• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Ekonomi Biodiversitas

Dalam dokumen M. BISMARK dan RENY SAWITRI (Halaman 83-89)

VALUASI POTENSI TAMAN NASIONAL

3.2 Manfaat Ekologi dan Ekonomi

3.2.1 Nilai Ekonomi Biodiversitas

Nilai ekonomi biodiversitas di suatu taman nasional dapat dihitung dengan berbagai pendekatan. Sebagai contoh, nilai ekonomi biodiversitas di TN Bukit Tigapuluh (TNBT) diperoleh dengan menggunakan pendekatan menurut Pesarce dan Moran, yaitu dengan mengetahui nilai keragaman jenis kayu komersial yang ada di kawasan. Jumlah pohon yang terdapat pada petak ukur (0, 25 ha) adalah 145

Nilai Penting Taman Nasional | 63 pohon yang tergolong dalam 60 jenis, 35 marga dan 20 suku. Jenis yang dominan adalah meranti, yaitu Shorea abovodea (INP=30,36%, K=16 batang/ha) dan Shorea accuminata (INP=24,71%, K=20 batang/ha), keduanya anggota suku Dipterocarpaceae. Suku lainnya yang cukup dominan dari banyaknya jenis adalah Euphorbiaceae (12 jenis) dan Burseraceae (9 jenis). Indeks keanekaragaman (H’) sebesar 3,46. Hal ini menandakan kemantapan ekosistem yang tergolong tinggi (nilai H’ >3,0).

Pengelolaan nilai ekonomi biodiversitas membutuhkan beberapa parameter, antara lain komponen biaya dari pengelolaan, harga jual jenis-jenis kayu komersial, dan keuntungan normal dari usaha tersebut. Hasil perhitungan nilai ekonomi biodiversitas yang ada di TNBT adalah sekitar Rp57.152.909,09/ha. Hasil perhitungan yang telah dilakukan tersebut, secara garis besar dapat dikatakan bahwa biodiversitas yang ada di TNBT mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Bila dilihat dari luas keseluruhannya (143.143 ha), total nilai ekonomi biodiversitas yang ada di TNBT diperkirakan sebesar Rp8.181.038.866.000; suatu angka yang sangat besar dan semua itu merupakan aset negara yang sangat berharga.

Selain potensi tumbuhan yang lebih banyak dimanfaatkan kayunya, biodiversitas dari taman nasional yang juga bernilai ekonomi adalah tumbuhan berkhasiat obat. Jenis tumbuhan obat yang terdapat di TN Lore Lindu sekitar 138 jenis yang termasuk ke dalam 80 suku, dengan perincian 33 jenis tingkat pohon, 23 jenis perdu/pohon kecil, 70 jenis herba tingkat semak, 8 jenis herba tingkat rumput, 3 jenis epifit, dan 1 jenis liana. Tumbuhan obat tersebut umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat lokal secara tradisional di daerah penyangga taman nasional sehinga nilai komersialnya jarang dihitung. Kondisi potensi tumbuhan berkhasiat obat berdasarkan hasil inventarisasi di kawasan TN Lore Lindu dapat dibedakan menurut ketinggian lokasi. Potensi yang terdapat di pegunungan di kelompok hutan Kaduaha (ketinggian 1.196 m dpl) memiliki nilai H’ sebesar 2,156. Kondisi keragaman jenis tersebut tergolong stabil atau masih terpelihara dengan sangat baik kelestariannya bila dibandingkan dengan kelompok hutan Simoro (ketinggian 400–700 m dpl) yang memiliki nilai H’ sebesar 0,29 (Kiding Allo et al., 2009).

64 | M. Bismark dan Reny Sawitri

Tabel 5. Nilai willingness to pay beberapa jenis satwa liar menurut responden

No. Jenis Satwa Status konservasi nilai WTP Rata-rata

(Rp/tahun) Nama Lokal Nama ilmiah Tahun 1999 PP RI No. 7 CITES list * IUCN list**

1. Rusa Cervus unicolor

(Kerr, 1792) Dilindungi - - 742.857

2. Ajak Cuon alpinus

(Pallas, 1811) Dilindungi Appendix II Vulnerable 778.571

3. Beruang

madu Helarctos malayanus

(Raffles, 1821) Dilindungi Appendix I Deficient Data 1.771.429 4. Landak Hystrix brachyura Linnaeus, 1758 Dilindungi - Least Concern 311.429

5. Trenggiling Manis javanica

Desmarest, 1822 Dilindungi Appendix II Lower Risk 1.435.714

6. Kijang Muntiacus muntjak (Zimmermann, 1780) Dilindungi - - 464.286 7. Kambing

hutan Naemorhedus sumatraensis

(Bechstein, 1799)

Dilindungi Appendix

I Endangered 1.114.286

8. Macan

dahan Neofelis nebulosa Griffith 1821 Dilindungi Appendix I Vulnerable 1.750.000

9. Harimau

sumatra Panthera tigris sumatrae

Pocock, 1929

Dilindungi Appendix

I Endanger-Critically ed

68.857.143 10. Tapir Tapirus indicus

(Desmarest, 1819) Dilindungi Appendix I Endanger-ed 3.892.857 11. Kancil Tragulus javanicus (Osbeck, 1765) Dilindungi - - 460.000

Jasa lingkungan yang berasal dari taman nasional juga memiliki nilai ekonomi sebagai habitat satwa liar dan tumbuhan langka, baik jenis yang dilindungi maupun yang memiliki nilai perdagangan tinggi. Studi kasus penilaian pelestarian dan ekosistem telah dilakukan di TN Batang Gadis (TNBG) dengan asumsi kesediaan masyarakat sekitar untuk membayar pelestarian satwa liar yang berjumlah 47 jenis mamalia dan 247 jenis burung (Kuswanda, 2011). Hasil analisis penyebaran kuesioner pada masyarakat di daerah penyangga untuk

Nilai Penting Taman Nasional | 65 mengetahui kesediaan membayar (willingness to pay/WTP) terhadap kawasan TNBG sebagai habitat satwa liar yang termasuk kategori langka dan dilindungi (IUCN, 2009) ataupun dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber protein, disajikan pada Tabel 5.

Nilai pelestarian kawasan TNBG sebagai habitat satwa liar yang didekati dengan analisis kesediaan membayar (WTP) dengan metode CVM (Contingency Valuation Method) ternyata memberikan penilaian yang beragam, bahkan melebihi pendapatan yang diperolehnya. Hal ini menunjukkan terdapatnya penghargaan masyarakat yang cukup tinggi terhadap keberadaan satwa liar langka dan dilindungi; seperti harimau, tapir, beruang madu, macan dahan, dan trenggiling; selain satwa liar yang sering diburu dan dimanfaatkan daging atau tenaganya, seperti rusa, kijang dan beruk (Kuswanda, 2011). Perhitungan nilai ekonomi satwa liar di kawasan ini dihitung dari rata-rata nilai WTP untuk semua responden di tujuh desa penelitian, kemudian dikalikan rata-rata jumlah penduduk per desa dan seluruh desa penyangga di TNBG (71 desa) (Balai KSDA Sumut II, 2006) (Tabel 6).

Tabel 6. Pendugaan nilai ekonomi satwa liar di TN Batang Gadis Desa Rata-rata WTP (Rp/tahun) Penduduk (jiwa) (Rp/tahun) Total

Longat 3.817.647 2.179 8.318.652.941,18 Lumban Dolok 5.205.882 5.154 26.831.117.647,06 Sopotinjak 3.115.000 204 635.460.000,00 Humbang I 6.171.765 907 5.597.790.588,24 Hutabariingin Julu 5.617.647 388 2.179.647.058,82 Pastap julu 3.782.353 525 1.985.735.294,12 Huta Padang 6.997.059 571 3.995.320.588,24 Total 34.707.353 9.928 49.543.724.117,65 Rata-rata 4.958.193 1.418 499.282.000.000,00 Total Desa Penyangga 71 desa (BKSDA Sumut II, 2006)

NPV 10% (selama 25 tahun, biaya tetap) 4.532.002.694.382,00 NPV 7% (selama 25 tahun, biaya tetap) 5.818.424.316.405,00

Berdasarkan tabel di atas, nilai ekonomi TNBG sebagai kawasan pelestarian satwa liar melalui kesediaan membayar didapatkan nilai

66 | M. Bismark dan Reny Sawitri

sebesar Rp28 milyar per tahun. Apabila kawasan TNBG dengan potensi satwa liar yang terjaga dalam 25 tahun mendatang, nilai satwa liar meningkat mencapai Rp4,53 triliun.

Perdagangan satwa dan tumbuhan liar ke luar negeri/ekspor yang berasal dari alam serta hasil penangkaran seperti ikan arwana dan budaya telah menghasilkan penerimaan negara dengan jumlah yang cukup besar. Selama tahun 2002, perkiraan penerimaan negara dari ekspor tumbuhan dan satwa liar sebesar US$2.12 juta, terbesar dihasilkan dari ekspor ikan arwana sebesar US$1.32 juta.

Nilai ekonomi jasa lingkungan lainnya adalah dari keanekaragaman hayati mangrove. Potensi ini terdapat di TN Wakatobi yang meliputi pemanfaatan kayu untuk bangunan rumah, kayu bakar untuk memasak, ikan, kepiting dan udang yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk dijual maupun dikonsumsi sendiri. Keberadaan jasa lingkungan mangrove sangat membantu dalam peningkatan taraf hidup masyarakat, terutama bila dilihat dari persentase nilai jualnya per tahun (Tabel 7) (La Ode Ahyar, 2009). Kepiting dan udang yang ditangkap menggunakan bubu dan jaring dari areal bermangrove memberikan sumbangan yang sangat besar karena nilai jualnya yang cukup tinggi dan pemasarannya sampai keluar daerah. Apabila dilihat berdasarkan hasil kepiting dan udang yang cukup tinggi, kondisi vegetasi mangrove dan perairan di sekitarnya cukup baik dengan tingkat pencemaran yang cukup rendah. Selain itu, sebagian masyarakat yang kehidupannya dari usaha laut juga menanam agar-agar pada zona pemanfaatan tradisional yang disepakati bersama pihak pengelola taman nasional. Sebagai petani agar-agar masyarakat dapat memanen 1–5 kwintal agar-agar basah per 4 bulan. Agar-agar kering dijual dengan harga Rp5.000/kg.

Nilai Penting Taman Nasional | 67 Tabel 7. Pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati mangrove di TN

Wakatobi

No. Jenis Pemanfaatan Hasil rata-rata/ha Nilai (Rp/tahun) Persentase (%)

1. Kayu (m3) 2,380 833.000 0,01

2. Kayu bakar (ikat) 292.404 1.023.414.000 7,44

3. Ikan (kg) 306.396 1.072.386.000 7,80

4. Udang (kg) 346.620 4.852.680.000 35,28

5. Kepiting (individu) 486.144 6.806.016.000 49,48

Sumber: La Ode Ahyar (2009)

Gambar 5. Hasil panen budi daya rumput laut oleh masyarakat

Taman nasional perairan lainnya yang diketahui memiliki nilai ekonomi tinggi adalah TN Karimunjawa. Kawasan taman nasional ini memiliki keterwakilan ekosistem hutan tropis dataran rendah, hutan mangrove, hutan pantai, padang lamun, dan terumbu karang. TN Karimunjawa memiliki nilai ekonomi biodiversitas sebesar Rp11.200.000.000/tahun, sedangkan manfaat yang didapatkan oleh masyarakat dari perikanan tangkap sebesar Rp6.421.000.000/tahun dan budi daya rumput laut menghasilkan Rp13.000.000.000/tahun (TN Karimunjawa, 2012).

68 | M. Bismark dan Reny Sawitri

Dalam dokumen M. BISMARK dan RENY SAWITRI (Halaman 83-89)