ATMA – SANG JIVA (ROH)
3. Nitya Siddha (Roh Bebas) dan Nitya Baddha (Roh Terikat) Di dunia ini ada dua macam keberadaan sang roh, yaitu yang satu
3. Nitya Siddha (Roh Bebas) dan Nitya Baddha (Roh Terikat) Di dunia ini ada dua macam keberadaan sang roh, yaitu yang satu roh terikat. Artinya sang roh diikat oleh triguna (satvam, rajas tamas) tidak bisa lepas selamanya. Yang satu lagi adalah roh yang bebas, ia tidak diikat oleh triguna. Ia bebas, karena ia telah melaksanakan tugas kewajibannya dengan benar. Sedang roh yang terikat tidak melakukan tugas kewajibannya, alias malas.
Tugas kewajiban yang hakiki dari manusia adalah mengabdi, tugas ini tidak terbantahkan. Setiap orang di dunia ini pasti sebagai abdi atau pelayan. Kitab suci mengatakan bahwa kewajiban yang telah ditetapkan bagi sang roh adalah melibatkan diri dalam kegiatan (lila) TYM, atau kegiatan penyembahnya, karena roh adalah abdi TYM maka harus ikut serta dalam kegaiatan majikannya. Sebagai abdi Tuhan Yang Mahaesa itulah dharma manusia yang sesungguhnya.
Secara tegas kewajiban itu diuraikan dalam system varna asrama. Manusia yang mengikuti atau melaksanakan tugas kewajibannya dengan benar, ia akan menjadi roh yang nitya siddha, yaitu bebas dari pengaruh maya, tidak terikat dengan hal-hal material, Jadi ia telah berada pada kedudukan yang benar (kris-nera nitya dasa–pelayan Tuhan yang
kekal). Dalam pengertian yang lebih luas adalah pelayan dari pelayan Tuhan (dasa dasa anu dasa).
Sedangkan yang lain, yang tidak melakukan tugas kewajiban yang telah ditetapkan, ia akan diikat selamanya di dunia material ini, berusaha keras untuk hidup, tidak dapat mencapai pembebasan. Pergi naik ke alam yang lebih tinggi-surga, habis menikmati disana, turun lagi ke bawah sampai ke naraka. Pergi naik turun dengan mendapatkan berbagai macam badan. Badan ikan, badan burung, badan hewan, badan manusia, raksasa, deva dan lainnya. Begitu terus silih berganti dalam 8.400.000 jenis badan. Roh semacam ini disebut nitya baddha, mengalami berkali kali reinkanasi/samsara/pergantian badan (baca Bg. bab 9, sloka: 20-21). Tidak bisa terhindar dari: Janma (lahir), mrtyu (mati), tua (jara) dan penyakit (vyadhi). Bagi roh hanya ada dua pilihan, melayani Tuhan atau tidak melayani Tuhan (melayani maya). Tidak ada melayani maya dan juga melayani Tuhan. Atau mencari moksa dengan mengembangkan nafsu–kama. Tidak ada keterangan dalam kamus Weda.
Secara umum umat Hidu di Indonesia mengenal evolusi badan secara terbatas, dengan istilah Ingkel yaitu : wong (manusia), sato (binatang), mina (ikan), manuk (aves), taru (pohon), buku (tanaman berbuku). Padahal penderitaan di alam material ini mulai dari indra sampai gopha. Filsuf Barat-Darwin mengatakan manusia berasal dari moyet. Badan sebetulnya juga berevolusi, dari badan binatang air meningkat sampai badan Dewa.
Sang jiwa memendam icca–keinginan menikmati sendiri, dan
dvesa–keengganan melayai TYM. Icca dvesa samutthena sarge yanti parantapa–ingin menikmati sendiri (seperti Tuhan) dan enggan melayani Tuhan (ingin menjadi Tuhan) maka sang mahluk hidup jatuh ke alam material (Bg. 7.27). Sifat seperti ini harus dihilangkan dari dalam pikiran, dan dari hati yang paling dalam, dengan cara belajar banyak mendengar Kitab suci Veda, seperti telah dinyatakan dalam Sb. 1.7.7 sebagai berikut,
yasyam vai sruyamanayam krsne parama-puruse bhaktir utpadyate pumsah soka-maha- bhayapaha
“Hanya dengan menerima literatur Veda ini, melalui cara mendengar, perasaan untuk melakukan pelayanan bhakti dengan cinta kasih kepada Sri Krishna Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, segera terwujud, untuk memadamkan api penyesalan, illusi dan rasa takut”. Dasar bhakti itu adalah mendengar kitab Veda, yang dapat dilakukan dengan menggunakan pantat kita untuk duduk mendengarkan kitab suci atau membaca kitab suci. Pelayanan dalam cinta kasih kepada Tuhan dimulai dari mendengar tentang DIA. Cara ini merupakan cara yang sangat sederhana tapi efektif. Belajarlah untuk mendengar dengan baik, kemudian akan memperoleh perkembangan cinta murni kepada Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan pelayanan kepada bhagavata dengan tunduk hati.
4. Mujurnya Badan Manusia
Alam menyediakan 8.400.000 jenis badan (Padma Purana). Dari 8.400.000 jenis badan, 400.000 jenis manusia (termasuk dewa dan raksasa). Badan manusia merupakan jenis badan yang sangat sulit untuk diproleh. Kitab suci mengatakan durlabham manusam janma. Kita harus berevolusi melalui 8 juta jenis badan, baru kemudian mendapat kesempatan mendapat badan manusia sekali saja. Berevolusi dalam 8 juta jenis badan memerlukan waktu berjuta-juta tahun, sangat lama.
Sb. 7.6.1 mengatakan :
sri-prahrada uvaca,
kaumara acaret parjno, dharman bhagavatan iha durlabham manusam janma, tad apy adhruvam arthadam
“Prahlada Maharaja berkata : Orang yang cukup cerdas, hendaknya menggunakan kelahiran sebagai manusia sejak dari kecil mempraktekkan pelayan bhakti, meninggalkan kesibukan lainnya. Badan manusia sangat jarang diperoleh, walaupun besifat sementara seperti badan mahluk lainnya, tetapi sangat berarti karena dalam kehidupan sebagai manusia, orang bisa melakukan pelayanan bhakti. Walaupun sebentar saja, pelayan bhakti dapat memberikan kesempurnaan”.
Sloka ini menunjukkan kemurah hatian Tuhan untuk memberikan badan manusia bagi sang roh, dan menganjurkan agar menggunakan kesempatan kelahiran sebagai manusia untuk melakukan pelayanan bhakti kepada TYM. Karena dengan badan manusialah bhakti mulai tumbuh. Badan manusia bagaikan kapal yang sangat andal untuk menyeberangi lautan kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Sementara mahamantra (japa mantra) sebagai angin yang mendorong lajunya perjalan kapal, sedangkan sang guru kerohanian sebagai nahoda kapal tersebut agar kapal terarah dalam menyeberangi glombang lautan kelahiran dan kematian untuk mencapai tempat yang dituju yaitu alamat Tuhan.
Dalam Sb. 1.2.10 dicamtumkan tujuan hidup manusia; kamasya nendriya pritir, labho jiveta yavata jivasya tattvajijnasa, nartho yas ceha karmabhih
“Tujuan hidup hendaknya tidak pernah diarahkan menuju kepuasan indera material/indrawi. Sebaiknya orang hanya menginginkan pembebasan diri, sebab manusia dimaksudkan untuk dapat bertanya tentang Kebenaran Mutlak. Inilah, tidak ada hal lain yang menjadi tujuan pekerjaan seseorang.”
Kedudukan dasar sang roh/jiwa adalah sebagai abdi dari TYM– Krshna, seperti dinyatakan dalam Cc Madya 20.108, Jivera svarupa haya krsna nitya dasa–kedudukan sejati (svarupa) sang jiwa (mahluk hidup) adalah sebagai pelayan kekal Tuhan Krshna. Ekale isvara krsna ara saba bhrtya- penguasa/pengendali hanya satu yakni TYM–Krshna, semua mahluk lain adalah pelayanNYA (Cc Adi 5.142)
Ada ayat yang sangat baik sekali sehubungan dengan hal ini : tyaktva sva-dharmam caranambujam harer, bhajann
apakvo ‘tha patet tato yadi
yatra kva vabhadram abhud amusya kim, ko varta apto ‘bhajatam sva-dharma-tah
“Kalau seseorang meninggalkan tugas-tugas kewajibannya dan bekerja dalam bhakti kemudian jatuh karena belum menyelesaikan pekerjaannya, apa kerugiannya? Sedangkan apa keuntungan kalau seseorang melakukan kegiatan materialnya secara sempurna?” (Sb.1.5.17).
Kegiatan material hasilnya berakhir pada saat badan meninggal. Tetapi kegiatan dalam bhakti membawa seseorang sampai pada kesadaran Tuhan (melanjutkan bhakti), bahkan setelah dia kehilangan badannya. Sekurang-kurangnya seseorang pasti mendapatkan kesempatan untuk dilahirkan lagi sebagai manusia dalam penjelmaan berikutnya, baik lahir dalam keluarga brahmana yang mempunyai kebudayaan tinggi,
atau lahir dalam keluarga bangsawan kaya raya yang memberikan kesempatan kepadanya untuk maju lagi dalam melanjutkan bhakti. Itulah sifat istimewa pekerjaan yang di lakukan dalam bhakti. Pekerjaan dalam bhakti juga disebut bhakti yoga atau bhkati marga.
Selanjutnya keuntungan dalam bhakti yang murni yaitu sudah sampai pada penyerahan diri kepada Tuhan, diuraikan dalam sloka berikut :
devarsi-bhutapta-nrnam pitrnam, na kinkaro nayam rni ca rajan sarvatmana yah saranam saranyam, gato mukundam
parihrta kartam
“Orang yang sudah menyerahkan diri kepada Tuhan Mukunda, dengan menyerahkan tugas kewajiban lainnya, tidak berhutang lagi, dan dia juga tidak mempunyai kewajiban terhadap seseorang–baik kepada para dewa, kepada rsi-rsi, rakyat umum, sanak saudara, manusia maupun leluhur” (Sb. 11.5.41). Bhakti itu sangat tangguh, sedangkan kegiatan lainnya tidak berarti apa apa. Dalam Caitanya Carita-mrta Madya (CC madya) 24.93, dikatakan,
aja-gala-stana-nyaya
“Terkecuali bhakti, segala jenis metode keinsafan diri adalah ibarat puting susu di leher seekor kambing. Orang yang cerdas hanya akan menjalani bhakti, meninggalkan segala proses keinsafan diri lainnya”. Putting susu dileher kambing artinya usaha yang tidak akan menghasilkan apapun. Lewat pelaksaan bhakti marga seseorang bisa menyadari Tuhan dalam hidupnya. Ramakrisna Paramahamsa mengatakan mereka yang lahir dalam keluarga manusia yang sangat
sulit diperoleh, tidak menyadari Tuhan dalam hidupnya, adalah mereka lahir dalam ke sia-siaan, mengalami kegagalan dalam hidup ini.
Tidak menggunakan kesempatannya mendapat badan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup, malahan merosot. Ingat kelahiran sebagai manusia sangat sulit, dengan perjuangan yang keras dalam waktu yang begitu lama, terbuang begitu saja.