• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP IMAM HASAN

4. Musayyab bin Najbah dan Sulaiman bin Shurd

Keduanya terkenal dengan kesetiaan dan keikhlasan pada Ahlulbait. Keduanya merasa kecewa dengan perdamaian dan segera menemui Imam Hasan. Dalam keadaan bersedih, keduanya berkata, ―Kami tidak habis pikir terhadap Anda! Anda membaiat Muawiyah sementara bersama Anda ada sekitar 40 ribu tentara Kufah, kecuali penduduk Bashrah dan Hijaz.‖ Imam berkata kepada Musayyab, ―Apa yang engkau inginkan?‖ ―Demi Allah, aku ingin Anda kembali (berperang—penerj.) karena ia (Muawiyah) adalah pengingkar janji.‖ Imam Hasan menjawab, ―Sesungguhnya tidak

252 Syarh Nahj al-Balâghah, Ibnu Abi Hadid, 16615.

141

ada kebaikan dalam pengkhianatan meskipun aku ingin melakukan apa yang aku lakukan.‖254

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Hasan menjawab, ―Wahai Musayyab! Sesungguhnya jika aku ingin—dengan apa yang aku lakukan—dunia maka Muawiyah tak akan mampu menahan diri ketika bertemu denganku dan tidak akan tahan memerangiku. Tetapi yang aku inginkan adalah kebaikan kalian dan melindungi kalian.‖255

Menuju Yatsrib

Imam Hasan tinggal di Kufah selama beberapa hari. Kemudian beliau berniat untuk segera meninggalkan Irak dan bertolak ke kota kakeknya. Beliau mengemukakan niat dan tekadnya kepada para sahabatnya. Ketika hal itu tersebar, Musayyab bin Nakhbah Fajari dan Thibyan bin Amarah Tamimi menemui beliau untuk menyampaikan ucapan perpisahan. Beliau memalingkan muka dari keduanya sambil berkata, ―Segala puji bagi Allah yang menguasai urusan-Nya. Jika seluruh makhluk bersatu untuk mencegah sesuatu yang sudah ada niscaya mereka tak akan mampu… demi Allah, tak ada kesulitan bagi kami atas masalah ini sekalipun kalian bergabung atau bercerai berai. Adapun terhadap kami, mereka akan meminta kecintaan kami dengan sekuat tenaga.‖

Musayyab dan Thibyan meminta beliau tetap tinggal di Kufah. Namun Imam Hasan hanya menjawab, ―Tak ada jalan lain.‖256

Ketika detik-detik keberangkatan beliau dan keluarganya ke kota kakeknya hampir tiba, penduduk Kufah berbondong-bondong mengiringinya untuk mengucapkan selamat jalan. Mereka semua dalam keadaan bersedih dan menyesal.251

Rombongan Imam Hasan pun mulai bergerak. Namun, sebelum terlalu jauh dari Kufah, kakitangan Muawiyah mengetahuinya dan berusaha mengembalikan beliau ke Kufah untuk memerangi sekelompok Khawarij. Tetapi Imam Hasan menolak untuk kembali dan menulis surat kepada Muawiyah, ―Jika engkau memaksaku memerangi seseorang dari ahli kiblat, aku akan mulai memerangimu.

254 Manâqib ibn Syahr Asywab, 4635, cet., Qum.

255

Hayât al-Imâm al-Hasan, 26211.

256 Ibid., 26285-6.

150

Sungguh aku meninggalkanmu untuk kebaikan umat dan mencegah mengalirnya darah mereka.‖258

Kafilah Imam Hasan sampai di Yatsrib. Saat penduduk Yatsrib mengetahui kedatangan Imam, mereka bergegas menyambutnya. Ya, saat itu datanglah kebaikan kepada mereka. (Selama ini) kebaikan dan kasih sayang telah berhenti mengalir ke rumah-rumah mereka. Kebaikan kembali pulang ke kampung halaman mereka yang terputus semenjak hijrahnya Amirul Mukminin dari kota mereka.

Imam Hasan bersama saudara perempuan dan keluarganya pulang kembali ke Yatsrib. Beliau tinggal di sana selama sepuluh tahun. Beliau memenuhi atmosfer Yatsrib dengan kasih sayang, kesabaran, dan kecintaan. Kami akan menjelaskan secara ringkas sebagian aktivitas beliau di sana.

Imam Dijadikan Rujukan (Marjaiyah) Masalah Agama dan Ilmu

Perujukan ini tercermin dari pendidikan beliau terhadap sekumpulan penuntut ilmu dan penentangannya terhadap segala bentuk penyelewengan agama yang mengarah pada penghapusan syariat, seperti perlawanan beliau terhadap konspirasi penghapusan Sunah Nabi saw yang mulia yang direncanakan Muawiyah bin Abi Sufyan melalui aktivitas pemalsuan hadis dan pencegahan penulisan hadis nabawi.

Sekolah dan Kegiatan Ilmiah

Imam membangun sekolahnya yang besar di Yatsrib. Beliau dengan serius berupaya menyebarkan peradaban Islam di tengah masyarakat Muslim. Para ulama besar, muhadis, dan perawi agung bergabung dalam sekolahnya. Melalui mereka, ditemukan sarana terbaik untuk menegakkan risalah Islam yang reformis dan abadi, yang mencerahkan pikiran masyarakat, serta membangunkannya dari tidur kelalaian dan kemandekan. Para sejarahwan menyebutkan sebagian murid dan ahli hadis terkemuka dari sekolah beliau itu, di antaranya:

Anaknya, Hasan Mutsanna, Musayyab bin Najbah, Suwaid bin Ghaflah, ‗Ala bin Abdurrahman, Sya‘bi, Mubirah bin Barkan, Ashbag bin Nabatah, Jabir bin Khalid, Abu Jawza, Isa bin Zararah, Nafalah bin Mamum, Abu Yahya Umair bin

151

Sa‘id Najafi, Abu Maryam Qais Tsaqafi, Thahrab Ajili, Ishaq bin Yasar Walid Muhammad bin Ishaq, Abdurrahman bin Auf, Sufyan bin Lail, dan Umar bin Qais Kufiyin.251 Yatsrib menjadi terang benderang berkat keberadaan komunitas ulama dan perawi hadis ini, serta menjadi negara Islam yang paling subur ilmu, akhlak, dan budayanya.

Di samping menyebarluaskan ilmu di Yatsrib, beliau juga menyeru orang-orang pada kemuliaan akhlak, memperbaiki amal, dan berperilaku sesuai dengan Sunah Nabi saw. Beliau telah mengangkat mercusuar akhlak yang dibawa kakeknya, Rasulullah saw, guna memperbaiki dan mendidik akhlak masyarakat. Di antara ketinggian akhlak beliau adalah berlaku baik, bahkan terhadap musuh-musuh dan lawan-lawannya. Beliau mengetahui bahwa Walid bin Uqbah merasa sakit hati kepada beliau dan sangat memusuhi serta membenci Ahlulbait. Ketika menghadiri majlis Imam Hasan, ia langsung mendatangi beliau dan berkata, ―Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah Swt akan apa yang ada antara aku dengan seluruh manusia kecuali apa yang ada antara aku dengan ayahmu. Sungguh aku tidak bertobat dari hal itu.‖260

Imam menghindar darinya dan tidak melakukan hal yang sama; melainkan malah mencurahkan kasih sayang dan memberikan berbagai jenis hadiah kepadanya.261

Pengayom dan Pelindung Masyarakat

Beliau sangat memperhatikan fakir miskin dan kaum yang lemah, dengan selalu menginfakkan seluruh hartanya kepada mereka. Beliau memenuhi hati mereka dengan kegembiraan dikarenakan kebaikan dan kedermawanannya. Di antara keutamaan beliau adalah senantiasa mengunjungi orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Beliau biasa berkata kepadanya, ―Tuliskan semua kebutuhanmu, lalu taruh dalam selembar kain dan serahkan pada kami.‖ Orang itu menuliskan semua kebutuhannya, membungkusnya dalam kain, dan menyerahkannya kepada beliau. Maka, beliau segera memerintahkan untuk diperlihatkan. Sebagian yang hadir berkata, ―Seberapa besar berkah dari kain ini untuknya, wahai putra Rasulullah?‖

251

Târîkh ibn „Asâkir, juz 12.

260 Syarh Nahj al-Balâghah, Ibnu Abi Hadid, 16364.

152

Beliau menjawab, ―Berkahnya bagi kami sangat besar. Karena kami adalah pemilik kebaikan. Bukankah engkau mengetahui bahwa kebaikan itu adalah yang dilakukan tanpa diminta dan tanpa pamrih. Adapun bila engkau memberi kepada seseorang setelah diminta maka pemberitan engkau itu ada pamrihnya. Mungkin saja malamnya (orang yang akan meminta kepadamu itu, penj.) gelisah berkeringat karena berada antara keputusasaan dan harapan. Tidak tahu apa yang bisa memenuhi kebutuhannya. Apakah dengan menangis atau dengan bergembira akan berhasil. Dia mendatangimu dan dengan otot-ototnya yang melemah, hatinya penuh dengan kekhawatiran, jika engkau memenuhi hajatnya sesuai dengan kebutuhannya maka itu adalah sesuatu yang lebih besar daripada yang diinginkan.‖

Beliau juga menjadi pelindung kaum fakir dan orang-orang yang berada dalam kesusahan, sekaligus sandaran bagi anak-anak yatim. Kezuhudan dan kebaikan beliau begitu jelas, yang tak lain merupakan gambaran kemuliaan dan kedermawanan ideal.

Di kota kakeknya itu, beliau menjadi tempat perlindungan dan sandaran bagi orang yang membutuhkannya. Beliau mendermakan seluruh kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan banyak orang, serta menghapuskan kezaliman dan penganiayaan dari kehidupan mereka. Said bin Abi sarah pernah meminta perlindungan beliau dari kekejaman Ziyad; segera saja beliau mengabulkan permintaannya itu. Para perawi menyebutkan bahwa Said memang termasuk pengikut setia Ahlulbait. Pada awalnya, Ziyad meminta Said ditangkap dan dibawa ke hadapannya. Mendengar itu, ia pun segera melarikan diri ke Yatsrib dan meminta perlindungan kepada Imam Hasan. Ketika mengetahui hal itu, Ziyad menangkap saudara, anak, dan istrinya, serta merampas rumahnya dan merampok harta bendanya. Kontan Imam murka mendengar peristiwa itu. Beliau lalu menulis surat kepada Ziyad yang isinya memerintahkannya untuk memberikan perlindungan, membebaskan keluarganya, dan membangun kembali rumahnya serta mengembalikan harta bendanya.262

Kepemimpinan Politik

Imam Hasan berdamai dengan Muawiyah berdasarkan pertimbangan kekuatan. Dalam perjanjian itu tercantum pernyataan bahwa setelah Muawiyah

153

(meninggal dunia), kekuasaan akan diserahkan kembali pada Imam Hasan; dan selama berkuasa, Muawiyah tidak dibolehkan melakukan kejahatan dan konspirasi.

Karenanya, wajar bila Imam Hasan menjadi pusat gerakan perlawanan dan kekuatan yang menentang dan mengguncangkan dinasti Bani Umayyah dan kekuasaan Muawiyah. Kita dapat mengetahui aktivitas politik beliau secara jelas dalam seruan-seruan dan pertemuan-pertemuannya dengan para penguasa dan para pembantunya, serta surat-surat dan khotbah-khotbah beliau yang tercermin dalam:

a. Pandangan beliau atas berbagai kejadian dan dampak-dampaknya, serta terhadap berbagai perilaku para pejabat dan pembantunya, juga perintah beliau kepada mereka untuk melakukan amar makruf nahi mungkar. Ini dapat kita temukan dalam surat-surat beliau kepada Ziyad guna menghentikan kekerasan terhadap Said bin Abi Sarah, serta kecamannya pada Habib bin Musayyab yang setia kepada Muawiyah.263

b. Aktivitas politik beliau yang tercermin dari sambutannya di hadapan utusan-utusan lawan, serta nasihat dan wejangan beliau kepada para pengikutnya untuk bersabar, bertekad kuat, dan menunggu perintah-perintah Imam yang akan dikeluarkan pada saat yang tepat, sebagaimana penekanannya yang terus menerus atas peran kepemimpinan Ahlulbait dan hak-haknya atas tampuk kekuasaan politik dan imamah (kepemimpinan).

Doktor Thaha Husain menyimpulkan bahwa Imam Hasan telah membentuk partai politik saat beliau tinggal di Madinah, seraya menjalankan fungsi dan memberi gambaran yang sangat akurat mengenai kondisi-kondisi tersebut.

c. Tidak adanya simpati terhadap para penguasa yang ada; meskipun mereka (para penguasa tersebut) berusaha meraih simpati beliau atau berusaha menutup-nutupi kegiatan-kegiatan dan propaganda beliau. Hal ini tercermin dalam penolakan beliau terhadap lamaran Bani Umayyah (terhadap wanita Bani Hasyim) serta pengabaiannya atas berbagai rencana mereka, sekaligus penyingkapannya atas hakikat mereka yang menyimpang dan ketiadaan hak (Bani Umayyah) atas tampuk kepemimpinan. Hal ini tampak jelas dalam percakapannya dengan Muawiyah dan para pembantunya di Madinah dan Damaskus. Kami akan menyinggung beberapa sikap beliau tersebut.

263 Ibid.

154

Penolakan Imam bagi Lamaran Bani Umayah

Muawiyah berkeinginan melamar wanita Bani Hasyim. Dengan cara itu, ia bermaksud menggapai kemuliaan dan keagungan. Lalu, ia menulis surat kepada gubernurnya di Madinah, Marwan bin Hakam, agar melamar Zainab binti Abdullah bin Ja‘far, untuk Yazid (putranya), sesuai dengan mahar yang diminta ayahnya serta berjanji akan melunasi hutang-hutangnya sebesar apapun demi menciptakan perdamaian antara orang-orang yang masih hidup di kalangan Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Marwan lalu memanggil putra Abdullah. Ketika sudah berada di hadapannya, Marwan mengemukakan hajatnya. Maka Abdullah menjawab, ―Sesungguhnya masalah anak-anak perempuan kami berada di tangan Hasan bin Ali; mintalah kepadanya.‖ Marwan mendatangi Imam dan mengutarakan maksudnya untuk melamar putri Abdullah. Beliau berkata, ―Kumpulkan semua orang yang kau inginkan.‖ Marwan segera mengumpulkan Bani Hasyim dan Bani Umayyah dalam satu ruangan. Ia kemudian berdiri di hadapan mereka dan mengemukakan keinginannya.

Imam menjawabnya. Setelah memuji dan memuja Allah, beliau berkata, ―Adapun mengenai yang kau katakan perihal mahar sesuai dengan keinginan ayahnya, maka kami tidak akan membenci Sunah Rasulullah saw bagi Ahlulbait dan para wanitanya.264 Adapun mengenai pelunasan hutang ayahnya, kapan putri-putri kami melunasi hutang-hutang ayah mereka? Mengenai perdamaian orang-orang yang masih hidup, sesungguhnya kami memusuhi kalian karena dan demi Allah, dan kami tidak akan berdamai dengan alasan duniawi...‖

Di akhir khotbahnya, Imam berkata, ―Kami telah memutuskan untuk menikahkan dia (yaitu Zainab) dengan anak pamannya, Qasim bin Muhammad bin Ja‘far. Aku telah menikahkan dia dengannya, dan telah memberikan maharnya dari kekayaanku di Madinah. Muawiyah telah memberikan aku mahar baginya sebesar sepuluh ribu dinar.‖

Marwan mengirimkan surat kepada Muawiyah untuk memberitahukan hasilnya. Ketika surat itu sampai di tangannya, ia berkata, ―Kami melamar mereka

155

tetapi mereka menolak; jika mereka melamar kami, kami tentu tak akan menolak mereka.‖265

Sikap Imam Hasan terhadap Muawiyah dan Para Kroninya

Bersama Muawiyah di Madinah

Khawarizmi meriwayatkan bahwa Muawiyah bertolak ke Yatsrib. Di sana, ia menjumpai masyarakat sangat memuliakan dan memuja Imam Hasan. Jelas, itu membuatnya jengkel. Ia lalu memanggil Abu Aswad Duwali dan Dhahhak bin Qais Fahri. Keduanya dimintai pendapat mengenai Imam Hasan dan cara bagaimana untuk menjelek-jelekkan beliau demi menurunkan kedudukan dan kemuliaannya di hadapan khalayak. Abu Aswab menolak hal itu dengan berkata, ―Kedudukan Amirul Mukminin lebih utama, dan aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Amirul Mukminin tidak pernah mengatakan sebuah kalimat kecuali akan menghilangkan kedengkian di hati para pendengarnya dan memupus kesusahan mereka. Sementara Hasan, wahai Amirul Mukminin, adalah anak muda yang toleran, dia menghadirkan apapun yang ada jawabannya. Saya khawatir dia menjawab perkataan Anda dengan langkah-langkah yang mencegah usaha Anda, dan mematahkan tulang kaki Anda, menyingkapkan kejelekan Anda. Perkataan Anda mengenainya menjadi keutamaan baginya, sementara bagi Anda kerugian, kecuali kalau Anda mengetahui aib akhlak yang ada pada dirinya, atau kejadian dalam perhitungan. Sungguh beliau adalah seorang yang disucikan. Beliau telah menjadi orang suci Arab dalam kemuliaan hakikinya, dan keturunan mulianya, kesucian bagiannya. Jangan lakukan itu, wahai Amirul Mukminin.‖

Abu Aswad mengatakan yang sebenarnya sewaktu menasihati Muawiyah. Kekurangan dan cela apakah yang dapat menjatuhkan martabat beliau? Beliau adalah seorang yang disucikan dari berbagai dosa dan kekurangan sebagaimana disebutkan al-Quran yang mulia. Tetapi, Dhahhak bin Qais berkata sebaliknya kepada Muawiyah. Ia menuruti kemauan Muawiyah untuk menjelek-jelekkan Imam Hasan dan mengatakan dengan panjang lebar, ―Wahai Amirul Mukminin, aku setuju dengan pendapat Anda; jangan pernah mengurungkan apa yang telah Anda prakarsai ini. Jika

156

Anda telah melemparnya dengan kata-kata yang mematikan dan kejelasan jawaban Anda, maka itu akan menjatuhkannya, sebagaimana seekor unta tua yang lemah di hadapan seekor unta muda.‖

Muawiyah menyetujui pandangan Dhahhak. Saat tiba shalat Jum‘at, Muawiyah menaiki mimbar. Setelah memuji dan memuja Allah, serta bershalawat kepada Nabi-Nya, ia menyebut-nyebut nama Amirul Mukminin dan penghulu kaum Muslim, Ali bin Abi Thalib, untuk kemudian menghinanya. Setelah itu, ia berkata, ―Wahai hadirin! Sesungguhnya anak dari kaum Quraisy adalah bodoh dan sembrono serta mengeruhkan kehidupan para pengikutnya dengan berbagai kotoran, setan menjadikan kepala-kepala mereka sebagai tempat duduk, lidah-lidah mereka dingin. Setan-setan berkembang biak dan semakin banyak dalam dada-dada mereka, dosa-dosa berjalan melalui mereka. Kedunguan telah menghiasi mereka. Mereka tidak mengetahui jalan, lalu digiring ke arah pembangkangan, permusuhan, dan kejahatan. Mereka (setan) adalah mitra dan rekannya. Dan cukuplah sudah azab bagi mereka.‖

Imam Hasan dengan segera melompat ke arahnya seperti aliran air untuk menjawab fitnah Muawiyah dan membuktikan kebatilannya. Beliau berkata dengan lantang, ―Wahai hadirin! Siapa yang telah mengenalku, maka ia mengenal siapa aku sebenarnya. Sesiapa yang tidak mengenalku, sesungguhnya aku adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Aku adalah anak dari Nabi Allah. Aku adalah anak yang bumi dijadikan karenanya sebagai mesjid dan suci. Aku adalah anak sirâj al-munîr. Aku adalah al-basîr an-nadzîr. Aku adalah anak dari penutup para nabi, penghulu seluruh utusan, imam orang-orang bertakwa, dan utusan Tuhan semesta alam. Aku adalah anak dari orang yang diutus kepada jin dan manusia. Aku adalah anak dari orang yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.‖

Jawaban Imam Hasan mematahkan fitnah Muawiyah yang segera memotong pembicaraannya, ―Wahai Hasan! Engkau seperti kurma matang.‖

Imam berkata, ―Aku adalah anak dari orang yang doanya terkabul. Aku adalah anak seorang pemberi syafaat yang ditaati. Aku adalah anak dari yang mengusap kepalanya dengan debu tanah, mengetok pintu surga. Aku adalah anak dari orang yang para malaikat berperang bersamanya, yang mereka belum pernah berperang dengan nabi lain sebelumnya. Aku adalah anak yang membantu berbagai golongan. Aku adalah anak dari orang yang kaum Quraisy menjadi rendah karena kebencian.‖

151

Muawiyah menjadi murka dan mulai berteriak, ―Tetapi kenapa engkau menuntut khilafah?‖

Imam menjawab, ―Kekhalifahan diperuntukkan bagi orang yang beramal dengan Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya. Khilafah bukan bagi orang yang melawan Kitab Allah dan mengabaikan Sunah. Perumpamaan hal itu adalah seperti seorang lelaki yang mendapatkan kerajaan lalu hidup bersenang-senang dengannya, dan seolah-olah ia menjauh darinya, padahal tanggung jawabnya tetap berada di pundaknya.‖

Muawiyah berusaha mengelak, namun sikap sombongnya mulai mereda. Ia berkata, ―Di tengah bangsa Quraisy, tidak ada lelaki kecuali di sisinya terdapat nikmat yang banyak dan tangan yang indah.‖

Imam menjawab, ―Benar, orang yang mulia setelah hina, dan banyak setelah sedikit.‖

Muawiyah berkata, ―Siapa mereka itu, wahai Hasan?‖

Imam menjawab, ―Orang yang berusaha kau lupakan keberadaannya.‖

Kemudian Imam Hasan melanjutkan pengenalan dirinya kepada hadirin dengan berkata, ―Aku adalah sosok yang memimpin kaum muda bangsa Quraisy. Aku adalah anak dari sosok yang memimpin orang warak dalam hal keutamaan dan keagungan. Aku adalah anak dari orang yang memimpin penduduk dunia dengan kedermawanan, keturunan agung, keutamaan tertinggi. Aku adalah anak yang apabila orang ridha kepadanya maka Allah meridhainya, dan barangsiapa memusuhinya, Allah akan memusuhinya. Apakah engkau memiliki kesamaan dengannya, wahai Muawiyah?‖

Muawiyah berkata, ―Aku tegaskan, tak ada kebenaran dalam ucapanmu.‖ Imam Hasan berkata, ―Kebenaran sungguh jelas, dan kebatilan telah lenyap. Orang yang menjunjung kebenaran tak akan pernah menyesal, dan orang yang mengusung kebatilan akan gagal (kebenaran hanya dikenali oleh orang-orang yang berakal).‖

Muawiyah berkata dengan nada mengelak sesuai kebiasaannya, “Semoga ada orang yang mencelakanmu.‖

158

Mayoritas sejarahwan bersepakat bahwa Imam Hasan pernah menemui Muawiyah di Damaskus. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai apakah kunjungan Imam Hasan itu hanya sekali atau lebih. Memperpanjang bahasan dalam masalah ini tidak akan bermanfaat apapun bagi kita. Namun, hal penting yang harus dibahas adalah mengenai rahasia misinya. Menurut kami, maksud dari kunjungan itu tiada lain untuk menunjukkan sikap Ahlulbait dan menyingkapkan hakikat Bani Umayyah di hadapan masyarakat yang disesatkan dan diselewengkan Muawiyah dari jalan yang lurus.

Sementara, orang-orang yang berpendapat bahwa kunjungan itu dimaksudkan untuk mengambil hadiah (dari Muawiyah), menurut kami, bersandar pada riwayat-riwayat palsu. Riwayat ini tentu tidak dapat dijadikan sandaran. Karena Imam sangat terkenal dengan kemuliaan dan keagungannya. Beliau tidak membutuhkan hubungan apapun dengan Muawiyah, karena beliau memiliki banyak tanah dan kekayaan di Yatsrib, di samping hak-hak yang diberikan tokoh-tokoh Muslim di sana.

Adapun harta yang diberikan Muawiyah kepadanya tidak digunakan untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Diriwayatkan bahwa beliau sama sekali tidak mengambil harta pemberian itu sedikit pun.266

Imam Musa bin Ja‘far diriwayatkan berkata, ―Sesungguhnya Hasan dan Husain tidak menerima hadiah-hadiah dari Muawiyah bin Abi Sufyan.‖261

Muawiyah merasa kewalahan menghadapi Imam Hasan saat berada di Damaskus. Ia menyaksikan sambutan masyarakat yang hangat terhadap beliau. Lalu, ia pun mengadakan sejumlah pertemuan yang dihadiri orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan musuh-musuh Ahlulbait, seperti Amr bin Ash, Mughirah bin Syu‘bah, Marwan bin Hakam, Walid bin Uqbah, Ziyad bin Sumayyah, dan Abdullah bin Zubair.

Ia lalu memerintahkan mereka bertindak lalim terhadap wewangian Nabi saw itu dan menjelek-jelekkannya, agar orang-orang meninggalkan Ahlulbait, dan demi melampiaskan dendam dirinya terhadap putra sang penakluk Mekkah dan penghancur berhala-berhala Quraisy itu. Orang-orang lalim itu serempak menuruti ajakannya.

266 Jâmi‟ Asrâr al-„Ulâmâ, Perpustakaan Kasyif Ghitha.

151

Sementara Imam Hasan mempertunjukkan kebenaran logikanya yang bernas, hingga mereka semua terdiam.

Dalam setiap perdebatan itu, Imam Hasan selalu tampil sebagai pemenang dan unggul; sementara musuh-musuhnya selalu menderita kekalahan. Mereka dibuat malu oleh kekalahan dan ketundukan.

Perdebatan Pertama

Muawiyah mendatangi Imam Hasan dan berkata, ―Wahai Hasan! Aku lebih baik darimu!‖

Imam menjawab, ―Bagaimana itu bisa terjadi, wahai putra Hindun?‖

Muawiyah berkata, ―Karena orang-orang berkumpul di sekelilingku, tetapi mereka tidak berkumpul di sekelilingmu.‖

Imam menjawab, ―Tidak demikian; sungguh jahat apa yang engkau katakan, wahai putra pemakan jantung. Orang-orang yang berkumpul di sekitarmu terdiri dari

Dokumen terkait