BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Kakak Batik Karya Kak
4.2.3 Nilai Pendidikan Religius
Menurut Rosyadi (dalam Yusanfri, 2013:12) nilai pendidikan religius merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara
total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan. Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual.
Nilai-nilai pendidikan religius yang terdapat dalam novel Kakak Batik yaitu, cinta kepada Allah, ikhlas, sholat, beribadah, bersyukur, mohon ampun dan berdoa.
Rasa syukur disampaikan tidak hanya karena mendapatkan hal-hal yang besar dari Tuhan, tetapi juga dalam hal-hal kecil yang berpengaruh dalam kehidupan. Mengenal seseorang yang berbaik hati dan mau menerima merupakan hal yang patut disyukuri.
”…Adi sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang seperti
mas Tirta. (Kak Seto:17).”
Adi bersyukur, karena meskipun menerima kecaman dari orang-orang yang tidak mendukungnya, tidak sedikit pula pihak yang memberikan dukungan moril kepada Adi untuk terus melanjutkan perjuangannya bagi perlindungan anak atas bahaya rokok. Malam harinya dia kembali duduk di depan mesin tiknya untuk menulis artikel berikutnya dengan nada yang lebih berani. (Kak Seto:235)
Mendoakan orang yang disayangi merupakan cara yang digunakan agar Allah tetap melindungi ketika tubuh saling berjauhan. Adi merupakan sosok yang rajin berdoa dan berserah kepada Allah. Berharap merupakan bentuk doa agar ke depannya bisa terlaksana dengan baik tanpa halangan.
Saat ini yang bisa Adi lakukan hanyalah berdoa sebanyak-banyaknya kepada Allah, agar ibunya selalu diberikan perlindungan dan Ari kembarannya dapat menjaga ibu mereka sebanyak-banyaknya.(Kak Seto:18).
”Insya Allah bisa, Mas. Aku harus mengumpulkan uang untuk biaya kuliahku nanti. Selain itu, aku juga bisa sambil belajar tentang anak
-anak yang perlu perlakuan khusus seperti -anak majikanku itu.” Adi
meyakinkan Mas Tirta dengan pernyataannya. Adi bertahan dengan pola pikirnya, tidak apa-apa saat ini dia harus bekerja keras membanting tulang. Yang terpenting, cita-citanya melanjutkan pendidikan ke Universitas Nusantara bisa terlaksana demi masa
depannya kelak.” (Kak Seto:48)
Sebagai seorang umat muslim, tokoh Adi tidak lupa sholat. Meskipun fisiknya sedang lemah, ia tetap melaksanakan kewajibannya untuk sholat. Dia menyampaikan segala permohonannya kepada Allah sebagai sumber kehidupan. Sesibuk apapun, Adi tetap menyempatkan diri untuk sholat sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah.
Adi tersentak dengan berkumandangnya suara azan Subuh yang bersahutan dengan masjid dekat tempat tinggal majikannya.
Tubuh Adi menggigil saat masuk ke kamar mandi. Tangannya bergetar ketika hendak mengambil air wudu. Kelelahan secara fisik dan berpikir terlalu keras membuat kondisi badannya melemah. Adi membentangkan sajadahnya untuk melaksanakan shalat Subuh. Dia siap untuk melampiaskan segala keluh kesah, segala permohonan, dan
rasa syukurnya kepada Sang Pemilik Kehidupan.” (Kak Seto:59) Suara azan Zuhur terdengar bersahutan. Adi menyempatkan diri melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim, sebelum melanjutkan perjalanannya ke studio televisi.(Kak Seto:96)
Banyak orang menganggap Allah tidak adil ketika sedang berhadapan dengan masalah. Kadang-kadang orang kehilangan harapan ketika masalah bergantian menghampiri. Berbagai pertanyaan bermunculan ketika sedang menghadapi masalah.
Keberadaan Inna dalam masalah besar memberi pelajaran beharga bagi pembaca, yakni agar tetap menyerahkan diri kepada Allah.
Sesaat Inna merasa Tuhan tidak berpihak pada nasib orang-orang kecil seperti mereka. Mengapa Allah menciptakan manusia yang jauh lebih kuat daripadanya dan merampas semua kebahagiaan hidupnya? Siapa yang mau memiliki utang begitu besar? Tidak ada. Tapi, keadaan memaksa ayahnya harus berutang. Dan, mengapa utang itu justru menjadi malapetaka yang memorakporandakan kehidupan keluarganya, bukan malah meringankan? Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Inna, tanpa bisa dia jawab. Tangan kanan Inna mencengkeram tangan ayahnya lebih erat. Sementara, tangan kirinya meremas-remas terali besi, seakan ingin mempretelinya satu per satu dan membawa ayahnya pergi sejauh-jauhnya dari pengapnya ruang tahanan. Inna menutup matanya, dia tak sanggup lagi menghadapi cobaan yang begitu berat ini. Pernikahan akan dia percepat dalam waktu satu bulan. (Kak Seto:206)
Allah selalu menyadarkan umat-Nya dari prasangka buruk. Melalui siapa saja dan apa saja, manusia bisa disadarkan-Nya. Inna merasa malu dan memohon ampun karena telah berpikiran buruk kepada Allah. Ia menemukan jalan keluar dari permasalahannya, dan mengambil keputusan dengan berani bahwa ia tidak akan mau menikah dengan Dhika.
Inna merasa malu. Dia mohon ampun atas buruk sangkanya terhadap Allah sebelumnya. Melalui perantara kunang-kunang itu, Tuhan rupanya telah membuka mata, hati, dan pikiran Inna. Timbul kebulatan tekad dari dalam jiwa Inna. Dia akan mengubah nasibnya yang berujung pada perubahan nasib keluarganya pula. Tersungging senyum simpul di bibir tipis Inna. ”Dhika, jangan pernah mimpi untuk memilikiku!” gumam Inna tegas.
Inna juga melaksanakan kewajibannya memenuhi seruan Ilahi sebagai seorang muslim. Ia menyadari kekuasaan Allah dalam hidupnya dan ia bisa kembali tersenyum dengan melihat keindahan alam yang diciptakan Tuhan. Apapun
keadaannya, baik ketika hidup menyenangkan atau tidak, sudah seharusnya manusia berserah kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Gema azan Subuh berkumandang, Inna membuka matanya, kemudian memaksakan diri bangkit dari tempat tidurnya untuk memenuhi seruan Ilahi. Sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Inna membuka tirai jendela kamarnya terlebih dahulu, kemudian sejenak berdiri mematung di depan jendela, memandangi keindahan fajar menyingsing di ufuk timur. Inna menyunggingkan senyum di bibir mungilnya. Melihat keindahan alam subuh menyadarkan Inna akan kekuasaan Allah, dan membangkitkan gairah tersendiri dalam jiwa Inna untuk menyambut hari-harinya ke depan dengan penuh keyakinan. Dan, apa pun keadaannya, baik ketika hidup terasa menyenangkan ataupun ketika hidup mulai terasa hampa dan rapuh, sudah seharusnya manusia kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.(Kak Seto:220)