1. Tertib Sosial Masyarakat Hindu
Warnasrama dharma merupakan institusi/system masyarakat Veda yang mengatur masyarakat menjadi empat golongan menurut mata pencaharian dan empat golongan rohani (varna dan asrama). Lembaga ini disusun agar kita manusia dapat hidup sejahtera, harmoni di dunia ini, dan kembali pulang ke pada TYM, setelah meninggalkan dunia ini. Unsur-unsur warna asrama dharma ini ada didalam lima bahasan utama ajaran agama Hindu, yang tercantum dalam kitab Dharma sastra, sebagai kitab hukum agama Hindu.
Menurut kitab Dharma sastra, ada lima bahasan utama dalam ajaran agama Hindu, terdiri dari:
1. Murti (pemujaan kepada arca Tuhan)
2. Dharma (etika dan kewajiban)
3. Samsara/punarbawa (lahir kembali)
4. Karma (kegiatan/pekerjaan/aktifitas), dan
5. Moksa (pembebasan/ketidak terikatan)
Lembaga warna dan asrama ini adalah lembaga ilmiah yang tercantum dalam Kitab Dharma sastra maupun dalam kitab Srimad-bhagavatam (Sb) 1.2.13.
atah pumbhir dvija-srestha, varnasrama-vibhagasah svanusthitasya dharmasya, samsiddhir hari-tosanam
“Karena itu disimpulkan bahwa kesempurnaan tertinggi yang dapat dicapai seseorang yaitu dengan melaksanakan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan untuk pekerjaannya menurut pembagian golongan dan tahap-tahapan hidup, adalah untuk menyenangkan Hari- Personalitas TYM.”
Dalam sloka ini terdapat dua macam golongan masyarakat Hindu, dan semua golongan itu mempunyai tujuan-tugas kewajiban (dharma) memuaskan TYM. Jika Warnasrama dharma itu diselewengkan yaitu tidak untuk memuja atau memuaskan Tuhan, maka tujuan dari lembaga itu tidak tercapai. Lalu bagaimana kalau institusi ini tidak sempurna atau malah tidak ada? Tujuan hidup tidak tercapai dengan kata lain hidup ini gagal mencapai sukses.
Warna-asrama dharma terdiri dari dua golongan, yaitu :
2. Catur Warna (Empat Tertib Profesi) (baca Bg.4.13 dan bab
18.41-44)
Tiga sifat alam (tri guna) membagi masyarakat (Hindu) menjadi empat profesi. Agar masyarakat sempurna, maka empat tertib ini harus dibangun di dalam masyarakat. Maksud dari pembagian masyarakat ini adalah untuk mengangkat manusia dari tingkat mental hewan/binatang, untuk selanjutnya dapat sadar dengan keberadaan TYM. Kalau salah satu warna tidak ada, maka masyarakat itu tidak sempurna.
Maksud dari lembaga warnasrama itu adalah untuk mendidik masyarakat manusia untuk melakukan pemujaan yang benar kepada Sri Visnu, sehingga semua orang bisa pulang ke dunia rohani tepat pada waktunya.
Empat profesi tercantum dalam Bg. 18.41.
bramana-ksatrya-visam sudranam ca parantapa karmani pravibhaktani svabhava-prabhavair gunaih
“Para brahmana, para ksatrya, para vaisya, dan para sudra, dibedakan oleh ciri-ciri yang dilahirkan dari watak-watak mereka sendiri menurut sifat-sifat material, wahai penakluk musuh”.
1. Brahmana (rohaniwan, guru dari golongan lainnya)=kepala.
Sifatnya : damai, pengendalian diri, pertapaan, suci, toleransi, berpengetahuan veda (mengetahui Brahman-Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama), bijaksana, agamawan (Bg. ) Golongan ini dipengaruhi oleh sifat satvam. Status Brahmana diperoleh
jika sudah medwijati (inisiasi dua kali). Dalam Manu samhita dikatakan kuwajiban pokok para brahmana adalah : mempelajari kitab suci Veda, memuja Arca Tuhan, dan berderma (danam). Mengajar masyarakat tentang prinsip-prinsip agama berdasarkan kitab suci. Jika dalam keadaan tertentu, seorang brahmana tidak bisa me-langsungkan kehidupannya, ia boleh beralih profesi menjadi Vaisya atau Ksatrya. Tidak boleh berprofesi sudra. Brahmin mempunyai tanggung jawab besar terhadap kemajuan rohani atau agama warga masyarakat.
2. Ksatrya (administrasi pemerintahan, tentara, pemimpin) = badan/
tangan: kepahlawanan, kekuatan, tekad, tangkas, berani di medan tempur, dermawan, dan leadership. Melindungi wanita, orang tua, anak-anak, brahmana dan sapi. Bela Negara dan mempertahankan, membela kebenaran dan keadilan. Golongan ini dipengaruhi oleh sifat rajas. Kuwajiban pokoknya adalah : memungut pajak, melaksanakan denda, melindungi warga Negara (termasuk hewan), berderma, dan tidak boleh menerima sumbangan. Jika klas ini tidak bisa menyambung hidupnya karena sesuatu hal, ia boleh mengambil profesi sebagai Vaisya. Jangan sesekali mengenakan denda kepada para Brahmin. Brahmin tidak boleh mende-rita hukuman pisik.
3. Vaisya (wirausahawan/bisnismen/pedagang, petani,peternak) =
perut. Dengan sifat : bercocok tanam (pertanian), melindungi sapi (peternakan), pedagang. Golongan ini dipengaruhi oleh sifat rajas dan tamas. Golongan ini berfungsi memajukan perekonomian masyarakat, negara. Dia harus taat untuk membayar pajak, membayar denda. Pada prinsipnya mengikuti kebijakan brahmana dan ksatrya, bercocok tanam, berdagang, memelihara sapi.
4. Sudra (buruh/karyawan)=kaki, dengan sifat : sebagai pelayan bagi
yang lain. Golongan ini dipengaruhi oleh sifat tamas. Golongan ini setia melayani tiga warna lainnya. Prinsipnya mendukung kegiatan para brahmana, ksatrya, vesya, dan sebagai penyedia tenaga kerja (pelayan). Menjaga kebersihan, jujur, tidak munafik,
melakukan korban suci tanpa mengucapkan mantra-mantra, pantang mencuri, mengurusi segala keperluan bagi perlindungan sapi, dan para brahmana.
Setiap golongan ini mempunyai tugas kewajiban (job description) yang telah ditetapkan (sesuai swadharmanya). Tiap golongan tidak boleh mendominasi golongan lainnya. Semua berjalan bersama-sama. (untuk jalasnya baca BG.18.41-44). Brahmana mempunyai tugas pokok sebagai guru/penasihat bagi 3 golongan lainnya. Peroses menjadi seorang brahmana harus melalui diksa/inisiasi. Tanpa inisiasi orang termasuk keluarga brahmana tidak bisa berstatus pendeta/brahmana.
Klas/warna brahmana ini sangat penting dalam masyarakat, klas ini merupakan golongan yang mengetahui prinsip-prinsip kitab suci, sebagai sumber pengetahuan suci. Jika golongan ini tidak ada, masyarakat menjadi chaos, tidak mempunyai arah tujuan. Kehidupan sosial masyarakat tidak lebih baik dari sekerumunan hewan. Masyarakat tidak mempunyai pemimpin spiritual, pemuka agama yang benar.
Menurut Kitab Manu samhita, kuwajiban–tugas pokok dari masing-masing profesi itu dijelaskan, yakni:
a. Brahmana berkuwajiban dalam bidang : belajar Veda, melakukan/
memimpin upacara, menerima dan memberi sumbangan (dana
punia)
b. Kesatrya berkuwajiban dalam bidang : melindungi warga
masyarakat, memberikan sumbangan, melaksanakan upacara, belajar Veda, absen dalam aktivitas pemuasan indria.
c. Vaisya berkuwajiban dalam bidang : beternak sapi, memberi
sumbangan, melaksanakan upacara, belajar Veda, berdagang, bankir, dan mengolah tanah (pertanian)
d. Sudra, hanya mempunyai satu kuwajiban yang diperintahkan
oleh Tuhan yaitu siap melayani dengan baik tiga klas lainnya (Brahmin, Ksatrya, Vaisya).
Simaklah lebih dalam sloka Sb,7.11.35
yasya yal laksanam proktam pumso varnabhivyanjakan yad anyatrapi drsyeta tat tenaiva vinisdiset
“Barang siapa yang nampak memiliki cirri-ciri brahmana,ksatrya, vaisya atau sudra, sebagaimana uraian yang telah disampaikan sebelumnya, maka kedudukannya harus diakui berdasarkan ciri-ciri golongan tersebut, walaupun jika ia terlahir dalam golongan lain”. Petunjuk ini disampaikan oleh Rsi Narada kepada Yudistira, Raja Hasitapura. Golongan/warna/klas masyarakat Hindu didasarkan atas ciri-ciri sifat dan kegiatan.
Walaupun seorang lahir dari golongan Sudra, jika ia mempunyai ciri-ciri sifat dan pekerjaan brahmana, ia harus diakui sebagai brahmana. Sebalikya, walaupun lahir dari golongan brahmana, jika ia tidak memiliki sifat, ciri dan pekerjaan kebrahmanaan, tidak tepat bila disebut brahmana. Orang lahir seperti ini disebut dvija-bandhu atau brahmana–bandhu. Hal ini juga telah tercamtum dalam Bg.4.13.–catur-varnyam maya srstam guna karma vibhagasah.
3. Catur Asrama (4 Tertib Spiritual)
Orang tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan baik/ sempurna jika ia tidak mengikuti tahapan spiritual, sehingga dirinya tidak mengerti bahwa dirinya merupakan abdi TYM, yang merupakan tujuan hidup manusia. Jika orang tidak menempatkan dirinya dalam asrama, veda mengatakan ia tidak lebih baik dari seekor hewan. Jaman dahulu varnasrama ini diikuti dengan tegas, tetapi belakangan varnasrama mengalami pembauran. Menurut Bhaktivedanta swami (penjelasan terhadap Sb.bab. 11 dan 12), baurnya varnasrama disebabkan oleh berkem-bangnya populasi varna-sankara (baca warna sangkara), yaitu orang yang kelahirnya tidak dikehendaki. Pada populasi varna-sankara yang cukup banyak, akan sulit untuk menegakkan aturan-praturan, karena masyarakat cenderung libral. Lahirnya varna-sankara disebabkan oleh para wanita tidak masih setia dan suci. Jadi kesetiaan dan kesucian wanita pada setiap jaman sangat penting untuk diperhatikan.
Empat tahap kemajuan spiritual (Sb. bab.12,13) yang dimaksud adalah :
(1). Brahmacari (masa belajar lajang/tidak melakukan hubungan suami istri). Tugas pokoknya adalah khusuk belajar mantra-mantra Veda. Mengemdalikan indria, patuh pada Guru, khusuk berpikir tentang Guru spiritual, api, deva Mata-hari dan Sri Visnu. Mengucapkan mantra Gayatri, badannya terhias dengan benang suci (benang pavitram), sedekah yang ia terima diperuntukkan untuk Gurunya, tidak boleh mengumpulkan sesuatu dan makan lebih dari yang dibutuhkannya. Bergaul dengan wanita hanya seperlunya saja (tidak boleh berbaur dengan wanita), semua wanita dipandang sebagai ibu. Dalam sastra disebutkan ada tujuh ibu.
atma-mata guroh patni brahmani raja patnika dhenur dhatri tatha-prthvi saptaita matarah smrtah “Tujuh ibu tersebut adalah : ibu kandung, istri guru, istri brahmana, istri raja, sapi, pengasuh dan bumi”. Dengan tegas dilarang bergaul secara tidak perlu dengan wanita, termasuk ibu kandung, saudara perempuan, atau putri sendiri (Manu samhita.2.215). Peradaban yang membiarkan pria berbaur tanpa batas dengan wanita adalah peradaban hewani. (2). Grhasta (masa berumah tangga, bermatapencaharian, melakukan
yadnya, berdana punia, sesuai arahan kitab suci). Hidupnya mesti berdasarkan aturan kitab suci seperti pada aturan brahmacari. Grihasta diijinkan untuk melakukan hubunga sex yang sangat terbatas, hanya untuk mendapatkan keturunan, hubungan sex harus sesuai dengan aturan dharma (Bg.7.12). Kalau mengikuti aturan kitab suci dengan ketat, maka hubungan sex hanya boleh dilakukan jika diperintahkan atau diijinkan oleh Guru spiritual. Grihasta tidak boleh makan daging, minum minuman keras, bersolek berlebihan, memakai perhiasan di badan harus dia tinggalkan.
(3). Wanaprasta (masa pensiun dari kehidupan rumah tangga/ fokus belajar kitab suci). Pada jaman dahulu Wanaprasta tinggal menyendiri di tempat sunyi atau hutan setidaknya selama 1 tahun.
Jaman sekarang para Wanaprasta tinggal di Pasraman atau dekat Pasraman, agar dia dapat lebih intens belajar kitab suci. Juga dapat mengajarkan kitab suci kepada para brahmacari. Orang yang mengikuti ketentuan wanaprasta secara ketat, dapat dengan mudah pergi ke Maharloka. Jika kena penyakit degeneratif, sehingga sulit untuk melayani dirinya, dianjurkan untuk puasa tidak mengkonsumsi makanan apapun. Jaman dahulu grihasta yang meningal mampu membakar badannya sendiri.
(4). Sanyasi (tahap pembebasan/pelepasan ikatan material, fokus mengajarkan bhakti kepada semua asrama dan varna lainnya). Membimbing golongan lainnya agar dapat maju dalam kerohanian. Datang berkeliling ke rumah Grihasta untuk memberikan pencerahan, agar grihasta tidak melakukan kegiatan yang dilarang oleh kitab suci. Sanyasi membawa dandha, hidup dengan derma dari para Grhasta dan Brahmacari. Berkawan kepada setiap mahluk hidup tanpa mengharapkan balasan. Bersikap adil. Menghindarkan diri dari perdebatan dan argumentasi.
Visnu Purana 3.8.9 mengatakan :
varnasramacaravata, purusena parah puman visnur aradhyate pantha, nanyat tat-tosa-karanam
“Personalitas TYM Visnu, dipuja dengan melaksanakan tugas kewajiban yang diuraikan dalam lembaga varna dan asrama. Tidak ada cara lain untuk memuaskan Personalitas TYM. Orang harus berada dalam lembaga empat warna dan empat asrama”. Jika orang tidak berada dalam institusi ini atau karena institusi ini tidak ada, maka orang-orang (masyarakat) tidak mungkin dapat memuaskan TYM, sehingga untuk bisa pulang kepada Tuhan adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Jika lembaga ini tidak atau belum ada, maka para pemuka agama, pemuka masyarakat, pemimpin pemerintahan, secara bersama-sama berusahalah membentuknya, karena lembaga ini merupakan lembaga yang sangat penting keberadaannya didalam masyarakat hindu.
0
4. Peranan Pasraman
Mereka yang tidak mengikuti warnasrama ini, mereka berada diluar system, yang sering disebut dengan dwi pasupadam, dan tidak akan pernah memperoleh kebahagian dan tidak dapat kembali berbhakti kepada TYM, sehingga ia menjadi roh nitya baddha. Akibatnya adalah samsara - datang dan pergi berulang kali, akan hidup di alam yang lebih rendah.
Agar masyarakat dapat mengikuti perinsip-prinsip warnasrama, semetara ini lembaga ini tidak masih utuh. Oleh karenanya masyarakat harus dididik lewat asrama (Pasraman). Pasraman yang merupakan tempat belajar kitab suci, diambil dari kata asrama. Asrama terdiri dari dua kata : a dan srama (baca sram). Srama berarti hal yang melelahkan, pikiran kalut, kotor, sedih, cemas, dan lainnya. Jadi asrama berarti tempat menghilangkan hal yang negatif tadi. Supaya orang setelah masuk asrama berubah menjadi gembira, semangat, tenang, bersih dan lainnya.
Di Pasraman hendaknya diistanakan arca Tuhan yang terhias dengan indah, sehingga orang, bagaimanapun sifatnya, dan apapun pekerjaanya, dapat masuk pasraman, sadar atau tidak dapat melihat Tuhan. Demikian pula kurikulum di pasraman itu haruslah mempunyai kompetensi untuk menjadikan para sisya mampu dan mau untuk melakukan tugas kewajiban sehari hari berdasarkan prinsip-prinsip bhakti (pelayanan kepada TYM). Mereka akan pelan-pelan akan menjadi, bersifat brahmana-menjadi orang sadhu.
Didalam Pasraman harus ada : brahmacari, harus ada grhasta, harus ada wanaprasta, harus ada sanyasi, harus ada brahmana, harus ada ksatrya, ada waisya dan sudra. Sanyasi sebagai guru–pengajar, pembimbing, sedangkan yang lainnya berstatus sebagai murid (sisya). Kegiatan Pasraman harus sepenuhnya spiritual, dimana para sisya harus diajarkan spiritual, sehingga proses inisiasi dapat berlangsung dengan benar.
Dengan proses inisiasi yang benar orang akan menjadi satvam (kebaikan), mempunyai sifat ke brahmanaan-sadhu. Sifat dengan kualitas brahmana sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Jika tidak ada
sifat berahmana, masyarakat akan keluar dari prinsip prinsip warna dan
asrama, tidak bisa melaksanakan bhakti, sehingga tidak bisa pulang kembali kepada TYM. Artinya, jika salah satu dari warna dan asrama itu tidak kompeten, maka mereka akan me-ngalami degradasi. Hal ini jelas disampaikan oleh sloka 11.5.3 Srimad bhagava-tam, sbb:
ya esam purusam saksad, atma prabhavam isvaram na bhajanty avajananty, sthnad bhrastah patanty adhah “Jika salah satu anggota dari keempat warna dan keempat
asrama melakukan kesalahan dalam pemujaan atau dengan sengaja tidak menghormati TYM, yang merupakan sumber yang menciptakan mereka, maka mereka akan jatuh dari kedudukan mereka, jatuh kedalam keadaan hidup bagaikan di neraka”. Brahmana artinya mengenal Brahman atau Tuhan. Pada jaman sekarang, jaman kali semua unsur
warnasrama itu merosot, sehingga orang tidak mengenal atau tidak mempunyai pengetahuan tentang Tuhan-Narayana, menyamakan dewa atau mahluk lain dengan Narayana. Mereka tidak tahu siapa itu Tuhan Yang Maha Esa-Narayana, mereka berramai-ramai menjauhi Weda, menjauhi jalan dharma, mengembangkan hawa nafsu sehingga menimbulkan lobha dan amarah. Akibatnya, pintu-pintu menuju neraka terbuka lebar. Mereka mengatakan dirinya beragama, tapi sikap-perilaku hidupnya menjauhi dharma agama. Pasraman itu merupakan tempat merekontruksi–menyusun kembali warna asrama yang tercerai berai.
5. Orang Hindu yang Ideal
Agar menjadi orang Hindu yang ideal, seseorang harus berada dalam empat pondasi dharma, dan melaksanakan warnasrama dharma dengan sempurna, sehinga memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Bangun pagi-pagi jam 05.00 atau sebelum matahari terbit
2. Mandi pagi (buang air, sikat gigi, madi) pakai sabun
3. Memuja arca keluarga (arca ista dewata)
4. Sediakan waktu 10–15 membaca kitab suci, khususnya bhagavad
5. Siapkan makanan (bhoga) untuk persembahan, lalu makan
pagi dengan makanan yang sudah dipersembahkan (lungsuran/
prasadam)
6. Bekerja pada jenis pekerjaan yang dianjurkan oleh kitab suci secara jujur dan damai, tidak melakukan pekerjaan yang dilarang oleh kitab suci.
7. Sore hari sembahyang–bajan bersama keluarga di depan arca.
8. Sujud kepada arca sebelum tidur
9. Mengunjungi (darsana) kepada arca di Kuil yang terdekat
10. Melakukan atau ikut festival dan tirta yatra setiap tahun
11. Melakukan punia, dan menghormati orang yang sudah tua/yang lebih tua
12. Perhatian, cinta kasih, simpati dan tidak melakukan kekerasan (welas asih)
13. Tidak melakukan kegiatan yang berdosa, tidak iri hati, tidak bangga, tidak tamak/loba, tidak rakus, tidak sedih atau duka. 14. Arca (memuja arca) keluarga dihias indah, bersih, wangi 15. Berkeyakinan teguh kepada Tuhan.
Kalau tidak belajar kitab suci, akan sulit menjadi orang Hindu yang ideal. Dewasa ini merupakan kesempatan bagi generasi muda untuk belajar kitab suci Weda, jangan hanya fokus pada pelajaran sekolahan. Sedikit demi sedikit mulai belajar, lama-lama menjadi gunung.
6. Wanita Hindu yang Ideal
Dalam buku Niti Sastra, Canakya Pandit mengatakan, murkha yatra na pujyante dhanyam yatra susancitam
dampatyoh kalaho nasti tatva srih svayam agatah
“Dewi keberuntungan (Laksmi) datang ke tempat dimana orang bodoh tidak dipuja, tempat biji-bijian disimpan dengan baik, dimana tidak ada pertengakaran antara suami dengan istri”. Keluarga yang damai, tenteram merupakan tempat yang disukai oleh Dewi Laksmi. Keluarga yang damai jika para istri atau wanita melakukan kewajibannya dengan baik. Sifat alami seorang wanita adalah menarik para pria, oleh
karena itu wanita harus dilindungi (Manu samhita.2.214). Seorang wanita tidak boleh bebas (independen). Ketika masih kecil dijaga oleh orang tuanya, setelah kawin dijaga oleh suaminya, dan setelah tua dijaga oleh anak-anaknya. Dari sudut pandang kerohanian, emansipasi wanita kurang tepat.
Kewajiban utama seorang wanita adalah setia dan menjaga kesuciannya. Tanda-tanda wanita setia dan suci dinyatakan dalam Sb.7.11.12-28. yaitu istri yang taat melayani suami, selaku bersikap baik dan mendukung keputusan suami, bersikap baik terhadap keluarga dan teman-teman suami, dan ikut menjalani sumpah-sumpah yang dijalani suami. Disamping itu menurut Manu samhita 2.240, istri/wanita yang baik adalah terpelajar, mengetahui aturan, suci, penasihat yang baik, dan seni.
Jika istri tidak setia dan suci, maka yang akan lahir adalah
varna-sankara, yakni mereka yang tidak mengikuti aturan apapun. Ketika populasi varna-sankara ini banyak maka akan terjadi kekacauan, karena hukum atau peraturan akan sulit ditegakkan. Tanggung jawab-peran wanita dalam mewujudkan masyarakat tentram dan damai mempunyai arti sangat besar.
Suci–bersih artinya, istri berbusana rapi, bersih, berhias dengan perhiasan dan pakaian yang pantas, demi menyejukkan hati suaminya. Membersihkan rumah agar bebas dari kuman, memercikkan wewangian merupakan kewajiban istri. Selain itu wajib merawat prabotan rumah tangga, selalu siap untuk memenuhi kebutuhan suami sesuai keadaan dan waktu, bersikap rendah hati, jujur, mengendalikan indria, bicara lembut dengan tutur kata yang manis. Seorang istri tidak bolek tamak, bersyukur terhadap segala keadaan, ahli dalam menangani urusan rumah tangga, menguasai sepenuhnya prinsip-prinsip dharma.
Agar seorang istri tetap terjaga kesuciannya, ia dianjurkan untuk mejauhi suaminya yang keluar dari standar prilaku. Suami yang melanggar kesusilaan adalah suami yang kecanduan terhadap empat prinsip kegiatan berdosa (adharma), yakni: berselingkuh, makan daging, berjudi, dan mabuk mabukkan. Setiap istri wajib melayani suami yang berhak untuk dilayani, namun jika suaminya adalah orang yang jatuh dari
standar prilaku, ia tidak perlu melayani suaminya, agar ke-suciannya terjaga. Seorang istri bersuamikan orang yang jatuh dari standar prilaku, ia disarankan untuk menjauhi pergaulan suaminya. Bukan berarti boleh mencari pria pengganti sehingga jatuh ke lembah pelacuran. Demikian pula seorang suami berhak untuk memisahkan diri dari istri yang tidak suci, dan tidak setia. Demikianlah penjelasan sastra. (Pejelasan Bhaktivedanta Swami terhadap Sb.7.11.26-28).
Apa pernyataan Sb.7.11.29
ya patim hari-bhavena bhajet srir iva tat para hary-atmana haree loke patya srir iva modate
“Istri yang tekun melayani suaminya, setia mengikuti jejak langkah Dewi Keberuntungan (Laksmi), pasti pulang kembali kepada Tuhan bersama suaminya, sang penyembah Tuhan, lalu hidup bahagia di planet-planet Vaikuntha”. Mereka yang sudah sampai ke planet rohani Vaikuntha, tidak akan turun lagi ke bumi ini. Disana, bersama suaminya tekun melayani sang Pencipta, tidak kekurangan sesuatu apapun.
Menurut Kitab Manu smti (9.13), ada 6 (enam) penyebab wanita jatuh, yakni :
a. Minum minuma keras, b. bergaul dengan orang-orang jahat, c. berpisah dari suami (cerai), d. mengembara keluar daerah, e. tidur pada jam-jam yang tidak layak, dan f. diam dirumah laki-laki lain. Hal-hal ini mesti mendapat perhatian khusus bagi seorang wanita, karena ini sangat berbahaya dapat menimbulkan hal yang bukan-bukan.