• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Profesional Itu Mest

Dalam dokumen Edisi Tiga (Halaman 42-50)

Bermoral”

DEN GAN adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004, struktur organisasi Mahkamah Agung mengala-

mi perubahan. Sebelumnya hanya satu, sekarang ada dua wakil ketua, yaitu bidang yudisial dan non-yudisial. Wakil Ketua MA Bidang Yudisial dijabat Dr. Mohammad Saleh, SH, MA. Ada-

pun Wakil Ketua MA Bidang Non-Yudisial dijabat Dr. H. Ahmad Kamil, SH, M.Hum.

Untuk edisi kedua majalah Mahkamah Agung ini disepakati mewawancarai

Ahmad Kamil. Pemilihan tokoh ini un- tuk diwawancarai bukan asal memi- lih. Kami menilai, selama ini banyak

masyarakat yang belum mengetahui dan memahami ruang lingkup tu-

gas Wakil Ketua Ketua MA Bidang Non-Yudisial.

Lahir di Pamekasan, Madura, 28 Januari 1946, Ahmad Kamil dilan-

tik sebagai Wakil Ketua MA Bidang Non-Yudisial pada Februari 2009. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004, Wakil Ketua MA Bidang Non-Yudisial membawahi

bidang organisasi, inansial, sa- rana, prasarana, dan sebagainya. Sebelumnya, tugas ini ditangani in- stitusi di luar MA. ”Tugas baru Wakil Ketua Bidang Non-Yudisial merupa- kan implementasi Undang-undang Nomor 5 tahun 2004 yang dikenal one roof system atau sistem satu atap,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Malang dan Fakultas Hu- kum Universitas Muhammadiyah Jakar- ta ini. Hampir satu setengah jam kami berbincang dengan pria yang memulai tu- gas sebagai Wakil Ketua Pengadilan Agama Bondowoso pada 1976 ini. Berpenampilan kalem, kariernya terus menanjak.

WAWAN CARA

Berbagai jabatan dipercayakan padanya, antara lain Ketua Pengadilan Tinggi Agama Padang (2000), Wakil Se- kretaris Jenderal MA (2002), Hakim Agung (2003), Ke tua Muda Bidang Pembinaan (2006). Berikut petikan wa wancara dengan pria yang semula bercita-cita menjadi seorang pen- didik ini. Mahkamah Agung mempunyai dua wakil ketua, ya itu bidang Yudisial dan Non-Yudisial.Apa ruang lingkup tugas keduanya, khususnya bidang Non-Yudisial?

Sebelum menjawab itu, saya ingin mengucapkan se- lamat kepada pemimpin redaksi dan semua kru yang mem- bidani lahirnya Majalah Mahkamah Agung. Mudah-mudahan lancar, lahir yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Bagaimana- pun juga, dengan adanya majalah ini, warga peradilan dan juga masyarakat luar bisa lebih memahami berbagai hal yang telah dan sedang dilakukan Mahkamah Agung. Karena sebuah majalah merupakan alat transformasi informasi atas yang telah dilaksanakan Mahkamah Agung untuk orang luar. Bukannya kita ingin gagah-gagahan. Barangkali, dengan cara seperti ini, ada masukan dari luar yang membawa kita menuju lembaga yang lebih baik.

Mungkin juga di antara kita ada yang memiliki kemauan untuk memajukan lembaga ini melalui tulisan-tulisan di ma- jalah.

(Tim pewawancara langsung menyambut dengan mengatakan: ”Terima kasih, Pak. Apresiasi ini semoga kian mendorong se- mangat kami.”)

Sekarang, tentang wakil ketua Mahkamah Agung. Dengan adanya Undang-undang tentang Perubahan Mahkamah Agung yang pertama pada 2004, salah satu pasalnya menyatakan bahwa ada dua wakil ketua, yaitu wakil ketua yudisial dan wakil ketua non-yudisial. Memang strategis sekali di Mahkamah Agung ada dua wakil. Yang satu membidangi hal-hal yang sangat substansial, yakni pelaksanaan tugas pokok yang berkaitan dengan teknis perkara. Dan itu ciri khas lembaga pengadilan, lembaga kekuasaan kehakiman. Inilah yang ditangani Wakil Ketua Mahkamah Agung Yudisial. Saya sendiri ditunjuk sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung Non-Yudisial. Wilayah tu- gasnya meliputi pekerjaan dari dua “ketua kamar” yang dalam undang-undang disebut “ketua muda”. Saya meng- koordinasi pelaksanaan tugas Ketua Muda Pengawasan dan Ketua Muda Pembinaan, yang sekarang menjadi “Ke-

tua Kamar Pengawasaan” dan “Ketua Kamar Pembinaan”. Adanya kewenangan atau tugas baru wakil Ketua Bidang Non-yudisial ini merupakan implementasi perubah- an Mahkamah Agung berdasarkan Undang-undang No- mor 5 tahun 2004, yang dikenal dengan istilah one roof system atau sistem satu atap. Makna satu atap itu, Mah- kamah Agung diberi kewenangan oleh undang-undang

untuk mengatur masalah organisasi, inansial, sarana,

prasarana, dan sebagainya, yang sebelumnya ditangani masing-masing departemen, termasuk Panglima Angkatan Bersenjata bagi lingkungan peradilan militer.

Jadi, sekarang semua di bawah MA?

Betul. Lahirnya undang-undang itu membawa perubah- an pada Mahkamah Agung. Tadinya MA hanya mengurus masalah yudisial. Sekarang MA diberi tiga kewenangan oleh undang-undang baru itu. Pada waktu itu, muncul ke- galauan di kalangan para pakar hukum. Ber bagai tang-

gapan muncul di media massa elektronik maupun cetak. Pertanyaan mereka, mampukah Mahkamah Agung melak- sanakan tugas dan kewenangan yang baru itu? Begitulah pendapat masyarakat ketika waktu itu. Mung kin sekarang masih ada yang seperti itu, hanya saja kita menganggap- nya sebagai hal positif.

Mahkamah Agung menjadi sorotan, bahkan dikatakan

sarang maia. Kita sendiri tidak membantah, tapi tidak

juga mengiyakan. Membantah tidak bisa, karena memang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat. ada rasa keadilan yang terlukai oleh keputusan-keputusan kita. Tetapi mau mengiyakan, mana buktinya? Adanya penilaian MA se-

bagai maia menunjukkan bahwa masyarakat memperhatikan

kita. Sekarang pun kadang-kadang masih muncul kondisi sep- erti itu. Maka, tanggapi secara positif saja, bahwa masyarakat sebetulnya menginginkan kita menjadi lebih baik dan bagus.

Jika dalam tugas pokok saja terjadi kondisi seperti itu, bagaimana dengan ditambahkan- nya tugas dan kewenangan baru?

Begitulah pertanyaan masyarakat. Empat lingkungan peradilan dijadikan satu, di-manage dalam satu atap: sarana,

keuangan, inansial, organisasi dan sebagainya. Timbul per- tanyaan, mampukah MA? Apakah tidak terlalu berat tugas yang diberikan, apalagi jika melihat kondisi MA?

Tantangan terhadap kondisi inilah yang dirasakan pimpinan Mahkamah Agung saat itu. Jika dalam pelaksanaan tugas pokok saja sudah ada ”stempel” seperti itu dari masyarakat, jangan- ja ngan dalam pelaksanaan tugas bantuan nantinya akan ada juga stempel seperti itu. Kalau terjadi seperti itu, apalah artinya Mahkamah Agung? Tugas pokoknya begini, tugas bantuannya seperti itu juga.

Tugas Wakil Ketua MA Bidang Non-Yudisial menjawab keraguan masyarakat?

Betul. Sadar atas kondisi itu, pimpinan Mahkamah Agung berkomitmen bahwa kita harus benar-benar mem- punyai spirit kolektif dalam pelaksanaan tugas non-yudi- sial. Kita mulai dari pemecahan masalah-masalah yang penting pada waktu itu. Kita tahu, sebelum kita satu atap, tahun 2003 sudah dibuat sebuah rancang bangun, cetak biru Mahkamah Agung. Itu merupakan guidance atau pe- tunjuk arah ke depan. Walaupun dibuat sebelum sistem satu atap, itu bermanfaat sekali. Mahkamah Agung sudah mempunyai pedoman. Bagaimanapun juga, jika bekerja

tanpa pedoman, tidak ada standardisasi, kita tidak bisa mengukur sampai ke mana kita berjalan menuju tujuan. Orang tidak bisa mengevaluasi kondisi kita yang sebenar- nya. Itulah momen yang sangat positif saat memulai sistem satu atap. Selain tentunya komitmen pimpinan bahwa tu- gas baru itu kita terima dengan baik.

Sistem satu atap ini sebenarnya sebuah perjuangan lama yang diinginkan lembaga peradilan. Kita tahu, se- jak tahun 1960-an, Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) telah memperjuangkan satu atap, artinya kemandirian lembaga peradilan. Itu kemandirian dalam segalanya: kemandirian dalam memutus perkara, manajemen, dan sebagainya. Itu diperjuangkan berpuluh-puluh tahun sebelumnya oleh Ikahi. Alhamdulillah, pada 2005, selain benar-benar diberi kewenangan untuk memutuskan perkara secara mandiri,

kita juga berwenang mengelola keuangan, inansial, dan

organisasi secara mandiri. Jadi, sebetulnya kita patut ber- syukur. Perjuangan para pendahulu kita kini menjadi ke nyataan walaupun masyarakat menyangsikan kemampuan kita. Karena itu, kita sebagai personel yang melaksanakan tugas-tugas non-yudisial sepakat meletakkan dasar. Ada kesadaran bersama: mari kita bikin sistemnya.

Hal itu dilakukan pada era awal?

Ya, di awal kita berjuang membuat sistem. Yang pa- ling pokok membangun persaudaraan di antara keempat lingkungan peradilan sebagai satu jadi puncak manajerial pelaksanaan tugas baru.

Walaupun masih ada kerikil-kerikil?

Ya, itu sebuah perjalanan panjang. Yang penting kita sudah mempunyai wadah. Kita sudah mempunyai perundang-undangan, sistem yang kita bikin bersama, dan akhir nya merupakan milik kita bersama. Dalam Un- dang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah

Agung, hal paling signiikan adalah tentang satu atap itu.

Jelas, dengan era satu atap, banyak sekali kewenangan pengadilan baru yang diberikan kepada Mahkamah Agung, seperti penanganan kasus hak asasi manusia, kasus tin- dak pidana korupsi, dan sebagainya.

WAWAN CARA

Apa target yang Anda canangkan sebagai Wakil Ketua Non-Yudisial?

Membuat sebuah buku pedoman, kemudian mem- buat sistem-sistem, lalu membuat kelompok kerja dalam mengimplementasikan program. Sebenarnya bukan target, tapi keinginan. Kalau target sepertinya milestone, tonggak sejarah. Kalau saya, mengalir sajalah.

Hal pertama yang diinginkan semua warga Mah- kamah Agung adalah keempat lingkungan peradilan itu merasa memiliki lembaga Mahkamah Agung. Dengan merasa memiliki, tidak mungkin kita merusak atau akan mengkhianatinya. Kita inginkan rasa persatuan dan ke- satuan, saling merasa memiliki. Jika sudah memiliki jiwa yang sama, banyak masalah yang bisa diatasi. Dalam tiga kewenangan baru itu, kita mesti membuat pelbagai aturan dan sistem secara bersama-sama. Dasarnya adalah peng- alaman masa lalu, di saat kita berada di departemen ma- sing-masing, dalam perspektif ke depannya akan dibawa ke mana Mahkamah Agung.

Karena itu, pada 2010 disepakati kita membuat blue print atau cetak biru, lanjutan cetak biru 2003. Ini pokok pondasi. Cetak biru 2003, muatannya tidak sampai ke tingkat bawah, hanya Mahkamah Agung. Hal-hal yang meng atur kepegawaian, sistem keuangan dan sebagainya sudah dimuat di cetak biru itu. Meski muatannya masih se- cara umum, itu pun sudah membantu kita.

Kita juga masih berkeinginan akan kedaulatan dalam mengatur masalah sumber daya manusia. Sekarang ini belum memungkinkan kita lepas dari aturan-aturan umum kepegawaian di negara ini. Tapi ada kewenangan khusus yang diberikan kepada Mahkamah Agung. Jadi, kita ma- sih berjuang dan berjuang, termasuk dalam hal kedaulatan keuangan, masalah anggaran, bangunan, dan sebagainya. Buku pedoman itu tertuang di mana?

Kita punya buku dua. Selain itu, kita membuat sistem. Dulu, ketika menyongsong era satu atap, kurang-lebih setahun kita membangun sistem. Tim bekerja di bawah koordinasi almarhum Pak Gunanto Suryono. Eselon I, Ese- lon II, dan kadang-kadang Eselon III diikutkan di situ. Kita membahas pelaksanaan setelah sistem satu atap itu be- nar-benar diserahkan kepada kita. Jadi, secara embrional kita sudah membuat pedoman-pedoman. Lalu setelah satu atap, diperbaikilah hal-hal yang perlu diperbaiki. Sekarang

sudah settled, sudah ada sistem keuangan, standardisasi perlengkapan, penelitian pengembangan, pengawasan, dan lainnya, walaupun harus diakui semua tetap dalam perbaikan.

Apakah target-target tersebut sudah terwu- jud sesuai dengan visi dan misi Mahkamah Agung?

Misi yang dibuat pada 2010, yakni terwujudnya peng- adilan yang agung, ditargetkan akan terwujud pada 2035. Misi tercapai, baik masalah teknis yang berkaitan de- ngan masalah perkara, maupun masalah non-teknis yang non-yudisial. Dalam bidang yudisial, dapat dikatakan, secara fundamental kita sudah on the track. Contohnya, masa lah moralitas pelaksanaan non-yudisial ini, baik di daerah maupun di pusat. Dulu mungkin hanya Rp 500 miliar uang yang dikelola. Sekarang sudah lebih dari Rp 5 triliun.

Selama delapan tahun ini, saya belum pernah men- dengar adanya masalah moralitas. Mungkin ada satu dua kasus. Alhamdulillah, Mahkamah Agung, entah pimpinan Mahkamah Agung sendiri, tingkat banding, ataupun tingkat pertama tidak tersangkut. Sepertinya tidak terdengar ada ketua pengadilan pajak, ketua pengadilan agama, atau ke- tua pengadilan negeri yang masuk penjara karena meng- korupsi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), apalagi di Mahkamah Agung. Ini masalah moralitas dalam pelaksa- naan. Saya, kalau bicara mengenai hal ini, terharu betul. Tapi bukan berarti kita sudah puas. Belum. Masih banyak kantor pengadilan yang belum bagus. Di Mahkamah Agung sendiri, yang sudah dibenahi baru kantor ese lon I, kantor diklat, dan litbang. Kalau kita bandingkan dengan Mahka- mah Agung di luar negeri, masih banyak yang perlu disem- purnakan. Sebenarnya, kalau bicara target, maka hal yang mendasar adalah kesejahteraan. Bagaimanapun juga, tanpa peningkatan kesejahteraan, kerja itu tidak optimal. Dengan adanya remunerasi dan sebagainya, gaji hakim di Indonesia sekarang ini adalah yang tertinggi di Asia Teng- gara. Memang yang naik baru hakim tingkat banding dan tingkat pertama. Hakim agung dan non-hakim belum. Mu- dah-mudahan tidak terlalu lama.

Apa dengan capaian itu Anda puas?

orang lain meragukan kita dengan tiga tugas pelengkap yang baru. Namun ternyata capaian kita di luar perkiraan. Tahun ini, saya mendengar dari Sekreta ris MA bahwa kita sudah mencapai penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Itu berarti lepas dari masalah. Secara sederhana saya katakan, sekarang kita sudah merdeka

Merdeka, maksudnya bagaimana?

Merdeka dari hal yang negatif, dari temuan ”ini” dan ”itu”. Tidak ada yang mengatakan ”ini” dan ”itu”. Dari segi anggaran kita juga betul-betul merdeka. Kalau sudah WTP, kita sudah optimal. Dengan tenggang waktu delapan ta- hun, kawan-kawan yang bekerja di bidang ini betul-betul berjalan di atas sebuah sistem, berjalan di atas sebuah rel. Ada kesamaan dan ada tujuan yang sama.

Meski begitu, dari segi non-yudisial masih banyak yang perlu diselesaikan. Misalnya, perpustakaan. Apa- kah perpustakaan di sini sudah tersambung secara online dengan perpustakaan perguruan tinggi? Itulah yang harus disempurnakan. Contoh lain, gedung diklat kita sekarang sebetulnya yang terbaik di Asia Tenggara. Malah orang Australia, Amerika, dan Belanda menganggap gedung diklat di MA lebih baik daripada diklat di negaranya. Ting- gal sekarang bagaimana agar muatan-muatannya menjadi yang terbaik. Bagaimanapun juga diklat berperan untuk membina SDM. Dan kita ini kan pengadilan, jadi yang pa- ling utama itu adalah hakim. Baru kemarin kita menyele- saikan pola pendidikan hakim terbaru dua tahun. Ini berha- sil dengan baik, terutama dari segi moralitas para hakim.

Dalam dua tahun itu mereka tanpa pengawasan langsung dari Mahkamah Agung. Mereka cuma diawasi para ketua pengadilan. Ternyata, dalam laporannya tidak ada yang terkena masalah ini atau itu. Ini satu poin lagi bagi Mahkamah Agung dari segi SDM.

Kesejahteraan hakim agung sudah memadai. Bagaimana dengan pegawai non-hakim?

Ini dalam proses. Maklum, kondisi keuangan negara sedang begini. Tapi komitmen DPR, Insya Allah, pada ang- garan yang akan datang itu diprioritaskan.

Diprioritaskan menuju kenaikan 100%?

Ya. Pertama menuju kenaikan remunerasi 70 persen dulu. Kalau 100 persen, pelaksanaan reformasi birokrasi harus bagus dulu. Tapi dengan 70 persen yang diterima

Eselon III di sini nominalnya mungkin akan sama dengan yang diterima Eselon III di BPK. Hampir sama. Sekarang, yang diterima oleh Eselon III atau Eselon II Mahkamah Agung berbeda dengan yang diterima eselon yang sama di BPK dan yang lainnya. Dari segi nominal, kita paling kecil, padahal sama-sama Eselon III, II, atau I. Memang masa- lahnya berbeda sekali. Karena apa? Bukannya pemerin- tah tidak memberikan hak yang sama. Cuma, sebelumnya Ketua Mahkamah Agung, Wakil Ketua Mahkamah Agung, Hakim Agung, itu dulu yang dimasukkan dalam komponen remunerasi, baru kemudian Eselon I. Kalau di departemen lain, Eselon I itu grade 1, sedang di kita grade 5. Tapi kalau sudah ada remunerasi, hakimnya sudah menjadi pejabat negara, maka Eselon I menjadi sama dengan instansi lain, menjadi grade 1, sehingga naik dengan sendirinya, sama dengan BPK. Aturannya memang begitu.

WAWAN CARA

get atau bahkan menjadi momok?

Tidak ada kendala yang serius. Karena kita semua sudah mengerti hal yang harus dikerjakan, terutama yang ada dalam cetak biru itu. Beda dengan cetak biru yang lalu (2003-2009), banyak yang tidak mengerti, karena memang proses pembuatannya hanya untuk MA. Sedangkan cetak biru yang sekarang ini pembuatannya lintas generasi dari keempat lingkungan peradilan. Jadi, ada estafet generasi. Sampai ke PN pun terwakili waktu pembuatannya. Apalagi stakeholders yang di luar banyak sekali yang memban- tu kita, misalnya dari Kejaksaan, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dan sebagainya. Lagipula, kita tahu seka- rang ini pengawasan masyarakat terhadap kita ini intens.

Sekali lagi, tidak ada kendala yang serius. Hanya ham- batan-hambatan kecil, dan itu biasa. Hambatan-hambatan juga terjadi di sektor lain. Misalnya, saat kita sudah mem- bangun dan membuat begini-begitu, ternyata kekurangan dana Cuma, kadang-kadang masyarakat sekarang minta didekati, serba ingin cepat, dan lain sebagainya. Padahal, sebetulnya asas kita ini terbuka untuk umum dalam pelak- sanaan tugas pokok.

Kalau dulu hal seperti itu tak pernah menjadi sebuah hambatan bagi masyarakat. Sekarang terjadi perubah- an masyarakat. Keterbukaan yang diinginkan oleh mas- yarakat sudah tidak seperti dulu lagi. Pada era reformasi, masalah transparansi itu dekat sekali dengan masalah IT, masalah teknologi informasi.Sebetulnya sejak 1998 sudah ada penggunaan sistem informasi online di Mahkamah Agung, yang dikenal dengan istilah Access 121 yang ber- fokus pada sistem informasi perkara. Sistem itu kemudi- an berkembang dan terintegrasi dengan sistem informasi keuangan dan lain yang dinamai SIMARI. Sampai akhir nya Pak Ketua mencanangkan Desember 2013 semua peng- adilan sudah harus ada information desk-nya. Arti nya, MA sudah mempergunakan perangkat Informatika dan Teknologi (IT). Dan sekarang luar biasa perkembangan IT di Mahkamah Agung, yang memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

Dalam hal IT, kita lebih baik daripada kelembagaan yang lain. Sekarang, baik kepaniteraan maupun kese- kretariatan sudah berjalan baik. Terus terang, dalam ma- salah IT, masih ada keinginan untuk membuat sebuah ce- tak biru IT agar semuanya terkoneksi. Pada 2005 sampai 2008 masih sistem manual. Komputer dipakai hanya untuk

mengetik surat. Komputer baru ditaruh di lemari, dikunci. Tapi sejak 2009 kita sudah mulai sadar akan IT. Sekarang kita meninggalkan alam manual menuju cara kerja comput- erized. Bahkan, daerah-daerah mempunyai sistem sendi- ri-sendiri. Pengadilan umum mempunyai sistem sendiri, pengadilan agama pun bikin sistem sendiri. Biar saja dulu. Yang penting ada perubahan cara kerja, budaya kerja. Nanti kalau sudah betul-betul computerized minded, baru dibikin cetak biru, rancang bangun satu pohon, yang con- necting semua empat lingkungan.

Kesejahteraan hakim sudah bagus. Tapi mengapa masih saja ada hakim yang nakal?

Untuk menghabisi hakim nakal sampai bersih, itu tak mungkin. Cuma kita memang sangat prihatin, kok ma- sih ada hakim yang begitu, walaupun makin lama makin mengecil. Tetapi kita jangan kehilangan akal. Bagaimana- pun kita harus berjalan. Bidang pengawasan berjalan terus. Pengawasan sekarang bukan hanya fokus di MA. Pengawasan sudah didelegasikan pada tingkat banding. Pengadilan tingkat banding pun sudah bisa menindak. Anggarannya juga sudah didelegasikan dengan anggaran MA.

Bagaimana dengan kesejahteraan non- hakim?

Mudah-mudahan bisa secepatnya ditingkatkan. Mah- kamah Agung tidak pernah membedakan untuk memper- juangkannya. Karena bagaimanapun juga, kurir surat atau apa pun sebetulnya andilnya sama, pengabdiannya sama di Mahkamah Agung. Yang membedakan hanyalah tugas- pokok-dan-fungsi (tupoksi). Pengabdiannya sama. Satu organ tidak jalan, organ-organ lain terganggu.

Apa yang harus dilakukan untuk mening- katkan profesionalisme dan integritas para hakim?

Saya kadang-kadang tidak membedakan antara mo- ralitas dan profesionalisme, karena orang yang profesion- al itu mesti bermoral. Coba saja lihat petinju profesional. Dia mesti tahu aturan main, tidak akan memukul dae rah- daerah terlarang. Bermoral betul. Pernah ada sebuah khasanah tentang hakim dari dunia Islam. Katanya, hakim itu harus kuat jasmaninya, kuat semangatnya, dan kuat il-

munya. Minimal tiga hal ini harus dijaga seorang hakim. Dan kekuatan itu makin lama harus makin dibina. Ilmu dan semangatnya ditingkatkan, kesehatannya juga harus dija- ga. Karena itu, yang profesional itu moralnya dijaga terus, integritasnya dijaga, ilmunya juga ditingkatkan.

Di mana peran pembinaan dari pimpinan? Tadi yang saya bicarakan baru kekuatan internal dari diri hakim itu sendiri, atau moralitas. Bagaimana ekster- nalnya dari lembaga? Bisa melalui badan-badan pembi- naan, pendidikan dan pelatihan, buku pedoman, dan lain sebagainya.

Tapi bagaimana cara membina moralitas?

Mengenai moralitas, kita tidak bisa meminta bantuan orang lain. Kalau masalah kemampuan, kita masih bisa.

Dalam dokumen Edisi Tiga (Halaman 42-50)

Dokumen terkait