BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Optimalisasi Penerimaan Pajak
1. Definisi Optimalisasi
Optimalisasi berasal dari kata dasar optimal yang berarti yang terbaik. Jadi optimalisasi adalah dimana suatu proses yang dilakukan dengan cara terbaik dengan adanya sanksi pajak yang diberikan kepada wajib pajak yang tidak patuh pada norma perpajakan dalam meningkatkan tingkat penerimaan pajak khususnya tanpa adanya harus mengurangi kualitas pekerjaan.
2. Definisi Penerimaan
Pembangunan yang telah dilaksanakan dinegara kita tidak lepas dari peran aktif dari pajak, karena sector pajak telah menjadi penerimaan bagi Negara yang cukup kompoten. Penerimaan atau pendapatan adalah suatu hasil yang ingin dicapai oleh setiap perusahaan secara optimal.
Penerimaan pajak dapat diartikan sebagai penerimaan pemerintah yang dalam arti seluas-luasnya adalah mulai dari penerimaan dalam dan luar negeri Penerimaan pajak dipandang sebagai bagian yang sangat penting dalam penerimaan Negara, karena disamping cepat daan rendah biayanya. Pajak merupakan sumber penerimaan yang sangat besar poteninya. Sistem pemungutan suatu Negara baik Self Assessment maupun Official Assessment sangat berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan dana kepemerintahan tersebut.
Menurut Mohammad Zain (2005), Penerimaan pajak merupakan gambaran partisipasi masyarakat dalam pembiayaan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan Negara. Apabila kontribusi peneriman pajak semakin besar
terhadap pembangunan, hal tersebut berarti bahwa pajak yang telah dipungut dari masyarakat akan dikembalikan secara tidak langsung kepada masyarakat dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana publik, menyediakan lapangan kerja, memberikan rasa aman dan nyaman.
Sedangkan menurut H. Simanjuntak Timbul dan Mukhlis Imam (2012:30) adalah Penerimaan Negara dari pajak merupakan salah satu komponen penting dalam rangka kemandirian pembiayaan pembangunan.
Dalam system penerimaan Negara, pajak mempunyai dua fungsi yang melekat dalam system pepajakan yaitu:
a. Fungsi Budgetair
Yaitu fungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat bagi kas Negara untuk membiayai kegiatan pemerintahan. Pajak sebgai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Fungsi ini pada hakikatnya merupakan fungsi utama sebagai mana batasan yang diberikan para ahli. Pada beberapa Negara berkembang terlihat indikasi kuat bahwa penggunaan dana yang diperoleh melalui pajak tidak hanya diperuntukan bagi penyelenggaraan pemerintahan. Oleh karena itu maka sasaran utama dalam pemungutan pajak adalah penerimaan kas Negara.
b. Fungsi Mengatur
Dimana dengan fungsi ini diharapkan system perpajakan yang diterapkan tidak akan menimbulkan pertentangan dengan kebijaksanaan Negara dalam bidang ekonomi dan sosial. Pajak sebgai alat untuk mengukur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan
ekonomi. Pajak digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu dan bila perlu berubah susunan pendapatan dan kekayaan Negara.
Untuk mencapai optimalisasi penerimaan pajak, maka pihak fiskus dan wajib pajak harus mempunyai kesadaran dalam menjalankan hak dan kewajibannya. Dengan demikian baik fiskus dan membayar pajak akan memahami mengenai pentingnya peranan mereka masing-masing. Kondisi perpajakan yang menuntut keikutsertaan aktif Wajib Pajak dalam menyelenggarakan perpajakannya membutuhkan kepatuhan Wajib Pajak yang tinggi. Yaitu, kepatuhan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan yang sesuai dengan kebenarannya. Karena semakin besar pekerjaan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan itu dilakukan oleh wajib pajak, bukan fiskus selalu pemungut pajak. Sehingga kepatuhan diperlukan dalam self assessment system, dengan tujuan dapat meningkatkan pendapatan pajak yang optimal.
Adapun indikator dari penerimaan pajak yaitu:
a. Peran penerimaan pajak sangat penting bagi kemandirian pembangunan.
b. Peningkatan penerimaan pajak memegang peranan strategis karena akan meningkatkan kemandirian pembiayaan pemerintah.
c. Sumber utama penerimaan Negara yaitu berasal dari pajak.
d. Kerjasama fiskus dan wajib pajak diperlukan dalam meningkatkan penerimaan pajak dimasa yang akan datang.
3. Definisi Pajak
Pajak (dari bahasa Latin taxo; "rate") adalah iuran rakyat kepada negara berdasarkan undang-undang, sehingga dapat dipaksakan, dengan tidak mendapat balas jasa secara langsung.
Ada berbagai macam definisi tentang pajak yang dikemukakan, salah satunya menurut Adriani dalam Priantara (2012:2) mengatakan bahwa: “pajak adalah iuran masyarakat kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (Undang-Undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan”.
Menurut Charles E.McLure, pajak adalah kewajiban finansial atau retribusi yang dikenakan terhadap wajib pajak (orang pribadi atau Badan) oleh Negara atau institusi yang fungsinya setara dengan negara yang digunakan untuk membiayai berbagai macam pengeluaran publik.
Definisi atau pengertian pajak menurut Rochmat Soemitro, dalam Mardiasmo, (2011:1): “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public
investment.
undang No.28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang No.6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) bahwa: “pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan seara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Dari berbagai definisi yang diberikan terhadap pajak, baik pengertian secara ekonomis (pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang unsur-unsur yang terdapat pada pengertian pajak, antara lain sebagai berikut:
a. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan, "pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang."
b. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi perseorangan) yang dapat ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak kendaraan bermotor akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang tidak membayar pajak kendaraan bermotor.
c. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.
d. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan.
e. Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi mengisi Kas Negara/Anggaran Negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mengatur/regulatif).
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:
a. Iuran dari rakyat kepada negara
Yang berhak memungut pajak hanyalah negar. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
b. Undang-undang
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
c. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Berdasarkan pengertian pajak di atas maka ciri-ciri pajak adalah sebagai berikut:
a. Pajak sebagai suatu kewajiban untuk menyerahkan sebagian kekayaan kepada negara, baik pusat maupun daerah.
b. Peralihan kekayaan dari rakyat kepada negara, untuk membiayai pengeluaran rutin.
c. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah.
d. Tanpa memperoleh imbalan langsung maupun tidak langsung.
4. Teori-teori yang Mendukung Pemungutan Pajak
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan atau memberikan justifikasi pemberian hak kepada negara untuk memungut pajak. Teori-teori tersebut antara lain adalah:
a. Teori Asuransi
Negara melindungi keselamatan jiwa, harta benda, dan hak-hak rakyatnya. Oleh karena itu rakyat harus membayar pajak yang diibaratkan sebagai suatu premi asuransi karena memperoleh jaminan perlindungan tersebut.
b. Teori Kepentingan
Pembagian beban pajak kepada rakyat didasarkan pada kepentingan (misalnya perlindungan) masing-masing orang. Semakin besar kepentingan seseorang terhadap negara, makin tinggi pajak yang harus dibayar.
c. Teori Daya Pikul
Beban pajak untuk semua orang harus sama beratnya, artinya pajak harus dibayar sesuai dengan daya pikul masing-masing orang. Untuk mengukur daya pikul dapat digunakan 2 pendekatan yaitu:
Unsur objektif, dengan melihat besarnya penghasilan atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.
Unsur subjektif, dapat memperhatikan besarnya kebutuhan materiil
yang harus dipenuhi.
d. Teori Bakti
Dasar keadilan pemungutan pajak terletak pada hubungan rakyat dengan negaranya. Sebagai warga negara yang berbakti, rakyat harus selalu menyadari bahwa pembayaran pajak adalah sebagai suatu kewajiban.
e. Teori Asas Daya Beli
Dasar keadilan terletak pada akibat pemungutan pajak. Maksudnya memungut pajak berarti menarik daya beli dari rumah tangga masyarakat untuk rumah tangga negara. Selanjutnya negara akan menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk pemeliharaan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian kepentingan seluruh masyarakat lebih diutamakan.
5. Tarif Pajak
Tarif pajak didefinisikan sebagai suatu angka tertentu yang digunakan sebagai dasar perhitungan pajak. Ada 4 macam tarif pajak, yaitu (Mardiasmo, 2011):
1. Tarif Sebanding/Proporsional
Yaitu tarif berupa persentase tetap, terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak.
2. Tarif Tetap
Yaitu tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.
3. Tarif Progresif
Yaitu persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar, menurut kenaikkan persentase tarifnya.
Menurut kenaikkan persentase tarifnya, tarif progresif dibagi:
a. Tarif progresif progresif : kenaikan persentase semakin besar b. Tarif progresif tetap : kenaikkan persentase tetap
c. Tarif progresif degresif : kenaikkan persentase semakin kecil 4. Tarif Degresif
Yaitu persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar.
D. Kerang Pikir
Pajak yang menjadi sumber penerimaan bagi Negara, mengikut perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi Negara serta masyarakat dari Negara tersebut. Tuntutan akan peningkatan penerimaan, penyesuaian struktur perpajakan dan penyehatan ekonomi menjadi alasan dari waktu kewaktu dilakukan reformasi perpajakan yaitu perubahan yang mendasar disegala aspek
perpajakan. Untuk mencapai optimalisasi penerimaan pajak, maka pihak fiskus dan wajib pajak harus mempunyai kesadaran dalam menjalankan hak dan kewajibannya.
Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran ini dapat digambarkan sebagai
berikut: KPP Pratama Bantaeng
Penerimaan pajak
Sanksi pajak
Optimalisasi tingkat Penerimaan pajak
Gambar 1.3 Kerangka Pikir
E. Hipotesis
Diduga bahwa sistem penerimaan pajak yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng sudah dapat mengoptimalkan penerimaan pajak.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng, jalan A. Mannappiang, Bantaeng dan diperkirakan selama dua bulan mulai dari bulan April hingga Mei 2016.
B. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.Penelitian pustaka (library research), yaitu pengumpulan data dengan cara menelaah berbagai buku literatur dan bahan pustaka lainnya yang berkaitan dengan yang dibahas.
2.Penelitian Lapangan (Field Research) yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan cara mengunjungi objek yang akan diteliti guna mengumpulkan data-data yang diperlukan, yaitu dengan cara sebagai berikut :
a. Observasi, ialah melakukan pengamatan secara langsung pada obyek penelitian dan mengumpulkan data yang diperlukan.
b. Wawancara, ialah melakukan tanya jawab dengan pimpinan dan karyawan perusahaan yang diteliti dalam mendapatkan data yang diperlukan.
c. Dokumentasi, melakukan review terhadap dokumen-dokumen instansi yang relevan, serta mempelajari referensi yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.
C. Jenis Dan Sumber Data
1. Jenis Data
a. Data Kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk informasi baik secara lisan maupun secara tertulis.
b. Data Kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari pihak perusahaan dalam bentuk angka.
2. Sumber Data
a. Data Primer, ialah data yang diperoleh secara langsung dari perusahaan berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pimpinan dan karyawan.
b. Data Sekunder, ialah data yang diperoleh dari dokumen perusahaan, berupa laporan tertulis yang dibuat secara berkala.
D. Metode Analisis
Metode analisis adalah suatu gambaran tentang variabel-variabel yang akan digunakan untuk melakukan analisa data sehingga dapat diperoleh suatu kesimpulan.
Analisis ini digunakan untuk menjawab bagaimana evaluasi sistem penerimaan pajak dapat mengoptimalkan penerimaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Dimana pendekatan kuantitatif memiliki fenomena yang digambarkan dengan angka-angka numeric dengan teknik analisis statistik deskriptif dan inferensial.
Analisis data kuantitatif bertujuan untuk mempermudah memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut.
Penelitian ini yang akan dilakukan dengan menggunakan data-data yang akan dianalisis dengan cara membentuk persentase perubahan pos-pos yang akan dianalisis. Metode perhitungan persentase peningkatan dihitung oleh peneliti berdasarkan perhitungan matematis seperti berikut:
Tabel 1.5
Metode Perhitungan Persentase Peningkatan
% kenaikan
Tahun tertentu – tahun dasar
= x 100%
Tahun dasar
% kenaikan
Kenaikan yang terjadi
= x 100%
Tahun dasar
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng
Pada awalnya kantor pelayanan pajak dinamakan dengan kantor inspeksi pajak (KIP) yang induk organisasinya berada dibawah Direktorat Jendral Pajak dalam Departemen Keuangan Republik Indonesia. Untuk lebih meningkatkan nilai pelayanan pajak kepada masyarakat maka berdasarkan keputusan Mentri Keuangan Nomor 267/ KMK. 01/1989 diadakan perubahan secara menyeluruh pada Direktorat Jendral Pajak yang mencakup reorganisasi Kantor Inspeksi Pajak (KIP) yang diganti dengan nama Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
Kantor Pelayanan Pajak Pratama di betuk dengan meleburkan tiga jenis kantor pelayanan yang ada selama ini yakni, KPP, KPPBB, dan karikpa.
Meskipun terdapat penggabungan tugas pokok dan fungsi yang melekat pada kantor-kantor tersebut tetap ada, melalui strukutr baru pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang berbasis fungsi. Fungsi yang dimaksud antara lain meliputi fungsi pelayanan, fungsi pengawasan dan konsultasi yang memperkenalkan Account Representatif (AR) fungsi penagihan, fungsi pemeriksaan, fungsi eksentifikasi, dan terakhir fungsi pengolahan data dan informasi. Perubahan struktur tersebut dilakukan dengan tujuan agar tetap lebih meningkatkan fungsi pelayanan dan pengawasan terhadap wajib pajak.
Pada tanggal 23 Juli 2001 Mentri Keuangan Republik Indonesia menetapkan sebuah Keputusan Mentri Keuangan Nomor 443/KMK. 01/2001 tentang pemekaran kantor pelayanan pajak Sulawesi Selatan bagian Timur
31
menjadi 2 (dua) wilayah kerja. Berdasarkan keputusan tersebut ditetapkan bahwa Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng dibagi menjadi Kantor Pelayanan Pajak Sul-Sel Timur dan Kantor Pelayanan Pajak Kabupaten/Kota.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 443/KMK. 01/2002 tentang organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak, maka Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kabupaten Bantaeng dibagi atas 4 (empat) wilayah kerja, yaitu:
1. Kabupaten Gowa 2. Kabupaten Takalar
3. Kabupaten Jeneponto, dan 4. Kabupaten Bantaeng.
Selama ini, dalam rangka memenuhi kewajiban perpajakan, wajib pajak harus berurusan dengan minimal 3 kantor dengan beberapa seksi yang berbeda didalamnya. Sebagai ilustrasi, ketika seorang wajib pajak akan melaporkan pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), maka wajib pajak tersebut diperiksa, maka kantor yang menangani adalah karikpa yang merupakan unit kantor tersendiri dan terpisah dari KPP (Kantor Pelayanan Pajak) maupun KPPBB. Diharapkan dengan penyatuan berbagai kantor pajak tersebut, maka kantor maupun aparat pajak dapat lebih mendekat ke wajib pajak dapat :
1. Lebih mendekat ke Wajib Pajak, sehingga fungsi pelayanan dan pengawasandapat dilakukan dengan lebih baik
2. Menjalankan fungsi ekstensifikasi lebih optimal
3. Memberikan pelayana yang lebih baik melalui konsep one stop service yang melayani seluruh jenis pajak dan debirokrasi pelayanan 4. Menurunkan cost of tax compliance
5. Optimalisasi pemanfaatan database
Kantor Pelayanan Pajak adalah unit kerja dari Direktorat Jenderal Pajak yang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat baik yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak maupun tidak.
Kantor Pelayanan Pajak konvensional terdiri dari delapan seksi, yaitu :
1. Seksi Tata Usaha Perpajakan
2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi 3. Seksi Pajak Penghasilan Orang Pribadi 4. Seksi Pajak Penghasilan Badan
5. Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan 6. Seksi Pajak Pertambahan Nilai
7. Seksi Penagihan
8. Seksi Penerimaan dan Keberatan
Secara bertahap sejak tahun 2002, Kantor Pelayanan Pajak telah mengalami modernisasi sistem dan struktur organisasi menjadi instansi yang berorientasi pada fungsi, bukan lagi pada jenis pajak. Kantor Pelayanan Pajak modern juga merupakan penggabungan dari Kantor Pelayanan Pajak konvensional dan Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak. Pada Tahun 2002 tersebut, dibentuk 2 KPP WP Besar atau LTO (Large Tax Office). KPP ini menangani 300
WP Badan Terbesar di seluruh Indonesia dan hanya mengadministrasikan jenis pajak PPH dan PPN. Pada tahun 2003 dibentuk 10 KPP Khusus yang meliputi KPP BUMN, Perusahaan PMA, WP Badan dan Orang Asing, dan Perusahaan Masuk Bursa. Kemudian pada tahun 2004 dibentuk pula KPP Madya atau MTO (Medium Tax Office). Sedangkan KPP Modern yang menangani WP terbanyak
adalah KPP Pratama atau STO (Small Tax Office). KPP Pratama baru dibentuk pada tahun 2006 s.d 2008.Perbedaan utama antara KPP STO dengan KPP LTO Maupun MTO antara lain adalah dengan adanya Seksi Ekstensifikasi pada KPP STO, sehingga dapat dikatakan pula KPP STO merupakan ujung tombak bagi DJP untuk menambah rasio perpajakan di Indonesia.
Pembagian Seksi dan Jabatan Fungsional pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama adalah sebagai berikut :
1. Subbagian Umum 2. Seksi Pelayanan
3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi 4. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan
5. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (maksimal 4 Seksi Pengawasan dan Konsultasi)
6. Seksi Penagihan
7. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal 8. Kelompok Jabatan Fungsional Pemeriksa Pajak 9. Kelompok Jabatan Fungsional Penilai.
Jenis Kantor Pelayanan Pajak, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) modern terdiri dalam empat jenis, yaitu:
1. Kantor Pelayanan Pajak Besar.
2. Kantor Pelayanan Pajak Khusus.
3. Kantor Pelayanan Pajak Madya.
4. Kantor Pelayanan Pajak Pratama.
Dalam proses reorganisasinya, saat ini Kantor Pelayanan Pajak modern sudah dibentuk di seluruh wilayah Indonesia.
Kantor Pelayanan Pajak membawahi unit organisasi yang lebih kecil yaitu Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP).
B. Visi dan Misi Organisasi
VISI
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Menjadi institusi pemerintah penghimpun pajak Negara yang terbaik di wilayah asia tenggara demi menjamin kedaulatan dan kemandirian Negara.
MISI
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
Menjamin penyelanggaran Negara yang berdaulat dan mandiri dengan :
1. Mengumpulkan penerimaan berdasarkan kepatuhan pajak sukarela yang tinggi dan penegakan hukum yang adil.
2. Pelayanan berbasis teknologi modern untuk kemudahan pemenuhan kewajiban perpajakan.
3. Aparatur pajak yang berintegritas, kompeten dan professional.
4. Kompensasi yang kompetitif berbasis system manajemen kinerja.
VISI
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA BANTAENG
Menjadi kantor pelayanan pajak yang menyelenggarakan pelayanan public dengan modern secara professional dan berintegritas, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sadar pajak demi kesejahteraan bangsa dan Negara.
MISI
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA BANTAENG
Menghimpun penerimaan pajak yang diamanahkan oleh undang-undang perpajakan sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab dengan tulus dan ikhlas.
C. Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng
Struktur organisasi yang digunakan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng adalah struktur organisasi lini (garis) dan staf yang berada dibawah koordinasi Kepala Kantor Wilayah 1 Direktorat Jendral Pajak Sulawesi Selatan.
Seluruh pegawai dalam lingkungan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng adalah Pegawai Negeri Sipil yang seluruhnya ada dibawah naungan Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Adapun struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng tersebut sebagai berikut:
1. Pimpinan yaitu Kepala Kantor
2. Pembantu Pimpinan yaitu Sub Bagian Umum
3. Pelaksana yaitu sejumlah Kepala Seksi, yang terdiri dari:
a. Kasi Ekstensifikasi
b. Kasi Pengolahan Data dan Informasi (Kasi PDI) c. Kasi Pelayanan
d. Kasi Pengawasan dan Konsultasi I (Kasi Warkon I) e. Kasi Pengawasan dan Konsultasi II (Kasi Warkon II) f. Kasi Pengawasan dan Konsultasi III (Kasi Waskon III) g. Kasi Pengawasan dan Konsultan IV (Kasi Waskon IV) h. Kasi Pemeriksaan
i. Kasi Penagihan
4. Kelompok Jabatan Fungsional, terdiri dari:
a. Supervisor I b. Supervisor II c. Supervisor III d. Supervisor IV
Sesuai dengan informasi di atas, struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng dapat dibuatkan bagan seperti pada Gambar Berikut:
Gambar 1.4 Struktur Organisasi Sumber: Subbag Umum KPP Pratama Bantaeng
D. Job Description a. Kepala Kantor
Kepala Kantor Pelayanan Pajak bertugas memimpin kantor pelayanan pajak dan bertangguyng jawab dalam melaksanakan pemungutan secara langsung, melaksanakan ketetapan pajak yang berlaku dan membina semua unsur dan faktor-faktor dalam rangka pemungutan pajak yang di bantu oleh seksi yang membawahinya.
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng membawahi 11 seksi yaitu Subbagian Umum, Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Seksi Pengawasan dan Konsultasi III, Seksi
Pengawasan dan Konsultasi IV, Seksi Pengolahan Data dan Informasi, Seksi Pelayanan, Seksi Pemeriksaan, Seksi Ekstensifikasi, Seksi Fungsional, dan Seksi Penagihan.
b. Subbagian Umum, meliputi:
- Pelaksana kepegawaian, menerima tugas dari Kasubbag. Umum untuk menyiapkan dan memproses usulan formasi, kenaikan gaji berkala,kenaikan pangkat, mutasi, promosi, penghargaan, daftar urut kepangkatan, cuti, peserta diklat, berkas/administrasi pegawai yang akan melanjutkan pendidikan di luar kedinasan, pensiun, hukuman dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepegawaian.
- Pelaksana rumah tangga, tugasnya ialah melaksanakan inventarisasi alat pelengkapan kantor/alat tulis perlengkapan kantor/alat tulis kantor/formulir, membuat konsep rencana pemeliharaan atau perbaikan alat perlengkapan kantor/gedung.
- Pelaksana rumah tangga, tugasnya ialah melaksanakan inventarisasi alat pelengkapan kantor/alat tulis perlengkapan kantor/alat tulis kantor/formulir, membuat konsep rencana pemeliharaan atau perbaikan alat perlengkapan kantor/gedung.