Tri Hastuti Nur R1
Email: [email protected]
Abstrak
Potret tentang kualitas kesehatan reproduksi di Indonesia sampai tahun 2015 ini menunjukkan wajah yang buruk. Beberapa indikatornya masih tingginya angka kematian ibu; semakin tingginya angka pernikahan dini, semakin meningkatnya ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV/AIDS, dan masih rendahnya perhatian pemerintah atas screening kankers payudara dan kanker rahim. Isu kesehatan reproduksi masih merupakan isu marginal, tidak dianggap penting baik oleh masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, penyedia layanan, pemerintah di berbagai tingkatan maupun oleh media massa. Media massa konvensional baik surat kabar, televisi maupun radio jarang yang memberitakan berbagai masalah tersebut. Ruang-ruang publik kita masih hingar bingar dengan berbagai masalah yang seringkali bukan masalah publik; seperti pemberitaan tentang konflik dan hiruk pikuk politik maupun infotainment dan entertainment yang remeh temeh. Sementara satu persatu perempuan tumbang karena melahirkan, terkena kanker rahim dan kanker payudara maupun terinfeksi HIV/AIDS. Media massa kurang memiliki perhatian dengan tidak memberikan ruang-ruang yang cukup untuk memblow up berbagai kasus terkait kesehatan reproduksi perempuan. Berbagai peristiwa tersebut tidak dianggap penting sehingga tidak menjadi agenda media.
Perkembangan media online saat ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi gerakan perempuan untuk menyuarakan kepentingannya. Ruang-ruang publik harus direbut agar tidak penuh dengan pemberitaan yang tidak berpihak pada kepentingan perempuan dan hal-hal yang bersifat remeh temeh. Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah dengan visi gerakan Islam Berkemajuan, menyadari pentingnya perkembangan media online untuk mengkampanyekan kepedulian masyarakat luas, media massa dan pengambil kebijakan atas isu-isu kesehatan reproduksi perempuan yang selalu marginal. Paper ini menganalisis bagaimana Ais i ah menggunakan media online dalam mengkampanyekan isu-isu kesehatan reproduksi dengan pendekatan hak perempuan melalui media online; dengan pendekatan studi kasus. Bertumbuhnya media online saat ini dimanfaatkan oleh kader-kader Aisyiyah dari tingkat nasional sampai daerah untuk terus mengkampanyekan perlunya kepedulian terhadap hak kesehatan reproduksi perempuan. Berbagai media sosial digunakan seperti Facebook, tweeter; jurnalisme warga dengan mengirimkan berbagai best practice tentang kampanye dan advokasi hak-hak kesehatan reproduksi perempuan; dengan tujuan terbangunnya kesadaran masyarakat, media dan pengambil kebijakan atas isu-isu kesehatan reproduksi. Harapannya ruang-ruang publik kita tidak lagi berisi pemberitaan yang remeh temeh; dan isu kesehatan reproduksi bukan lagi isu yang marginal.
Keywords : reproductive health rights issues, public sphere, online media Pendahuluan
Setiap orang berhak untuk mendapatkan layanan kesehatan, tidak terkecuali bagi perempuan miskin dan keluarganya. Hak tersebut dijamin oleh Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 bahwa 1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. 2.) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. 3.) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Kondisi tersebut termasuk layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas. Namun dalam kenyataannya isu kesehatan reproduksi masih merupakan isu yang marginal, baik di pengambil kebijakan (pemerintah), legislatif, tokoh masyarakat dan tokoh agama bahkan di kelompok perempuan. Fungsi reproduksi yang
P r o c e e d i n g | C o m i c o s 2 0 1 5
melekat pada peran-peran perempuan berdampak pada stereotipe dan pemahaman bahwa urusan kesehatan reproduksi adalah problem perempuan.
Fenomena tersebut ditunjukkan dengan berbagai macam data yaitu masih tingginya angka kematian ibu melahirkan (AKI) sebesar 359/100.000 kelahiran; yang artinya setiap hari ada 7-8 perempuan meninggal karena melahirkan. Demikian juga dengan dengan problem kanker serviks dan kanker payudara yang merupakan masalah sangat serius di Indonesia. Dari sekian banyak jenis kanker, kanker serviks dan payudara menempati urutan tertinggi di Indonesia. Data hasil olahan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) 2013, Badan Litbangkes dan Data Penduduk Sasaran, Pusdatin, Kementerian Kesehatan, menunjukkan terdapat 98.692 kasus. Kanker jenis ini juga merupakan salah satu penyebab kematian ibu di Indonesia. Berdasarkan data dari Globocan 2008, ditemukan 20 kasus kematian per hari akibat kanker serviks. Sejak tahun 2010 nampak terus terjadi peningkatan angka kematian ibu diakibatkan karena kanker serviks. Berbagai kondisi di atas menggambarkan bahwa akses perempuan dalam peningkatan kualitas kesehatan reproduksi masih sangat terbatas dan masalah-masalah kesehatan reproduksi belum menjadi isu yang penting; termasuk di media massa.
Media massa, dengan kharakteristiknya yaitu memiliki kemampuan menyebarkan informasi secara meluas dan dalam jangka waktu yang cepat merupakan sumber informasi yang sangat penting dan terpercaya baik bagi masyarakat maupun pengembil kebijakan. Sebagai sebuah institusi penyedia informasi, media massa memiliki fungsi untuk menginformasikan, mengedukasi, fungsi menghibur maupun melakukan sosialisasi. Media massa memiliki peran yang sangat strategis dan memiliki kekuasaan dalam melakukan agenda setting atas sebuah isu; termasuk isu kesehatan reproduksi dengan pendekatan hak. Media massa memiliki peran untuk mempromosikan bagaimana negara harus hadir dan bertanggungjawab untuk menyejahterakan rakyatnya terkait dengan problem-problem kesehatan reproduksi. Namun dalam kenyataannya, pengabaian terhadap berbagai problem kesehatan reproduksi telah pada tahapan merenggut nyawa perempuan dalam berbagai kasus kematian perempuan akibat melahirkan, aborsi, kanker maupun, HIV AIDS namun secara mainstream, media massa masih memposisikan isu-isu perempuan dalam isu yang marginal di medianya. Meskipun media massa memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mempromosikan hak- hak kesehatan reproduksi dengan pendekatan hak yaitu negara hadir untuk memenuhi hak-hak perempuan terkait dengan hak reproduksinya namun ideologi patriarkal dan kepentingan ekonominya menyebabkan media massa memposisikan isu kesehatan reproduksi masih marginal.
Ais i ah sebagai organisasi massa keagamaan yang memiliki kepedulian dan komitment atas berbagai permasalahan kesehatan reproduksi melakukan berbagai pendekatan dan program untuk mewacanakan pentingnya perhatian atas berbagai problem kesehatan reproduksi. Kemuliaan tubuh perempuan yang dikarenakan memiliki rahim dan payudara sebagai sumber kehidupan dan keberlangsungan peradaban dunia; haruslah memberikan pelayanan yang maksimal kepada perempuan untuk menjalankan peran-peran reproduksinya. Perempuan diedukasi melalui berbagai kegiatan di komunitas termasuk melalui berbagai media agar mendapatkan akses informasi kesehatan reproduksi. Isu-isu kesehatan reproduksi yang masih merupakan isu pinggiran, dan sering dianggap tidak penting harus menjadi wacana penting di ruang publik. Salah satu strateginya dengan merebut ruang-ruang publik ini melalui media online; baik secara internal (website, facebook), maupun media online eksternal.
Kerangka Teori
New Media sebagai Media Perlawa a
Telah terjadi perubahan yang sangat dramatis terkait dengan perkembangan media sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Perkembangan media baru menunjukkan kharakteristik, di mana masing-masing partisipan memiliki kontrol yang setara dan timbal balik atas isi yang disampaikan; dan bahkan isinya pun terkadang lebih bersifat individual sesuai dengan keunikan dan kebutuhan partisipan. Audiens menjadi kurang bisa diperdiksi, lebih terfragmentasi dan lebih banyak variabel yang harus diperhatikan ketika menggunakan media baru (website, media online) dalam mempromosikan ide-ide baru; termasuk sebagai salah atu cara untuk menggeser perempuan dari posisi obyek menuju subyek.
Livingstone (1998:247) menegaskan bahwa sebagai sbuah media baru, perkembangannya tidak hanya pada aspek mesin (engineering) atau merupakan solusi sebuah problem teknis, namun merupakan sebuah fenomena sociotechnical. Media baru membawa dua hal secara bersamaan yaitu aspek teknis, nilai media dalam perubahan sosial, ekonomi, budaya dan kebijakan.
Ideologi patriarkal telah menjadi ideologi dominan dalam media mainstream di Indonesia. Hal tersebut nampak dalam beberapa hal yaitu (1) minimnya pemberitaan tentang berbagai isu tentang hak-hak perempuan (2) media merepresentasikan perempuan tidak utuh sebagai manusia (3) media melakukan strereotipe pada perempuan; dan (4) media menempatkan perempuan sebagai komoditas dan obyek seks. Terkait arus utama ideologi patriarkal dalam media ini, maka pemanfaatan media sosial untuk mempromosikan ide-ide baru dalam rangka merebut wacana dominan yang patriarkal harus menjadi sebuah keharusan.
Perkembangan media baru harus menjadi landasan bagi gerakan perempuan untuk mengubah strategi medianya; dan memanfaatkan setiap ruang publik yang ada termasuk melalui media baru dalam rangka menggeser posisi obyek pada posisi subyek perempuan. Wacana patriarkal dalam mainstream media telah menempatkan isu kesehatan reproduksi sebagai isu yang marginal. Oleh karena ini perkembangan media baru menjadi salah satu kekuatan yang harus dimanfaatkan oleh gerakan perempuan dalam merebut wacana pentingnya kesehatan reproduksi perempuan menjadi agenda yang penting bagi pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama; jika media terus menerus mewacanakan.
Pengalaman menunjukkan bahwa media baru telah menjadi alat yang cukup ampuh dalam mengpromosikan ide-ide baru, menggalang kekuatan publik dan merebut wacana baru di tengah mainstream ideologi patriarkal. Media baru (2008:7) secara revolusioner berdampak pada struktur dan kultur dalam kehidupan sehari-hari; termasuk dalam hal ini bagaimana isu kesehatan reproduksi dengan perspektif gender (hak) menjadi wacana dalam wacana publik.
Melawan Hegemoni Wacana Perempuan dalam Ruang Publik
Berkaitan dengan tubuh perempuan ini, representasi perempuan lebih ditonjolkan sisi biologisnya. Perempuan jarang ditampilkan sebagai manusia secara utuh yang menekankan pada kecerdasan, peran-peran dan pengetahuan yang dimilikinya. Berkaitan dengan konstruksi sosial atas tubuh ini, Bourdieu (2010:30-32) menjelaskan bahwa seksualitas banyak dibebani oleh determinasi- determinasi antropologis. Pembagian seksualitas didasarkan pada oposisi antara maskulin dan feminin. Definisi sosial tubuh dan organ-organ tubuh merupakan produk dari kerja sosial, di mana definisi antara tubuh maskulin dan feminin diterima dan dikonstruksi berdasarkan penilaian yang tidak secara.
P r o c e e d i n g | C o m i c o s 2 0 1 5
Dalam masyarakat dengan ideologi dominannya adalah ideologi patriarkhi, rejim kuasa memberikan definisi atas tubuh perempuan; dan bukan perempuan sendiri yang memberikan definisi atas tubuhnya sendiri. Perempuan hanya menerima, menjalankan bahkan mereproduksinya di dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang diatributkan padanya. Simone de Beauvoir (1999 :376-380), seorang feminis eksistensialis, menegaskan bahwa segala sesuatu yang universal termasuk pemahaman tentang tubuh terjadi genderisasi. Berkaitan dengan genderisasi tubuh ini, Beauvoir mengajukan konsep penting yang menyingkapkan perbedaan antara tubuh alamiah dan tubuh sebagai konstruksi sejarah.
Bagaimana ideologi patriarkal ini bekerja berkaitan dengan tubuh perempuan, dapat merujuk pada pertanyaan kritis tentang gendering tubuh perempuan yang diajukan oleh Luce Irigaray (2008: 296-297) yang mempertanyakan bahwa pemikiran arogan laki-laki yang menuntut perempuan tutup mulut karena mereka adalah perempuan. Lebih lanjut Irigaray menjelaskan bahwa kebudayaan Barat bersifat monoseksual, di mana laki-laki berwacana dengan sesama laki-laki dalam bahasa yang mereka ciptakan sendiri untuk memberikan makna pada dunia kehidupan ini, yang kemudian disebut wacana maskulinitas.
Elizabeth Gross dalam Hidajadi (2000 :7-9) menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki harus dikenali perbedaannya dan masing-masing berhak dinilai khusus. Pengingkaran atas tubuh perempuan oleh masyarakat yang patriarkal disebabkan oleh adanya diskriminasi sosial melalui ajaran phallosentric, telah menganggap laki-lakilah sebagai center. Akibat dari pemikiran ini, maka perempuan diatur dengan menggunakan kekuasaan yang berpusat pada laki-laki dan berdasarkan pada cara pandang laki-laki. Padahal dalam budaya masyarakat yang patriarkal perempuan cenderung ditempatkan sebagai obyek untuk laki-laki dan bahkan perempuan tidak mempunyai ruang untuk menilai tubuhnya sendiri. Sistem dalam masyarakat kita, yang juga diadopsi oleh negara telah merasuk dalam semua sistem kehidupan dalam masyarakat.
Kelompok aktivis perempuan dan akademisi melawan wacana dominan pengaturan tubuh perempuan dengan standard moralitas dalam phallocentric order ini, merujuk pada pertanyaan kritis tentang gendering tubuh perempuan ini diajukan oleh Luce Irigaray (2008: 296-297) yang mempertanyakan bahwa pemikiran arogan laki-laki yang menuntut perempuan tutup mulut karena mereka adalah perempuan. Phallocentric order tidak memberikan ruang pada perempuan untuk mengekspresikan dirinya karena laki-laki berwacana dengan sesama laki-laki dalam bahasa yang mereka ciptakan sendiri untuk memberikan makna pada dunia kehidupan ini, yang kemudian disebut wacana maskulinitas. Oleh karena itu para perempuan harus e e ut ruang-ruang tersebut untuk mendekontruksi dan menjadikan dirinya sebagai subyek.
Weeks (1985) dalam Woodward (1997:191-192) menjelaskan bahwa konstruksi sosial dalam masyarakat membedakan antara seksualitas laki-laki dan perempuan bahkan mempertentangkan. Laki-laki agresif dan powerful sementara perempuan pasif dan responsive. Opisisi biner ini baik secara praktek maupun teoritis menjadi sangat kompleks ketika diwujudkan dalam berbagai regulasi termasuk dalam praktek penguasaan atas tubuh perempuan. Tubuh perempuan menjadi salah satu arena bermainnya kekuasaan dari berbagai bidang dalam masyarakat. Bagi para feminis seksualitas berarti kekuasan laki-laki dan kontrol atas tubuh dan kesenangan perempuan.
Perkembangan perjalanan pemikiran feminis menunjukkan berbagai analisis tentang penyelesaian atas opresi terhadap perempuan; yang berakar baik pada struktur politik maupun ekonomi masyarakat atau pada hubungan, peran dan praktik reproduksi dan seksual manusia
(2008:189-190). Berawal dari pemikiran feminis liberal yang menyatakan bahwa perubahan dari struktur hukum dan politik akan menghapuskan atau menekan ketidaksetaraan gender; dengan memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang sama dengan laki-laki. Selanjutnya feminis radikal yang menegaskan bahwa pentingnya menelaah hak dan tanggungjawab seksual serta reproduksi laki-laki dan perempuan untuk dapat memahami secara penuh keberadaan sistem yang mendukung dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan. Perempuan dibebaskan dari beban reproduksi alamiah dan standar ganda seksual. Bahkan feminis radikal kultural menekankan bahwa perilaku seksual laki-laki tidak cukup berharga untuk dijadikan persaingan bagi perempuan, karena laki-laki seringkali mempergunakan hubungan seksual sebagai alat kendali dan dominasi daripada cinta dan keterikatan. Feminis psikoanalisis percaya bahwa penjelasan fundamental atas cara bertindak perempuan berakar dari psike perempuan, terutama dalam cara pikir perempuan. Mereka mengklaim bahwa ketidaksetaraan gender berakar dari rangkaian pengalaman pada masa kanak- kanak, yang mengakibatkan tidak sajak cara laki-laki memandang dirinya sebagi feminine namun juga cara masyarakat menganggap maskulinatas adalah lebih baik dibandingkan dengan feminitas.
Kemunculan wacana tentang tubuh sebagai hak indidu tidak terlepas dari perjuangan kaum feminis. Mereka berjuang menentang definisi laki-laki yang berpusat pada phallus atas tubuh perempuan. Mereka menolak legitimasi patriarkhi. Mereka menolak obyektifikasi, degradasi, peremehan, fragmentasi, diskriminasi, dehumanisasi dan prasangka terhadap perempuan. Mereka memprotes idealisasi, glamorisasi, romantisasi dan pe ujaa perempuan. Dalam budaya patriarkhi, tubuh perempuan dikonsumsi dan dipersepsi sebagai obyek pandangan, obyek sentuhan, obyek seksual, sebagai hasrat laki-laki dan obyek ideologi (2007:96-97).
Berkaitan dengan hal tersebut Simone de Beauvoir (2006:76-79) menyatakan bahwa manusia adalah mahluk seksualitas. Perempuan adalah individu yang lengkap, setara dengan laki-laki; hanya jika perempuan manusia dengan seksualitas. Menolak feminitas adalah menolak sebagian dari kemanusiaannya. Dalam hal ini tubuh perempuan bukanlah tubuh itu sendiri. Perempuan bukan sekedar tubuh namun tubuh perempuan adalah bagian penting dari diri perempuan. Perempuan menubuh dalam tubuh yang berpayudara, atau bahkan dalam tubuh yang harus kehilangan payudara. Tubuh perempuan sangat kreatif hingga ia dapat menghasilkan kehidupan lain dari dalam tubuhnya. Dan vagina bukan penis, tetapi bukan berarti dia nonpenis, karena penis hanya satu dari paling tidak tiga penanda tubuh berjenis kelamin
Oleh karena itu para feminis meyakini bahwa tidak ada norma yang tunggal dan tidak ada obyektifitas. Obyektifitas itu terbentuk dari ideologi tertentu; dan dalam hal ini adalah ideologi patrirakhi. Daly seorang feminis radikal kultural menolak dikotomi tentang maskulinitas dan feminitas. Perempuan harus menolak menjadi liyan dengan menjadi Diri dengan kebutuhan, keinginan dan minta sendiri, perempuan akan mengakhiri permainan, yang menempatkan laki-laki sebagai tuan dan perempuan sebagai budak (2006:85).
Pemikiran feminis postmodern seperti Helene Cixous, Luce Irigaray dan Julia Kristeva merupakan pemikir yang menekankan pentingnya perempuan untuk menuliskan seksualiatasnya sendiri; menuliskan tentang tubuhnya sendiri; dan membebaskan diri dari dikotomi feminine maskulin yang dikembangkan dengan menggunakan konsep phallogosentris. Bagi Helene Cixous, karena dia seorang penulis, dia menganggap bahwa tulisan maskulin berakar dari organ genital dan ekonomi libinal laki-laki; yang diberi emblem sebagai phallus; dan tulisan maskulin dianggap lebih bernilai daripada tulisan feminin. Oleh karena itu Cixous mengajak perempuan untuk menulis diri
P r o c e e d i n g | C o m i c o s 2 0 1 5
keluar dari dunia yang dikonstruksi laki-laki untuk perempuan. Ia mendorong perempuan untuk memindahkan posisi dirinya yang tidak dapat dipikirkan menjadi terpikirkan. Seksualitas perempuan tidak membosankan karena hampir semuanya dapat ditulis oleh perempuan tentang seksualitasnya, yang kompleksitasnya tidak terbatas dan tidak ajeg, tentang erotisasinya, yang merupakan bagian dari area luas tubuh perempuan (2006:291-295).
Metode Penelitian
Paper ini menggunakan metode penelitian studi kasus yaitu one case on single analysis. Pendekatan penelitian studi kasus menekankan pada pertanyaan how adan why; dan tidak ada intervensi terhadap subyek penelitian; focus penelitiannya adalah peristiwa-peristiwa kontemporer di dala kehidupa ata. Pe elitia i i i i dilakuka di Ais i ah, se uah o ga isasi pe e pua muslim terbesar di Indonesia yang memiliki consent terhadap isu-isu perempuan dan anak. Adapun teknik pengambilan data yang digunakan cukup beragam baik untuk mendapatkan data primer maupun data sekunder (Yin:2002:1-3). Selanjutnya Creswell mendefinisikan studi kasus di mana peneliti mengeksplorasi sebuah peristiwa aktivitas proses, individu atau kelompok secara mendalam (2003: 15). Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data dokumen, wawancara mendalam dan observasi. Data-data dokumen dikumpulkan dari website aisyiyah.or.id.
Temuan dan Diskusi
Mendasarkan pada berbagai permasalahan kesehatan reproduksi yang ada di Indonesia; di mana isu-isu kesehatan reproduksi masih dalam posisi marginal dalam wacana publik di Indonesia dan mendorong terpenuhinya akses layanan kesehatan reproduksi sebagai bagian dari pemenuhan hak; aka e agai st ategi dilakuka oleh Ais i ah aik edukasi di ko u itas, ad okasi da penggunaan media baik media massa konvensional (surat kabar, televisi maupun radio); maupun media online profit (tempo.com, republika.com, detik.com, tribun.com dan lain-lain).
Perkembangan teknologi komunikasi, mendorong perkembangan media online sebagai pengganti atau kelengkapan media massa konvensional baik digunakan untuk mewacanakan isu-isu kesehatan reproduksi; bahwa isu ini merupakan hak yang harus diperhatikan dan dipenuhi oleh pemerintah. Termasuk dalam hal ini membangun wacana bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya masalah biologis semata; di mana perempuan direduksi hanya pada potongan-potongan tubuhnya. Tubuh perempuan lebih banyak menjadi obyek dan komoditas dikarenakan tubuhnya.
Dalam mewacanakan pentingnya isu kesehatan reproduksi dengan pendekatan hak ini, Ais i ah e a a aka a ah a pela a a kesehata ep oduksi e upaka hak setiap perempuan yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Wacana tersebut sekaligus, mendekonstruksi bahwa masalah kesehatan reproduksi bukanlah masalah biologis semata; namun terkait dengan hak atas tubuh perempuan; yang tidak bisa direduksi hanya sebagai obyek seks dan komoditi. Dan salah satu strategi yang dilakukan di tengah perkembangan new media adalah secara gencar mempromosikan hak-hak kesehata ep oduksi elalui edia o li e da e site Ais i ah. Be ikut ini adalah beberapa berita tentang kesehatan reproduksi yang dimuat di media online per tanggal 1 Agustus sampai dengan 10 Oktober 2015.
Tabel 1 Daftar Tabel Pemberitaan Tentang Kesehatan Reproduksi di Media Online
No Judul Berita Media Tanggal
1 Kesehatan Reproduksi dan Kekerasan Isu Strategis Aisyiyah
antaranews.com/berita/509975/kesehatan-reproduksi-dan- kekerasan-isu-strategis-aisyiyah
1 Agustus 2015
2 Perangi Kanker Serviks, Aisyiyah Kampanyekan Tes IVA
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/02/058688431 /perangi-kanker-serviks-aisyiyah-kampanyekan-tes-iva
2 Agustus 2015
3 Isu Kesehatan Reproduksi di Muktamar Aisyiah ke-47 Makassar
http://health.liputan6.com/read/2284664/isu-kesehatan- reproduksi-di-muktamar-aisyiah-ke-47-makassar
3 Agustus 2015
4 Nasional : Kader Muda Asyiyah Giatkan Deteksi Dini Kanker di Pasar Beringharjo
http://www.beritadetik.com/index.php/2015/10/25/nasional- kader-muda-asyiyah-giatkan-deteksi-dini-kanker-di-pasar- beringharjo/
25 Oktober 2015
5 Deteksi Dini Kanker Serviks Perlu Masuk JKN
25 Agustsu 2015 6 Aisyiyah Desak Deteksi
Dini Kanker Serviks Masuk JKN
1 September 2015 7 Perangi Kanker Serviks
Aisyiyah Kampanyekan Tes IVA http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/02/058688431 /perangi-kanker-serviks-aisyiyah-kampanyekan-tes-iva 2 Agustus 2015 8 Aisyiyah Minta BPJS Dilanjutkan http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/05/078689297 /aisyiyah-minta-bpjs-dilanjutkan 5 Agustus 2015 9 Ribua Warga Bantaeng
Kampanyekan Hari Kankers Payudara Sedunia
http://makassar.tribunnews.com/2015/10/24/ribuan-warga- bantaeng-kampanye-hari-kanker-payudara-se-dunia
24 Otober 2015
10 Aisyiyah Cilacap Siap Perangi Kankers Serviks dan Payudara
http://www.rri.co.id/ 24 Oktober 2015
11 Aisyiyah Lamongan Peringati Hari Kankers
http://surabaya.tribunnews.com/2015/10/25/aisyiyah- lamongan-peringati-hari-kanker
25 Oktober 2015 12 Jalan Sehat Aisyiyah
Peringati Hari Kanker Payudara Sedunia Diikuti Ribuan Peserta
http://www.aktualita.co/jalan-sehat-aisyiyah-peringati-hari- kanker-payudara-sedunia-diikuti-ribuan-peserta/6216/
25 Oktober 2015
13 Kader Muda Aisyiyah Giatkan Deteksi Dini Kanker di Pasar Beringharjo http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/10/25 /nwrlue384-kader-muda-asyiyah-giatkan-deteksi-dini-kanker-