• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMAM DALAM ASUHAN KAKEK DAN AYAHNYA

3. Pendidikan Politik dengan Praktik

Terdapat sejumlah tujuan pendidikan dan politis yang terkandung dalam diikutsertakannya Ahlulbait dalam peristiwa Mubahalah, di antaranya:

1. Diikutsertakan unsur wanita yang diwakili Fatimah Zahra yang dianggap sebagai model ideal wanita Muslimah dalam masalah agama dan duniawi; sekaligus bertujuan menghapus kebiasaan jahiliah yang memusuhi kaum wanita, serta memandangnya tak bernilai dan kosong dari keutamaan apapun. Pemahaman jahiliah memandang wanita sebagai sumber petaka dan pendorong keburukan karena dianggap sering berkhianat.83 Tak seorang pun dari mereka yang membayangkan seorang wanita turut serta dalam masalah sensitif, istimewa, dan sangat disucikan ini.

2. Diikutsertakannya Hasan dan Husain pada peristiwa Mubahalah dalam kapasitas sebagai anak Rasulullah saw yang mulia; padahal mereka sebenarnya adalah anak putrinya yang suci, Fatimah Zahra as (dalam ayat

81

Tafsîr al-Mîzân, 36224; Dalâil ash-Shidiq, 3/bagian 1, hal.84.

82 Dinukil darinya oleh Abu Hayyan dalam Al-Bahr al-muhîth, ketika menafsirkan ayat Mubahalah ini.

42

ditunjukkan bahwa Hasan dan Husain—yang keduanya anak putrinya—dapat dikatakan ‗anak Rasulullah saw‗ karena beliau berjanji akan berdoa dengan anak-anaknya; dan benar, beliau kemudian datang dengan membawa keduanya).84 Di samping apa yang baru dikatakan, ini juga bertujuan untuk menggugat kebiasaan jahiliah yang mengasumsikan bahwa anak dari anak laki-laki adalah anak sebenarnya, namun tidak demikian dengan anak dari anak perempuan.

Seiring dengan seluruh hal yang dilakukan Nabi saw pada hari Mubahalah untuk menghapus kebiasaan jahiliah, namun masih saja ada sebagian kalangan yang masih mempraktikkannya. Praktik ini tampak jelas dalam pelbagai pendapat fikih seputar tafsir ayat, Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk)

anak-anakmu. Yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; mereka menganggap masalah pewarisan dikhususkan untuk keturunan

anak laki-laki minus keturunan dari anak-anak perempuan.85

Meskipun sudah terbentang jalan yang agung dari Ahlulbait yang mendapatkan dukungan dari kalangan ulama yang mencurahkan segenap upaya untuk menguatkan dan mengokohkannya, masih ada saja jalan konspirasi yang menghalangi mereka dan merintangi jalan keberhasilan mereka, berupa pemutarbalikkan fakta dan pemalsuan sejarah. Namun, berkat keberadaan Ahlulbait yang memiliki hujah-hujah lebih kuat serta dalil-dalil dan bukti-bukti dari al-Quran serta hadis mutawatir dan sikap nabawi yang unggul, yang diketahui, disaksikan, dan didengar para sahabat Rasulullah saw yang kemudian ditransfer kepada umat Islam, semua itu gagal!

Tak ada salahnya bila kami mengemukakan upaya-upaya penafian keberadaan Hasan dan Husain sebagai putra Rasulullah saw.

1. Dakwan, seorang budak Muawiyah, menuturkan bahwa Muawiyah berkata, ―Aku tidak mengetahui seorang pun yang menamai kedua anak ini sebagai dua anak Rasulullah saw. Karena itu, katakanlah, ‗Keduanya adalah anak Ali.‘‖ Dakwan berkata, ―Setelah itu, ia memerintahkanku menulis kemuliaan anak-anaknya. Maka aku menuliskan anak-anaknya

84 Tafsîr ar-Râzî, 8681; Fath al-Qadîr, 16341; Tafsîr an-Naysâbûrî, pada catatan pinggir Tafsîr

ath-Thabarî, 36214; At-Tibyân, 26485, dari Abu Bakar Razi (bukan Fakhrurrazi); Majmâ al-Bayân, 26452; Al-Ghadîr, 16122; Tafsîr al-Qurthubî, 46104.

43

dan anak-anak dari anak laki-lakinya dan aku tinggalkan anak anak-anak perempuannya. Setelah itu aku membawa tulisan tersebut kepadanya yang lantas melihatnya. Ia berkata, ‗Celaka engkau! Engkau telah melupakan kemuliaan anak-anakku!‘ Aku berkata, ‗Siapa?‘ Ia berkata, ‗Apakah anaknya fulanah—putrinya—bukan anakku?‘ Aku berkata, ‗Allah! Apakah anak putrimu adalah anakmu, sementara anaknya Fatimah bukan anak Rasulullah saw?‘ Ia berkata, ‗Ada apa denganmu? Semoga Allah membinasakanmu! Tak ada yang mendengar hal ini kecuali engkau.‘‖86 2. Imam Hasan bersabda ketika memberikan hujah pada Muawiyah,

―Rasulullah saw mendudukkan jiwanya dengan jiwa ayahku, dan jiwa anak-anaknya adalah aku dan saudaraku, dan jiwa perempuan adalah Fatimah, ibu seluruh manusia. Kami adalah keluarganya, darahnya, dan jiwanya. Kami adalah bagian darinya dan ia adalah bagian dari kami.‖81 3. Razi berkata dalam tafsirnya mengenai firman Allah Swt, dan kepada

sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun, hingga firmannya, dan Zakariya, Yahya, `Isa, dan Ilyas. Setelah menyebutkan maksud ayat tersebut yang berkenaan dengan

keberadaan Hasan dan Husain sebagai anak Nabi saw, ia berkata, ―Dikatakan bahwa Abu Ja‘far Baqir berdalil dengan ayat ini di hadapan Hajjaj bin Yusuf.‖88

4. Amr bin Ash mengirimkan surat kepada Amirul Mukminin yang isinya berupa celaan dalam berbagai hal, di antaranya, ―Hasan dan Husain dipanggil sebagai dua anak Rasulullah saw.‖ Beliau berkata pada utusan Amr, ―Katakan pada pembenci (Nabi saw) anak dari pembenci: jika keduanya bukan anaknya maka Nabi menjadi yang terputus (keturunannya), seperti dituduhkan ayahmu.‖81

Imam Hasan menjelaskan dalam berbagai kesempatan dan acara, bukan hanya seputar keberadaan beliau sebagai anak Nabi saw saja, tapi juga menekankan hak atas keimamahan dan kekhilafahan hanya untuknya semata. Tidak mungkin menyerahkan tampuk keimamahan pada Muawiyah dan keturunannya, karena Muawiyah tidak

86 Kasyf al-Ghummah, Arbali, 26113, cet., Dar al-Adhwa.

81

Yanâbî‟ al-Mawaddah, 411, dari Zarandi Madani, hal.486 dan 56, serta Tafsîr al-Burhân, 16286.

88 Tafsîr ar-Râzî, 13666; Fadhâil al-Khamsah min ash-Shahah as-Sunah, 16241.

44

memiliki kualitas-kualitas yang layak untuk itu—bahkan menyandang sifat-sifat yang bertentangan dengannya.

Sebagian sabda beliau berkaitan dengan hal ini, khususnya:

1. Beliau bersabda segera setelah ayahnya wafat, ―Wahai manusia, barangsiapa mengenalku maka sungguh ia mengetahui diriku; barangsiapa tidak mengenalku maka akulah Hasan bin Ali, anak Nabi, dan washi-nya.‖10

2. Muawiyah meminta beliau naik mimbar untuk memberikan khotbah. Beliau memenuhinya dan berkhotbah, ―Aku adalah anak… aku adalah anak dari… (hingga sabdanya). Jika kalian meminta anak nabi kalian, kalian tidak akan menemukan kecuali aku dan saudaraku.‖11

Kesaksian Imam Hasan atas Tulisan Tsaqif

Rasulullah saw menjadikan Hasan dan Husain sebagai saksi ketika beliau menulis surat (politik) untuk Tsaqif; dan beliau menetapkan kesaksian Ali, Hasan, dan Husain.

Abu Ubaid berkata, ―Kejadian ini, dari sudut fikih, merupakan pengakuan atas kesaksian Hasan dan Husain. Ini juga kadang-kadang diriwayatkan sebagian tabiin; bahwa kesaksian kedua anak itu diakui… dan termasuk dalam sunah Nabi saw.‖12

Menurut kami, tidakkah Nabi saw menemukan di antara kalangan sahabat yang dapat dijadikan saksi untuk surat penting yang berkaitan dengan nasib umat tersebut, selain kedua anak kecil ini? Apakah beliau dalam keadaan sendirian saat utusan dari Tsaqif itu datang, dan harus buru-buru menulis surat untuk mereka sehingga beliau terpaksa berhujah dengan kesaksian dua anak kecil yang masih belum berumur lima tahun itu?

Dengan meneliti sumber-sumber sejarah, kemungkinan tersebut sangat kecil sekali. Karena jelas sekali bahwa Rasulullah saw telah membangun kubah dalam mesjid agar dapat mendengarkan al-Quran, dan orang-orang dapat terlihat ketika

10

Mustadrak al-Hâkim, 36112; Dakhâir al-Uqbâ, 138 dari Daulabi.

11 Al-Manâqib, Ibnu Syahr Aswab, 4612 dari Al-„Aqdul Farîd dan Al-Madâinî.

45

shalat; sementara di situ ada beberapa jurutulis seperti Khalid bin Said bin Ash dan Khalid bin Walid—namun beliau tetap tidak memanggil mereka untuk bersaksi.13

Kami menyimpulkan bahwa apa yang diinginkan Nabi adalah menunjukkan keutamaan Hasan dan Husain; dan keduanya layak memikul tanggung jawab besar yang terkait dengan berbagai perjanjian politik penting seperti dalam kasus Tsaqif tadi. Padahal, Tsaqif dikenal dengan permusuhannya yang menggebu terhadap Islam.

Kehadiran Imam Hasan dalam Pembaiatan Ridwan

Hasan dan Husain telah menghadiri pembaiatan Ridwan. Keduanya berpartisipasi bersama Rasulullah saw. Peristiwa ini sangat terkenal di kalangan sejarahwan.

Syekh Mufid berkata, ―Di antara dalil kesempurnaan keduanya dan hujah pengkhususan Allah Swt pada keduanya adalah pembaiatan Rasulullah saw bagi keduanya. Tak ada anak yang pernah dibaiat saat itu selain keduanya.‖14

Umum diketahui bahwa baiat merupakan ungkapan ketaatan dan janji pada pihak lain untuk memikul tanggung jawab tertentu yang berkaitan dengan masa depan dakwah dan masyarakat Islam, serta penjagaan keduanya dari ancaman marabahaya. Itu artinya, Nabi saw memandang Hasan dan Husain—meskipun usianya masih sangat belia—layak dan siap memikul tanggung jawab besar tersebut.

Hasan dan Husain adalah Imam

Diriwayatkan dari Nabi saw yang bersabda, ―Hasan dan Husain adalah imam, baik dalam keadaan duduk maupun berdiri.‖15 Padahal, saat hadis ini disabdakan, usia keduanya belum lewat lima tahun. Hadis ini mengungkapkan nilai penting keduanya. Kita mendapati bahwa Imam Hasan berdalil dengan sabda ini terhadap orang-orang yang memprotesnya sewaktu mengadakan perdamaian dengan Muawiyah.16

13 Al-Hayât as-Siyâsiyah lil Imâm al-Hasan, Amili, 44.

14

Al-Irsyâd, 211.

15 „Illal as-Syarâi‟, 16211.

46 4

Dokumen terkait