DI SUMATERA TIMUR
4.2 Bangsawan Revolusioner
4.2.1 Munculnya Tuanku Sulaiman Shaiful Alam Shah
Tuanku Sulaiman Shaiful Alam Shah dilahirkan pada saat – saat keadaan yang sangat memprihatinkan. Masih balita Tuanku Sulaiman dihadapkan dalam suatu keadaan dari kebijakan pemerintah Belanda dengan dikeluarkanya beslit Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 1 / 1865 tertanggal 25 Agustus 1865. Bersamaan dengan dikeluarkanya beslit Gubernur Jenderal Hindia Belanda maka dikirimkalah suatu kekuatan balatentara Hindia Belanda yang sangat besar pada waktu itu untuk menaklukan kerajaan Serdang dan kerajaan Asahan. Eksepedisi militer ini dikenal dengan “Expeditie Tegen Serdang en Asahan” yang terdiri dari pasukan infantri , marinir , artileri , kesehatan dan lain – lain yang diangkat oleh tujuh kapal perang. Kapal – kapal perang ini dilengkapi dengan 49 pucuk meriam besar itu mengangkut 1000 orang tentara. Setelah menyerang dan mendarat di Asahan sebagian besar balatentara Belanda itu menembaki dan mendarat di Serdang pada 30 September 1865. Bersamaan dengan dua tahun genap usia Tuanku Sulaiman terjadi perlawan pejuang – pejuang Serdang untuk membatalkan ekspedisi militer ini namun perlawanan – perlawanan yang dilakukan oleh pejuang – pejuang Serdang tersebut dapat dipatahkan dan bersamaan dengan kegagalan perlawanan ini berakibat dengan ditangkapnya
Sultan Basyaruddin Syaiful Alam Shah beserta Raja Muda Mattakir dan Temenggong Tan Sidik. Sebagai hukuman atas pembangkangan kerajaan Serdang ini maka wilayah Padang , Bedagai , Percut , dan Denai diambil alih oleh Belanda dan selanjutnya diserahkan serta masuk dalam wilayah dari kerajaan Deli. Kekalahan kerajaan Serdang atas ekspedisi militer Belanda ini mematahkan semangat Sultan Basyaruddin sehingga Sultan ini sering mengucilkan diri dan banyak menyerahkan administrasi pemerintahan kepada Raja Muda Tan Aman yang akhirnya membuat Serdang dalam keadaan semakin hari semakin lemah.
Tuanku Sulaiman dilahirkan pada 3 Oktober 1862 dari seorang ibu yang berasal dari Pantai Cermin bernama Encik Rata. Encik Rata ini merupakan ibu orang kebanyakan yang bertempat di istana Bongak ( Rantau Panjang ). Pada 7 Muharram 1279 ( 21 Febuari 1881 ) Sultan Basyaruddin mangkat. Bersamaan dengan meninggalnya Sultan Basyaruddin ini maka para Orang Besar dan rakyat Serdang menambalkan Tuanku Sulaiman Shaiful Alam Shah sebagai Sultan Serdang ke – 5. Karena usia beliau masih dibawah umur , maka sebagai walinya diangkat Tengku Mustafa. Pengangkatan Sultan ke – 5 Serdang ini tidak diakui oleh pemerintah Hindia Belanda akibatnya pada tahun 1882 Belanda memaksakan agar sebagian dari wilayah Sinembah diserahkan kepada Deli dan daerah Sungai Tuan dimasukkan juga ke Deli. Sebagai imbalanya Deli menyerahkan kembali Negeri Denai kepada Serdang. Setelah itu semua selesai meskipun dengan protes keras dari Serdang barulah Belanda mengakui Tuangku Sulaiman Shaiful sebagai Sultan Serdang pada 29 Januari 1887.
Dalam tahun 1891 Konteril Serdang ; H.C.H. Douwes Dekker memindahkan ibukota Serdang ke Lubuk Pakam karena Rantau Panjang selalu digenangi oleh air bah. Sultan Sulaiman tidak mau mengikuti ajakan agar harus pindah ke Lubuk Pakam sebaliknya beliau membuat keraton dan istana di Perbaungan ( keraton Kota Galuh ) dalam tahun ini juga. Ibukota ini belau bangun bersamaan dengan juga dibangunya kedai , pasar ikan , dan pertokoan sehingga terbangunlah sebuah kota kecil Simpang Tiga Perbaungan. Kota inilah yang dijadikan beliau sebagai tandingan atas ibukota kerajaan Serdang yang dibangun oleh pemerintah Belanda melalui pejabat Kontelirnya. Dalam tahun 1891 ini juga beliau menikahi Permaisuri Tengku Darwisyah , cucu dari pahlawan nasional ; Sultan Bagagarsyah Pagaruyung pada 21 Maret 1891 tetapi tidak mempunyai anak. Beliau kemudian menikah lagi dengan Encik Kurnia br. Purba dan mempunyai anak seperti Tengku Puteri Nazry dan Tengku Putera Mahkota Rajib Anwar. Kemudian Tuanku Sulaiman menikah kembali dengan Encik Raya br. Purba dan mempunyai anak seperti Tengku Zahry ( perempuan ) dan Tengku Shahrial. Yang terahir Tuanku Sulaiman kembali menikahi Encik Hj. Zaharah dan mempunyai anak seperti Tengku Zainabah ( perempuan ) , Tengku Abunawar , Tengku Lukcman Sinar , dan Tengku Abukasim.
Dalam tahun 1898 dengan penuh upacara istiadat dilantiklah Tengku Darwisyah sebagai permaisuri Serdang. Atas permintaan Hindia Belanda agar beliau menghadap Ratu Belanda di Nederland dengan dingin ditolaknya ; sebaliknya beliau beserta permaisuri dan ajudan ( guru silat beliau yang bernama Tuan Shekh Batumandi ) dan dua orang pelayan beliau berangkat ke Tiongkok dan kemudian mendarat di Yokohama
Jepang serta ingin menghadap kaisar Jepang. Tetapi karena Serdang adalah Jajahan Belanda , maka pertemuan resmi tidak diterima tetapi secara incognito beliau bisa menghadap dan meminta bantuan Jepang untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi Serdang , sebagai tanda persahabatan Tenno Heika Meiji itu memberikan gambar dengan tandatangannya. Di jaman pemerintahan Kaisar Meiji inilah Jepang maju dalam teknologi sehingga disebut “Meiji Restorasi”. Sepulang lawatan beliau dari Jepang , Tuanku Sulaiman telah membawa dua orang ahli irigasi dari Jepang untuk membangun proyek irigasi persawahan di Bendang dengan tujuan agar hasil persawahan dari proyek irigasi ini diberikan secara cuma – cuma kepada rakyat Serdang. Begitu juga industri pekerjaan tangan kepandai putri berkembang didik oleh Tuan Ohori. Sultan Sulaiman juga mendirikan “Bank Batak” di Serdang hulu untuk memajukan pertanian di daerah tersebut. Sultan Sulaiman juga mendirikan badan pendidikan pribumi “Syairussulaiman” di Perbaungan. Salah seorang lulusannya ialah Haji Abdurrahman , Syihab asal Melayu Galang yang kemudian hari sebagai tokoh pendiri “Al Jamiatul Washiyah”. Sultan Sulaiman juga terkenal sebagai satu – satunya Sultan di Sumatera Timur yang mengayomi kesenian rakyat. Di Serdang terkenal dengan kesenian silat , zapin , ronggeng , makyong bangsawan dan lain – lain yang diambil dari kalangan rakyat dan untuk menghibur rakyat dengan cuma – cuma.
Hubungan dengan Konteril Belanda di Serdang selalu tegang karena beliau tidak mau mengikuti apa saja yang dikehendaki oleh Belanda. “Sultan Serdang adalah seorang yang aneh , ia hanya memeintingkan kepentingan sendiri dan melihat setiap pegawai pemerintah Hindia Belanda sebagai musuh bebuyutannya. Terutama
mengenai politik kontrak yang baru ( 1907 ) sangat menyakitkan hatinya terhadap kita. Selalu curiga kepada kita dan setiap tindakan mengenai sesuatu diperhitungkannya keburukan yang terdapat dibelakang layar. Jika kita menemuinya untuk mempersoalkan sesuatu hal , tidak pernah ia mau memberikan keputusan , selalu mengulur – ulur waktu dan jikapun setelah berunding panjang akhirnya kita mendapat jawaban. Janganlah dengan demikian kita akan merasa pasti , bahwa ia akan bekerjasama ; kita akan terkejut nanti , bahwa setelah beberapa waktu kemudian ternyata bahwa baginda Sulaiman berbuat seolah – olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun dan tidak pernah terdapat persesuaian paham. Saya memperingatkan dengan sangat kepada pengganti – pengganti saya bahwa mereka harus berhati – hati di Serdang , jika kita dengan senang hati dapat bekerja di Deli , sebaliknya kita musti selalu berada didalam ketakutan , bahwa setiap saat bisa terjadi sesuatu yang aneh. Kejadian yang unik pernah menimpa diri Konteril kemudian menjadi Residen J. Ballot……” Jelasnya dalam tempo 20 tahun tidak kurang dari 15 orang kontelir Belanda di Serdang yang harus ditukar karena hubungan yang dingin dan tegang diantara mereka dengan Sultan Sulaiman , bahkan ada diantara mereka yang ditampar oleh Sultan karena menghina rakyat pribumi. Dalam rangka anti kolonialisme ini , Sultan Sulaiman dipaksa untuk menandatangani “Politik Kontrak” yang diadakan antara pemerintah Hindia Belanda dengan raja – raja di Indonesia di tahun 1907. Kalau kerajaan yang 16 kerajaan lainnya di Indonesia sudah menandatanganinya tetapi hanya Serdang sendiri yang belum karena Sultan Sulaiman berkali – kali mengulur waktu dan menuntut berbagai perombakan pasal – pasal dalam kontrak itu yang mengurangi
hak pribumi. Akhirnya karena tekanan ia terpaksa menandatangainya juga tetapi tidak dalam pakaian upacara tetapi beseragam putih sebagai tanda berkabung. Dalam pidatonya beliau mengatakan “Bahwa pemerintah Hindia Belanda mengikat leher raja – raja dengan rantai emas”. Melalui beberapa pengawalnya orang Jepang , Sultan Sulaiman mengadakan kontak dengan pemerintah Jepang agar membantu Serdang mengusir penjajahan Belanda dari Indonesia karena Jepang bangsa Asia juga yang sudah berhasil menandingi orang Barat , sedang Turki sudah lemah dan dianggap “the sickman of Europ”. Entah bagaimana keahlian intel Belanda ; Duta Besar Belanda di Tokyo mengirim berita kepada Gubernur Jenderal di Betawi mengenai hubungan erat antara Serdang dengan Jepang ini. Atas laporan rahasia dari Dubes Belanda di Tokyo tertanggal 14 Maret 1907 itu PID ( polisi rahasia Hindia Belanda ) mulai memata – matai setiap gerakan Sultan Sulaiman. Agar lebih mudah maka ditempatkanlah salah seorang kerabat Sultan Sulaiman sebagai inspektur PID di Medan yang antara lain bertugas melaporkan setiap tidak – tanduk Sultan Sulaiman. Dia dipakai Belanda karena keluarga mereka pernah menuntut tahta Sultan karena merasa moyang mereka ada hak akan menjadi Raja Serdang diakhir abad ke – 18. Untuk meningkatkan peran serta masyarakat Serdang dalam ekonomi , maka Sultan Sulaiman membuka perkebunan kelapa di pantai Labu dan dalam tahun ini juga Sultan Sulaiman juga membuka pula perkebunan karet dan memperkerjakan sebagai administraturnya orang Swis ( konsul Swis di Medan ).
Dalam tahun 1911 – 1915 bertugaslah di Lubuk Pakam Dr. R. Sutomo pendiri “Budi Utomo” selaku dokter kerajaan Serdang. Sultan Sulaiman berhubungan baik
dengannya dan selalu bertukar pikiran mengenai tekanan pihak kolonial Belanda terhadap pribumi Indonesia.
Dalam tahun 1919 Sultan Sulaiman , atas permintaan dari dan bekerjasama dengan Dr. R. Sutomo ; Sultan Sulaiman menampung buruh perkebunan ( kuli kontrak ) orang Jawa yang habis kontraknya atau lari dari kebun Belanda. Kepada mereka ini diberikan 100 buah tanah kosong di Kotosan ( kecamatan Galang sekarang ) dan mereka dijadikan rakyat oleh Sultan Serdang. Begitu juga kepada suku – suku pendatang dari luar Sumatera Timur seperti dari Sumatera Barat , Tapanuli Selatan , Kalimantan , dan lain – lain diberikan oleh Sultan Sulaiman tanah pertanian setelah mereka membaur dengan penduduk asli Melayu dan memperoleh hak tanah penunggu ( jaluran ). Sultan Sulaiman memperjuangkan agar rakyat kampung disekitar konsensi perkebunan tembakau dibenarkan mengerjakan tanah untuk tanaman padi didalam areal yang sedang dibelukarkan setiap tahun. Tetapi baik pihak perkebunan asing maupun pihak ambtenar Belanda selalu saja mempersulit pelaksanaan hak itu dengan alasan yang dicari – cari , bahkan tidak henti – hentinya mereka menganjurkan agar peraturan adat itu dihapuskan saja. Untuk menghilangkan suara – suara negatif ini Sultan Sulaiman dan Orang – orang Besarnya lalu membuat kodifikasi yang pertama mengenai “hak adat rakyat penunggu” itu sehingga peraturan tersebut dijadikan pedoman dan unifikasi untuk seluruh kerajaan lainnya. Dalam peraturan ini dibuka juga kesempatan kepada rakyat pendatang yang sudah bersemenda dan memenuhi syarat tertentu untuk memperoleh hak jaluran. Berbagai cara ambtenar Belanda menyabot pelaksanaan peraturan ini yang antara lain dengan gagasan agar hak mengerjakan tanah penunggu
itu diganti saja dengan sejumlah uang atau sejumlah 300 gantang padi per jaluran , sehingga menjadi rakyat penunggu sebagai penyewa atau rentenir saja. Hal ini ditentang oleh Sultan Sulaiman.
Dalam tahun 1921 , PID mendapat laporan dari Dubes Belanda di Tokyo bahwa pemerintah Jepang bermaksud akan mendrop sejata ke Aceh dan ke Serdang. Setelah diselidiki ternyata Sultan Sulaiman hanya mengimpor dari Jepang mesin dan baling – baling pesawat terbang Jepang untuk dipakai disalah satu kapal beliau , dan itu dipasang oleh seorang mekanik bangsa Jepang yang disebut “Tuan Muda” yang membuka workshop di Perbaungan.
Untuk kesejahteraan kerajaan Serdang dan berkembangnya penduduk Serdang , Sultan Sulaiman menjalankan politik pintu terbuka yang lembut terhadap suku bangsa Indonesia lainnya yang datang dari luar Sumatera Timur. Bukan saja untuk memperoleh kemudahan tempat tinggi buat berniaga tetapi juga kemudahan memperoleh hak tanah tidak berbeda dengan penduduk asli ( Melayu Karo dan Timur ) di Serdang. Banyak orang pendatang seperti Mandailing , Jawa , dan Minangkabau yang diangkat menjadi penghulu – penghulu kampung dan pegawai – pegawai kerajaan. Bahkan di Serdanglah satu – satunya kerajaan Melayu dimana seorang pendatang ; Jaksa Kupang Nasution diangkat menjadi salah salah satu Orang Besar kerajaan Serdang yaitu Wakil Sultan wilayah Batak Timur.
Sultan Sulaiman menentang politik Belanda untuk menghapuskan institusi Orang Besar , dimana Belanda bermaksud menciptakan hanya seorang raja tunggal disetiap kerajaan sehingga tidak perlu berkonsultasi dan meminta keizinan dari para Orang
Besarnya setiap kali yang dirasa Belanda sering mengganjal kelancaran kebijaksanaan politiknya. Cara Belanda ialah perlahan – lahan bila ada Orang Besar yang meninggal dunia , kedudukannya tidaklah lagi digantikan. Diangkat juga puteranya tetapi hanya sebagai “kepala distrik” yaitu pamongpraja kerajaan saja. Lama kelamaan raja tinggal sendiri dan kehilangan kekuatan akarnya kebawah dan dengan mudah dapat dipahat Belanda untuk mengantisipasi sebagai ganti kehilangan itu nanti. Sultan Sulaiman memajukan gagsan ditahun 1925 kepada pemerintah Hindia Belanda agar dapat dibentuk Serdang suatu “Landshapsraad” ( Dewan perwakilan kerajaan ) dengan tokoh – tokoh mansyarakat dari semua kalangan di Serdang sebagai anggota dari dewan ini untuk membantu Sultan memerintah dalam negeri ini. Karena ide demokrasi ini membahayakan dari kolonialisme Belanda maka Belanda tidak menanggapi secara serius , sehingga membuat Sultan Sulaiman menyampaikanya kepada Mangaraja Soangkupon yang merupakan wakil Sumatera Timur di Volksraad waktu itu. Sultan Sulaiman mengharapkan agar masalah ini dibawa kedalam sidang tahun 1928 dan untuk menjadi perhatian Gubernur Jenderal. Untuk mengatasi hal ini Sultan Sulaiman memakai sistem komunikasi langsung atau tatap muka dengan rakyat jelata. Apabila tidak dipenuhi oleh acara sidang kerapatan atau acara resmi lainnya maka baginda duduk ditangga depan istana sejak pagi untuk menerima semua rakyat dari segenap lapisan berbincang dengan santai dari hati ke hati. Sambil mencicipi langsung bawaan ( oleh – oleh ) dari rakyat itu yang berupa buah – buahan atau penganan baginda berbahas soal kesulitan yang dihadapi ataupun baginda akan menanyakan pikiran mereka mengenai suatu rencana pembangunan atau akan menanyakan kebijaksanaan
baru yang akan dilaksanakan didalam wilayah mereka. Tidak jarang suatu keputusan yang sudah diambil dalam rapat Orang Besar bisa berubah kembali karena baginda mendengar adanya pandangan positif dari rakyat biasa itu. Disamping itu baginda hampir tiap minggu turun kedaerah pesisir dan kampung – kampung ataupun ke pesanggerahan baginda di daerah hulu yaitu Gunung Paribuan sehingga dapat bertemu muka dengan pembesar – pembesar rendahan dan rakyat jelata. Perkembangan politik dan kejadian didalam maupun diluar negeri baik melalui pers maupun radio diikuti baginda setelah menerima ulasan dari keponakannya , Tengku Syahril.
Dalam tahun 1940 Nederland diduduki oleh Nazi Jerman. Pemerintah Hindia Belanda mengerahkan pengumpulan dana di Indonesia untuk membantu pemerintah Belanda dalam pengunsian di London dan untuk membantu Sekutu dalam membeli pesawat terbang “Spitfire” fighter untuk membantu Sekutu melawan Jerman. Dikalangan orang Belanda dan raja – raja pribumi kita lihat berbagai bazar pengumpulan untuk “Spitfire Fonds” dan berbagai pernyataan mengutuk Nazi Jerman dan doa selamat untuk raja Belanda. Sementara itu bayangan bahaya perang dengan Jepang dalam waktu tidak lama lagi sudah dapat dipastikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena Sultan Sulaiman tidak ada menyatakan rasa simpati sama sekali terhadap bencana yang di derita oleh pemerintah Belanda itu dan mengingat hubungan baik antara Sultan Sulaiman dengan Jepang , maka pada akhir tahun 1940 itu tentara KNIL Belanda dan Benteng Medan mengadakan latihan perang – perangan disekitar kraton Kota Galuh Perbaungan. Biasanya dalam basa – basi diplomatik ini merupakan peringatan terahir kepada raja – raja pribumi yang membangkang terhadap Belanda.
Pada 11 Maret 1942 ( malam ) , pasukan “Imperial Guards” dari Jenderal Kono mendarat di pantai Perupuk Tanjung Tiram ( Batubara ) dan dengan mengendaraan sepeda sebagian cabang melewati kota Perbaungan menuju Medan. Sultan Sulaiman sudah menyuruh menaikan bendera merah – putih menyatakan kebahagiaan hatinya bahwa penjajahan Belanda sudah diusir dari bumi Indonesia. Karena takut akan diperkosa oleh stooffroep Jepang , maka banyaklah penduduk di kota Perbaungan yang mengungsikan anak – anak gadisnya kedalam kraton Kota Galuh. Beberapa opsir tentara Jepang yang lewat lalu memasuki istana Sultan dan menemui Sultan Sulaiman duduk diatas singgasana dan dibelakang dinding tergantung lukisan Tenno Heika Meiji , Anak Dewa dalam agama Shinto Jepang. Dengan sangat terperanjat mereka semua tunduk “Sheikerei”. Sejak itu hubungan antara Sultan Serdang dengan pemerintah militer Jepang ( Shu Chokan Nakashima ) di Sumatera Timur sangat baik. Kepada Sultan Serdang diberi BK no.1 sebagai penghormatan dan dijanjikan bahwa tidak ada rakyat Serdang diambil sebagai romusha ( pekerja paksa ) dan akan dilindungi Serdang sebagai daerah swsembada beras dengan syarat hanya melengkapi suplai beras buat batalion Jepang yang ada di Melati. Sultan Sulaiman juga memenuhi permintaan Jepang agar puteranya Tengku Syahrial ; cucunya Tengku Ziwar dan Tengku Nurdin agar memasuki pendidikan militer Jepang. Ketika “serikat tani Indonesia” di wilayah Deli Dusun yang terdiri dari kalangan suku Karo yang dimotori oleh GERINDO ( gerakan rakyat Indonesia ) pimpinan Yacob Siregar cs mengadakan pemberontakan dan membunuh beberapa pamongpraja kerajaan Deli dan kerajaan Langkat pada 3 Juni 1942 , maka gerakan “goro – goro arun” itu dapat ditumpas oleh tentara Jepang
dikepalai kapten Inouye dengan memenggal beberapa orang pemuka gerakan itu. Tetapi gerakan aron ini tidak berhasil di Serdang karena hubungan yang baik antara petani di Serdang Hulu dengan pihak kerajaan Serdang. Begitu juga dengan gerakan bawah tanah Sekutu menentang Jepang ( Treffers Organisation ) dapat terbongkar ; dimana salah seorang kerabat Sultan Sulaiman , Tengku Rahmat juga menjadi salah satu daripada seorang pemimpinnya yang kemudian dihukum pancung oleh Jepang ; Sultan Sulaiman tidak terbukti turut terlibat dalam gerakan bawah tanah itu meskipun seorang spion Jepang Raden Saleh Gunung sudah diseludupkan tinggal dalam lingkuangan keraton Kota Galuh. Ketika pemerintah militer Jepang di Sumatera Timur mulai mengorganisir kaum muslimin untuk mempropagandakan mendukung “Perang Asia Timur Raya” dengan menenmpatkan ketua “Muhammadiyah” Sumatera Timur ; Hamka menjadi ketua “Persatoean Oelama Soematera Timoer” ( POEST ) , maka Sultan Sulaiman membentuk pula bersama – sama raja – raja Melayu lainnya suatu organisasi “Persatoean Oelama Keradjaan - Keradjaan Soematera Timoer” ( POKST ) yang diketuai oleh Tengku Yafzham ( ketua Majelis Syar’i kerajaan Serdang ) yang menghalangi tuan Usugane , kepala jawatan agama militer Jepang ( syumuhan ) untuk mengadu domba umat Islam.
Ketika balatentara ke – 25 Jepang di Bukittinggi pada 10 Oktober 1944 mendirikan “Tyo Sangi In” ( semacam DPR sementara Sumatera ) maka diutus dari residensi Sumatera Timur Tengku Putera Mahkota Serdang Rajib Anwar , Dr. Pringadi , Adinegoro , Raja Kaliamsyah Sinaga , dan Shu Hua Chang.
Pada 6 Oktober 1945 , Gubernur Sumatera NRI ; Mr. T. M. Hasan mengumumkan didalam rapat raksasa di Lapangan Merdeka Medan lalu resmi terbentuknya negara Republik Indonesia dan terbentuknya provinsi NRI di Sumatera dimana ia sebagai Gubernurnya. Sementara itu Sultan Serdang sudah menyuruh dikabarkannya bendera merah putih di istana , kantor – kantor , rumah – rumah dan mengajurkan para pemuda bangsawan agar memasuki barisan bersenjata rakyat. Pada 4 Desember 1945 Sultan Sulaiman mengirimkan telegram kepada presiden Soekarno melalui Gubernur T. M. Hasan yang isinya : “harap sampaikan kehadapan Presiden Negara Republik Indonesia bahwa Kerajaan Serdang dengan seluruh daerah taklukannya hanya mengakui kekuasaan pemerintahan republik Indonesia dan segala kekuatannya akan mendukung Republik”. Pernyataan sikap tegas Sultan Sulaiman itu segera dikutip dokumen Belanda dengan catatan lengkap telegram itu sebagai berikut : “De Sultan van Serdang zond begint December een telegram aan Teku Mohd. Hasan : - Verzoeke den President der Negara Republik Indonesia temelden , dat het Sultanaat Serdang en al zijn onderhoongheden alleen het gezag van de Indonesische Republiek erkennen en met alle krachten de Republiek zullen steunen”. Kemudian dibuat catatan oleh Belanda bahwa Sultan Serdang tidak dapat diharapkan membantu Belanda ( “Aanggaande den Sultan van Serdang bestaat die zekerheid geenszin” ). Dengan demikian disamping Sultan Syarif Kasim dari Siak , maka Sultan Sulaiman dari Serdang sudah berani mempertaruhkan nasib dan tahtanya dalam siatusi yang kritis tidak menentu dengan tegas berpihak kepada perjuangan bangsa Indonesia dan Republik Indonesia meski situasi di Sumatera Timur ketika itu masih seperti telur diujung tanduk.
Atas prakarsa Gubernur T. M. Hasan karena melihat situasi yang panas dikobarkan oleh pihak kiri ( PKI , PESINDO , dan antek – anteknya ) , maka dikumpulkanlah raja – raja Sumatera Timur di Gedong Suka Mulia Medan pada 3 Febuari 1946. Dalam pertemuan itu Sultan Langkat atas nama seluruh raja – raja membacakan ikrar mematuhi pemerintahan RI dan akan melaksanakan demokratisasi dalam tubuh kerajaan sesuai tuntutan revolusi. Panitia penyusun undang – undang itu yaitu Mr. Mahadi ( seketaris Sultan Deli ) , Tengku Mr. Bahriun ( kotapinang ) dan Wan Umaruddin Baros ( Orang Besar Serdang ) sudah sempat menyerahkan konsep undang – undang itu kepada wakil gubernur Dr. Amir tetapi tidak pernah digubris sampai kemudian meletusnya apa yang disebut revolusi sosial di Sumatera Timur.
Memasuki tahun 1946 beberapa jabatan kunci di Sumatera Timur telah berada ditangan kaum komunis. Markas Agung , sentral posisi dari beberapa kesatuan bersenjata organisasi massa berada ditangan Nathar Zainuddin ( biro khusus PKI ) bersama dengan gembong komunis lainnya seperti Bustami , Xarim M.S ( ketua PKI Sumatera ) dan Yunus Nasution serta Sarwono ( ketua PESINDO mantelnya organisasi PKI ) , telah duduk pula Mr. Luat Siregar ( ketua PKI Sumatera Timur ) dan lalu mengadakan gerakan pembersihan dalam tubuh KNI dengan mengeser tokoh – tokoh yang beraliran moderat / liberal dan bangsawan. Dalam bulan Febuari 1946 ditingkatkan suhu penggayangan terhadap “kaum feodal” ( diartikan sebagai kaum bangsawan ) dengan tuduhan bahwa raja – raja dan para bangwasan itu “pro Belanda”