DALAM Pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 se- karang (hasil amandemen) disebutkan, bahwa:
1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan;
2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Makamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Makamah Konstitusi.
Ini berbeda dengan UUD 1945 sebelum amandemen, yang mengatur bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan kehakiman di lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara.
Kekuasaan kehakiman kita sekarang, selain diseleng- garakan oleh Mahkamah Agung (MA) dan badan-badan peradilan di bawahnya dalam empat lingkungan peradilan, juga oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Kedudukan Mahkamah Agung tetap sama, baik se- belum dan sesudah amanden UUD 1945, yaitu sebagai puncak dari badan-badan peradilan di empat lingkungan peradilan. Keempat lingkungan peradilan tersebut ma sing- masing memiliki badan peradilan (pengadilan) tingkat per- tama dan banding.
Bagi lingkungan peradilan tata usaha negara, ber- dasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diubah ter- akhir dengan Undang-Undang No. 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU Peratun), Pasal
47 mengatur kompetensi PTUN dalam sistem peradilan di Indonesia, yaitu memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara.
Sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang/ badan hukum perdata dan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perun- dang-undangan yang berlaku.
PTUN mempunyai kompetensi menyelesaikan sengke- ta tata usaha negara di tingkat pertama. Sedangkan PTTUN, selain selaku pengadilan tingkat banding, juga sebagai peng adilan tingkat pertama bagi sengketa-sengketa tata us- aha negara yang harus diselesaikan terlebih dahulu melalui upaya administrasi berdasarkan Pasal 48 UU Peratun dan sengketa tata usaha negara Pemilihan Umum Legislatif.
Kompetensi Absolut PTUN
Kompetensi absolut berkaitan dengan kewenangan pengadilan untuk mengadili suatu perkara menurut obyek, materi atau pokok sengketa. Adapun yang menjadi obyek sengketa di PTUN adalah Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN).
Ada dua jenis KTUN berdasarkan Pasal 1 angka 9 dan Pasal 3 UU Peratun. Pada Pasal 1 angka 9 UU Peratun, KTUN ialah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara tentang tindak an hukum tata usaha negara berdasarkan peraturan perun- dang-undangan yang berlaku yang bersifat konkret, indi-
vidual, inal, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseo- rang atau badan hukum perdata.
Sedangkan pada Pasal 3 UU Peratun dikatakan, “Apa- bila badan atau pejabat Tata Usaha Negara tidak menge- luarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajiban- nya, maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara.” Jadi, jika jangka waktu telah lewat sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang- undang an atau telah lewat empat bulan sejak diterimanya permohonan, dan badan atau pejabat tata usaha negara itu tidak mengeluarkan keputusan yang dimohonkan, maka badan atau pejabat tata usaha negara tersebut dia ng- ga p telah m e nola k mengeluarkan KTUN.
Sikap pasif badan atau pejabat tata usaha negara yang tidak mengeluarkan keputusan itu dapat disamakan dengan keputusan tertulis yang berisi penolakan. Keputu-
san demikian disebut keputusan iktifnegatif. Fiktif artinya
tidak mengeluarkan keputusan tertulis, tetapi dapat diang- gap telah mengeluarkan keputusan tertulis. Sedangkan negatif berarti isi keputusan itu berupa penolakan terhadap suatu permohonan.
Tidak semua KTUN merupakan obyek sengketa PTUN. KTUN yang termuat dalam ketentuan Pasal 2, Pas- al 48, Pasal 49 dan Pasal 142 UU Peratun serta KTUN dalam sengketa Pemilu Legislatif bukan obyek sengketa PTUN.
Berdasarkan Pasal 2 UU Peratun, KTUN berikut tidak bisa digugat, yakni:
a. Keputusan tata usaha negara yang merupakan perbu- at an hukum perdata
b. Keputusan tata usaha negara yang merupakan peng- aturan yang bersifat umum
c. Keputusan tata usaha negara yang masih memerlukan persetujuan
d. Keputusan tata usaha negara yang dikeluarkan ber- dasarkan KUHP atau KUHAP atau peraturan perun- dang-undangan lain yang bersifat hukum pidana
e. Keputusan tata usaha negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku f. Keputusan tata usaha negara mengenai tata usaha Ten-
tara Nasional Indonesia
g. Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat mau- pun di daerah, mengenai hasil pemilihan umum.
Menurut ketentuan Pasal 48 UU Peratun, juga tidak dapat diadili keputusan tata usaha Negara yang terhadap-
nya harus ditempuh terlebih dahulu upaya administratif. Demikian juga KTUN yang dikeluarkan dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam, keadaan luar bi- asa yang membahayakan, atau keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan perundang-un- dangan yang berlaku (Pasal 49 UU Peratun).
Pasal 142 ayat (1) menentukan bahwa sengketa tata usaha negara yang pada saat terbentuknya Pengadilan menurut UU No. 5 Tahun 1986 belum diputus oleh Peng- adilan di lingkungan Peradilan Umum tetap diperiksa dan diputus oleh Pengadilan di lingkungan Peradilan Umum.
Adapun KTUN sengketa pemilu legislatif berupa
KTUN veriikasi partai politik peserta pemilu dan daftar
calon tetap anggota DPR, DPD dan DPRD sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 259 ayat (3), Pasal 269 ayat (1) sampai dengan (7) UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemi- lihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU Pemilu Legislatif).
Ra nc a nga n U nda ng-U nda ng Adm inis- t ra si Pe m e rint a ha n (RU U -AP)
RUU-AP memperluas kompetensi PTUN. Berdasar- kan Undang-Undang Peratun, kompetensi PTUN hanya sebatas KTUN. Sedangkan menurut RUU-AP, kompetensi PTUN mencakup:
a. Keputusan administrasi pemerintahan, yang juga dise- but keputusan tata usaha negara atau keputusan admin- istrasi negara, yaitu ketetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat pemerintahan dalam penye- lenggaraan pemerintahan;
b. Tindakan administrasi pemerintahan, yaitu sikap pejabat pemerintahan atau penyelenggara negara lainnya untuk melakukan dan/atau tidak melakukan perbuatan faktual dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan.
Selain itu, ada kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara untuk menentukan pejabat Tata Usaha Negara melakukan penyalahgunaan wewenang atau tidak dalam kaitannya dengan perkara pidana (korupsi).
Dibandingkan dengan UU Peratun, kompetensi PTUN dalam RUU AP sangat luas. PTUN akan dapat meng- adili semua tindakan pemerintahan, baik tindakan hukum (rechts handeling) maupun tindakan nyata (feitelijk handel- ing) di bidang hukum publik.
Dengan perluasan kompetensi Peratun, perlu ada- nya harmonisasi dan sinkronisasi bagi UU Peratun tentang bagaimana cara menguji tindakan administrasi dari badan atau pejabat Administrasi Pemerintahan apabila dikaitkan dengan kompetensi absolut PTUN terhadap keputusan tata usaha negara. Demikian juga, pengertian keputusan TUN menurut UU Peratun lebih sempit daripada keputusan admi- nistrasi pemerintahan yang diatur dalam RUU AP. Dan dalam UU Peratun belum diatur prosedur permohonan ada tidaknya penyalahgunaan wewenang kaitannya dengan perkara pi- dana (korupsi).
Dukungan DPR untuk optimalisasi Peranan PTUN
Kompetensi PTUN dalam sistem peradilan kita ma- sih relatif kecil. Volume perkara PTUN masih ada yang di bawah 25 perkara per tahun, seperti di PTUN Banda Aceh, Bengkulu, Kupang, Palangkaraya, dan Yogya- karta. Hal ini menunjukkan belum optimalnya peranan PTUN sebagai lembaga kontrol yuridis terhadap peme- rintah.
Adanya upaya pemerintah mereformasi birokrasi dengan merancang RUU-AP kiranya mendapat dukung- an dari Dewan Perwakilan Rakyat untuk menerbitkan UU Administrasi Pemerintahan yang akan memperluas kom- petensi PTUN. Dengan demikian, eksistensi peradilan tata usaha negara akan dapat lebih bermanfaat bagi pe- merintah maupun masyarakat.
Setelah RUU-AP menjadi UU-AP, hal itu perlu ditin- daklanjuti dengan penyelarasan menyangkut kompeten- si mengadili PTUN. Tidak kalah pentingnya, juga harus dipersiapkan Sumber Daya Manusia, terutama hakim peratun yang mempunyai kemampuan menangani per- luasan kompetensi PTUN.
Sekarang sudah ada 28 PTUN di 28 propinsi. Masih perlu dibentuk minimal 6 PTUN baru di 6 propinsi, yakni Gorontalo, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka-Belitung, Maluku Utara, Papua Barat, dan Sulawesi Barat. Sedang- kan untuk tingkat banding minimal ada tambahan pemben- tukan 2 PTTUN.
*) Penulis, Hakim Tinggi/Direktur Pembinaan Tenaga Teknis dan Administrasi Peradilan Tata Usaha Negara pada Ditjen Badilmiltun MARI.
KOLOM
Se la ya ng Pa nda ng U U N om or 1 1 Ta hun 2 0 1 2 t e nt a ng Sist e m Pe ra dila n Pida na Ana k
UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pi- dana Anak (SPPA) yang diundangkan pada tanggal 30 Juli 2012 (TLNRI 2012-153) merupakan pengganti UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang efektif mulai berlaku 2 (dua) tahun setelah tanggal diundangkan. Apabila ditelusuri, alasan utama penggantian UU tersebut adalah UU Nomor 3 Tahun 1997 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat karena secara komprehensif belum memberikan perlindungan ke- pada anak yang berhadapan dengan hukum.
Dikaji dari perspektif masyarakat internasional terhadap perlindungan hak-hak anak, antara lain terlihat dari adanya Resolusi PBB 44/25 – Convention on the Rights of
the Child (CRC) (diratiikasi dengan Keppres 36 Tahun 1990), Resolusi PBB 40/33 – UN Stan- dard Minimum Rules for the Administrations of Juvenile Justice (The Beijing Rules), Resolusi
PBB 45/113 – UN Standard for the Protection
of Juvenile Deprived of Their Liberty, Resolusi
PBB 45/112 – UN Guidelines for the Prevention of Junivele Delinquency (The Riyadh Guidelines) dan Resolusi PBB 45/110 – UN Standard Min- imum Rules for Custodial Measures 1990 (The Tokyo Rules).
Hal demikian didasarkan pada pemikiran bahwa anak merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia se- utuhnya. Anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara.
Dengan peran anak yang penting ini, hak anak telah secara tegas dinyatakan dalam Pasal 28B ayat (2) UUD NRI 1945 hasil amandemen. Dikatakan bahwa Negara menjamin setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak