• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zona Khusus

Dalam dokumen M. BISMARK dan RENY SAWITRI (Halaman 141-154)

VALUASI POTENSI TAMAN NASIONAL

Bab 4 ZONASI TAMAN ZONASI TAMAN

4.3 Penataan Pengelolaan Zonasi

4.3.7 Zona Khusus

Zona khusus taman nasional mengakomodasi kepentingan para pihak secara proporsional melalui pengelolaan kolaboratif untuk mencapai tujuan konservasi kawasan hutan dan ekonomi sosial masyarakat (Sabar et al., 2011). Beberapa taman nasional yang memiliki zona khusus dan berpotensi konflik antara taman nasional dengan masyarakat yang umumnya telah ada sebelum penetapan sebagai taman nasional salah satunya di TN Bantimurung-Bulusaraung. Masyarakat di TN Babul melakukan berbagai aktivitas, seperti usaha tani tanaman semusim, ladang berpindah, kebun, hutan rakyat pola agroforestry, bahkan pemukiman. Analisis existing land use, analisis kompatibilitas, dan analisis kekuatan medan menemukan tujuh bentuk pemanfaatan lahan oleh masyarakat yang kompatibel dengan tujuan pengelolaan zona khusus taman nasional, antara lain sawah dan ladang dengan kompatibilitas sangat rendah, pemanfaatan jati dengan kompatibilitas rendah, pemanfaatan aren dengan kompatibilitas sedang, serta pemungutan kayu dan pemanfaatan aren dan getah pinus dengan tingkat kompatibilitas cukup. Dalam rangka mengoptimalkan kolaborasi pengelolaan zona khusus taman nasional, beberapa kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produktivitas tanaman aren, merehabilitasi semak belukar; menata dan memberi pal batas, membangun aturan pemanfaatan kawasan taman nasional oleh

Nilai Penting Taman Nasional | 121 masyarakat, membangun sistem kompensasi, melakukan pengayaan tanaman di bawah tegakan jati tanaman masyarakat, dan menggunakan pupuk organik (Sabar et al., 2011).

Contoh zona khusus lainnya seperti di TN Kerinci Seblat, antara lain Jorong Tandai dan Sungai Manau. Secara administratif, Jorong Tandai termasuk dalam Nagari Lubuak Gadang Timur dengan luas ±2.458 ha, dimana penduduk pertama bermukim sekitar tahun 1972 dan terdapat 333 unit rumah papan. Jalan dalam lingkungan Jorong merupakan jalan dengan pengerasan batu yang dibuat dan dipelihara oleh Pemda Kab. Solok Selatan sepanjang 3 km, dan jalan tembus Teluk Air Putih-Simpang BB sepanjang 12 km yang dibuat dan dipelihara oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sumatra Barat. Pemanfaatan lahan masyarakat umumnya berupa coklat, karet, durian, dan kayu manis, selain itu masyarakat juga mengandalkan kehidupan pada padi ladang, namun hasilnya tidak mencukupi karena panen padi 1 kali/per tahun dengan hasil 10 karung beras atau 200 kg/ha (Bismark et al., 2012). Tanamam karet rakyat berumur 5 tahun, menghasilkan 1 kg karet dan dijual dengan harga Rp7.000/kg. Untuk coklat dijual dengan harga Rp16.000/kg. Untuk menambah penghasilan, masyarakat juga bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp50.000/hari.

122 | M. Bismark dan Reny Sawitri

Jorong Sungai Manau (±338 Ha), wilayahnya sebagian besar berada di dalam kawasan taman nasional (75%) yang disebut Sungai Manau Atas, dan sebagian lainnya ada di luar kawasan yang disebut Sungai Manau Bawah. Sejak awal, pada zaman Belanda, Sungai Manau Atas sudah ditetapkan sebagai hutan lindung. Jumlah penduduk 71 kk, yang mana 48 kk di antaranya berada di dalam kawasan taman nasional menyebar sampai sekitar 5,5 km kearah perbukitan dan memanfaatkan lahan TNKS sebagai lahan mata pencaharian yang dikelola sebagai kebun dan sawah.

Gambar 19. Profil penggunaan lahan di dalam dan di luar kawasan TN Kerinci Seblat yang menjadi bagian wilayah Jorong Sungai Manau

Usulan zona khusus di TN Kutai merupakan kawasan hutan yang telah dirambah masyarakat dan terletak disepanjang jalan Bontang- Sangatta, seluas ±15.000 ha (tahun 2000), sedangkan tahun 2013 menurut zonasi TN Kutai ±18.831 ha (9,48%), tetapi dalam perkembangannya menurut Pemda luasnya menjadi ±23.712 ha (9,57%)(Balai Taman Nasional Kutai, 2013). Pengelolaan lahan oleh masyarakat tergantung landskap dan jaraknya dari rumah (Sawitri dan Karlina, 2013). Lahan garapan yang merupakan pekarangan rumah ditanami tanaman buah-buahan seperti mangga (Mangifera sp.), ceremai (Phyllathus acidus), jambu air (Syzygium aqueum), jambu biji (Psidium guajava), rambutan (Nephelium lappaceum), durian (Durio zibethinus), coklat (Cacao spp.), nangka (Artocarpus heterophylla),

Nilai Penting Taman Nasional | 123 papaya (Carica papaya), jeruk (Citrus sp.), alpuket (Persea americana), pisang (Musa sp.) dan kemiri (Aleurites mollucana). Disamping pekarangan rumah adalah daerah berawa yang dijadikan daerah persawahan dengan tanaman padi untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Selanjutnya, kawasan yang memiliki kelerengan 5–10% atau berjarak >0,5 km dari rumah ditanami dengan jenis tanaman perkayuan, seperti sengon (Paraserianthes falcataria), jati (Tectona grandis), jabon (Anthocephalus cadamba), mahoni (Swietenia macrophylla), gmelina (Gmelina arborea), dan ketapang (Terminalia cattapa); serta tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit (Elaeis guineensis) dan karet (Hevea brasilliensis).

Tabel 21. Pola usaha penduduk dari berbagai etnis di usulan zona khusus, TN Kutai

Parameter Asal Etnis (Etnic Origin)

Kutai Dayak Jawa Bugis Madura

Luas Garapan 2–5 ha 3–>10 ha 2–5 ha 4–10 ha 2–4 ha Jarak tempat tinggal ke lahan garapan 15 km 0–5 km 0,25–2 km 0,5–5 km 0,1–2 km Jarak tempat tinggal ke sungai 0–200 m 0–200 m 2 km 6 km 2 km Frekuensi

interaksi Enam bulan – setahun sekali Enam bulan -setahun sekali Setiap hari/ saat musim tanam 2 kali/

bulan Setiap hari Tujuan berinteraksi dengan TNK Mendapat-kan lahan garapan untuk kebun pisang dan karet Mendapat-kan lahan garapan untuk budi daya tanaman pangan semusim dan karet Mendapat-kan lahan untuk budi daya tanaman pangan semusim Mendapat-kan lahan garapan untuk budi daya tanaman pangan, buah-buahan, HHBK dan kelapa sawit Mendapat-kan lahan garapan untuk usaha batu bata dan ternak Teknik pembukaan lahan yang diterapkan Sistem tebang habis dan bakar Sistem tebang habis dan bakar Sistem tebang habis dan bakar Sistim tebang pilih dan bakar Sistem tebang habis Pola tanam

124 | M. Bismark dan Reny Sawitri

diusahakan di

lahan garapan - Tanaman pisang dan karet semusim - Padi dan Karet semusim semusim - Padi, buah-buahan, gaharu, kelapa sawit Sistim budi

daya Kurang intensif Kurang intensif Sangat intensif Intensif Sangat intensif Penggunaan

Jenis Pohon Ulin, meranti, kapur Ulin, meranti, kapur Ulin, meranti, kapur Ulin, meranti, kapur Semua jenis Pemanfaatan

satwa Ikan, punai, payau dan pelanduk Babi, ikan, punai, pelanduk Ikan Payau, pelanduk, punai, ikan Burung Jenis satwa yang sering dijumpai Orang utan, monyet,bua ya, berbagai jenis ikan Orang utan, monyet, buaya, berbagai jenis ikan Monyet, dan berbagai jenis burung Monyet dan berbagai jenis ikan Monyet, dan berbagai jenis burung Sumber: Analisis Data Primer 2013 dan Data sekunder, Sawitri el al., 2011

Pengamatan asal-usul masyarakat ini berkaitan dengan perilaku dan tipologi masyarakat yang merupakan konsep sangat penting terkait dengan seluruh segmen perbedaan sosial dan biologis secara signifikan termasuk aspek jender dan etnik seperti kesejahteraan, profesi, status, usia dan kelas (Mc Dougall, 2001). Pemanfaatan usulan zona khusus oleh masyarakat di gunakan sebagai lokasi pemukiman dan lahan usaha yang bersifat ekonomis minimal dua hektar. Penguasaan lahan usaha tersebut telah mengalami peningkatan, karena pada tahun 2001 setiap keluarga menguasai sekitar 1,25 ha dengan jenis tanaman berupa kemiri, pisang, kakao dan tanaman buah-buahan (Subarudi, 2001). Cara mendapatkan lahan untuk pemukiman di usulan zona khusus ini diantaranya adalah bedol desa pada masyarakat sekitar seperti Suku Dayak dan Kutai, mendapatkan kavling pemukiman dan lahan usaha seperti suku Bugis dan Jawa, membeli dari penduduk yang telah terlebih dulu bermukim dilakukan oleh suku Jawa dan pemberian saudara ditemui pada suku Bugis. Semntara itu, lahan usaha diperoleh dari pembagian kapling sekitar dua ha, membeli dari penduduk lainnya, membuka lahan secara bergotong royong sekitar 50 orang, dan membayar upah rintis sekitar Rp2.500.000.

Nilai Penting Taman Nasional | 125 Suku Dayak dan Kutai yang terdapat di usulan zona khusus TNK berasal dari daerah sekitar Kalimatan Timur, mayoritas merupakan petani yang berladang berpindah, sehingga pembukaan hutan yang dilakukan secara bersama-sama sekitar 50 orang dengan sistem tebang habis dan pembakaran, menguasai lahan rata-rata lebih dari 5 ha, tetapi pengelolaan lahan yang dilakukan kurang intensif, karena hanya dua ha yang ditanami padi ladang selama dua periode tanam atau dua tahun, setelah itu lahan akan ditanami karet atau dibiarkan dan menunggu pembeli untuk diperjual belikan. Kedua etnis ini tidak mendiami rumah di kawasan karena lokasi hutan dan sungai yang menjadi bagian dari sumber kehidupan untuk keperluan rumah tangga dan menangkap ikan agak jauh atau sekitar 1–2 km dari rumah (Uluk et al., 2001; Wibowo, 2008). Keberadaan suku Dayak dan Kutai di zona khusus TNK merupakan salah satu bentuk kecemburuan sosial terhadap pendatang dari suku lainnya yang telah terlebih dahulu mendiami kawasan, hal ini juga terjadi juga pada masyarakat lokal Serampas di TN Kerinci Seblat (Sirait, 2014).

Masyarakat dari Sulawesi yang umumnya termasuk Suku Bugis, merupakan masyarakat yang cukup mudah dalam mengadopsi teknologi dan merupakan masyarakat yang dapat berkegiatan di darat maupun di laut. Pengembangan kegiatan masyarakat di darat adalah mengelola lahan garapan untuk usaha pertanian padi ladang, pohon buah-buahan, pohon HHBK seperti gaharu (Aqularia sp.), tanaman umbi-umbian dan obat-obatan, disamping usaha sampingan berupa kegiatan warung dan berjualan bahan bakar. Kegiatan alternatif di laut juga dilakukan masyarakat yaitu budi daya rumput laut, perikanan laut dan ekowisata pantai yang masih direncanakan oleh masyarakat di Teluk Kaba dengan membentuk koperasi ekowisata Teluk Kaba (Sawitri dan Karlina, 2013).

Masyarakat yang berasal dari Jawa terdiri dari Suku Jawa yang bermukim di zona khusus dan memiliki pekerjaan tetap, kepemilikan lahan garapan berupa sawah maupun ladang dilakukan sebagai investasi maupun lahan garapan yang diusahakan secara intensif rata-rata seluas dua hektar dengan menanam karet, kelapa sawit serta padi sawah.

126 | M. Bismark dan Reny Sawitri

Masyarakat Madura yang berasal dari Pulau Madura memasuki kawasan TNK dengan berbekal ketrampilan pembuatan batu bata dan usaha sambilan berupa warung dan ternak jenis unggas maupun berbagai jenis burung seperti anis cacing ( Zoothera interpres) , anis merah (Zoothera citrine), jalak (Sturnus sp.), murai batu (Copsychus malabaricus) dan kucica (Saxicola caprata) sebagai satwa peliharaan.

Pemanfaatan kayu hutan untuk kayu bangunan seperti ulin, bangkirai, meranti dan kapur telah berkurang karena sudah semakin sulit karena patrol petugas TN Kutai yang semakin intensif, sedangkan untuk pembakaran batu bata digunakan kayu dari berbagai jenis yang ditemukan seperti laban (Vitex pubescens) dan makaranga (Macaranga triloba). Mata pencaharian masyarakat di zona khusus dan tingkat pendapatannya disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22. Jenis mata pencaharian masyarakat di zona khusus TN Kutai

No. Mata Pencaharian Jenis komoditi Pemanenan Pendapatan (Rp/bulan) 1 Petani Kelapa sawit/ha 1 kali/2 minggu 1.800.000–2.000.000

Karet/ha 1 kali/2 hari 3.900.000

Padi sawah/ha 1 kali/6 bulan 30.000.000–40.000.000 Padi lading/ha 1 kali/6 bulan 15.000.000–20.000.000 Buah-buahan - Pisang - Nangka dan sukun setiap saat 5 pohon/tahun 100.000–150.000 1.000.000

2. Nelayan Rumput laut 1 kali/bulan 4.000.000–21.000.000

3. Pengusaha Batu bata 1 kali/2 bulan 40.000.000–50.000.000 Rumah walet 1 kali/3 bulan 3.000.000–4.000.000

Warung Setiap hari 100.000–500.000

Salon Setiap hari 3.000.000–4.000.000

Sumber: Analisis Data Primer, 2013

Jenis komoditi yang diusahakan oleh masyarakat merupakan tanaman budi daya pertanian maupun hasil kelautan. Tanaman budi daya berupa kelapa sawit, karet, padi sawah, padi ladang serta buah-buahan telah dibudi dayakan melalui pembelian bibit yang berkualitas dan bersertifikat, agar waktu panen lebih dapat dipercepat. Demikian juga dengan pengolahan lahan yang dilakukan terutama pada waktu

Nilai Penting Taman Nasional | 127 penanaman padi sawah telah dilakukan dengan bantuan traktor tangan. Budi daya tanaman buah-buahan juga diarahkan untuk dapat diperjual belikan, bukan lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Buah-buahan tersebut bernilai ekonomis, diantaranya adalah pisang, durian, rambutan, alpuket, nangka, sukun, pepaya dan nanas. Hasil buah-buahan tersebut dipasarkan ke luar kawasan maupun di jalan raya Bontang-Sangatta.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan saat ini terjadi pergeseran jenis mata pencaharian dan tingkat ketergantungan. Kegiatan masyarakat saat ini telah mengalami perkembangan tingkat ekonomi dengan investasi modal yang cukup besar. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Gunawan dan Jinarto (2007) yang menyatakan bahwa kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam di TNK diantaranya adalah pemanfaatan tumbuhan obat, tumbuhan hias, kayu bakar, kayu bangunan, buah-buahan, bahan makanan, bahan kerajinan, pakan ternak, dengan waktu tempuh untuk mendapatkannya sekitar 2–45 menit. Pemanfaatan tumbuhan obat terdiri dari pasak bumi (Eurycoma longifolia), akar kuning (Coscinium fenestratum Gaertn), daun jambu mete (Annacardium occidentale), dan buah baru (Osbornia octodonta F.v. Muell) tumbuhan hias terdiri jenis-jenis anggrek;bahan makanan seperti umbut rotan dan buah-buahan hutan serta bahan kerajinan seperti rotan sudah tidak dilakukan lagi karena sumber daya yang ada semakin jauh ke dalam hutan, kawasan hutan telah dikonversi menjadi lahan usaha berupa perkebunan karet dan kelapa sawit dan waktu tempuh ke hutan saat ini 2–3 jam perjalanan (Sawitri & Karlina, 2013).

Pemanfaatan usulan zona khusus TNK sebagai lahan usaha dapat dibagi menjadi pertanian/perkebunan, persawahan, pembuatan batu bata, investasi rumah walet, perdagangan dan ekowisata.

Kesuburan lahan di kawasan ini memiliki kesuburan yang lebih rendah dari hutan alam di kawasan Prevab. Hal ini diindikasikan dengan rasio antara C/N, nilai kation-kation yang dapat ditukar, dan tekstur tanah yang lebih banyak mengandung sebaran butiran tanah liat (Tabel 23).

128 | M. Bismark dan Reny Sawitri

Tabel 23. Kesuburan tanah di kawasan Prevab dan Sangatta Selatan No. Parameter Pengujian Satuan (Unit) Prevab Sangatta Selatan

1. pH - 5.4 4.0

2. C organik % 0,93 0,25

3. N total % 0,15 0,08

4. Rasio C/N - 6,2 3,1

5. P2O5 tersedia Ppm 1,2 2,0

Kation-kation dapat ditukar (Cations can be changed)

6. Ca cmol/kg 6,61 0,30 7. Mg cmol/kg 2,37 0,29 8. K cmol/kg 0,18 0,21 9. Na cmol/kg 0,25 0,22 10. Total cmol/kg 9,41 1,02 11. KTK cmol/kg 17,82 14,82 12. KB % 52,81 6,88 13. Al3+ me/100g 0,00 10,27 14. H+ me/100g 0,24 2,85

Sebaran butir (Distribution of grain) (Tekstur 3 fraksi, three fraction tecture)

15. Pasir % 38,7 22,8

16. Debu % 28,5 18,3

17. Liat % 32,8 58,9

Berdasarkan data kesuburan tanah, kedua jenis tanah diatas termasuk pada kelas S1 dan S2 cocok digunakan sebagai tanah perkebunan dan kebun buah-buahan walaupun C organiknya termasuk rendah (0,25–0,93%) karena tanaman pisang menhendaki C organik 1,12% dan kelapa 1,7–2,1 % (Ritung et al., 2007)

Perkebunan kelapa sawit sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena harga jual buah kelapa sawit yang cukup rendah dan mahalnya ongkos angkut, berganti menjadi perkebunan karet. Pemilihan tanaman karet didasarkan pada pendapatan harian dan salah satu mata pencaharian suku Dayak (Maryati, 2011). Tanaman karet saat ini telah berumur 3-5 tahun dan telah dapat diteres untuk diambil getahnya (Gambar 20).

Nilai Penting Taman Nasional | 129 Gambar 20. Perkebunan karet dan getah karet

Usaha perkebunan karet rakyat di usulan zona khusus TN Kutai telah memberikan dampak terhadap pengelolaan lahan, antara lain sebagai berikut.

a. Perubahan lansekap dan keragaman jenis dari ekosistem hutan alam menjadi lahan perkebunan.

b. Intensifikasi pengelolaan lahan dan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan.

c. Penghasilan meningkat karena harga jual karet lebih baik dan dapat disimpan menunggu harga jual yang lebih baik.

d. Daerah jelajah satwa liar, khususnya satwa arboreal akan semakin meluas karena daun karet memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi sebagai sumber pakan satwa (Garsetiasih, 2012): bahan kering (91,27%), abu (6,32%), protein (18%), serat kasar (44,05%), lemak kasar (2,04%), Beta-N (23,14%), Ca (0,15%), P (0,36%), Cu (3,61%), Zn (26,76%) dan Energi (3264); serta sebagai pohon sarang seperti yang telah dilakukan oleh orang utan di perkebunan karet pada areal pasca tambang KPC (Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, 2009).

e. Memicu konflik antara satwa dengan manusia apabila satwa liar dianggap sebagai hama tanaman sehingga kepadatan sarang orangutan termasuk rendah, yaitu di kawasan sebelah Timur jalan Propinsi Bontang-Sangata adalah 1,044 individu/km2 dan 1,606

130 | M. Bismark dan Reny Sawitri

individu/km2 dan di sebelah Barat adalah 0,08 individu/km2 dan 0,13 individu/km2 (TN Kutai, 2008).

Persawahan dilakukan pada lahan basah yang berawa ataupun lahan kering dengan jenis tanaman padi darat dan padi sawah. Pengolahan lahan telah menggunakan traktor tangan bantuan Dinas Pertanian dan swadaya, seperti di kelompok tani masyarakat “Setuju Jaya” beranggotakan 21 orang yang telah memiliki 3 traktor tangan. Hasil padi sawah untuk satu ha sekitar 3-3,5 ton gabah, dengan harga jual beras Rp8.000/kg, sedangkan padi darat yang ditanam di bawah tanaman karet sampai umur 3 tahun dengan luas lahan satu ha menghasilkan 2–3 ton dengan harga jual beras Rp5.000–6.000/kg. Perubahan lansekap hutan rawa menjadi areal persawahan menyebabkan konflik satwa liar dengan manusia, hal ini ditemukan beberapa buaya di pemukiman masyarakat seperti di Kecamatan Teluk Pandan (Bina Kelola Lingkungan, 2007). Selain itu, perubahan lansekap tersebut mengakibatkan banjir dari luapan anak sungai (Gambar 21).

Mengacu pada penataan ruang di usulan zona khusus yang meliputi areal pemukiman, areal pemanfaatan dan areal lindung (Balai TN Kutai, 2010), maka usulan zona ini dibagi ke dalan zona atau jalur budi daya, jalur interaksi atau jalur hijau disepanjang jalan Poros Bontang –Sangatta sepanjang 68 km (Balai TN Kutai, 2010), (Tabel 24). Lokasi pemukiman atau kawasan budi daya, apabila diplotkan pada lahan di kiri kanan jalan sepanjang Bontang-Sangatta selebar 250 m,

Gambar 21.

Banjir yang terjadi di Teluk Pandan akibat luapan anak sungai dan perubahan lansekap kawasan

Nilai Penting Taman Nasional | 131 akan menempati luas 3.400 ha atau 18,06% dari usulan zona khusus seluas 18.831 ha.

Tabel 24. Pembagian jalur di usulan zona khusus TN Kutai

Zonasi

Lebar kiri-kanan Jalan

Komponen Potensi Manfaat Ekonomi Manfaat Ekologi Jalur Budi

daya 250 m Areal budi daya, pemukiman, fasilitas umum 1.Hortikultur 2.Perikanan 3.Sayuran 4.Buah-buahan 5.Peternakan 6. Pohon kayu 1.Pendapatan masyarakat 2.Sumber gizi 3.Pendapatan daerah Pelestarian In-situ Jalur

Interaksi 251-750 m Kebun rakyat, Hutan produksi, perkebunan 1.Habitat satwa 2.Buah-buahan 3.Budi daya pohon 4.Agrowisata 5.Herbal 6.Penangkaran anggrek, rotan 7.Kelapa sawit, karet dan gaharu 1.Pendapatan masyarakat 2.Sumber gizi 3.Industri kayu 4.Industri pertanian 5.Industri tanaman obat 6.Budi daya tanaman hias 7.Jasa lingkungan 8.Wisata budaya 1.Biodivesitas fauna dan flora 2.Pelestarian sumber air 3.Habitat satwa 4.Pelestarian in-situ Konservasi lahan 5.Kearifan tradisional Jalur Hijau >751 m Hutan alam,

sungai dan anak sungai 1.Habitat satwa 2. Sumber air 3.Wisata alam 1.Sumber pendapatan 2.Jasa lingkngan: air 3.Wisatawan dan lapangan pekerjaan 1.Biodiversitas perairan 2.Pelestarian sumber air 3.Nilai lingkungan 4.Konservasi DAS

Zona interaksi selebar 251–750 m yang merupakan areal pemanfaatan. Hal ini berdasarkan kemampuan masyarakat dalam mengolah lahan garapan seluas dua ha sedangkan sisanya dibiarkan dalam bentuk lahan tidur, dibedakan antara persawahan; perkebunan karet, gaharu dan kelapa sawit; rumah walet dan pembuatan batu bata, akan mencakup luasan 6.800 ha atau 36,11% dari luas usulan zona khusus. Di dalam kawasan ini dapat disisipkan kantong-kantong habitat satwa/HCVF sebagai daerah pengungsian satwa liar dengan jenis

132 | M. Bismark dan Reny Sawitri

tanaman perkayuan lokal dan tanaman pakan satwa liar marga Ficus (Ancrenaz, 2013).

Kawasan lindung atau green belt lebih dari 751 m atau 45,83% dari usulan zona khusus diplotkan sepanjang batas antara usulan zona khusus dan zona rehabilitasi difungsikan sebagai habitat satwa liar perairan terutama buaya (Crocodylus porosus) sebanyak 27 individu yang terdapat di Telaga Bening seluas 300 ha (Gambar 22) yang dapat dikembangkan sebagai pemanfaatan jasa lingkungan air dan wisata atraksi buaya. Kegiatan ini dapat melibatkan masyarakat dan mitra Kutai seperti PT Badak LNG, PT Kaltim Prima Coal, PT Pupuk Kaltim dan Pertamina dalam

konservasi dan

membangun ekonomi alternative berbasis konservasi (Archive, 2007)

Pembinaan dan pendampingan masyarakat di usulan zona khusus perlu dilakukan, walaupun status pengelolaan kawasan ini masih dalam usulan, untuk mengantisipasi perambahan dan kerusakan kawasan. Kegiatan tersebut diantaranya adalah sosialisasi tentang zonasi terutama usulan zona rehabilitasi, zona pemanfaatan dan zona khusus yang kegiatannya dapat melibatkan masyarakat di secara langsung untuk berpartisipasi aktif dalam konservasi. Masyarakat di usulan zona rehabilitasi dapat ikut serta dalam kegiatan restorasi, seperti pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Masyarakat di usulan zona pemanfaatan dapat membentuk koperasi yang bergerak dalam pengembangan wisata alam, sedangkan masyarakat yang telah membentuk kelompok kegiatan di usulan zona khusus memerlukan pembinaan kelembagaan dan pendampingan pengembangan kegiatannya (Tabel 25).

Gambar 22.

Nilai Penting Taman Nasional | 133 Tabel 25. Kelompok kegiatan masyarakat di usulan zona khusus TN Kutai

No. Kelompok Lokasi Keterangan

1. Nyiur Desa Kondolo, Pembuatan gula aren

Kecamatan Teluk Pandan

2. Setuju Desa Sangatta Lama, Pertanian Kecamatan Sangatta

Utara

3. Teluk Kaba Desa Teluk Kaba, Rumput laut dan ekowisata Kecamatan Teluk

Pandan 4. Pangkang

Lestari Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Pembibitan bakau dan tambak kepiting bakau Selatan

Dalam dokumen M. BISMARK dan RENY SAWITRI (Halaman 141-154)