M AN U SI A sejatinya makhluk Tu- han terbaik dan paling sempurna, karena dalam diri manusia terdapat dua kekua- tan yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu “Nafsu dan Nalar” (2N). Makhluk malaikat hanya memiliki nalar saja, tidak memiliki nafsu, sehingga pekerjaannya hanyalah bertasbih dan menjalankan perintah Tu- han semata. Makhluk syaithan hanya memiliki nafsu saja, tidak dianugerahi nalar, sehing ga kerjaan syaithan hanyalah menyesatkan manusia dari hidayah dan jalan yang diridhai Tuhan. Nalar mengan- daikan perilaku positif yang membaha- giakan, sedangkan nafsu mengandaikan perilaku negatif yang menyengsarakan.
Makhluk manusia yang secara an-
tropologi evolutif tercipta dalam keadaan yang terbaik dan sempurna, namun dalam evolusinya berubah menja- di makhluk yang rendah dan hina, bahkan menurut berita suci dikabarkan ”manusia bisa berubah menjadi makhluk yang lebih hina dari binatang”. Evolusi perubahan karak- ter manusia tersebut disebabkan oleh dominasinya nafsu mengendalikan nalar dalam kehidupan sehari-hari. Akibat- nya nalar tidak berdaya dan telah mengalami kekalahan dalam kancah peradaban.
Ritual ibadah puasa adalah sebuah media Ilahiyah yang sengaja disiapkan oleh Tuhan untuk mengembalikan
karakter jati diri manusia kepada habitatnya (itrahnya).
Puasa Ramadhan sejatinya adalah medan peperangan, di mana nalar dan nafsu bertempur antara hidup atau mati, kalah atau menang.
M e m a k na i Pua sa
Puasa, yang dalam bahasa Arab disebut”al-imsak”
yang artinya menahan, mengandung makna, bahwa orang yang berpuasa wajib “menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai waktu terbe namnya matahari”, menahan dari makan, minum, hubungan seks di siang hari walaupun selama 11 bulan semuanya itu halal. Lebih dari itu, orang berpuasa juga berjuang untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkata- an sia-sia, bohong, gunjing, penghinaan, caci maki, maksi- at, dan lain-lain sebagainya.
Menahan dan mengendalikan gejolak nafsu ammarah yang menjelma dalam bentuk keserakahan makan-minum, kesembronoan lidah dalam berkata, dan liarnya mata ada- lah esensi ritual ibadah puasa. Sudah menjadi sunnatullah (hukum alam), sesuatu yang berlebihan akan berdampak negatif. Makanan dan minuman yang kita konsumsi mele- bihi takaran akan memproduksi embrio ragam penyakit jasmani dan rohani. Demikian juga, liarnya pandangan mata dan diumbarnya perkataan kotor akan menjadi em- brio permusuhan dan perpecahan.
T I RTA
Pe r t e m pura n a nt a ra N a fsu Am a ra h da n N a la r
Pernahkah anda merenungkan bahwa pikiran yang terus bekerja siang malam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan anda? Sejatinya pikiran kita telah membuat arsip dalam akal yang kemudian melahirkan cara pan- dang (mindset), dan bergerak cepat mempengaruhi daya
intelektualitas, isik, perasaan, sikap, citra diri, harga diri,
rasa percaya diri, kondisi jiwa, kondisi kesehatan, dan lain- lain.
Jack Canield dan Mark Viktor Hansen, sebagaimana
dikutip Ibrahim El-Fiky, mengatakan, ”Setiap hari manu- sia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran tersebut adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif, maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif, maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif.”
Temuan tersebut menunjukkan betapa eratnya ke- terkaitan dua variabel, nalar dan nafsu. Nalar yang posi-
tif bersinergi dengan daya intelektualitas, isik, perasaan,
sikap, citra diri, harga diri, rasa percaya diri, kondisi jiwa, kondisi kesehatan seorang pemimpin. Sebaliknya, betapa berbahayanya jika nafsu menguasai nalar menjadi nalar negatif yang bergelayutan mengendalikan seorang manu- sia.
Sebuah penelitian Fakultas Kedokteran di Francis- co menemukan fakta bahwa 80% pikiran manusia telah tercemar dan berubah menjadi nalar negatif (pikiran yang menyesatkan). Temuan tersebut membuktikan kebenaran berita suci dalam Surah Yusuf, ayat 53, di mana Tuhan ber-
irman, ”Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada
kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” Sebanyak 80% pikiran manusia cenderung negatif, itulah wilayah hukum nafsu ’ammarah. Sedangkan 20% pikiran manusia yang cenderung positif dikendalikan oleh nafsu al-mutmainnah.
Mari kita coba berhitung secara sederhana. Jika 80% dari 60.000 pikiran, berarti setiap hari setiap manusia memiliki 40.000 problem yang dikendalikan oleh pikiran negatif, yang berkontribusi mempengaruhi perasaan, pe- rilaku, serta penyakit yang mendera jiwa dan raga. Jika demikian halnya, maka seorang manusia atau kelompok
harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran di benaknya, yaitu pikiran yang positif.
Puasa adalah pertempuan antara nafsu amarah dan nalar positif. Puasa sesungguhnya perjuangan nalar positif untuk merebut 80% wilayah yang telah dikuasai oleh naf- su nalar negatif, untuk kembali ke pangkuannya. Dominasi nafsu nalar negatif menguasai pikiran, perasaan, ucapan, ketetapan dan keputusan, perilaku kejahatan sangat luar biasa, dan melumpuhkan sendi-sendi pikiran nalar positif manusia.
Mengingat beratnya pertempuran itu, dapatlah kita mengerti ketika Nabi Muhammad SAW, sekembali dari pertempuran terdahsyat sepanjang sejarah hidupnya, menyeru kepada pasukannya, ”Wahai pasukanku, kalian baru saja menyelesaikan pertempuran kecil, dan kita akan berhadapan dengan pertempuran yang lebih dahsyat.” Seorang prajurit mengangkat tangan sambil bertanya, ”Ya Rasul, apa yang dimaksud jihad besar itu?” Nabi men- jawab, ”Yaitu jihad melawan hawa nafsu diri Anda sendiri.”
Jadi, sejatinya puasa adalah hari pertempuran ter- dahsyat seorang manusia melawan dirinya sendiri untuk meraih kemenangan. Maka orang berpuasa akan berakhir kepada kalah atau menang, dan kemenangan itu hanya diraih oleh orang-orang muttaqin. Memang tujuan puasa adalah untuk meraih predikat muttaqiin, dan hanya orang- orang yang muttaqiin saja yang akan memperoleh ke-
menangan. Tuhan berirman dalam Surah AnNaba, ayat
31, ”Inna lilmuttaqiina mafaza,” artinya ”Sesungguhnya kemenangan itu hanya milik orang-orang yang bertaqwa.”
Sebuah kemenangan dipastikan akan memancarkan rasa gembira, damai sejahtera, nyenyak, sehat, dan ba- hagia. Nah, 1 Syawal adalah waktu penentuan siapa-sia- pa yang memperoleh kemenangan dan siapa-siapa yang kalah. Manusia yang memperoleh kemenangan melalui
pu asa digambarkan sebagai sehat wal’aiyat tanpa beban, bagaikan bayi yang lahir dari rahim ibunya, dan ’idul itri, kembali kepada itrah sebagai manusia yang sempurna.