• Tidak ada hasil yang ditemukan

Norma dan Nilai dari Kebudayaan Masyarakat

ETIKA PEMERINTAHAN 3.1 Konsep Etika Pemerintahan

3.2 Sumber-sumber Etika Pemerintahan

3.2.2 Norma dan Nilai dari Kebudayaan Masyarakat

Taliziduhu Ndraha (2003:25) mengemukakan bahwa nilai bersifat abstrak. Nilai hanya dapat diamati dan dirasakan jika terrekam dan termuat pada suatu wahana atau vechicle, seperti suara pada pita, gambar pada film, atau muatan pada gerobak.

Vechicle nilai itulah yang dinamakan ‘budaya’. Jadi, budaya dan nilai

tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya, nilai-nilai itu diidentifikasi, ditanam, dan diaktualisasikan melalui raga, perilaku, sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya. Bertolak dari pendapat ini maka dapat dikatakan bahwa norma dan nilai suatu masyarakat dikemas dalam kebudayaannya.

Dalam kaitannya dengan etika, Bertens (2007:30) berpendapat bahwa kebudayaan merupakan suatu sumber yang

86

lain, walaupun perlu dicatat bahwa dalam hal ini kebudayaan sering kali tidak bisa dilepaskan dari agama. Jika dikaitkan dengan pendapat Taliziduhu Ndraha tadi, dapat dikatakan bahwa pada masyarakat yang beragama, nilai dan norma etik yang terdapat dalam kebudayaan pada umumnya merupakan ‘turunan, penjabaran, atau terjemahan’ nilai-nilai dan norma-norma etik dari agama yang dianutnya.

Menurut Tylor (dalam Garna,1999:157), kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, dan kemampuan-kemampuan lainnya serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Honigman (dalam Koentjaraningrat, 1990:186) mengemukakan bahwa wujud kebudayaan pada umumnya ada 3 (tiga), yaitu:

1) ideas, yakni kompleks ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya;

2) activities, yakni kompleks aktivitas serta tindakan manusia yang berpola dalam masyarakat; dan

3) artifacts, yakni benda-benda hasil karya manusia.

Ketiga wujud kebudayaan tersebut terdapat dalam berbagai unsur/bahan kebudayaan setiap masyarakat yang sangat banyak ragam atau jenisnya. Contoh, dalam sistem bahasa suatu masyarakat terdapat ideas berupa tatabahasa, activities berupa gaya berucap, dan artifacts berupa tulisan yang berbeda antara bahasa suatu masyarakat dengan bahasa masyarakat lainnya.

Dalam konteks keindonesiaan yang multikultur, banyak nilai-nilai luhur dari kebudayaan masyarakat suku bangsa/daerah/lokal perlu digali, disebar-luaskan dan diaktualisasikan dalam kehidupan

87

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai implementasi TAP MPR RI No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Harapannya, nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dapat disaring dan diimbangi guna memelihara dan memperkuat jatidiri bangsa.

Dalam kaitannya dengan hal ini, Irmayanti Meliono (dalam HIDESI, 2007:112) mengingatkan bahwa kepedulian terhadap prinsip moral yang berbasis kearifan lokal harus ditumbuh-kembangkan kembali di masyarakat kita agar mereka dapat berperilaku dalam mencapai tujuan hidupnya serta sekaligus juga untuk mendobrak krisis humanisme yang ada pada masyarakat di Indonesia sekarang. Pada bagian lain, Irmayanti Meliono juga mengemukakan bahwa salah satu yang menarik adalah belajar etika tentang prinsip baik dan buruk dapat bersumber pada pandangan hidup masyarakat lokal.

Pengetahuan dan pemahaman terhadap norma-norma etik dari sumber-sumber etika pemerintahan berbasis kearifan lokal dinilai sangat penting. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat di mana aparatur pemerintah bertugas, diharapkan dapat diangkat, diajarkan dan akhirnya diaplikasikan. Ketidak-pahaman apalagi pegabaian terhadap nilai/norma masyarakat sekitar oleh aparatur pemerintah dapat menimbulkan citra buruk bagi dirinya dan pemerintah. Contoh, di lingkungan masyarakat yang pada umumnya kuat menjalankan agama Islam, akan tercela (dinilai tidak etis) jika pada saat orang-orang menjalankan ibadah salat Jum’at, pegawai pemerintah tertentu tetap bekerja di kantornya walaupun untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

88

Tentang etika dari kebudayaan daerah/lokal terdapat dua contoh yang dapat disajikan, yaitu etika dari kebudayaan suku bangsa Jawa dan Sunda.

Pertama, etika Jawa.

Franz Magnis Suseno (1996:69-202) mengemukakan bahwa etika Jawa merupakan etika ‘pengertian.’ Etika Jawa menuntut agar setiap orang memenuhi kewajiban-kewajiban menurut pangkat dan kedudukannya. Setiap orang harus melakukan apa yang ditugaskan kepadanya oleh kedudukan sosialnya dan oleh nasib pribadinya dalam dunia. Dalam mewujudkan keselarasan sosial, etika Jawa didasarkan pada dua prinsip yaitu prinsip ‘kerukunan’ dan prinsip ‘hormat.’ Dengan dua prinsip itu, interaksi sosial sedapat mungkin menghindari konflik terbuka dan harus menunjukkan sikap hormat kepada siapapun. Orang Jawa dinilai tidak pantas memperlihatkan perasaan-perasaan spontan di hadapan orang lain. Perasaan-perasaan kuat seperti gembira, sedih, kecewa, marah, putus asa, harapan-harapan, atau rasa belas kasihan sebaiknya disembunyikan.

Orang Jawa mempunyai sikap batin antara lain sabar; nrima (menerima segala apa yang mendatanginya tanpa protes dan berontak); iklas (bersedia melepaskan individualitas dan menyesuaikan diri ke dalam keselarasan alam semesta); temen (jujur); adil; menepati janji; prasaja (sederhana); andapasor (rendah hati); dan tepa salira (sadar akan keterbatasan diri). Sikap terhadap dunianya tercermin dalam ungkapan-ungkapan seperti berikut:

89

1) sepi ing pamrih rame ing gawe (terbebas dari kepentingan pribadi untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan perannya masing-masing agar tercipta keselarasan sosial);

2) memayu bayuning bawana (memperindah dan menyelamatkan dunia demi keselarasan kosmos); dan 3) aja mitunani wong liya (jangan merugikan orang lain).

Orang Jawa menganggap perbuatan tidak etis sebagai kekurangan dalam akal budi yang dinilai memalukan, bahkan dalam kasus ekstrem akan disebut kaya kewan (seperti hewan). Hewan dalam pandangan manusia pada umumnya memiliki derajat yang lebih rendah daripada manusia.

Kedua, etika Sunda.

Pada kebudayaan Sunda, terdapat etika yang keberlakuannya lokal, namun sebagian di antaranya nasional dan universal yang digunakan dalam tata kehidupan secara umum, termasuk di lapangan pemerintahan. Etika pada kebudayaan Sunda diwarnai sistem nilai agama/kepercayaan yang dianut masyarakat Sunda dari zaman ke zaman, terutama Hindu-Budha pada zaman kerajaan Sunda dulu dan Islam sejak zaman kesultanan Cirebon dan Banten sampai sekarang.

Etika dari kebudayaan zaman dulu perlu digali kembali untuk menambah wawasan kesejarahan, karena tidak mustahil terdapat nilai/norma etik yang sebagian di antaranya masih relevan dengan kehidupan sekarang. Barang ‘jadul’ belum tentu jelek. Barang antik sebagai barang jadul malah justru bagus sehingga harganya mahal. Warisan yang berharga sepatutnya dipelihara dan digunakan ketimbang hanya dijadikan simpanan atau kenangan belaka.

90

Menurut Gibson et al (1997:8), “banyak dari konsep dan praktik pada masa lalu telah digunakan sekarang dengan hasil baik.”

Etika Sunda dapat diketahui dari beberapa sumber berikut. Pertama, etika dari Amanat Galunggung.

Amanat Galunggung merupakan naskah sejarah beraksara dan berbahasa Sunda Kuna yang berisi ajaran etika kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan dari Rakeyan Darmasiksa (raja Sunda1175-1297 M) kepada putranya, Sang Lumahing Taman dan keturunannya yang menjadi pembesar negara (Atja & Saleh Danasasmita, dalam Ekadjati, 2009:133). Ajaran ini telah dijadikan pegangan raja-raja di tanah Sunda pada zamannya, di antaranya oleh Prabu Niskala Wastukancana yang menjadi raja Galuh dan Sunda yang dinilai sukses oleh rakyatnya dalam menjalankan kepemimpinan kerajaan selama 104 tahun ((1371 M-1475 M). Etika dari ajaran tersebut antara lain sebagai berikut:

1) Tidak melupakan sejarah. Sejarah merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan yang berharga. Dari sejarah dapat ditemukan pelajaran hidup yang positif atau yang negatif bagi kehidupan masa kini dan masa mendatang. Dari sejarah dapat digali antara lain pengetahuan mengenai latar belakang mengapa seseorang/suatu bangsa bisa maju atau mundur dalam kehidupannya. Kesadaran orang Sunda zaman dulu akan manfaat sejarah ditunjukkan dengan kehadiran norma etik untuk tidak berperilaku ‘lupa kacang pada kulitnya’ atau dalam bahasa Sundanya “teu inget kana purwadaksi” (tak ingat pada asal muasal), karena diyakini bahwa hal itu akan menimbulkan lupa diri sehingga hidupnya bisa celaka di kemudian hari. Ajaran etika tentang hal ini terdapat dalam pesan leluhur yang

91

berbunyi : “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana

mangke. Aya ma baheula aya nu ayeuna, hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu catangna. Hana guna hana ring demakan, tan hana guna tan han ring demakan.” Terjemahannya, ada dahulu ada sekarang,

tak ada dahulu tak akan ada sekarang. Ada masa lalu ada masa kini, bila tak ada masa lalu tak akan ada masa kini. Ada pokok kayu ada batang, tidak ada pokok kayu tak akan ada batang. Bila ada tunggulnya, tentu ada batangnya. Ada jasa ada anugrah, tidak ada jasa tak akan ada anugrah ((Atja & Saleh Danasasmita, dalam Ekadjati, 2009:229).

2) Menjaga kekompakan dalam berperang. Perang dalam arti luas bukan hanya bertempur dengan musuh secara fisik, tetapi juga melawan kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, dan keadaan lainnya yang negatif bagi pencapaian tujuan negara. Guna memenangkannya, leluhur Sunda mengamanatkan agar para pemimpin pemerintahan bersama semua unsur bangsa mampu membangun dan memelihara kekompakan. ‘Sareundeuk saigel sabobot sapihanean, ka cai jadi saleuwi ka

darat jadi salogak’ (peribahasa Sunda). Artinya, senada

seirama, seia sekata atau seiiring sejalan. Ajaran etika tentang hal ini terdapat dalam amanat leluhur yang berbunyi: “Mulah

pabwang pasalahan paksa, mulah pakeudeu-keudeu, asing rampes cara purih! Turutan mulah keudeu di tineung di maneh! Iseus-iseuskeun carekna patikrama, jaga kita dek jaya prang, tanjeur juritan, tan alah ku reya, musuh ti darat ti laut, ti barat ti timur sakuliling desa, musuh alit musuh gana! Mungku

92 kahaja urang miprangkeun si tepet, si bener, si duga, si twarasi!” Terjemahannya, jangan bentrok karena berselisih

maksud, jangan saling bersikeras; hendaknya rukun dalam tingkah laku dan tujuan! Ikuti, jangan selalu bersikeras pada keinginan sendiri saja! Camkan ujar patikrama, bila kita ingin menang perang, selalu unggul berperang, tidak kalah oleh musuh yang banyak, musuh dari darat dari laut, dari barat dari timur di sekitar negeri, musuh halus musuh kasar. Janganlah dengan sengaja kita memperebutkan yang lurus, yang benar, yang jujur, yang lurus hati! (Atja & Saleh Danasasmita, dalam Ekadjati, 2009:229).

3) Elmu pare (meniru sifat padi). Semua ciptaan Tuhan diyakini mengandung pelajaran bagi manusia, antara lain padi. Sifatnya, pada saat awal tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, padi mengisi tubuhnya dengan sikap tegak menghadap ke langit. Tetapi setelah berisi, makin lama makin merunduk ke arah tanah. Maknanya antara lain bahwa kehidupan manusia pada saat muda perlu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan/rintangan yang didasari iman dan ilmu untuk mencapai cita-cita. Kemudian, setelah berhasil (berisi), ia semakin rendah hatinya dan selalu bersyukur kepada Tuhan sebagai pemberi keberhasilan serta menyiapkan diri untuk kembali kepadaNya. Ajaran etika tentang hal ini terdapat dalam amanat yang berbunyi: “…na

twah rampes dina diri urang, agamaning pare, mangsana jumarum, telu daun,mangsana dioywas, gede pare, mangsana bulu irung, beukah, ta karah nunjuk langit, tanggah ta karah,

93 kasep nangwa tu iya ngaranya, umeusi ta karah lagu tungkul, harayhay asak, ta karah candukur, ngarasa maneh kaeusi,..”

Terjemahannya, adapun amal yang sempurna pada diri kita adalah ilmu padi. Pada saat bertunas sebesar jarum, keluar tiga daun, saat disiangi, tumbuh dewasa, keluar kuncup seperti bulu hidung, mekar buah, ya menunjuk langit, ya mengadah, indah tampang namanya. Setelah berisi, tiba saat mulai merunduk, menguning masak ya makin merunduk, karena merasa diri telah berisi ((Atja & Saleh Danasasmita, dalam Ekadjati, 2009:188).

4) Elmu patanjala (meniru sifat air sungai). Air sungai mempunyai sifat konsisten dalam mencapai tujuan. Walaupun banyak rintangan seperti kelokan dan bendungan, air selalu bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Jika kepanasan yang amat ekstrem ia menguap, naik ke langit dan berkumpul menjadi mega, tetapi akhirnya kembali menjadi air (air hujan). Jika kedinginan yang amat ekstrem, ia berubah menjadi es, tetapi akhirnya pada saat normal ia kembali menjadi air. Maknanya, manusia hendaknya memiliki sikap teguh, tekun dan sabar dalam melakukan perbuatan yang dinilai baik dalam mencapai tujuan hidupnya walaupun sering menjumpai berbagai macam godaaan, halangan, dan rintangan. Ajaran etika tentang hal ini terdapat dalam amanat yang berbunyi: “Ku na urang ala lwirna patanjala, pata ngaran

cai, jala ngarana apya, hanteu ti burungeun tapa kita, lamuna bitan apwa teya, ongkwah-ongkwah dipilatwaeun di maneh, genah dina kageulisan, mulah kasimwatan, mulah kasiweuran ka nu miburungan tapa, mulah kapidenge ku na carek

94 gwareng, ongkwah-ongkwah dipitineungeun di maneh, iya rampes, iya geulis.” Terjemahannya, kita tiru wujud patanjala. Patan berarti air, jala berarti sungai. Tidak akan sia-sia amal

baik kita, bila kita meniru sungai. Terus tertuju pada alur yang akan dilaluinya, senang akan kelokan, jangan mudah terpengaruh, jangan mempedulikan hal-hal yang akan menggagalkan amal baik kita; jangan mendengarkan (memperhatikan) ucapan yang buruk, pusatkan perhatian pada cita-cita sendiri. Ya sempurna, ya indah (Atja & Saleh Danasasmita, dalam Ekadjati, 2009:188).

Kedua, etika dari Fragmen Carita Parahiyangan.

Menurut Edi S. Ekadjati (2009:94), Fragmen Carita Parahiyangan merupakan naskah beraksara dan berbahasa Sunda Kuna yang berisi sebagian cerita sejarah kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Tarusbawa dan Darmasiksa. Naskah ini disusun tatkala Prabu Guru Dewataprana alias Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) baru naik tahta sebagai Raja Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran. Beliau memimpin kerajaan selama 39 tahun dari 1482 s.d 1521 M dan sangat populer seperti kakeknya (Prabu Niskala Wastukancana).

Di dalam naskah tersebut terdapat ajaran etika bagi Tri

Tangtu Di Bwana (tiga penentu di dunia). Ketiga penentu dunia

tersebut adalah Prabu, Rama, dan Resi. Jika ketiga orang tersebut mengerti akan hak dan kewajibannya masing-masing dan bekerja sama secara harmonis, maka kerajaan akan makmur dan aman. Prabu mempunyai kekuasaan besar dalam pemerintahan, tetapi selalu meminta pendapat kepada Rama dan nasehat kepada Resi jika akan memutuskan sesuatu yang sangat penting.

95

Ajaran etika leluhur Sunda kepada ketiganya berbunyi: “Sang

rama, sang resi, sang prabu mangka pahi iyatnayatna di duuman siya. Sang resi ngagurat cai, sang rama ngaggurat lemah, sang prabu ngagurat batu. Hedap ma diduumkeun ka sang resi, sabda ma diduumkeun ka sang rama, bayu ma diduumkeun ka sang prabu.” Terjemahannya, “Sang Rama, sang Resi, sang Prabu,

hendaklah mengerti sungguh-sungguh tentang pembagian hak-hak kalian. Sang Resi berwatak memberi kesejukan, sang Rama berwatak memberi tempat berpijak, sang Prabu berwatak berpendirian teguh. Nurani wajib dimiliki oleh sang Resi, ucapan wajib dimiliki oleh sang Rama, dan kekuatan wajib dimiliki oleh sang Prabu” (Ekadjati, 2009:139).

Konsep Tri Tangtu Di Bwana nampaknya ada kemiripan dengan konsep tripraja (tiga kekuasaan negara) seperti trias

politica dari Montesque, yaitu kekuasaan eksekutif, legislatif dan

yudikatif. Dalam hal ini, kekuasaan eksekutif dipegang oleh Prabu, legislatif dipegang oleh Rama, dan yudikatif dipegang oleh Resi. Adapun wataknya masing-masing, Prabu adalah raja dan para pembantunya yang harus berwatak ngagurat batu (teguh dalam menjalankan amanah) dan karenanya ia harus punya kekuatan, kharisma atau wibawa. Rama adalah orang yang dituakan (wakil rakyat) yang harus berwatak ngagurat lemah (menentukan yang semestinya dijalani) dan karenanya ia harus mampu berucap baik, benar, dan jelas dalam menentukan arah. Resi adalah sesepuh bidang agama dan hukum yang berwatak ngagurat cai (menyejukkan hati dan menyatukan kembali yang berselisih) dan karenanya ia harus mampu menggunakan hati nuraninya.

96

Sanghyang Siksa Kandang Karesian (Pegangan Tentang Hidup Yang Bijaksana) merupakan naskah berbahasa Sunda Kuna yang banyak berisi ajaran etika kehidupan secara umum, namun sebagian di antaranya merupakan etika pemerintahan. Naskah ini dibuat pada tahun 1518 M, semasa Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) menjadi Raja Sunda dan Galuh yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran pada th. 1482-1521 M (Suryani, 2011:130). Karena telah membudaya, oleh penyusunnya dinamai Sabda Sang

Rumuhun atau ‘Ajaran Para Leluhur’ (Ekadjati, 2009:94). Etika yang

terkandung di dalamnya antara lain:

1) Panca gati (5 larangan), yaitu jangan menipu, jangan ikut-ikutan (mudah ketularan sifat buruk), jangan memasuki rumah tanpa izin, jangan menetap di majikan, dan jangan meninggalkan tutur kata yang baik. Menipu ada dua macam yaitu menipu diri sendiri dan menipu orang lain. Menipu diri sendiri ialah yang ada dikatakan tidak ada, yang benar dikatakan salah, dan yang salah dikatakan benar. Tabiatnya selalu mengada-ada, suka memfitnah dan menyakiti hati orang lain. Adapun menipu orang lain ialah memetik tanpa izin, mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu, mencuri, merampas, merampok, menyamun, mengecoh, merogoh kantong orang lain, mencopet, merebut, dan menggerayangi harta orang yang sedang tidur. Sedangkan tutur kata yang baik ialah tutur kata yang hormat, sopan, pantas, merendah, dan santun kepada semua manusia terutama kerabat (Ekadjati, 2009:183).

2) Dasa Pasanta (Sepuluh Penenteram Hati) yang merupakan pedoman teknis tentang cara memerintah bagi para pemimpin

97

di kerajaan Sunda dulu agar dapat menenteramkan hati orang yang diperintah sehingga mereka iklas dan bersemangat tinggi dalam menjalankan tugasnya (Suryalaga, 2007:49). Kesepuluh cara memerintah yang etis tersebut adalah sebagai berikut:

a) Guna (manfaat), artinya perintah harus dimengerti manfaatnya bagi diri yang diperintah. Tujuannya, agar pelaksanaan perintah disertai kreativitas yang diperintah karena dirinyapun akan merasakan manfaatnya jika berhasil.

b) Rama (ramah), artinya perintah harus disampaikan secara wajar, sopan, dan ramah. Tujuannya, agar yang diperintah merasa senang dan merasa dihargai sebagai manusia yang punya kehormatan.

c) Hook (kagum), artinya perintah harus menimbulkan kekaguman (kebanggaan) pada diri yang diperintah atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya. Tujuannya, agar perintah dilaksanakan dengan penuh percaya diri. d) Pesok (terpikat), artinya perintah harus memikat hati

yang diperintah. Tujuannya, agar yang diperintah tertarik dan akan mengerjakan perintah dengan senang hati dan penuh semangat.

e) Asih (kasih sayang), artinya perintah harus didasari rasa kasih sayang terhadap yang diperintah. Tujuannya, agar yang diperintah merasa menjadi bagian dari diri yang memerintah (menyatu jiwanya).

f) Karunia (anugrah), perintah harus dirasakan sebagai pemberian anugrah (karunia) bagi diri yang diperintah.

98

Tujuannya, agar perintah dikerjakan dengan sungguh-sungguh karena menyangkut kehormatan/harga dirinya. g) Mukreruk (halus/lembut), artinya perintah harus disampaikan secara halus, lembut, dan kata-kata yang menimbulkan kesadaran. Tujuannya, agar perintah dirasakan sebagai kewajiban diri pribadi yang diperintah (bukan yang diwajibkan pihak lain).

h) Ngulas (memberi komentar), artinya perintah harus diikuti dengan komentar (penilaian) atas pelaksanaannya. Jika ada koreksi, maka penyampaiannya harus arif/bijaksana. Tujuannya, mencegah penyimpangan dan menimbulkan rasa diperhatikan.

i) Nyecep (menenteramkan hati), artinya perintah harus disertai dengan pemberian yang dapat menenteramkan hati seperti ucapan terimakasih, tanda penghargaan, hadiah, atau insentif. Tujuannya, agar yang diperintah bergairah untuk melaksanakan perintah.

j) Ngala Angen (membeli hati), artinya perintah harus diawali dengan upaya membangun simpati yang diperintah terhadap yang memerintah. Tujuannya, agar yang diperintah setia dan mau menaati perintah.

3) Pangimbuh Ning Twah (pelengkap untuk memperoleh

pamor) yang perlu dimiliki oleh setiap orang (Suryalaga, 2007:52), apalagi aparatur pemerintah supaya ada wibawa, yaitu:

99

a) Emet (sedikit). Maksudnya, mampu mengelola rizkinya secara hemat sehingga ‘saeutik mahi, loba nyesa’ (sedikit cukup, apabila banyak bersisa);

b) Imeut (cermat). Maksudnya, mampu bekerja secara tertib, teliti, hati-hati dan tidak tergesa-gesa sehingga tidak banyak salah dan tidak membuang-buang waktu atau tenaga untuk memperbaikinya.

c) Rajeun (rajin). Maksudnya, suka melakukan pekerjaan apapun yang bermanfaat sehingga banyak kepandaian atau suka mengerjakan sesuatu yang menjadi tugasnya tanpa harus selalu dipacu/diawasi.

d) Leukeun (tekun). Maksudnya, suka mengerjakan sesuatu dengan sabar dan telaten sehingga tuntas.

e) Pakapradana (asertif, tidak rendah diri, pantas berpakaian). Maksudnya, berani tampil/bicara dengan percaya diri, berani bertanggung jawab dan berani menghadapi risiko. Dalam berpakaian selalu pantas dan menyesuaikan dengan kepatutan menurut situasi. f) Morogol-rogol (enerjik, dinamis). Maksudnya,

bersemangat untuk maju dan sanggup mengahadapi tantangan/kesulitan.

g) Purusa ning Sa (punya jiwa kepahlawanan). Maksudnya, berani berbuat karena benar, takut berbuat karena salah, gigih, pantang menyerah, dan iklas berbakti. h) Widagda (bijaksana). Maksudnya, mampu menggunakan

pikiran dan perasaan secara seimbang, mau berempati, suka memaafkan, dan toleran.

100

i) Gapitan (sedia berkorban). Maksudnya, tidak segan untuk memberikan apapun yang ada pada dirinya apabila dibutuhkan orang lain atau demi membela keyakinannya.

j) Karawaleya (dermawan). Maksudnya, senang memberi kepada orang lain dalam keadaan lapang atau sempit, baik tenaganya, pikirannya, atau hartanya.

k) Cangcingan (trengginas). Maksudnya, tidak lamban dalam berbuat, tidak menunda-nunda pekerjaan atau cekatan dalam mengerjakan sesuatu yang dinilai penting. l) Langsitan (terampil, banyak kepandaian). Maksudnya, pandai (mahir) melakukan sesuatu atau punya kemampuan yang besar untuk mengerjakan banyak hal. Keempat, etika dari Carita Parahiyangan.

Carita Parahiyangan adalah naskah yang ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda Kuna yang berisi sejarah kerajaan Sunda dan Galuh sejak berdiri sampai kehancurannya (Ekadjati, 2009:97). Menurut Nina Lubis (2003:47), naskah ini ditulis pada th. 1580 M. Dari naskah itu diketahui bahwa di tanah Sunda, pada saat kerajaan Tarumanagara melemah (abad ke-7 M), Prabu Tarusbawa mendirikan kerajaan Sunda di Pakwan (Bogor) dan Prabu Wretikandayun mendirikan kerajaan Galuh di Bojong Galuh (Kawali-Ciamis). Kedua wilayahnya dibatasi Sungai Citarum. Wilayah Galuh, dari Citarum ke Timur, dan wilayah Sunda, dari Citarum ke Barat. Kedua kerajaan tersebut berhubungan erat