• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terbuka dan Modern di Usia 68 Tahun

Dalam dokumen Edisi Tiga (Halaman 32-35)

LAPORAN K H U SU S

Seorang hakim agung pun ikut bergoyang aerobik.

Donor darah, salah satu kegiatan ulang tahun MA RI

keras mewujudkan peradilan yang lebih baik melalui per- baikan terhadap semua lini lembaga peradilan, sebagai wujud dari kesatuan perencanaan dan komitmen langkah MA,” tandas Hatta Ali lagi.

Semangat keterbukaan dalam pengadilan juga men- jadi satu hal yang digarisbawahi pada HUT MA tahun 2013 ini. Itu ditandai dengan ikhtisar-ikhtisar strategis untuk mewujudkan peradilan yang agung melalui upaya mo- dernisasi proses kerja. Keterbukaan pengadilan ditandai dengan sistem pelacakan perkara (Case Tracking System/ CTS) yang dipergunakan untuk peradilan umum.

Dalam kebersamaan dan keterbukaan, MA mewujud- kan peradilan modern dalam arti seluas-luasnya. Modern

tidak hanya dalam arti hariah, perangkat modern, melain- kan juga cara berpikir. Hal ini penting, karena ke depan

peradilan dituntut untuk beroperasi lebih efektif dan eisien,

baik secara teknis yudisial maupun manajemen.

Gerakan Bersih-Bersih

Seluruh peserta yang hadir untuk merayakan ulang tahun Mahkamah Agung ada 7.000 orang. Jumlah yang cu kup besar itu berasal dari warga MA dan Peradilan Se- jabodetabek. Setelah jalan santai diselenggarakan kerja bakti “Gerakan Bersih-bersih” lingkungan Monas dan Mah- kamah Agung oleh para peserta senam pagi dan jalan san- tai. Semua peserta mendapatkan snack dan makan siang yang dibawa masing-masing wilayah peng adilan.

“Coba bayangkan sampahnya, apabila dalam waktu Penampilan formal para pimpinan yang sehari-hari

kini berganti dengan kaos putih dan celana training plus sepatu kets. “Mensana in corpore sano, ya Bapak-Ibu. Biar kita semua fresh,” sambung ketua MA lagi di sela-sela senam pagi. Bahkan beberapa hakim agung terlihat ber- penampilan nyentrik dengan mengenakan kacamata hitam berbingkai lebar dan topi berwarna mencolok. “Kacamata saya ini tembus pandang, lho,” canda hakim agung Abdul Ghani Abdullah.

Keriangan dan keceriaan juga terpancar jelas di wajah para pegawai dan keluarga. Di sebelah panggung utama tampak Indra Brugman, Kiki Fatmala, Merriam Belina, dan Trio Macan laris manis melayani permintaan para peserta senam. “Gak nyangka, yang jadi instruktur senam artis-ar- tis, jadi sekalian foto bareng saja untuk kenang-kenangan,” ujar Ida, salah satu pegawai MA.

Kemeriahan ulang tahun kian terasa saat pemba- wa acara menyampaikan hadiah utama doorprize 3 unit sepeda motor. Jadi, sambil berolahraga juga mendapatkan hadiah. Hadiah doorprize berasal dari warga pengadilan sendiri. Sebagian besar hasil sumbangan dari para hakim agung dan pengadilan di wilayah Jabodecitabek. “Jadi dari kita, oleh kita, dan untuk kita,” tandas Kepala Biro Umum, Ramdhani Dudung.

Kebersamaan menjadi satu tema besar dari HUT MA tahun ini. “Semangat kebersamaan harus terus dibangun dan dijaga dengan baik di antara kita. Kebersamaan inilah yang membuat kita menyatukan langkah untuk berusaha

Keriangan dan keceriaan terpan- car jelas di wajah para pegawai dan keluarga.

M AH K AM AH AGUNG genap berumur 68 ta- hun pada 19 Agustus 2013 ini. Selama 68 tahun itu, beragam suka-duka dialaminya dalam menjalankan roda benteng terakhir keadilan. Berikut sekelumit se- jarah lembaga yang berawal dari Hooggerechtshof ini.

Hari jadi Mahkamah Agung terhitung sejak pe- ngangkatan Ketua Mahkamah Agung yang pertama, yaitu Mr. Dr. RSE Koesoemah Atmadja, oleh presi- den pertama RI, Ir. Soekarno, pada 19 Agustus 1945. Meskipun badan peradilan telah ada jauh sejak masa kolonial, secara resmi hari jadi Mahkamah Agung ada- lah tanggal tersebut. Hal ini diperkuat oleh Surat Kepu- tusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor KMA/043/ SSK/VIII/1999 tentang Penetapan Hari Jadi Mahka- mah Agung tanggal 19 Agustus 1945.

Mahkamah Agung berawal dari Hooggerechtshof, pengadilan tertinggi masa kolonial yang berkeduduk- an di Jakarta dengan daerah hukum meliputi seluruh wilayah Indonesia. Hooggerechtshof terdiri dari se- orang ketua dan 2 orang anggota, seorang pokrol jen-

LAPORAN K H U SU S

Sumber foto: Dody Gimbal

yang hampir bersamaan 7.000 orang makan snack atau- pun makan siang bareng,” kata salah satu panitia, Kartika. Sudah benar, panitia mengantisipasi tumpukan sampah ini dengan “gerakan bersih-bersih.” Tanpa mengandalkan para petugas kebersihan.

Sejak pagi panitia memang membagi-bagikan kantong plastik hitam berukuran besar dan kaos tangan plastik. “Si- lakan Ibu-ibu, Bapak-bapak, adik-adik ini kantong sampah, jika ada sampah berserakan silakan dimasukkan ke sini,” kata mereka dengan ramah.

Respons dari peserta macam-macam, ada yang antu- sias langsung dan memunguti sampah dan memasukkan nya ke dalam kantong. Ada yang biasa-biasa saja, kantongnya diambil tapi tidak memungut sampah yang berserakan. Ada yang menolak kantongnya, karena lebih memilih menikmati olahraga jalan santai bersama keluarga dan sahabat.

Ketika waktu makan siang tiba, di penghujung acara, panitia dengan sigap meletakkan kantong-kantong sampah di sekitar peserta yang sedang menikmati makan siang. Jika tidak, tak terbayangkan betapa menumpuknya sampah siang itu kalau harus menunggu petugas kebersihan bekerja.

Gerakan bersih-bersih jelas sebuah upaya bagus. Se-

cara hariah mengajak masyarakat, terutama kalangan ke­ luarga besar MA, untuk memulai hidup bersih secara isik.

Spirit bersih seperti ini pada akhirnya semoga akan mera- suki jiwa keluarga besar Mahkamah Agung.

Semoga gerakan bersih-bersih bisa menjadi kultur hidup sehat di lingkungan keluarga besar MA. Sebuah ke- hendak untuk menanamkan tekad: “Bersih di luar, bersih di

Dari Hooggerechtshof

Dalam dokumen Edisi Tiga (Halaman 32-35)

Dokumen terkait