecelakaan Kerja
ialah:
a. Magang dan murid yang bekerja pada perusahaan, baik yang menerima upah
maupun tidak;
b. Mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah
perusahaan;
c. Narapidana yang dipekerjakan di perusahaan,
Pengertian kecelakaan kerja berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (6)
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992, yaitu kecelakaan yang terjadi berhubungan dengan
hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian
pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju
tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Dari ketentuan itu dapat dijabarkan bahwa ruang lingkup JKK meliputi
kecelakaan dan sakit akibat kerja. Kecelakaan kerja apabila mengalami
kecelakaan pada saat perjalanan menuju tempat kerja, di tempat kerja, atau
pekerja menjalankan pekerjaan relative dalam jangka waktu yang lama. Saat
terjadinya dapat dilihat dalam penjelasan dibawah ini:
Kecelakaan yang terjadi saat hubungan kerja antara lain adalah :
1. Pada waktu kerja
a. Yang termasuk dalam kecelakaan pada waktu kerja ialah kecelakaan yan
terjadi dalam perjalanan dari rumah ke tempat kerja dan pulan dari tempat
kerja ke umah melalui jalan yang ditempuh dan wajar.
b. Kecelakaan yang terjadi pada waktu melakukan pekerjaan sesuai dengan
tugas, kewajiban dan tanggung jawab sehari – hari yang diberikan oleh
perusahaan tempat kerja maupun diluar tempat kerja selama waktu kerja.
c. Kecelakaan yang terjadi diluar jam kerja tetapi masih dalam waktu kerja
seperti jam istirahat sebagaimana diatur dalam undang – undang.
d. Kecelakaan yang terjadi dalam tugas di luar kota / negeri, yaitu selama
perjalanan dari rumah/tempat kerja menuju tempat dan perjalanan pulang
kembali sesuai dengan surat tugas yang diberikan dan selama menjalankan
tugas/pekerjaan ditempat tujuan. Semua kecelakaan kerja yang terjadi di
tempat penugasan / pendidikan merupakan kecelakaan kerja, diluar itu
termasuk kecelakaan kerja hanya terbatas selama yang bersangkutan
berangkat dari tempat penginapan / pemondokan menuju tempat kerja
terjadi di luar pengertian tersebut ada hubungannya dengan tugas dan
tanggung jawab yang bersangkutan.
e. Kecelakaan yang terjadi pada waktu melakukan kerja lembur yang harus
dibuktikan dengan surat perintah lembur.
f. Perkelahian di tempat kerja dapat dianggap kecelakaan kerja.
2. Di luar waktu kerja
a. Kecelakaan yang terjadi pada waktu melaksanakan kegiatan olahraga yang
harus dibuktikan dengan surat tugas dari perusahaan.
b. Kecelakaan yang terjadi pada waktu mengikuti pendidikan yang
merupakan tugas dari perusahaan dan harus dibuktikan dengan surat tugas.
c. Kecelakaan yang terjadi di sebuah perkemahan yang berada di lokas kerja
serta yang bersangkutan bebas dari setiap urusan pekerjaan.
3. Meninggal mendadak
Suatu kasus meinggal mendadak dapat dikategorikan akibat kecelakaan kerja
dalam hubungan kerja akibat tenaga kerja karena suatu alasan, baik di lokasi
kerja dalam perjalanan ke dan dari lokasi kerja, tanpa sempat mengalami
rawat inap atau mengalami rawat inap, tetapi tidak melebihi 24 jam terhitung
sejak pada jam ditangani dokter/para medis, langsung meninggal dunia.